Tampilkan postingan dengan label Musibah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Musibah. Tampilkan semua postingan

Senin, 01 November 2010

3 Rumah Ambruk Ditiup Angin

Senin, 1 Nopember 2010

Probolinggo - SURYA- Sedikitnya 25 rumah disapu angin puting beliung di Desa Seneng, Kecamatan Krucil, Kabupaten Probolinggo. Tiga rumah di antaranya ambruk, akibat tidak kuat menahan empasan angin dari arah tenggara tersebut. Angin terjadi sekitar pukul 16.30 WIB, Sabtu (30/10) disertai hujan lebat. Begitu hujan agak reda, secara tiba-tiba angin datang dan langsung merobohkan tanaman sengon milik warga.

Camat Krucil, Iswinaryo, kepada Surya mengaku meneruskan laporan tentang kerusakan rumah warga akibat tiupan angin itu ke Satuan Penanggulangan Bencana Pemkab Probolinggo. Aparat bertindak cepat, Minggu (31/10) sekitar 256 personel dari Kodim 0820 dan 25 personel dari polres, dibantu petugas satpol PP Pemkab Probolinggo diterjunkan ke lokasi untuk kerja bakti memperbaiki rumah warga yang rusak. “Kami sebatas memperbaiki rumah yang nyaris roboh, termasuk bekerjabakti memperbaiki rumah yang sudah ambruk. Kebetulan yang ambruk rumah nonpermanen, sehingga mudah diperbaiki,” ujar salah satu personel Kodim 0820 Sertu Humaedi kepada Surya. Dari 25 rumah rusak, tiga rumah ambruk adalah rumah nonpermanen yang terbuat dari dinding kayu. ntiq

Sumber: http://www.surya.co.id/2010/11/01/3-rumah-ambruk-ditiup-angin.html

Belasan Rumah Rusak Diterjang Puting Beliung

Tim Liputan 6 SCTV
01/11/2010 05:40
Liputan6.com, Magetan: Puting beliung menerjang Desa Juwet, Kecamatan Ngrongot, Nganjuk, Jawa Timur, Ahad (31/10). Pusaran angin yang begitu kencang mengakibatkan belasan rumah porak poranda. Meski angin kencang hanya berlangsung lima menit, genting rumah berterbangan dan sebagian lagi rusak tertimpa pohon besar.

Kendati tidak menimbulkan korban jiwa, angin kencang yang terjadi bersamaan dengan turunya hujan membuat warga panik dan berlarian menyelamatkan diri.

Sementara itu, amukan puting beliung di Desa Seneng, Kecamatan Krucil, Probolinggo, Jawa Timur, telah merusak puluhan rumah. Sejumlah warga yang dibantu anggota TNI masih berusaha membersihkan puing-puing rumah yang rusak akibat terjangan angin [baca: Puting Beliung Rusak Puluhan Rumah di Probolinggo].(IAN)

Sumber: http://berita.liputan6.com/daerah/201011/304270/Belasan.Rumah.Rusak.Diterjang.Puting.Beliung

Senin, 25 Oktober 2010

Bus Tewaskan 2 Orang

Senin, 25 Oktober 2010

Nenek Dilindas, Mahasiswa Ditabrak Lari

SIDOARJO - SURYA- Dalam sehari terjadi kecelakaan yang menewaskan dua orang melibatkan bus di sekitar Terminal Purabaya, Sidoarjo, Minggu (25/10). Pada pagi hari bus melindas seorang nenek, sore harinya terjadi tabrak lari.

Zaenab Ba’agil, 68, tewas seketika setelah ditabrak bus Mila jurusan Surabaya-Probolinggo.

Warga Dusun/Desa Pohjejer, Kecamatan Gondang, Mojokerto, itu tubuhnya terlindas bus saat berada di terminal kedatangan terminal Bungurasih, Minggu (24/10). Polisi menetapkan sopir bus sebagai tersangka.

Nasib apes ini menimpa korban, sekitar pukul 07.45 WIB. Informasi yang di himpun di tempat kejadian, korban Zaenab terlindas bus Mila saat menyeberang area penurunan penumpang bus antarkota.

Sedangkan tempat kejadiannya, berada di lajur area kadatangan kedua, atau sebelah lajur bus damri jurusan Bandara Juanda. Menurut Supardi, tukang ojek yang mangkal tak jauh dari lokasi, saat kejadian korban Zaenab berjalan sangat pelan.

Itu karena dia membawa tas hitam yang terlihat cukup berat. Sementara bus Mila Sejahtera juga berjalan pelan, karena baru saja menurunkan penumpang.

”Korban kelihatannya keberatan membawa tasnya itu. Jalannya terseok-seok, kemudian tersandung dan jatuh. Saat jatuh itulah, bus Mila juga jalan, meski pelan. Saat itulah dia terlindas,” lanjut Supardi.

Saat tahu Zaenab terjatuh, sebenarnya sudah banyak orang yang meneriaki sopir bus Mila Sejahtera ”awas-awas”. Tapi mungkin karena bus AC jurusan Surabaya-Jember-Banyuwangi itu tertutup rapat, sopirnya kurang mendengar. Begitu dia mendengar, langsung berhenti, tepat saat roda depan sebelah kanan telah melindas dada dan kepala Zaenab.

“Begitu ada orang teriak-teriak meminta bus berhenti, kami pun tahu ada orang terlindas,” kata M Yusuf, kenek bus Mila jurusan Surabaya-Probolinggo N 7497 US tersebut, Minggu (24/10).

Dia mengaku tidak melihat langsung kejadian itu. Hanya saja, bus melaju setelah menurunkan sekitar 40 penumpangnya.

Kejadian itu sontak memicu perhatian para penumpang yang kebetulan berada di terminal Bungurasih. Sejumlah petugas terminal Bungurasih langsung meminta bus minggir dan segera menghubungi pos polisi terdekat. Sopir bus Puro Basuki, 58, langsung diamankan dan dibawa ke Pos Lantas Waru dan diperiksa lanjut di Mapolsek Waru.

Menurut Yusuf, korban adalah salah seorang penumpang bus Mila yang naik dari kawasan Bangil Pasuruan. Sopir bus Puro Basuki, warga Desa Kalirejo, Kecamatan Driyu, Probolinggo mengaku busnya berjalan pelan dan tidak tahu ada yang melintas. Dia menduga jarak antara korban dengan bus yang disopirinya kurang dari satu meter.

Kapolsek Waru Kompol Agus Widodo menyatakan, pihaknya masih memeriksa sejumlah saksi, di antaranya kru bus Mila. Hanya saja, pihaknya telah menetapkan sopir bus sebagai tersangka dalam kejadian itu. Diduga kuat, sopir telah lalai, sehingga bus menabrak orang hingga tewas. “Tersangka dijerat pasal 359 KUHP tentang kelalaian, sehingga menyebabkan hilangnya nyawa orang,” ujarnya.

