Tampilkan postingan dengan label BOS. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label BOS. Tampilkan semua postingan

Minggu, 22 Agustus 2010

BOS Enam Kecamatan Segera Cair

[ Sabtu, 21 Agustus 2010 ]
Sudah Dikirim ke KPPN Bondowoso

KRAKSAAN - Para pengelola madrasah di Kabupaten Probolinggo harus lebih bersabar. Sebab pencairan dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS) madrasah masih menunggu waktu.

Hal itu terungkap saat Komisi D DPRD setempat melakukan klarifikasi ke kantor Kemenag kabupaten, kemarin (20/8). Dalam kesempatan itu Komisi D menanyakan alasan tak kunjung cairnya sejumlah dana bantuan untuk madrasah di Kabupaten Probolinggo.

Ada tiga anggota yang mewakili Komisi D saat klarifikasi. Yakni, Ribut Fadilah, Misnaji dan Alim. Mereka ditemui Kepala Kantor Kemenag M Sirajuddin di ruangannya.

Kepada perwakilan Komisi D itu Sirajuddin menjelaskan, keterlambatan pencairan sejumlah bantuan disebabkan oleh beberapa faktor. Kebanyakan adalah soal teknis administrasi.

Menurut Sirajuddin, pada pencairan dana BOS triwulan kedua ini ada sedikit perbedaan. Sebelumnya pencairan bantuan dilakukan langsung oleh Kanwil Jatim. Namun mulai triwulan kedua pencairannya dilakukan oleh Kemenag setempat.

Karena baru pertama mengurusi pencairan itulah, Kemenag belum maksimal menyelesaikannya. "Kendala yang banyak ditemui di lapangan itu adalah kesalahan administrasi," keluh Sirajuddin saat ditemui usai pertemuan kemarin.

Menurut Sirajuddin, tidak sedikit madrasah yang mengalami salah penulisan berkaitan dengan administrasi. "Misalnya kesalahan menuliskan nama madrasahnya sendiri. Hal itu sangat berpengaruh. Karena ini soal administrasi," bebernya.

Kendala lain yang ditemui adalah banyak lembaga yang sudah berganti pucuk pimpinan. Namun, pergantian itu tidak diikuti dengan pergantian berkas-berkas lembaga itu sendiri. Sehingga saat dikroscek, data-data lembaga tersebut tidak cocok.

"Padahal kalau satu lembaga saja belum beres, maka bisa mempengaruhi pencairan secara keseluruhan. Sebelum dicairkan itu, semua lembaga harus beres proses administrasinya," jelas Sirajuddin.

Sampai kemarin (20/8) menurut Sirajuddin, masalah administrasi tersebut baru beres di 6 kecamatan saja. Sementara 16 kecamatan lainnya (2 kecamatan melebur dengan kecamatan lain) masih dalam proses penyesuaian administrasi.

"Yang enam kecamatan itu saat ini sudah sampai di KPPN (Kantor Perwakilan Perbendaharaan Negara) Bondowoso. Mungkin dalam waktu dekat ini sudah bisa dicairkan ke madrasah," jelas Sirajuddin.

Sirajuddin lantas menjelaskan, proses pencairan dana BOS itu dimulai dengan pengiriman data-data lembaga dari Kmenag ke KPPN. Selanjutnya KPPN memasukkannya ke Bank Jatim, baru disalurkan ke lembaga-lembaga madrasah.

Seperti diberitakan Radar Bromo sebelumnya, bantuan dana BOS untuk madrasah di Kabupaten Probolinggo mengalami keterlambatan pencairan. Dan yang terlambat dicairkan adalah dana BOS periode kedua. Yakni untuk bulan April, Mei dan Juni. Sementara dana periode pertama tahun 2010, yakni Januari-Februari-Maret sudah tuntas pada Juni lalu.

Dari klarifikasi tersebut juga diketahui, pada triwulan kedua ini penerima bantuan BOS tidak berbeda dengan triwulan pertama. Rinciannya, MI yang terdiri dari 366 lembaga mendapatkan kucuran bantuan Rp 3.347.206.250. Untuk MTs yang terdiri dari 130 lembaga mendapatkan kucuran Rp 2.475.082.500.

Selain dana BOS, dana TF (Tunjangan Fungsional) untuk guru dan BSM (Bantuan Siswa Miskin) untuk murid yang tidak mampu juga belum cair.

Dana TF ini diberikan tiap satu semester atau 6 bulan sekali (Januari-Juni). Pada semester pertama ini ada 6.035 guru yang mendapatkan bantuan itu. Tiap guru satu bulannya mendapatkan TF sebesar Rp 250 ribu.

