Tampilkan postingan dengan label Sosial. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sosial. Tampilkan semua postingan

Senin, 22 November 2010

Touring Sekaligus Pengobatan Gratis

Minggu, 21 Nopember 2010 | 10:22 WIB

SURABAYA, Blazer Indonesia Comunity (BIC) Jatim dan Lions Club Surabaya, Sabtu (20/11), menggelar bakti sosial di Probolinggo.

Bakti sosial tersebut berupa pengobatan gratis kepada masyarakat di sekitar Dusun Angin-angin Desa Ranugedang, Kecamatan Tiris, Probolingo. Sekitar 105 warga desa terlihat antusias mengikuti kegiatan yang merupakan kerja sama pertama yang diselenggarakan BIC dengan Lions dengan melibatkan tim dokter dari Poliklinik Sehat Utama Gresik.

“Untuk tahun ini merupakan agenda touring kedelapan BIC Jatim. Sebelumnya kami ke Malang juga berupa baksos di panti asuhan,” kata Himawan Wibhisono, ketua BIC Jatim.

Menurutnya, budaya di BIC jika melakukan aktivitas memang lebih banyak ke luar Kota Surabaya. Oleh karena itu, pada aksi sosial kali ini, mereka memilih ke Probolinggo.

“Meskipun saat kami touring bertujuan fun, kami juga ingin bermanfaat untuk sesama,” tambahnya.

Sumber: http://www.surya.co.id/2010/11/21/touring-sekaligus-pengobatan-gratis.html

Si Gendut Curi dan Perkosa Lagi

Selasa, 16 Nopember 2010 | 09:53 WIB

Probolinggo -SURYA- Pria gendut yang telah memperkosa Umi Kulsum, 20, dan menjarah harta benda di rumah yang ditempatinya di Jl Lumajang Kel Jrebeng Lor, Kedopok, beberapa waktu lalu, diduga beraksi lagi. Kali ini yang jadi korban adalah Sk, warga RW 4, Kel Kebonsari Wetan, Kec Kanigaran, Kota Probolinggo.

Beruntung, dalam kejadian Senin (15/11) dini hari itu, Sk berhasil melarikan diri. Siswa SMK di Kota Probolinggo ini trauma dengan kejadian yang menimpanya. Ibu korban, Ny Maysaroh, warga Kel Jrebeng Wetan, Kedopok, mengetahui anaknya nyaris diperkosa setelah dikabari Maryam, anaknya yang tinggal bersama Sk.

Sekitar pukul 02.00 WIB, Sk diancam celurit pria gendut. Dengan lengan dan kaki terikat tali sepatu, Sk digotong ke persawahan, yang jaraknya sekitar 1.000 meter di belakang tempat tinggal Sk. Korban ditidurkan di alas yang telah disiapkan pelaku. Korban kabur setelah menggigit pelaku. Pelaku merampas uang Rp 600.000 dan tiga ponsel korban. n st35.

Sumber: http://www.surya.co.id/2010/11/16/si-gendut-curi-dan-perkosa-lagi.html

Kran Air Membawa Maut

Tim Buser SCTV

19/11/2010 23:13 | Buser File
Liputan6.com, Probolinggo: Sesosok mayat bersimbah darah tergeletak di depan sebuah puskesmas Kecamatan Kanigaran, Probolinggo, Jawa Timur. Luka bacok tampak di bagian kepala dan leher korban yang diketahui bernama Jupri. Ceceran darah segar juga menempel di sepeda milik korban.

Bahkan potongan jari korban ditemukan tak jauh dari jasadnya. Kuat dugaan, korban sempat melawan saat akan dihabisi oleh pelaku. Garis polisi pun dibentangkan untuk mengamankan tempat kejadian perkara yang terus dikerumuni warga. Dari keterangan sejumlah saksi, polisi mengarah pada sebuah nama yang diduga sebagai pelaku.

Untuk memastikan penyebab pasti kematian korban, polisi membawa jasad korban ke Rumah Sakit Umum Daerah doktor Muhammad Saleh. Sedangkan sepeda ontel milik korban yang bersimbah darah dibawa ke Mapolresta Probolinggo untuk dijadikan sebagai barang bukti.

Hanya memerlukan waktu empat jam, polisi memebekuk Kabul, warga Kelurahan Curah Grinting. Dari pemeriksaan sejumlah saksi dan beberapa barang bukti, Kabul diduga kuat membunuh Jupri yang tak lain teman kerjanya sendiri.

Kabul ditangkap saat hendak melarikan diri di sebuah ladang jagung dekat rumahnya. Penagkapan tersangka berawal saat seluruh anggota polisi menutup semua akses jalan di sekitar TKP. Kepada polisi tersangka mengaku tega membunuh karena sakit hati dengan perkataan korban.

Di mata keluarganya, korban adalah sosok bapak yang baik dan suka bergaul dengan tetangga sekitarnya. Keluarga tak menyangka, Kabul yang justru dibantu korban untuk mendapatkan pekerjaan malah tega membunuhnya.

Di peternakan ayam milik Haji Imam Asyari, Jupri semasa hidupnya mencari sesuap nasi untuk memenuhi kebutuhan keluarganya. Dengan hanya mendapatkan upah Rp 22.500 per harinya, Jupri menghabiskan waktu 20 tahun terakhirnya dengan bekerja sebagai petugas kebersihan kandang ayam.

Adapun pemicu pembunuhan sadis adalah sebuah kran air. Dari reka ulang diketahui, sebelum pembunuhan terjadi, tersangka sempat terlibat cekcok dengan korban. Diduga motif pembunuhan ini karena tersangka dan korban berebut air untuk membersihkan kandang ayam.

Teguran korban yang meminta tersangka agar mematikan kran miliknya rupanya memancing emosi tersangka. Kabul pun langsung pulang dan mengambil sebilah celurit kemudian menunggu korban di ujung jalan.

Begitu melihat kedatangan korban yang baru pulang bekerja, tanpa basa basi tersangka langsung menyabetkan celurit ke tubuh korban. Namun karena korban sempat melawan, jari tangan korban terkena celurit yang dibawa tersangka hingga putus. Korban pun terkapar dan tewas di tempat kejadian.(JUM)

Sumber: http://buser.liputan6.com/berita/201011/307416/Kran.Air.Membawa.Maut

Kamis, 04 November 2010

Bedah Rumah Bakal Digarap Sendiri

Kamis, 4 Nopember 2010 | 11:11 WIB

PROBOLINGGO - Program perbaikan rumah keluarga miskin (gakin) di Kota Probolinggo yang dikerjakan rekanan menyisakan sejumlah masalah terutama kualitas bangunan. Karena itu, program bedah rumah pada 2011 yang bakal menelan biaya sekitar Rp 1 miliar diusulkan dikerjakan sendiri oleh pemilik rumah.

’’Kami baru saja pulang dari studi banding di Bogor dan Jakarta. Di sana, program bedah rumah warga miskin dikerjakan sendiri oleh pemilik rumah, ternyata hasilnya lebih bagus,” ujar Ketua Komisi C DPRD Kota Probolinggo, Nasution, Rabu (3/11).

Caranya, warga miskin diberi uang yang harus dibelanjakan untuk membeli material bangunan dan bayar tukang. “Proses bedah rumah dikontrol kelompok kerja yang dibentuk lurah. Pokja juga membantu administrasi penggunaan uang, contohnya SPJ pembelian material,” ujar politisi PDIP itu.

Program bedah rumah di Bogor dan Jakarta, kata Nasution, juga melibatkan sejumlah perusahaan swasta. “Perusahaan semen misalnya, banyak membantu semen untuk rehab rumah,” ujarnya.

Diakui baik di Bogor dan Jakarta, maupun di Probolinggo anggaran bedah rumah pun dikenai Pajak Pertambahan Nilai (PPN) sebesar 10%. “Namanya pajak, ya secara nasional berlaku,” ujarnya.

Terkait program bedah rumah di Kota Probolinggo, Komisi C telah melakukan investigasi di lapangan sekaligus evaluasi. “Terus terang program bedah rumah di Kota Probolinggo hasilnya di sana-sini masih banyak kekurangan, terutama menyangkut kualitas bangunan,” ujar Nasution.

Saat Komisi C melakukan sidak di lapangan misalnya, dijumpai rumah warga miskin itu masih kurang layak meskipun sudah diperbaiki. Di antara penyebabnya karena program bedah rumah dengan anggaran Rp 10 juta/rumah itu dikerjakan pihak ketiga (rekanan).

“Ya bayangkan saja uang Rp 10 juta dipotong PPN 10%, belum lagi rekanan kan mencari keuntungan. Akhirnya yang benar-benar digunakan untuk rehab rumah warga miskin ya sedikit,” ujar Nasution.