Mahasiswa Disenggol

Sementara kecelakaan lalu lintas melibatkan bus dan sebuah motor di Bundaran Waru juga menelan korban jiwa, Minggu (24/10) sore.

Faris Agustino Saputra, 22, warga Perum Wisma Permai tewas di lokasi kejadian dengan cedera berat di bagian kepala. Korban yang saat itu berboncengan motor dengan rekannya, Taufik Restu, 21, warga Perum Merpati, Sidoarjo, diduga jadi korban tabrak lari sebuah bus yang belum diketahui identitasnya.

Kecelakaan lalu lintas yang merenggut nyawa Faris terjadi di sisi selatan Bundaran Waru, tepatnya di jalur sisi kiri. Korban yang tercatat sebagai mahasiswa UPN itu terlempar dari motor Yamaha Mio warna hitam dengan nopol W 6139 PX.

Pada saat kejadian, korban duduk di jok belakang dibonceng rekannya, Taufik. Taufik sendiri selamat dari kecelakaan.

Kecelakaan terjadi saat mereka melaju dari arah Selatan (Sidoarjo) ke arah Surabaya. Ketika memasuki bundaran Waru, Taufik yang masuk tikungan dari jalur sebelah kiri mencoba memacu motornya lebih kencang untuk segera memotong ke kanan masuk jalur ke arah Surabaya.

Tapi naas, pada waktu bersamaan, sebuah bus juga melaju cukup kencang di belakang mereka dan diperkirakan mengarah ke jalur tol Waru. Karena motor Mio yang dikemudikan Taufik memotong ke kanan sedangkan bus berbelok ke kiri, terjadi benturan antara motor dan bagian depan bus sebelah kiri. “Sepertinya bagian depan bus kena bagian belakang motor Mio dan badan Faris, jadi mereka terjatuh,” tambah Refi yang pada saat kejadian posisinya di belakang dua rekannya. ain/rey/rie

Sumber: http://www.surya.co.id/2010/10/25/bus-tewaskan-2-orang.html

Nenek Tewas Dilindas Bus

Senin, 25 Oktober 2010

SIDOARJO – Pemberhentian penumpang bus di Terminal Bungurasih kemarin pagi tiba-tiba geger. Sebab, Zainab Baagil, 68, warga Poh Jejer, Gondanglegi, Mojokerto, tergeletak dalam kondisi bersimbah darah setelah terlindas roda depan PO Mira yang baru saja menurunkan penumpang.

Berdasar data yang dihimpun Jawa Pos, bus N 7497 VS itu tiba di Terminal Bungurasih sekitar pukul 07.43 dengan memasuki jalur tiga. Bus yang dikemudikan Puro Basuki, 58, warga Kalirejo, RT 01, RW 01, Dringu, Kabupaten Probolinggo, itu pun menurunkan sekitar 40 penumpang.

Berdasar catatan Polsek Waru, korban adalah penumpang bus itu sendiri. Korban turun dari pintu depan dan langsung berjalan ke arah dalam terminal dengan melewati depan moncong bus. Diduga, korban terlalu dekat dengan bus sehingga tidak terlihat. ”Kalau jaraknya satu meter di depan saya, masih terlihat. Ini saya sama sekali tidak lihat,” ucap Puro.

Kapolsek Waru Kompol Agus Widodo menyatakan, pihaknya sudah menetapkan Puro sebagai tersangka. Dia dijerat dengan pasal 359 KUHP. ”Intinya, kelalaian yang mengakibatkan orang lain meninggal dunia.” (eko/c13/ib)

Sumber: http://www.jpnn.com

Derita Kakak-Adik Korban Ledakan Elpiji di Kota Probolinggo

Wajah Menghitam, Operasi Tak Ada Biaya

Jumaadi dan Rohim harus menjalani perawatan di RSUD Dr Moh. Saleh, Kota Probolinggo. Kakak dan adik warga Jalan KH Hasan Genggong, Wonoasih, itu mengalami luka serius karena ledakan elpiji. FAMY DECTA M., Probolinggo

PANAS... panas.... aduh...,’’ keluh Jumaadi sambil berbaring tak berdaya di bed kelas III ruang Bougenvile RSUD Dr Moh. Saleh.

Di depannya, si adik Rohim duduk di bed menempel tembok. Liana Hasyim, ibu Jumaadi dan Rohim, sibuk mengipas-ngipasi tubuh Jumaadi yang terkena luka bakar serius.

Jumaadi, 29, mengalami luka serius ketimbang adiknya. Wajah Jumaadi berwarna hitam dan melepuh.

Tubuh bagian dada, tangan, dan sedikit kaki terluka kena ledakan elpiji pada Kamis siang lalu tersebut. Sedangkan luka Rohim tidak separah Jumaadi. Muka Rohim pun menghitam alias gosong. Rambutnya masih kaku dan terbakar. Pemuda berusia 19 tahun itu masih bisa berbicara meski agak bergumam.

’Besok (hari ini) katanya disuruh operasi wajah (Jumaadi). Biaya lagi, kami dapat uang dari mana,’ tutur Eva Nurdiana, istri Jumaadi yang menemani suaminya di rumah sakit. Eva dan keluarga suaminya kebingungan soal biaya rumah sakit.

Biaya berobat Jumaadi dan Rohim selama penanganan di UGD (unit gawat darurat) belum terlunasi.

Paramedis menyarankan keluarga membeli kelambu untuk kedua pasien tersebut. Tujuannya, kelambu itu supaya luka Jumaadi dan Rohim tidak dihinggapi lalat.

Bila sampai itu terjadi, luka tersebut bisa membusuk. Karena biaya terbatas, keluarga baru beli sekelambu.

Mestinya, pembelian kelambu tidak perlu terjadi bila kedua pasien itu pindah ke kelas lebih bagus. Sebab, di ruangan itu tidak terdapat banyak pasien. ’Maunya kakak ini pindah saja. Tapi mau bagaimana lagi, biayanya tidak ada,’ ujar Musdhalifa, adik Jumaadi.

Musdhalifa dan Eva menceritakan, sejak setahun lalu Jumaadi berjualan elpiji ukuran 3 kg dan 12 kg di rumahnya di lingkungan RT 5/RW 1, Kelurahan Sumbertaman, Kecamatan Wonoasih.

Sejak memutuskan berdagang elpiji, sisi rumah paling barat dijadikan tempat menyimpan elpiji sekaligus toko.

Di situlah Jumaadi menyimpan elpiji kosong maupun yang ada isinya. Kamis siang (21/10) pukul 14.00 Jumaadi mencium bau elpiji bocor di sekitar rumahnya.

Pada saat bersamaan, ternyata Rohim sedang merebus air di dapur. Waktu itu Jumaadi belum menemukan tabung mana yang bocor. Tapi, ledakan keburu terjadi. Jumaadi terlempar hingga pintu tokonya ambrol.

