Tampilkan postingan dengan label DKP. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label DKP. Tampilkan semua postingan

Selasa, 05 Oktober 2010

Rencanakan Penambahan Pokmaswas

Reporter : Wawan
DRINGU - Saat ini Kabupaten Probolinggo baru memiliki 3 (tiga) buah pos Kelompok Masyarakat Waspada (Pokmaswas) yang meliputi daerah Dringu, Paiton dan Pulau Gili Ketapang. Ke depan, Pemerintah Kabupaten Probolinggo berencana akan melakukan penambahan jumlah Pokmaswas. Demikian pernyataan yang disampaikan oleh Kepala Dinas Perikanan dan Kelautan (DPK) Kabupaten Probolinggo Dedy Isfandi kepada Bromo Info.

“Tahun 2011 mendatang, kami berencana akan melakukan penambahan jumlah Pokmaswas di wilayah barat, tepatnya daerah Tongas. Penambahan pokmaswas ini berfungsi untuk mewadahi aspirasi para nelayan, terutama wilayah barat yang selama ini merasa kesulitan untuk mengadukan masalah yang dihadapinyam” ujarnya.

Menurut Dedy, program pokmaswas sendiri sebenarnya sudah dimulai sejak awal tahun ini. Pokmaswas ini merupakan program dari pusat yang bertujuan untuk menampung aspirasi nelayan. “Selama ini nelayan merasa kebingungan mengadu jika ada masalah. Seperti saat terjadi kasus penggunaan jarring trawl dan pencurian alat tangkap ikan yang dikeluhkan nelayan dari Tongas,” jelasnya.

Lebih lanjut Dedy menjelaskan, pembentukan pos pokmaswas di wilayah Tongas sangat diperlukan oleh nelayan setempat. Namun rencana tersebut baru dapat terealisasi tahun 2011 mendatang. Pasalnya saat ini DPK menilai situasi wilayah Tongas masih belum kondusif. “Butuh waktu yang sangat lama untuk memantau situasi masyarakat nelayan di Tongas,” terangnya.

Dedy menambahkan, pokmaswas sangat berperan jika ada keluhan dari nelayan. Dalam pos pokmaswas ini juga diberikan radio komunikasi. “Saat ada laporan dari nelayan, maka kami bisa segera menindaklanjutinya,” tegasnya . (wan)

Sumber: http://www.probolinggokab.go.id/site/index.php?option=com_content&task=view&id=4527&Itemid=92

Senin, 27 September 2010

Kapal Patroli Kalah Cepat dari kapal Nelayan

Senin, 27 September 2010 | 10:36 WIB
Kapal patroli Probolinggo.

PROBOLINGGO - Kabupaten Probolinggo yang mempunyai perairan laut sepanjang 56 km (Tongas-Paiton) hanya mempunyai dua kapal patroli. Bahkan sebuah kapal patroli tua milik Bakesbanglinmas sudah kalah cepat dibandingkan kapal-kapal nelayan.

Sisi lain Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Kab. Probolinggo hanya memiliki satu-satu kapal patroli yang ditambatkan di kawasan pelabuhan Tanjung Tembaga, Kota Probolinggo. Selama ini kapal patroli tersebut lebih sering dioperasikan di perairan Probolinggo belahan barat.

Kondisi kapal patroli itu diungkapkan Kepala Bakesbanglinmas Kab Probolinggo, Soeparwiyono. “Saat menggelar operasi di laut akhir pekan lalu, kapal kami sudah tidak bisa mengejar kapal-kapal yang melanggar,” ujarnya Senin (27/9) pagi tadi.

Saat itu kapal patroli Bakesbanglinmas kebetulan memergoki sebuah kapal nelayan yang diduga menggunakan jaring jenis pukat harimau (trawl). Begitu didekati kapal patroli, kapal nelayan andon (pendatang) itu langsung kabur dengan kecepatan yang tidak terkejar oleh kapal tua Pemkab Probolinggo.

Untuk meloloskan dari kejaran kapal patroli, kapal nelayan itu memutus jaring trawl-nya. Soalnya, jaring yang “mulut”-nya mengganga lebar dan dilengkapi pemberat itu bakal memperberat laju kapal, sehingga ditinggalkan begitu saja.

Soeparwiyono mengakui, kapal patroli tua yang dimiliknya kurang layak beroperasi. Kapal yang sudah berumur 10 tahun itu sering ngadat dan harus segera diperbaiki. “Mungkin fokusnya hanya mengganti mesin kapal dengan yang baru atau perbaikan mesin,” ujarnya.