Saat sidak pun Komisi C menemukan sejumlah rumah yang kurang layak huni. Nasution sampai menegur konsultan karena rumah yang telah direhab kurang layak. “Mosok ada rumah yang kayu usuknya melengkung, apa tidak membahayakan penghuninya kalau atapnya sampai ambruk,” ujarnya.

Setelah melakukan studi banding di Bogor dan Jakarta, 25-28 Oktober lalu, Komisi C bakal merekomendasikan program bedah rumah pada 2011 dikerjakan sendiri oleh pemilik rumah. “Kalau uang Rp 10 juta (dipotong PPN 10%, Red.) diberikan ke pemilik rumah, tidak mungkin ia membeli semen di-mark-up, wong untuk rumahnya sendiri.”

Seperti diketahui pada 2010 ini APBD mematok anggaran Rp 1 miliar untuk merehab 100 rumah warga miskin. “Melalui PAK (perubahan anggaran keuangan, Red.) menjadi Rp 1 miliar lebih,” ujar Nasution.

Proyek bedah rumah sebanyak 100 unit memang ditangani Badan Pemberdayaa Masyarakat (Bapemas) Kota Probolinggo. Selain Bapemas, sejumlah instansi di lingkungan Pemkot Probolinggo juga menggelindingkan program serupa.

Pada 2010 misalnya, 300 unit rumah tidak layak huni berhasil “dikeroyok” sejumlah instansi di Pemkot Probolinggo. Jumlah rumah tidak layak huni mencapai sekitar 1.300 unit. “Sebanyak 1.000 unit diperbaiki Pemprov Jatim, yang pelaksananya dilakukan Kodim 0820 Probolinggo,” ujar Kepala Bapemas Soeparjono. Sementara sisanya yang 300 unit dituntaskan Pemkot Probolinggo. isa

Sumber: http://www.surabayapost.co.id/?mnu=berita&act=view&id=ce8876fe932017096a05c309cbb803c5&jenis=1679091c5a880faf6fb5e6087eb1b2dc

Selasa, 02 November 2010

Daging Kurban Tahan Sampai Tiga Tahun

Selasa, 2 November 2010
KORNET KURBAN
KORNET KURBAN – Ratna dari Rumah Zakat menunjukkan daging kurban yang sudah dibuat kornet dan dikemas dalam kaleng bentuk kaleng dengan nama Superqurban.

MENJELANG Iduladha, penjualan hewan kurban dipastikan akan meningkat. Di beberapa tempat di Kota Bandung, kita misalnya bisa dengan mudah menemukan penjual kambing, domba, dan sapi. Pada saatnya nanti, hewan-hewan kurban ini akan disembelih dan dagingnya didistribusikan kepada mereka yang berhak menerimanya. Penjualan hewan kurban dan penyembelihan yang marak, menjadi pemandangan yang biasa pada hari raya Iduladha.

Ironisnya masih banyak orang-orang yang seharusnya wajib diberi kurban, malah justru tidak menerima yang menjadi hak mereka. Hal ini menjadi pemikiran Rumah Zakat untuk menampung serta mendistribusikan daging kurban secara adil dan merata. Hasilnya, Rumah Zakat meluncurkan Superqurban pada tahun 2000.

Banyaknya titipan zakat yang diterima, membuat Rumah Zakat sampai harus bekerja sama dengan pemerintah Australia dalam pengadaan ternak kambing dan sapi. Tidak tanggung-tanggung sebanyak lima ribu ekor hewan kurban disiapkan.

Regional Head Jabar Rumah Zakat Asep Nurdin mengatakan, kerja sama dengan pemerintah Australia didorong kenyataan pada saat itu Indonesia bisa menyediakan hewan kurban yang dikemas dalam bentuk kaleng yang sudah menjadi daging olahan siap makan.

"Selama lima tahun kita bekerja sama dengan Australia dalam pengadaan daging kurban siap makan ini," ujar Asep saat ditemui di Rumah Zakat Jalan Turangga 33 Bandung, Senin (1/11).

Berbeda dengan daging kurban yang dibagikan di kampung-kampung biasanya, Superqurban ini bisa tahan hingga tiga tahun. Dengan memanfaatkan teknologi pengolahan yang canggih, kata Asep, daging kurban lebih bernilai tambah, masa penyaluran lebih panjang, dan lebih banyak yang terbahagiakan.

Asep mengatakan, saat ini pabrik pengolahan daging kurban berbentuk kornet ini ada di Probolinggo, Jawa Timur.

"Lima tahun terakhir, kita mengolah di Indonesia. Selama sepuluh tahun sudah kita salurkan dari Sabang sampai Merauke terutama ke lokasi bencana," katanya.

Dikatakan Asep, hewan kurban yang dijual di Rumah Zakat ada dua jenis. Kambing dipatok harga Rp 1,1 juta dan sapi Rp 9,95 juta. Hal itu sudah termasuk biaya pengemasan hingga menjadi kornet.

Dengan dikemas dalam kaleng, daging yang berlebih ini tidak akan mubazir karena bisa tahan lama. Buktinya daging kurban tahun 2009, kini didistribusikan kepada pengungsi bencana Merapi, Mentawai, dan Wasior. Sebanyak 3.500 daging kemasan telah didistribusikan ketiga daerah tersebut.

"Jadi manfaat tidak hanya hari itu saja tapi tahan hingga tiga tahun, rasanya dijamin enak karena tidak memakai bahan pengawet tapi dipanaskan dalam suhu yang tinggi. Dikonsumsi langsung pun bisa," ujar Asep.

Dari sisi syariah, kata Asep, pengemasan daging kurban merujuk hadis Aisyah Rodiallohuanhu yang diriwayatkan Bukhari Muslim bahwa Rosullullah Saw sempat menyuruh mengawetkan daging kurban untuk perjalanan yang jauh.

Superqurban kini dikembangkan di wilayah Sumatera, Medan, dan Jakarta. Bagi ingin berkurban lewat Rumah Zakat, bisa datang langsung ke Jalan Turangga 33 Bandung atau SMS Centre 081573001555 dan Call Centre 08041001000. (fam)

Sumber: http://www.tribunjabar.co.id/read/artikel/33278/daging-kurban-tahan-sampai-tiga-tahun

Kamis, 28 Oktober 2010

Ny. Hartatik Berharap Ada Keajaiban

Kamis, 28 Oktober 2010

Probolinggo - Surya- Hanya keajaiban yang bisa menolong Ny Hartatik, 33, warga RT 2/RW 3 Dusun Krajan, Desa Leces, Kec Leces, Kab Probolinggo, ini dari penderitaan. Tumor di wajah janda beranak satu ini dari hari ke hari semakin membesar.

Belasan tahun lalu, sebelum suami, Satroyon Hartono, meninggal, ia masih punya tempat berharap. Kini, ia tak bisa berbuat banyak. Untuk memenuhi kebutuhan makan sehari-hari saja susah. Sawah orang tua dan kambing bantuan pemkab habis dijual untuk berobat ke dokter maupun ke pengobatan alternatif. Ia nyaris putus asa. Bahkan, pernah mencoba bunuh diri. Beruntung masih banyak sanak saudara yang menghibur.

Penyakit itu diderita sejak SMP. Semula ia menganggap sakit gigi. “Setelah dioperasi, empat gigi saya dicopot dan langit-langit saya juga dioperasi. Sekarang saya tidak punya langit-langit,” ungkapnya. Namun, anggapan itu meleset. Ternyata itu tumor ganas yang kini sudah sebesar kepala bayi.

Didampingi ibu dan adik bungsu, Ny Hartatik menceritakan, upaya penyembuhan sudah dilakukan ke puskesmas, RS, dokter, tabib, dan orang pintar, baik di Probolinggo, Malang, Bondowoso, Kediri, sampai Banyuwangi. Namun, semua tak membuahkan hasil. Bahkan, ia pernah dioperasi di RS Patrang dengan biaya sendiri.

Surya memberitahukan penderitaan Ny Hartatik ini kepada Ketua Koordinator Kegiatan Kesejahteraan Sosial (K3S) Pemkab Probolinggo Ny Tantri Hasan Aminuddin di sela-sela kegiatan tasyakuran penutupan manasik haji. Perempuan berparas cantik ini tersentak kaget. “Saya baru dengar ini. Kami akan upayakan pengobatan gratis,” katanya. ntiq/st35

Sumber: http://www.surya.co.id/2010/10/28/ny-hartatik-berharap-ada-keajaiban.html

Rabu, 27 Oktober 2010

Murahnya Briket Serbuk Kayu

Rabu, 27 Oktober 2010 | 11:21 WIB

PROBOLINGGO - Meski konversi minyak tanah (mitan) ke elpiji telah digelindingkan tidak menutup kemungkinan warga menggunakan bahan bakar alternatif. Salah satu bahan bakar yang murah dan aman untuk memasak adalah serbuk kayu dan serbuk arang kayu.

