Tampilkan postingan dengan label Kehutanan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kehutanan. Tampilkan semua postingan

Senin, 10 Mei 2010

Mengintip Para “Haji Sengon” di Probolinggo

Mengintip Para “Haji Sengon” di Probolinggo
Senin, 10 Mei 2010 | 11:16 WIB

OLEH: IKHSAN MAHMUDI

DI ketinggian sekitar 1.000-1.500 meter di atas permukaan laut, di belahan atas lereng Gunung Aropuro dan Gunung Lamongan, sejauh mata memandang yang terlihat hanyalah kehijauan. Selain hutan jati, mahoni, dan kesambi milik Perhutani, ribuan hektare hutan rakyat juga terhampar di punggung kedua gunung itu. Di sela-selanya tampak pula kebun kopi dan buah-buahan milik warga.

Dibandingkan 10 tahun silam, wajah dua kecamatan, Krucil dan Tiris, memang jauh lebih hijau. Akhir-akhir ini bisa dikatakan sebagian besar warga di dua kecamatan itu “gila” bertanam sengon. Kegilaan ini berkonotasi positif karena berdampak pada lingkungan hidup sekaligus kesejahteraan warga setempat.

“Kalau tidak percaya, tanya saja berapa banyak ‘haji sengon’ atau ‘mobil sengon’ di Krucil dan Tiris,” ujar Wakil Bupati (Wabup) Probolinggo, Salim Qurays SAg saat menerima Menhut, Zulkifli Hasan, beberapa hari lalu.

Sebutan “haji sengon” disandang seseorang yang biaya perjalanan ibadah haji diperoleh dari hasil bertanam pohon sengon. Wabup menyebut tahun ini 40 calon haji asal Kec. Krucil dan Kec. Tiris disokong hasil panen sengon.

Sebutan “mobil sengon” juga mengacu pada mobil yang dibeli dari hasil tanaman bernama Latin Albasia falcataria itu. Wajar kalau kemudian sebagian warga menggantungkan hidupnya dari bertanam sengon, selain berkebun kopi, sayuran, dan buah-buahan. Bisnis kayu di dua kecamatan, Krucil dan Tiris memutar uang hingga sekitar Rp 15 miliar per bulan.

Bagi kalangan industri, kayu sengon menjadi alternatif setelah negara-negara Eropa memproklamasikan larangan pabrikan menebangi tegakan pohon dari hutan lestari untuk bahan baku. ”Negara-negara Eropa yang menjadi tujuan ekspor kayu olahan produk kami memboikot jika kayunya berasal dari hutan lestari,” ujar Direktur Muda PT Kutai Timber Indonesia (KTI), Capt. M. Sain Latief .

Karena itu perusahaan pengolahan kayu patungan Indonesia-Jepang itu tidak lagi mengandalkan bahan baku kayu dari Kalimantan dan Papua. Solusinya, mereka menggandeng masyarakat membentuk hutan rakyat.

Masyarakat Berubah

Sejumlah penyuluh kehutanan lapangan (PKL) pada Dinas Perkebunan dan Kehutanan (Disbunhut) Kab. Probolinggo mengakui adanya perubahan pola pikir masyarakat di punggung gunung di Kec. Krucil dan Kec. Tiris. “Dulu, sulit mengajak masyarakat di sini bertanam pohon. Sekarang tidak disuruh pun mereka berlomba-lomba menanam sengon,” ujar Sudarman.

Hal senada diungkapkan Suprapto, PKL lainnya. “Sekarang warga sudah tahu kalau sengon bisa menjadi duit besar dalam waktu 4-5 tahun,” ujarnya.

Sejumlah petani perintis yang menanam sengon kini telah sukses menjadi raja-raja kayu sekaligus “haji sengon” dan ber-“mobil sengon”. Sebut saja Habib Abdul Qodir Al Hamid, H Abdul Manap, H Imam, hingga H Sumo.

Kadisbunhut, Nanang Trijoko S. Pun membuka kunci sukses sebagian petani sengon di Probolinggo. Dikatakannya, 1 hektare tanah bisa ditanami 1.600-2.000 batang sengon. “Dalam waktu 5 tahun, pohon sengon bisa dipanen dengan hasil yang menggiurkan, Rp 100-150 juta per hektare,” ujarnya.