Sementara BSM diberikan untuk tiga jenjang pendidikan Madrasah. Yakni MI, MTs dan MA. Untuk MI pada semester ini yang mendapatkan bantuan sebanyak 6.776 siswa, MTs ada 3.530 siswa dan MA sebanyak 3.095 siswa. (selengkapnya lihat grafis).

Alim, salah salah satu anggota Komisi D mengatakan, DPRD tidak bisa mencari kambing hitam atas keterlambatan pencairan sejumlah bantuan itu. "Sekarang ini tidak perlu berdebat yang salah Depag atau lembaganya," katanya.

Cuma yang ia soroti adalah kinerja kali pertama kantor Kemenag dalam menyalurkan bantuan dari APBN tersebut. "Yang perlu dipertanyakan adalah profesionalisme pegawai Kemenag. Karena pencairannya sampai terlambat cukup lama," keluhnya.

"Dalam pertemuan tadi (kemarin), kami meminta agar secepat mungkin bantuan tersebut dapat dicairkan. Karena saat ini kondisi beberapa lembaga sudah sangat limbung. Saat ini lembaga hanya mengandalkan bantuan itu," ungkapnya. (mie/hn)

Sumber: http://www.jawapos.com/radar/index.php?act=detail&rid=175831

Sabtu, 21 Agustus 2010

13401 Siswa Madrasah di Probolinggo Belum Terima BSM

Jumat, 20 Agustus 2010

PROBOLINGGO | SURYA Online - 13.401 siswa madrasah di lingkungan Kantor Kementerian Agama Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur (Jatim), belum menerima dana bantuan siswa miskin (BSM) yang seharusnya sudah mereka terima pada Juli 2010.

Belum cairnya dana BSM bagi belasan ribu siswa madrasah di Kabupaten Probolinggo itu diungkapkan Misnaji, anggota Komisi D DPRD Kabupaten Probolinggo, Jumat (20/8/2010).

“Dana BSM itu seharusnya bisa membantu mereka dalam mengikuti kegiatan belajar mengajar di sekolahnya. Meskipun jumlahnya juga tidak terlalu besar,”jelas Misnaji.

Karena itu, Misnaji berharap Kantor Kemenag Kabupaten Probolinggo segera menyelesaikan masalah administrasi yang menghambat proses penyaluran BSM bagi siswa tidak mampu.

Sementara itu, Kepala Kantor Kemenag Kabupaten Probolinggo Moch. Sirajuddin membenarkan bahwa dana BSM untuk 13.401 siswa miskin di Kabupaten Probolinggo belum cair.

Keterlambatan pencairan dana BSM itu, menurut Sirajuddin, dikarenakan ada masalah administrasi sehingga pihaknya perlu melakukan perbaikan. Beberapa kesalahan administrasi yang menghambat pengajuan dana BSM itu adalah kesalahan ketik nama calon penerima dana BSM.

Siswa madrasah ibtidaiyah (MI) akan menerima bantuan uang sebesar Rp 360 ribu per tahun, siswa madrasah tsanawiyah (MTs) Rp 720 ribu, dan Madrasah Aliyah (MA) sebesar Rp 760 ribu.

“Hanya saja dana BSM itu dicairkan setiap setengah tahun sekali sebanyak separuh dari dana BSM yang berhak mereka terima dalam satu tahun,” jelas Sirajuddin.

Pada 2010 siswa miskin di tingkat MI yang menerima BSM sebanyak 6.776 siswa, MTs sebanyak 3.530 siswa dan Madrasah Aliyah (MA) sebanyak 3095 siswa.

Sumber: http://www.surya.co.id/2010/08/20/13401-siswa-madrasah-di-probolinggo-belum-terima-bsm.html

Jumat, 20 Agustus 2010

Komisi D Bakal Klarifikasi Kemenag

[ Jum'at, 20 Agustus 2010 ]
Soal BOS Madrasah yang Tak Kunjung Cair

KRAKSAAN - Tak kunjung turunnya dana bantuan operasional sekolah (BOS) untuk madrasah di Kabupaten Probolinggo membuat Komisi D DPRD setempat gerah. Komisi D pun berencana mengklarifikasi kantor Kementrian Agama (Kemenag) setempat hari ini.

Husnan Taufik juru bicara Komisi D mengatakan, sebelum memutuskan untuk melakukan klarifikasi, pihaknya telah menggelar rapat internal, kemarin (19/8). "Jadi hasil keputusan rapat internal, besok (hari ini) perwakilan Komisi D akan melakukan klarifikasi ke kantor Kementrian Agama," ujarnya.