“Serbuk kayu harganya murah bahkan sering dibuang dan dibakar. Padahal bisa disulap menjadi briket untuk memasak,” ujar Fitriawati SSos MM, kepala UPT Informasi dan Pendidikan Lingkungan Hidup (IPLH) pada Badan Lingkungan Hidup (BLH) Kota Probolinggo.

Ditemui di sela-sela pelatihan kepada 100 pedagang makanan-minuman dan kader lingkungan di Taman Wisata dan Studi Lingkungan (TWSL), Selasa (26/10), Fitri menunjukkan cara membuat briket. Bahannya sangat murah, serbuk kayu, lem kanji (dari tapioka), cetakan dari pipa PVC ukuran 1 dim (inchi) sepanjang 10 Cm.

Serbuk kayu yang dicampur dengan lem kemudian dicetak, mirip orang membuat kue puthu. “Setelah itu, briket berbentuk silinder itu dijemur di terik matahari, sudah bisa digunakan memasak,” ujar Fitri.

Diakui kompor yang digunakan untuk memasak memang berbeda dengan kompor minyak tanah. Cara kerja kompor briket serbuk kayu itu mirip anglo. “Agar mudah menyalakan, briket direndam dalam minyak tanah atau spiritus,” ujar Puguh Priyosudibyo, narasumber pelatihan.

Selain dari serbuk kayu, briket bisa dibuat dari serbuk arang kayu. “Arang serbuk kayu dibuat dengan pembakaran tidak sempurna terhadap serbuk kayu,” ujar Puguh.

Puguh menunjukkan alat sederhana untuk membakar arang yang terbuat dari blek (kaleng) bekas biskuit. Serbuk kayu dimasukkan dalam blek yang dindingnya dilubangi dengan paku.

Saat serbuk kayu mulai terbakar, lubang-lubang pada dinding blek ditutup rapat. Maka jadilah arang serbuk kayu yang siap diolah menjadi briket serbuk arang. “Panas yang dihasilkan briket biorang lebih tinggi dibandingkan kayu bakar biasa dan nilai kalornya mencapai 5.000,” ujar Puguh.

Sebagai perbandingan, kayu kering menghasilkan panas 4.491,2 kalor/gram dan batubara muda (lignit) 1.887,3. Sementara batubara 6.999,5, minyak bumi (mentah) 10.081,2, bahan bakar minyak 1.0224,6, dan gas alam 9.722.9.

Dibandingkan minyak tanah non-subsudi yang harganya Rp 7.500-8.000 per liter, briket serbuk kayu jauh lebih murah. “Soalnya serbuk kayu dapat diperoleh secara gratis, kalau harus beli, satu sak hanya Rp 7.000,” ujar Puguh.

Satu sak serbuk kayu bisa menjadi ratusan potong briket. “Sebanyak 8-10 potong briket bisa digunakan untuk memasak hingga 4 jam, irit kan,” ujarnya. Puguh mengakui, briket serbuk kayu masih menimbulkan asap. “Kalau ingin asapnya sedikit, ya gunakan briket serbuk arang,” ujarnya.

Sejumlah peserta pelatihan mengaku bakal menggunakan briket serbuk kayu untuk memasak. “Briket serbuk kayu murah untuk menghangatkan bakso yang saya jual,” ujar seorang pedagang bakso keliling. isa

Sumber: http://www.surabayapost.co.id/?mnu=berita&act=view&id=cdfe15852928efe3af0421fd3921b42c&jenis=1679091c5a880faf6fb5e6087eb1b2dc

Suami Riska Tewas, Bayinya yang Mirip Almarhum Jadi Pelipur Lara

Rabu, 27 Oktober 2010 | 10:36 WIB

Oleh Iksan Mahmudi

Banjir bandang di Wasior, Papua Barat, 4-6 Oktober lalu juga menghancurkan impian Abdullah dan keponakannya, Riska Yuni Rahmawati (25). Masa depan yang mereka bangun berantakan.

MERANTAU di Wasior sejak Oktober 2009, Abdullah sebenarnya sudah punya tabungan Rp 18,7 juta. Namun tabungan hasil ngojek yang dia kumpulkan berbulan-bulan itu ditelah air bah. ’’Motor saya ada dua, satu selamat, satu lagi hanyut,” ujarnya.

Abdullah bersama eks perantau Probolinggo yang kembali dari Wasior, Senin (25/1), berkumpul di rumah Agus Sudarsono (51), warga RT 05/RW 02, Dusun Triwung, Desa Warujinggo, Kec Leces. Agus adalah orang yang dituakan dalam kelompok perantau itu karena dialah yang mengajak mereka ke Wasior.

Termasuk yang ikut kumpul-kumpul adalah Riska Yuni Rahmawati, keponakan Agus. Dia mengaku tidak bisa melupakan banjir Wasior. Suaminya, Karel Paulus, seorang polisi, menjadi korban banjir dan meninggal dalam perawatan di rumah sakit.

Anak semata wayangnya, Kevin Karel Rumadas (8 bulan) menjadi satu-satunya penghibur. “Anak saya fisiknya persis ayahnya yang memang asli Papua,” ujar Riska sambil menggendong bayinya.

Sementara itu kedua orangtua Riski, Rahmad dan Elly, keponakan Riska, hingga kini tetap bertahan di Wasior. “Mas Rahmad, kakak kandung saya, sengaja tidak pulang ke Probolinggo karena menunggu harta benda yang tersisa,” ujar Lilik.

Selama bekerja di Wasior, para pekerja ini tinggal di rumah kontrakan. “Di sana biaya hidup mahal, rumah petak kontrakan Rp 400 ribu per bulan,” ujar Rudi Sudarsono, mantan perantau di Wasior lainnya.

Sepengetahuan Rudi, ada 12 pekerja asal Probolinggo yang bekerja di Wasior. Pasca banjir bandang, sebanyak 7 orang memilih pulang kampung. “Alhamdulillah semuanya selamat dari banjir bandang,” ujar Agus.

Murahman, eks perantau lainnya, belum bisa melupakan air bercampur lumpur dan gelondongan kayu seperti ditumpahkan dari langit. “Bunyi batu beradu dengan kayu-kayu gelondongan benar-benar mengerikan. Saat banjir surut, timbunan lumpur di Pasar Baru, Wasior hingga ketinggian 2-3 meter,” ujarnya.

Agus, eks perantau lainnya, menceritakan, dirinya diikuti sejumlah warga lain sempat melarikan diri dengan ngebut naik motor ke arah atas (gunung). “Tidak tahunya air dari gunung, kami pun terbirit-birit kembali ke bawah, menyelamatkan diri,” ujarnya.

Data Posko Darurat Bencana Banjir Bandang Kab Telukwandana, Papua Barat diketahui ada 20 pekerja asal Jatim, termasuk 7 pekerja asal Probolinggo, pulang. Mereka tidak tahan hidup di tenda daurat di lapangan tembak Makodim Manukwari, 6-20 Oktober. “Kami tidak kerasan tinggal di tenda-tenda yang dihuni sekitar 4.700 pengungsi,” ujar Murahman, eks perantau lainnya.

Akhirnya, bersama 20 pengungsi asal Jatim, ke-7 perantau asal Probolinggo itu bertolak ke Tanjung Perak, Surabaya, Rabu (20/10). “Kami naik KM Labobar, tiba di Surabaya, Kamis (21/10),” ujar Rudi Wahyudi. Sebelumnya dalam perjalanan laut Wasior-Manukwari, Rudi sempat menumpang kapal patroli. “Saya berbaur dengan belasan jenazah korban banjir yang akan dikirim ke Manokwari,” ujarnya.

Disinggung apakah mereka bakal kembali ke Wasior, Agus dan sejumlah pekerja asal Probolinggo mengaku masih pikir-pikir. “Kalau saya sudah bertekad ingin kembali ke Papua. Kalau ada yang meminjami uang Rp 1 juta, saya bukan meminta bantuan lho, saya berangkat kembali ke sana,” ujar Murahman. *

Suimber: http://www.surabayapost.co.id/?mnu=berita&act=view&id=946a74e58ff86d50c79ba0c5b146169b&jenis=1679091c5a880faf6fb5e6087eb1b2dc

Tokek, Tokek…Eh, Bisa Jadi Milyarder

Rabu, 27 Oktober 2010 | 10:33 WIB

Tampang tokek memang terkesan seram, namun di balik tampang seramnya itu tersimpan potensi untuk mendulang rupiah. Sejumlah orang yang beruntung dan bertangan dingin, beberapa tahun belakangan menjadi milyarder setelah menyulap tokek jadi komoditas ekspor.

