Tampilkan postingan dengan label Kesehatan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kesehatan. Tampilkan semua postingan

Senin, 22 November 2010

Touring Sekaligus Pengobatan Gratis

Minggu, 21 Nopember 2010 | 10:22 WIB

SURABAYA, Blazer Indonesia Comunity (BIC) Jatim dan Lions Club Surabaya, Sabtu (20/11), menggelar bakti sosial di Probolinggo.

Bakti sosial tersebut berupa pengobatan gratis kepada masyarakat di sekitar Dusun Angin-angin Desa Ranugedang, Kecamatan Tiris, Probolingo. Sekitar 105 warga desa terlihat antusias mengikuti kegiatan yang merupakan kerja sama pertama yang diselenggarakan BIC dengan Lions dengan melibatkan tim dokter dari Poliklinik Sehat Utama Gresik.

“Untuk tahun ini merupakan agenda touring kedelapan BIC Jatim. Sebelumnya kami ke Malang juga berupa baksos di panti asuhan,” kata Himawan Wibhisono, ketua BIC Jatim.

Menurutnya, budaya di BIC jika melakukan aktivitas memang lebih banyak ke luar Kota Surabaya. Oleh karena itu, pada aksi sosial kali ini, mereka memilih ke Probolinggo.

“Meskipun saat kami touring bertujuan fun, kami juga ingin bermanfaat untuk sesama,” tambahnya.

Sumber: http://www.surya.co.id/2010/11/21/touring-sekaligus-pengobatan-gratis.html

Selasa, 02 November 2010

Dokter Laris Karena Pakai Sistem Kredit

Senin, 1 Nopember 2010

Kasat Reskoba Polres Situbondo, AKP Priyo Purwandito, menunjukkan obat-obatan yang biasa dipakai sang dokter palsu. FOTO : SURYA/izi Hartono

SITUBONDO | SURYA Online - Abdul Hadi, 46, dokter gadungan yang baru terbongkar kedoknya setelah ‘berpraktik’ selama sekitar 10 tahun, mempunyai trik tersendiri untuk memikat para pasien. Warga Dusun Krajan, Langkap, Kecamatan Besuki, Kabupaten Situbondo, ini memberikan kemudahan biaya pengobatan, antara lain dengan pembayaran sistem kredit alias menyicil.

Dengan trik tersebut maka tak heran bahwa jumlah pasien pria tamatan SMP tersebut mencapai ratusan orang. “Kalau orang tak punya uang, masak harus dipaksa (bayar kontan)? Ya mereka selalu bon atau berutang,” terang Abdul Hadi, di hadapan penyidik Reskoba Polres Situbondo, Senin (1/11/2010).

Seperti diberitakan, Abdul Hadi ditangkap polisi dari Satuan Reserse Narkoba Polres Situbondo, Sabtu, (30/10/2010) sekitar pukul 20.00 WIB. Dia sehari-hari melakukan praktik sebagai dokter keliling desa di wilayah Kabupaten Bondowoso dan Probolinggo. Selama 10 tahun dia aman dan lancar bekerja sebagai dokter palsu.

Terbongkarnya praktik dokter gadungan yang sudah berlangsung selama 10 tahun ini berawal dari kecurigan warga setempat terhadap peralatan medis dan obat-obatan di rumah tersangka Abdul Hadi. Mereka pun melapor ke polisi. Saat diperiksa polisi, Abdul Hamid mengakui perbuatannya. Mengenai obat-obatan yang sering dia pakai mengobati para pasien, menurutnya dibeli dari sebuah apotek langganannya.

Suntik KB

Selain melayanai pengobatan berbagai macam penyakit, dalam praktiknya Abdul Hadi juga melayani suntikan Keluarga Berencana (KB) bagi ibu rumah tangga. “Pernah dikomplain sama bidan, tapi mau gimana? Ini kan yang minta warga sendiri,” kilahnya, dengan wajah tersipu.

Kasat Reskoba Polres Situbondo, AKP Priyo Purwandito mengatakan, selain memeriksa tersangka Abdul Hadi, pihaknya juga akan berkoordinasi dengan Dinas Kesehatan Kabupaten Situbondo terkait apotek yang menjual obat obatan dengan jumlah banyak kepada Abdul Hadi. “Belum (berkoordinasi), tapi saya akan koordinasi,” kata Priyo Purwandito.

Sumber: http://www.surya.co.id/2010/11/01/dokter-palsu-laris-karena-pakai-sistem-kredit.html

Selasa, 05 Oktober 2010

Pemeriksaan Kesehatan Terhadap CJH 2010

Reporter : Dody Kasman
KRAKSAAN - Pemerintah Kabupaten Probolinggo terus berupaya meningkatkan pelayanan kepada para Calon jamaah Haji (CJH) yang akan berangkat ke tanah suci tahun ini. Selain memfasilitasi pelaksanaan manasik haji massal di Miniatur Ka’bah beberapa waktu lalu, peningkatan pelayanan kesehatan juga ikut mendaptakan perhatian.

Jika tahun lalu pemeriksaan kesehatan CJH Kabupaten Probolinggo dipusatkan di Rumah Sakit Waluyo Jati Kraksaan, maka mulai tahun ini pemeriksaan kesehatan dilaksanakan di lima tempat terpisah berdasarkan wilayah masing-masing CJH.

Kepala Bidang Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan pada Dinas Kesehatan (Dinkes) dr. Diah Kuncarawati menjelaskan pemeriksaan kesehatan yang terbagi menjadi lima tempat ini dimaksudkan untuk memberi kemudahan kepada para CJH sehingga mereka tak perlu berjubel dan antri memeriksakan kesehatannya di RSUD Waluyo Jati.

“Para calon jamaah haji bisa lebih dekat ke tempat pemeriksaan. Selain itu pemeriksaan juga lebih spesifik dan familiar dengan pasien”, terang dr. Diah.

Pemeriksaan kesehatan untuk para CJH dilaksanakan dua tahap. Pemeriksaan tahap pertama sudah dilakukan beberapa bulan sebelumnya di Puskesmas terdekat dengan domisili para CJH. Pemeriksaan tahap pertama ini sifatnya pembinaan, dengan harapan semua CJH dapat berangkat ke tanah suci.

“Jika ada yang ditemukan sakit, maka bisa langsung diambil tindakan dengan memberikan pengobatan sehinga saat akan berangkat nanti sudah sehat betul”, terang dr. Diah. Pemeriksaan di tahap pertama ini dilakukan oleh dokter Puskesmas setempat.

Sedangkan untuk pemeriksaan tahap kedua adalah pemeriksaan tingkat Kabupaten yang dilakukan oleh tim dari Dinas Kesehatan dan RSUD Waluyo Jati Kraksaan. Untuk mempermudah pelayanan, pemeriksaan dibagi menjadi lima wilayah di lima Puskesmas yang ditunjuk.

Pemeriksaan pertama dilaksanakan di Puskesmas Leces, Kamis (23/9), meliputi Kecamatan Leces, Tegalsiwalan, Bantaran, Kuripan, Sumber dan Dringu dengan jumlah CJH 126 orang. Pemeriksaan kedua dilaksanakan di Puskesmas Kraksaan, Selasa (28/9) meliputi Kecamatan Kraksaan, Besuk, Krejengan, Pajarakan dan Gading dengan jumlah 181 CJH.

Pemeriksaan berikutnya dilakukan di Puskesmas Sumberasih untuk CJH dari wilayah Kecamatan Sumberasih, Wonomerto, Tongas, Lumbang dan Sukapura dengan jumlah CJH sebanyak 148 orang. Selanjutnya pemeriksaan untuk CJH di wilayah Kecamatan Paiton, Kotaanyar dan Pakuniran yang dipusatkan di Puskesmas Paiton, Senin (4/10). Jumlah CJH yang dilayani sebanayak 138 orang.

Terakhir, pemeriksaan kesehatan dilakukan di Puskesmas Maron dengan jumlah CJH 131 orang dari Kecamatan Maron, Banyuanyar, Tiris, Krucil dan Gending.

Pemeriksaan di lima tempat tersebut merupakan pemeriksaan tingkat Kabupaten atau pemeriksaan tahap akhir setelah pemeriksaan tahap pertama di Puskesmas setempat. “Pemeriksaan tahap akhir ini dilakukan untuk menyiapkan kondisi kesehatan calon jamaah haji agar layak untuk berangkat”, jelas dr. Diah.

Pada pemeriksaan ini dilihat apakah masalah kesehatan yang terdeteksi pada pemeriksaan pertama sudah terkendali atau tidak. Juga dilakukan pemberian imunisasi, baik imunisasi wajib yaitu imunisasi Meningitis dan imunisasi yang disarankan yaitu imunisasi Influenza.

“Imunisasi Meningitis ini gratis dan sifatnya wajib harus dilakukan setiap calon jamaah haji. Jika tidak maka CJH tidak boleh berangkat dan pemerintah Arab Saudi juga tak akan memperbolehkan jamaah yang bersangkutan masuk ke negaranya”, imbuh mantan Kepala Puskesmas Wonomerto ini.

Selain itu pada CJH perempuan juga dilakukan pemeriksaa kehamilan. Jika didapati hamil maka pasien tersebut tidak dapat diberangkatkan. Logikanya menurut dr. Diah, jika akan berangkat CJH harus mendapatkan imunisasi Meningitis, sedangkan ibu hamil tidak diperbolehkan mendapatkan imunisasi tersebut.

Khusus untuk CJH yang usianya diatas 60 tahun, setelah mendapatkan pemeriksaan tahap pertama di Puskesmas setempat langsung diarahkan untuk diperiksa di RSUD Waluyojati pada dokter spesialis sesuai penyakit yang diderita. Setelah itu baru dapat mengikuti pemeriksaan tahap kedua seperti biasa.

