Tampilkan postingan dengan label Penculikan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Penculikan. Tampilkan semua postingan

Selasa, 24 Agustus 2010

Bocah Diimingi Duit, Geger

[ Selasa, 24 Agustus 2010 ]
PROBOLINGGO - Isu penculikan bocah belum sepenuhnya hilang. Sabtu (21/8) sore lalu di kampung Armada, tepatnya di RT 3 / RW 3, Jl Flamboyan Gg 3 Kelurahan Pilang Kota Probolinggo seorang bocah dikabarkan nyaris diculik. Bocah bernama Hanifuddin, kelas IV SD, itu sempat diimingi duit oleh orang tak dikenal.

Ceritanya, Sabtu sore sekitar pukul 15.00, Hanifuddin sedang bermain di depan rumah neneknya, Satupa. Tidak ada teman sebaya atau orang lain yang bersamanya. Ia asyik bermain sepeda onthel sendirian.

Nah, di tengah-tengah keasyikannya bermain itu, tiba-tiba ada seorang laki-laki berlagak mencurigakan. Di depan Hanifuddin, lelaki tak dikenal itu berlagak menghitung duit puluhan ribu rupiah. "Ada Rp 50 ribu, ada Rp 5 ribu, ada Rp 1 ribu. Pokoknya banyak," ujar Hanifuddin kepada Radar Bromo.

Tapi, tidak ada kata-kata dari laki-laki mencurigakan itu. Penampilan laki-laki itu, semakin sangar dengan busana serba hitamnya. Dari celana jins, baju dan topinya semuanya serba hitam. "Saya tidak kenal, dan baru sekali itu bertemu," ujarnya.

Meski merasa diiming-imingi duit, Hanifuddin tak tertarik. Malah, ia semakin ketakutan. Apalagi, selama ini sudah sering diberitakan tentang adanya isu penculikan anak. "Deg-degan, karena takut diculik," ujarnya.

Beruntung Satupa segera muncul. Lelaki asing itu langsung menjauh. Ia pergi melewati gang-gang kecil di antara rumah padat penduduk itu. Ternyata, tak hanya Satupa yang memperhatikan aksi lelaki misterius itu. Nyai Paidi juga memperhatikannya dari jauh.

Begitu lelaki itu menjauh dari Hanifuddin, Nyai Paidi langsung mengejarnya. Nah, kepada Nyai Paindi inilah menurt Hanifuddin lelaki misterius itu mengaku sebagai sales. Anehnya, sales yang satu itu tidak membawa barang apapun hanya membawa tas warna hitam juga.

"Nenek tidak sempat ngomong apa-apa, ia hanya bengong," ujar Hanifuddin, yang putra pertama dari pasangan suami istri (pasutri) Misnaji dan Hartatik itu.

Apa yang dialami Hanifuddin sontak beredar cepat ke penjuru kampung tersebut. Dalam pembicaraan warga, yang disayangkan saat itu kampung sedang sepi. Terutama para lelakinya.

"Kalau waktu itu ada bapak-bapaknya mungkin sudah babak belur orang itu, Mas. Wong orang-orang sini sudah geregetan semua," ujar Iwan, salah satu kerabat Hanifuddin. "Isu penculikan itu, memang sudah meresahkan," lanjutnya. (rud/yud)

Sumber: http://www.jawapos.co.id/radar/index.php?act=detail&rid=176212

Selasa, 10 Agustus 2010

SMS Penculikan Anak Diancam Sanksi

Selasa, 10 Agustus 2010

Probolinggo - Surya- Tokoh lintas agama yang tergabung dalam Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) meminta kepolisian memberikan sanksi bagi pengirim SMS soal isu penculikan organ anak, selama bulan suci Ramadan.

Bahkan, menurut Ketua FKUB Kabupaten Probolinggo KH Mahfudh Samsul Hadi, kesepakatan itu menjadi kesepakatan para tokoh agama, dalam rapat koordinasi di Gedung Islamic Center Kraksaan bersama Polres Probolinggo dan Kodim 0820 Probolinggo.

“Selama Ramadan, situasi di Probolinggo harus kondusif. Isu penculikan anak, sangat meresahkan. Harus ada sanksi tegas,” sergah KH Mahfudh kepada Surya, Senin (9/8).

Ketua PD Muhammadiyah Kabupaten Probolinggo H Boediono mengatakan, persoalan isu sms bukan sekadar tanggung jawab kepolisian, melainkan juga tanggung jawab masyarakat.

“Ini tanggung jawab bersama. Masyarakat juga harus berlomba mengirim SMS bahwa isu itu bohong,” katanya.

Ketua PCNU Kabupaten Probolinggo KH Saiful Hadi kepada Surya meminta pihak kepolisian memberi sanksi tegas, bagi pengirim sms berantai soal isu penculikan anak. “Tugas polisi menjaga ketertiban masyarakat. Jika ada yang berusaha mengacau rasa aman masyarakat, tangkap saja,” tandasnya.

Sementara itu, KH Mahfud Samsul Hadi juga memaparkan soal larangan beberapa kegiatan selama bulan Ramadan. Salah satu imbauan yang menarik, larangan menggunakan speaker masyarakat yang tadarus atau mengaji Alquran di atas pukul 22.00 WIB.

“Ibadah yang baik itu tidak mengganggu orang lain. Kalau sudah di atas pukul 22.00 WIB, sebagian masyarakat sudah istirahat, kalaupun mengaji, sebaiknya tidak menggunakan speaker,” jelasnya. n tiq

Sumber: http://www.surya.co.id/2010/08/10/sms-penculikan-anak-diancam-sanksi.html

Jumat, 06 Agustus 2010

Isu Penculikan Gegerkan Tongas

[ Kamis, 05 Agustus 2010 ]
PROBOLINGGO - Isu penculikan anak masih menjadi masalah sensitif di tengah masyarakat Probolinggo saat ini. Rabu (4/8) malam isu itu menggegerkan Dusun Tambak, Desa Bayeman, kecamatan Tongas.

Ratusan warga malam itu sampai ramai keluar rumah untuk menyisir areal ladang di desanya. Sambil membawa pentungan dan senjata tajam, mereka mencari dua orang yang disebut-sebut hendak menculik bocah desa setempat.

Dari data yang dihimpun Radar Bromo di lapangan, isu penculikan itu bermula ketika warga mendapati dua orang lelaki dan perempuan yang mondar-mandir di dusun Tambak. Sekitar pukul 19.30, kedua orang itu sempat bertemu dengan seorang bocah warga setempat.

Dua orang itu ceritanya sempat memegang si bocah yang diketahui adalah cucu Rohim, seorang warga Dusun Tambak. "Saat itu ada cucu Pak Rohim yang bermain di depan teras rumahnya. Kemudian sempat bertemu dengan dua orang asing itu. Cucu Pak Rohim itu sempat dipegang," ucap Kades Bayeman Sumarto.

Cucu Rohim itu kemudian melapor ke kedua orang tuanya. Rupanya laporan bocah itu ditanggapi dengan kecurigaan luar biasa. Apalagi belakangan isu penculikan anak yang beredar melalui SMS (Short Message Service) sudah beredar luas di masyarakat Probolinggo. Warga setempat lalu menghubung-hubungkan isu itu dengan pengakuan anak kecil tersebut.

Selanjutnya, Rohim sendiri berniat menghampiri kedua orang asing tersebut. Saat itu kedua orang asing itu masih berada di areal perkampungan warga. "Begitu didatangi Rohim, dua orang itu langsung lari ke arah barongan. Anehnya mereka juga sempat melempari batu kepada Rohim," terang Kades.

Kabar dugaan penculikan itu rupanya menyebar dengan cepat. Dalam waktu singkat, warga setempat sudah banyak berdatangan ke lokasi. Mereka datang membawa senjata tajam dan pentungan untuk mencari keberadaan dua orang asing tersebut.

Jajaran petugas kepolisian pun juga siaga datang ke lokasi kejadian. Kapolres Probolinggo AKBP Rastra Gunawan bahkan juga datang ke lokasi sekitar pukul 23.00, nampak juga Kapolsek Tongas AKP Sugeng Piyanto.

Dari pantauan Radar Bromo, hingga pukul 00.00 WIB, ratusan wargapun masih tetap siaga mengepung areal ladang. Mereka menunggu sampai pelaku penculik itu keluar. Begitu pula, puluhan petugas yang diterjunkan dari Polres Probolinggo. Mereka masih berjaga-jaga di lokasi.

Sementara itu, Kapolsek Tongas AKP Sugeng Piyanto saat dikonfirmasi Radar Bromo menegaskan bahwa penculikan anak itu hanya isu belaka. "Itu masih sebatas isu. Kami patroli sampai pukul 04.00," ujarnya kemarin.