Memang di tahun pertama, petani harus menyediakan bibit yang harganya sekitar Rp 500/pohon. “Tetapi uang pembelian bibit itu sudah tertutup dari hasil penjualan batang sengon yang dijarangkan di tahun kedua,” ujarnya.

Menhut Zulkifli Hasan juga mengakui, hutan rakyat bisa mendongkrak perekonomian warga. ”Satu hektare hutan menghasilkan sekitar 700 batang pohon atau setara 200 meter kubik kayu. Kalau harga kayu Rp 400 ribu per meter kubik, petani bisa meraup Rp 80 juta,” ujar menteri dari PAN itu.

Selain sengon, kini petani mulai mengenal dan menanam komoditas pohon lain seperti balsa dan jabon. Dua jenis pohon ini lebih cepat dipanen, hanya butuh waktu 3-4 tahun, hanya harganya sedikit lebih murah dibandingkan sengon yang telah tersebar luas di Probolinggo.

Sumber: http://www.surabayapost.co.id/?mnu=berita&act=view&id=59858d3cfbe53a896f7b5ca41339d0db&jenis=b706835de79a2b4e80506f582af3676a

Jumat, 07 Mei 2010

Sengon Putar Uang Rp 15 M

Kamis, 6 Mei 2010

PROBOLINGGO - Keberadaan hutan rakyat yang sebagian besar didominasi tanaman sengon di lereng Gunung Argopuro, Kab. Probolinggo mendongkrak perekonomian setempat. Bisnis kayu di dua kecamatan, Krucil dan Tiris memutar uang hingga sekitar Rp 15 miliar per bulan.

”Setiap minggu ada perputaran uang Rp 2-5 miliar atau sekitar Rp 15 miliar setiap bulan dari transaksi jual-beli kayu,” ujar Wakil Bupati (Wabup) Probolinggo, Salim Qurays SAg saat menerima Menteri Kehutanan (Menhut) H Zulkifli Hasan SE MM di Desa Kertosuko, Kec. Krucil, Kab. Probolinggo, Rabu (5/5).

Hari itu selain meninjau kawasan hutan rakyat, Menhut juga berdialog dengan warga di halaman kantor Koperasi Serba Usaha (KSU) Alas Makmur KTI di Desa Sukokerto. Menhut juga mengunjungi pabrik pengolahan kayu, PT Kutai Timber Indonesia (KTI) di kawasan pelabuhan Tanjung Tembaga, Kota Probolinggo.

Sejak sekitar 10 tahun silam PT KTI gencar bermitra dengan warga di Probolinggo untuk menanam hutan rakyat. Hal itu terkait penerapan eco-labelling yang melarang pabrik menebangi kayu dari hutan lestari. Menhut juga mengakui, hutan rakyat bisa mendongkrak perekonomian warga. ”Satu hektare hutan menghasilkan sekitar 700 batang pohon atau sekitar 200-300 meter kubik kayu. Kalau harga kayu Rp 500 ribu per meter kubik, petani bisa meraup Rp 100-150 juta,” ujarnya. ”Saya juga mendengar dari Wabup dan Habib Qodir, di sini banyak haji sengon,” ujar Menhut. Tahun ini sebanyak 40 petani sengon dari dua kecamatan, Krucil dan Tiris bakal berangkat haji ke Tanah Suci.

Dengan lahan yang jauh lebih luas, Kemenhut juga menggencarkan hutan tanaman rakyat di luar Jawa. ”Luasnya 5-15 hektare per KK (kepala keluarga). Kalau 1 hektare menghasilkan 200 meter kubik dengan harga Rp 500.000 per meter kubik, berarti petani bisa mendapatkan Rp 1,5 miliar,” ujar Menhut. Kemitraan Terkait kebutuhan kayu yang terus meningkat, kata Menhut, kalangan pabrikan diminta bermitra dengan warga untuk menanam pohon. Dikatakan di Jatim ada dua industri pengolahan kayu, PT KTI di Probolinggo dan Sampoerna Strategic (pabrik kayu lapis di Jombang) yang menggandeng warga untuk menanam hutan rakyat.

