Tampilkan postingan dengan label PKL. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label PKL. Tampilkan semua postingan

Senin, 13 September 2010

Ramai Pemudik, PKL Untung

[ Minggu, 12 September 2010 ]
PROBOLINGGO-Sejak beberapa hari sebelum Lebaran suasana jalan di Kota Probolinggo diramaikan oleh para pemudik. Tak jarang mereka berhenti dan beristirahat di taman pinggir jalan. Tempat favorit istirahat para pemudik adalah di sekitar pusat oleh-oleh di Ketapang Kota Probolinggo.

Para pemudik yang singgah dan beristirahat sejenak itu, terlihat mulai pagi hari. "Mulai jam 7 tadi Mas. Mereka singgah ke lapak-lapak PKL untuk makan dan minum sambil beristirahat," ujar Muji, salah seorang PKL di situ.

Memang kondisi itu dimanfaatkan oleh para pedagang kaki lima (PKL). mereka mengambil kesempatan untuk berjualan di lolasi tersebut. Bak gayung bersambut, kehadiran PKL itu diminati oleh para pemudik.

.Pemudik yang singgah di tempat itu, rata-rata berjalan dari arah barat (Surabaya). "Pemudik dari Surabaya yang banyak singgah di sini," terang Muji. Mereka rata-rata adalah pemudik dengan menggunakan roda 2.

Menurut Muji, kebiasaan pemudik tersebut sudah terlihat dari Lebaran tahun lalu. Saat itu, para pemudik memang banyak singgah di deretan PKL tersebut."Tahun lalu juga ramai seperti ini," terangnya.

Muji sendiri mendirikan lapaknya baru beberapa hari. Menurutnya, keramaian tersebut dimulai pada H-3 dan akan berlanjut hingga H+3.

Ketika Radar Bromo ada di lokasi itu, sempat berbincang dengan Samsul Arifin, seorang pemudik.Ia berasal dari Madiun hendak ke Jember."Saya istirahat dulu, sebelum lanjut ke Jember," terangnya.

Pagi itu merupakan perisitrahatan ke lima Samsul, selama dalam perjalan dari Madiun. Ia mengaku banyak beristirahat karena membawa anaknya yang masih kecil. Mau tidak mau Samsul harus mengikuti kemauan anaknya tersebut untuk beristirahat.

Dari pengamatan Radar Bromo, Di lapak-lapak para PKL itu sudah disiapkan sebuah bangku lebar yang terbuat dari bambu. Dengan kondisi yang tidak panas karena berada di beberapa pepohonan yang rindang, membuat para pemudik bisa sedikit beristirahat di lapak-lapak tersebut. (d7x/nyo)

Sumber: http://www.jawapos.com/radar/index.php?act=detail&rid=178906

Kamis, 19 Agustus 2010

Satpol PP Mengaku Kecolongan

[ Rabu, 18 Agustus 2010 ]
PROBOLINGGO-Satpol PP Kota Probolinggo bakal mengetatkan penjagaan lokasi sekitar alun-alun kota. Apalagi, sejak diketahui masih ada pasangan remaja yang memanfaatkan lokasi alun-alun sebagai lokasi pacaran selama bulan puasa.

"Tetap kami tertibkan. Karena itu (pacaran di alun-alun, red) memang tidak boleh. Apalagi di bulan puasa," ujar Kasatpol PP Kota Probolinggo, Sukam.

Sukam mengatakan, sebenarnya di alun-alun bukan tidak ada anggotanya yang berjaga. Bahkan, untuk mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan pihaknya sudah menurunkan sebanyak 5 orang anggota. Tapi, kadangkala pihaknya masih saja kecolongan.

Menurutnya, itu dikarenakan ulah anak muda yang semakin repot diatur. "Kami kecolongan. Tapi, akan tetap kami tertibkan supaya tidak terjadi hal-hal yang dapat membatalkan puasa," ujarnya.

Sukam menampik bahwa alun-alun memang sering dijadikan tempat pacaran oleh muda-mudi. Utamanya, bila hari libur sekolah. "Kemarin (Minggu, red) hari libur, biasa kalau hari libur memang banyak. Akan kami diperketat lagi. Itu, untuk menghormati bulan puasa. Supaya tidak terjadi seperti itu lagi," ujarnya.