Sebuah iklan penawaran beli di salah satu situs web menyatakan, akan membeli tokek warna bintik-bintik merah asal Indonesia, secara paket. Harga beli yang ditawarkan cukup fantastis, mulai dari Rp 7,5 juta per ekor sampai Rp 50 miliar per ekor tergantung klasifikasi paketnya.

Mungkin kedengarannya sangat tidak masuk akal, seekor tokek dihargai sampai miliaran rupiah bahkan puluhan miliar rupiah per ekor. Padahal biasanya, binata melata yang sejenis cicak itu berkeliaran di rumah-rumah kosong atau rumah-rumah berbangunan besar, seakan tak ada harganya. Malah, kerapkali suaranya yang seram itu dijadikan guyonan untuk mengundi nasib.

Namun, harga tokek yang mencapai miliaran rupiah itu diakui kebenarannya oleh David Hendra, warga Jl Puspowarno Tengah, Semarang Barat. Laki-laki kelahiran Probolinggo, 24 November 1957 itu mengaku, baru setahun berbisnis jual beli tokek tapi sudah mampu beromzet miliaran rupiah.

Hendra menjelaskan, tokek yang bernilai jual tinggi itu memang bukan sembarang tokek. Beratnya per ekor harus lebih dari 3,5 ons dan harus dalam keadaan hidup. 'Umumnya berat tokek di bawah 2 ons. Itu tak laku dijual. Kalaupun dijual, paling hanya laku Rp 2 ribu-Rp 3 ribu per ekor buat obat,' jelasnya.

Dia menambahkan, tokek dibagi tiga jenis: tokek hutan, tokek batu, dan tokek rumah. Masing-masing memiliki ciri khas yang membedakan. Namun, di antara tiga jenis tokek itu, tokek rumah paling mahal.

Untuk tokek rumah seberat 5 ons-5,9 ons, harganya bisa mencapai Rp 250 juta per ons, sehingga per ekor bisa laku sampai Rp 1 miliar. 'Bahkan, tokek dengan berat lebih dari 5,9 ons dihargai Rp 500 juta per ons,' tuturnya.

Hendra yang baru setahun menekuni bisnis tokek itu menyatakan pernah melakukan transaksi tokek rumah seberat 7 ons, sekitar setahun lalu. Untuk transaksi itu, si mediator (penghubung, Red) minta bayaran Rp 500 juta. 'Anda percaya atau tidak? Tapi, ini benar-benar terjadi,' tegasnya meyakinkan.

Untuk jenis tokek lain, lanjut dia, harganya memang tak setinggi tokek rumah. Tokek batu misalnya, harganya hanya Rp 5 juta per kg dan harga tokek campuran cuma seperempat harga tokek rumah. 'Tokek batu itu besar-besar. Seekor bisa lebih dari 1 kg,' ujarnya.

Tokek-tokek berukuran jumbo itu, lanjut Hendra, mayoritas dijual ke luar negeri. Namun, dengan alasan bisnis, dia enggan menyebutkan negara-negara pengimpor tokek asal Indonesia itu. 'Ya pokoknya dibeli orang luar negeri sana, ' tegas bapak empat anak itu.

Menurut Hendra, di luar negeri, tokek yang beratnya lebih dari 3,5 ons digunakan untuk bahan penelitian. Termasuk untuk menciptakan obat-obatan, pembuatan senjata biologi, serta kepentingan teknologi biologis lainnya. 'Tokek untuk pengembangan teknologi ke depan tidak akan surut. Justru permintaan akan semakin tinggi,' ujarnya optimistis.

Hendra memulai bisnis jual beli tokek itu baru sekitar tahun 2008, namun usahanya maju pesat. Selain di Semarang, kini Hendra telah mampu membuka lima kantor cabang pemasaran. Yakni, di Bekasi, Bandung, Surabaya, Denpasar, dan Jakarta. Kantor cabang tersebut, selain untuk bisnis tokek, juga dimanfaatkan Hendra untuk bisnis lain yang ditekuni lebih dulu. Yaitu, membuka kursus bahasa, pembuatan website, serta bisnis handphone dan computer.

Tak hanya itu, Hendra juga telah menjadi salah seorang pakar budidaya tokek di Indonesia. Dia kini mengasuh situsweb tentang tokek, yang dibuatnya sendiri yakni, pasartokek.com. Melalui situswebnya itu, Hendra berbagi ilmu dan pengalaman dalam berbisnis jual beli tokek, serta menyebarkan informasi tentang pasar tokek.

Selain itu, Hendra juga menggelar pelatihan budidaya tokek diberbagai daerah. Tentu saja tidak gratisan. Kemudian, para alumnus lembaga pelatihan tersebut, ada pula yang dia rekrut masuk ke dalam jaringan bisnis tokeknya.

Waspadai Penipuan

Di bagian lain Hendra mengingatkan, karena harganya yang sangat menggiurkan, wajar saja bila bisnis tersebut sekarang menjadi santapan empuk para tukang tipu. Modus penipuannya bisa dilakukan dengan pemberian obat, makanan, atau alat pemberat lain yang mampu meningkatkan berat badan tokek. 'Pernah ada yang memasukkan gotri (pelor) di tubuh tokek biar beratnya tambah,' ceritanya.

Namun, pengusaha multitalenta tersebut memiliki cara sendiri untuk mengantisipasi penipuan dalam bisnisnya itu. Suami Tabita Sriwatiningsih tersebut menyatakan telah memiliki jaringan perdagangan tokek yang kuat. Mayoritas pembeli yang dilayani adalah konsumen di luar negeri.

Untuk jaringan ke bawah, mulai para penjual dan pengumpul, Hendra menggunakan cara tersendiri guna mencegah penipuan. Yakni, penjualan melalui foto serta pembayaran melalui beberapa tahap. 'Usaha dengan omzet miliaran seperti ini rawan penipuan. Kalau tidak cermat, akan mudah ditipu makelar. Karena itu, saya punya cara sendiri untuk mengatasi penipuan,' ujarnya.

Dia menjelaskan, sistem penjualan tokek dipasarkan melalui foto tertutup. Tokek tidak diperlihatkan secara utuh. Namun, tokek difoto di atas timbangan digital yang di sampingnya diletakkan koran untuk mengetahui tanggal berapa tokek tersebut difoto.

Foto tersebut kemudian dipasarkan melalui internet atau dikirim dalam bentuk print out. Orang yang hendak membeli tokek harus lebih dulu menyatakan sanggup bertransaksi dengan mentransfer sejumlah uang. 'Selanjutnya, saat terjadi transaksi langsung, barulah dibayar lunas,' jelasnya.

Untuk pembelian dari pengumpul atau pemilik, Hendra menggunakan tiga tahap pembayaran untuk menghindarkan penipuan. Pertama, pernyataan kesanggupan dengan membayar sejumlah tertentu. Lalu, selama beberapa hari, dia mengamati kondisi kesehatan tokek. Jika tokek tetap sehat, dirinya baru membayar uang muka. Baru setelah beberapa minggu dipastikan tokek dalam keadaan aman dan sehat, dia membayar lunas harga yang disepakati. 'Tentunya, kita harus lebih cerdas dari para penipu. Saya sudah punya pengalaman ditipu orang. Itu menjadi pengalaman paling berharga,' ujarnya.

Obat HIV/AIDS

Selain untuk bahan penelitian, tokek juga diyakini berkhasiat sebagai obat. Menurut pengobatan tradisional China, tokek dapat dijadikan bahan dasar untuk mengobati penyakit tumor dan gatal-gatal pada kulit. Daging, darah, dan empedu tokek juga dapat mengobati beberapa penyakit. Bahkan, lidahnya, dapat dijadikan sebagai obat HIV/AIDS.

Apa benar tokek bisa menyembuhkan penyakit HIV/AIDS? Menurut penuturan salah seorang agen tokek di Pekanbaru (Maret 2009) yang bernama Yon Candra (32), lidah tokek bisa mengobati atau mematikan virus HIV/AIDS. Rumor itulah yang membuat warga Pekanbaru, Riau, “ramai-ramai” melakukan perburuan tokek.

Tapi, Yon ogah mengungkapkan ramuan obat HIV/AIDS yang berbahan dasar lidah tokek tersebut. “Itu rahasia perusahaan,” tandasnya. Meski demikian Yon mengatakan, dia mengekspor tokek ke Thailand dan China. Di kedua negara itu ada orang yang dapat membuat obat HIV/AIDS dari tokek.