Sedangkan Rohim yang baru saja mematikan kompor tiba-tiba dikejar api. Dia lari, tapi tetap tak lolos dari api.

Rohim yang saat itu berpakaian utuh menjadi telanjang. Pakaiannya habis terbakar dan hanya tersisa celana dalamnya. Dalam keadaan terbakar, Rohim masih bisa menyiramkan air ke sekujur tubuhnya.

Sedangkan Jumaadi hanya bisa gulung-gulung di pelataran rumah. ’Adik saya itu kena flu, Hidungnya punya polip. Jadi ndak bau kalau ada elpiji bocor,’’ kata Musdhalifah, saat kejadian sedang berada di rumah mertuanya.

”Kami benar-benar berharap ada bantuan dari dermawan, pemerintah atau Pertamina. Karena kami sungguh tidak memiliki biaya lagi,” ucap Eva dengan nada lirih diamini Musdhalifa dan mertuanya. (yud/bh)

sumber: http://www.jpnn.com

Jumat, 22 Oktober 2010

Pangkalan Elpiji Meledak

22-Oct-2010
PATROLI
Lukai Dua Orang

indosiar.com, Probolinggo - Sebuah pangkalan gas elpiji di Probolinggo, Jawa Timur, Kamis (21/10/10) sore, meledak hingga melukai 2 orang pekerja sekaligus pemilik pangkalan. Ledakan yang dipicu dari kebocoran tabung elpiji 3 kilogram ini, juga mengakibatkan bangunan rusak parah hingga nyaris roboh. Peristiwa ini mengagetkan keluarga korban yang langsung histeris begitu melihat lokasi kejadian.

Wanita ini hanya bisa menangis begitu melihat pangkalan elpiji sekaligus tempat tinggal kerabatnya hancur berantakan akibat ledakan, Kamis (21/10/10) sore.

Bangunan di RT 5, RW 1, Kelurahan Sumber Taman, Kecamatan Wonoasih, Probolinggo ini tampak rusak parah. Sebagian genteng rumah terlihat berhamburan, sementara plafon dan dindingnya jebol dan nyaris roboh.

Polisi yang tiba di lokasi melakukan olah TKP sekaligus memasang garis pengaman untuk membatasi warga agar tidak mendekati TKP. Menurut seorang warga, bunyi ledakan tersebut sangat keras, hingga menghancurkan genteng dan tembok bangunan.

Berdasarkan hasil penyelidikan di lokasi, ledakan dipicu oleh bocornya tabung elpiji 3 kilogram. Polisi bahkan menemukan tabung yang bocor dan masih mengeluarkan gas.

Kasus ledakan ini masih dalam penyelidikan pihak kepolisian, termasuk kemungkinan adanya praktek ilegal, seperti penyuntikan gas, di toko tersebut. Suliana, salah seorang penghuni rumah menjelaskan, ledakan terjadi di ruang toko tempat elpiji dipajang. Saat itu, 2 orang pemilik rumah membenahi klep elpiji 3 kilogram yang bocor.

Selain menghancurkan bangunan, ledakan ini juga mengakibatkan 2 karyawan sekaligus penghuni rumah yakni Jumadi dan Rohim mengalami luka bakar serius dan langsung menjalani pemeriksaan di RSUD Dokter Mohammad Saleh Probolinggo. (Tomy Iskandar/Sup)

Sumber: http://www.indosiar.com/patroli/87959/pangkalan-elpiji-meledak

Elpiji 3 Kg Meledak, 2 Pemilik Toko Hangus

Jumat, 22 Oktober 2010 | 09:53 WIB

PROBOLINGGO – Ledakan tabung gas 3 Kg mempoerakporandakan rumah Ny Lilik (60), warga Kel Sumbertaman, Kec Wonoasih, Kota Probolinggo, Kamis (20/10) sore. Jumadi (30) dan Abdurrohim (27), keduanya anak kandung Ny Lilik mengalami luka bakar serius. Keduanya langsung dilarikan ke RSUD Dr Moch. Saleh, Kota Probolinggo. Sementara tembok rumah mereka retak-retak sebagian. Atap rumah berantakan, gentengnya berjatuhan. Perabotan rumah yang merangkap toko juga rusak parah.

Sebagian warga memasang tiang penyangga di sejumlah bagian agar rumah tak roboh. Kini, rumah di RT 05/RE 01, Blok Krajan, Kel Sumbertaman itu dipasangi garis polisi (police line). Polisi juga mengamankan tabung elpiji 3 kg.

Ledakan itu terjadi Kamis sekitar pukul 15.00. Awalnya, Jumadi mengetahui ada sebuah tabung elpiji di tokonya bocor. Toko yang dikelola Jumadi dan adiknya, Abdurrohim, itu menjual tabung elpiji ukuran 12 Kg dan 3 Kg. Jumadi memperbaiki klep tabung elpiji yang bocor.

Tak seberapa lama terdengar ledakan keras, Jumadi sampai terpental dan mengalami luka bakar serius di sekujur tubuhnya. “Saya yang saat itu sedang bikin kopi di dapur terkejut begitu ada ledakan keras,” ujar Abdurrohim ditemui di RSUD. Abdurrohim juga mengalami luka bakar tetapi tidak separah kakaknya.

Lalu, dari mana asal api? “Kalau tidak dari rokok yang diisap kakak saya, ya berarti api dari kompor elpiji di dapur yang saya gunakan untuk merebus air untuk membikin kopi,” ujarnya. Api diduga menyambar elpiji yang bocor dari tabung yang diperbaiki Jumadi.

Lokasi ledakan elpiji kali ini masih bertetangga dengan Kel Jrebeng Wetan, Kec. Kedopok, Kota Probolinggo yang pada 12 Juni 2010 lalu, terjadi ledakan elipiji di rumah Abdul Wahab (45). Ny Salamah (40) dan Hendra (18), istri dan anak Wahab, luka bakar. Belakangan, Hendra meninggal setelah beberapa hari dirawat di RSU dr Soetomo Surabaya. isa

Sumber: http://www.surabayapost.co.id/?mnu=berita&act=view&id=39357dcaf752cdb27e3ed3b6de0852fb&jenis=c81e728d9d4c2f636f067f89cc14862c

Doorr.. Elpiji 3 Kg Memangsa 2 Warga

Jumat, 22 Oktober 2010

Probolinggo - Surya- Elpiji 3 kilogram masih terus memangsa korban. Kali ini membakar tubuh kakak beradik, Jumadi, 35, dan Rohim, 20, warga RT.1 RW. 5 Kel Sumbertaman, Kec Wonoasih, Kota Probolinggo, Kamis (21/10).

