Tampilkan postingan dengan label Kasada. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kasada. Tampilkan semua postingan

Selasa, 24 Agustus 2010

Suku Tengger Gelar Upacara Yadnya Kasada di Bromo

Selasa, 24 Agustus 2010 11:18 WIB

JEMBER--MI: Sebagian besar masyarakat suku Tengger di Kabupaten Lumajang, Jawa Timur, Selasa (24/8), mulai berangkat ke Gunung Bromo (2392) untuk mengikuti upacara Yadnya Kasada Bromo yang digelar 25-26 Agustus 2010.

"Sebagian warga Tengger di Desa Argosari berangkat mulai hari ini untuk persiapan upacara Yadnya Kasada Bromo," kata Kepala Desa Argosari, Martiam, di Lumajang.

Menurut dia, jumlah warga Tengger di Lumajang yang akan mengikuti upacara Yadnya Kasada Bromo mencapai seribu orang lebih, sebagian warga Tengger Lumajang berada di Desa Ranupani dan Argosari.

"Sebagian warga Tengger berjalan kaki dengan berkelompok menuju Gunung Bromo melalui Dusun Gedog di Desa Argosari, namun sebagian lagi menggunakan kendaraan bermotor melewati Desa Ranupani menuju ke Bromo," paparnya.

Ia mengemukakan, jumlah warga Tengger yang berjalan kaki menuju Bromo tiap tahun menurun karena sebagian besar warga Tengger lebih memilih menggunakan kendaraan bermotor untuk mengikuti upacara Kasada tersebut.

"Sebagian kecil suku Tengger yang memilih berjalan kaki menuju ke Gunung Bromo secara berkelompok, namun komunitas itu masih ada," tuturnya.

Ribuan warga Tengger di Lumajang, lanjut dia, membawa sesajen yang berisi hasil bumi mereka untuk upacara Yadnya Kasada Bromo.

"Sisa sesajen yang sudah diberi doa akan dibawa pulang oleh suku Tengger di Lumajang, selanjutnya akan diletakkan di sejumlah sumber mata air di Desa Argosari," paparnya.

Ia menjelaskan, sisa sesajen yang dibawa dari upacara Kasada Bromo dipercaya membawa berkah untuk meningkatkan hasil panen suku Tengger di Lumajang.

"Sesajen yang diletakkan di sejumlah mata air dipercaya memberikan kemakmuran dan kesejahteraan suku Tengger di Lumajang," ucapnya.

Ia menegaskan, upacara Yadnya Kasada Bromo merupakan salah satu kegiatan untuk menyatukan suku Tengger di empat kabupaten yakni Kabupaten Probolinggo, Lumajang, Pasuruan dan Malang.

"Suku Tengger masih melestarikan budaya dan tradisi Tengger sepanjang waktu, meski mereka berbeda agama," ujarnya. (Ant/OL-9)

Sumber: http://www.mediaindonesia.com/read/2010/08/24/164233/125/101/Suku-Tengger-Gelar-Upacara-Yadnya-Kasada-di-Bromo

Mendak Tirta Dimulai

[ Selasa, 24 Agustus 2010 ]
SUKAPURA - Mulai kemarin (23/8) ritual menjelang Yadnya Kasada dimulai. Salah satunya adalah Mendak Tirta atau pengambilan air suci untuk upacara di Pura Luhur Poten (Lautan Pasir).

Air suci diambil dari air terjun Makadipura di Kecamatan Lumbang. "Kami dari wilayah Probolinggo ambil air suci di sini (Makadipura)," ungkap Doyoadi, salah satu pemangku air suci. Ia bersama tujuh orang bertugas melaksanakan ritual pengambilan air suci.

Ritual itu sendiri dilaksanakan di sumber air Madakaripura, tepatnya di air terjun yang terdapat di lokasi wisata tersebut. Dari tempat masuk, para pemangku harus berjalan sekitar 1 km menuju lokasi air terjun.

