Tampilkan postingan dengan label Disbunhut. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Disbunhut. Tampilkan semua postingan

Rabu, 29 September 2010

Siapkan Varietas Terbaik

[ Rabu, 29 September 2010 ]
Meski masih 2010, namun Dinas Perkebunan dan Perhutanan (Disbunhut) Kabupaten Probolinggo sudah bersiap-siap menghadapi musim tanam tembakau 2011. hal itu dilakukan agar persiapan tanam lebih sempurna. Terutama dalam hal pemilihan jenis tembakau yang akan dipakai.

Demikian dikatakan Kepala Disbunhut Nanang Trijoko Suhartono. Kepada Radar Bromo, Nanang mengatakan pihaknya sedang merencanakan beberapa persiapan. Yang terdekat, adalah persiapan pemilihan varietas tembakau terbaik. "Jenis ini diproyeksikan untuk 2011," ujar Nanang.

Program ini kata Nanang, dilakukan agar petani bisa memakai tembakau yang cocok dengan tanah mereka. Sebab, di Kabupaten Probolinggo, tidak semua tanah cocok dengan jenis tembakau tertentu. Sehingga jenis yang ditanam pun berbeda-beda. "Sejauh ini ada 5 jenis tembakau yang ditanam di Kabupaten Probolinggo," sebut Nanang.

Menurut Nanang, saat ini pihaknya sedang melakukan uji coba terhadap 5 jenis tembakau itu. Istilahnya kata Nanang, dilakukan pemutihan. Pada saatnya nanti, 5 jenis itu akan dipilih yang terbaik. Kemudian, pihaknya akan mengajukan hal itu kepada Bupati Probolinggo. "Untuk diberi dilisensi dan diberi nama khusus," tutur Nanang.

Mengapa demikian? Sebab hal itu terkait dengan hak kepemilikan tembakau tersebut. Sehingga tembakau yang terpilih nanti bisa ditetapkan sebagai tembakau resmi Kabupaten. "Selain itu, petani juga bisa punya tembakau yang cocok di semua jenis tanah. Tanpa perlu kuatir dengan kualitasnya," pungkas Nanang. (eem/nyo)

Sumber: http://www.jawapos.co.id/radar/index.php?act=detail&rid=181939

Kamis, 12 Agustus 2010

Sebagian Tembakau Dipanen

[ Kamis, 12 Agustus 2010 ]
Baru Daun Bawah, Belum Masuk Gudang

KREJENGAN - Petani tembakau Kecamatan Krejengan mulai memasuki masa panen. Meskipun hanya segelintir petani, namun kabar panen cukup banyak diketahui warga.

Dari informasi yang dihimpun Radar Bromo, panen sudah terjadi di beberapa desa di Kecamatan Krejengan. Namun skalanya masih cukup kecil. Yakni di Desa Opo-opo, Dawuhan, Jatiurip, Sokaan dan Sumberkatimoho. Bahkan sudah ada petani yang menjual tembakaunya.

Karena baru panen, kebanyakan tembakau yang dijual adalah daun bagian bawah. Biasanya daun bawah hanya dijadikan konsumsi rokok mentah. Artinya, tembakau daun bawah tidak bisa dimasukkan ke gudang. "Biasanya jadi krosokan," ujar Surur, petani tembakau asal Desa Opo-opo.

Menurut Surur, sejauh ini hanya ada seorang petani Opo-opo yang panen. Yakni, H. Halili. Itupun kata Surur, panen daun bawah. "Biasanya untuk mengoptimalkan pertumbuhan tembakau. Jadi lebih dulu panen daun bawah," jelasnya.

Tidak hanya Halili, panen juga dilakukan Prawito, petani di blok Citra, Desa Dawuhan. Bahkan Prawito sudah panen beberapa hari lalu. Sama dengan Halili, hanya daun bawah saja yang dipanen.

Saat dikonfirmasi pimpinan UPTD Dinas Perhutanan dan Perkebunan (Dishutbun) Kecamatan Krejengan Iskandar mengakui hal tersebut. Dikatakan Iskandar, sebagian petani memang sudah panen. "Tapi sebagian yang panen, sebagian kecil saja," kata Iskandar.