Jumadi menderita luka bakar di dua kaki, lengan tangan, dada, dan perut. Sedangkan Rohim, adik, luka lecet di dua lengan dan kaki. Mereka dirawat inap di RSUD dr Muhammad Saleh.

Dahsyatnya ledakan elpiji membuat atap rumah dan genteng jebol. Dinding rumah bagian depan, retak dan miring, nyaris ambruk. Perabotan rumah berupa kursi L, lemari, dan alat-alat dapur hancur berantakan. Beruntung, puluhan tabung elpiji 3 kg dan 12 kg di teras rumah tidak turut meledak.

Tuhamsi Riyono, tetangga korban yang juga anggota DPRD Kota Probolinggo, mengatakan, “Saat saya akan ke rumah teman, tiba-tiba ada suara ledakan dan atap rumah itu ambrol.”

Ny Liana Hasyim, 57, ibu korban, mengatakan, ledakan terjadi saat kedua anaknya akan membetulkan karet klep elpiji 3 kg yang ngowos. Rohim, ledakan terjadi sekitar pukul 14.30 WIB, saat dia dan kakaknya akan menghidupi kompor untuk membuat kopi. Karena mencium bau gas, dia akan membetulkan karet klepnya. Namun, belum sampai ke tempat yang dituju, tabung keburu meledak.

Rohim mengaku bekerja pada kakaknya, Jumadi, yang menjadi agen elpiji. “Saya bekerja pada kakak,” ujar Rohim yang terbaring di RS. n st35.

Sumber: http://www.surya.co.id/2010/10/22/doorrelpiji-3-kg-memangsa-2-warga.html

Kamis, 21 Oktober 2010

Balita Kecemplung Air Panas

Kamis, 21 Oktober 2010 | 09:01 WIB

Probolinggo – Keteledoran Sulastri (30) mengakibatkan anaknya, Fairus Fatmawati (3) tercebur air bak berisi air mendidih. Akibatnya, bayi asal Kel Triwung Kidul, Kec Kademangan, Kota Probolinggo, hingga Kamis (21/10) masih dirawat di RSUD Dr Moch Saleh Kota Probolinggo.

Kulit di sekujur punggung, pantat, paha, hingga perut bocah itu melepuh dan mengelupas. Bocah itu sering menangis karena menahan luka di tubuhnya. Ia hanya bisa tengkurap sambil terus memegangi tangan ibunya. “Anak saya sering menangis, mungkin menahan rasa perih dan panas akibat terkena air panas,” ujar Sulastri di sela-sela menjaga anaknya di RSUD.

Sulastri menceritakan, sekitar seminggu lalu, tepatnya Jumat (15/10) sore, dia merebus nasi aking. “Nasi karak atau cengkaruk itu bukan untuk dimakan keluarga saya, tetapi untuk pakan kambing,” ujarnya. Setelah direbus hingga mendidih, nasi aking beserta air rebusan itu dimasukkan bak plastik. “Karena ada ipar saya minta diambilkan jambu, bak berisi cengkaruk panas itu saya letakkan di halaman,” ujar Sulastri.

Saat asyik mengambil jambu, Sulastri tak memperhatikan tingkah si Fairus, anak keduanya dari M Adhim. Anaknya itu berjalan mundur lalu tercebur bak plastik berisi air panas bercampur nasi aking tersebut. Sulastri pun sangat bersedih dan merasa bersalah. Suaminya tak bisa menjenguk anaknya karena masih kerja di kapal di Papua. isa

Sumber: http://www.surabayapost.co.id/?mnu=berita&act=view&id=ab69e81104955a94f5a064594621067e&jenis=c81e728d9d4c2f636f067f89cc14862c

Geger Dengan Anak, Kiai Usir 300 Santriwati

Kamis, 21 Oktober 2010

PROBOLINGGO - Surya-
Sedikitnya 300 santriwati Pondok Pesantren (Ponpes) Assulthoniyah, Kelurahan Triwung Kidul, Kecamatan Kademangan, Kota Probolinggo, berhamburan keluar pondok. Mereka lari ketakutan setelah diusir KH Nur Hasan, pendiri sekaligus ketua yayasan ponpes tersebut.

Yang membuat ratusan santriwati itu ketakutan, karena selain marah, KH Nur Hasan juga membawa pentungan kayu sebesar lengan orang dewasa.

Peristiwa yang sempat mengejutkan para pengajar, santri, dan warga sekitar pondok itu terjadi Rabu (20/10) sekitar pukul 13.00 WIB. Beberapa ustad dan ustadah yang kaget langsung mencegat dan menggiring para santriwati ke rumah warga.

Namun banyak santriwati ketakutan kemudian memasuki perkampungan. Bahkan ada yang menuju ke terminal Bayuangga yang jauhnya satu kilometer dari ponpes.

Pada saat yang sama, para ustad dan ustadah mencari santri yang bersembunyi di rumah warga dan menjemput mereka yang sudah sampai di terminal untuk kembali ke ponpes.

Sementara di dalam pondok, KH Nur Hasan masih meluapkan kemarahannya sambil membawa pentungan kayu memeriksa tiap kamar santriwati untuk memastikan mereka sudah keluar dari kamar masing-masing.

Karena KH Nur Hasan masih marah, maka para santriwati yang berhasil dibujuk ustad dan ustadah untuk kembali, sementara dititipkan di rumah-rumah warga hingga situasinya aman.

Situasi baru reda pukul 15.30 WIB, ketika petugas dari Polsekta Kademangan, Babinsa dan sejumlah perangkat kelurahan datang, sekaligus meredakan kemarahan KH Nur Hasan.

Oleh para petugas itu bersama Ustad Syaifullah Islam, putra kedua KH Nur Hasan, diyakinkan kepada para santriwati bahwa situasi sudah aman.

Ketika situasi reda itulah, diketahui bahwa masalah ini muncul dipicu oleh konflik dan saling berebut pengaruh di ponpes antara KH Nur Hasan dengan putri ketiganya, Ustadah Nur Fadillah yang sehari-hari mengelola Madrasah Aliyah (MA/setingkat SMA) di kompleks ponpes tersebut.

Konflik itu terlihat, karena pada saat situasi reda itu semua santriwati mengatakan lebih memilih ikut Ustadah Nur Fadillah ketimbang ikut Ustadah Siti ‘Aisyah, istri KH Nur Hasan. Siti Aisyah adalah Kepala SMA di kompleks ponpes tersebut. Ia merupakan istri kedua KH Nur Hasan yang dinikahi dua tahun lalu, setelah istri pertama meninggal dunia tiga tahun lalu.

Syaifullah Islam, pengajar sekaligus pewaris Ponpes Assulthoniyah mengakui ratusan santri itu lari ketakutan karena diusir abah (ayah)-nya. Ia mengaku bingung mengapa abahnya berbuat seperti itu. Padahal ia bersama abahnya sudah puluhan tahun merintis pondok yang kini telah memiliki 8.000 santri. ”Kalau begini caranya, santri kami bisa habis,” kata Syaiful.