Sementara itu Kepala Dinas Kesehatan Endang Astuti menjelaskan, untuk memberikan pelayanan kesehatan terbaik kepada CJH kabupaten Probolinggo, tahun ini pemerintah daerah mengikutsertakan 1 orang dokter sebagai Tenaga Kesehatan Haji Daerah (TKHD) yakni dr. Asrul dari RSUD Waluyo Jati Kraksaan.

Satu orang dokter daerah ini nantinya akan mendampingi dokter yang ditugaskan pemerintah untuk memberikan pelayanan kesehatan kepada jamaah haji Kabupaten Probolinggo. “Harapannya dengan adanya dokter lokal ini dapat lebih memahami karakteristik jamaah Kabupaten Probolinggo”, terang dr. Endang.

Keikutsertaan dokter daerah beserta perlengakapan dan obat-obatan yang juga dibiayai pemerintah daerah ini merupakan tindak lanjut dari petunjuk Bupati Probolinggo tahun lalu.

Ketika itu Bupati Hasan meminta agar dokter daerah ikut serta dengan kelengkapan dan obat-obatannya untuk memberikan pelayanan ksesehtan kepada CJH Kabupaten Problinggo, setelah melihat pelayanan kesehatan CJH yang ketika itu dinilai masih kurang.

Pemeriksaan kesehatan tak hanya dilakukan saat CJH akan berangkat ke tanah suci, namun juga dilakukan saat jamaah haji sudah kembali ke tanah air. “Nantinya akan ada petugas dari tim surveillance Puskesmas setempat yang melacak setiap jamaah haji ke rumah mereka masing-masing”, jelas dr. Diah.

Pemeriksaan ini dilakukan untuk mencegah masuknya virus satau bibit penyakit yang kemungkinan terbawa oleh para jamaah haji sepulang dari menunaikan ibadah haji. (d0d)

Sumber: http://www.probolinggokab.go.id/site/index.php?option=com_content&task=view&id=4528&Itemid=92

Kamis, 23 September 2010

CJH Mulai Divaksin

[ Kamis, 23 September 2010 ]
PROBOLINGGO - Tes kesehatan terhadap calon jamaah haji (CJH) Kota Probolinggo digelar kemarin (22/9). Dalam kesempatan itu juga dilakukan imunisasi vaksin meningitis (anti radang otak) dan influenza.

Untuk mendapatkan vaksin itu, sejulah 211 CJH itu dibagi menjadi dua sesuai asal kecamatan masing-masing. CJH asal Kecamatan Mayangan digabung dengan Kecamatan Kanigaran.

Sedangkan CJH asal Kecamatan Kedopok, digabung menjadi satu dengan Kecamatan Wonoasih dan Kecamatan Kademangan. Untuk CJH asal Kecamatan Mayangan dan Kanigaran sudah dilakukan pemeriksaan kemarin (22/9).

Hari ini akan dilakukan pemeriksaan terhadap CJH asal Kecamatan Wonoasih, Kademangan dan Kedopok. Ratusan CJH itu, menjalani pemeriksaan dan divaksin di RSUD Dr Moh Saleh Kota Probolinggo.

Lilik Ernanik, Kasi pencegahan dan penanggulangan penyakit dinas kesehatan (dinkes) Kota Probolinggo menyatakan, pemeriksaan kesehatan para CJH itu dilakukan untuk megetahui kondisi akhir kesehatan para CJH. Juga untuk mendeteksi penyakit-penyakit yang diderita.

Menurutnya, apabila ada CJH yang menderita atau mengidap penyakit kronis, pihaknya akan segera merekomendasi untuk mejalani perawatan lebih lanjut. Sehingga pada masa keberangkatan nanti, tidak akan terganggu. "Kami periksa semua, dari tensi darah hingga penyakit-penyakit kronisnya," ujarnya.

Dalam pemeriksaan kesehatan itu, CJH juga mendapatkan vaksin meningitis. Menurut Lilik, dilakukannya vaksin itu karena sudah menjadi syarat bagi CJH untuk beriibadah haji.

Selan vaksin meningitis, CJH juga dianjurkan mendapat vaksin influenza. Tapi, untuk faksin flu tersebut para CJH harus membayarnya. Tidak gratis seperti vaksin miningitis. "Kalau vaksin influenza harus bayar," jelas Lilik.

Untuk mendapatkan vaksin influenza itu, CJH harus rela mengeluarkan duit sebesar Rp 150 ribu. Itu, lebih besar dibanding tahun lalu yang harganya hanya Rp 130 ribu. "Kalau vaksin meningitis gratis karena sudah disubsisidi oleh Negara. Sedangkan, untuk vaksin influenza masih harus bayar," ujarnya.

Menurutnya, ada beberapa kreteria yang bisa menggagalkan CJH berangkat haji, dari segi kesehatan. Di antaranya, wanita yang sedang hamil lebih dari 6 minggu, berpenyakit kronis seperti HIV/AIDS dan kusta basah. "Kalau Diabetes, kolesterol atau hipertensi itu masih bisa diobati," ujarnya. (rud/yud)

Sumber: http://www.jawapos.co.id/radar/index.php?act=detail&rid=180589

Senin, 13 September 2010

RSUD Tongas Siaga 24 Jam

[ Minggu, 12 September 2010 ]
TONGAS-RSUD Tongas menyiagakan personelnya 24 jam penuh selama Lebaran. Berbagai pelayanan prioritas akan disiapkan semua. Meliputi pelayanan UGD, rawat inap, serta ruang bersalin. Hanya layanan poliklinik yang akan libur.

"Ada siaga Lebaran 24 jam," terang direktur RSUD Tongas, Anang Budi kepada Radar Bromo. Pihak RSUD juga menyiagakan fasilitas ambulans 24 jam.

Untuk memberi pelayanan Lebaran ini manajemen RSUD melibatkan seluruh komponen rumah sakit. Mulai dari petugas kebersihan hingga direktur RSUD sendiri. "Cleaning service juga kami libatkan," terang Anang.

Sistem jaga di rumah sakit menggunakan sistem bergilir. RSUD sudah membentuk jadwal piket bagi seluruh pegawainya. "Sistem shift yang diterapkan," terang Anang.

Nantinya di RSUD ada 32 orang yang selalu stand by. "32 orang itu yang disiapkan on side (di dalam, red).

Selain itu ada juga petugas yang sewaktu-waktu dapat dipanggil jika memang bersifat darurat. "Ada petugas yang on call," ungkap Anang. Petugas yang on call tersebut meliputi juga jajaran direksi yang di dalamnya juga termasuk direktur RSUD.

Untuk dokter umum, harus selalu di RSUD selama 24 jam tersebut. Sedangakan dokter spesialis bersifat on call.

"Saya sendiri harus juga siap, jika sewaktu-waktu dibutuhkan," jelas Anang. Hal tersebut memang harus dilakukan, karena sebagai pucuk pimpinan harus selalu siap jika ada hal atau kejadian besar yang mungkin terjadi.

Masalah lainnya yang jauh-jauh hari dipersiapkan adalah stok obat-obatan. Semua jenis obat-obatan sudah dilengkapi, untuk menghindari terjadinya kelangkaan berbagai kebutuhan obat-obatan di RSUD.

Sebetulnya RSUD sendiri sudah siaga muali dari H-7." Kami siaga dari H-7 hingga H+7," jelas Anang. Tidak hanya itu, sebelumnya RSUD sudah menerima instruksi dari Bupati Probolinggo, mengenai persiapan untuk siaga selama Lebaran nanti. (d7x/nyo)

Sumber: http://www.jawapos.com/radar/index.php?act=detail&rid=178907

Jumat, 06 Agustus 2010

RSAB Siti Fatimah Ganti Direktur

[ Kamis, 05 Agustus 2010 ]
KRAKSAAN - Kemarin (4/8), RSAB Siti Fatimah Kraksaan resmi mempunyai direktur baru. Yakni, dr Catur Priambodo. Catur resmi dilantik dan diambil sumpahnya sebagai direktur dalam pelantikan pejabat direktur di halaman RSAB, sekitar pukul 10.30 WIB hingga pukul 12.30 WIB.

Dalam pantauan Radar Bromo, kegiatan itu dihadiri sekitar 100 peserta. Tak hanya warga sekitar, beberapa perwakilan Majelis Kesehatan dan Kesejahteraan Masyarakat (MKKM) Jawa Timur juga hadir. Datang juga sejumlah kepala Rumah Sakit Muhammadiyah di Provinsi Jawa Timur.

Catur menggantikan posisi dr. Hadiyanto Adijoyo. Sesuai surat keputusan (SK) MKKM Jawa Timur, Catur menjabat selama 1 tahun terhitung sejak 4 Agustus 2010 hingga 3 Agustus 2011.

Sebelum pelantikan dan pengambilan sumpah, lebih dulu tampil paduan suara karyawan RSAB. Setelah lagu Indonesia Raya dinyanyikan undangan, paduan suara lantas menyanyikan lagu wajib Muhammadiyah berjudul Sang Surya.

Pelantikan sendiri dilakukan oleh Moh Isyfak Yulianto. Begitu selesai, Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kabupaten Probolinggo H. Ahmad Budiono memberikan sambutan.

Lebih dulu Budiono menyampaikan permohonan maaf dari direktur lama, dr. Hadiyanto Adijoyo. Sebab kata Budiono, Hadiyanto sedang sakit. "Beliau titip salam. Sakitnya memang tidak memungkinkan bepergian," ujarnya.

Selama sambutan, Budiono banyak bercerita tentang awal berdirinya RSAB. Menurutnya, RSAB didirikan oleh ayahnya, yakni H. Ahmad Wasiun pada 1994. Selanjutnya RSAB diresmikan pada 1 Agustus 1996 oleh Amin Rais, ketua PP Muhammadiyah saat itu. "Sementara saya menangani RSAB sejak 2003. Meneruskan perjuangan ayahanda," tutur Budiono.