Sebelumnya menurut Doyoadi, pihaknya melakukan beberapa persiapan. "Kami persiapkan sesaji dan Gumbeng (tempat dari bambu untuk mengambil air suci, Red)," ungkapnya. Sesaji itu terdiri dari 2 tandan pisang, 2 lembar sirih, sedikit pinang, sedikit kapur dan dua uang gepeng. "Itu namanya Gedang Ayu," jelas Doyoadi.

Mereka semua memakin dua jenis seragam. Ada yang berseragam hitam dan ada yang putih. "Yang berpakaian hitam itu baju suku Tengger dan yang putih itu baju untuk upacara keagamaan," jelas Doyoadi. Total ada 5 orang yang berbaju hitam dan 3 sisanya berbaju putih.

Selama mengambil air suci, perjalanan yang dilalui menuju sumber cukup sulit. Sebab, jalan setapak di beberapa titik yang terdapat di Makadipura rusak. Total ada 3 titik yang rusak dan kerusakan terparah di titik kedua. Akibatnya, para pemangku dan pengikutnya sesekali harus berjalan menelusuri pinggiran sungai.

Setelah berjalan sekitar 45 menit, mereka tiba di lokasi air terjun. Persiapan ritual pun dimulai. Para pemangku menyiapkan sesaji di atas sebuah bangku yang terbuat dari bambu.

Para pemangku lantas membacakan doa-doa dan membakar beberapa serabut kelapa. Sekitar 15 menit kemudian, beberapa pemangku dan pengikutnya masuk ke air terjun dan mengambil air suci. Dilanjutkan dengan ritual pembacaan doa-doa. Baru setelah itu sesaji dilarung di aliran sungai yang mengalir dari sumber air terjun tersebut.

Dari informasi yang diterima Radar Bromo, prosesi tersebut sudah dua tahun terakhir dilaksanakan di Probolinggo. Sebelumnya, pengambilan air suci hanya dilaksanakan di Widodaren (Pasuruan).

Setelah Mendak Tirta di empat wilayah suku Tengger (Probolinggo, Pasuruan, Lumajang, Malang), mereka langsung menuju Pura Luhur Poten (Lautan Pasir). Di sini mereka akan melakukan upacara agama bersama. (d7x/hn)

Sumber: http://www.jawapos.co.id/radar/index.php?act=detail&rid=176208

Jelang Kasada, Wisman Berdatangan

[ Senin, 23 Agustus 2010 ]
PROBOLINGGO - Yadnya Kasada sudah di depan mata. Hari besar umat Hindu Tengger itu bakal digelar 25-26 Agustus. Gunung Bromo plus momen Kasada itu masih jadi magnet kuat bagi wisatawan mancanegara (wisman). Simak saja, saat ini para wisman sudah ramai berdatangan di kawasan Bromo.

Itu tercermin dari kesibukan biro-biro travel di Kota Probolinggo dalam melayani paket wisata, termasuk ke Bromo. Seperti diungkapkan Sugianto, pemilik travel Mahkota yang berkantor di ruas Jl Raya Bromo.

Menurutnya, beberapa minggu terakhir ini kedatangan wisman memang meningkat pesat. "Sebenarnya sudah terlihat sejak Juli. Tapi,beberapa minggu belakangan ini semakin melonjak grafiknya. Sampai mencapai 80 persen dibanding hari biasa," kata Sugianto saat ditemui Radar Bromo kemarin (22/8).

Pria bertubuh subur tersebut mengatakan momen digelarnya Yadnya Kasada tahun ini sangat pas. "Karena bulan-bulan ini adalah high seasons. Banyak-banyaknya turis asing yang berlibur ke Indonesia," ungkapnya.

Kebanyakan turis yang sudah berdatangan ke Indonesia itu berasal dari Eropa. Karena saat ini di Eropa sedang memasuki musim liburan panjang. "Yang paling banyak itu dari Prancis," jelasnya.