Kapolsek mengimbau agar warga tidak begitu saja percaya dengan isu penculikan anak yang beberapa hari terakhir ini merebak luas di masyarakat. "Tetapi setidaknya masyarakat juga harus tetap waspada," katanya mengimbau. (mie/yud)

Sumber: http://www.jawapos.co.id/radar/index.php?act=detail&rid=173492

Rabu, 04 Agustus 2010

Penjemput Harus Tanda Tangan

[ Rabu, 04 Agustus 2010 ]
TKIT Antisipasi Penculikan Anak

PROBOLINGGO- Merebaknya isu penculikan anak akhir-akhir ini, membuat TK Islam Terpadu (TK IT) Permata Kota Probolinggo esktrawaspada. Salah satunya, mewajibkan setiap wali murid yang hendak menjemput putra-putrinya untuk membubuhkan tanda tangan.

Tujuannya, tiada lain untuk mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan. Apalagi, akhir-akhir ini banyak beredar isu penculikan anak. "Harus tanda tangan dulu sebelum menjemput anaknya. Karena adanya isu penculikan itu, katanya sudah banyak kejadiannya," ujar Watik Trisian, salah seorang guru kelas di TK tersebut.

Watik mengatakan, kewajiban tanda tangan itu dimulai sejak Juli lalu. Menurutnya, keputusan itu berdasarkan rapat dengan para wali murid sebelum dimulainya tahun pelajaran baru. "Meskipun isu itu tidak benar, tidak ada salahnya kita mengantisipasi," jelasnya.

Sebagaimana diketahui, akhir-akhir ini merebak isu penculikan anak. Konon dalam isu tersebut, penculik akan mengambil organ tubuh seperti mata, hati dan lain sebagainya. Tentu saja hal itu membuat warga resah. Terutama orang tua yang memiliki anak kecil yang sekolah.

Buktinya, beberapa pekan lalu, Katon, 37, warga Kebonsari Kulon, Kanigaran Kota Probolinggo hampir menjadi bulan-bulan massa. Ia dicurigai sebagai penculik anak. Beruntung emosi massa berhasil diredam, dan ternyata dugaan warga tidak benar.

Meski belum terjadi penculikan anak di Probolinggo, isu itu juga menimbulkan dampak psikologis bagi para wali murid. Kebanyakan mereka mengaku takut dengan adanya isu tersebut. Banyak wali murid yang biasanya tidak menjemput anaknya, kini ikut menjemput.

Karena itulah, ada sekolah yang berinisiatif untuk membuat para wali muridnya tidak cemas. Sebagaimana dilakukan oleh TK IT Permata, yang mewajibkan setiap orang yang menjemput muridnya harus membubuhkan tanda tangan.

"Biar para orang tua tidak cemas. Kalau orang tua tidak cemas, muridnya juga enjoy," ujar Kepala TK IT Permata, Nunuk Julaicha.

Nurwahyudi, salah seorang wali murid menyatakan sangat setuju dengan apa yang dilakukan pihak sekolah. Utamanya, untuk menghilangkan kecemasan pada wali muridnya. Termasuk dengan merapkan sistem tanda tangan tersebut. "Dengan seperti itu, diketahui dengan jelas identitas penjemputnya. Anak juga tahu siapa yang menjemput," ujarnya.

Menurutnya, meski penculikan di daerah hanya sebatas isu, tapi kehati-hatian tetap sangat penting. "Langkah sekolah itu, juga merupakan bagian dari langkah antisipasi yang harus kita dukung," ujarnya. (rud/nyo)

Sumber: http://www.jawapos.co.id/radar/index.php?act=detail&rid=173317

Selasa, 03 Agustus 2010

Ketika Kabar Penculikan Anak Meresahkan Wali Murid di Probolinggo

[ Selasa, 03 Agustus 2010 ]
Main di Teras Rumah pun Dipantau

Merebaknya isu penculikan anak dalam beberapa minggu terakhir ini ternyata menimbulkan dampak psikologis bagi para wali murid di Probolinggo. Meski belum terjadi kasus penculikan anak di Probolinggo, kebanyakan wali murid mengaku takut

MUHAMMAD FAHMI, PROBOLINGGO

Beberapa perempuan nampak asyik ngobrol sambil bersandar di dinding pagar SDN Kalisalam, Dringu, Kabupaten Probolinggo sekitar pukul 08.45 pagi kemarin (2/8). Sebagian lagi ada yang sudah masuk di dalam kompleks sekolah sambil berbaur bersama beberapa penjual makanan ringan di bibir pintu gerbang sekolah.

Beberapa di antaranya sudah nampak saling mengenal satu sama lainnya. Ya, mereka adalah wali murid SDN Kalisalam yang berniat menjemput anaknya usai belajar di sekolah. Rata-rata pagi itu yang berkumpul adalah wali murid kelas 1 SD.

Pagi itu sekitar 15 orang wali murid nampak sudah ada di depan sekolah meski sebenarnya siswa kelas 1 sendiri baru pulang sekitar pukul 09.30. "Nanti kalau menjelang pulang, pasti tambah banyak yang ke sini," ujar salah satu wali murid yang kemarin memakai daster warna merah.

Wanita yang enggan namanya dikorankan itu mengatakan, kegiatan menjemput anak usai sekolah merupakan sebuah rutinitas. Namun rutinitas itu dalam beberapa minggu terakhir terasa agak berbeda.

Para wali murid mengaku lebih waspada untuk mengawasi putra-putrinya. "Karena itu beberapa minggu terakhir ini, walaupun jam pulang masih kurang 1 jam, beberapa wali murid sudah ada yang nyanggong," ujar ibu tersebut.

Ia mengatakan merebaknya isu penculikan anak yang beredar beberapa minggu terakhir ini cukup membuat orang tua waswas. "Siapa yang tidak takut kalau ada kabar ramai penculikan anak. Kami semua takut kalau anak kami yang jadi korbannya. Tidak mudah bikin anak Mas," ungkapnya.

"Bikinnya sih mudah dan enak. Cuma mengeluarkannya yang sulit dan butuh banyak uang," celetuk salah seorang wali murid lainnya yang menggunakan baju bermotif batik warna merah hati.

Menurut bebrapa wali murid yang kemarin nongkrong di SDN Kalisalam II, kabar penculikan anak itu menyebar begitu luas. "Kabarnya itu menyebar dari mulut ke mulut. Untuk yang dapat sms penculikan, masih jarang," ucap Nanik, salah satu wali murid yang kemarin memakai kaos putih.

Beredarnya kabar tersebut dijelaskan Nanik cukup membuat orang tua waswas. Bahkan menurut Nanik, orang tua saat ini sangat memperhatikan segala aktivitas buah hatinya.

"Jangankan ke sekolah. Sekarang ini kalau anak saya main di depan teras rumah saja, terus saya perhatikan. Terus kalau berangkat ngaji ke masjid yang biasanya berangkat dengan teman-temannya, sekarang ini juga saya antarkan," ungkap Nanik.

Di saat Radar Bromo asik njagong bersama wali murid di depan gerbang SDN Kedung Dalem, tiba-tiba ada seorang tukang becak yang sempat menyapa beberapa wali murid. Tanpa basa-basi, lalu tukang becak tersebut menyampaikan kabar kepada wali murid. "Tadi pagi di TV ada dua orang penculik anak sudah ditangkap," ungkapnya sambil berlalu pergi mengayuh becaknya.

"Sampeyan dengar sendiri kan beredarnya kabar itu. Kabar itu memang menyebar dari mulut ke mulut. Semoga saja di Probolinggo tidak terjadi. Di Jrebeng (Kota) beberapa hari lalu kan tidak terbukti," ungkap Ninik.

Sementara itu masalah merebaknya isu penculikan anak beberapa hari terakhir ini juga menjadi perhatian DPRD setempat. FKNU bahkan sempat mengangkat hal tersebut dalam rapat paripurna pemandangan umum fraksi soal PAK (Perubahan Anggaran Keuangan).

Dedy Suyanto, ketua FKNU mengatakan cukup ironis sekali kabar penculikan anak itu beredar di tengah perayaan Hari Anak Nasional (HAN). "Awan kelabu masih menggelayuti HAN kali ini. Kasus kekerasan kepada mereka terus terjadi. Bahkan model kekerasannya kerap ada di luar nalar dan sungguh menyentak nurani," katanya.

Menurut Dedy dunia anak yang merupakan dunia awal kehidupan adalah dunia serba warna yang harus diwarnai dengan tangan kebijakan dan pemikiran kearifan. Anak-anak akan tumbuh sesuai warna yang dipoleskan pada mereka.

Karena itu, pengaruh keluarga, lingkungan dan pendidikan sangatlah dominan dalam mengarahkan masa depan mereka. "Hak perlindungan, hak kelangsungan hidup dan hak berkembang telah menjadi hak fundamental dalam kebijakan terhadap anak Indonesia," jelasnya.

Namun menurut Dedy, yang terjadi di lapangan masih belum sesuai dengan harapan. "Saat ini kembali anak-anak dibuat tidak tenang. Setelah ketakutan dengan meledaknya beberapa kompor gas di rumah mereka, isu penculikan kembali menghantui kehidupan mereka," jelasnya.

