Tampilkan postingan dengan label Hobi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Hobi. Tampilkan semua postingan

Senin, 25 Oktober 2010

Kencan yang gagal

Monday, October 25, 2010

Maksud hati ingin menyambut kehadiran saudara sesama biker dari Evergreen-Lumajang yang akan melaju di wilayah kami.

Maka minggu tanggal 17 Oktober kita berangkat agak siang, supaya waktunya tepat bisa bertemu di titik yang telah ditentukan.

Dimulai start jam 7.30, karena Hudha harus berganti tunggangan akibat masalah pada disc brake, kemudian meluncur dari Leces Permai melaju menujuk Pondok Wuluh, Kedungrejo, Besuk hingga Bantaran.

Sampai Legundi, masih tidak ada masalah, meski tanjakan sudah mulai menyapa. Karangnyar, Kedawung terus digowes padahal beban semakin berat.

Masuk Kuripan, jarak antar kami semakin menjauh, namun jalan aspal mulus membuat beban berat seakan tak dirasakan.

Namun menjelang akhir kecamatan Kuripan sudah mulai nampak ujung hutan sudah mulai beruntunan, dan mengingat jarak yang ditempuh masih jauh, maka diputuskan mencari tumpangan sampai masuk di hutan kecamatan Sumber.

Alhamdulillah sebuah pickup L300 yang masih baru rela mengangkut kami sampai melewati tanjakan pinus dengan gratis.

Rencana kita akan stand by di Pasar Tempuran, namun ternyata kendaaraan tumpangan sudah sampai ke tujuannya 2 KM sebelum tempat yang kami tuju.

Akhirnya kita gowes sambil sesekali TTB, mengambil jalan pintas diantara rerimbunan hutan pinus yang cukup rapat dan licin.

Butuh waktu hampir 1 jam untuk melalui jarak 2 KM ini, karena "nikmat"nya rute yang dilalui.

Sesampai di pasar Tempuran, waktu sudah hampir jam 10, kita mengisi perut terlebih dahulu, karena rute selanjutnya tak akan menemukan warung makan.

Tandas, nasi sepiring, dilanjutkan ke jalanan menurun tajam ke arah timur, dan seperti biasa, dimana ada turunan pastik diikuti saudara kembarnya yaitu tanjakan.

Sampai masuk ke desa Cepoko, istirahat sejenak sambil mencari plastic untuk proteksi perlengkapan elektronik yang dibawa diantaranya handphone, camerda digital & GPS, karena semakin menanjak mendung semakin gelap.

Setelah pertigaan pertama belok kiri ke arah timur menuju ke stasiun pemancar ulang TVRI yang berada di ketinggian 1200 mdpl.

Sempat bercengkerama dengan petugas penjaga, yang sudah puluhan tahun dinas di daerah terpencil yang tak bertetangga ini, sambil mencari informasi jalur alternatif yang layak untuk dijelajahi.

Akhirnya diperoleh petunjuk untuk mencoba rute Ramba'an - Jatisari, meski informasi dari petugas tersebut jalan tak layak dilewati, namun bagi kami ini sebuah tantangan.

Berpamitan dengan sang petugas yang sempat menyuguhi kami dengan air hangat sehangat sapaannya kepada kami, sungguh terasa nikmat ketika cuaca dingin dan gerimis mulai membasahi jalan.

Keluar dari area stasiun relay TVRI, masih ditemani aspal yang sudah tua tak sampai 500 meter, setelah itu jalan belok kiri, sesuai arahan yang kami terima.

Dan tantangan yang maha berat ada di depan mata. Tidak hanya cuaca gerimis yang mengguyur, jalanan yang turun terlalu tajam dan panjang, menjadi ciri khas jalan baru hasil karya anak negeri sendiri.

Tidak sama dengan jalanan tanjakan hasil karya penjajah Belanda yang mementingkan faktor kenyamanan dan keamanan bagi pengendara.

Sepertinya desain jalan ini, hanya menarik garis lurus saja, beda dengan jalanan karya jaman dahulu yang dibuat berkelok-kelok, agar diperoleh sudut yang aman meski mungkin jarak tempuh sedikit lebih jauh.

Yah.. apa boleh baut... mereka mampunya seperti ini....

Kembali ke jalur yang dilalui, ternyata amat licin membuat perjalanan agak melambat, bahkan lebih lambat daripada penduduk lokal yang kita temui sambil memanggul rumput serta kayu bakar.

Beberapa kali ada yang terjatuh, bahkan tulang kering memar maupun luka gores sampai di pertigaan dukuh Napulo yang terdapat masjid cukup besar namun belum selesai direnovasi.

Sempat sholat di masjid ini, namun menggunakan sarung pinjaman kependuduk sekitar, dan hebatnya.. sarung yang mereka pinjamkan masih baru dan terdapat cap/stiker merk ternama.

Terima kasih untuk pinjaman sarungnya.... semoga amal ibadah orang tersebut diterima Allah SWT.