Selain soal muda-mudi pacaran Satpol PP juga menaruh perhatian pada banyaknya warung makan yang buka pada siang hari. Menurut Sukam, pihaknya sudah mendatangi yang melanggar itu. Meski begitu, menurut Sukam, pihaknya tidak bisa melakukan penutupan. Pasalnya, tidak ada edaran atau perintah dari wali kota.

"Khusus yang di alun-alun, memang tidak boleh buka sebelum pukul 16.00. Kalau yang lain, seperti rumah makan tidak apa-apa. Tapi, harus ditutup menggunakan tirai supaya tidak terlihat dari luar," ujar Sukam.

Sukam mengakui kalau banyak pedagang yang memang suka melanggar. Buktinya, Sabtu (14/8) pihaknya sudah melakukan penertiban terhadap PKL di Jl Niaga. Dan, Sabtu malamnya melakukan penertiban di Jl Dr Soetomo.

"Kalau ada warung yang tidak tertutup, akan kami datangi langsung dan kami tegur. Untuk yang di sisi utara masjid agung, sudah kami datangi dan kami tegur. Kami minta untuk dipasangi tirai," ujarnya. (rud/nyo)

Sumber: http://www.jawapos.co.id/radar/index.php?act=detail&rid=175406

Kamis, 12 Agustus 2010

PKL Hanya Sore Hari

[ Kamis, 12 Agustus 2010 ]
Alun-alun Kota Probolinggo selalu identik dengan PKL (pedagang kaki lima) yang berjualan bermacam kuliner. Mulai dair mie ayam, nasi udug, lengkap dengan es degan. Selama bulan Ramadan, jangan harap bisa mendapati kuliner tersebut di pagi atau siang hari. Sebab PKL di pusat kota ini hanya diperbolehkan buka sejak sore hari, tepatnya pukul 16.00-03.00.

Itu sesuai dengan surat edaran wali kota Probolinggo nomor 331.1/324/425.304/2010 tentang imbauan selama bulan suci Ramadan. Edaran itu diperuntukkan bagi pengusaha hotel, tempat hiburan, cafe, rumah makan, bilyar, karaoke, playstation, warung dan PKL.

Khusus PKL yang berjualan makanan/minuman di atas trotoar atau badan jalan dan sekitar alun-alun dibatasi jam operasional mulai pukul 16.00-03.00. Untuk PKL yang berjualan makanan/minuman di lingkungan sekolah selama Ramadan dilarang berjualan di tempat tersebut.

Sedangkan untuk PKL yang berjualan VCD disarankan agar mengecilkan volume sound systemnya. Dalam surat edaran yang ditandatangani oleh Wali Kota Buchori itu, apabila tidak memathui imbauan tersebut maka akan diambil tindakan tegas. "Surat ini sudah disebarkan kepada yang bersangkutan," cetus Kabag Humas dan Protokol Rey Suwigtyo kemarin. (fa/yud)

Sumber: http://www.jawapos.co.id/radar/index.php?act=detail&rid=174453

Selasa, 27 Juli 2010

PKL Ramaikan RTH Brantas

[ Selasa, 27 Juli 2010 ]
PROBOLINGGO - Sejak beberapa minggu terakhir di Jl Brantas (tepat di depan Jl Gus Dur) banyak didapati pedagang kaki lima (PKL). Mereka memanfaatkan lahan ruang terbuka hijau (RTH) yang ditanami pepohonan oleh Pemkot Probolinggo.

Lokasi strategis itu sudah dilirik para penggeliat ekonomi lokal di kota mangga ini. Pengamatan Radar Bromo kemarin (26/7), sudah ada tiga pedagang menjual makanan dan minuman di situ. Di ujung paling barat ada pedagang es degan, di sebelahnya ada kuliner sop kaki kambing dan sop kaki sapi. Sedangkan paling timur ada yang berjualan nasi pecel dan nasi campur.

"Saya baru satu minggu di sini. Sudah izin sama kepala Satpol PP-nya," ujar Fitri, penjual pecel yang mengaku rumahnya di Wiroborang itu.

Mereka menempati RTH itu karena lokasinya yang strategis. Banyak kendaraan melintas dan dekat dengan lokasi sejumlah pabrik. Sayangnya, lokasi RTH itu masih terlihat kotor dan sering becek bila kena hujan.

Wali Kota Probolinggo Buchori mengaku tidak mempermasalahkan adanya PKL yang mulai menempati RTH di Brantas tersebut. Bahkan, ia berencana akan mengkoordinir PKL dan mempercantik RTH dengan pavingisasi.