Selanjutnya sambutan dari Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Probolinggo dan dilanjutkan oleh sambutan Ketua MKKM Jawa Timur dr. H. Sukadiono. Sukadiono memuji raihan yang dicapai RSAB Siti Fatimah.

Tak hanya dari sisi pelayanan pada masyarakat. Namun juga pada tampilan paduan suara karyawan. "Ini menunjukkan sinergi yang baik," ujar Sukadiono.

Lebih jauh Sukadiono berharap, direktur baru bisa meneruskan prestasi yang diraih direktur sebelumnya. Bahkan kata Sukadiono, mesti ada peningkatan yang lebih signifikan.

Apalagi saat ini RSAB sudah banyak mengalami kemajuan. "Yang apes kalau tambah menurun. Tapi saya yakni dr. Catur bisa menjalankan tugas dengan baik," kata Sukadiono. (eem/hn)

Sumber: http://www.jawapos.co.id/radar/index.php?act=detail&rid=173483

Rabu, 28 Juli 2010

Pabrik Jamu Digerebek

Rabu, 28 Juli 2010 | 12:32 WIB

PROBOLINGGO - Diduga berproduksi tanpa izin, pabrik jamu tradisional di Jl. Tjokroaminoto, Kota Probolinggo, digerebek jajaran Polresta Probolinggo. Polisi pun menyita dua mesin pengolahan jamu, bahan jamu, dan ratusan bungkus (sachet) jamu siap edar.

“Awalnya, kami mendapat informasi dari masyarakat, ada pabrik jamu yang mencurigakan karena pabriknya tertutup rapat,” ujar Kapolresta, AKBP Agus Wijayanto, Selasa (27/7) siang. Polisi pun kemudian menggerebek pabrik pengolahan jamu yang berlokasi di kawasan perkampungan itu.

Saat digerebek, pemilik pabrik jamu (PJ) Ragil Putera, Handi Wijaya, sedang santai bersama tiga pekerjanya. “Malam saat penggerebekan, pemilik dan tiga pekerja sedang kongkow-kongkow,” ujar Kapolresta.

Didapat informasi, sebelumnya pabrik jamu itu beroperasi di Desa Patokan, Kec. Bantaran, Kab. Probolinggo. “Namun sejak empat bulan lalu, pabrik jamu itu boyongan ke sebuah rumah ke Kota Probolinggo,” ujar AKBP Agus Wijayanto.

Izin (SIUP dan HO) pabrik jamu itu diduga kuat telah kadaluwarsa. Apalagi, sebelumnya izin dilakukan di Kab. Probolinggo. “Izinnya berakhir pada 2009 lalu, katanya sekarang sedang proses pengajuan izin di Pemkot Probolinggo,” ujar seorang polisi.

Polisi kemudian menyita dua mesin pengolahan jamu, sejumlah sak berisi bahan jamu, dan jamu siap edar. Polisi juga menyegel bangunan pabri jamu tradisional itu.

Sampel jamu pegal linu/rhematik bermerek “Tombak Mas” itu dikirimkan ke BP Pengawasan Obat dan Makanan (POM) Surabaya. “Pemeriksaan sampel jamu di BP POM itu untuk mengetahui kandangan jamu. Soalnya, di sejumlah daerah ada jamu tradisional yang bahannya dicampur bahan obat kimia. Belum diketahui, ke mana saja daerah peredaran jamu tradisional tersebut,” ujar AKBP Agus Wijayanto.

Dalam pemeriksaan, Handi Wijaya, pemilik pabrik mengatakan, pabriknya termasuk usaha kecil menengah (UKM). “Izin usaha kecil ini saya ajukan sejak 2004 lalu,” ujar warga Jl. Soekarno-Hatta, Kota Probolinggo itu. isa

Sumber: http://www.surabayapost.co.id/?mnu=berita&act=view&id=b9fe954418f325ff775930f885811ef1&jenis=1679091c5a880faf6fb5e6087eb1b2dc

Polresta Gerebek Rumah Produksi Jamu

[ Rabu, 28 Juli 2010 ]
PROBOLINGGO - Satuan Reskoba Polresta Probolinggo Senin (26/7) malam menggrebek sebuah rumah di kawasan Jl Cokroaminoto. Rumah itu diduga jadi tempat produksi jamu tradisional tanpa izin. Kini polis masih memeriksa kelengkapan administrasi perizinan dan kandungan dalam racikan jamu tersebut.

Dari informasi yang dihimpun, penggerebekan berlangsung sekitar pukul 21.00. Petugas berpakaian preman memasuki rumah di Jl Cokroaminoto nomor 51 itu. Kejadian tersebut kontan menyita perhatian masyarakat setempat dan pengguna jalan yang melintas.

Sejumlah barang-barang di rumah tersebut disita oleh polisi kemudian dibawa ke mapolresta. "Ada banyak barang yang dibawa sama polisinya. Seperti alat-alat dan jamu karungan," kata Muhammad, salah seorang warga setempat.

Saat dikonfirmasi, Kapolresta Probolinggo AKBP Agus Wijayanto menyatakan penggrebekan itu berdasarkan informasi masyarakat kepada polisi. Informasinya, di rumah yang tertutup itu terdapat aktifitas usaha.

"Atas informasi ini, quick respons kami, jajaran reskoba lidik ke sana dan didapati racikan jamu pegel linu tradisional. Tentunya kami harus mengecek dokumen dan produknya terlebih dahulu," ungkapnya.

Jamu tradisional pegel linu dan rematik itu khusus untuk pria dan wanita. Dengan merek Tombak Mas diproduksi PJ (pabrik jamu) Ragil Putra Jawa Timur Indonesia. Tertera dalam kemasan POM TR 043.234.861. Usaha tersebut atas nama Handi Wijaya, beralamat di Jl Soekarno Hatta Kota Probolinggo.

Menurut Kapolresta AKBP Agus Wijayanto, pemilik mengaku baru beroperasi di Kota Probolinggo selama empat bulan. Sebelumnya sudah melakukan usaha yang sama tetapi di wilayah Kabupaten Probolinggo. Tepatnya di Desa Patokan, Kecamatan Bantaran.

"Dia punya izin, tetapi di wilayah kabupaten. Selanjutnya kami akan memeriksa semua kelengkapan dokumen kaitannya dengan SIUP sampai ke Badan POM. Saat ini (kemarin) yang bersangkutan masih kami periksa," tutur AKBP Agus kepada sejumlah wartawan.

Beberapa barang bukti diamankan oleh polisi. Rumah yang dijadikan tempat aktifitas oleh Handi langsung dipasang police line. Selain Handi, ada dua orang pekerja yang ikut diperiksa. "Untuk menentukan unsur zat kimia yang terkandung dalam racikan jamu itu, kami sudah membawa sampel ke lab polda. Kami tunggu hasil lab apakah ada kandungan berbahaya atau tidak," ujarnya.

Barang bukti yang saat ini diamankan di Mapolresta antara lain dua mesin packing cetak, mesin packing manual, bahan baku 1 sak alang-alang, 1/4 kantung daun salam, temulawak satu plastik, ayu rangga 11 plastik, 1 plastik mahoni. Lalu, 1 sak daun sinom, plastik pembukus, 13 kotak jamu Tombak Mas siap jual, dua dos berisi 400 kotak jamu.

Berikutnya ada juga satu bak jamu rusak, dua saringan jamu, dua tempat hasil saringan jamu, 5 tepung munir, satu dos alat pembersih mesin, satu rol plastik, tiga botol pengawet jamu, empat plastik tepung munir rusak dan rempah bahan jamu.

Polisi sudah mengantongi dua berkas izin yang dikeluarkan oleh Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur dan Badan POM RI tahun 2004. Izin tersebut dikeluarkan pada tahun 2004 untuk izin usaha industri kecil obat tradisional yang bertempat di Desa Patokan, Kecamatan Bantaran, Kabupaten Probolinggo.

Namun izin yang dikeluarkan hanya berlaku selama lima tahun, mulai tahun 2004 sampai tahun 2009. "Sekarang izinnya sudah habis. Keterangan sementara, katanya masih mengurus proses perpanjangan izin," kata Kapolresta. (fa/yud)

Sumber: http://www.jawapos.co.id/radar/index.php?act=detail&rid=172159

Rabu, 16 Juni 2010

Anak Dirawat di RSJ, Ibu Stres

[ Rabu, 16 Juni 2010 ]
KRAKSAAN - Atmani, 60, warga Desa Bulu, Kecamatan Kraksaan, Kabupaten Probolinggo sedang menjadi perhatian warga setempat. Sebabnya, sejak Minggu (13/6) ibu dari Misriani, 22,ini mengamuk. Padahal sebelumnya kondisi Atmani baik-baik saja.

Diduga penyebabnya, karena Atmani kangen pada Misriani. Yakni, gadis gila yang diberitakan Radar Bromo, beberapa waktu lalu. Maklum, Misriani saat ini sedang dirawat di RSJ Lawang, Malang. Karena jauh dari Misriani, diduga Armani kangen.

Diberitakan Radar Bromo sebelumnya, sejak kecil Misriani menderita kelainan jiwa. Selain itu, kedua kaki Misriani lumpuh.

Meski demikian, tangan Misriani dirantai pada sebuah pohon Nangka selama sekitar 18 tahun. Alasannya, Atmani kuatir anaknya itu menghilang. Sebab menurut Atmani saat itu, dirinya sangat menyayangi Misriani.

Kondisi Misriani ini didengar pemkab setempat. Pemkab lantas membawa Misriani ke RSJ Lawang, Malang pada pertengahan Mei. Tujuannya, agar Misriani sembuh layaknya gadis sebayanya.