Dengan merebakya isu tersebut, setiap hari gerak-gerik anak-anak jadi dibatasi. "Itu jelas merupakan elegi atau lagu berirama sedih. Yang seharusnya tidak dialami anak-anak Indonesia. Boleh jadi karena elegi itu, banyak anak tidak bisa menyanyikan lagu gembira tentang indahnya masa kanak-kanak," jelasnya.

"Kebanyakan anak kini justru lebih suka menyanyikan lagu orang-orang dewasa. Akibatnya ada banyak anak yang kebrangas atau cepat menjadi dewasa," beber Dedy.

Amin Haddar, sekretaris komisi D juga mengaku cukup prihatin dengan merebaknya isu penculikan akan tersebut. "Kami berharap masayrakat tidak perlu takut dan percaya begitu saja. Tetapi juga tetap waspada," jelasnya.

Polres Probolinggo sendiri juga sudah melakukan berbagai upaya agar masyarakat tidak terpengaruh dengan isu tersebut. "Sejauh ini di Probolinggo masih belum ada kasus penculikan anak," ujar Wakapolres Kompol Hadi Sucahyo kepada Radar Bromo beberapa hari lalu.

Lebih jauh perwira dengan satu bunga melati di pundaknya itu mengimbau, agar masyarakat juga waspada. Sebab kata Sucahyo, peran orang tua tetap yang utama. Ketika orang tua tidak memperhatikan hal itu, yang muncul adalah dampak negatif. "Saya pikir wajib bagi orang tua untuk hal itu," bebernya. (nyo)

Sumber: http://www.jawapos.co.id/radar/index.php?act=detail&rid=173174

Kamis, 29 Juli 2010

PU Fraksi Bahas Isu Penculikan Anak

[ Kamis, 29 Juli 2010 ]

KRAKSAAN
- Isu penculikan anak yang beberapa hari terakhir meresahkan masyarakat Probolinggo mendapat perhatian serius dari FKNU DPRD Kabupaten Probolinggo. FKNU berharap isu penculikan itu segera diantisipasi. Sehingga, anak-anak bisa belajar dan bermain dengan tenang.

Pernyataan itu disampaikan saat sidang paripurna penyampaian pandangan umum (PU) fraksi tentang nota keuangan rancangan perubahan APBD 2010, Selasa (27/7). Pada PU tersebut FKNU menegaskan, di tengah perayaan HAN (Hari Anak Nasional) ternyata masih banyak anak-anak yang belum mendapatkan haknya.

"Awan kelabu masih menggelayuti HAN kali ini. Kasus kekerasan kepada mereka terus terjadi. Bahkan model kekerasannya kerap ada di luar nalar dan sungguh menyentak nurani," kata Dedy Suyanto, ketua sekaligus juru bicara FKNU.

Menurut Dedy, dunia anak yang merupakan dunia awal kehidupan adalah dunia yang harus diwarnai dengan kebijakan dan pemikiran kearifan. Sebab, anak-anak akan tumbuh sesuai warna yang dipoleskan pada mereka.

Karena itu, pengaruh keluarga, lingkungan dan pendidikan sangatlah dominan dalam mengarahkan masa depan mereka. "Hak perlindungan, hak kelangsungan hidup dan hak berkembang telah menjadi hak fundamental dalam kebijakan terhadap anak Indonesia," jelasnya.

Namun menurut Dedy, yang terjadi di lapangan masih belum sesuai dengan harapan. "Saat ini kembali anak-anak dibuat tidak tenang. Setelah ketakutan dengan meledaknya beberapa kompor gas di rumah mereka, isu penculikan menghantui kehidupan mereka," jelasnya.

Dengan merebakya isu tersebut, setiap hari gerak-gerik anak-anak jadi dibatasi. "Itu jelas merupakan elegi atau lagu berirama sedih. Yang seharusnya tidak dialami anak-anak Indonesia. Boleh jadi karena elegi itu, banyak anak tidak bisa menyanyikan lagu gembira tentang indahnya masa kanak-kanak," jelasnya.

"Kebanyakan anak kini justru lebih suka menyanyikan lagu orang-orang dewasa. Akibatnya ada banyak anak yang kebrangas atau cepat menjadi dewasa," imbuh Dedy.

Amin Haddar, sekretaris komisi D saat ditemui usai sidang juga mengaku cukup prihatin dengan merebaknya isu penculikan anak tersebut. "Kami berharap masyarakat tidak perlu takut dan percaya begitu saja. Tetapi juga tetap waspada," jelasnya. (mie/hn)

Sumber: http://www.jawapos.com/radar/index.php?act=detail&rid=172324

Selasa, 27 Juli 2010

"Penculikan" Berakhir Damai

[ Selasa, 27 Juli 2010 ]
PROBOLINGGO - Kasus "penculikan" yang menggegerkan warga Jl Musi, Kelurahan Jrebeng Kulon Kota Probolinggo, Minggu (25/7) lalu berakhir damai. Katon, 40, warga Kebonsari Kulon RT 2/RW VI yang sempat disangka menculik bocah di Jl Musi sampai hendak dihajar massa, telah dipulangkan.

Polresta mendapati tak cukup bukti untuk menyatakan Katon sebagai penculik anak. Karenanya, polresta akhirnya memulangkan Katon. Selain itu, kemarin (26/7) polresta menggelar pertemuan dengan menghadirkan keluarga Katon dengan keluarga Roy Alif Andika (bukan Nur Ali), 13, bocah yang sempat disangka bakal diculik Katon.

Pertemuan di mapolresta itu dipimpin langsung Kasatreskrim AKP Agus I Supriyanto. Saat itu polisi membeber hasil penyelidikannya dalam kejadian tersebut. Intinya, tidak ditemukan indikasi kalau Katon adalah pelaku penculik anak.

"Karena tidak ada bukti yang mengarah kepada penculikan anak, secara otomatis Pak Katon kami pulangkan," terang Ipda Sumi Andana, KBO reskrim yang diberikan kesempatan memberikan penjelasan.

Sementara Kasat Reskrim mengatakan, pihaknya menggunakan dasar pasal 328 KUHP tentang penculikan untuk mengatasi masalah tersebut. "Mulai dari penyelidikan sampai hasil olah TKP di lapangan, Katon tidak memenuhi unsur pasal tersebut," jelasnya.

Dalam kesempatan tersebut, hadir juga ketua RT 2 dan ketua RW VI tempat Katon tinggal. Hadir juga beberapa keluarga Katon saat itu. Mahat, kakak ipar Katon mengaku kalau Katon itu merupakan duda dengan dua orang anak.

Menurut Mahat, setiap harinya Katon bekerja mencari barang bekas untuk dijual kembali. "Saya seribu persen percaya kalau Katon itu bukanlah penculik anak. Saya tidak pernah melihat ia berbuat jahat," terangnya.

Seperti diberitakan Radar Bromo sebelumnya, isu penculikan anak benar-benar menjadi masalah sensitif di tengah masyarakat Probolinggo saat ini. Seperti yang terjadi Minggu (25/7) siang itu. Katon yang warga Kebonsari Kulon RT 2/RW VI nyaris dihajar massa karena disangka menculik anak di Jl Musi, Kelurahan Jrebeng Kulon, Kedopok.

Kejadian tersebut bermula dari kunjungan Katon ke sebuah acara nikahan di Jrebeng Kulon. Temannya, punya hajat menikahkan putrinya. Tapi, sebelum sampai ke tempat hajatan itu, Katon bertemu seorang bocah bernama Roy Alif Andika.

Sebenarnya, Roy Alif warga Muneng, Sumberasih Kabupaten Probolinggo. Tapi, kebetulan siang itu dia sedang berkunjung di rumah kakeknya, Hodari, di Jrebeng Kulon blok Karangbulu RT 1/RW I, Kedopok.

Nah, Roy Alif mengaku saat itu sempat diminta Katon untuk mencucikan motor Supra X 125 milik Katon di tempat pencucian mobil yang ada di jalan raya. Mendengar ajakan tersebut, Nur Ali yang takut langsung pulang ke rumahnya dan menceritakan kepada orang tua dan keluarganya.

Pengakuan Roy Alif ditanggapi dengan kecurigaan luar biasa. Apalagi belakangan isu penculikan anak yang beredar melalui SMS (Short Message Service) sudah beredar luas di masyarakat Probolinggo. Warga setempat lalu menghubung-hubungkan isu itu dengan pengakuan Roy Ali.

Selanjutnya, warga setempat bergerak cepat mengamankan Katon. Katon langsung diamankan dulu ke rumah Khadiri. Saat dimintai KTP, Katon mengaku tidak bawa. Katon menyatakan KTP-nya ketinggalan di rumah.

Kabar penangkapan Katon cepat menyebar. Dan yang tersebar adalah kabar: penculik anak tertangkap! Tak ayal, dalam waktu sekejap massa langsung membanjiri rumah Khadari dan berniat menghakimi Katon.

Kemarin, di mapolresta, masalah itu sudah diselesaikan dengan damai. Pihak keluarga Katon dan Abdul Rohman, ayah Roy Alif berjabat tangan damai. Saat itu Roy Alif juga tampak hadir. Bocah itu terlihat santai. Ia mengenakan celana jins dan kaos warna merah muda.