"Tidak apa-apa. Akan kami persiapkan tempatnya dengan dibangunkan paving oleh Dinas Pekerjaan Umum tahun ini. RTH itu untuk memecah keramaian yang selama ini berpusat di alun-alun. Jadi, masyarakat dari wilayah selatan atau barat bisa menikmati berbagai kuliner di RTH Brantas," jelas Buchori.

Pemkot juga akan memberi batasan waktu untuk berjualan, kemungkinan dimulai pukul 09.00 hingga 23.00. "Kami akan menyediakan lampu penerangannya. Nanti juga akan didata siapa dan apa saja yang dijual di sana," imbuhnya.

Soal izin melalui Satpol PP untuk menempati RTH Brantas juga dibenarkan oleh Kabag Humas dan Protokol Rey Suwigtyo. "Iya. Memang sudah ada izinnya. Selanjutnya nanti untuk dilakukan pendataan PKL," tutur dia.

Dikonfirmasi secara terpisah, Kabid Perumahan dan Permukiman Dinas PU Amin Fredy membenarkan rencana pembangunan tersebut. Dana yang dialokasikan dari APBN melalui Dana Pembangunan Infrastruktur dan Percepatan Daerah (DPIPD).

"Kami ajukan nanti pada saat PAK (perubahan anggaran keuangan). Pembangunannya tahun ini untuk paving dan drainase dari arah barat sampai ke timur. Berapa dananya masih kami hitung," ungkap Amin. (fa/nyo)

Sumber: http://www.jawapos.co.id/radar/index.php?act=detail&rid=171918

Selasa, 20 Juli 2010

Banyak Tutup, Dibobol Pula

[ Selasa, 20 Juli 2010 ]
Maling Hanya Ambil Gembok

PROBOLINGGO - Kondisi stan pusat oleh-oleh di kawasan Taman Wisata Studi Lingkungan (TWSL) Kota Probolinggo sungguh mengenaskan. Selama ini stan-stan itu banyak tutupnya. Eh, Sabtu (17/7) malam lalu ada dua stan yang dibobol maling. Syukur saja tidak sampai ada barang yang digondol kecuali gembok rolling door.

Dari informasi yang berhasil dihimpun Radar Bromo, peristiwa kriminal itu diperkirakan terjadi pada Sabtu (17/7) malam. Stan yang jadi korban adalah pusat informasi pariwisata milik Dinas Pemuda Olahraga Budaya dan Pariwisata (Dispobpar) yang ditempati Madinah Collection untuk jualan souvenir dan handycraft. Lalu, stan Kembar Jasa Lestari, yang menjual produk sepatu dan tas kulit.

Dua stan tersebut bersebelahan, nomor 2 dan 3, terletak di ujung timur dekat musala dan toilet. Saat dikonfirmasi, Ida, pemilik Madinah Collection membenarkan kalau rolling door stannya dibobol oleh seseorang.

"Iya. Hilang. Waktu hari Sabtu itu, saya tutupnya sore. Saya yakin sudah saya gembok. Minggu (18/7) saya datang mau buka toko, ternyata gemboknya sudah tidak ada," ujar Ida kepada Radar Bromo kemarin.

Mengetahui gembok pintu toko raib, Ida buru-buru buka pintu dan melihat barang dagangannya. "Untungnya masih ada semua di etalase. Alhamdulillah barangnya tidak ada yang hilang. Saya heran, terus buat apa kok ngambil gemboknya saja," tuturnya.

Hal yang sama juga disampaikan oleh seorang lelaki yang menjaga stand Kembar Jasa Lestari. Pada Sabtu lalu ia menutup tokonya sore hari. Kemudian malam harinya, sekitar pukul 20.00 ia kembali ke TWSL karena diperintah bosnya mengambil beberapa barang dagangan.

"Malam itu, waktu saya datang masih ada gemboknya. Saya malah keliru buka gembok pintunya Mbak Ida (Madinah Collection). Saya lihat nomernya, eh ternyata keliru. Di depan sini banyak anak pacaran, mulai dari depan stan ini sampai ke depan mushola," tutur lelaki muda berkaos Jinggomania (julukan suporter Persipro).

Pembobolan itu baru diketahui kemarin (19/7), karena Minggu tidak buka. Di stan tersebut juga tidak ditemukan barang hilang kecuali gembok. "Punya Mbak Ida gemboknya bagus, kotak. Kalau punya saya modelnya biasa," sahut lelaki itu lagi.