Meski begitu kata Iskandar, masa panen di Kecamatan Krejengan masih lama. Setidaknya masih akan terjadi pada pertengahan sampai akhir bulan September. "Itupun tergantung kapan petani menanam," tuturnya.

Penjelasan Iskandar sejalan dengan keterangan dari pimpinan unit PT Gudang Garam Paiton Boy Jonathan. Gudang ini sudah buka sejak beberapa hari lalu. Mendahului gudang-gudang yang lain.

Namun menurut Boy, sejauh ini pihaknya belum menerima seorang petani tembakau pun. Artinya, belum ada tembakau petani yang masuk ke Gudang Garam. "Karena belum masuk masa panen," kata Boy.

Meskipun ada panen kata Boy, kemungkinan itu daun bagian bawah. Biasanya kata Boy, daun bawah tembakau tak bisa masuk gudang. "Sebab tidak termasuk kualitas yang diharapkan gudang," imbuhnya.

Seperti sebelumnya Boy memperkirakan, panen baru dilakukan setelah 17 Agustus. Berbeda dengan penuturan Iskandar. Menurut Boy, panen itu akan terjadi di Kecamatan Krejengan.

Selanjutnya kata Boy, akan berlangsung berurutan di Kecamatan Besuk, Pakuniran, Paiton dan Kotaanyar. "Biasanya nanti berurutan," pungkasnya. (eem/hn)

Sumber: http://www.jawapos.co.id/radar/index.php?act=detail&rid=174431

Kamis, 24 Juni 2010

SPSKL Tetap Optimis

[ Kamis, 24 Juni 2010 ]
Soal Rencana Pembangunan PG di Leces

PROBOLINGGO-Imbauan Dinas Perkebunan dan Kehutanan (Disbunhut) Pemkab Probolinggo soal kendala bahan baku ampas tebu untuk kertas tidak menyurutkan semangat untuk mendirikan Pabrik Gula (PG) di Leces.

Bahkan Serikat Pekerja Sejahtera Kertas Leces (SPSKL) tetap optimis rencana Pembangunan PG tersebut bakal berhasil.

Hal itu diungkapkan oleh Imam Suliono ketua SPSKL. Ia mengaku kecewa dengan statement kepala Dinas Perkebunan dan Kehutanan (Disbunhut) soal keterbatasan bahan baku tersebut. "Kadisbunhut seharusnya lebih jeli melihat persoalan rencana pembangunan PG ini. Dia (Kadisbunhut) tidak melihat kenapa dulu petani bersemangat menanam tebu," kata Imam Suliono.

Seperti diberitakan Radar Bromo, PTKL berencana membangun PG di areal lahannya. Itu bila usulan Serikat Pekerja Sejahtera Kertas (SPSKL) untuk mengajukan pembangunan PG (Pabrik Gula) yang jadi satu lokasi dengan PTKL terealisasi.

Usulan SPSKL itu cukup serius. Selasa (25/5) lalu, perwakilan anggota SPSKL telah menyampaikan usulan tersebut ke komisi VI DPR RI dalam rapat dengar pendapat umum di gedung Nusantara 1 Senayan, Jakarta. Salah satu agenda pertemuan tersebut adalah membahas kemungkinan pendirian PG di lokasi PTKL dan integrasi industri PTKL dengan PG.

Diketahui, pada APBN 2010 pemerintah pusat menganggarkan pembangunan tiga unit PG baru dengan total anggaran Rp 4,5 Triliun. Tempatnya belum ditentukan secara spesifik. Cuma, dua di antaranya dijatah akan dibangun di Jatim dan satu lagi di luar Jawa.

Namun kepala Disbunhut pemkab Ir Nanang Trijoko S mengingatkan bahwa stok bahan baku tebu yang sekarang ini menjadi permasalahan di beberapa PG yang sudah eksis. Menurutnya, saat ini di Kabupaten Probolinggo sudah ada tiga PG. Yakni, PG Pajarakan, PG Gending dan PG Wonolangan. Ketiga PG itu sendiri sedang kesulitan bahan baku selama ini.