Sementara itu salah seorang dokter di Pekanbaru yang sering menangani kasus virus HIV/AIDS, Burhanudin Agung mengatakan, sejauh ini dari beberapa riset dan percobaan belum ada satupun obat yang mampu menyembuhkan virus AIDS.

Kata dokter Agung, yang namanya virus itu tidak bisa disembuhkan. “Tapi, kalau untuk mempertahankan daya tubuh pasien, jika sudah terjangkit HIV/AIDS, itu baru ada, yakni Anti Retroviral (ARV) yang harganya cukup mahal.”

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memang belum pernah membenarkan bahwa tokek dapat dijadikan obat sejumlah penyakit. Demikian pula Departemen Kesehatan RI, belum pernah memberi rekomendasi tentang khasiat “cicak jumbo” ini. Namun para ahli pengobatan China mengembangkan obat tumor dari organ tubuh tokek. Alasannya? Karena di dalam organ tokek ada zat yang mampu menekan pertumbuhan sel-sel tumor.

Tim yang diketuai Prof. Wang dari Universitas Henan, China, menunjukkan bahwa zat aktif tokek tidak hanya meningkatkan respons sistem kekebalan tubuh dari suatu organisme, tetapi juga menginduksi sel-sel tumor apoptosis (yang membunuh dirinya sendiri) serta menekan ekspresi protein VEGF dan bFGF, faktor pendukung berkembangnya kanker. Tokek efektif dimanfaatkan untuk menghilangkan tumor ganas, terutama tumor di bagian sistem pencernaan yang dijadikan sebagai alternatif pengobatan, yaitu operasi, radioterapi, dan kemoterapi.

Sementara itu sebagian masyarakat di Indonesia menyatakan, manfaat tokek paling jos untuk mengobati penyakit asma. Tetapi daging tokek harus dijadikan tepung terlebih dulu. Konon tepung tokek dapat menyembuhkan penyakit asma secara efektif. Selain asma, tokek diyakini dapat mengobati impotensi, meningkatkan fungsi seksual pria, serta meningkatkan stamina.

Tak hanya itu, tepung tokek terkadang dicampur dengan obat-obatan lain untuk menyembuhkan batuk dan flu. Dosis yang direkomendasikan adalah tiga sampai sembilan gram per hari, biasanya dikonsumsi dalam bentuk bubuk atau pil, bisa juga direbus dulu. ins

Tabel harga Tokek

A. Standar Harga Pada Umumnya

Tabel Standar Berat, Panjang, Besar Kepala Dan Harga Tokek

Berat Panjang Besar Harga Ket

(gram) (cm) (jari) (Rp)

420 42 3 2 miliar

390 40 3 500 juta

360 38 3 250 juta

330 36 2,5 50 juta

300 33 2,5 30 juta

250 30 2,5 10 juta

B. Harga Buyer

Ada 2 macam sistem dari pembeli untuk membeli tokek dengan harga mahal dan tidak ada potongan apapun artinya harga murni. Untuk itu harus dipahami kemauan pembeli atau buyer. Minimal ada 2 sistem dari buyer, yang pertama buyer menghendaki adanya tokek master yaitu tokek yang memiliki berat cukup fantastis yaitu (minimal 4,2 ons). Sistem kedua adalah sistem paket, pembeli mau membeli tokek tanpa adanya master atau maskot asal dengan jumlah minimal tertentu, misal berat 3,6 harus minimal 8 ekor. Berikut contoh tabel sistem buyer :

Sistem Master atau Maskot

Master Berat yg Dibeli Jumlah yg Dibeli Harga Ket

(gr) (gr) (ekor) (Rp)

420 420 1 2 miliar

390 1 500 juta

360 1 250 juta

330 1 50 juta

300 1 30 juta

250 1 10 juta

b. Sistem Paket

Yang dimaksud sistem paket adalah, tokek yang dibeli hanya dengan berat tertentu dan juga minimal jumlah tertentu, misal Tokek dibeli hanya berat 3,3 ons, 3,6 ons dan 3,9 ons dan ini pun harus dengan minimal jumlah tertentu misal 3,3 harus minimal 8 ekor dan 3,6 harus minimal 5 ekor kecuali 3,9 boleh hanya 1 ekor. Berikut tabel tersebut.

Paket Berat yg Dibeli Jumlah yg Dibeli Harga Ket

(gr) (ekor) (Rp)

A 390 1 2 miliar

360 5 500 juta

330 8 250 juta

B campuran minimal 5 sesuai berat

C. Tabel Harga Mediator

Sudah pasti harga yang diberikan oleh mediator lebih rendah daripada harga buyer karena Mediator tentu ingin mendapat keuntungan. Ada yang terang-terangan memakai sistem SS atau dalam bahasa jawa disebut, sigar semongko (belah semangka) yang berarti berarti dibagi dua. Harga jual yang didapat nantinya dibagi dua yaitu separuh untuk pemilik dan separuh untuk mediator.

Sistem Berat yg Dibeli Jumlah yg Dibeli Harga Ket

(gr) (ekor) (Rp)

SS 420 1 2 miliar

390 1 500 juta

360 1 250 juta

330 1 50 juta

300 1 30 juta

250 1 10 juta

Sesuai idem idem sesuai perjanjian kesepakatan

Sumber: http://www.surabayapost.co.id/?mnu=berita&act=view&id=337e54f8a37228d67f9d2af8d8d8a2b0&jenis=e4da3b7fbbce2345d7772b0674a318d5


Selasa, 26 Oktober 2010

Harta Ludes, Pulang Kampung Bawa Trauma Psikis

Selasa, 26 Oktober 2010 | 10:18 WIB

OLEH IKHSAN MAHMUDI

Banjir bandang di Wasior, Papua Barat, 4-6 Oktober lalu masih menyisakan duka mendalam bagi para korban. Termasuk sejumlah pekerja asal Probolinggo.

Meski sudah sekitar tiga minggu berlalu, kedahsyatan banjir bandang di Kec. Wasior, Kab Telukpondama, Propinsi Papua Barat masih membayang-bayangi sebagian warga yang jadi korbannya. Termasuk 12 warga Kota dan Kab Probolinggo yang bekerja di Bumi Cendrawasih itu.

“Sampai sekarang saya masih sering pusing-pusing, susah tidur. Saya sering menelan obat sakit kepala atau pil tidur,” ujar Agus Sudarsono (51), warga RT 05/RW 02, Dusun Triwung, Desa Warujinggo, Kec Leces, Kab Probolinggo, Senin (25/10).

Ketika mencoba berobat, dokter yang memeriksanya mengatakan, Agus menderita trauma psikis. Pria paro baya itu diminta tidak terlalu memikirkan peristiwa yang mengakibatkan ratusan jiwa melayang dan meluluhlantahkan distrik Wasior.

Pensiunan pegawai PT Kertas Leces (Persero) itu termasuk dituakan di antara 12 warga Probolinggo yang mengadu nasib di Wasior. Soalnya ia yang mengajak mereka bekerja di Wasior. “Saya berangkat ke Wasior pada 24 Oktober 2009. Ini surat jalan dari Kades Warujinggo masih saya simpan,” ujar Agus. Di sana ia bekerja serabutan mulai tukang ojek, pekerja proyek, hingga berdagang ia lakoni.

Sejumlah pekerja asal Probolinggo yang Senin siang itu berkumpul di teras rumah Agus juga menceritakan, latar belakang sampai mereka terdampar di Papua. “Cari kerja di Probolinggo sulit. Di Wasior dengan kerja menjadi tukang ojek saya bisa mengumpulkan uang sekitar Rp 2 juta per bulan,” ujar Rudi Wahyudi (41), warga asal Jl Brantas, Kel Kademangan, Kec Kademangan, Kota Probolinggo.

“Kerja apa saja di Wasior bisa mendatangkan uang, yang penting halal,” ujar Abdullah, juga warga Kademangan. Sebagai tukang ojek, ia mengaku bisa menabung dan mengirimkan uang untuk keluarganya di Probolinggo.

Hal senada diungkapkan Murahman (50), warga asal Desa Tegalmojo, Kec. Tegalsiwalan, Kab. Probolinggo. “Kerja buruh tani di Probolinggo upahnya tidak cukup, terpaksa saya merantau ke Irian,” ujarnya.

Meski kerja serabutan, sebanyak 12 pekerja asal Probolinggo mengaku bisa menopang ekonomi keluarganya. “Saya bangga meski kerja sebagai tukang ojek di Wasior bisa membiayai kuliah anak saya di Fakultas Kedokteran, Unair. Sekarang anak saya sudah dokter muda,” ujar Agus Sudarsono.