Pembobolan ini rasanya menambah keprihatinan kondisi stan-stan depan TWSL itu. Puluhan stan yang berada di bawah koordinasi Dinas Koperasi Perindustrian dan Perdagangan (Koperindag) itu memang sedang kritis. Tak banyak yang buka.

Di sisi timur, siang kemarin, hanya ada tiga stand yang buka. Sedangkan di sisi barat justru hanya ada satu stand, itu pun hanya membuka separo rolling door-nya. Stan menjual makanan juga tutup semua.

Beberapa inovasi sudah dilaksanakan oleh pemkot agar kawasan itu ramai traksaksi ekonomi. Mulai dari menjadikan stan TWSL sebagai tempat peristirahatan, mengarahkan bus pariwisata lewat TWSL hingga memberikan snack dan minuman gratis. Namun upaya itu seolah tidak berhasil. Ruang showroom yang sebelumnya dipakai display produk unggulan dari berbagai UKM juga kosong.

Menurut Lukman, salah satu pemilik stan, beberapa waktu lalu telah diadakan rapat yang dipimpin oleh Sekda Johny Haryanto. Dalam rapat itu disebutkan jika dalam beberapa bulan stand tidak buka, maka stan akan diambil alih oleh Dinas Koperindag. "Saya setiap hari tetap buka. Kalau tidak di sini, mau buka di mana lagi. Pelanggan sudah terlanjur tahunya tempat kami di sini," jelas pemilik Lestari Collection itu.

Pemilik stan banyak mengeluhkan tentang keamanan di kawasan tersebut. Pasalnya, hampir setiap malam banyak anak-anak yang minum-minuman keras di stan TWSL sisi timur. Keberadaan mereka dianggap sangat meresahkan.

"Banyak anak pacarannya juga. Percuma polisinya menjaga di sebelah barat, tapi di sini (timur) tidak ada yang jaga. Apalagi lampu penerangan juga tidak ada di sini," tutur seorang pedagang.

Saat dikonfirmasi, Kepala Dinas Koperindag Widiharto mengaku tidak tahu jika ada stan yang gemboknya kebobolan. Soal rencana terhadap stand TWSL, Widiharto sudah menyampaikan kepada mereka yang menggunakan stan agar segera membuka kembali.

"Kami mengimbau kepada yang bersangkutan, supaya ada kesadaran. Kalau tidak dibuka maka kembalikan ke pemkot. Karena akan kami atur lagi penghuninya. Kami tidak memberikan tenggang waktu, tinggal kesadaran yang bersangkutan saja," ucap Widiharto.

Menurutnya, keluhan mereka yang berjualan di stan, barang yang mereka jual tidak laku. Pembeli juga tidak ada. "Makanya akan kami beri pembinaan dan kami atur lagi. Supaya ke depannya ada transaksi jual beli di sana untuk meningkatkan pendapatan UKM," tuturnya. (fa/yud)

Sumber: http://www.jawapos.co.id/radar/index.php?act=showpage&rkat=4

Pembangunan Lokasi PKL Dikomplain

[ Minggu, 18 Juli 2010 ]
Usul Maksimalkan Dua Pertokoan

KRAKSAAN - Pembangunan lokasi PKL di Alun-alun Kraksaan menuai komplain. Sebab, pembangunan itu dinilai merugikan.

Komplain itu disampaikan Ketua PGRI Kabupaten Probolinggo H. Alfan Wahid. Menurut Wahid, alun-alun Kraksaan adalah simbol kebersihan. Namun malah dijadikan tempat berjualan. "Maksud saya apa tidak ada lokasi lain," tegasnya.

Dia menilai, sebelum dibongkar Alun-alun Kraksaan bisa dibilang cukup elok pemandangannya. Bahkan, sangat rapi. Sehingga, warga yang lalu lalang leluasa menikmati pemandangan tersebut. Apalagi Alun-alun Kraksaan lebih rendah dari jalan raya. "Tidak ada yang menghalangi pemandangan tersebut" ujar Wahid.

Karena itu, pembongkaran taman kota di Alun-alun Kraksaan memperburuk pemandangan. Pengunjung pun tidak bisa lagi datang ke taman kota untuk sekedar menghilangkan kejenuhan.

Saat ini kata Wahid, yang bisa dipandang hanyalah PKL. "Sementara yang di belakang (PKL) malah tertutup. Ini jadi tidak indah lagi," ujar Wahid.