Perempatan ini menghubungkan kebun teh desa Cepoko di selatan yang jalannya menanjak tajam, dari barat yang kami lalui menghubungkan ke kecamatan Sumber, arah timur menuju Rambaan yang nantinya bisa tembus ke Klakah/Gunung Tengu, dan ke arah utara, terdapat turunan tajam ke arah desa Jatisari.

Dan jalanan masih saja berhiaskan batu yang tertutupi tanah liat. Beruntung turun dari perempatan ini ternyata jalanan mengering, karena curah hujan hanya turun di puncak gunung.

Melalui track ini seakan tanpa hambatan namun ekstra hati-hati karena dibeberapa tempat terdapat lubang yang cukup besar dengan kecepatan maksimum bisa mencapai 50 KM/jam.

Memasuki desa Jatisari lembah tempat tinggal kami tampak di sisi kanan, terasa indah dilihat dari ketinggian.

Jalanan aspal mulai menemani meski awalnya banyak berlubang sampai akhirnya aspal halus mulus terus hingga pertigaan Karang Anyar, Kedawung, Legundi, Bantaran sampai akhirnya tiba dirumah pukul 15.00.

Alhamdulillah perjalanan ini meski sedikit luput dari tujuan, namun bisa menemukan track baru yang menguras ketahanan fisik terutama otot paha di saat tanjakan, dan melelahkan lengan dan punggung disaat turunan.

Sumber: http://gss-leces.blogspot.com/2010/10/kencan-yang-gagal.html

Jumat, 22 Oktober 2010

Orangtua Buruh Tani, Jawara Catur Nasional Menunggu Beasiswa

Jumat, 22 Oktober 2010 | 11:18 WIB

OLEH IKHSAN MAHMUDI

Di usianya yang masih belia, Mohammad Ervan (18) sudah 3 kali menggenggam juara nasional. Kini, anak buruh tani asal Paiton, Kab Probolinggo itu berharap bisa meraih beasiswa untuk kuliah.

Ditemui di Kantor Dinas Tenaga Kerja dan Trasmigrasi (Disnakertrans) Kab Probolinggo, Jl KH Hasan Genggong, Kamis (21/10), Ervan terus menyungging senyum. Maklum ia baru beberapa hari menginjakkan kaki di Probolinggo setelah berlaga di Kejuaraan Nasional (Kejurnas) Catur di Manado, Sulut, 6-18 Oktober lalu.

Alhamdulillah, saya bisa menyabet Juara I,” ujarnya kepada Ketua Pengcab Percasi Kab Probolinggo Drs H Windu Aswad MSi. Windu yang juga Kadisnakertrans didampingi sejumlah pengurus Percasi mengaku bangga.

Tidak sekali ini saja Ervan berjaya di laga Kejurnas catur. Pada Kejurnas di Tarakan, 2005 silam, siswa kelas XI di SMA Negeri Kraksaan juga juara I. Setelah di Kejurnas Batam, 2006 ini hanya meraih juara III, ia bisa kembali jawara I di Kejurnas Surabaya, 2007 lalu.

’’Insya Allah, sebentar lagi saya akan meraih Master Nasional (MN) karena sudah 3 kali juara I nasional,” ujar Ervan. Sebelumnya dengan prestasi sekali dan kemudian dua kali menjuarai Kejurnas ia meraih gelar Master Percasi (MP).

Bahkan pada 2008, Ervan sempat melawat ke Rusia untuk mengikuti Olimpiade Catur Pelajar. “Sayang dalam 6 kali tanding, saya hanya menang 2 kali. Rusia benar-benar gudangnya pecatur andal,” ujar penggemar berat pecatur legendaris Garry Kasparov itu.

Ervan lahir di lingkungan petani desa. Orangtuanya, Supardjo-Hasanah adalah buruh tani di Desa Karanganyar, Kec. Paiton, Kab. Probolinggo. Bungsu dari 3 bersaudara kelahiran 15 Mei 1992 itu mengenal catur sejak masih kanak-kanak.

Saat masih usia 8 tahun (kelas 2 SD), Ervan sudah mengikuti pertandingan catur yang rutin setiap tahun digelar di lingkungan PLTU Paiton. “Meski kalah tanding catur dengan orang-orang tua, saya dinobatkan sebaga pecatur termuda,” ujarnya.

Bakat Ervan pun diketahui Sugianto, pemilik klub catur Kuda Lari, Paiton. Ervan pun diminta bergabung dengan klub catur yang rutin berlatih terutama pada Sabtu malam (malam Minggu) itu. Bocah berusia belia itu rela begadang semalaman untuk menghabiskan malam Minggu-nya dengan berlatih catur.

Selain itu Ervan yang biasa mengikuti ayahnya ronda malam, juga mengasah otak dengan menantang orang dewasa bermain catur di gardu jaga semalaman. Kematangan Ervan dalam laga catur semakin mencorong saat ia berusia 10 tahun. “Saat masih kelas 4 SD, saya sudah bisa juara I catur di tingkat Jatim,” ujarnya.