Menhut menambahkan, melalui kemitraan petani dan pabrikan sama-sama untung. ”Melalui kemitraan, kalau Jatim butuh kayu harus dicukupi Jatim sendiri, jangan sampai mendatangkan kayu dari Papua,” ujarnya.

Hutan rakyat merupakan solusi agar hutan primer tetap lestari sebagai paru-paru dunia. ”Agar rakyat mau menanam pohon, kami membantu Rp 50 juta per desa untuk membuat kebun bibit. Tahun ini kami menargetkan 8.000 desa se-Indonesia,” ujar Menhut.

Di Probolinggo sendiri, PT KTI menggandeng sekitar 400 petani di 15 desa di dua kecamatan, Krucil dan Tiris. PT KTI menyediakan bibit dan biaya perawatan, sementara warga menyediakan lahan. Kelak sekitar 5 tahun, saat pohon ditebang harus dipasok ke PT KTI.

”Sekarang lahan hutan rakyat di sini sudah sekitar 4.000 hektare,” ujar Habib Abdul Qodir Al Hamid. Ia dikenal sebagai sosok ulama yang merintis dan mengajak warga di lereng Argopuro menanam sengon. Dengan biaya Rp 1,7 juta/hektare, rintisan lahan 257 hektare sengon pada 2003 itu terus berkembang. (isa)

Sumber: http://www.smecda.com/deputi7/BERITA%20KUKM/get8.asp?id=1330

Kamis, 06 Mei 2010

MENHUT AJAK PERUSAHAAN REHABILITASI HUTAN

Written by Rollit Wednesday, 05 May 2010 15:48

Menteri Kehutanan Zulkifli Hasan mengajak semua perusahaan yang telah mengambil keuntungan dari tanah air Indonesia untuk melakukan rehabilitasi hutan.

"Perusahaan perlu merehabilitasi hutan," katanya saat menyerahkan piagam penghargaan Wanalestari kepada PT HM Sampoerna di Pusat Pelatihan Kewirausahaan Sampoerna di Sukorejo, Pasuruan, Jawa Timur, Rabu (5/5).

Dalam kesempatan yang sama Menteri Kehutanan juga menyaksikan penandatanganan nota kesepahaman antara PT HM Sampoerna dengan Dirjen Bina Produksi Kemeterian Kehutanan tetang program penanaman 1 miliar pohon.

Menteri Kehutanan belakangan ini mengaku aktif untuk mengunjungi perusahaan-perusahaan serta bertemu dengan para petani hutan rakyat.

Dia menyebutkan, sebelumnya Menteri Kehutanan telah bertemu dengan Gubernur DKI yang telah berhasil menutup 27 SPBU menjadi lahan terbuka hijau, dan menghutankan kembali padang golf di Taman Impian Jaya Ancol.

Kini Menteri Kehutanan ke Jawa Timur untuk mengunjungi PT HM Sampoerna di Sukorejo, Kabupaten Pasuruan, PT Kutai Timber di Kota Probolinggo, dan melakukan temu wicara dengan petani hutan rakyat di Krucil Kabupaten Probolinggo.

Menteri Kehutanan juga mengungkapkan, dia telah merencanakan untuk mengunjungi perusahaan-perusahaan lainnya di luar Pulau Jawa.

Dia menjelaskan, perusahaan-perusahaan yang akan melakukan rehabiltasi hutan akan diberi lokasi yang bisa dipilihnya.

"Terserah perusahaan akan memilih lokasi rehabilitasinya, apakah di Jawa, atau di luar Jawa," kata Menteri Kehutanan.

Perusahaan-perusahan yang akan melakukan rehabilitasi hutan bisa melaksanakan langsung di lokasi yang telah dipilihnya.

"Perusahaan tidak perlu menyerahkan dana rehabilitasinya ke Kementerian Kehutanan terlebih dulu. Bahkan Kemeterian Kehutanan akan membantu teknis rehabilitasinya," kata Menhut.