Menurutnya, abahnya bersikap seperti itu terhadap santrinya karena pengaruh dari Siti Aisyah, istri keduanya. Dikatakan Syaifullah, awalnya umi (ibu) tirinya ini bersikap baik terhadap abah dan anak-anaknya. Namun setelah usia perkawinan berjalan setahun lebih, mendadak sikap uminya berubah drastis kepada Syaifullah dan saudara-saudaranya.

“Karena umi seperti itu, abah kemudian lebih mengutamakan keinginan umi ketimbang anak-anaknya. Nggak tahu kenapa kok umi begitu, padahal dia juga sudah diangkat menjadi kepala sekolah SMA di ponpes ini,” kata Syaifullah, anak kedua dari empat bersaudara ini.

Selain itu, kata Syaiful, umi juga berubah menjadi pencemburu, terutama terhadap santriwati pondok maupun siswi MA.

Sejak perubahan sikap itu, kata Syaifullah, abahnya keluar dari pondok dan tinggal di rumah yang berada satu kompleks dengan ruang atau gedung sekolah SMA Assulthoniyah. “Pindahnya itu juga atas kemauan abah sendiri, bukan diusir anak-anaknya. Walaupun ada ketidakcocokan dengan umi, kami tidak memusuhi abah dan umi,” kata Syaifullah.

Disuruh Pindah Sekolah

Ditemui terpisah, KH Nur Hasan mengatakan persoalan ini dipicu ulah anak ketiganya, Ustadah Nur Fadillah. Ia menceritakan bahwa Rabu (20/10) sekitar pukul 10.00 WIB, ada dua siswa istrinya mengeluh dan menangis. Kepada KH Nur Hasan dan Ustadah Siti Aisyah, dua muridnya itu mengaku disuruh oleh Ustadah Nur Fadillah agar berhenti sekolah di SMA yang dikepalai Ustadah Siti Aisyah dan diajak masuk sekolah di MA.

Mendengar pengaduan tersebut, KH Nur Hasan marah kemudian dengan pentungan kayu mendatangi pondok yang dikelola Nur Fadillah di utara rumah KH Nur Hasan. Ia kemudian mengumpulkan seluruh santriwati dan mengusir mereka.

“Saya sudah tidak sabar. Masak santri saya disuruh berhenti dan diajak pindah ke sekolahnya. Selain itu saya juga diusir dari rumah utara. Itu milik siapa, kan milik saya,” ujar KH Nur Hasan emosional.

KH Nur menegaskan akan mengusirnya lagi apabila ia melihat santriwati Ustadah Nur Fadillah kembali ke pondok. “Kalau kembali, akan saya usir lagi. Itu kan pondok saya,” tegasnya.

Sedangkan Syaifullah Islam mengatakan akan menyelesaikan permasalahan ini dengan seluruh keluarga, Ia juga berjanji akan menjemput para santriwati yang telanjur meninggalkan pondok. Hingga kemarin, sebagian santri sudah kembali ke kamar masing-masing, tapi ada juga yang masih numpang di rumah warga, bahkan ada yang sudah pulang ke rumahnya.st35

Sumber: http://www.surya.co.id/2010/10/21/geger-dengan-anak-kiai-usir-300-santriwati.html

Balita Tercebur Bak Air Mendidih

Nusantara / Rabu, 20 Oktober 2010 19:50 WIB

Metrotvnews.com, Probolinggo: Pilu nasib Fairus Fatmawati. Balita berusia tiga tahun itu tercebur ke bak air mendidih yang tadinya untuk campuran makanan kambing. Sekujur tubuhnya luka bakar serius.

Fairus Fatmawati, putri pasangan Adim-Sulastri, warga Triwung Kidul, Probolinggo, Jawa Timur. Fairus terkulai lemas di Rumah Sakit Probolinggo, Rabu (20/10). Tubuhnya melepuh.

Sulastri menceritakan saat itu ia mempersiapkan makanan kambing. Kakak Fairus datang meminta buah jambu. Sulastri memenuhi keinginan anak sulungnya itu. Tak sadar ia tinggalkan Fairus begitu saja. Fairus pun bermain tanpa penjagaan. Ia berjalan mundur hingga tercebut ke bak air mendidih.

Sulastri kaget bukan kepalang. Ia berusaha meraih tubuh anaknya. Terlambat, Fairus telanjur tercebur. Sulastri menyesal. Sang balita dirawat intensif di rumah sakit. (Krisna Misbach/*****)

Sumber: http://www.metrotvnews.com/read/news/2010/10/20/31978/Balita-Tercebur-Bak-Air-Mendidih/


Balita Nyemplung Air Panas

NASIB Fairus Fatmawati, bocah perempuan tiga tahun asal Kelurahan Triwung Kidul, Kademangan, Kota Probolinggo, sungguh malang. Dia kini dirawat di RSUD dr Moh. Saleh karena kulit tubuhnya melepuh setelah nyemplung (masuk) ke bak berisi air panas.

Putri pasangan Sulastri dan M. Adim itu mengalami luka bakar sampai 28 persen. Kulit tubuhnya mulai punggung ke bawah melepuh. Sampai kemarin, Fairus masih dirawat di RS.

Menurut informasi, peristiwa nahas itu terjadi pada Jumat (15/10) sekitar pukul 15.00. Sang ibu, Sulastri, saat itu menggodok karak yang akan diberikan kepada kambing mereka. Begitu karak dirasa sudah
matang dan airnya sudah mendidih, Sulastri pun memasukkannya ke dalam bak berukuran cukup besar. Lalu, bak berisi air dan karak itu dibawa ke halaman rumah untuk pakan kambing.

Tapi, belum sampai bak itu dibawa ke kandang kambing, ada seorang kerabat yang datang untuk meminta jambu. ’’Ada ipar minta jambu. Saya taruh dulu (bak, Red) di tanah,’’ tutur Sulastri kemarin (20/10).

Saat itu, Fairus sedang bermain di halaman rumah. Namun, tak lama kemudian, Sulastri melihat Fairus berjalan mundur mendekati bak itu. Dia pun langsung berlari dan berteriak mencegah Fairus. Tapi, usaha Sulastri sia-sia karena larinya kalah cepat. Fairus terlanjur masuk ke dalam bak berisi air panas tersebut. Sulastri langsung mengangkat dan melarikannya ke Puskesmas Ketapang. Selanjutnya, Fairus dirujuk ke RSUD. (rud/jpnn/c5/end)

Sumber: http://www.jpnn.com

Jumat, 15 Oktober 2010

Belasan Kambing Mati di Sungai

PROBOLINGGO – Warga Desa Mranggon Lawang, Dringu, Kabupaten Probolinggo, kemarin (14/10) geger. Mereka dikejutkan adanya 12 ekor kambing yang mati di sungai sisi timur jalan desa tersebut. Tepatnya di depan Kantor Urusan Agama Dringu.