Berharap Beasiswa

Siswa yang jago bidang studi matematika (nilainya di atas 8) itu mengaku, dirinya ingin sukses di catur sekaligus pendidikan. Ia mengatakan, tidak bisa hanya mengandalkan catur untuk menghadapi “percaturan” hidup yang sesungguhnya.

Ervan pun bermimpi bisa meraih gelar Grand Master Internasional, seperti Garry Kasparov idolanya. Sisi lain ia yang kini sudah duduk di kelas XII SMAN Kraksaan berharap bisa melanjutkan ke jenjang perguruan tinggi. “Saya ingin kuliah di Unesa, Surabaya sambil terus berlatih catur di Surabaya,” ujarnya.

Hanya saja yang kini masih mengganjal benak Ervan, orangtuanya yang hanya buruh tani sulit untuk bisa menopang biaya kuliah dan biaya hidup di Surabaya.

Melihat kondisi Ervan, Ketua Pengcab Percasi Kab. Probolinggo, Windu Aswad berjanji bakal mengupayakan beasiswa bagi Ervan hingga lulus kuliah. “Melihat prestasi Ervan sudah juara I di Kejurnas, saya harap Pemkab Probolinggo atau Pemprop Jatim, atau syukur-syukur ada pengusaha yang mau memberikan beasiswa kepada Ervan,” ujar Windu. *

Sumber: http://www.surabayapost.co.id/?mnu=berita&act=view&id=349c1fdfe9ba715ed5901c3fe06b2e55&jenis=1679091c5a880faf6fb5e6087eb1b2dc

Senin, 18 Oktober 2010

TIRIS bike Tracking

Monday, October 18, 2010

Sejak jadi tuan rumah SEJAWAT seri 11, beberapa waktu yang lalu, cukup banyak permintaan dari teman-2 biker khususnya dari Jawa Timur untuk mengulang track tersebut.

Terutama dari biker yang waktu itu tidak ikut serta.

Dan pada tanggal 10 Oktober 2010, mas Syaifullah Toha cs yang kita kenal waktu gowes di Ngadas bersama dengan 8 orang temannya ingin mencoba track ini.

Kami pun janjian untuk nguumpul di masjid Ar-rahmah waktu subuh, kita sendiri dibantu oleh 7 orang personal GSS.

Rute yang dilalui tak jauh beda seperti waktu SEJAWAT 11, hanya saja sesuai permintaan, rute diminta agak lebih berat sehingga diputuskan untuk melalui sungai pekalen yang cukup deras..
Sebetulnya rute ini sempat disurvey untuk SEJAWAT, namun karena pertimbangan safety dan kenyamanan untuk ratusan peserta akhirnya track ini dibatalkan.

Start dan finish di Ranu Segaran, karena pertimbangan sarana untuk istirahat yang paling memadai, disamping lokasi ini tak jauh dari akhir tujuan kita yaitu sumber air panas yang berada di aliran sungai pekalen.

Kendati start agak molor karena ada 1 sepeda yang mengalami masalah, semua peserta bisa menikmati track dengan baik + ngos-ngosan karena beban meskipun berat namun pemandangan disekitar sedikit bisa melupakan kepenatan.

Siapa lagi yang mau mencoba...? kita akan bantu mengaturnya..

Sumber: http://gss-leces.blogspot.com/2010/10/tiris-bike-tracking.html

Rabu, 08 September 2010

Posting terlambat SEJAWAT 12

Hampir lupa.. karena sibuk mendekati bulan puasa.

Keikut-sertaan perwakilan GSS Leces dalam ajang rutin 3 bulanan Sepeda Jelajah Wisata seri 12, yang kali ini dilaksanakan di Kota Kediri.

Ikut serta dalam rombongan kita sebanyak 7 orang diantaranya Marwan, Agus Taufik, Djoko Moerdiono, Arif Santoso, Yaswadi, Teguy Wahyudi dan Hudha.

Rute tanjakan sebagian besar off road serta tak lupa Tun-tun Bike jadi ciri khas seri kali ini, dan tentu saja tak lupa terik matahari yang menyengat sejak memasuki etape off road kandang ayam sangat berkesan.

Panitia-nya pun cukup terkoordinir hampir selalu ada disetiap pertigaan atau jalur yang berbahaya.

Salut buat Kediri, meski dari sisi View kurang menarik namun pelayanan panitia jadi hiburan buat peserta.

Maju terus sejawat.

Tunggu kami di Sejawat 13 yang kemungkinan akan dilaksanakan di Pasir Putih - Situbondo.

Sumber: http://gss-leces.blogspot.com/2010/09/posting-terlambat-sejawat-12.html

Minggu, 01 Agustus 2010

Bersepeda Keliling Kraksaan

[ Minggu, 01 Agustus 2010 ]
KRAKSAAN - Para penggemar sepeda di Kabupaten Probolinggo kemarin (31/7) diajak melakukan perjalanan menarik dalam acara bertajuk Bersepeda Keliling Kraksaan. Dalam acara yang digelar Karang Taruna Kabupaten Probolinggo itu, sekitar tiga ribu peserta dilepas langsung oleh Bupati Hasan Aminuddin.