Hutan di Indonesia yang kini seluas 130 juta hektar itu kini kondisinya, seluas 43 juta hektar merupakan hutan primer. Namun seluas 48 juta hektar yang merupakan hutan bekas HPH kondisinya compang camping, dan yang seluas 40 juta hektar kini kondisinya tanpa tanaman alias gundul.

"Itu artinya kondisi hutan di Indonesia dalam keadaan kritis," kata Menhut.

Tanda-tanda hutan kritis adalah sering terjadinya bencana alam, seperti banjir, dan tanah longsor. Bahkan yang lebih mengkhawatirkan lagi adala adanya pemanasan global, serta terjadinya perubahan iklim yang makin tidak menentu.

Menteri Kehutanan lebih lanjut mengingatkan, dengan terjadinya pemanasan global dan perubahan iklim yang tidak menentu bakal berdampak pula bisa menimbulkan terjadinya kelangkaan pangan dan keguncangan.

Indonesia dengan inisitaif sendiri telah memprogramkan untuk menurunkan emisi rumah kaca mencapai 26% hingga pada tahun 2020. Namun, lanjut menhut, jika International Community bersedia membantunya, maka penurunan emisi rumah kaca bisa mencapai 31 persen.

Untuk mengatasi kondisi hutan kritis tersebut, lanjut Menhut, Kementerian Kehutanan mempunyai program, yakni penegakan hukum, dan rehabilitasi hutan.

Dia mengatakan penegakan hukum akan dilakukan terhadap para pelaku pembalakan liar (ilegal loging), serta perambahan hutan, yakni mengubah hutan menjadi kebun, atau pertambangan.

Sedangkan program rehabilitasi, kata Menhut, Kementerian Kehutanan akan terus melakukan penanaman pohon terhadap hutan-hutan yang kondisi kritis dan sangat luas tersebut.

Dia mengatakan, selain target program penanaman 1 miliar pohon yang telah dibiayai APBN, Kementerian Kehutanan juga telah memprogramkan kegiatan kebun bibit rakyat yang dibiayai APBN-P sebesar Rp 670 miliar.

"Bagi Kelompok Tani Kebun Bibit yang telah mempunyai 50 ribu batang bibit tanaman, maka Kementerian Kehutanan akan membantu dana sebesar Rp 50 juta," kata Menhut.(KR-MSW).

Sumber: http://www.automotive.id.finroll.com/car-biz/34278-menhut-ajak-perusahaan-rehabilitasi-hutan.html

Hutan Rakyat

Foto
Menhut Zulkifli Hasan (kiri) memperhatikan pohon Balsa berusia 2 tahun ketika mengunjungi hutan rakyat Desa Kruchil, Probolinggo, Jatim, Rabu (5/5). Hutan yang ditanam oleh masyarakat tersebut selain menjaga konservasi tanah dan air juga memberi kemakmuran penduduk setempat.

(saptono/antara/nbc/jie)

Sumber: http://www.nonblok.com/blokfoto/nasional/20100506/15179/hutan.rakyat


[ Kamis, 06 Mei 2010 ]
Menhut Kunjungi Krucil dan KTI
Kampanyekan Hutan Rakyat

PROBOLINGGO-Menteri Kehutanan (Menhut) RI Zulkifli Hasan kemarin berkunjung ke Probolinggo. Ia melihat-lihat hutan rakyat di Dusun Jranjang, Desa Kertosuko, Krucil, Kabupaten Probolinggo dan bertandang ke PT Kutai Timber Indonesia (KTI) di Kota Probolinggo.

Menhut pertama kali mengunjungi hutan rakyat milik koperasi serba usaha Alas Mandiri di Krucil. Di situ Menhut ditemani Wakil Bupati Salim Qurays, penasihat koperasi Habib Abdul Qodir Al Hamid, ketua KSU yang juga wakil ketua DPRD Abdul Manap dan Kapolres Ai Afriandi.

Menhut memuji terobosan hutan rakyat yang dikembangkan di Krucil. Sebab, hutan rakyat yang ditanami aneka jenis pohon seperti sengon dan balsa itu tak hanya berfungsi melestarikan lingkungan, tapi juga berpotensi meningkatkan ekonomi masyarakat.