Satu unit kapal patroli lainnya adalah milik DKP Kab Probolinggo. Kapal yang ditambatkan di pelabuhan Tanjung Tembaga, Kota Probolinggo, itu kesulitan menjangkau perairan sepanjang 56 km. “Kapal patroli kami sebenarnya memiliki kecepatan cukup tinggi. Namun karena jumlahnya cuma satu, tetap saja belum bisa meng-cover seluruh perairan kabupaten,” ujar Kepala DKP Dedy Isfandi.

Dedy menambahkan, jika ada kejadian yang lokasinya jauh dari Tanjung Tembaga, kapal patroli DKP sering tertinggal. Agar bisa menjangkau kawasan timur Kraksaan-Paiton, DKP bermaksud menambah satu lagi kapal patroli. “Kapal patroli tambahan itu akan stand by di pelabuhan Kalibuntu, Kraksaan,” ujarnya.

Kapal baru itu kelak ukurannya lebih kecil dibandingkan kapal patroli lama. Pertimbangannya biar bisa keluar-masuk dengan leluasa melalui sungai Kalibuntu. Sebagai perbandingan, kapal patroli lama ukurannya sekitar 7 x 1 meter. Kapal ini biasa digunakan untuk mengantarkan pejabat Pemkab Probolinggo saat mengunjungi Pulau Giliketapang.

Dedy berharap kapal patroli tambahan terwujud pada 2011. “Sekarang masih kami ajukan, mudah-mudahan terealisasi tahun depan,” ujarnya.

Kabupaten Probolinggo sendiri mempunyai sejumlah pelabuhan perikanan. Meski tidak sebesar Pelabuhan Perikanan Pantai (PPP) Mayangan dan Tanjung Tembaga di Kota Probolinggo, jumlahnya cukup banyak.

Sejumlah pangkalan nelayan bertebaran di hampir semua kecamatan di Kab Probolinggo. Mulai di Tongas, Sumberasih, Dringu, Gending, Kalibuntu, dan Paiton. Yang terbesar di antara pelabuhan-pelabuhan kecil itu adalah pelabuhan perikanan di Pulau Giliketapang, Kalibuntu, Kec Kraksaan, dan Paiton. isa

Sumber: http://www.surabayapost.co.id/?mnu=berita&act=view&id=dc159a30f1e7fe7352b88109050f5512&jenis=c81e728d9d4c2f636f067f89cc14862c

DKP Bakal Tambah Kapal Patroli

[ Senin, 27 September 2010 ]
Selama Ini Cuma Punya Satu

DRINGU - Untuk meningkatkan keamanan wilayah Timur Kabupaten Probolingo, Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) setempat bakal menambah sebuah kapal patroli. Sebab, selama ini kapal patroli yang dimiliki DKP tidak bisa mengkover seluruh wilayah perairan di kabupaten.

Selain itu, DKP hanya memiliki sebuah kapal patroli. Sementara tugasnya menjaga perairan di wilayah Paiton hingga daerah Tongas. " Kapal kami beroperasi dari wilayah paling Timur hingga ke Barat," jelas Dedy Isfandi, kepala DKP setempat kepada Radar Bromo beberapa waktu lalu.

Kapal itu sebenarnya memiliki kecepatan cukup tinggi. Namun karena jumlahnya cuma satu, tetap saja belum bisa mengkover seluruh perairan kabupaten yang memiliki luas 75 mil.

Apalagi jika ada kejadian yang lokasinya jauh dari pos DKP yang ada di pelabuhan Tanjung Tembaga, Kota Probolinggo. "Lama kalau mau dilakukan pengejaran. Apalagi lokasi jauh dari pos," terang Dedy. Sementara kapal patroli itu standby di sekitar pos DKP.

Berdasarkan beberapa kondisi itulah, DKP memutuskan untuk menambah satu lagi kapal. Rencananya, kapal baru bakal dibuat menyerupai kapal yang lama. "Tidak jauh beda kapalnya," beber Dedy.

Misalnya spesifikasi mesin, tak jauh beda dengan pendahulunya. Perbedaannya terletak pada body yang lebih kecil dari sebelumnya. "Ukuran kapal lebih kecil," tuturnya.

Kapal baru dibuat lebih kecil, karena disesuaikan dengan lokasi pos wilayah Timur yang terletak di Desa Kalibuntu, Kraksaan. "Kapal harus bisa berjalan di kali (sungai)," terang dedy. Jika ukuran kapal terlalu besar, maka tidak bisa menyusuri sungai yang ada.