Tak hanya menyayangkan pembangunan itu, Wahid memberikan masukan penting. Menurutnya, sebaiknya pemerintah mengembangkan keberadaan pertokoan di dua titik. Yakni pertokoan Desa Sumberlele dan pasar baru Kebonagung. Lokasi tersebut kata dia bisa menjadi lokasi alternatif bagi PKL.

Sebab, pemanfaatan dua pasar tersebut belum cukup efektif hingga kini. Terutama pertokoan Sumberlele. Masih ada lokasi cukup luas untuk digunakan bagi PKL. "Mestinya jangan dibiarkan seperti itu," ujar Wahid.

Sementara pasar Kebonagung menurut Wahid memang sudah berjalan. Namun belum bisa dikatakan efektif. Sebab, beberapa bedak belum digunakan. "Yang ada hanya bedaknya. Pedagangnya malah belum ada," katanya.

Wahid mengusulkan, pemerintah mengkonsentrasikan PKL di lokasi tersebut. Sebab, Alun-alun Kraksaan mestinya tidak diperuntukkan PKL. "Faktor ini harus dipertimbangkan pemerintah," sebut Wahid.

Sementara dikonfirmasi Radar Bromo, Ketua Paguyuban PKL Semarak Puryanto menampik hal itu. Menurut Puryanto, tampat PKL di Alun-alun Kraksaan justru menguntungkan. Sebab, hasil penjualan di alun-alun meningkat.

Sebab, alun-alun berdekatan dengan tempat strategis. Yakni Gedung Islamic Center dan Kecamatan Kraksaan. "Di situ kan sering ditempati acara-acara. Biasanya (pengunjung) beli di sini," kata Puryanto.

Pemkab sendiri kata Puryanto menyiapkan empat lokasi untuk PKL. Yakni Alun-alun Kraksaan, pasar buah Semampir, Kraksaan Wetan dan di Sumberlele. Sejauh ini hanya Kraksaan Wetan yang belum disiapkan lokasinya. Sementa di tiga tempat lainnya sudah dibangun dan sedang dibangun.

"Kalau yang di Kraksaan Wetan, masih belum ada. Sepertinya akan dibangun kemudian," pungkas Puryanto. (eem/hn)

Sumber: http://www.jawapos.co.id/radar/index.php?act=detail&rid=170356

Jumat, 16 Juli 2010

[ Kamis, 15 Juli 2010 ]
Demi PKL, Taman Kota Dibongkar
Monumen Kraksaan Dipindah

KRAKSAAN - Pemkab Probolinggo memilih untuk memprioritaskan lokasi berdagang bagi para PKL di Alun-alun Kraksaan. Buktinya, lokasi baru PKL memakan korban. Demi kepentingan PKL, taman kota di depan Alun-alun Kraksaan dibongkar.

Pembongkaran dilakukan sejak Senin (12/7). Semua taman kota dari Barat hingga Timur dibongkar. Termasuk monumen Kraksaan. Rencananya, monumen itu akan dipindang ke simpang tiga Kandang Jati.

Taman kota sendiri terletak di Selatan Alun-alun Kraksaan. Terdiri dari dua bagian. Yakni bagian Barat dan Timur. Keduanya dibatasi sebuah monumen, yakni monumen Kraksaan. Taman yang terletak di pinggir jalur pantura tersebut biasanya dimanfaatkan masyarakat untuk berekreasi.

Pada hari pertama pembongkaran, hanya bagian barat taman yang dibongkar. Lalu, Selasa (13/7) pembongkaran dilakukan di bagian tengah. Termasuk pemindahan monumen Kraksaan. Selanjutnya kemarin (14/7), seluruh bagian taman sudah rata dengan tanah.

Saat ditemui Radar Bromo, Camat Kraksaan Happy membenarkan hal tersebut. Menurut Happy, pembongkaran taman kota memang sudah direncanakan beberapa waktu lalu. Bahkan kata Happy, sudah dirapatkan dengan satker terkait.

Pembongkaran tersebut kata Happy, sangat penting dilakukan. Sebab, PKL sekitar Kraksaan perlu diperhatikan. "Sebenarnya eman (membongkar taman kota, Red). Tapi ada kepentingan yang lebih utama," tutur Happy.