Kepada petugas kepolisian, keluarga Roy Alif juga meminta perlindungan kepada kepada kepolisian bila sewaktu-waktu terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. "Kita ambil hikmahnya saja. Usai pertemuan ini, semuanya dianggap sudah tidak ada permasalahan lagi," kata Kasatreskrim. (mie/yud)

Sumber: http://www.jawapos.co.id/radar/index.php?act=detail&rid=171925

Waspada Jaga Anak dan Rumah

[ Selasa, 27 Juli 2010 ]
Polres Siap Sosialisasi pada Warga

KRAKSAAN - Beredarnya SMS tentang penculikan anak membuat Polres Probolinggo bertindak cepat. Bukan hanya menghimbau, Polres juga siap menggelar sosialisasi. "Agar masyarakat bisa mengerti tentang SMS itu dan memproteksinya," ujar Wakapolres Probolinggo Kompol Sucahyo Hadi.

Ditemui di kantornya, Sucahyo mengaku persoalan itu juga menjadi perhatian Polres saat ini. Bahkan, pihaknya sudah mengantisipasi hal tersebut. Yakni dengan meningkatkan pengawasan di setiap titik rawan.

Selain itu, juga digelar sosialisasi. Intinya, Polres minta agar warga selalu menjaga anak dan rumah. "Nanti kita koordinasikan lebih lanjut. Harus ada prosedur yang dilalui. Pada prinsipnya yang harus dijaga betul adalah keselamatan anak dan rumah. Jangan sampai masyarakat lengah," ujar Sucahyo.

Diberitakan Radar Bromo sebelumnya, banyak warga resah dan khawatir terhadap isu penculikan anak di bawah umur. Apalagi, beredar SMS yang berisi himbauan tentang penculikan itu.

Sementara informasi yang berhasil dihimpun Radar Bromo hingga kemarin, ternyata banyak isu penculikan yang berkembang di masyarakat. Bahkan isu itu tidak hanya dari SMS. Namun, mulai berkembang dari mulut ke mulut.

Bahkan isu itu meluas ke beberapa desa. Misalnya saja di Kecamatan Dringu, Kuripan, Kotaanyar, Paiton dan Krejengan. Bahkan bahasa yang disampaikan cukup meyakinkan. "Iya Mas. Ada yang kepalanya dipenggal, kakinya diputus," ujar Iqbal, 31, warga Kecamatan Pajarakan.

Namun KBO Reskrim Polres Probolinggo Iptu Muhammad Dugel mengatakan, tidak ada laporan dari masyarakat terkait SMS tersebut."Laporan saja belum masuk. Saya kira SMS itu terlalu dilebih-lebihkan," tutur Dugel.

Dugel menduga, SMS itu disebar oleh sebuah sindikat. Sekarang kata Dugel, banyak ibu-ibu yang menjemput anaknya ke sekolah. Bagi yang tidak punya pembantu, rumah ditinggal kosong. "Bisa saja terjadi pencurian. Sederhana saja. Anak aman, malah barang-barang disikat di rumah karena ditinggal penghuninya," jelas Dugel.

Lebih jauh Dugel menjelaskan, SMS itu kini menjadi perhatian Polri. Disebutkan Dugel, SMS tersebut pertama kali muncul dengan mengatasnamakan Polres Bondowoso. Dugel berharap, tidak ada kejadian apapun dari efek SMS tersebut. Sebab jika benar terjadi penculikan, maka dampaknya akan sangat buruk.

Dugel lantas mencontohkan, jika ada anak diculik hal ini akan jadi kasus besar. Apalagi jika dibunuh dan dimutilasi. "Bahkan mutilasi Tiris dan pembunuhan Saiful kalah besar kasusnya," ujar Dugel membandingkan.

Lebih jauh Dugel menjelaskan, warga tidak akan melaporkan ke Polsek. Khususnya jika kasus itu terjadi. Sebab warga akan langsung lapor ke Polres. "Karena itu tadi. Jika terjadi, akan jadi kasus besar. Sejauh ini belum ada laporan demikian. Baik di polsek maupun di polres" sebut Dugel. (eem/hn)

Sumber: http://www.jawapos.co.id/radar/index.php?act=detail&rid=171902

Senin, 26 Juli 2010

Dikira Menculik, Katon Dikepung Massa

Dikira Menculik, Katon Dikepung Massa

PROBOLINGGO, KOMPAS.com - Inilah potret sebagian dari masyarakat kita yang tak menganggap penting verifikasi informasi. Berawal dari keresahan soal isu penculikan anak, kecurigaan bisa muncul kepada siapa saja.

Katon (37), warga RT 2/RW 6, Kelurahan Kebonsari Kulon, Kecamatan Kanigaran, Kota Probolinggo, Jawa Timur, nyaris menjadi bulan-bulanan massa.

Usai menghadiri undangan perkawinan kerabatnya, tiba-tiba ia dihadang warga yang dipimpin Sandiyo, Ketua RT 1/RW 1, Kelurahan Jrebeng Kulon, Kecamatan Kedopok, Minggu (25/07/2010).

Ia disangka akan menculik Nur Ali Fardika (11), warga Muneng, Kecamatan Sumberasih, yang saat itu di rumah Haderi, kakeknya di kelurahan setempat.

Padahal, tuduhan itu hanya berdasarkan kecurigaan ketika Katon bertanya kepada Nur Ali Fardika. Katon bertanya soal rumah kerabatnya yang sedang punya hajat bernama Jatim alias Topo di Kelurahan Jrebeng Kulon.

Karena bocah cilik itu mengaku tidak tahu, Katon yang berbusana batik itu pun meneruskan perjalanannya. Begitu Katon hilang dari pandangan, sejumlah warga langsung bertanya ke Nur Ali soal pembicaraannya dengan orang asing tersebut.

Kepada warga, Nur Ali mengaku hendak diajak ke tempat pencucian motor, namun ia menolak ajakan orang yang belum dikenalnya itu. Mendengar pengakuan seperti itu, tanpa dikomando warga menghadang Katon sepulang dari undangan.

Begitu yang ditunggu muncul, warga kemudian mennghentikan dan terjadilah adu mulut. Karena tidak ada titik temu, oleh Sadiyo, ketua RT setempat, Katon diamankan di rumah Haderi.

Salah satu dari mereka melaporkan penangkapan orang asing yang diduga akan menculik Nur Ali itu kepada Lurah, sebagian lain menghubungi polisi.

Tak lama kemudian, kabar tentang tertangkapnya seorang penculik anak menyebar begitu cepat. Warga sekitar kelurahan dan para pengguna jalan pun berbondong-bondong mencari tahu kebenaran kabar itu dan sekaligus ingin melihat wajah sang tersangka penculik.

Tak berselang lama, ratusan orang berkumpul. Mereka mulai terlihat beringas, meski duduk perkara sebenarnya belum jelas. Untunglah, polisi datang pada saat yang tepat, bahkan dipimpin langsung Kapolresta Probolinggo, AKBP Agus Wijanarko.

Tetapi bukan perkara gampang untuk mengamankan Katon dari gebukan massa. Mereka sudah terlihat mencoba menerobos barikade polisi untuk masuk rumah. Kapolresta bersama Lurah Sandiyo, Ketua RT Haderi, dan tokoh masyarakat meminta agar massa membubarkan diri.

Melalui mikrofon, mereka bergantian mengajak dan membujuknya, namun massa tidak beranjak dari tempatnya. Suasana baru reda setelah A Haris Nasution, anggota DPRD Kota Probolinggo, didatangkan ke lokasi karena masih bertetangga dengan Katon.

Dengan penjagaan 100 polisi, Katon kemudian coba dievakuasi. Pandangan massa tentu saja saja tertuju pada sosok yang diapit polisi. Maka, mereka pun langsung menghampiri dan hendak memukul Katon.

Ada pula yang melempar batu dan kayu. Beruntung, tidak ada polisi dan massa yang cedera. Katon pun selamat sampai di Mapolresta Probolinggo.

Tapi semua orang di situ sebetulnya tidak tahu, polisi sengaja mengelabui massa. Saat itu, Katon disuruh memakai seragam polisi plus rompi hijau polisi lalu lintas. Katon yang sudah tidak dikenali lagi itu berjalan santai.

Lalu, siapa lelaki yang diapit polisi dan jadi sasaran amuk tadi?

Dia juga seorang polisi yang bertukar baju dengan Katon. Untungnya, polisi baik hati itu berhasil dilindungi kawan-kawannya sehingga aman sama sekali.