Dengan rencana penambahan kapal patroli itu, maka wilayah pengamanan akan dibagi menjadi dua. "Yakni, pos Barat dan pos Timur," jelas Dedy. Pos wilayah Timur ada di Kraksaan, yakni di Kalibuntu. Sementara pos wilayah Barat tetap di pelabuhan Tanjung Tembaga, Kota Probolinggo.

Semua rencana itu akan diperjuangkan oleh DKP agar segera terealisasi. "Masih kami usulkan rencana itu," jelas dedy. Targetnya, pada tahun 2011 rencana itu sudah terealisasi.

Sementara itu, Bakesbang Pol dan Linmas kabupaten yang juga memiliki armada patroli kelautan sudah menyiapkan peremajaan kapal patroli miliknya. Fokusnya pada mesin kapal.

Tujuannya tidak lain agar dapat mengejar kapal-kapal nelayan yang melanggar. Sebab. kapal yang digunakan operasi dua hari lalu (Kamis) tidak mampu menandingi kecepatan kapal nelayan.

Selain itu, kondisi kapal memang kurang layak beroperasi. " Kapal kami memang harus segara diperbaiki," jelas Soeparwiyono, kepala Bakesbang Pol dan Linmas.

Pria yang biasa disapa Pak Par itu mengakui, kapalnya sudah tua dan tidak mungkin melakukan pengejaran."Maklum Mas, sudah 10 tahun umur kapalnya," jelasnya.

Saat ini perealisasian peremajaan kapal sudah disetujui oleh pemkab. "Sudah di acc, tinggal pelaksanaanya saja," imbuhnya. (d7x/hn)

Sumber: http://www.jawapos.co.id/radar/index.php?act=detail&rid=181135

Sabtu, 25 September 2010

Bakal Tambah Satu Kapal Patroli

[ Sabtu, 25 September 2010 ]
Rata PenuhSelama Ini Cuma Punya Satu

DRINGU - Untuk meningkatkan keamanan wilayah Timur Kabupaten Probolingo, Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) setempat bakal menambah sebuah kapal patroli. Sebab, selama ini kapal patroli yang dimiliki DKP tidak bisa mengkover seluruh wilayah perairan di kabupaten.

Selain itu, DKP hanya memiliki sebuah kapal patroli. Sementara tugasnya menjaga perairan di wilayah Paiton hingga daerah Tongas. " Kapal kami beroperasi dari wilayah paling Timur hingga ke Barat," jelas Dedy Isfandi, kepala DKP setempat kepada Radar Bromo beberapa waktu lalu.

Kapal itu sebenarnya memiliki kecepatan cukup tinggi. Namun karena jumlahnya cuma satu, tetap saja belum bisa mengkover seluruh perairan kabupaten yang memiliki luas 75 mil.

Apalagi jika ada kejadian yang lokasinya jauh dari pos DKP yang ada di pelabuhan Tanjung Tembaga, Kota Probolinggo. "Lama kalau mau dilakukan pengejaran. Apalagi lokasi jauh dari pos," terang Dedy. Sementara kapal patroli itu standby di sekitar pos DKP.

Berdasarkan beberapa kondisi itulah, DKP memutuskan untuk menambah satu lagi kapal. Rencananya, kapal baru bakal dibuat menyerupai kapal yang lama. "Tidak jauh beda kapalnya," beber Dedy.

Misalnya spesifikasi mesin, tak jauh beda dengan pendahulunya. Perbedaannya terletak pada body yang lebih kecil dari sebelumnya. "Ukuran kapal lebih kecil," tuturnya.

Kapal baru dibuat lebih kecil, karena disesuaikan dengan lokasi pos wilayah Timur yang terletak di Desa Kalibuntu, Kraksaan. "Kapal harus bisa berjalan di kali (sungai)," terang dedy. Jika ukuran kapal terlalu besar, maka tidak bisa menyusuri sungai yang ada.

Dengan rencana penambahan kapal patroli itu, maka wilayah pengamanan akan dibagi menjadi dua. "Yakni, pos Barat dan pos Timur," jelas Dedy. Pos wilayah Timur ada di Kraksaan, yakni di Kalibuntu. Sementara pos wilayah Barat tetap di pelabuhan Tanjung Tembaga, Kota Probolinggo.

Semua rencana itu akan diperjuangkan oleh DKP agar segera terealisasi. "Masih kami usulkan rencana itu," jelas dedy. Targetnya, pada tahun 2011 rencana itu sudah terealisasi.