Saat hendak dibawa ke Malang, Atmani sedikit keberatan. Namun setelah dibujuk, akhirnya Atmani memberikan izin. Tak tanggung-tanggung, saat itu istri Bupati Probolinggo Tantri Hasan Aminuddin juga menyatakan simpati. Bahkan, Tantri juga ikut membujuk Atmani agar mengizinkan pengobatan pada Misriani.

Dari info yang diterima Radar Bromo, kemarin (15/6) Atmani berulangkali minta agar anaknya dijemput. Sekitar pukul 09.30 WIB, Atmani mengutarakan itu di rumah Asmuni, 45, tetangganya. Sekitar 200 meter dari rumah Atmani.

Saat itu Atmani membawa sebuah Pisang goreng. Sambil mengomel, Atmani memakan Pisang goreng tersebut. "Koni'en tang anak (jemput anak saya)," pintanya berulang-ulang dengan ditemani adik kandungnya Ny. Adi, 50.

Ketika duduk di ruang tamu Asmuni, Atmani tetap saja mengomel. Pelan-pelan Pisang goreng terus dikunyahnya. Namun, dia tetap minta agar anaknya dijemput. Bahkan Atmani sempat menyuruh Radar Bromo untuk menjemput Misriani. "Koni'en ye Nak (jemput ya Nak)," ujarnya sambil menuding.

Asmuni mengatakan, Atmani mengamuk karena kangen pada Misriani. Hal yang terjadi pada Atmani menurut Asmuni, disebabkan tekanan batin. Sebab meski merantai anaknya, hal itu sebenarnya ungkapan kasih sayang Atmani pada Misriani. "Perawatan Atmani pada Misriani nomor satu," kata Asmuni.

Ny Adi lantas menceritakan awal stresnya Atmani. Minggu siang selepas berjualan sayur, Atmani keluar rumah. Saat itu, di tangannya tergenggam sebuah batu. "Saya terburu-buru nyusul," ujarnya.

Ternyata Atmani menuju rumah bidan Nanik Nurhayani. Saat itu Atmani hendak menyuruh Nanik untuk menjemput anaknya. Namun, Nanik sedang tidak di rumah. "Saat itu mungkin masih ngantor," lanjutnya.

Akhirnya Atmani Pulang. Namun hingga Senin (14/6), Atmani berulang kali menuju rumah Nanik. Tapi, Nanik tidak berada di rumah. Hingga kemarin sekitar pukul 08.00 WIB, Atmani dibawa ke rumah Asmuni.

Tujuannya untuk menyembuhkan Atmani. Asmuni pun membacakan doa untuk Atmani. Setelah itu Atmani berangsur-angsur sadar. "Bahkan ikut mendengarkan piano yang saya mainkan," ujar Asmuni.

Sementara Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Probolinggo Endang Astuti saat dikonfirmasi sedang hearing dengan DPRD Kabupaten Probolinggo. "Maaf, Mas. Saya sedang hearing," ujar Endang.

Sementara kepala Puskesmas Kraksaan Liliek mengatakan, pihaknya sudah menugaskan bidan Nanik Nurhayani untuk menjemput Misriani di RSJ Lawang. "Tadi sudah berangkat pukul 08.00 WIB. Mungkin nanti malam (Misriani, Red) sudah tiba di rumahnya," ujar Liliek. (eem/hn)

Sumber: http://www.jawapos.co.id/radar/index.php?act=detail&rid=164669

Kawal Kesehatan Masyarakat

[ Rabu, 16 Juni 2010 ]
Masih banyak warga yang mengalami masalah dalam kesehatan. Demikian penilaian Kades Alassumur, Kecamatan Kraksaan Bambang Sutrisno. Tidak hanya berdasar data dia mengungkap hal itu. Namun, juga berdasar pengamatannya di lapangan. "Cukup banyak kok, Mas," ujar Bambang.

Dikatakan Bambang, sebenarnya pemerintah sudah melaksanakan tugas dengan cukup baik. Bahkan, upaya pemerintah mengurangi beban masyarakat cukup bermanfaat. Misalnya dengan program Jamkesmas dan Jamkesda. "Hanya saja, orang sakit memang banyak," katanya.

Setidaknya, sejauh ini pemerintah Desa Alassumur sering membantu warganya yang sakit. Mamang bantuan tersebut hanya sebatas menfasilitasi kebutuhan warga sakit. Meski demikian, hal itu justru memberikan manfaat cukup besar bagi masyarakat. "Sebab banyak masyarakat tak tahu cara mengurus (upaya pengobatan)," ujar Bambang.

Bentuk bantuan tersebut kata Bambang, yakni melaporkan warga sakit pada puskesmas terdekat. Selanjutnya, pihak desa kata Bambang bertugas menyiapkan alat kelengkapan pengobatan. "Misalnya KTP, KK, maupun kartu Jamkesmas/Jamkesda," tukasnya.

Tugas itu menurut Bambang memang cukup sederhana. "Makanya saya bilang, banyak orang desa awam. Bahkan tak tahu baca tulis. Bagaimana caranya mereka bisa mengurus (administrasi)," sergahnya.

Selanjutnya meski sudah diurus, namun bukan berarti masalah sudah selesai. Sebab warga masih butuh dampingan. Hingga proses pengobatan benar-benar tuntas. Pemerintah desa sendiri kata Bambang, berkomitmen mengurus hal tersebut. "Selain pemerintah terbantu, kami juga merasa puas. Sebab warga terbebas dari sakit," pungkas Bambang. (eem/hn)

Sumber: http://www.jawapos.co.id/radar/index.php?act=detail&rid=164667

Rabu, 09 Juni 2010

5 Operasi Sukses, 3 Menyusul

[ Rabu, 09 Juni 2010 ]
KRAKSAAN - Setelah melakukan operasi pada pasien bibir sumbing, RSAB Siti Fatimah Kraksaan, merilis hasil operasi tersebut, kemarin (8/6). Rilis dilakukan oleh Ketua PD Aisyiyah Kabupaten Probolinggo Hj. Lailatul Khairiah berdasarkan foto hasil operasi dari RSU Al-Irsyad Surabaya.

Laila -panggilannya- mengatakan, ada lima pasien yang menjalani operasi. Yakni Baharuddin, 33, warga Pajarakan Kulon, Pajarakan; Siti Nurwahyuni, 2, warga Patemon, Krejengan; Ulfatun Hasanah, 27, warga Wangkal, Gading. Lalu, Nurul Huda, 17, dan Zainap, 36. Keduanya warga Sidomukti, Kraksaan.

Kini, Menurut ketua pimpinan daerah Aisyiyah Hj. Lailatul Khairiah, 5 pasien sudah terlihat normal. Dikatakan Laila, mereka dioperasi pada 1 Mei lalu. Saat ini kata Laila, mereka seperti layaknya orang lain. "Alhamdulillah, Mas," ujar Laila ketika ditemui di kantornya.

Lebih lanjut kata Laila, pihaknya sudah menerima foto hasil operasi 5 pasien tersebut. Oleh karenanya, RSAB Siti Fatimah mengundang para pasien. Tujuannya untuk mengambil foto terbaru mereka. Terutama foto pasca operasi bibir sumbing.

Diberitakan Radar Bromo beberapa waktu lalu, RSAB Siti Fatimah melaksanakan program operasi gratis terhadap sejumlah 8 penderita bibir sumbing. Dari jumlah tersebut, 5 orang di antaranya bisa langsung dioperasi.

Sementara kata Laila, untuk tiga pasien lainnya masih dalam pengamatan. Yakni Saniyah alias Aisyah, 33, Rondokuning Kraksaan; Abdi Rahmad Anugrahilah, 15, Pandean Paiton; Moh. Ilham, 5, Kalibuntu Kraksaan.

Namun salah satunya yakni Saniyah akhirnya gagal operasi. Sebab kata Laila, penyakit yang diderita bukan bibir sumbing. Sedangkan Abdi Rahmad Anugrahilah masih membutuhkan perawatan ortodotis. Sehingga membutuhkan perawatan yang lebih intensif.

Berbeda dengan Mohammad Ilham. Menurut Laila, Ilham akan dioperasi hari ini. Tindakan itu dilakukan setelah dilakukan pengamatan. "Operasi akan dilakukan di RSU Al-Irsyad," tukas Laila.

Menurut Laila, sebenarnya Ilham sudah dua kali menjalani operasi serupa. Namun bibir Ilham kembali sumbing. Sebab kata Laila, Ilham kurang dirawat pada masa pos operasi. Yakni oleh pihak keluarga. Akibatnya bibir Ilham kembali sumbing. "Mudah-mudahan tidak terulang lagi," ujar Laila.

Sementara saat ditemui Radar Bromo, Zainap, salah satu pasien terlihat malu. Terutama ketika diwawancara. Zainap mengatakan, saat ini dirinya sudah merasa lebih nyaman. "Semangken lebih nyaman(sekarang lebih enak)," ujar Zainap sembari tersipu.

Begitu juga dengan Baharuddin. Baharuddin mengatakan, setelah menjalani operasi, dirinya merasa lebih percaya diri bergaul dengan rekan-rekannya. "Saya merasa ini anugerah yang luar biasa, Mas," ujar Baharuddin.