Diduga kambing-kambing itu hasil curian yang sengaja dibuang oleh pelaku. Kambing-kambing itu di temukan mengapung di sungai dalam kondisi empat kaki terikat.

Kali pertama ditemukan oleh seorang petani yang hendak ke sawah sekitar pukul 05.30, 12 kambing itu terpencar di tiga titik di sungai tersebut. Antartitik berjarak sekitar lima meter. ”Yang kecil-kecil ada di belakang. Mungkin hanyut oleh air,” kata Aiptu M. Anwar, salah satu anggota Polsek Dringu.

Sekitar pukul 09.00 kemarin, kambing-kambing itu diangkat warga. Perut kambing itu terlihat kembung, seperti terisi air.

Yang memunculkan dugaan 12 kambing itu hasil curian adalah kondisi kaki yang terikat. Sedangkan pada malam sekitar pukul 01.30, petugas Polsek Dringu ber patroli melewati sungai tempat ditemukannya kambing itu.

Dari situ muncul dugaan bahwa pelaku mengetahui polisi yang ber patroli. ”Semalam kami memang patroli untuk mengantisipasi maraknya pencurian. Mungkin saja pelaku mencari aman dengan membuang kambing curiannya ke sungai,” kata Aiptu Anwar. (qb/jpnn/c2/end)

Sumber: http://www.jpnn.com

Rabu, 06 Oktober 2010

Jasad Mistaman Sudah Jadi Tulang-belulang

Dandy Arigafur

05/10/2010 22:16 | Penemuan Mayat
Liputan6.com, Probolinggo: Setelah lebih dari sembilan bulan dikabarkan menghilang, Mistaman warga Desa Jatisari, Kecamatan Kuripan, Probolinggo, Jawa Timur, akhirnya ditemukan belum lama ini. Sayangnya, Mistaman ditemukan sudah dalam keadaan tak bernyawa dan jasadnya hanya tinggal tulang-belulang. Jasad Mistaman ini ditemukan warga di sebuah sungai yang telah mengering. Di tempat yang sama polisi juga menemukan sepotong baju dan jaket yang diduga milik korban.

Sejak dikabarkan hilang polisi memiliki keyakinan jika Mistaman tewas karena dibunuh dan jasadnya dibuang oleh pelaku. Dari hasil penyelidikan, polisi akhirnya berhasil menangkap satu tersangka bernama Tajib. Dari pengakuan tersangka itulah jasad Mistaman yang tinggal tulang-belukang itu ditemukan.

Untuk memudahkan proses penyidikan, polisi juga menghadirkan tersangka ke tempat penemuan jasad korban. Tersangka diminta melakukan beberapa adegan saat ia membuang jasad korban. Menurut kesaksian tersangka, sebelum dibuang, jasad korban dimasukkan ke dalam karung terpal dan diberi pemberat berupa batu.

Diperoleh pula petunjuk jika pembunuhan terhadap Mistaman dilakukan di tempat lain. Pelakunya pun tidak hanya Tajib, tetapi masih ada beberapa orang lain yang kini masih diburu polisi. Sampai saat ini polisi masih enggan memberikan keterangan soal motif pembunuhan, namun diduga berlatar belakang dendam.(ADO)

Sumber:http://buser.liputan6.com/berita/201010/299845/Jasad.Mistaman.Sudah.Jadi.Tulang.belulang

Selasa, 05 Oktober 2010

Ketua RT Tewas, Kepala Berdarah

PROBOLINGGO – Terjadi lagi penemuan mayat yang diduga sebagai korban pembunuhan di Kabupaten Probolinggo. Kemarin siang (3/10) geger penemuan mayat itu terjadi di Dusun Bago Kidul, Desa Bago, Kecamatan Besuk. Sahri, 50, warga setempat yang juga ketua RT 15, RW 3, ditemukan tewas di sawah.

Mayat Sahri ditemukan di sawah sebelah utara rumahnya. Sawah itu milik Abdullah. Jaraknya sekitar 500 meter dari rumah Sahri. Mayat Sahri ditemukan dalam posisi terbalik. Kaki berada di atas, kepala di bawah. Tubuhnya menggantung di pematang sawah dekat sungai.

Saat ditemukan, tubuh Sahri masih menggunakan pakaian lengkap. Yakni, kaus lengan panjang putih dan celana pendek hitam. Sementara itu, rambanan (dedaunan untuk pakan ternak) yang dikumpulkannya masih berada dalam karung di pematang sawah. Arit yang digunakan Sahri untuk mencari rambanan juga masih berada di sekitar TKP (tempat kejadian perkara).

Dilihat dari kondisi fisiknya, kematian Sahri memang mengenaskan. Selain posisi tubuhnya terbalik, ada luka di kepalanya. Saat ditemukan kemarin, darah masih mengucur deras dari kepala hingga ke leher.

Kondisi itu memunculkan dugaan kuat bahwa Sahri tewas karena dibunuh. Dugaannya, kepala Sahri dihantam dengan batu. Abdul Bari, sekretaris desa, juga memiliki dugaan tersebut.

Sementara itu, berdasar informasi yang dihimpun, mayat Sahri ditemukan oleh istrinya, Jum, 48. Menurut Hanafi, 30, warga setempat, Sahri keluar rumah sekitar pukul 09.00. Tujuannya mencari rumput untuk pakan sapi miliknya. Sahri berangkat menuju arah utara dari rumahnya. ”Biasanya memang begitu, Mas,” ujar Hanafi.

Kepergian Sahri saat itu juga diketahui Jum. Biasanya, Sahri tak pernah lama mencari rambanan. Tapi, kemarin hingga sekitar pukul 11.00, Sahri belum pulang. Hal itu membuat Jum resah. Jum lalu menyusul suaminya tersebut ke lokasi untuk mencari rumput. ”Saat itulah, dia (Jum) menemukan suaminya. Sudah mati, Mas,” ujar Hanafi.

Tim identifikasi Polres Probolinggo turun langsung ke TKP. Police line dipasang untuk membatasi warga yang ingin melihat langsung. Belum ada penjelasan resmi dari Polres Probolinggo terkait dengan kasus tersebut. Hingga berita ini ditulis kemarin sore, mayat Sahri masih berada di ruang mayat RSUD untuk diotopsi.

(eem/jpnn/c6/zen)

Sumber: http://www.jpnn.com

Kamis, 30 September 2010

Tewas Usai Mandi dengan Suami

Kamis, 30 September 2010

Probolinggo - SURYA- Ny Kristina, 20, warga Desa Sumberkare Kec Wonomerto Kab Probolinggo, yang tengah hamil empat bulan, tewas tenggelam di waduk setempat, ketika mandi berduaan dengan suaminya, Sadul, 22, Rabu (29/9).