Kapolresta menjelaskan, Katon sudah dipertemukan dengan Jamin alias Topo. Jamin pun membenarkan Katon menghadiri pesta perkawinan sebelum kejadian. Kapolresta pun berharap agar masyarakat tidak mudah terpancing dengan informasi yang belum dipastikan kebenarannya. (st35)

Sumber: http://id.news.yahoo.com/kmps/20100726/tid-dikira-menculik-katon-dikepung-massa-376aae3.html

Warga Marah dan Serang Tersangka Penculik

26-Jul-2010
FOKUS
Aksi Massa

Indosiar.com, Probolinggo - Kampung di Kelurahan Drebek Kulon, Probolinggo, Minggu (25/07/10) kemarin, betul-betul ramai. Warga tumpah ruwah memadati sebuah rumah dimana seorang pria yang diduga penculik sedang diamankan oleh polisi. Warga kesal dan bermaksud menghakimi tersangka yang bernama Katon. Bahkan polisi kewalahan menghalau warga agar jangan sampai masuk kedalam rumah.

Setelah beberapa jam menahan Katon, polisi akhirnya harus membawa dia keluar, tentu dengan pengawalan ekstra ketat. Tidak lupa memakaikan rompi kepada Katon, untuk mengelabuhi warga. Namun, warga rupanya mengetahui dan mereka akhirnya melempari Katon dengan batu. Polisi pun mau tak mau menjadi sasaran, akibatnya polisi kehilangan kesabaran, dan akhirnya terlibat bentrok dengan warga, sehingga suasana menjadi kacau.

Parahnya lagi, kabarnya Katon bukanlah penculik. Ia hanya kebetulan melewati kampung tersebut, setelah menghadiri sebuah acara pernikahan. Namun, isu penculikan langsung menyebar lantaran Katon sempat mengajak seorang anak warga setempat bernama Andika, dimana Andika sendiri tidak mengenal Katon.

Kini tinggal polisi membuktikan apakah Katon penculik atau bukan, sebagaimana yang dituduhkan warga. Untuk kepentingan penyelidikan, hingga Minggu petang polisi masih memeriksa Katon secara intensif di Mapolresta Probolinggo. (Tommy Iskandar/Sup)

Sumber: http://www.indosiar.com/fokus/86832/warga-marah-dan-serang-tersangka-penculik

Menanyakan Lokasi Hajatan, Malah Dituduh Penculik

26/07/2010 03:22
Liputan6.com, Probolinggo: Seorang lelaki hampir menjadi sasaran amukan ratusan warga lantaran dituduh hendak menculik anak di Desa Jrebeng Kulon, Kadopok, Probolinggo, Jawa Timur, Ahad (25/7). Padahal laki-laki tersebut hendak menghadiri hajatan.

Peristiwa berawal saat pria yang bernama Katon mendekati anak kecil untuk menanyakan lokasi hajatan yang akan dihadirinya. Bukannya menjawab, sang anak lari ketakutan. Kejadian ini dilihat oleh warga sekitar serta menduga Katon seorang penculik.

Warga makin emosi karena isu penculikan sedang santer terdengar di kawasan ini. Tahu menjadi sasaran amuk massa, Katon pun memilih bersembunyi di rumah seorang warga. Saat bersamaan, tokoh masyarakat menghubungi polisi untuk menenangkan warga.

Polisi sempat kesulitan mengeluarkan Katon dari rumah. Begitu Katon keluar dari rumah, warga merangsek maju. Sejumlah warga melempar rombongan pengawalan dengan batu dan kayu. Suasana makin panas saat polisi menangkap warga yang diduga provokator.

Sejumlah warga meminta polisi melepasnya. Warga juga sempat menyerang mobil polisi yang membawa tertuduh. Evakuasi akhirnya berhasil dilakukan. Katon langsung dilarikan ke Markas Kepolisian Resor Kota Probolinggo untuk dimintai keterangannya.(JUM)

Sumber: http://berita.liputan6.com/daerah/201007/287987/Menanyakan.Lokasi.Hajatan.Malah.Dituduh.Penculik

‘Penculik’ Anak

Supaya Lolos dari Amukan Massa

Probolinggo - Surya- Katon, 37, warga Kelurahan Kebonsari Kulon, Kanigaran, Kota Probolinggo, menjadi korban isu penculikan anak yang sedang marak. Seusai menghadiri undangan perkawinan kerabatnya di lain kecamatan, Minggu (25/7) siang, Katon hendak dikeroyok massa karena dikira penculik anak.

Jumlah warga yang hendak main hakim sendiri terhadap Katon ratusan orang. Bahkan untuk menyelamatkan Katon, polisi terpaksa mengelabui massa dengan memakaikan kaos dan rompi polisi lalu lintas ke badan Katon.

Informasi yang diperoleh Surya, seusai menghadiri undangan perkawinan di rumah kerabatnya, Katon dihadang sejumlah warga yang didampingi Sandiyo, ketua RT1/RW1 Kelurahan Jrebeng Kulon, Kedopok, Kota Probolinggo. Ia dituduh akan menculik Nur Ali Fardika, 11, warga Muneng, Sumberasih, Kabupaten Probolinggo, yang sedang di rumah kakeknya, Haderi, di Jrebeng Kulon.

Tuduhan muncul lantaran warga terpengaruh isu penculikan anak yang sedang marak di Jatim. Tatkala Katon, Minggu (25/7) pagi, datang naik sepeda motor menanyakan alamat tempat pernikahan yang hendak dituju, banyak warga curiga, kemudian mencegat Katon bila melewati lagi tempat tersebut.

Begitu Katon muncul usai buwuh, Minggu siang, massa pun menghentikan pria berbaju batik itu. Katon membantah hendak menculik anak, namun massa tak percaya. Setelah terjadi adu mulut, Sandiyo selaku ketua RT berinisiatif mengamankan Katon ke rumah Haderi. Sesudah itu sebagian warga melapor ke lurah setempat, Sukiman, sebagian lainnya menghubungi polisi.

Sejurus kemudian beredar kabar bahwa seorang penculik anak tertangkap, sehingga ratusan warga berbondong-bondong datang. Sebagian ingin melihat wajah sang ‘penculik’, sebagian lagi hendak menghajarnya.

Polisi sempat kesulitan menghadapi mereka. Untuk menenangkan massa yang beringas itu, Kapolresta Probolinggo, AKBP Agus Wijanarko, didampingi Sukirman, Sandiyo dan Haderi meminta massa membubarkan diri. Namun massa menolak.

Suasana bisa agak reda setelah Haris Nasution –anggota DPRD Kota Probolinggo yang juga tetangga Katon– didatangkan. Sesudah itu, dengan penjagaan ketat polisi, Katon dievakuasi. Massa, yang mengetahui ‘penculik’ keluar rumah diapit polisi, mencoba memukul Katon. Sebagian lainnya melempari dengan batu dan kayu. Berkat kesigapan polisi, tak ada yang cerdera, dan Katon bisa dibawa ke Mapolresta Probolinggo.

Dalam drama evakuasi itu polisi sebenarnya mengelabui massa. Sebelum dibawa keluar rumah, baju batik yang dikenakan Katon dilepas, kemudian Katon disuruh memakai kaos oblong warna biru dan rompi hijau milik polisi lalu lintas. Adapun seorang polisi didandani seolah-olah Katon.

Maka, Katon bisa berjalan santai keluar rumah. Sebaliknya, polisi yang berpakaian batik milik Katon, dan dikawal dua polisi berseragam, menjadi sasaran kemarahan massa namun akhirnya tak cedera.

Kapolresta Probolinggo yang mengerahkan 100 personel untuk menyelesaikan kasus Katon, menyesalkan kejadian itu. Dia mengingatkan warga agar tak gampang terpengaruh isu menyesatkan.nst35

Sumber: http://www.surya.co.id/2010/07/26/penculik-anak-didandani-bak-polisi.html

Disangka Penculik, Nyaris Dimassa

[ Senin, 26 Juli 2010 ]
PROBOLINGGO - Isu penculikan anak benar-benar menjadi masalah sensitif di tengah masyarakat Probolinggo saat ini. Simak saja yang terjadi kemarin (25/7) siang. Seorang warga Kebonsari Kulon RT 2/RW VI yakni Katon, 37, nyaris dihajar massa karena disangka menculik anak di Jl Musi, Kelurahan Jrebeng Kulon, Kedopok.

Dari informasi yang dihimpun Radar Bromo, kejadian tersebut bermula dari kunjungan Katon kemarin ke sebuah acara nikahan di Jrebeng Kulon. Temannya, Topo punya hajat menikahkan putrinya.

Topo melalui saudaranya, Jatim, mengundang Katon agar hadir di acara itu. "Saya yang mengundang sendiri tiga minggu sebelumnya. Saya kenal akrab. Ia datang pagi-pagi karena ingin saat sepi," jelas Jatim.

Tapi, sebelum sampai ke tempat hajatan itu, Katon bertemu seorang bocah bernama Nur Ali F. Sebenarnya, Nur Ali warga Muneng, Sumberasih Kabupaten Probolinggo. Tapi, kebetulan siang itu dia sedang berkunjung di rumah kakeknya, Khadiri, di Jrebeng Kulon blok Karangbulu RT 1/RW I, Kedopok.

Nah, Nur Ali mengaku saat itu sempat diminta Katon untuk mencucikan motor Supra X 125 milik Katon di tempat pencucian mobil yang ada di jalan raya. Mendengar ajakan tersebut, Nur Ali yang takut langsung pulang ke rumahnya dan menceritakan kepada orang tua dan keluarganya.