Kebetulan saat kemarin Radar Bromo bertandang ke Mahkota travel ada beberapa turis asal Prancis yang sedang transit. Mereka juga dalam perjalanan ke Gunung Bromo. Beberapa diantaranya mengaku sudah pernah ke Bromo. "Very beautiful," ucap Pierre, salah satu turis asal Prancis itu. Ia tidak sendirian. Ada beberapa orang lagi dalam rombongan Pierre.

Bahkan Sugianto memprediksikan, tahun ini jumlah wisatawan manca bakal lebih banyak dibanding tahun sebelumnya. "Tahun lalu itu sedikit sepi karena adanya beberapa gempa bumi. Tetapi tahun ini kabar dari Indonesia yang ke luar negeri itu baik-baik saja. Jadi banyak turis yang datang," papar Sugianto.

Lonjakan wisatawan mancanegara juga sudah dirasakan oleh para pengelola hotel di kawasan Bromo. Digdoyo DP, ketua Persatuan Hotel dan Restaurant Indonesia (PHRI) Kabupaten Probolinggo mengatakan, saat ini sebagian besar hotel-hotel di Bromo sudah full booked. "Hampir semua hotel. Itu sudah sejak jauh-jauh hari yang lalu," kata pemilik Yoschi's Hotel, juga di kawasan Bromo, itu.

Pria yang akrab disapa Yoyok tersebut membenarkan kalau saat ini masih memasuki high seasons liburan wisatawan asal Eropa. "Karena itu sekarang ini wisatawan yang banyak adalah dari mancanegara. Utamanya Eropa," jelasnya.

"Karena itu saya menyarankan agar pemkab atau media-media seperti Radar Bromo bisa membuatkan berita yang memakai bahasa Inggris. Dengan begitu bisa membantu wisatawan manca," harap Yoyok.

Sementara itu Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Tutug Edi Utomo mengatakan, pihaknya juga mengagendakan beberapa kegiatan penunjang untuk menyemarakkan kasada tahun ini.

"Selain jelajah budaya, festival lomba puisi dan kidung yang sudah digelar kemarin (21-22/8). Juga akan digelar lomba baca kitab suci (23/8) dan pawai obor (24/8). Tanggal 25 ada reog Tengger, festival rawon. Dan malam harinya dilanjutkan dengan resepsi," kata Tutug saat dihubungi Radar Bromo kemarin.

Tutug menjelaskan rangkaian kegiatan itu digelar untuk membuat Kasada jadi lebih berwarna. "Juga untuk memuaskan all wisatawan karena ada pagelaran seni budaya dalam Kasada tahun ini. Ini juga sebagai dukungan upaya rebranding Bromo yang sudah dimulai," imbuh Tutug.

Rencananya untuk semakin memeriahkan resepsi upacara Kasada, pemkab bakal berkoordinasi dengan manajemen hotel sekitar pendopo Agung untuk memfasilitasi wisatawan mancanegaranya. "Kami meminta wisman hadiri resepsi Kasada, biar berwarna-warni. Asyik kan?" kata Tutug berpromosi.

Sementara untuk prosesi ritualnya pada 23 Agustus besok bakal digelar mendhak tirta dan sepeninga serta makemit. Keesokan harinya (24/8) bakal digelar piodalan pura luhur poten atau ulang tahun pura luhur poten. Hari selanjutnya (25/8) dilanjutkan dengan resepsi yadnya Kasada yang dimulai pukul 20.00.

Dan pada 26 Agustus dinihari sekitar pukul 02.00 jadi puncak ritual Yadnya kasada. Semua umat Tengger bakal berangkat dari pintu gerbang lawang masing-masing daerah. Malam harinya bakal digelar pujan kasada di tiap-tiap rumah kepala desa. (mie/yud)

Sumber: http://www.jawapos.co.id/radar/index.php?act=detail&rid=176047