Sementara itu, Bakesbang Pol dan Linmas kabupaten yang juga memiliki armada patroli kelautan sudah menyiapkan peremajaan kapal patroli miliknya. Fokusnya pada mesin kapal.

Tujuannya tidak lain agar dapat mengejar kapal-kapal nelayan yang melanggar. Sebab. kapal yang digunakan operasi dua hari lalu (Kamis) tidak mampu menandingi kecepatan kapal nelayan.

Selain itu, kondisi kapal memang kurang layak beroperasi. " Kapal kami memang harus segara diperbaiki," jelas Soeparwiyono, kepala Bakesbang Pol dan Linmas.

Pria yang biasa disapa Pak Par itu mengakui, kapalnya sudah tua dan tidak mungkin melakukan pengejaran."Maklum Mas, sudah 10 tahun umur kapalnya," jelasnya.

Saat ini perealisasian peremajaan kapal sudah disetujui oleh pemkab. "Sudah di acc, tinggal pelaksanaanya saja," imbuhnya. (d7x/hn)

Sumber: http://www.jawapos.com/radar/index.php?act=detail&rid=180930

Kamis, 23 September 2010

Akan Tambah Jumlah Pokmaswas

[ Kamis, 23 September 2010 ]

DRINGU - Untuk mewadahi aspirasi para nelayan, Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Kabupaten Probolinggo akan menambah Pokmaswas (Kelompok Masyarakat Waspada) di wilayah Barat. Rencananya, tahun 2011 rencana itu bisa terealisasi.

Pokmaswas sendiri sebetulnya sudah dimulai pada awal tahun ini. "Itu (Pokmaswas) program DKP pusat (Jakarta)" terang Dedy Isfandi, kepala DKP Kabupaten Probolinggo kepada Radar Bromo kemarin (22/9).

Saat ini wilayah yang sudah memiliki pos Pokmaswas meliputi daerah Dringu, Pulau Gili Ketapang dan Paiton. Ke depannya jumlah Pokmaswas di Kabupaten Probolinggo akan diperbanyak.

Sebab, program untuk masyarakat nelayan tersebut bertujuan menampung aspirasi nelayan sendiri. Alasannya, selama ini nelayan kebinggungan mengadu jika ada masalah. Seperti kasus pengunaan jaring trawl serta pencurian alat tangkap ikan yang dikeluhkan nelayan asal Tongas.

Karena itu, nantinya di wilayah Tongas juga akan dibentuk Pokmaswas. Tetapi rencana itu baru diwujudkan di 2011. Sebab, saat ini DKP menilai situasi di Tongas belum kondusif. "Kami nilai belum kondusif," beber Setiyono, bagian Pengawasan, DKP Kabupaten Probolinggo..

Jadi, butuh waktu lumayan lama untuk memantau situasi masyarakat nelayan Tongas. "Harus menunggu sampai reda dulu kondisinya," imbuh Setiyono.

Setiyono menambahkan, Pokmaswas sangat berperan penting saat ada keluhan nelayan. Sebab DKP sendiri belum bisa mengoptimalkan perannya, akibat keterbatasan tenaga. Dengan Pokmaswas, DKP bisa menanggapi aspirasi masyarakat nelayan.

Di luar masalah itu, fasilitas penunjang operasional juga diberikan di pos Pokmaswas. "Kami sediakan radio komunikasi," jelas Dedy. Dengan radio komunikasi itu diharapakan, saat ada laporan dari nelayan maka DKP bisa segara menindaklanjuti.

Sementara itu, kemarin DKP juga mengirimkan kelompok Pokmaswas Dringu

untuk mengikuti pelatihan tingkat provinsi di Surabaya. "Ini angkatan ketiga," jelas Setiyono.

Pelatihan itu wajib diikuti oleh kota-kabupaten di Jatim yang memiliki wilayah laut. Total ada 17 kota-kabupaten se Jatim yang mengikuti pelatihan tersebut. (d7x/hn)

Sumber: http://www.jawapos.co.id/radar/index.php?act=detail&rid=180587

Respons Keluhan Nelayan, Gelar Operasi

[ Kamis, 23 September 2010 ]

PROBOLINGGO - Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Kabupaten Probolinggo merespons keluhan nelayan Tongas soal masih banyaknya penggunaan jaring trawl. Bareng petugas Polairud, TNI AL dan Bakesbangpol, kemarin (22/9) DKP menggelar operasi laut di perairan Probolinggo.