Lilik, istri Agus sesekali dalam sebulan mengunjungi suaminya di Wasior. Tidak sekadar melepas rindu, Lilik membawa barang dagangan berupa bawang merah, bawang putih, beras, telur, hingga gula kelapa ke Wasior.

“Akibat banjir bandang, 1 ton bawang merah, 3 kuintal bawang putih, dan 3 kuintal gula kelapa yang baru tiba di Wasior amblas diterjang banjir,” ujar Lilik. Saat kejadian banjir, perempuan berjilbab itu berada di Probolinggo.

Sementara motor sang suami, yang sehari-hari untuk ngojek, amblas terbawa banjir. “Relakan saja dibawa banjir. Ada teman saya asal Jombang, suami-istri yang mempertahankan motornya, hanyut dan tewas diterjang banjir,” ujarnya.

“Dua motor saya dan uang sekitar Rp 1,7 juta juga amblas,” ujar Murahman. Ia sempat naik pohon besar dan “bertengger” sekitar 2 jam demi menyelamatkan diri dari kepungan banjir. (bersambung)

Sumber: http://www.surabayapost.co.id/?mnu=berita&act=view&id=b62a3ad876173e9cdfa736b6ff74a8e6&jenis=1679091c5a880faf6fb5e6087eb1b2dc

Senin, 25 Oktober 2010

Derita Kakak-Adik Korban Ledakan Elpiji di Kota Probolinggo

Wajah Menghitam, Operasi Tak Ada Biaya

Jumaadi dan Rohim harus menjalani perawatan di RSUD Dr Moh. Saleh, Kota Probolinggo. Kakak dan adik warga Jalan KH Hasan Genggong, Wonoasih, itu mengalami luka serius karena ledakan elpiji. FAMY DECTA M., Probolinggo

PANAS... panas.... aduh...,’’ keluh Jumaadi sambil berbaring tak berdaya di bed kelas III ruang Bougenvile RSUD Dr Moh. Saleh.

Di depannya, si adik Rohim duduk di bed menempel tembok. Liana Hasyim, ibu Jumaadi dan Rohim, sibuk mengipas-ngipasi tubuh Jumaadi yang terkena luka bakar serius.

Jumaadi, 29, mengalami luka serius ketimbang adiknya. Wajah Jumaadi berwarna hitam dan melepuh.

Tubuh bagian dada, tangan, dan sedikit kaki terluka kena ledakan elpiji pada Kamis siang lalu tersebut. Sedangkan luka Rohim tidak separah Jumaadi. Muka Rohim pun menghitam alias gosong. Rambutnya masih kaku dan terbakar. Pemuda berusia 19 tahun itu masih bisa berbicara meski agak bergumam.

’Besok (hari ini) katanya disuruh operasi wajah (Jumaadi). Biaya lagi, kami dapat uang dari mana,’ tutur Eva Nurdiana, istri Jumaadi yang menemani suaminya di rumah sakit. Eva dan keluarga suaminya kebingungan soal biaya rumah sakit.

Biaya berobat Jumaadi dan Rohim selama penanganan di UGD (unit gawat darurat) belum terlunasi.

Paramedis menyarankan keluarga membeli kelambu untuk kedua pasien tersebut. Tujuannya, kelambu itu supaya luka Jumaadi dan Rohim tidak dihinggapi lalat.

Bila sampai itu terjadi, luka tersebut bisa membusuk. Karena biaya terbatas, keluarga baru beli sekelambu.

Mestinya, pembelian kelambu tidak perlu terjadi bila kedua pasien itu pindah ke kelas lebih bagus. Sebab, di ruangan itu tidak terdapat banyak pasien. ’Maunya kakak ini pindah saja. Tapi mau bagaimana lagi, biayanya tidak ada,’ ujar Musdhalifa, adik Jumaadi.

Musdhalifa dan Eva menceritakan, sejak setahun lalu Jumaadi berjualan elpiji ukuran 3 kg dan 12 kg di rumahnya di lingkungan RT 5/RW 1, Kelurahan Sumbertaman, Kecamatan Wonoasih.

Sejak memutuskan berdagang elpiji, sisi rumah paling barat dijadikan tempat menyimpan elpiji sekaligus toko.

Di situlah Jumaadi menyimpan elpiji kosong maupun yang ada isinya. Kamis siang (21/10) pukul 14.00 Jumaadi mencium bau elpiji bocor di sekitar rumahnya.

Pada saat bersamaan, ternyata Rohim sedang merebus air di dapur. Waktu itu Jumaadi belum menemukan tabung mana yang bocor. Tapi, ledakan keburu terjadi. Jumaadi terlempar hingga pintu tokonya ambrol.

Sedangkan Rohim yang baru saja mematikan kompor tiba-tiba dikejar api. Dia lari, tapi tetap tak lolos dari api.

Rohim yang saat itu berpakaian utuh menjadi telanjang. Pakaiannya habis terbakar dan hanya tersisa celana dalamnya. Dalam keadaan terbakar, Rohim masih bisa menyiramkan air ke sekujur tubuhnya.

Sedangkan Jumaadi hanya bisa gulung-gulung di pelataran rumah. ’Adik saya itu kena flu, Hidungnya punya polip. Jadi ndak bau kalau ada elpiji bocor,’’ kata Musdhalifah, saat kejadian sedang berada di rumah mertuanya.

”Kami benar-benar berharap ada bantuan dari dermawan, pemerintah atau Pertamina. Karena kami sungguh tidak memiliki biaya lagi,” ucap Eva dengan nada lirih diamini Musdhalifa dan mertuanya. (yud/bh)

sumber: http://www.jpnn.com

Sabtu, 23 Oktober 2010

Tiap Warga Meninggal Disantuni Rp 750 Ribu

Sabtu, 23 Oktober 2010 | 11:13 WIB

PROBOLINGGO - Untuk kali pertama DPRD Kota Probolinggo menggunakan hak inisiatifnya untuk menelurkan Peraturan Daerah (Perda). Kini melalui Komisi A (bidang hukum dan pemerintahan), DPRD sedang menyiapkan draft rancangan Perda (Raperda) santunan kematian. Setiap warga yang meninggal dunia akan disantuni Rp 750 ribu, diambilkan dari Dana Abadi Pemkot Probolinggo.

Ketua Komisi A DPRD As’ad Anshari, Jumat (22/10) siang, mengatakan, usulan Perda ini digulirkan sejak akhir Maret 2010. ”Insya Allah, draft Raperdanya bakal dibahas November mendatang,” ujarnya. DPRD sudah melakukan studi banding di daerah yang sudah menyantuni warganya yang meninggal seperti di Depok, Februari lalu.

Dalam draft Raperda tentang santunan kematian, warga yang meninggal dunia disantuni Rp 750 ribu. ”Awalnya yang kami usulkan Rp 1 juta, setelah dihitung-hitung kemampuan APBD kita Rp 750 ribu,” ujar Ketua Komisi A DPRD As’ad Anshari.

Demi menyantuni warga Kota Probolinggo yang meninggal, sesuai draft, Pemkot bakal menganggarkan dana tersendiri. ”Sesuai draft, santunan kematian bersumber dari APBD dan dan bagi hasil Dana Abadi, yang besarnya sekitar Rp 12 miliar,” ujarnya.

As’ad mengakui, Dana Abadi sebesar Rp 12 miliar itu bakal dikumpulkan bertahap melalui APBD setiap tahun. ”Dana Abadi bakal disimpan di bank syariah, dikumpulkan bertahap. Tahap pertama, melalui APBD 2011 bakal dianggarkan Rp 5 miliar, APBD 2012 sebesar Rp 4 miliar, dan APBD 2013 dianggarkan Rp 3 miliar,” ujarnya.

Sebenarnya, pemberian santunan kematian sudah dilakukan Pemkot Probolinggo sejak 2008. Bahkan Walikota HM Buchori punya program melayat ke rumah duka sambil memberikan santunan. Sepengetahuan As’ad, selama ini saat takziah (melayat), walikota memberikan santunan Rp 500 ribu kepada ahli waris.

Pemkot pun menganggarkan dana Rp 1 miliar hingga Rp 1,5 miliar untuk pos santunan duka itu di APBD. Dinas Pengelola Pendapatan Keuangan dan Aset (DPPKA) Pemkot Probolinggo mencatat, pada 2008 santunan kematian yang dikeluarkan Rp 150 juta dan 2009 meningkat menjadi Rp 948 juta.