Lebih jauh Laila mengatakan, tahun ini pihaknya menargetkan bisa mengoperasi 30 pasien serupa. Saat ini lanjut Laila, pihaknya masih membuka pendaftaran. Terutama bagi penderita yang kurang mampu. "Agar penderita merasa nyaman dalam bergaul," pungkas Laila. (eem)

Sumber: http://www.jawapos.co.id/radar/index.php?act=detail&rid=163458

Selasa, 08 Juni 2010

Banyak Pejabat Darah Tinggi

[ Selasa, 08 Juni 2010 ]
PROBOLINGGO - Pejabat eselon 2, 3 dan 4 di lingkungan Pemkot Probolinggo saat ini menjalani general medical check up. Ini dilaksanakan tiap tahun. Belum diketahui hasilnya untuk tahun ini. Tapi, berkaca pada hasil general medical check up pada 2009, ditemukan banyak pejabat menderita hipertensi atau darah tinggi.

Kali ini general medical check up dilaksanakan di RS Dharma Husada Kota Probolinggo. Pemeriksaan kesehatan itu dilakukan sejak Senin (7/6) hingga Rabu (9/6). Serangkaian pemeriksaan diikuti mulai dari pemeriksaan darah, urine lengkap, fungsi hati, fungsi ginjal dan paru.

"Pemeriksaan kesehatan ini untuk pejabat eksekutif sebanyak 130 orang. Masing-masing satker (satuan kerja) sekitar 3 orang. Pemeriksaan berjalan selama tiga hari," ujar Kepala Dinas Kesehatan dr Bambang Agus Suwignyo.

Pagi kemarin, terlihat Wawali Bandyk Soetrisno dan Sekda Johny Haryanto berada dalam antrean general medical check up. Check up pertama yaitu cek darah untuk ginjal dan tes urine.

Sambil menunggu hasil laboratorium, pejabat bisa menjalani pemeriksaan ECG (Electro Cardio Grafi) alias rekam jantung untuk mengetahui fungsi jantung. Pemeriksaan ini membutuhkan waktu sekitar 10 menit. Lalu rontgen guna mengetahui fungsi paru para pejabat, ada gangguan atau tidak.

"Setelah pemeriksaan selesai, dipersilahkan makan sebagai persiapan pemeriksaan dua jam setelah makan. Pemeriksaan itu fungsinya untuk mengetahui kadar gula darah. Kalau sudah dua jam, pejabat itu harus kembali lagi lagi ke lab," jelas dr Bambang.

Menurut dr Bambang, general medical check up ini sangat penting untuk screening sekaligus mengatasi penyakit yang mungkin dialami oleh pejabat. Melalui pemeriksaan ini dapat diketahui apakah pejabat mengidap penyakit yang dapat mengurangi produktifitas kerja.

Apabila nanti ditemukan ada kelainan, Dinkes bakal menunjuk dokter spesialis sebagai konsultan. Antara lain dokter spesialis penyakit dalam, dokter spesialis jantung, dokter spesialis paru dan patologi klinik. Setidaknya membutuhkan waktu sekitar sebulan untuk mengetahui hasil pemeriksaan tersebut.

Kepada Radar Bromo, Kepala Dinkes menegaskan meskipun yang ikut pemeriksaan pejabat pemerintah, bukan berarti pemeriksaan itu harus dilaksanakan di rumah sakit punya pemerintah pula. Sebab, general medical check up ini melalui tender dan badan layanan milik pemerintah tidak boleh ikut proses tender.

"Kami mengumumkan dengan kualifikasi tertentu melibatkan semua lab di kota. Yang memenuhi persyaratan yang memenangkan tender sesuai daftar tarifnya. RSUD tidak boleh ikut dalam tender ini. Dan (tender) dimenangkan Dharma Husada," ujarnya.

Dokter Bambang membenarkan jika pejabat juga punya askes (asuransi kesehatan) tapi askes tidak bisa digunakan untuk general medical check up. "Sakit dan pengobatan bisa menggunakan askes. Jadi, kebijakan ini tidak overleap dengan askes," imbuh dia.

Berdasarkan hasil pemeriksaan tahun 2009 lalu, ada sejumlah penyakit yang banyak diderita oleh pejabat. Posisi teratas adalah tekanan darah tinggi, kolesterol tinggi, diabetes (kencing manis) dan gangguan jantung ringan.

Sama seperti tahun-tahun sebelumnya, apabila hasil sudah keluar maka Dinkes bakal menyarankan ke dokter spesialis yang sudah dirujuk. Terkait penyakit yang diderita, dr Bambang tidak bisa menyarankannnya, namun diserahkan ke dokter spesialis tersebut.

Namun secara global, ia punya saran, sebaiknya menjaga kesehatan dengan baik, perhatikan kesehatan secara rutin, jangan merokok, hindari stress dan makan dengan makanan bergizi seimbang serta olahraga teratur.

"Hasil pemeriksaan pejabat ini akan kami laporkan ke wali kota. Kami juga berencana mengadakan general medical check up untuk keluarga miskin perokok," pungkas dr Bambang. (fa/yud)

Sumber: http://www.jawapos.co.id/radar/index.php?act=detail&rid=163251

Senin, 07 Juni 2010

DB Serang Tiga Warga, Langsung Fogging

[ Senin, 07 Juni 2010 ]
KRAKSAAN - Warga kini harus ekstra waspada. Sebab, penyakit demam berdarah (DB) kembali menggejala. Seperti yang dialami tiga warga Desa Sidopekso, Kraksaan. Menyikapi kondisi itu, pemerintah desa (pemdes) setempat melalui Puskesmas Kraksaan langsung melakukan fogging (pengasapan), kemarin (6/6).

Tiga warga penderita DB itu semuanya tinggal di RT 01 RW 03 Dusun Gudang. Anehnya, ketiganya tinggal di satu halaman. Karena itu, fogging difokuskan di dusun tersebut. Yakni, sekitar pukul 08.30 WIB.

Dalam pantauan Radar Bromo, di dusun tersebut memang terdapat titik-titik rawan dihuni nyamuk. Di beberapa sudut perkampungan misalnya, terdapat banyak tumpukan sampah tak terurus.

Kepala Desa Sidopekso Bambang Supriyono mengatakan, fogging baru kali ini dilakukan di Sidopekso. Sebelumnya kata dia, belum pernah dilakukan. Sebab, belum ada warga yang terjangkit demam berdarah. "Baru kali ini ada warga kena DB," terang Bambang.

Bambang mengatakan, jumlah warga di Desa Sidopekso ada 3.620 jiwa. Sementara jumlah KK ada 1.200. Jumlah tersebut tersebar di enam dusun. Dan selama ini belum pernah ada warga yang menderita DB. "Makanya saya kaget ketika ada yang kena (DB)," ujar Bambang.

Pengasapan sendiri diharapkan Bambang bisa mengurangi penyebaran DB pada warga yang lain. Meski telat, namun Bambang mengatakan akan lebih memperhatikan masalah tersebut. "Harus dilakukan penanganan serius," pungkasnya. (eem/hn)

Sumber: http://www.jawapos.co.id/radar/index.php?act=detail&rid=163065

Kamis, 03 Juni 2010

Penderita HIV/AIDS Terus Bertambah

[ Kamis, 03 Juni 2010 ]
Jatim Terbesar Kedua di Indonesia

PROBOLINGGO- Jumlah positiv HIV/AIDS di Jawa Timur berada di ranking dua terbanyak di Indonesia. Di Kabupaten Probolinggo jumlahnya juga terus meningkat dari tahun ke tahun.

Dari tahun 2000 sampai 2009 jumlah penderita HIV/AIDS di Kabupaten Probolinggo sudah mendapai 75 orang, 35 di antaranya sudah meninggal. Grafik jumlah penderita juga selalu meningkat dari tahun ke tahun sejak 2003.

Dari status pekerjaan, profesi wiraswasta menduduki urutan pertama terbanyak pengidap ODHA (Orang Hidup Dengan HIV/AIDS). Sebanyak 18 orang yang berprofesi sebagai wiraswasta terjangkit virus mematikan tersebut.

Berada di urutan kedua ada ibu rumah tangga yang menyumbangkan 11 orang yang terinfeksi. Ketiga, ada 4 profesi yang sama-sama menyumbang penderita ODHA sebanyak 6 orang. Yakni PNS, penjaja seks, buruh kasar dan karyawan. Sopir dan mahasiswa sama-sama menyumbang 3 orang, petani 2 orang, TNI/Polri, seniman dan pelaut terdapat 1 orang serta lain-lain dan tidak diketahui sebanyak 11 orang.

Banyaknya kasus HIV/AIDS itu membuat pemda merasa perlu memberi penyadaran tentang bahayanya penyakit itu. Kemarin (2/6), Bidang Sosial Budaya Bappeda Kabupaten Probolinggo menggelar pemantapan pencegahan HIV/ AIDS 2010. Acara tersebut dilaksanakan di ruang Bentar kantor pemkab Dringu.

Dalam acara tersebut, pemkab mengundang perwakilan dari KPA (Komisi Penanggulangan AIDS) Jatim dan dari Dinas Kesehatan Provinsi Jatim.

Otto Bambang Wahyudi, sekretaris KPA Jatim yang hadir sebagai pembicara menjelaskan tentang ranking Jatim dalam jumlah kasus HIV/AIDS. "Sebenarnya nomor duanya jatuh kepada Jakarta. Tapi karena Jakarta belum memberikan rilis, Jatim sementara ini urutan kedua," katanya.

Dari data KPA, orang yang terjangkit virus HIV/AIDS di Jawa Timur per September 2008 sudah mencapai 3.581 orang HIV positif. Dengan rincian Laki-laki dewasa sebanyak 2.597, wanita dewasa sebanyak 897 orang dan anak di bawah 15 th mencapai 87 orang.

Menurut Otto, laki-laki memang yang paling riskan terjangkit virus mematikan tersebut. "Apalagi lelaki itu mobile dan banyak uang. Maka akan semakin tinggi kemungkinan terjangkitnya virus. Karena cenderung suka jajan," beber Otto.

Meski termasuk daerah dengan angka terbesar penderita HIV/ AIDS-nya, namun menurut Otto bukan berarti Jatim termasuk daerah yang jelek dalam penanganan HIV/ AIDS.