Pelepasan peserta dilakukan sekitar pukul 08.00. Tapi, setelah melepas peserta di titik start alun-alun Kraksaan, Bupati Hasan tidak ikut bersepeda. Rute yang ditempuh diperkirakan sekitar 30 kilometer.

Dari start, peserta menuju arah timur hingga pertigaan Kampung Arab. Selanjutnya peserta berbelok ke utara ke Kelurahan Patokan. Lalu berlanjut ke timur ke Desa Sidomukti. Selanjutnya secara berurutan peserta melalui desa Kebonagung, Alassumur, Matekan, Krampilan, Sokaan. Dari sini peserta menuju Desa Seboro hingga sampai di Desa Karangren. Selanjutnya peserta melalui jalur Desa Krejengan hingga tiba di Desa Sentong.

Di lapangan sepakbola sebelah utara SMPN 1 Krejengan, peserta lebih dulu berhenti di posko panitia. Yakni untuk menaruh kupon berhadiah. Selanjutnya peserta menuju utara hingga melewati Desa Sentong. Kemudian berlanjut hingga pertigaan Semampir. Barulah kemudian peserta kembali ke Alun-alun Kraksaan.

Uniknya kegiatan ini tidak monoton bersepeda saja. Sebab di setiap desa yang dilewati, peserta mendapat suguhan menarik. Yakni berupa tampilan kesenian yang disiapkan setiap desa. Tujuannya tak lain untuk menghibur peserta.

Bahkan setibanya di Alun-alun, peserta juga disuguhi tampilan musik yang disiapkan panitia. Khususnya untuk menunggu saat pengundian. Panitia memang menyediakan cukup banyak hadiah. Bahkan disediakan 2 buah sepeda motor.

Hadiah itu dimenangkan Haryono, warga Perumahan Bulu Indah. Satu pemenang lain yakni Angga Septian Prakoso, siswa SMA Negeri 1 Kraksaan. Panitia juga memberikan penilaian bagi peserta kelompok terbaik. Kategori tersebut dimenangkan oleh Storm Cycle Club. Disusul Kusuma Cycle Club dan Sasa Cycle Club.

Panitia juga memberikan penilaian terhadap tampilan yang disuguhkan desa penampil kesenian. Unggul dalam penilaian ini yakni Desa Sumberkatimoho. Disusul Desa Widoro dan Desa Kebonagung. Hadiah tersebut diberikan langsung oleh Bupati Hasan.

Acara tersebut kemarin dijadwalkan diikuti Gubernur Jatim Soekarwo dan Wagub Saifullah Yusuf. Tapi, sampai acara berlangsung, gubernur dan wagub sama tak hadir.

Ketua Dewan Pembina Karang Taruna Kabupaten Probolinggo H Wahid Nurahman mengakui ketidakhadiran dua tokoh itu. Tanpa menyebut alasan, Wahid mengatakan kedua tokoh itu berhalangan hadir. Meski demikian Wahid mengatakan, kegiatan itu berlangsung cukup sukses. "Alhamdulillah, tetap sesuai rencana panitia," ujar Wahid.

Wahid mengatakan, tujuan kegiatan ini untuk memasyarakatkan kegemaran bersepeda. Selain itu juga untuk memperkenalkan Kota Kraksaan sebagai kota yang bersahabat dengan sepeda onthel. (eem/yud)

Sumber: http://www.jawapos.com/radar/index.php?act=showpage&rkat=4

Senin, 31 Mei 2010

Lagi, Kerapan Sapi di Gor Kedopok

[ Senin, 31 Mei 2010 ]
PROBOLINGGO-Warga Kota Probolinggo kembali mendapat tontonan menarik, kerapan sapi. Budaya khas pulau Madura itu, kembali digelar di bakal GOR Kedopok. Minggu (29/5), merupakan hari terakhir dan sudah memasuki babak final.

Lomba kali ini bisa dibilang lebih mini dibanding tahun sebelumnya. Pasalnya, kali ini pesertanya hanya berasal dari Kota dan Kabupaten Probolinggo saja, alias tidak ada peserta dari luar daerah. Tapi, animo masyarakat masih cukup tinggi untuk mengikuti dan menyaksikannya.

Buktinya, kemarin meski terik matahari cukup menyengat warga tetap semangat menyaksikan ajang tahunan itu. Untuk melawan cuaca panas warga menggunakan payung, bahkan sampai ada yang merentangkan kain sewek di atas kepala.

Tapi usaha untuk menghalau panas itu justru sempat mengganggu jalannya lomba. Lantaran, sapi yang hendak dilepas menjadi rewel untuk berlomba. Panitia menilai, sapi-sapi itu takut kepada payung dan sewek yang digunakan warga untuk berlindung dari panas.