Klarifikasi itu dilakukan untuk mengetahui penyebab tersendatnya pencairan dana BOS. "Kami ingin mengetahui proses pencairan itu sampai sejauh mana? Apa saja kendala-kendalanya. Sehingga membuat dana bantuan BOS itu terlambat," jelas politisi asal Gending tersebut.

Diberitakan Radar Bromo sebelumnya, bantuan BOS untuk madrasah di Kabupaten Probolinggo terlambat cair. Dana yang terlambat dicairkan, yakni BOS periode kedua untuk bulan April, Mei dan Juni. Sementara periode pertama untuk bulan Januari-Februari-Maret sudah tuntas pada Juni.

Selain dana BOS, ada beberapa bantuan yang sampai sekarang juga belum cair. Yakni, tunjangan fungsional (TF) untuk guru dan bantuan siswa miskin (BSM) untuk murid tidak mampu.

Masalah ini sebenarnya sudah diangkat Komisi D pada 3 Agustus lalu. Saat itu Komisi D menggelar hearing dengan Kepala Kantor Kemenag kabupaten Sirajuddin.

Sirajuddin sempat menjelaskan penyebab belum cairnya beberapa bantuan. Rata-rata menurut dia, karena disebabkan oleh kendala teknis. Misalnya, beberapa sekolah masih ada yang salah administrasi. Seperti tanda tangan.

Beberapa kendala administrasi itu membuat pencairan dana bantuan tersebut tersendat. Saat itu ia menjanjikan bantuan bakal cair sebelum bulan puasa. Namun janji Sirajuddin ternyata tak terbukti.

Dua minggu pasca hearing tersebut, belum ada kejelasan tentang pencairan bantuan itu. "Karena itulah kami akan lakukan klarifikasi," beber Husnan.

Menurut Husnan, bantuan itu sangat vital bagi keberlangsungan madrasah-madrasah. Sebab, saat ini semua MI (Madrasah Ibtidaiyah) maupun MTs (Madrasah Tsanawiyah) dilarang melakukan tarikan kepada siswanya. Otomatis biaya operasional sehari-hari lembaga tersebut bertumpu pada dana BOS.

"Terlambatnya pencairan bantuan itu akan sangat dirasakan oleh lembaga-lembaga pendidikan MI dan MTs. Kami dari anggota Komisi D banyak mendapatkan keluhan dari para guru dan pengelola yayasan," keluh Husnan.

"Kalau dibiarkan terus menerus bisa-bisa lembaga pendidikan oleng. Harus ada penyelesaiannya. Sebelum nanti mengganggu pendidikan di madrasah," imbuhnya.

Sementara itu Kepala Kemenag kabupaten Sirajuddin belum berhasil dikonfirmasi Radar Bromo sampai berita ini diturunkan. Saat telepon selulernya dihubungi beberapa kali, tidak diangkat. (mie/hn)

Sumber: http://www.jawapos.co.id/radar/index.php?act=detail&rid=175715

Jumat, 06 Agustus 2010

Janjikan Cair Sebelum Puasa

[ Kamis, 05 Agustus 2010 ]
BOS, TF dan RMS untuk Madrasah

KRAKSAAN - Terlambatnya pencairan dana bantuan operasional sekolah (BOS) untuk yayasan MA dan MTs di Kabupaten Probolinggo mendapatkan perhatian serius DPRD setempat. Kemarin (4/8) masalah itu menjadi pembicaraan utama dalam hearing antara Komisi D dengan kantor Kementrian Agama (Kemenag) setempat.

Pada hearing yang Kepala Kantor Kemenag Mohammad Sirajuddin tersebut, dewan lebih banyak melontarkan pertanyaan tentang belum cairnya bantuan tersebut.

"Seperti diketahui, yayasan baik MI maupun MTs saat ini sudah tidak diperbolehkan menarik biaya lagi. Jadi dana BOS tersebut menjadi satu-satunya untuk menopang kebutuhan sekolah," ujar Misnaji, anggota Komisi D asal PKS.

Karena itu, belum cairnya dana BOS dianggap Misnaji bisa mengganggu proses belajar mengajar di madrasah. Sebab, keterlambatan dana BOS otomatis membuat biaya operasional madrasah sehari-hari menjadi terganggu

"Kalau BOS-nya belum cair, terus secara teknis menggerakkan madrasah itu bagaimana? Gurunya itu berarti kan tidak dibayar juga," jelas Misnaji. Hal itu secara tidak langsung akan berdampak serius pada proses belajar mengajar. "Kalau gurunya telat bayaran, kan juga aras-arasen untuk mengajar," imbuhnya.