"Sama saja itu membongkar sebuah gunung es. Sebetulnya cukup banyak orang yang terinfeksi, namun yang laporan biasanya masih belum ada separonya," jelas pria berkepala plontos tersebut.

Dalam penanganan HIV/AIDS, sebenarnya yang perlu diperhatikan adalah populasi kunci yang terdapat empat unsur. Yakni, WPS (Wanita Pekerja Seks), waria, warga binaan (penghuni rutan) dan LSL (laki-laki suka laki-laki). Empat populasi tersebut yang dianggap selama ini berpotensi menularkan HIV/AIDS.

Karena itu pemda setempat harus mendata masyarakat yang telah terinfeksi tersebut. Dengan didata dapat diketahui penyebaran dan antisipasinya. Selain itu pemerangan terhadap HIV juga harus dilakukan all out di daerah-daerah. Otto sedikit menyinggung keberadaan KPA Probolinggo yang saat ini sedang vacum lantaran ditinggal founding-nya.

Menurut Otto, perhatian pemerintah dalam penanggulangan penyebaran HIV/ AIDS masih kurang besar. Buktinya, dalam pemberantasan HIV, anggaran dari pemerintah hanya 30 persen saja, 70 persen sisanya didapat dari founding lembaga luar negeri. (mie/nyo)

Sumber: http://www.jawapos.co.id/radar/index.php?act=detail&rid=162084

Selasa, 01 Juni 2010

Terkendala Administrasi, Tertunda Berobat ke Surabaya

[ Selasa, 01 Juni 2010 ]
Nasib Iin Terkatung-katung

PROBOLINGGO - Nasib Nur Indah Lia alias Iin, warga Kota Probolinggo yang diduga menderita penyakit kanker lidah, masih terkatung-katung. Upaya pengobatan yang rencananya ditanggung oleh pemerintah tertunda karena masalah administrasi.

Sebelumnya Iin sudah dibawa ke puskesmas Ketapang Kota Probolinggo. Kemudian dirujuk ke RSUD dr Mohammad Saleh Kota Probolinggo. Baru dirawat beberapa hari, setelah pihak rumah sakit memberikan perbaikan kondisi umum, Iin dibawa ke Surabaya.

Awalnya ada dua opsi yang ditawarkan pemkot terhadap Iin. Yakni, berobat di RS Syaiful Anwar Malang atau ke Surabaya. Akhirnya keluarga memutuskan wanita berusia 30 tahun itu dibawa ke Surabaya lantaran ada saudara di sana.

Selasa (25/5) lalu, keluarga memperoleh kabar bahwa Iin akan diberangkatkan ke Surabaya, (Rabu 26/5) pukul 05.00. Saat mendengar kabar dari suster di ruangan Bougenvil RSUD dr Mohammad Saleh itu, keluarga sempat kebingungan. Sebabnya, Direktur RSUD dr Budi justru bilang bahwa Iin tidak harus berangkat pagi. Asalkan keluarga siap, rumah sakit bakal mengantar.

"Kami bingung karena surat keterangan tanda miskin masih kami urus di kelurahan. Belum sampai ke kecamatan dan Dinas Kesehatan (Dinkes). Karena disuruh berangkat ya kami ikut saja dengan membawa surat seadanya," ujar Rifa, kakak ipar Iin.

Rabu pagi, sekitar pukul 05.30 Iin berangkat didampingi keluarganya. Sesampai di RSUD Dr Soetomo sekira pukul 08.30. Di rumah sakit tersebut keluarga mengaku kebingungan karena surat yang dibawa dari RSUD Dr Mohammad Saleh ke poli bedah. Ternyata setelah dibawa ke poli bedah, disuruh ke poli THT (telinga hidung tenggorokan), dari THT malah disarankan ke poli kepala dan leher ditangani dr Wayan.

"Di poli kepala dan leher itu dokternya cuma geleng-geleng kepala. Sampai memanggil empat dokter. Dokternya keheranan, Iin ini sakit apa?," cerita Ishak, kakak kandung Iin yang juga menemaninya ke Surabaya.

Waktu itu Iin diminta untuk tusuk lidah, rontgen dan cek darah. Tapi, itu tidak bisa dilakukan oleh keluarga karena takut biayanya mahal. Setahu mereka biaya itu ditanggung pemkot, jadi mereka mau berangkat sampai ke Surabaya.

Rifa menyatakan, karena persyaratan administrasi yang dibawa kurang lengkap maka Iin didaftarkan melalui pasien umum. Setelah tahu harus menjalani tes dan tidak ada biaya, keluarga memutuskan untuk tidak tes. Uang pemberian dermawan yang diterima tidak cukup untuk pengobatan di rumah sakit.

Akhirnya, pukul 13.00 keluarga memutuskan membawa Iin kembali ke Probolinggo dengan mencarter angkutan dari Surabaya. Uang bantuan dari Gapensi dipakai untuk membayar biaya transportasi itu.

"Rumah sakit (Surabaya) bilang kalau itu bukan rujukan. Karena tidak ada stempel dari rumah sakit. Dokternya saja bilang kalau memang rujukan ada suster yang mengantar. Saya sampai diberi uang Rp 13 ribu sama CS (customer service) untuk mendaftar ke loket," tutur Rifa.

Keluarga juga menyayangkan infus yang dicabut oleh pihak RSUD Dr Mohammad Saleh. "Saya sempat kaget waktu ada petugas yang melepas infusnya. Saya tanya kenapa kok dilepas, katanya karena Iin mau dibawa ke Surabaya. Saya pikir puskesmas saja tidak melepas infus kok di rumah sakit malah dilepas. Dokter Wayan dari RSUD dr Soetomo sampe tanya kok bisa infus dilepas. Kalau sudah dari rumah sakit dan rujukan mestinya infus tetap dipakai," beber Ishak lagi.

Ketika Radar Bromo mendatangi rumahnya, Iin sedang tidur. Pasalnya, sepulang dari Surabaya kondisinya makin lemah. Ia sempat kambuh selama sehari semalam selalu menangis kesakitan.

"Iin sekarang malah pesimis kalau dia tidak bisa sembuh," keluh Rifa lagi. Perjuangan keluarga untuk mendapatkan pengobatan bagi Iin tidak berhenti sampai di situ. Saat ini keluarga sedang mengurus surat ke Dinkes dan mengajukan tanda tangan ke wali kota Probolinggo.

Sewaktu di Dinkes, Rifa sempat terkejut saat Dinkes menunjukkan foto rumahnya yang dibilang masih layak karena melihat bagian pagar yang sudah dikayu. "Iin ini tidak punya rumah, dia numpang. Meskipun orang tidak punya, kami juga ingin rumah kelihatan bagus walaupun beli dari kayu bekas," ucap Rifa.

Setelah mendapatkan tanda tangan dari wali kota, Iin bakal diboyong lagi ke Surabaya. Keluarga bilang tidak melalui rumah sakit melainkan mencari pinjaman mobil yang bisa mengantar Iin sampai ke RSUD Dr Soetomo. "Kami akan berusaha lagi," tegas Rifa. (fa/nyo)

Sumber: http://www.jawapos.co.id/radar/index.php?act=showpage&rkat=4

Rabu, 26 Mei 2010

Dewan Pertanyakan Asuransi Kesehatan

[ Rabu, 26 Mei 2010 ]

PROBOLINGGO
- Anggota DPRD Kota Probolinggo tidak boleh sakit. Begitu ungkapan Wakil Ketua Komisi C Hamid Rusdi saat hearing dengan Bidang Pembangunan, Senin (24/5) lalu. Ungkapan itu keluar lantaran Hamid kecewa klaim asuransi kesehatan untuk dewan tidak ada kejelasan.

"Asuransi kesehatan selama tiga bulan belum cair. Celakanya lagi, waktu saya tanyakan ke sekretariat dewan (sekwan) karena bulan 1 sampai 3 belum ada MoU (memorandum of understanding) dengan pemenang asuransi. Lha, ini berarti pada bulan itu anggota dewan tidak boleh sakit?," tegas Hamid.

Hamid memperoleh informasi dari sekwan, MoU dengan salah satu asuransi pemenang lelang baru dilaksanakan pada 30 Maret lalu. Jadi, ketika ada dewan yang mengklaim asuransi sebelum 30 Maret tidak bisa dicairkan.

Hamid bisa membeberkan masalah tersebut karena ruwetnya proses klaim asuransi dialaminya sendiri. Saat anaknya menderita demam berdarah beberapa bulan lalu, klaim sudah diajukan sejak Februari. Tapi, itu belum cair sampai sekarang.

"Kok bisa terjadi sampai begini. Sampai sekarang tidak ada kejelasan kapan cairnya. Yang saya tanyakan, ini permasalahan ada dimana? Proses lelangnya apakah ada masalah? Karena lelang ini melalui bagian pembangunan," imbuh anggota dewan dari PKNU itu.

"Saya memang kurang memperhatikan soal asuransi kesehatan itu. Tapi, kami ini di bawah sekwan. Mau menggunakan anggaran harus melalui sekwan sebagai pengguna anggaran. Ibaratnya saya ini di bawah bapak-bapak (kepala satker), seperti staf dari bapak-bapak," ungkap Ketua Komisi C Nasution.

Kabag Pembangunan Nurkhamdani mengungkapkan bahwa proses MoU itu kaitannya dengan schedule. Karena banyak kegiatan fisik di Kota Probolinggo melalui DAK (dana alokasi khusus) harus dilelangkan.

"Tinggal dokumen lelang yang harus dipenuhi. Kalau sudah dipenuhi (dokumen) jadi saya bisa membuat schedule pelelangan," imbuh Nurkhamdani yang baru beberapa bulan menjabat sebagai kabag pembangunan.