"Aduh buk-ibuk, pajungngah totop kadek, dekkih mon sapenah lah eyocol anggui pole. Sapenah takok ka pajungngah. Jhe' sambinah mon takok ka panas mak nyelonot dek ennak (Wadu, ibu-ibu payungnya ditutup dulu, nanti kalau sapinya sudah dilepas pakai lagi. Sapinya takut sama payungnya. Kalau takut kepanasan kok masuk (datang) ke sini)," ujar pembawa cara melalu pengeras suara.

Mendengar itu, para penonton itu tetap saja menggunakan payungnya. Hanya ada sebagian penonton yang dekat dengan titik start menuruti apa kata panitia. "Totop-totop, panitianah bhellis (tutup-tutup, panitianya marah)," ujar seorang ibu kepada temannya.

Meski tidak ada peserta dari luar Probolinggo. Pesertanya cukup banyak juga. Jumlahnya mencapai 84 pasang sapi. Meraka adalah para pecinta kerapan sapi di Kabupaten dan Kota Probolinggo.

"Untuk saat ini, pesertanya hanya dari kota dan kabupaten. Karena kalau ada peserta dari luar daerah, waktunya bisa sampai tiga hari. Peserta yang lain tidak mau, kalau sampai tiga hari," ujar, Imam Syafi'i ketua panitia acara tersebut.

Imam menyatakan, digelarnya acara itu adalah untuk melestarikan salah satu budaya bangsa Indonesia. Selain itu, juga untuk memberikan hiburan kepada warga Probolinggo. Terutama yang berketurunan Madura. "Sebagian besar masyarakat Probolinggo pandalungan (perpaduan ) dari Jawara (Jawa-Madura)," ujarnya.

Selain itu, juga untuk meningkatkan daya jual sapi-sapi yang sudah dipelihara oleh warga Probolinggo. "Sapi-sapi itu kan banyak yang berasal dari Madura. Dan, dipelihara oleh warga Probolinggo. Ternyata, hasil peliharaan warga Probolinggo bisa berlari lebih cepat dibanding yang dipelihara warga Madura," jelas Imam.

Dengan adanya lomba itu, akan diketahui seberapa kuat sapi-sapi itu berlari. "Dalam lomba itu kan juga hadir orang-orang Madura yang siap membeli sapi-sapi terbaik. Tentu dengan harga yang tinggi," jelas Imam. (rud/nyo)

Sumber: http://www.jawapos.co.id/radar/index.php?act=detail&rid=161572

Kenalkan Wisata, Sejawat Lewati Ranu

[ Senin, 31 Mei 2010 ]
TIRIS - Sepeda jelajah wisata (Sejawat) se Jawa Timur berlangsung semarak, kemarin (30/5). Ratusan peserta berkeliling Kecamatan Tiris dengan menggunakan sepeda gunung. Bukan sekedar olahraga, mereka mendatangi beberapa tempat wisata di Tiris.

Peserta Sejawat dilepas sekitar pukul 06.20 WIB oleh Sekda Kabupaten Probolinggo Kusnadi di depan kantor Kecamatan Tiris. Total ada sekitar 380 peserta dari 14 kota/kabupaten se-Jawa Timur. Yang menarik, sebelumnya para peserta bermalam di rumah-rumah penduduk.

Koordinator lapangan (korlap) Arif Santoso mengatakan, peserta harus menempuh jarak sekira 27,5 km. Jalan yang dilalui ada tiga jenis. Sepanjang 7 km berupa aspal dan 20 km sisanya berupa jalur double track dan single track. "Di sebagian titik, kami buat rute baru," ujar Arif.

Sebenarnya menurut Arif, ada beberapa titik yang rawan kecelakaan. Namun hal itu sudah diantisipasi panitia dengan menyediakan pengamanan dan tim kesehatan. Selain itu menurutnya, dirinya yakin para biker bisa memahami rute yang dilalui. "Mereka terbiasa bersepeda di berbagai track," lanjutnya.

Dalam pantauan Radar Bromo, para peserta menggunakan pakaian khas biker beratribut Sejawat. Tidak hanya jalan aspal yang dilalui. Namun juga jalan berbatu, hingga jalan setapak.

Peserta juga melewati beberapa objek wisata. Baik yang terkenal, maupun objek wisata baru. Secara berurutan yakni, Ranu Segaran, Ranu Betok, Ranu Gedang, Desa Darungan, Desa Pasirian, Ranu Agung. Selanjutnya menuju garis finish.

Ketua Ikatan Sepeda Indonesia (ISI) Kabupaten Probolinggo Imam Syafi'i menjelaskan, tidak semua peserta adalah biker (pecinta sepeda) murni. Imam mengatakan, ada dua jenis biker di komunitas Sejawat. Yakni profesional dan penikmat.

Biker profeisonal kata Imam, melalui jalur dengan target waktu kecepatan. Sementara biker penikmat justru menikmati pemandangan sepanjang rute. "Makanya dinamakan Sejawat," terangnya.

Peserta menurut Imam, kebanyakan berusia di atas 35 tahun. Mereka rata-rata para pecinta olahraga sepeda wisata. Sebab itu lanjut Imam, yang dicari bukan prestasi. "Namun pengalaman dan kepuasan berwisata," katanya.