Masih terkait santunan kematian, walikota telah menerbitkan Perwali 59/2008 tentang pemberian santunan kematian bagi PNS, pegawai kontrak, tenaga pekerja pemerintah, berserta istri/suami hingga anaknya. Nilainya untuk kembatian PNS Rp 2,5 juta, pegawai kontrak Rp 2 juta, tenaga pekerja pemerintah Rp 1 juta. Istri/suami PNS, tenaga kontrak, atau pekerja pemerintah Rp 1,5 juta. Sementara anak-anak mereka Rp 1 juta.

Terkait rencana DPRD menggolkan Perda santunan kematian, Pemkot (eksekutif) pun melakukan pendataan warga yang meninggal setiap tahun. Tercatat, pada 2008 lalu sebanyak 1.089 warga Kota Probolinggo meninggal dunia. Pada 2009 warga yang meninggal meningkat menjadi 1.329 orang. isa

Sumber: http://www.surabayapost.co.id/?mnu=berita&act=view&id=752897afcefc0275da154f3811d6eed0&jenis=1679091c5a880faf6fb5e6087eb1b2dc


Korban Elpiji 3 Kg Terbelit Biaya Rumah Sakit

Sabtu, 23 Oktober 2010 | 11:13 WIB
SP/Ikhsan Mahmudi JUMADI (30), korban ledakan elpiji ditunggu ibunya, Ny Lianah di RSUD. Sementara adiknya, Abdurrohim (27), dirawat di bed lain. Rumah mereka hancur kena ledakan elpiji 3 kg.

Ledakan elpiji Jumat (22/10) lalu menyisakan duka mendalam bagi Ny Lianah (60), warga Sumbertaman, Kota Probolinggo. Keluarga janda miskin itu kesulitan biaya kedua anaknya yang dirawat di RSUD.

OLEH IKHSAN MAHMUDI

PEREMPUAN tua itu tampak sibuk di antara dua dipan (bed) di Ruang Bougenvile, RSUD Dr Moch. Saleh, Kota Probolinggo. Di bed pertama tergeletak Jumadi (30), anak keduanya yang mengalami luka bakar di sekujur tubuh akibat ledakan elpiji.

Sementara di bed kedua, Abdurrohim (27), anak bungsunya duduk sambil mengerang-erang, “Panas, panas, panas ...”. Perempuan yang biasa dipanggil Nyonya Lilik itu terus mengibaskan kipas bambu untuk menyegarkan tubuh anaknya.

Ia dibantu anak ketiganya, Muzdalifah terus mengipasi kedua korban ledakan gas elpiji. “Anak saya empat orang, semuanya berada di rumah sakit, kecuali Sholehudin (anak sulung, Red.) jaga rumah,” ujar Ny Lilik.

Janda yang ditinggal mati suaminya, Hasyim itu tidak menyangka bakal menerima cobaan hidup demikian berat. Saat kejadian ledakan elpiji, Kamis siang, perempuan itu sedang menjalankan salat zuhur.

“Saya mendengar bunyi keras seperti geledek menyambar. Takut mengenai televisi, kabel antena saya copot,” ujarnya. Namun tidak seberapa lama ia mendengar jeritan histeris kedua anaknya.

Ia semakin kaget demi menyaksikan api membakar tubuh dan pakaian Jumadi. Sementara, si bungsu Abdurrohim yang berada di dapur tampak berusaha memadamkan api yang menjilat tubuhnya dengan menuangkan air dari ember plastik.

Sambil mengerang-erang menahan luka bakar sekujur tubuhnya, Jumadi mengatakan kepada ibunya, terjadi ledakan elpiji di rumah sekaligus toko. Begitu dahsyatnya ledakan, sampai-sampai rumah Ny Lilik temboknya retak-retak, genteng dan atap berjatuhan. Perabotan di rumah-toko berukuran sekitar 10 x 2 meter itu juga hancur berantakan.

Rumah-toko itu menyambung dengan rumah di sisi timurnya yang ditempati Sholehudin, anak sulung Ny. Lilik. Di rumah sederhana yang kini nyaris roboh itulah Ny Lilik tinggal bersama Jumadi dan Abdurrohim.

Jumadi dan istrinya, Eva Nurdiana (29) dan anak semata wayangnya juga tinggal di rumah yang sama. “Kebetulan saat terjadi ledakan, saya sedang kerja jadi pelayan toko di Jl Dr Soetomo, sementara anak saya yang berusia 22 bulan saya titipkan di kerabat,” ujar Eva.

Pengakuan Jumadi dan Abdurrohim kepada Muzdalifah akhirnya membuka kronologis ledakan mirip bom itu. “Meski kondisi kakak saya, Jumadi parah tetapi ia tidak sampai pingsan, demikian juga adik saya Rohim yang kondisinya lebih ringan. Keduanya masih bisa bercerita,” ujar Muzdalifah.

Siang itu di toko penyalur tabung elpiji yang dikelola Jumadi dan adiknya, Abdurrohim terjadi kebocoran tabung gas. Jumadi berusaha mencari tabung gas yang bocor di antara tumpukan tabung elpiji berukuran 12 Kg dan 3 Kg di tokonya.

“Adik saya Rohin menderita polip sehingga hidungnya tidak peka kalau ada gas bocor, ia malah menyalakan kompor elpiji di dapur, untuk membuat kopi,” ujar Muzdalifah. Akhirnya api dari arah dapur menyambar gas yang diduga telah memenuhi ruang toko dan ruang tengah.

Bagi Ny Lilik, Jumadi dan Abdurrohim merupakan tulang punggung keluarga. Sejak sekitar setahun lalu, Jumadi menyopiri pikap dengan kenek adiknya, Abdurrohim untuk memasok tabung-tabung elpiji ke sejumlah toko pengecer.

Kini, kedua tulang punggung keluarga janda itu telah tergolek lemah di dipan RSUD. “Kami urunan, dibantu kerabat, hingga mencari utangan untuk biaya rumah sakit,” ujar Muzdalifah.

Disinggung apakah sudah mendapat santunan dari pemerintah terkait ledakan elpiji, Muzdalifah menggelengkan kepala. “Saya tidak tahu apakah memang ada bantuan bagi korban ledakan elpiji. Yang jelas hingga kini, kami belum terima bantuan apa-apa baik dari Pemda atau pun dari Pertamina,” ujar perempuan berjilbab itu.

Yang jelas, hingga hari kedua dalam perawatan RSUD, keluarga tersebut sudah mengeluarkan Rata Penuhbiaya sekitar Rp 3 juta. “Tidak tahu nanti berapa biaya total selama perawatan di rumah sakit,” ujar Muzdalifah. *

Sumber: http://www.surabayapost.co.id/?mnu=berita&act=view&id=c74d57ee356e0e6e6f6854bbc0402167&jenis=1679091c5a880faf6fb5e6087eb1b2dc

Jumat, 22 Oktober 2010

Pangkalan Elpiji Meledak

22-Oct-2010
PATROLI
Lukai Dua Orang

indosiar.com, Probolinggo - Sebuah pangkalan gas elpiji di Probolinggo, Jawa Timur, Kamis (21/10/10) sore, meledak hingga melukai 2 orang pekerja sekaligus pemilik pangkalan. Ledakan yang dipicu dari kebocoran tabung elpiji 3 kilogram ini, juga mengakibatkan bangunan rusak parah hingga nyaris roboh. Peristiwa ini mengagetkan keluarga korban yang langsung histeris begitu melihat lokasi kejadian.

Wanita ini hanya bisa menangis begitu melihat pangkalan elpiji sekaligus tempat tinggal kerabatnya hancur berantakan akibat ledakan, Kamis (21/10/10) sore.

Bangunan di RT 5, RW 1, Kelurahan Sumber Taman, Kecamatan Wonoasih, Probolinggo ini tampak rusak parah. Sebagian genteng rumah terlihat berhamburan, sementara plafon dan dindingnya jebol dan nyaris roboh.

Polisi yang tiba di lokasi melakukan olah TKP sekaligus memasang garis pengaman untuk membatasi warga agar tidak mendekati TKP. Menurut seorang warga, bunyi ledakan tersebut sangat keras, hingga menghancurkan genteng dan tembok bangunan.

Berdasarkan hasil penyelidikan di lokasi, ledakan dipicu oleh bocornya tabung elpiji 3 kilogram. Polisi bahkan menemukan tabung yang bocor dan masih mengeluarkan gas.

Kasus ledakan ini masih dalam penyelidikan pihak kepolisian, termasuk kemungkinan adanya praktek ilegal, seperti penyuntikan gas, di toko tersebut. Suliana, salah seorang penghuni rumah menjelaskan, ledakan terjadi di ruang toko tempat elpiji dipajang. Saat itu, 2 orang pemilik rumah membenahi klep elpiji 3 kilogram yang bocor.