Pengakuan Nur Ali ditanggapi dengan kecurigaan luar biasa. Apalagi belakangan isu penculikan anak yang beredar melalui SMS (Short Message Service) sudah beredar luas di masyarakat Probolinggo. Warga setempat lalu menghubung-hubungkan isu itu dengan pengakuan Nur Ali.

Selanjutnya, warga setempat bergerak cepat mengamankan Katon. Katon langsung diamankan dulu ke rumah Khadiri. Saat dimintai KTP, Katon mengaku tidak bawa. Katon menyatakan KTP-nya ketinggalan di rumah.

Kabar penangkapan Katon cepat menyebar. Dan yang tersebar adalah kabar: penculik anak tertangkap! Tak ayal, dalam waktu sekejap massa langsung membanjiri rumah Khadari dan berniat menghakimi Katon.

Sekitar pukul 12.15 ribuan orang berduyun-duyun mendatangi rumah Khadiri, tempat Katon diamankan. Warga berniat menghakimi sendiri Katon. Tapi syukur saja aksi massa berhasil dicegah. Itu setelah sekitar seratus personel Polresta Probolinggo diturunkan untuk menenangkan massa.

Tapi, upaya polisi menenangkan massa sungguh tidak mudah. Massa seperti sudah kalap, ingin menghakimi seorang penculik. "Mohon sabar, serahkan semuanya pada petugas kepolisian. Tolong berikan jalan," teriak seorang petugas di depan rumah Khadiri.

Sekitar pukul 13.00, massa sudah menyemut memenuhi ruas jalan desa setempat. Karena kondisi kurang kondusif, Katon yang diamankan di dalam rumah Khadari pun harus menunggu hingga situasi benar-benar aman untuk dievakuasi.

Kapolresta AKBP Agus Wijayanto yang kemarin turun langsung ke lokasi, ikut serta menenangkan warga. Namun, warga terus merangsek mendekati rumah Khadiri.

Polisi memberikan kesempatan kepada pemilik rumah, Khadari, ketua RT setempat, lurah Jrebeng Kulon untuk memberikan penjelasan kepada massa.

Bahkan anggota DPRD kota asal Kebonsari Haris Nasution juga terlihat turun untuk menenangkan massa. Lelaki yang biasa disapa Cak Yon itu meminta warga untuk pulang. "Tolong tenang. Serahkan kepada petugas berwajib," kata Cak Yon melalui pengeras suara.

Ketika massa sudah mulai lengah, petugas pun langsung mengevakuasi Katon keluar dari rumah Khadari menuju mobil dinas Kapolresta. Mobil itu sudah diparkir di depan rumah Khadari. Tapi, polisi harus mengelabui massa. Saat dibawa keluar dari rumah menuju mobil, Katon disuruh memakai rompi polisi. Dengan begitu, ia terselamatkan dari amuk massa.

Tapi, sempat ada beberapa orang yang nekat melempari mobil Kapolresta itu dengan batu berukuran cukup besar. Beruntung petugas berhasil mengamankannya.

Selanjutnya, Katon dilarikan ke Mapolreta Probolinggo sekitar pukul 14.30. Dan selanjutnya dimintai keterangan oleh petugas kepolisian.

Dalidi, ketua RT 2/RW VI Kebonsari Kulon yang ikut ke lokasi mengaku kalau Katon merupakan salah satu warganya. "Dia itu bukan penculik anak. Ia adalah warga saya," katanya.

Kapolresta Probolinggo AKBP Agus Wijayanto mengatakan kejadian tersebut karena masyarakat di Jrebeng Kulon termakan isu penculikan anak. "Apalagi ia (Katon) warga dari daerah lain, tidak dikenal warga Jrebeng Kulon, maka ada isu berkembang bahwa ia adalah pelaku penculikan," katanya.

Ia bersyukur kejadian itu bisa diatasi. "Berkat bantuan Pak RT, Lurah, tokoh masyarakat setempat korban akhirnya bisa dievakuasi dengan selemat. Kejadian itu tidak sampai membawa korban dan situasi bisa terkendali kembali," imbuh Kapolresta. (mie/yud)

Sumber: http://www.jawapos.co.id/radar/index.php?act=showpage&rkat=4

Jumat, 23 Juli 2010

Polisi Akan Redam Isu Penculikan Anak

22 Juli 2010, 19:24:43| Laporan Sentral FM Lumajang

suarasurabaya.net| Mencuatnya isu penculikan anak yang cukup meresahkan warga di Desa Jenggrong, Kecamatan Ranuyoso yang akhirnya membawa korban jiwa dengan tewasnya Ny. RUSNIAH (45), warga Dusun Lajuk, Desa Wonoasri, Kecamatan Kuripan, Kabupaten Probolinggo yang dihabisi oleh SLAMET (55), warga Dusun Gambang, Desa Jenggrong, Kecamatan Ranuyoso, Kamis (22/07) dinihari, tampaknya cukup mengundang perhatian aparat kepolisian.

Pasalnya, munculnya isu seputar aksi isu penculikan anak yang santer tersebar luas di Desa Jenggrong ini, juga diakui oleh SUWARNO Kades Jenggrong, sangat umum trdengar masyarakat. Akibatnya, isu yang tersengar siumpang siur dan tidak jelas kebenarannya itu, membuat warga jadi was-was dan khawatir.

Pelaku penculikan anak yang disebutkan SUWARNO Kades Jengrong dengan julukan dok-dok itu, dinilainya sangat menakutkan warga. Pelakunya dari isu yang tersebar, disebut-sebut mengendarai mobil Toyota Avanza atau Mobil Suzuki APV yang berkeliling menculik anak di Desanya.

”Kondisi inilah, yang membuat warga saya belakangan jadi termakan isu dan menjadi khawatir,” kata SUWARNO Kades. Seputar mencuatnya isu penculikan anak yang santer tersebar luas di Desanya, diakui juga oleh SUWARNO Kades Jenggrong, sangat umum terdengar masyarakat hingga membuat warga keresahan tersendiri diantara warga.

Menyikapi peristiwa yang memunculkan informasi seputaran isu penculikan anak yang diduga menjadi pemicu insiden pembunuhan terhadap Ny. RUSNIAH ini, AKBP TEJO WIJANARKO Kapolres Lumajang ketika dikonfirmasi DIDI reporter Sentral FM Lumajang di kantornya, Kamis (22/07) siang, menyebutkan jika hal itu akan diredam dengan kordinasi Pemkab Lumajang.

”Saya berharap warga tidak termakan isu dan terprovokasi atas rumor tersebut. Dan selajutnya, kami akan gencar disosialisasikan dengan koordinasi Pemerintah Daerah, agar tidak terjadi insiden yang sama diantara warga masyarakat,” pungkas AKBP TEJO WIJANARKO. (her/git)

Sumber: http://jaringradio.suarasurabaya.net/?id=f66d447bb86d8860c780bc787576bb94201079744

Kamis, 22 Juli 2010

Dikejar Orang Misterius, Bocah Trauma

[ Kamis, 22 Juli 2010 ]
PAJARAKAN - Gara-gara dikejar oleh sosok misterius seorang bocah asal Desa Sukomulyo, Pajarakan, Kabupaten Probolinggo mengalami trauma. Bocah bernama Mohammad Firdaus, 10, itu jadi ketakutan setiap bertemu orang asing.

Peristiwanya terjadi Jumat (16/7) lalu. Siang itu, sepulang salat Jumat, Firdaus meminta uang kepada ibunya. "Untuk pergi bermain," jelas Sulaini, ibu bocah saat menjelaskan alasan anaknya meminta uang.

Setelah mendapat sangu Rp 1.000 dari ibunya, murid SD di Desa Rondoningo itu pun pergi bermain. Awalnyaa dia bermain di dekat rumah dengan anak-anak tetangga. Kemudian ia bertemu dengan kedua teman lainnya, Herul dan Sandi.

Bersama kedua temannya itu Firdaus sempat mengejar layang-layang putus. Saat itu layangan terlihat jatuh di sebuah perkarangan. Letaknya di sebelah timur Griya Indah Sukomulyo, yang tempatnya tidak terlalu jauh dari rumah Sulaini. Perkarangan tersebut cukup luas dan dipenuhi tanaman pisang dan beberapa jenis tanaman lainnya.

Firdaus lalu mencoba masuk ke pekarangan tersebut. Sedangkan kedua temannya menunggu di luar. Saat hendak mengambil layangan tersebut, tiba-tiba muncul seorang pria yang berlari mengejar Firdaus, sambil membawa celuit. Ciri-ciri pria tersebut diketahui memakai pakaian berwarna hitam dan berpostur tinggi.

Firdaus pun takut, ia langsung berlari untuk meyelamatkan diri. Bahkan ia sempat terjatuh, namun tidak sampai tertangkap pria tersebut. Sambil berlari, Firdaus berteriak minta tolong. Ia berteriak seraya menangis ketakutan.