Imam menambahkan, kegiatan berlangsung lancar dan sesuai harapan. Yakni, tidak sekeda having fun. Namun, juga meningkatkan nilai tawar objek wisata di Kecamatan Tiris. "Efeknya ganda," ujar Imam.

Imam berharap, kegiatan itu mampu mendongkrak jumlah wisatawan yang datang ke Kecamatan Tiris. "Dengan demikian, ekonomi masyarakat juga akan meningkat," tegasnya. (eem/hn)

Sumber: http://www.jawapos.co.id/radar/index.php?act=detail&rid=161553

Kamis, 20 Mei 2010

Mancal Onthel dari Jambi

[ Kamis, 20 Mei 2010 ]
KRAKSAAN - Didin, 21, seorang warga Jambi, saat ini sedang melakukan aksi besar. Dia sendirian memancal sepeda onthel-nya, mengelilingi enam pulau di negeri ini. Dan sejak Selasa (18/5), Didin singgah di ibu kota Kabupaten Probolinggo, Kraksaan.

Didin tiba di Kraksaan sejak Selasa (18/5) sekitar pukul 14.00. Dia disambut oleh komunitas sepeda tua Kraksaan (Konstan). Didin lantas diajak menikmati suasana Kraksaan. "Kami memperkenalkan Kraksaan. Sekaligus untu menjamu Didin. Kasihan, Mas. Jauh-jauh datang ke Kraksaan," ujar Udin, ketua Konstan, kemarin.

Setelah keliling Kraksaan, jelang maghrib, Didin diantarkan ke Polsek Kraksaan. Sebab, Didin berniat bermalam di Polsek Kraksaan.

Saat ditemui Radar Bromo pagi kemarin (19/5) Didin sedang bersiap-siap berangkat melanjutkan perjalanannya. Sambil sarapan, dia meladeni wawancara dengan Radar Bromo. "Sambil sarapan ya," ujar Didin.

Didin mengatakan memang berniat melakukan ekspedisi. Tujuannya untuk menambah pengalaman dan pengetahuan. Didin mengaku tidak memiliki target khusus, misalnya, mengejar rekor. "Malah membebani diir sendiri, Mas," ujar Didin.

Didin mengaku berangkat pada 10 Desember 2009. Didin berangkat dengan modal uang saku Rp 70 ribu rupiah. Namun Didin mengatakan, dirinya sudah mendapat restu orang tua. Oleh karenanya, ia nekat berangkat.

Bekal lain diperoleh Didin dari derma orang-orang yang ditemuinya selama perjalanan. "Tuhan masih adil, Mas," ujar Didin.

Sejauh ini, Didin mengaku telah mengunjungi 13 provinsi dan lebih dari 50 kota/kabupaten. Hal itu menurut Didin bisa dibuktikan dengan sejumlah surat keterangan yang didapat kantor sekretariat daerah setiap daerah yang dikunjunginya. Surat-surat tersebut dikumpulkan Didin dalam sebuah map berwarna merah. "Buktinya ada, Mas," ujar Didin.

Selain surat, Didin juga memiliki sebuah buku kecil. Dalam buku tersebut, Didin meminta tanda tangan dan stempel dari kepolisian tempat Didin berkunjung. "Saya suka tidur di kantor polisi. Suasananya bersahabat," ujar Didin.

Awalnya rute yang ditempuh Didin adalah Jambi, Jawa, Bali, Lombok, Madura, kemudian kembali ke Jambi. Namun pada perkembangannya, rute tersebut berubah. Yakni Jambi, Jawa, Sulsel, Flores, pulau Sumbawa Besar, Lombok, Bali, Jawa, pulau Madura. "Baru kemudian kembali ke Jambi," ujar Didin

Selama perjalanan, banyak kejadian tidak mengenakkan yang dialami Didin. Didin mengaku pernah mengalami sakit selama 5 kali. Jika sakit, Didin mengaku "Wajahnya jadi tua di jalan," ujar Didin.

Selain itu menurut Didin, hal yang tidak mengenakkan adalah ketika melintasi hutan. Sebab lanjut Didin, dirinya sering dikejar monyet. Pernah pula Didin dikejar anjing.

Tak hanya sampai di situ. Didin pernah diteriaki beberapa orang di jalan. Didin menuturkan, mereka mengatakan Didin adalah orang gila. Namun Didin tidak menanggapi teriakan tersebut. Menurutnya, jika teriakan tersebut diladeni, itu berarti dia ikut gila. "Anjing menggonggong, kafilah tetap berlalu," ujarnya.

Selanjutnya Didin mengatakan, akan melanjutkan perjalanan ke kota Probolinggo. Rencananya, Didin akan bermalam di situ. Kamis siang (hari ini) Didin akan melanjutkan perjalanan menuju Surabaya. Kemudian ke pulau Madura.