Happy juga membenarkan rencana pemindahan monumen. Namun dia mengaku lupa akan dipindah ke mana. "Rapatnya di kantor (Kecamatan Kraksaan). Tapi saya lupa (pemindahan monumen)," ujar Happy.

Hal serupa diungkapkan Ketua Paguyuban PKL Semarak Puryanto. Menurut Puryanto, monumen tersebut memang akan dipindah. Namun sama dengan Happy, dia mengaku tak tahu akan dipindah ke mana. "Cuma saya dengar (dipindah) ke bagian Timur (Kraksaan)," kata Puryanto.

Selanjutnya Puryanto menjelaskan, selanjut di taman kota akan dibangun 40 lokal untuk PKL. Rencananya, ada 80 PKL yang akan menempati lokasi itu. Pemakaiannya kata Puryanto dibagi menjadi dua shift. Yakni siang dan malam. "Jadi 1 lokasi dipakai 2 pedagang," sebutnya.

Penjelasan detail didapat dari Kepala Dinas Koperasi dan UKM Kabupaten Probolinggo M. Sidik Widjanarko. Namun Sidik hanya bisa menyampaikan konfirmasi via SMS. Sebab Sidik sedang melaksanakan ibadah umroh. "Saya di Madinah. Lagi umroh" demikian bunyi SMS Sidik.

Menurut Sidik, monumen tersebut rencananya akan dipindah ke simpang tiga Kandang Jati. Yakni menggantikan tugu milik sebuah perusahaan yang masih terpasang sekarang. (eem/hn)

Sumber: http://www.jawapos.co.id/radar/index.php?act=detail&rid=169882

Sabtu, 26 Juni 2010

Bangun Lagi Tempat PKL

[ Sabtu, 26 Juni 2010 ]
KRAKSAAN - Pemkab Probolinggo kembali membangun tempat khusus untuk para PKL. Yakni, di Selatan Alun-alun Kraksaan. Bahkan, di tempat itu saat ini mulai dibangun pagar pembatas bagi PKL.

Dalam pantauan Radar Bromo, pagar tersebut dibangun memanjang dari Timur ke Barat. Panjangnya sekitar 100 meter. Sementara lebar areal sekitar 10 meter. Rencananya, PKL di sejumlah lokasi akan menempati tempat itu. Yakni PKL di sekitar kampung melayu Kraksaan, baik di sebelah Utara maupun Selatan.

Rahman, perwakilan CV yang melaksanakan pembangunan itu mengatakan, pagar tersebut akan digunakan untuk memisahkah areal perdagangan PKL dengan alun-alun. Sementara di bagian luar pagar alun-alun akan dijadikan lokasi parkir pengunjung alun-alun dan kios PKL.

Lebih jauh kata Rahman, di areal tersebut pihaknya juga akan membangun tempat duduk bagi pengunjung. "Kalau tenda (untuk PKL, Red), saya tidak tahu," sebut Rahman.

Rahman menjelaskan, pihaknya mendapat target penyelesaian pagar sebelum 17 Agustus. Sebab, pada tanggal itu alun-alun akan ditempati untuk upacara kemerdekaan. "Jadi sudah harus rapi saat itu," lanjutnya.

Sedangkan untuk penyelesaian secara umum, Rahman mengaku tidak tahu secara pasti. Hanya menurut dia, butuh waktu sekitar 5 bulan. "Itu perkiraan saja. Sesuai pengalaman pekerjaan saya," sebutnya.

Sementara Kepala Dinas Koperasi dan UKM Kabupaten Probolinggo M. Sidik Wijanarko saat dikonfirmasi membenarkan pembangunan tersebut. Menurut Sidik, pagar tersebut memang disiapkan untuk lokasi berjualan para PKL. "Terutama di wilayah Kraksaan dan sekitarnya," tutur Sidik.

Namun menurutnya, bukan pihaknya yang mengelola tempat itu nanti. Pihaknya dikatakan Sidik, sudah membentuk pengelola khusus. Yakni, paguyuban PKL. Sementara dinas hanya bertugas menata pengembangan usaha mikro para PKL. "Misalnya kebutuhan pedagang," katanya.

Sedangkan paguyuban PKL bertugas mengkoordinir para pedagang. Utamanya untuk menyosialisasikan rencana perpindahan lokasi dagang. "Agar nanti tidak terjadi kesalahpahaman," pungkas Sidik. (eem/hn)

Sumber: http://www.jawapos.com/radar/index.php?act=detail&rid=166705