Setelah berhasil keluar dari perkarangan, Firdaus bertemu dengan warga yang baru pulang salawatan. Spontan Firdaus memegang kedua kaki warga tersebut, dan tak henti-hentinya menangis. Saat itu tidak terlihat pria yang mengejar Firdaus ke luar perkarangan.

Setelah itu, Firdaus diantarkan pulang ke rumahnya. Sesampai di rumah bocah ini tak henti-hentinya menangis." Menangis terus," tutur Sulaini. Sulaini pun mencoba menayakan apa yang telah terjadi. Namun, Firdaus hanya diam ketakutan. " Itu sambil mendekapkan kakinya," jelas Sulaini. Setahu Sulaini, perkarangan tersebut tidak ada penjaganya. Pemiliknya tinggal di luar kota.

Sejak peristiwa itu Sulaini mengaku tak langsung bisa mendapatkan keterangan dari Firdaus. Selama beberap hari Firdaus terlihat seperti anak yang shock. Kemudian Sulaini membawa anaknya ke salah seorang ustadz yang ada di daerahnya.

Dengan sedikit terapi dari ustadz tersebut, Firdaus akhirnya mau bicara. Dan sedikit demi sedikit Firdaus bercerita mengenai kejadian pengejaran itu.

Saat Radar Bromo hendak bertemu Firdaus, ia masih terlihat trauma bertemu orang asing. Firdaus tidak berani keluar dari kamarnya. Akhirnya, Sulaini bisa meyakinkan anaknya untuk keluar dari kamar dan bertemu wartawan. Sambil memeluk erat ibunya, ia tidak berani menatap dengan siapa orang yang datang melihatnya.

Pasca kejadian itu Firdaus tidak berani bermain di luar rumah, ia memilih untuk berdiam di dalam rumah." Sekarang kalau sekolah minta diantar," terang Sulaini. Ia juga menjelaskan, sebelum kejadian itu, Firdaus selalu berangkat sekolah sendiri dan sering bermain bersama teman-temanya.

Dari kejadian itu, Sulaini tidak melaporkannya ke aparat desa maupun polisi. Alasannya, Firdaus selamat dari peristiwa pengejaran itu (d7x/nyo)

Sumber: http://www.jawapos.co.id/radar/index.php?act=detail&rid=171116

Selasa, 20 Juli 2010

Kabid Humas: SMS Berantai Penculikan Anak tidak Benar

Tribunnews.com - Selasa, 20 Juli 2010 10:44 WIB


TRIBUNNEWS.COM, JATIM -- Dari SMS-SMS isu penculikan yang telah diketahui, semua mencatut lembaga kepolisian. Disebutkan, misalnya, di awal atau di bagian akhir SMS bahwa SMS itu dikirim oleh “Polres Situbondo”. Di SMS-SMS lainnya disebutkan berasal dari “Polres Sragen”, “Polres Probolinggo” atau dari “Kanit Reskrim Polsek Besuki”.

Yang beredar di Kabupaten Probolinggo agak unik. SMS isu penculikan itu sudah mengalami penyesuaian, yakni diterjemahkan ke dalam bahasa Madura.

Polres Sumenep menegaskan bahwa reaksi warga yang berlebihan atas isu penculikan di sana tak berarti bahwa isu tersebut benar adanya.

“SMS itu pekerjaan orang iseng yang ingin mengacaukan ketentraman masyarakat. Karena itu, masyarakat jangan sampai terpancing dan melakukan tindakan tidak benar seperti main hakim sendiri,” tandas Kapolres AKBP Pri Hartono SIK melalui Kasat Reskrim AKP M Andi Lilik.

Kepala Bidang (Kabid) Humas Polda Jatim, Kombes Pol Polisi Pudji Astuti juga menegaskan, SMS berantai tentang penculikan itu adalah tidak benar.

“Tidak ada itu, gak benar. Kami sudah cek semua Polres dan tidak ada kantor polisi yang mengirim SMS kewaspadaan seperti itu. Juga selama ini tidak ada laporan penculikan atau laporan kehilangan anak,” tegas Pudji saat dihubungi Surya, Senin (19/7/2010).

Ia menambahkan, saat ini polisi masih melakukan penyelidikan untuk mengetahui siapa yang mengirim SMS itu dan apa motifnya. Terkait mobil yang disebut milik “penculik” yaitu APV warna silver dengan nomor polisi (nopol) L 1857 GU seperti yang disampaikan dalam SMS, kata Pudji, dipastikan data itu tidak benar. Berdasarkan catatan kepolisian, nopol yang disebutkan itu adalah nopol untuk jenis mobil Toyota Terios dan bukan APV.

Polda Jatim mengimbau masyarakat untuk lebih waspada, tapi tidak perlu memercayai isi SMS yang disebarkan berantai itu. Masyarakat diminta untuk mengabaikan informasi yang dikirim melalui SMS yang mengatasnamakan polres tertentu, termasuk dengan adanya penyebutan jenis mobil dengan nopol tertentu.

“Yang penting SMS itu tidak usah dikembangkan, tidak usah diteruskan untuk dikirim lagi atau diramai-ramaikan,” pesan Pudji. (surya)

Editor : Tjatur
Sumber: http://www.tribunnews.com/2010/07/20/kabid-humas-sms-berantai-penculikan-anak-tidak-benar

Isu Penculikan Nyebar di 11 Daerah

Selasa, 20 Juli 2010

Warga Main Hakim Sendiri
Polda: Tak Benar Itu dari Polisi

Surabaya - Surya- Isu penculikan anak yang mulai terdengar kabarnya di Jatim sejak Juni lalu, kini semakin tak terkendali. Ironisnya, cukup banyak warga masyarakat yang termakan isu yang tak jelas jluntrungan-nya itu.
Karena belum ada upaya serius yang terkoordinasi dari pihak berwenang untuk mengatasi isu yang beredar secara berantai lewat SMS itu, penyebaran isu penculikan tersebut tambah meluas. Dalam sehari kemarin saja, diberitakan SMS penculikan itu menyebar di tujuh daerah, yaitu Sumenep, Pamekasan, Situbondo, Bondowoso, Lumajang, Probolinggo, dan Kediri. Penyebaran SMS gelap itu, sebelumnya juga diketahui terjadi di Kabupaten Bojonegoro, Tuban, Sidoarjo, dan Jombang.

Kemarin, karena beredarnya SMS penculikan itu di Sumenep, Pemkab setempat mengerahkan aparat Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) untuk turun ke lapangan. Sayangnya, langkah Satpol PP yang sebetulnya bertujuan untuk menentramkan warga itu, justru bisa memunculkan kekhawatiran bertambah besar di masyarakat. Sebab, terkesan bahwa Satpol PP membenarkan telah terjadi penculikan anak di tempat lain.

“Kami umumkan ke masyarakat dan kami minta para orangtua untuk menjaga anaknya baik saat di sekolah atau di rumah. Jangan sampai kejadian penculikan juga terjadi di Sumenep,’’ ujar Moh Saleh, Kepala Seksi (Kasi) Operasional Satpol PP Sumenep, Senin (19/7).

Sebelum pengumuman Satpol PP itu, warga masyarakat Sumenep bergerak lebih jauh. Di Desa Gedang Gedang, Kecamatan Batu Putih, kekhawatiran yang berlebihan membuat sebuah mobil Avanza dikabarkan nyaris jadi korban, Minggu (18/7) malam. Selama ini, mobil Avanza dan APV memang selalu disebut-sebut dalam SMS berantai itu sebagai mobil-mobil yang dipakai penculik.

Informasi yang beredar menyebutkan, Avanza berplat L itu parkir di pinggir jalan di Desa Gedang Gedang, agak jauh dari tempat tinggal warga. Karena dicurigai mobil penculik, Avanza itu didekati warga untuk dirusak dan dibakar. Beruntung, si pemilik bersama temannya yang warga Desa Gedang Gedang muncul dari sebuah rumah yang berjarak 200 meter dari lokasi parkir mobil.

“Nyaris saja dibakar warga, tapi untung pemiliknya dan rekan dia segera datang. Ternyata pemiliknya orang Sumenep, yakni warga Desa Legung, Kecamatan Batang-Batang,” kata Etto, warga Desa Gedang Gedang.

Tetapi, informasi tersebut tidak bisa dikonfirmasi oleh pihak kepolisian. Kapolres Sumenep, AKBP Pri Hartono S.IK melalui Kasat Reskrim, AKP M Andi Lilik menepis adanya laporan sebuah mobil Avanza berplat L yang hendak dibakar massa di Batu Putih.

“Sampai saat ini kami belum menerima laporan dari anggota Polsek Batu Putih kalau ada mobil dengan nomor polisi L hendak dibakar dan dirusak warga,” ucap Andi Lilik.

Sebelumnya, saking paranoid-nya, di Desa Andulang, Kecamatan Gapura, Sumenep, seorang pria ditangkap dan dihajar warga karena dicurigai sebagai penculik. Ternyata pria yang tak menggubris saat ditegur warga itu, baru diketahui sebagai orang tidak waras.