Tak seperti biasanya, Sadul mengajak istri mandi di waduk yang baru dibangun dua tahun lalu. Hanya berjarak sekitar 10 meter dari tempat mereka mandi, juga ada beberapa warga yang mandi di sungai. Tanpa ada firasat apapun, Sadul beranjak dari dalam sungai dengan posisi membelakangi istri, untuk meminjam sabun kepada warga lainnya. Namun, begitu menoleh ke belakang, Sadul kaget, melihat tangan istrinya dengan posisi melambai di atas permukaan air, sedangkan badannya dalam keadaan kecebur.

Awalnya, Sadul menduga istrinya hanya bercanda dengan bersembunyi di dasar air. Dia sempat memanggil nama istrinya berkali-kali dan berusaha menariknya ke atas permukaan air. Namun, karena aur air cukup kencang, Kristina terseret hingga ke dalam air. Setelah hampir lima jam dicari, jenazah Kristina ditemukan mengambang di hilir sungai dengan kondisi telanjang. n tiq

Sumber: http://www.surya.co.id/2010/09/30/tewas-usai-mandi-dengan-suami.html

Tewas Tertimpa Batu

[ Kamis, 30 September 2010 ]
KRUCIL - Tragis benar nasib Sunarjo, 50, warga Dusun Suko Desa Senang Kecamatan Krucil Kabupaten Probolinggo. Selasa (28/9) lalu sekitar pukul 16.00 Sunarjo tewas setelah tubuhnya kejatuhan baru besar.

Sehari-harinya Sunarjo memang bekerja sebagai pencari batu kali di samping menjadi buruh tani. Di ujung hidupnya, Sunarjo bekerja mencari batu di sungai di desa setempat. "Sedang cari batu, Mas. Di sungai itu ada tebingnya juga," ujar Zainuddin, 35, warga setempat kemarin.

Menurut Zainuddin, Sunarjo biasanya mencari batu di tengah sungai. Jika mendapat batu, Sunarjo akan menaruh batu itu di bibir sungai. Kemudian dia mencari batu lagi. Batu yang didapat itu ditumpuk lebih dulu. "Baru kemudian dibawa pulang," tutur Zainuddin.

Peristiwa itu sendiri berlangsung cepat. Menurut Zainuddin, saat berada di bibir sungai, mendadak ada batu yang jatuh dari ketinggian sekitar 25 meter. Dan batu yang jatuh itu berukuran cukup besar.

Itu pun bukan hanya satu batu. Tapi ada beberapa. Salah satu batu kemudian mengenai kepala Sunarjo. Ukuran batu yang mengenai kepala Sunarjo diperkirakan berdiameter sekitar 70 cm. "Kepalanya hancur, Mas," kata Zainuddin.

Karena parahnya luka pada kepala Sunarjo, warga sekitar saat itu sampai tak kuasa melihat. Mereka hanya bisa menunggu petugas Polsek Krucil datang untuk melakukan evakuasi dan olah TKP (tempat kejadian perkara).

Setelah dievakuasi, mayat Sunarjo dipulangkan ke rumah duka. Jasad lelaki itu kemudian dimakamkan di pemakaman desa setempat.

Kasatreskrim Polres Probolinggo AKP Heri Mulyanto saat dikonfirmasi kemarin menyatakan pihaknya saat ini mencari sebab jatuhnya batu itu. "Kami cari tahu sebabnya dulu. Saya khawatir kondisi tebing itu berisiko bagi warga. Yang jelas (kematian Sunarjo) ini murni kecelakaan," ujar Kasatreskrim. (eem/yud)

Sumber: http://www.jawapos.co.id/radar/index.php?act=detail&rid=182131

Hamil 4 Bulan, Tewas di Embung

[ Kamis, 30 September 2010 ]

WONOMERTO -Warga dusun Pelan Kerep, Desa Sumberkare Wonomerto Kabupaten Probolinggo geger oleh tewasnya seorang warga setempat, Kristina, 20. Wanita yang tengah hamil empat bulan itu kemarin tewas setelah tenggelam di embung (waduk) desa setempat.

Dari informasiyang dihimpun Radar Bromo pagi kemarin sekitar pukul 09.30 Kristina beraktivitas cuci dan mandi di pinggiran embung itu bareng suaminya, Sadul, 22. Tiba-tiba di tengah aktivitas itu, Kristina terpeleset dan tenggelam dalam embung. "Korban (Kristina) sedang mandi, tiba-tiba terpeleset," kata Ismail, salah satu warga di TKP (Tempat Kejadian Perkara).

Ceritanya, saat itu Sadul meninggalkan istrinya sejenak untuk minta sabun pada warga lain yang juga berada di embung. Tapi, saat kembali Sadul melihat istrinya sudah tidak ada di tempatnya semula.

"Sadul langsung menceburkan diri ke dalam air," jelas Ismail. Sadul berusaha mencari sendiri keberadaan istrinya. Sejak itu warga yang berada di embung langsung geger. Beberapa orang ikut menceburkan diri ke dalam embung untuk mencari Kristina.

Tapi, yang dicari tak kunjung ditemukan. Sadul yang tak berhasil menemukan istrinya keluar dari air dengan wajah kebingungan. Di puncak kepanikannya, Sadul jatuh pingsan.

Warga kemudian melaporkan kejadian itu ke Polsek Wonomerto. Tak lama, petugas berdatangan. Setelah melihat ketinggian air dalam embung, Kapolsek Wonomerto AKP Kusmidi langsung menghubungi tim SAR (Search and Rescue) Kabupaten Probolinggo.

"Kami lansung minta bantuan dari SAR," jelas Kapolsek. Dalam hematnya, pencarian harus dilakukan tim SAR karena kedalaman embung. Pencarian tidak bisa dilakukan dengan cara tradisional. Butuh peralatan selam.

Sambil menunggu tim SAR, warga sempat berinsiatif membuka saluran pembuangan air embung. Tujuannya agar air di embung cepat surut hingga bisa lebih mudah menemukan tubuh Kristina.

Tapi, langkah itu dirasa tak memungkinkan. Embung itu seluas sekitar 2 hektare. Butuh waktu lama untuk menguras airnya. "Sehari tidak cukup untuk menghabiskan air ini," kata AKP Kusmidi.

Berikutnya ada sekitar 30 orang warga yang rela menyelam lagi untuk mencari Kristina. Tapi, upaya itu pun tak membuahkan hasil.

Saranda salah satu warga yang ikut menyelam, mengatakan bahwa kesulitan tertinggi adalah mencari korban di pintu keluar air. "Bahaya, bisa-bisa saya juga ikut terhisap," terangnya.