"Sekarang coba bayangkan, 1 Ha (hektare) berisi 500 sampai 700 batang. Perkiraanya 1 Ha sama dengan 200 kubik. Kalau harganya Rp 400-500 ribu, maka 1 Ha sudah dapat Rp 80 juta. Kalau tiap rakyat punya 5 Ha saja maka sudah punya ratusan juta saja," kata menteri yang diberangkatkan dari PAN tersebut.

Namun untuk mengembangkan pohon seperti sengon dan balsa dibutuhkan kesabaran. Sebab baru bisa dipanen sekitar 5-6 tahun. Namun dalam jangka 1-4 tahun ladang untuk hutan rakyat tersebut yang masih kosong juga masih bisa dimanfaatkan untuk tanaman lain seperti jagung.

Menhut menjelaskan di luar Jawa saat ini ada program hutan tanam rakyat yang luasnya 5-15 Ha untuk setiap kelompok. "Kami juga ada program bibit untuk rakyat yang per desa dapat bantuan 50 juta bibit. Tahun ini ada 8 ribu desa yang dapat bantuan," terang Menhut.

Bila suatu daerah sudah menjalin kerja sama dengan pihak lain dalam hal pembibitan seperti yang sudah terjadi di Desa Kertosuko yang kerjasama dengan KTI (Kutai Timber Indonesia), pemerintah juga menyiapkan bantuan lain.

Yakni bantuan penanaman dan pemeliharaan tanaman tersebut. Caranya, tiap kelompok tani mengajukan permohonan bantuannya ke dinas kehutanan setempat. Tetapi bantuan ini terbatas. "Yang penting bantuannya tidak dikorupsi oleh pihak manapun," tegasnya.

Menhut menjelaskan, adanya hutan rakyat tersebut juga diharapkan mampu mengatasi masalah illegal logging. "Yang dimanfaatkan cukup hutan rakyat saja. Untuk hutan alam akan tetap dirawat itu untuk paru-paru dunia," bebernya.

Setelah dari Krucil Menhut Zulkifli Hasan berkunjung ke KTI. Di situ Menhut ditemui Wali Kota Probolinggo Buchori, Dirut PT KTI Takaaki Ono, GM Administrasi dan Finance Matshusita dan Direktur Muda Capt Sain Latief dan jajaran pejabat muspida.

Saat itu Buchori menyampaikan bahwa pemkot punya banyak penghargaan dari Kementerian Kehutanan. Pemkot juga concern dalam program hutan kota di masing-masing kelurahan, kecamatan, perkantoran dan sekolah/pondok pesantren.

Sementara itu, Takaaki Ono juga memberikan sambutan. Ia menjelaskan bahwa industri PT KTI bergerak untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Atas sambutan berbahasa Indonesia yang dibawakannya, Ono mendapat tepuk tangan hangat dari Menhut.

Menhut Zulkifli sempat terkejut ketika tahu Buchori dulu bekerja di KTI. "Rupanya alumni KTI, pantes kok agak familiar. Dua puluh enam tahun ya? Wah lamaan kerja di sini dari pada jadi wali kota," cetusnya disambut tawa hadirin.

Di KTI Menhut bercerita, di Krucil sangat bagus dan luar biasa. Menurutnya, Indonesia patut bersyukur karena berada di garis khatulistiwa. Karena bibit pohon sengon usia 6 tahun sudah bisa ditebang, coba kalau di Jepang, enam bulan di sana masih jadi bibit. "Makanya mereka ke sini," cetusnya.

Tidak mudah membangkitkan kesadaran kepentingan lingkungan yang lestari. Kementerian kehutanan punya program kebun bibit rakyat, kementerian akan memberikan bantuan kepada kelompok masyarakat yang punya bibit. Setiap kelompok akan mendapat bantuan Rp 50 juta untuk proses penyemaiannya.

Program itu diadakan supaya masyarakat punya kesadaran yang tinggi. Hutan primer harus dilindungi. Ke depannya, diharapkan semua kebutuhan kayu di pulau Jawa bisa dipenuhi oleh Jawa, jadi tidak perlu mencari ke daerah lain sampai ke Kalimantan. Jika mengambil di pulau lain harganya lebih mahal, hutan rusak dan Indonesia menjadi perhatian dunia.