Sebab, jumlah lahan tebu di Kabupaten Probolinggo terus menyusut. "Ketiga PG di Kabupaten Probolinggo selama ini selalu menyuplai 80 persen bahan baku kebutuhan tebu dari Lumajang," jelasnya.

Karena itu, kalau PTKL berencana membangun PG, maka Nanang mengingatkan soal seretnya bahan baku tebu di Kabupaten Probolinggo. Menurut Nanang, tidak mudah untuk mengoptimalkan beberapa lahan tidur di Kabupaten Probolinggo untuk menjadi perkebunan tebu.

Namun Imam Suliono berpendapat lain. Ia menilai dulu petani dengan sukarela menanam tebu. "Bukan semata karena tekanan politik. Tetapi karena petani betul-betul diuntungkan. Kalau sekarang petani ogah karena selalu dirugikan. Mereka (petani) dalam posisi pasif kala penentuan rendemen (kadar kandungan gula dalam batang tebu)," imbuh Imam.

Nah, masih menurut Imam, permasalahn itu sedianya saat ini tengah diupayakan pemecahannya oleh pemerintah provinsi (pemprov) Jatim. Saat ini pemprov dijelaskan Imam tengah mengupayakan perda tentang rendemen gula.

"Penetapan rendemen gula itu nantinya bukan lagi ditentukan oleh pihak PG, tetapi oleh tim yang dibentuk gubernur," beber Imam. Nah, dengan begitu keuntungan yang dirasakan petani bakal sangat terasa.

"Potensi untung bagi petani sangat terbuka karena PG Leces nantinya akan menggunakan mesin baru yang lebih efisien daripada mesin-mesin PG saat ini yang peninggalan Belanda," jelasnya.

Sementara itu Kadisbunhut saat dikonfirmasi kemarin (23/6) kembali mengingatkan dirinya tidak mengomentari soal rencana pembangunan PG di Leces. "Saya cuma melihat kondisi di lapangan," katanya.

Menurut Nanang, yang terpenting adalah ketersediaan lahan untuk produksi itu sendiri. "Bukannya saya pesimis soal rencana (pembangunan PG itu). Cuma yang terpenting itu ketersediaan lahannya," jelasnya.

Pemkab dijelaskannya akan terus mendukung rencana itu. "Tetap kami dukung. Kalau petaninnya oke. Itu aset daerah. Saat ini saya belum tahu detail perencanannnya," ungkapnya.

Di lain pihak, rencana pembangunan PG di Leces ini juga mendapat tanggapan dari komisi D DPRD setempat. Amin Haddar, sekretaris komisi D mengaku cukup mendukung pembangunan PG tersebut. Karena keberadaan PG itu bakal membuka lapangan kerja baru bagi masyarakat setempat. "Yang terpenting harus mendahulukan warga setempat yang berkompeten," katanya.

"Sebagai bentuk dukungan kami, FPPP sendiri bakal menyuarakan aspirasi ke anggota kami di Pusat (Jakarta) agar rencana pembangunan PG berjalan mulus," jelasnya. (mie/nyo)

Sumber : http://www.jawapos.co.id/radar/index.php?act=detail&rid=166168

Selasa, 22 Juni 2010

Terkendala Bahan, Pemkab Pesimis

[ Selasa, 22 Juni 2010 ]
Rencana PTKL Membangun PG

KRAKSAAN - Rencana pembangunan Pabrik Gula (PG) di areal Pabrik Kertas Leces (PTKL) bakal mendapat kendala. Sebab, saat ini sulit menemukan lahan tebu di Kabupaten Probolinggo.

Hal tersebut diungkapkan Kepala Dinas Perkebunan dan Kehutanan (Disbunhut) Ir Nanang Trijoko Suhartono. "Saya tidak mau mengkomentari soal rencana pembuatan PG dari PTKL itu. Tetapi kalau realitas di lapangannya memang begitu," katanya saat ditemui di kantornya, kemarin (21/6).