Sekitar pukul 08.00 para petugas gabungan itu sudah berkumpul di Pelabuhan Tanjung Tembaga Kota Probolinggo. Dengan menggunakan kapal patroli milik DKP, tim tersebut bergerak menyusuri perairan Gili Ketapang, lalu ke arah barat (Tongas).

Mudah saja bagi tim untuk mendeteksi keberadaan kapal-kapal nelayan yang beraktifitas pagi itu di wilayah barat. "Ini kami pakai GPS (Global Positioning System)," jelas Setiyono, bagian pengawasan dari DKP, kepada Radar Bromo.

Dengan alat itu, tim bisa langsung mendekati kapal-kapal nelayan yang sedang beroperasi. Karena petunjuk koordinat dari GPS, tim juga bisa langsung mengetahui apakah kapal tersebut melanggar ketentuan zona/jalur atau tidak.

Sasaran razia pertama adalah KM (Kapal Motor) Rahmat Jaya. KM ini melanggar jalur penangkapan ikan. Seharusnya kapal ikan itu berlayar di jalur 1B. "Kapal ini berada di jalur 1A," terang Bripka I. Wayan Mulyana, komandan kapal 017 yang turut serta dalam razia tersebut.

Jalur 1A adalah jalur di bawah jarak 3 mil dari lautan ke titik pantai. Sedangkan jalur 1B merupakan jalur di atas 3 mil hingga jarak 6 mil. "Ada aturannya untuk penangkapan ikan," jelas Setiyono.

Petugas kemudian menanyakan kelengkapan surat-surat KM Rahmat Jaya. Termasuk menanyakan alat tangkap ikan yang dipakai. Kru KM Rahmat Jaya menyatakan memakai alat tangkap jonggrang.

Jonggrang merupakan alat tangkap tradisional. Tapi, jaring tersebut sudah mengarah ke jenis trawl. Karenanya, dokumen KM Rahmat Jaya disita petugas. Nakhodanya kemudian disuruh merapatkan kapal ke dermaga Polairud Probolinggo.

Karena belum menemukan target yang sesungguhnya, kapal bergerak lagi kearah Tambakrejo, Tongas. Saat itu, petugas berhenti di salah satu kapal nelayan setempat untuk menyakan informasi keberadaan kapal dengan jaring trawl.

"Memang banyak Pak, tapi tepat di perbatasan (Probolinggo-Pasuruan)," jelas Heri, salah satu nelayan asal Tongas. Keberadaan kapal yang berada di perbatasan tersebut membuat tim tidak bisa mendekat. "Kalau masuk ke sana (Nguling) itu bukan wilayah kami," terang Bripka Wayan.

Untuk itu tim berbalik arah dan mencari informasi pada nelayan lainnya. Tidak beberapa lama, tim patroli medekati sebuah tambak yang terlihat mencurigakan. Namun, setelah didekati tambak itu adalah berisikan tanaman rumput laut.

Salah satu nelayan yang bertugas mengawasi tambak itu mendekati petugas dan memberikan beberapa informasi. Biasanya nelayan nakal yang menggunakan jaring Trawl tersebut bergantung pada musim. "Lihat-lihat musimnya pak," jelas nelayan tersebut.

Para nelayan pengguna jaring trawl merapat ke arah perairan barat Probolinggo ketika musim angin yang kencang. Sehingga, nelayan mendekat ke perairan Tongas ketika ombak besar cukup mengganggu.

Karena tidak mendapati nelayan yang diduga beroperasi dengan jaring trawl, tim operasi tersebut balik ke dermaga Pelabuhan Tanjung Tembaga. "Hasil operasi kali ini hanya menjaring satu kapal pelanggar," jelas Setiyono.

Sementara itu, Kepala DKP Kabupaten Probolinggo Dedy Isfandi menyatakan memang sudah mengecek informasi yang beredar dari nelayan. "Kami sudah kroscek ke nelayan. Dan memang benar tetap beroperasi (perahu dengan trawl), jelasnya.

Jika kemarin tak mendapati perahu yang menggunakan trawl, apa itu berarti operasi bocor dulan? Dedy menggeleng. "Ini operasi dadakan," terangnya. Hanya saja diduga kuat para nelayan memiliki antek di pelabuhan. Sehingga ketika kapal patroli keluar, mereka sudah mengabari rekan-rekanya. (d7x/yud)

Sumber: http://www.jawapos.co.id/radar/index.php?act=detail&rid=180581