Sejauh ini, selain yang di Sumenep, setidaknya ada dua lagi orang yang jadi korban akibat isu tak bertanggung jawab tentang penculikan anak itu. Pada 12 Juli lalu, AKP Sidik Haribowo, Kapolsek Grabakan, Tuban, dikejar ratusan warga karena dikira penculik.

Saat itu, kapolsek sebetulnya sedang membantu rombongan orang dari Surabaya yang naik mobil Xenia (yang bodinya mirip Avanza) dan hendak mencari pengobatan alternatif di Desa Ngrejeng, Kecamatan Grabagan.

Warga yang melihat mobil itu kerap berhenti dan bertanya-tanya, mulai curiga. Apalagi setelah dilihat di dalam mobil ada sejumlah kembang dan kain mori. Padahal, kembang dan kain itu untuk syarat pengobatan alternatif. Ketika warga hendak beraksi, kapolsek yang kebetulan lewat, datang menolong.

Tak dinyana, warga yang sepertinya tak mengenal kapolsek, makin curiga. Karena situasi tak aman, kapolsek mengambil alih kemudi Xenia dan melarikannya. Mobil yang disopiri kapolsek dan rombongan dari Surabaya itu dikejar ratusan warga dengan bersepeda motor. Baru sesampai di Mapolres Tuban, massa pengejar berhasil dihalau setelah polisi melepas dua kali tembakan.

Korban lain isu penculikan itu adalah Samudin, 70. Warga Tamanan, Bondowoso itu dihajar massa pada 14 Juli lalu karena dikira penculik anak. Setelah diserahkan ke Polres Situbondo, diketahui bahwa Samudin ternyata bukanlah penculik, tapi pemulung sampah.

Dari SMS-SMS isu penculikan yang telah diketahui, semua mencatut lembaga kepolisian. Disebutkan, misalnya, di awal atau di bagian akhir SMS bahwa SMS itu dikirim oleh “Polres Situbondo”. Di SMS-SMS lainnya disebutkan berasal dari “Polres Sragen”, “Polres Probolinggo” atau dari “Kanit Reskrim Polsek Besuki”.

Yang beredar di Kabupaten Probolinggo agak unik. SMS isu penculikan itu sudah mengalami penyesuaian, yakni diterjemahkan ke dalam bahasa Madura.

Polres Sumenep menegaskan bahwa reaksi warga yang berlebihan atas isu penculikan di sana tak berarti bahwa isu tersebut benar adanya.

“SMS itu pekerjaan orang iseng yang ingin mengacaukan ketentraman masyarakat. Karena itu, masyarakat jangan sampai terpancing dan melakukan tindakan tidak benar seperti main hakim sendiri,” tandas Kapolres AKBP Pri Hartono SIK melalui Kasat Reskrim AKP M Andi Lilik.

Kepala Bidang (Kabid) Humas Polda Jatim, Kombes Pol Polisi Pudji Astuti juga menegaskan, SMS berantai tentang penculikan itu adalah tidak benar.

“Tidak ada itu, gak benar. Kami sudah cek semua Polres dan tidak ada kantor polisi yang mengirim SMS kewaspadaan seperti itu. Juga selama ini tidak ada laporan penculikan atau laporan kehilangan anak,” tegas Pudji saat dihubungi Surya, Senin (19/7).

Ia menambahkan, saat ini polisi masih melakukan penyelidikan untuk mengetahui siapa yang mengirim SMS itu dan apa motifnya. Terkait mobil yang disebut milik “penculik” yaitu APV warna silver dengan nomor polisi (nopol) L 1857 GU seperti yang disampaikan dalam SMS, kata Pudji, dipastikan data itu tidak benar. Berdasarkan catatan kepolisian, nopol yang disebutkan itu adalah nopol untuk jenis mobil Toyota Terios dan bukan APV.

Polda Jatim mengimbau masyarakat untuk lebih waspada, tapi tidak perlu memercayai isi SMS yang disebarkan berantai itu. Masyarakat diminta untuk mengabaikan informasi yang dikirim melalui SMS yang mengatasnamakan polres tertentu, termasuk dengan adanya penyebutan jenis mobil dengan nopol tertentu.

“Yang penting SMS itu tidak usah dikembangkan, tidak usah diteruskan untuk dikirim lagi atau diramai-ramaikan,” pesan Pudji. nriv/sin/tiq/st35/rey

Sumber: http://www.surya.co.id/2010/07/20/isu-penculikan-nyebar-di-11-daerah.html


Senin, 14 Juni 2010

Polisi Telusuri Selebaran Penculikan

[ Minggu, 13 Juni 2010 ]
Pastikan Hanya Isu
PROBOLINGGO-Selebaran penculikan yang dikeluarkan SDN Tisnonegaran 2 Kota Probolinggo menjadi perhatian serius pihak kepolisian. Setelah melakukan kroscek polisi memastikan bahwa kabar itu hanya sebatas isu belaka.

Kroscek itu dilakukan dengan cara mendatangi pihak sekolah dan meminta keterangan dari pihak-pihak terkait. "Kami sudah datang ke sana (SDN Tisnonegaran 2). Ternyata itu dilatari sikap khawatir yang berlebihan dari pihak sekolah," jelas AKP Agus I Supriyanto, Kasatreskrim Polresta Probolinggo.

Diberitakan sebelumnya, Rabu (9/6) lalu SDN Tisnonegran 2 mengedarkan selebaran berisi berita adanya penculikan. Selebaran itu, diedarkan kepada para murid kelas 1-3 SDN tersebut. Warga pun dibuat resah dan bertanya-tanya dengan beredarnya selebaran tersebut.

Selebaran itu berisi peringatan tentang kejahatan penculikan anak yang pernah terjadi di Bedono, Kebondalem, Gembongan. Melihat judulnya saja, selebaran itu sangat menakutkan; Pengumuman penting bagi orang tua warga besar SDN Tisnonegaran 2 waspadalah !!!. Dalam selebaran itu juga tertulis sebuah nomor HP yang menandakan tulisan dalam selebaran itu berasal dari nomor tersebut.

Isinya; Info dari kami untuk anda seluruh masyarakat bila melihat ZUZUKI APV dengan plat nomor polisi L 18xx GU mohon dihimbau kepada warga bagi yang mempunyai akan kecil / dewasa agar berhati-hati dengan ZUZUKI APV warna silver dengan plat tersebut dicurigai sebagai penculik anak-anak. untuk diambil hati dan matanya. Dari Polres Banjarnegara harap disikapi, waspadalah dan disebarkan kepada teman-teman anda. Karena ini sudah benar-benar terjadi di daerah BEDONO KEBONDALEM, GEMBONGAN, dan daerah sekitarnya. Terima kasih

Dalam selebaran itu juga tertera tanggal, Probolinggo, 9 Juni 2010 juga ada tanda tangan kepala SDN Tisnonegaran 2, Sanusi dan dilengkapi stempel sekolah tersebut. Sanusi, mengakui telah mengeluarkan selebaran tersebut. Selebaran itu disebarkan kepada muridnya yang duduk di bangku kelas 1-3, untuk disampaikan kepada walinya.

Sanusi mengaku mempunyai tujuan baik dengan selebaran tersebut. Yakni, untuk menghindari terjadinya hal seperti yang dikabarkan dalam selebaran tersebut. Kabar dalam selebaran itu, menurut Sanusi berasal dari sebuah SMS (Short message service) yang masuk pada nomor HP TU-nya, Feri. SMS itu, dikirim oleh salah seorang wali muridnya. Lalu, diketik, digandakan dan disebarkan.

Dengan beredarnya selebaran menakutkan itu, aparat kepolisian tidak tingggal diam. Mereka langsung mengambil langkah untuk mengetahui kebenaran kabar meresahkan tersebut. "Kalau dikatakan salah ya memang salah. Tapi, itu tidak ada unsur kesengajaan dan didasarkan pada rasa kekhawatiran yang berlebihan," ujar Kasatreskrim yang mantan Katim Riksa densus 88 ini.

Tak hanya itu, polisi juga sudah melacak nomor telepon yang menjadi sumber utama adanya kabar tersebut. Tapi, sampai kemarin (12/6) hasilnya masih belum diketahui lokasi pastinya.

Selain itu, polisi juga sudah berkoordinasi dengan kepolisian Banjarnegara. Karena disebutkan kabar tersebut berasal dari polres Banjarnegara. Sehingga, hal itu membuat polisi untuk mengkroscek kebenarannya. "Itu murni orang iseng yang mempunyai tujuan tertentu," ujar AKP Agus.

Belajar dari kasus itulah, AKP Agus meminta kepada masyarakat untuk tidak mudah percaya terhadap SMS yang isinya ganjil. Menurunya, kalau mendapat SMS ganjil hendaknya dilaporkan terlebih dahulu kepada polisi untuk ditindaklanjuti. "Jangan mudah percaya, apalagi sampai disebarluaskan," harapnya. (rud/nyo)

Sumber: http://www.jawapos.co.id/radar/index.php?act=detail&rid=164210