Pernyataan tersebut akhirnya di-back up oleh Imanto, mantan Kabag Pembangunan yang kini menjadi Kepala Badan Lingkungan Hidup (BLH). Menurutnya, berdasarkan apa yang dituturkan oleh Hamid Rusdi, mestinya klaim tersebut ikut MoU asuransi pemenang lelang sebelumnya.

"Karena perjanjian itu masih berjalan sesuai dengan SPK (surat perintah kerja). Jadi, harus masuk MoU asuransi yang lama. Bapak bisa ke bagian keuangan (sekwan) dan menjelaskan kalau klaim itu masuk tahun 2010," jelas Imanto yang menangani proses lelang MoU tersebut.

Hamid berpendapat, pelelangan di bagian pembangunan tidak ada masalah dan proses sudah benar. Namun pernyataan dari pihak sekwan berbeda dengan bagian pembangunan. Klaim tidak bisa dicairkan karena diajukan sebelum penandatanganan MoU 30 Maret.

"Ada missed komunikasi. Kok tidak sama pernyataan dari sekwan dan pembangunan. Sekwan bilang kalau sebelum MoU tidak bisa diklaim. Tapi pembangunan bilang klaim masih bisa, ikut MoU sebelumnya. Kalau begini kan selama tiga bulan itu ada kekosongan hukum dan dewan tidak boleh sakit," cetus dia. (fa/yud)

Sumber: http://www.jawapos.co.id/radar/index.php?act=detail&rid=160646

Selasa, 25 Mei 2010

Dirujuk ke RSUD

[ Selasa, 25 Mei 2010 ]
PROBOLINGGO - Kian besar perhatian pada wanita muda Nur Indah Lia atau disapa Iin, yang menderita penyakit di bagian mulutnya. Setelah dibawa ke puskesmas Ketapang, warga RT 3/RW 2 Jl Wilis Kelurahan Ketapang, Kecamatan Kademangan itu dirujuk ke RSUD Dr Moh. Saleh.

Sekitar pukul 08.30 kemarin (24/5), Iin sampai di puskesmas. Sebenarnya ia akan dijemput oleh ambulans puskesmas. Tapi, sesuai janji Ketua DPRD Sulaiman, dialah yang bakal mengantar Iin ke puskesmas.

Di puskesmas Iin berada di salah satu ruang periksa. Iin diminta berbaring untuk menjalani sejumlah pemeriksaan seperti tensi darah dan denyut nadi. Teriakan kesakitan kembali terdengar saat Iin tangan kanannya dipasang jarum infus.

Saat Iin diperiksa, kakak iparnya, Rifa diminta menemui dokter puskesmas untuk pendataan dan keluhan yang dialami oleh Iin. Seperti diberitakan, Iin mulai sakit sejak Februari 2009 lalu. Awalnya diduga hanya sariawan tapi tak kunjung sembuh hingga saat ini.

Sejumlah dokter umum dan spesialis sudah didatangi tetapi belum menunjukkan kondisi Iin makin membaik. Sebaliknya, Iin malah drop dan lidahnya mengecil hingga tidak dapat berbicara lagi. Bobot tubuhnya memprihatinkan, di usianya ke 30 berat badan Iin hanya 33 kg (dua bulan lalu).

Kemarin, dokter di puskesmas Ketapang dr Pandu Suprobo memeriksa Iin. Menggunakan senter dokter melihat beberapa bagian tubuh Iin seperti mata dan mulutnya. Menurutnya, kondisi penyakit yang diderita Iin adalah kronis karena sudah diderita sejak satu setengah tahun lalu. Sangkaan awal sariawan tapi tidak sembuh-sembuh.

"Setelah pemeriksaan tadi (kemarin), pasien mengalami atrofi lidah (lidah mengecil) dan ada benjolan di dagu sebelah kanan. Indikasi kemungkinannya suspect malignansi. Itu perlu dibuktikan dengan pemeriksaan spesialistik oleh ahli bedah," ujar dr Pandu kepada Radar Bromo.

Sakit di lidah Iin disebabkan karena sakit yang dialaminya. Sedangkan lendir yang terus keluar dari mulut, itu normal hanya saja tidak bisa mengalir dengan baik. "Pasien akan dirujuk ke rumah sakit agar didiagnosa. Saat datang ke puskesmas kondisinya sudah seperti itu. Penyakit ini extra ordinary (tidak umum)," imbuhnya.

Sesaat sebelum diantar ke rumah sakit, di puskesmas Iin kedatangan tamu dari DPC Gapensi Kota Probolinggo. Jajaran pengurus asosiasi kontraktor itu nampak memberikan bantuan berupa uang yang diserahkan kepada kakak kandung Iin, Ishak.

"Ini sebagai bentuk aksi simpatik kami terhadap masyarakat di Kota Probolinggo yang membutuhkan. Karena menurut kami, saudara Iin ini memang layak untuk mendapatkan bantuan. Wali kotanya saja membantu dan memperhatikan rakyat kecil," ujar pimpinan Gapensi yang enggan namanya dikorankan.

Pasalnya, duit yang disumbangkan ke Iin berasal dari aksi spontanitas kontraktor yang bergabung di Gapensi ketika bersepeda bersama Minggu (23/5) lalu. "Lumayan mungkin bisa untuk tambah-tambah keluarganya. Kami berharap teman-teman yang lain ikut tergugah dan memberi bantuan," harap kontraktor tersebut.

Kepada ketua dewan, Kepala Puskesmas Ketapang dr Nurul Hasanah Hidayati mengungkapkan kalau ambulans sebenarnya sudah ke rumah Iin untuk menjemputnya. "Tapi, ternyata sudah diantar," cetusnya. Petugas dari puskesmas juga akan membuat surat pernyataan miskin untuk keperluan administrasi pengobatan untuk Iin.

Sekitar pukul 09.00 Iin masuk ke IRD RSUD Dr Moh. Saleh. Iin ditangani di ruang medical. Sama seperti di puskesmas, Iin juga diperiksa tensi darahnya. Di puskesmas tekanan darah Iin 160/100, di rumah sakit jadi 140/70.

"Kemarin (Minggu) malam Iin ini kumat sakitnya, mengeluh terus. Saya bilang sabar karena kan mau dibawa ke rumah sakit," ucap Rifa yang terus menjaga adik iparnya tersebut. Iin langsung dipindah ke ruang bougenvile dan menjalani rawat inap serta beberapa pemeriksaan oleh pihak dokter. (fa/yud)

Sumber: http://www.jawapos.co.id/radar/index.php?act=detail&rid=160452

Minggu, 23 Mei 2010

Dewan Keluhkan Asuransi Kesehatan

[ Minggu, 23 Mei 2010 ]
KRAKSAAN - Beberapa anggota DPRD Kabupaten Probolinggo sedang resah. Mereka kecewa dengan pelayanan asuransi kesehatan yang dinilai telat dalam membayarkan klaim.

Bambang Agus, salah satu anggota dewan dari FKB mengatakan, pihak asuransi Bumi Asih Jaya tidak menepati janjinya seperti saat sosialisasi dahulu. "Waktu sosialisasi tentang asuransi dahulu, pihak asuransi berjanji maksimal dalam waktu dua minggu klaim biaya kesehatannya sudah terlunasi," katanya.

Namun, menurutnya, kenyataan di lapangan berkata lain. Pada beberapa bulan terakhir ini, pihak asuransi dinilai lamban memberikan klaim asuransi tersebut. "Saya sudah empat bulan lebih tidak dilunasi klaimnya," kata politisi asal Sumberkerang, Gending tersebut.

Diceritakan Bambang Agus, beberapa bulan lalu anak keduanya Ariska Dewi terkena penyakit liver. Lantas dirawat inap di RSUD dr Moh Saleh. Sesuai aturan yang ada klaim asuransi baru bisa dipenuhi bila semua surat-surat dari RS lengkap.

Karena itu klaim baru keluar setelah keluarga anggota dewan dirawat. "Tetapi sampai sejauh ini, saya masih hanya diberi uang muka klaimnya. Padahal sudah empat bulan lebih," keluhnnya.

Keluhan yang sama juga disampaikan M Said, anggota dewan dari partai Republikan. Saat itu anak kedua dan ketiganya sakit dan terpaksa dirawat di RS Aisyah Kota Probolinggo. "Usai tiga bulan, saya mengajukan klaim asuransi juga tak kunjung keluar," katanya.

Beberapa anggota dewan lainnya seperti Abdul Kholik, Hj Supriati, Misnaji, Nanang Hudan Dardiri dan Muhammad Ruhullah juga mengeluhkan hal serupa. Mereka merasa kecewa dengan pelayanan asuransi yang dinilai tidak sama dengan saat sosialisasi dulu.

Sementara itu kepala asuransi Bumi Asih Jaya Probolinggo saat ditemui Radar Bromo Jumat (21/5) lalu sedang tidak ada di tempat. "Bu kepala lagi di Jepara," kata salah seorang pegawai. Handphonenya juga tidak katif ketika berusaha dihubungi Radar Bromo.

Sedangkan Yuli, staf sekretariat dewan yang mengurusi soal asuransi kesehatan untuk anggota dewan dan keluarganya, menyatakan bahwa sejak Mei lalu ada mekanisme baru yang diterapkan asuransi Bumi Asih Jaya.

"Kalau dahulu itu klaim asuransinya cukup diurus oleh cabang Probolinggo. Tetapi sejak Mei lalu berlaku aturan baru. Untuk klaim asuransi harus meminta persetujuan terlebih dahulu dari pusat mulai ke Surabaya sampai ke Jakarta lebih dahulu," beber Yuli.