Sepulangnya dari Madura, Didin akan kembali ke Surabaya. Dari situ, perjalanan akan dilanjutkan ke Cilegon. Tujuannya yakni pelabuhan Merak. Dari situ Didin akan naik kapal laut menuju Jambi. Rencananya, Didin akan tiba di rumahnya sebelum lebaran. "Biar pas momen pulangnya," ujar Didin. (eem/yud)

Sumber: http://www.jawapos.co.id/radar/index.php?act=detail&rid=159391

Rabu, 19 Mei 2010

Lokasi SEJAWAT seri 11

Wednesday, May 19, 2010

Lokasi SEJAWAT seri 11, berada di Kecamatan TIRIS, suatu wilayah dataran sedang di ketinggian 500-1600 dpl.

Terletak di sisi Utara & Timur Gunung Lamongan yang puncaknya setinggi 1671 m.dpl.

Untuk menuju ke lokasi ini ada beberapa jalur yang bisa dilalui, namun jalur yang paling utama adalah melalui Pajarakan yang terletak 25 KM timur kota Probolinggo, atau 3 KM sebelah Barat Kraksaan.

Dari pertigaan Pajarakan terus ke arah selatan, disana akan melalui sebuah Lembaga Pendikan Islam yang cukup terkenal yaitu Pondok Pesantren Zainul Hasan - Genggong.

12 KM setelah Pajarakan, kita akan menemukan pertigaan Condong, disitu bisa ditemukan 2 operator arung jeram yang mengambil rute Sungai Pekalen bawah.
Disana juga ada penginapan Kampung Kita.

Dari Pertigaan ini, terus saja melalui jalan tersebut, kearah selatan (mungkin agak serong ke timur). sampai lebih kurang 10 KM lagi akan memasuki Kecamatan Tiris.

Namun sebelum memasuki wilayah ini, kita akan disuguhi pemandangan menarik berupa lembah Gunung Lamongan di sisi Barat dan Lembah Argopuro & Rengganis di sisi Timur.

Sebelum memasuki wilayah kecamatan Tiris, kita harus hati-hati, karena selain jalannya lumayan menanjak, ada juga beberapa titik jalan yang sedang dalam perbaikan akibat longsor.

Dan semakin ke puncak, jalanan semakin menyempit, yang membuat kendaraan besar harus perlahan-lahan apabila sudah memasuki wilayah Kecamatan Tiris.

Diharapkan, seluruh peserta sudah berada di lokasi sebelum gelap, agar memudahkan mencari lokasi sekretariat yang menjadi pusat kegiatan di Kantor Kecamatan TIRIS.

Cukup mudah untuk mencari tempat ini, karena semua pusat kegiatan masyarakat TIRIS berpusat di daerah ini.

Karena selain terdapat Kantor Kecamatan, juga berhadap-hadapan dengan Puskesmas dan Kantor Polsek serta tak jauh dengan Lapangan yang akan digunakan sebagai tempat Start dan Finish kegiatan SEJAWAT seri 11.

Sumber: http://gss-leces.blogspot.com/2010/05/lokasi-sejawat-seri-11-berada-di.html

Sabtu, 15 Mei 2010

Karya Prestisius dari Probolinggo


Menutup 2009, Adhi Wicaksono Danukusuma menyodorkan karya modifikasi yang bisa dibilang sebagai gebrakan. Basis yang dipilih pemodifikasi dari Lent Automodified Probolinggo, Jawa Timur, ini adalah Honda Blade 2009. "Ini pasti karya yang fenomenal, jadi saya support habis," ungkap Budiono, pemilik motor yang juga juragan dealer Honda Merpati 2 di Probolinggo.

Karena Honda Blade, Adhi memilih konsep modifikasi mengacu pada Honda CBR600. Jadi, genre sport yang menjadi ciri kental CBR600 dipindahkan ke Blade. Namun, ia tidak menjiplak total konsep dan acuannya saja karena dia menegaskan bahwa total modifikasi ini murni hasil improvisasi dan pemikirannya.

Siwe—penggilan sehari-hari Adhi—tidak asal cuap. Buktinya, bodi Blade yang ceking berubah layaknya moge, berisi dan kokoh. Bahkan harmonisasi dan detail terjaga baik.

Dengan baju baru, tentu efek pada kaki-kaki jadi kurang seimbang jika masih mempertahankan peranti-peranti orisinal. Solusinya, satu set kaki-kaki dari Honda NSR-SP dipasang. Lalu, sistem pro-arm yang diapakai sangat sepadan jika disanding dengan bodywork.

Dominasi warna kuning dengan motif grafis ala CBR600 membuat besutan Budi terlihat garang. Hal itu diperkuat dengan model lampu utama dari Honda Airblade yang cocok. Meski bentuknya tidak sama persis, paling tidak, motor ini mendekati miriplah. Pada bagian atas lampu dipasang semacam visor berwarna gelap.

"Ini merupakan variasi yang sering diaplikasi komunitas Ninja 250," komentar Adhi. Bagian belakang dibuat tipis dan meruncing panjang untuk menyeimbangi depan yang tampak seperti maju.

Selain harmonisasi, detailnya pun terjaga.