Oleh sebab itu industri harus diambil dari tanaman rakyat. Zulkfilki pun menyampaikan jika pemkot punya lahan maka kementerian kehutanan siap membiayai. Ia menyarankan seluruh wali kota dan bupati punya hutan kota. Nah, itulah yang sudah dilaksanakan oleh pemkot setempat.

KTI sudah menerima penghargaan setelah menyumbang ribuan bibit. "Tahun ini harus dapat emas (penghargaan), sediakan 10 juta bibit. Kalau bisa, izin HTI di Kalbar bisa agak dipercepat," tantang Menhut. (mie/fa/nyo)

Sumber: http://www.jawapos.co.id/radar/index.php?act=detail&rid=156807

Izin Pengolahan Kayu Dipermudah

Masyarakat Lebih Memilih Tanam Sengon

Kamis, 6 Mei 2010 | 04:13 WIB

Probolinggo, Kompas - Kementerian Kehutanan kini lebih memprioritaskan penerbitan izin usaha kehutanan oleh rakyat, terutama mereka yang tinggal di sekitar hutan. Perusahaan yang berminat mereboisasi atau merestorasi hutan juga mendapat prioritas dari pemerintah.

Demikian disampaikan Menteri Kehutanan Zulkifli Hasan dalam dialog dengan petani hutan di Desa Kertosuko, Krucil, Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur, Rabu (5/5).

Zulkifli didampingi Direktur Jenderal Bina Produksi Kehutanan Hadi Daryanto serta Direktur Jenderal Rehabilitasi Lahan dan Perhutanan Sosial Indriastuti.

”Kalau dulu pengusaha lebih dulu mendapatkan izin kehutanan, kini tidak. Kementerian Kehutanan akan memproses izin kehutanan untuk rakyat dulu, baru kemudian pengusaha,” ujar Menhut di hadapan para petani hutan.

Menhut memuji komitmen masyarakat Probolinggo yang sudah sadar akan efek ekonomi komoditas kayu.

Seusai menandatangani nota kesepahaman kerja sama bantuan bibit untuk reboisasi hutan di Pulau Jawa dengan manajemen PT HM Sampoerna di Pasuruan, Menhut dan rombongan terbang ke Probolinggo.

Sejak memasuki Kabupaten Probolinggo, hampir seluruh sawah mulai beralih menjadi kebun sengon. Masyarakat kini berminat menanam sengon yang laku dijual Rp 700.000-Rp 800.000 per meter kubik.

Itu dilakukan karena memang lebih menguntungkan daripada menanam padi.

Pohon tumbuh

Menurut Habib Abdul Kadir Al Hamid, tokoh masyarakat Desa Kertosuko, Kecamatan Krucil, petani sengon bisa mendapat sedikitnya Rp 100 juta per hektar dari panen kayu setelah lima tahun.

Selama belum panen, mereka bisa beternak kambing dan menanam palawija tumpang sari dengan sengon.

Minat masyarakat menanam pohon tumbuh berkat kehadiran industri pengolahan kayu PT Kutai Timber Indonesia, salah satu perusahaan kelompok usaha Sumitomo dari Jepang.

Presiden Direktur PT Kutai Timber Indonesia Taknaki Ono mengatakan, mereka berusaha membina masyarakat yang dapat memasok bahan baku bagi perusahaan.

Zulkifli menyatakan, industri yang melakukan pembinaan hutan rakyat akan mendapat berbagai kemudahan dalam perizinan.

”Bagi mereka yang mendorong peningkatan pengelolaan hutan rakyat, Kementerian Kehutanan akan memberikan kemudahan dalam proses perizinan,” katanya.

Hadi Daryanto menambahkan, kemudahan-kemudahan yang sudah diberikan bagi industri yang membina hutan rakyat di antaranya kebebasan untuk tidak menggunakan faktur cetak untuk angkutan kayu industri.

”Mereka juga dipermudah, untuk perluasan industrinya, tidak perlu ke kementerian lagi, tetapi cukup ke dinas kehutanan setempat,” katanya.

Zulkifli juga menginformasikan program terbaru Kementerian Kehutanan, yakni kebun bibit rakyat.