Tapi, adanya perubahan mekanisme tersebut memang tidak diumumkan secara langsung melalui rapat internal seperti saat sosialisasi tentang asuransi dahulu. "Cuma saya sudah memberikan penjelasan kepada setiap anggota dewan soal adanya aturan baru ini," beber Yuli. (mie/yud)

Sumber : http://www.jawapos.co.id/radar/index.php?act=showpage&rkat=4

Sabtu, 22 Mei 2010

Umur 30 Tahun, Berat 33 Kg

[ Sabtu, 22 Mei 2010 ]
PROBOLINGGO - Kondisi Nur Indah Lia, wRata Penuharga RT 3 RW 2 Jl Wilis Kelurahan Ketapang, Kecamatan Kademangan sungguh memprihatinkan. Tubuhnya kurus kering tinggal berbalut tulang dan kulit. Di usianya yang ke 30 tahun bobot tubuhnya hanya 33 kg.

Mulutnya selalu mengeluarkan air liur. Kemana-mana istri dari Mawardi itu membawa timba berukuran kecil yang didalamnya terdapat pasir. Di timba itu Iin, panggilannya, membuang air liur dan lendir yang terus keluar.

Ia masih kuat berjalan. Tapi, ia sudah tidak bisa lagi berbicara dengan jelas. Iin berkomunikasi menggunakan bahasa isyarat dan sedikit nggremeng. Iin kesulitan berbicara karena lidahnya terkikis. Hanya tinggal seruas jari.

Tidak ada yang tahu apa penyakit yang diderita Iin. Keterbatasan kemampuan ekonomi membuat Iin berhenti berobat ke dokter sejak dua bulan lalu. Menurut cerita kakak ipar Iin, Rifa, keluhan penyakit yang dialami Iin dirasakan mulai Februari 2009 silam.

Anak ke empat dari tujuh bersaudara ini mengeluh sakit di lidah, dikiranya hanya sariawan biasa. Kemudian ia ikut suaminya di Situbondo. Ketika tinggal di Situbondo, Mawardi telah membawa istrinya ke dokter. Namun hasil pemeriksaan dokter tidak jelas, ia hanya dibilang sakit sariawan.

Beberapa bulan kemudian, sakit yang dialami Iin semakin parah. Ia pun diboyong kembali ke tempat asalnya di Ketapang, Kota Probolinggo. "Kami sudah membawanya ke dokter umum dan spesialis. Tapi ya itu, tidak tahu apa penyakitnya. Ada yang bilang kena sariawan atau amandel," tutur Rifa.

Ia pernah ke puskesmas di Triwung, ke dr Farida mengatakan Iin kena amandel. Tidak cukup ke dokter, keluarga membawanya ke mantri sekitar Juni 2009. Tidak ada yang berubah dengan penyakit Iin, ia lalu diperiksakan ke dr Muis. dr Muis bilang Iin kena sariawan.

Perjuangan memperoleh kesembuhan tdak berhenti disitu saja. Iin dibawa ke mantri, mantri itu menyarankan Iin dibawa ke dokter spesialis gigi dan mulut. Lalu keluarga ke dr Fenti, dokter tersebut tidak berani memastikan penyakit Iin. Dokter hanya memberi rujukan Iin segera dibawa ke rumah sakit di Jember atau Surabaya.

Tidak punya biaya untuk rujukan rumah sakit Iin kembali diperiksakan ke dokter di Kota Probolinggo. Diantaranya dr Taufik dan dr Sugianto. Pengobatan alternatif dan tradisional juga sudah pernah dicoba tapi nihil. Bahkan ada yang bilang kalau Iin kena santet.

"Kami memang ingin mengurus apa itu namanya, jamkesmas untuk rujukan ke rumah sakit di Surabaya. Tapi, yang kami pikirkan adalah biayanya. Walaupun biaya pengobatan katanya gratis, bagaimana dengan transportasinya? Biaya keluarga yang menjaga disana," tutur Rifa.

Tidak ada diagnosa jelas dari dokter dan tidak mendapatkan penanganan medis secara intensif, kondisi Iin semakin memburuk. Awal tahun 2009 lalu berat badanya masih 57 kg tetapi sekarang turun menjadi 33 kg. Sejak lima bulan terakhir Iin sudah tidak bisa berbicara. Dua bulan lalu pengobatan dihentikan karena keluarganya tidak mampu lagi.

Ishak, kakak Iin merasa heran karena jika adiknya sakit sariawan tidak akan memakan waktu yang lama. "Sariawan tapi lidahnya kok bisa habis? Lidahnya itu tidak ada lukanya, tapi tiba-tiba habis begitu. Ada dokter yang bilang lidahnya bisa begitu karena sakinya itu," ungkap dia.

Awalnya hanya lidah sebelah kanan yang terkikis. Lalu ganti sebelah kiri dan sekarang sudah menjalar ke tengah. Radar Bromo mencoba berkomunikasi dengan Iin, menanyakan apa yang ia rasakan dengan sakit yang dideritanya saat ini.

Anak pasangan Nasir dan almarhumah Halipah itu merasakan sakit sampai dibagian lehernya. Cenut-cenut. Tubuh Iin makin kurus kering karena ia tidak mengkonsumsi makanan yang bergizi. Untuk makan pun lidahnya sakit. Ia hanya mengonsumsi sereal energen setiap hari, sesekali makan bubur.

Iin sendiri tidak menyangka kalau ia bisa sakit. Ia menikah dengan Mawardi sejak tahun 1999 lalu, hingga kini belum dikaruniai anak. Mereka mengambil anak asuh. Pekerjaan Mawardi sebagai tenaga serabutan tidak bisa mendukung pengobatan yang layak untuk istrinya.

"Saya ingin segera sembuh, tapi tidak pakai operasi, takut," ujar Iin dengan bahasa yang kurang jelas. Rifa yang yang berusaha untuk menjelaskan apa yang dimaksud oleh Iin. Anehnya, Iin merasa kalau ia kena kanker. Saat ditanya bagaimana ia bisa berkesimpulan begitu, Iin langsung memberi isyarat kalau kepalanya selalu sakit dan rambutnya rontok.

Keluarga tidak tega saat sakitnya kambuh. Iin akan terus mengerang kesakitan dan memegang bagian kepalanya. Biasanya semua kakak dan adik Iin patungan sekitar Rp 5.000 sampai Rp 20 ribu kalau Iin mau dibawa berobat. Tetapi, sekarang keluarga sudah tidak mampu lagi.

"Kami harap ada bantuan berupa penanganan kesehatan sampai Iin bisa sembuh. Karena terus terang, selama periksa ke dokter Iin tidak pernah diminta periksa darah atau rawat inap. Semoga pemerintah bisa membantu adik kami," ujar Ishak diamini oleh istrinya, Rifa. (fa/yud)

Sumber: http://www.jawapos.co.id/radar/index.php?act=detail&rid=159851

38 Orang Gila Diobati

[ Jum'at, 21 Mei 2010 ]
Libatkan Tim Visitasi RSJ Lawang

KREJENGAN - Sekitar 38 orang gila diobati, kemarin (20/5). Pengobatan dilakukan di Puskesmas Krejengan dengan melibatkan tim visitasi RSJ Lawang Malang.

Kepala Puskesmas Krejengan dr. Agus Ciptosantoso mengatakan, kegiatan itu merupakan kegiatan kedua. Sebulan sebelumnya menurut Agus, dilakukan kegiatan serupa. "Kalau sekarang lebih banyak dan lebih sistematis," katanya.

Bulan lalu kata Agus, ada 11 orang gila yang diobati. Kali ini meningkat menjadi 38 orang. Dari jumlah itu, 15 orang akan dirujuk ke RSJ Lawang Malang. Sementara 23 lainnya hanya menjelani rawat jalan. "Hari ini langsung dibawa," lanjutnya.

Kegiatan itu sendiri dimulai sekitar pukul 11.00 WIB dan diperkirakan selesai pukul 14.30 WIB. Pasien yang diobati berasal dari 6 kecamatan. Yakni Kraksaan, Krejengan, Maron, Gading, Paiton dan Besuk. "Kalau dari Krejengan hanya 1 orang," terang Agus.

Sempat terjadi salah paham selama pengobatan berlangsung. Saat itu sekitar pukul 13.30 WIB seorang petugas Kecamatan Krejengan bernama Nur Hasan tiba-tiba datang ke puskemas. Dia menanyakan pengobatan untuk Syakur, 28, warga Desa Karangren, Krejengan.

Menurut lelaki yang menjabat kasi kesra itu, mestinya Syakur juga berhak mendapat perawatan. Namun Syakur justru diabaikan. Padahal Syakur adalah warga Krejengan sendiri. "Kok malah ngurusin warga kecamatan lain. Padahal lebih penting warga sendiri," katanya dengan nada tinggi.

dr. Agus saat dikonfirmasi membenarkan pengaduan Nur Hasan. Namun Agus menyangkal jika pihaknya mengabaikan Syakur. Menurutnya, pihaknya sudah berkali-kali mengirimkan surat pada keluarga Syakur.

Sayangnya, keluarga Syakur tidak pernah memberi respon. Selain itu menurut Agus, Syakur tidak memiliki kartu Jamkesmas. "Tentunya harus diproses dulu, Mas," lanjutnya.

Namun, Nur Hasan berkata lain. Menurutnya, Syakur sudah memiliki kartu Jamkesmas. Kartu itu bahkan dipegang Nur Hasan. "Kok dibilang tidak punya jamkesmas," katanya.

Karena pengaduan yang disampaikan Nur Hasan mendadak, Agus mengaku tidak bisa menangani Syakur, kemarin. Namun Agus berjanji, besok pihaknya akan mengobati Syakur. "Insya Allah besok pagi," tutur Agus. (eem/hn)

Sumber : http://www.jawapos.co.id/radar/index.php?act=detail&rid=159580