Menurut Nanang, saat ini di Kabupaten Probolinggo sudah ada tiga PG. Yakni, PG Pajarakan, PG Gending dan PG Wonolangan. Ketiga PG itu sendiri sedang kesulitan bahan baku selama ini.

Sebab, jumlah lahan tebu di Kabupaten Probolinggo terus menyusut. "Ketiga PG di Kabupaten Probolinggo selama ini selalu menyuplai 80 persen bahan baku kebutuhan tebu dari Lumajang," jelasnya.

Karena itu, kalau PTKL berencana membangun PG, maka Nanang mengingatkan soal seretnya bahan baku tebu di Kabupaten Probolinggo. "Saya juga belum tahu, berapa lahan yang dimiliki PTKL," katanya.

Menurut Nanang, tidak mudah untuk mengoptimalkan beberapa lahan tidur di Kabupaten Probolinggo untuk menjadi perkebunan tebu. "Cuaca Probolinggo dan Lumajang itu beda. Kalau di sini waktunya panas itu sudah tidak ada air lagi. Sementara kalau di Lumajang masih saja ada," katanya.

Selain faktor cuaca, para petani Kabupaten Probolinggo juga kurang bergairah menanam tebu akhir-akhir ini. Pasalnya untuk menanam tebu butuh waktu yang agak lama untuk panen. Yaki, sekitar 18 bulan. "Saat ini banyak petani yang lebih tergiur akan pohon Sengon," ulasnya.

Hal itu bisa dimaklumi, karena menanam Sengon tidak terlalu sulit. Selain itu hasilnya akan jauh lebih besar. "Saat ini Sengon menjadi primadona baru petani. Sekarang Sengon tidak hanya ditemukan di daerah atas, tetapi di daerah rendah juga sudah mulai banyak," beber Nanang.

Di sisi lain, pemkab sendiri tidak bisa mengekang petani untuk menanam tanaman tertentu. "Pada UU nomor 12 tahun 1992 itu tentang sistem budidaya tanam itu dijelaskan petani diberi kebebasan. Masyarakat tani bisa memilih," bebernya.

Seperti diberitakan Radar Bromo, PTKL berencana membangun PG di areal lahannya. Itu bila usulan Serikat Pekerja Sejahtera Kertas (SPSKL) untuk mengajukan pembangunan PG (Pabrik Gula) yang jadi satu lokasi dengan PTKL terealisasi.

Usulan SPSKL itu cukup serius. Selasa (25/5), perwakilan anggota SPSKL telah menyampaikan usulan tersebut ke komisi VI DPR RI dalam rapat dengar pendapat umum di gedung Nusantara 1 Senayan, Jakarta. Salah satu agenda pertemuan tersebut adalah membahas kemungkinan pendirian PG di lokasi PTKL dan integrasi industri PTKL dengan PG.

Diketahui, pada APBN 2010 pemerintah pusat menganggarkan pembangunan tiga unit PG baru dengan total anggaran Rp 4,5 Triliun. Tempatnya belum ditentukan secara spesifik. Cuma, dua di antaranya dijatah akan dibangun di Jatim dan satu lagi di luar Jawa.

Melihat peluang tersebut, SPSKL menilai PG layak dibangun di lokasi PTKL. Karena itu SPSKL pun mengajukan proposal pembangunan tersebut ke kementrian dan DPR RI. "Yang kami ajukan itu modelnya integrasi. Di beberapa daerah seperti Thailand, India dan Peru sudah menerapkan model integrasi ini dan ternyata sukses," beber Imam Suliono, ketua SPSKL kala itu.

Bila nantinya rencana itu terealisasi, Nanang meningatkan PTKL juga perlu menyosialisasikan yang masif kepada para petani agar mau menanam tebu. "Meski harga gula sekarang cenderung naik, para petani juga kurang tertarik menanam tebu," katanya. (mie/hn)

Sumber: http://www.jawapos.co.id/radar/index.php?act=detail&rid=165799