Kelompok-kelompok tani dapat memperoleh bantuan uang tunai senilai Rp 50 juta per kelompok jika memiliki 50.000 bibit tanaman apa saja untuk disemai.

Program ini bertujuan memacu pembangunan kebun bibit rakyat hingga 8.000 unit dengan anggaran Rp 400 miliar.

Berdasarkan data Kementerian Kehutanan, pemanfaatan kayu rakyat oleh industri kehutanan terus meningkat. Pada 2008 pemanfaatan kayu rakyat oleh industri pengolahan 2,01 juta meter kubik (m) atau 6,07 persen dari total pemanfaatan bahan baku kayu nasional 33,2 juta m.

Jumlah kayu rakyat yang dimanfaatkan naik pada tahun 2009 menjadi 3,2 juta m atau 9,25 persen dari pemanfaatan bahan baku kayu nasional yang sebesar 34,6 juta m.

Berdasarkan Rencana Pemenuhan Bahan Baku Industri, tahun ini pemanfaatan kayu rakyat direncanakan 3,8 juta m atau 11,76 persen dari rencana pemanfaatan bahan baku kayu sebanyak 33,06 juta m. (ham)

Sumber: http://cetak.kompas.com/read/xml/2010/05/06/04133816/izin.pengolahan.kayu..dipermudah


Heli Menhut Tersesat

Kamis, 6 Mei 2010 | 07:45 WIB

Lamongan - Surya- Helikopter yang ditumpangi Menteri Kehutanan Zulkifli Hasan dan rombongan terpaksa mendarat di salah satu desa di Kabupaten Jombang, Rabu (5/5), akibat koordinat tujuan tidak diberikan dengan benar.

Sebelumnya Menhut mengunjungi dua titik untuk melihat pengelolaan hutan yang melibatkan perusahaan besar dan masyarakat. Menhut tengah menuju ke Desa Sambeng di Lamongan untuk melihat hutan masyarakat desa binaan Perum Perhutani.

Informasi yang diperoleh Kompas.com, helikopter sebelumnya terbang berputar-putar mencari tempat mendarat yang aman karena tidak melihat titik pendaratan apa pun.

“Kami sempat mendarat di halaman sekolah untuk bertanya ke penduduk sekitar. Setelah hampir satu jam, helikopter Menhut berangkat kembali menuju koordinat terakhir yang dilaporkan panitia acara dari Perhutani,” kata salah seorang rombongan menteri.

Akibatnya, kunjungan Zulkifli ke Lamongan sempat tertunda sekitar satu jam. Sedianya menhut tiba di Sambeng pukul 14.30, tapi molor hingga pukul 15.30.

Dalam pertemuan dengan para anggota Lembaga Masyarakat Desa Hutan (LMDH) di Pendapa Kecamatan Sambeng, Lamongan, Zulkifli mengatakan, program kebun bibit rakyat yang digagas oleh departemen kehutanan mulai dikampanyekan.

Sebelumnya, dalam kunjungan ke Probolinggo, Zulkifli sempat terkejut mengetahui perputaran uang kayu sengon dan sejenisnya di Kecamatan Krucil, Kabupaten Probolinggo bisa menembus angka Rp 15 miliar per bulan.

Angka tersebut, dilontarkan Wakil Bupati Probolinggo Salim Qurays, melalui pengeras suara di depan menteri, puluhan undangan muspida dan ratusan warga di Koperasi Alas Mandiri KTI, Desa Kertosuko, Kecamatan Krucil, Rabu (5/5).

Perputaran uang yang cukup fantastis itu, lantaran di Kecamatan Krucil, terdapat sedikitnya 12.000 hektare lahan yang ditanami kayu Sengon dan sejenisnya seperti Kayu Balsa dan Jabon. Tiap kibik kayu sengon milik warga, bisa laku terjual hingga Rp 400.000. “Bahkan di sini, rata-rata sudah punya sepeda motor, mobil juga sudah banyak, termasuk naik haji gara-gara sengon,” ujar Salim Qurays. n iit/tiq

Sumber: http://www.surya.co.id/2010/05/06/heli-menhut-tersesat.html