Sementara, keluarga korban datang ke lokasi. Salah satunya adalah Abu Subroto, ayah Kristina. Dia berharap-harap cemas karena tim SAR tak kunjung datang. "SAR-nya mana, dari mana SAR-nya itu..." kata Subroto cemas.

Tak hanya Subroto yang cemas dan panik, tapi juga warga sekitar. Ada yang mengusulkan agar mendatangkan personel TNI AL dari Grati. "Lebih baik SAR milik AL saja," ujar salah satu warga.

Sedangkan di kediaman korban, Tiarmi, ibu Kristina menangis histeris setelah mendengar nasib putrinya. "Cepat ambil tampar, ambil anak saya," ungkap Tiarmi sambil menangis dan meronta-ronta.

Di TKP, sekitar pukul 14.00 tim SAR datang. Seorang personel turun menyelam. Tapi, tidak membuahkan hasil. Akhirnya sejumlah warga turun lagi menyelam. Sekitar pukul 15.00, warga berhasil menemukan tubuh Kristina.

Wanita itu ditemukan sudah tak bernyawa. Tubuhnya pucat pasi. Selanjutnya, jasad wanita yang terhitung masih pengantin baru itu dipulangkan ke rumah duka. Jasadnya disambut tangis keluarganya. (d7x/yud)

Sumber: http://www.jawapos.co.id/radar/index.php?act=detail&rid=182129

Rabu, 29 September 2010

Menolak Berhubungan, Disiram Minyak Panas

[ Rabu, 29 September 2010 ]
PROBOLINGGO - Nasib malang menimpa Sutin, 30, warga RT 1/RW 6 Dusun Kulak Selatan Krajan, Desa Wringin Anom, Tongas Probolinggo. Wajah ibu rumah tangga ini disiram dengan minyak goreng panas oleh suaminya sendiri, yakni Suhud, 40.

Kejadian ini menimpa Sutin pada Sabtu (25/9) malam lalu. Sekitar pukul 21.00, Sutin merebahkan diri di ranjang kamarnya karena sudah tak kuat menahan kantuk. Tetapi, ketika ia sedang nyenyak tidur, Suhud masuk kamar dan meminta "jatah" pada Sutin.

Tapi, Sutin merasa kelelahan. Ia pun menolak ajakan hubungan intim dari sang suami. "Malam itu saya tidur karena kelelahan. Kemudian dia (Suhud) datang dan meminta hubungan intim. Sayang bilang kalau saya tidak kuat," ujar Sutin yang biasa dipanggil Titin ini kemarin (28/9).

Hanya, Suhud tetap memaksa Sutin melayaninya. Akhirnya Titin menyilakan sang suami melakukannya, sementara ia tetap berbaring dengan mata terpejam. "Saya suruh dia ngambil sendiri. Tapi mata saya tetap terpejam," kata Titin.

Suhud pun mulai menyalurkan hasratnya. Tapi, di tengah hubungan itu mendadak berhenti dan pergi ke dapur. Beberapa saat kemudian Suhud kembali ke kamar dengan membawa sebuah gelas di tangan. Gelas itu bukan berisi air, tapi minyak goreng panas.

Saat itu, Titin tidak mengetahui isi gelas di tangan suaminya tersebut. "Saya tidak tahu kalau itu minyak goreng. Saya mengira isinya air minum," ujar Titin.

Kemudian begitu sampai di dalam kamar, Suhud langsung menyiramkan minyak goreng yang masih panas itu ke muka Sutin. "Kamu mengandalkan kecantikan, kan?" kata Sutin menirukan ucapan sang suami ketika menyiramkan minyak goreng ke mukanya.

Disirami dengan minyak goreng, Titin pun menjerit kepanasan, sementara Suhud melarikan diri malam itu juga. Tidak hanya muka Titin yang terkena siraman minyak goreng panas, putri Titin yakni Atis Solehah yang berumur 3,5 tahun juga terkena cepratan minyak panas.

Dikatakan Titin, Solehah saat itu sedang tidur di sampingnya. "Begitu terkena cepratan minyak goreng, dia (Solehah) terbangun dan langsung menangis," ujar Titin lagi.

Begitu mengalami kekerasan dari sang suami, Titin kemudian langsung menuju RSUD Tongas untuk mendapatkan perawatan. Dari sini, ibu rumah tangga ini kemudian melaporkan perlakuan suaminya ke Polsek Tongas. "Saya berharap dia bisa tertangkap dan dihukum dengan seadil-adilnya," kata Titin.

Menurut Titin, kehidupan rumah tangganya dengan Suhud selama ini memang sering diwarnai dengan pertengkaran. "Hampir setiap hari bertengkar," aku Titin.

Bahkan tidak jarang pertengkaran itu berakhir dengan pemukulan. Suatu saat, ungkap Titin, dirinya pernah mengalami luka setelah dipukul Suhud. "Tapi saat itu saya tidak melapor ke polisi. Usai bertengkar, ia saya terima kembali," katanya.

Lalu, bagaimana langkah Polsek Tongas dalam kasus ini? Kapolsek Tongas AKP Sugeng Piyanto saat dihubungi Radar Bromo mengatakan pihaknya telah menerima laporan dari korban.

Tetapi, ia mengatakan kasus ini bukan merupakan Kekerasa Dalam Rumah Tangga (KDRT). "Laporannya sudah diterima. Tapi itu bukan kasus KDRT," katannya.

Menurut kapolsek, dikatakan bukan KDRT karena antara pelaku dan korban sudah lama tidak tinggal serumah. Lagi pula hubungan keduanya hanya diikat dengan pernikahan sirri. "Dalam minggu ini kami akan panggil saksi-saksi dan korbannya," ujarnya. (qb/yud)

Sumber: http://www.jawapos.co.id/radar/index.php?act=detail&rid=181931

Selasa, 28 September 2010

Selasa, 28 September 2010

Probolinggo -SURYA- Sunarko, warga RT 3/RW 13, Kelurahan Mangunharjo, Kec Mayangan, Kota Probolinggo, tidak bisa berjualan lagi kopi dan bensin. Sebab, warungnya ludes dilahap api, Senin (27/9) petang. Tak ada korban jiwa dalam peristiwa itu. Motor Honda 1970 milik korban juga terbakar.

Sejumlah warga yang bergotong-royong memadamkan api menyatakan, kebakaran warung di Jl Imam Bonjol (Kampung Sentono) itu terjadi saat Sunarko memasukkan bensin dari jeriken ke botol. Mendadak, ada botol yang ngguling dan bensin di dalamnya tumpah. Api dari rokok Sunarko langsung menyambar bensin.

Warga berjuang memadamkan api dengan peralatan seadanya. Tidak lama kemudian dua unit mobil PMK tiba. Kobaran api sempat menyembur keluar, nyaris membakar warga dan mobil PMK. n st35

Sumber: http://www.surya.co.id/2010/09/28/isi-bensin-merokok-warung-ludes.html