Diketahui, dana BOS yang terlambat pencairannya ini termasuk dana BOS untuk periode yang kedua. Yakni dana untuk bulan April, Mei dan Juni. Sementara periode pertama pada tahun ini, yakni Januari, Februari dan Maret sudah tuntas pada Juni lalu.

Selama hearing terungkap juga, ternyata bukan hanya dana BOS yang tersendat. Tetapi juga tunjangan fungsional (TF) untuk guru dan bantuan siswa miskin (BSM).

Kepala Kemenag M Sirajuddin menjelaskan, pencairan tiga bantuan itu terlambat, karena ada kendala teknis. Untuk dana BOS misalnya, pada pencairan tahap kedua ini ada aturan baru.

Pada periode pertama dana BOS langsung dicairkan melalui Kanwil Jatim. Namun, saat ini pencairan langsung ke masing-masing Kemenag setempat. "Kendalanya ada beberapa yayasan yang salah mencantumkan nomer rek. Ada juga kesalahan penulisan kepala sekolah madrasah. Sekedar diketahui, saat ini banyak kepala sekolah yang sudah ganti. Namun nama yang dicantumkan masih yang lama," jelas Sirajuddin.

Nah, beberapa kendala administrasi itu membuat pencairan dana bantuan tersebut sedikit tersendat. "Karena itu, kami sudah mengingatkan ke tiap-tiap lembaga untuk lebih teliti mencantumkan administrasinya," imbuhnya.

Jika masalah administrasi sudah dipenuhi, Sirajuddin berjanji semua bantuan bakal cair dalam waktu dekat. "Saat ini semuanya sedang dalam proses. Insya Allah akan cair dalam waktu dekat. Target kami semua bantuan sudah cair sebelum puasa," ungkapnya. (mie/hn)

Sumber: http://www.jawapos.co.id/radar/index.php?act=detail&rid=173484

Rabu, 28 Juli 2010

BOS untuk Madrasah Telat

[ Rabu, 28 Juli 2010 ]
Taufik: Karena Pengalaman Pertama

KRAKSAAN - Beberapa hari terakhir pengelola MI dan MTs di Kabupaten Probolinggo sedang resah. Pasalnya, dana bantuan operasional sekolah (BOS) untuk MI dan MTs terlambat cair.

Dari data yang dihimpun Radar Bromo, bantuan BOS yang terlambat pencairannya ini termasuk dana untuk periode kedua. Yakni, mencakup bulan April, Mei dan Juni.

"FKB (Fraksi Kebangkitan Bangsa) banyak mendapatkan keluhan dari pengelola madrasah dalam beberapa minggu terakhir ini," kata Ketua FKB DPRD setempat Mulabby Cholili kepada Radar Bromo.

Menurut Mulabby keterlambatan itu berlangsung sekitar sebulan. Tentu saja hal itu bisa mengganggu proses belajar mengajar di madrasah. Karena seperti diketahui, saat ini MI dan MTs sudah tidak lagi melakukan tarikan kepada siswanya.

Sehingga, bantuan BOS menjadi satu-satunya penunjang kegiatan belajar mengajar. "Kalau BOS-nya belum cair, terus secara teknis menggerakkan madrasah itu bagaimana? Gurunya itu berarti kan tidak dibayar juga," jelas Mulabby.

Hal itu menurutnya, secara tidak langsung juga berdampak serius pada proses belajar mengajar. "Kalau gurunya telat bayaran, kan juga aras-arasen untuk mengajar. Karena itu masalah ini harus segera diselesaikan. Dalam waktu dekat ini kami akan menemui kantor kementrian agama," jelas Mulabby.

Sementara itu Kasi Mapenda Kementrian Agama Kabupaten Probolinggo Taufik membenarkan keterlambatan pencairan dana BOS untuk madrasah tersebut. "Tetapi insya Allah besok (kemarin, Red) sudah bisa mulai dicairkan," katanya.

Taufik mengatakan, saat ini pihaknya sudah mulai melakukan proses pencairan. Keterlambatan pencairan kali ini menurut Taufik dikarenakan beberapa faktor. "Salah satunya adalah ini merupakan pengalaman pertama membagikan BOS langsung bagi kami," katanya.

Sebelumnya kata Taufik, pencairan BOS dilakukan melalui provinsi. Namun mulai tahapan kedua ini pencairan BOS langsung diberikan pada daerah-daerah. "Jadi kami masih dalam tahap penyesuaian," jelasnya. (mie/hn)

Sumber: http://www.jawapos.co.id/radar/index.php?act=detail&rid=172153