Sumber: http://blogmobilmotor.blogspot.com/2010/05/karya-prestisius-dari-probolinggo.html

Rabu, 12 Mei 2010

Konsep HOMESTAY jadi andalan di SEJAWAT seri 11

12 Mei 2010

Sejak awal ketika mencalonkan diri menjadi tuan rumah SEJAWAT seri 11, masalah penginapan jadi titik terlemah.

Karena lokasi pelaksanaan tidak ada satupun penginapan tersedia, apalagi hotel, wisma dll.

Kalaupun ada, jaraknya cukup jauh yaitu di Kampung Kita yang berjarak hampir 10KM dari lokasi, itupun kapasitas totalnya tak sampai 50 tempat tidur.

Ada juga hotel di kota Probolinggo yang berjarak hampir 35 KM dari lokasi acara.

Jadi, ketika konsep HOMESTAY disampaikan ternyata mendapat sambutan dari pengurus SEJAWAT, karena dengan model seperi ini maka proses sosialisasi peserta SEJAWAT dengan warga semakin kuat.

Apalagi sambutan warga untuk menjadikan rumahnya sebagai tempat menginap cukup besar, bahkan pihak panitia lokal sampai harus menolak beberapa permintaan dari warga yang ingin rumahnya dijadikan tempat menginap.

Tentu saja, dengan konsep ini banyak kelemahan dibandingkan dengan menginap di hotel, losmen dsb seperti yang selama ini dilakukan mulai SEJAWAT seri 2 s/d seri 10, diantaranya kualitas sarana tidak bisa standard, karena tergantung pemilih rumah yang dihuni.

Selain itu, sarana MCK dengan standar 1:5 peserta juga jadi perhatian, karena ternyata tidak semua rumah memiliki sarana tersebut, karena selama ini mereka menggantungkan keberadaan sungai pekalen.

Namun dengan usaha keras, bisa dicarikan jalan keluar, sehingga harapan agar ketersediaan sarana tersebut dapat mendekati ideal.

Kami berharap kesederhanaan dan kebersahajaan yang dimiliki masyarakat di Kecamatan TIRIS bisa diterima oleh seluruh peserta SEJAWAT.

Sumber: http://gss-leces.blogspot.com/2010/05/konsep-homestay-jadi-andalan-di-sejawat.html

Sabtu, 08 Mei 2010

OTOMOTIF - PESERTA TEMPUH ETAPE KEDIRI-PROBOLINGGO

Sunday, 09 May 2010 00:08

Setelah menempuh etape ketiga, para peserta "Surya 12 Motoriders World of Challenge IMI Road Safety Riding Champaign Tour of Java" mulai menempuh trayek pertama etape IV Kediri-Probolinggo 175,7km pada Sabtu.

Kediri, 8/5 (Antara/FINROLL News) - Setelah menempuh etape ketiga, para peserta "Surya 12 Motoriders World of Challenge IMI Road Safety Riding Champaign Tour of Java" mulai menempuh trayek pertama etape IV Kediri-Probolinggo 175,7km pada Sabtu.

Setelah itu rombongan akan melanjutkan start untuk trayek kedua Probolinggo-Banyuwangi pada Minggu (9/5).

"Para peserta akan menempuh dua trayek di etape IV ini yang merupakan etape terakhir event," kata Tjokro Indrawirawan dari IMI jelang pelepasan peserta di Taman Tirtayasa, Kediri, Sabtu.

Pada trayek pertama ini, peserta harus melalui empat pos termasuk kunjungan wisata di Batu Malang.

"Penilaian untuk peserta sendiri ada 10 kategori termasuk ketepatan lapor start, finish, kelengkapan kendaraan, tertib lalu lintas dan menjawab kuis," katanya didampingi Suryo Putratanto dari IMI Jatim.

Ia berharap dapat tercapai target event adalah "zero accident" di Kejuaraan IMI Road Safety Riding Campaign Tour of Java 2010 sejak 17 April lalu dari Jakarta-Cirebon- Semarang (Jawa Tengah) - Yogyakarta-Kediri. Event ini dibagi dalam kelas bebek, matic, sport dan IRC. "Peserta dari Kediri ini ada 65 peserta yang dibagi dalam empat kelas," katanya.

Sementara itu, Fajar Arianto dari sponsor Gudang Garam menyatakan senang dengan lancarnya event yang mengkedepankan safety riding untuk peserta. "Kami akan melihat dan evaluasi event untuk musim depan," katanya.

Pada penyelenggaraan di Kediri juga diramaikan lomba freestyle, musik dan atraksi enam freestyler asing.

Untuk etape pertama dimenangkan oleh pebalap senior Hery Agung, giliran etape kedua dikuasai oleh pengemudi asal Jawa Barat, Windy Wytia Putra. Etape ketiga dimenangi duet Nursalmun/Bengky M dari DKI Jakarta.

Sumber: http://news.id.finroll.com/otomotif/262799-otomotif-peserta-tempuh-etape-kediri-probolinggo.html