Selain menghancurkan bangunan, ledakan ini juga mengakibatkan 2 karyawan sekaligus penghuni rumah yakni Jumadi dan Rohim mengalami luka bakar serius dan langsung menjalani pemeriksaan di RSUD Dokter Mohammad Saleh Probolinggo. (Tomy Iskandar/Sup)

Sumber: http://www.indosiar.com/patroli/87959/pangkalan-elpiji-meledak

Elpiji 3 Kg Meledak, 2 Pemilik Toko Hangus

Jumat, 22 Oktober 2010 | 09:53 WIB

PROBOLINGGO – Ledakan tabung gas 3 Kg mempoerakporandakan rumah Ny Lilik (60), warga Kel Sumbertaman, Kec Wonoasih, Kota Probolinggo, Kamis (20/10) sore. Jumadi (30) dan Abdurrohim (27), keduanya anak kandung Ny Lilik mengalami luka bakar serius. Keduanya langsung dilarikan ke RSUD Dr Moch. Saleh, Kota Probolinggo. Sementara tembok rumah mereka retak-retak sebagian. Atap rumah berantakan, gentengnya berjatuhan. Perabotan rumah yang merangkap toko juga rusak parah.

Sebagian warga memasang tiang penyangga di sejumlah bagian agar rumah tak roboh. Kini, rumah di RT 05/RE 01, Blok Krajan, Kel Sumbertaman itu dipasangi garis polisi (police line). Polisi juga mengamankan tabung elpiji 3 kg.

Ledakan itu terjadi Kamis sekitar pukul 15.00. Awalnya, Jumadi mengetahui ada sebuah tabung elpiji di tokonya bocor. Toko yang dikelola Jumadi dan adiknya, Abdurrohim, itu menjual tabung elpiji ukuran 12 Kg dan 3 Kg. Jumadi memperbaiki klep tabung elpiji yang bocor.

Tak seberapa lama terdengar ledakan keras, Jumadi sampai terpental dan mengalami luka bakar serius di sekujur tubuhnya. “Saya yang saat itu sedang bikin kopi di dapur terkejut begitu ada ledakan keras,” ujar Abdurrohim ditemui di RSUD. Abdurrohim juga mengalami luka bakar tetapi tidak separah kakaknya.

Lalu, dari mana asal api? “Kalau tidak dari rokok yang diisap kakak saya, ya berarti api dari kompor elpiji di dapur yang saya gunakan untuk merebus air untuk membikin kopi,” ujarnya. Api diduga menyambar elpiji yang bocor dari tabung yang diperbaiki Jumadi.

Lokasi ledakan elpiji kali ini masih bertetangga dengan Kel Jrebeng Wetan, Kec. Kedopok, Kota Probolinggo yang pada 12 Juni 2010 lalu, terjadi ledakan elipiji di rumah Abdul Wahab (45). Ny Salamah (40) dan Hendra (18), istri dan anak Wahab, luka bakar. Belakangan, Hendra meninggal setelah beberapa hari dirawat di RSU dr Soetomo Surabaya. isa

Sumber: http://www.surabayapost.co.id/?mnu=berita&act=view&id=39357dcaf752cdb27e3ed3b6de0852fb&jenis=c81e728d9d4c2f636f067f89cc14862c

Doorr.. Elpiji 3 Kg Memangsa 2 Warga

Jumat, 22 Oktober 2010

Probolinggo - Surya- Elpiji 3 kilogram masih terus memangsa korban. Kali ini membakar tubuh kakak beradik, Jumadi, 35, dan Rohim, 20, warga RT.1 RW. 5 Kel Sumbertaman, Kec Wonoasih, Kota Probolinggo, Kamis (21/10).

Jumadi menderita luka bakar di dua kaki, lengan tangan, dada, dan perut. Sedangkan Rohim, adik, luka lecet di dua lengan dan kaki. Mereka dirawat inap di RSUD dr Muhammad Saleh.

Dahsyatnya ledakan elpiji membuat atap rumah dan genteng jebol. Dinding rumah bagian depan, retak dan miring, nyaris ambruk. Perabotan rumah berupa kursi L, lemari, dan alat-alat dapur hancur berantakan. Beruntung, puluhan tabung elpiji 3 kg dan 12 kg di teras rumah tidak turut meledak.

Tuhamsi Riyono, tetangga korban yang juga anggota DPRD Kota Probolinggo, mengatakan, “Saat saya akan ke rumah teman, tiba-tiba ada suara ledakan dan atap rumah itu ambrol.”

Ny Liana Hasyim, 57, ibu korban, mengatakan, ledakan terjadi saat kedua anaknya akan membetulkan karet klep elpiji 3 kg yang ngowos. Rohim, ledakan terjadi sekitar pukul 14.30 WIB, saat dia dan kakaknya akan menghidupi kompor untuk membuat kopi. Karena mencium bau gas, dia akan membetulkan karet klepnya. Namun, belum sampai ke tempat yang dituju, tabung keburu meledak.

Rohim mengaku bekerja pada kakaknya, Jumadi, yang menjadi agen elpiji. “Saya bekerja pada kakak,” ujar Rohim yang terbaring di RS. n st35.

Sumber: http://www.surya.co.id/2010/10/22/doorrelpiji-3-kg-memangsa-2-warga.html

Kamis, 21 Oktober 2010

Balita Kecemplung Air Panas

Kamis, 21 Oktober 2010 | 09:01 WIB

Probolinggo – Keteledoran Sulastri (30) mengakibatkan anaknya, Fairus Fatmawati (3) tercebur air bak berisi air mendidih. Akibatnya, bayi asal Kel Triwung Kidul, Kec Kademangan, Kota Probolinggo, hingga Kamis (21/10) masih dirawat di RSUD Dr Moch Saleh Kota Probolinggo.

Kulit di sekujur punggung, pantat, paha, hingga perut bocah itu melepuh dan mengelupas. Bocah itu sering menangis karena menahan luka di tubuhnya. Ia hanya bisa tengkurap sambil terus memegangi tangan ibunya. “Anak saya sering menangis, mungkin menahan rasa perih dan panas akibat terkena air panas,” ujar Sulastri di sela-sela menjaga anaknya di RSUD.

Sulastri menceritakan, sekitar seminggu lalu, tepatnya Jumat (15/10) sore, dia merebus nasi aking. “Nasi karak atau cengkaruk itu bukan untuk dimakan keluarga saya, tetapi untuk pakan kambing,” ujarnya. Setelah direbus hingga mendidih, nasi aking beserta air rebusan itu dimasukkan bak plastik. “Karena ada ipar saya minta diambilkan jambu, bak berisi cengkaruk panas itu saya letakkan di halaman,” ujar Sulastri.

Saat asyik mengambil jambu, Sulastri tak memperhatikan tingkah si Fairus, anak keduanya dari M Adhim. Anaknya itu berjalan mundur lalu tercebur bak plastik berisi air panas bercampur nasi aking tersebut. Sulastri pun sangat bersedih dan merasa bersalah. Suaminya tak bisa menjenguk anaknya karena masih kerja di kapal di Papua. isa

Sumber: http://www.surabayapost.co.id/?mnu=berita&act=view&id=ab69e81104955a94f5a064594621067e&jenis=c81e728d9d4c2f636f067f89cc14862c

Mau Nikah Curi Perhiasan Majikan

Kamis, 21 Oktober 2010

Surabaya -SURYA- Rencana nikah pasangan Juleka, 27, asal Dringu, Probolinggo, dan Ichamita, 28, yang bekerja sebagai pembantu rumah tangga (PRT) di Jl Manyar Jaya bisa tertunda. Keduanya diamankan Polsek Sukolilo karena mencuri perhiasan milik majikannya senilai Rp 120 juta.

“Keduanya kami tangkap berikut barang buktinya yang sebagian telah dijual di Probolinggo,” kata Kapolsek Sukolilo AKP Purwanto, Rabu (20/10).

Pencurian barang berharga ini dilakukan oleh Juleka saat sedang wakuncar ke Icha, yang tinggal di rumah majikannya Anak Agung Ayu, 40 di Jl Manyar Jaya.

Polisi yang mendapat laporan dari korban langsung melakukan penyelidikan. “Kami mencurigai adanya keterlibatan orang dalam,” terang Kanitreskrim Polsek Sukolilo, Iptu Sunadji. Dugaan petugas benar setelah memeriksa Ichamita diketahui pencuri perhiasan itu adalah pacarnya sendiri.

Pengejaran dilakukan karena Juleka sudah di Probolinggo. Setelah menemukan Juleka petugas memburu barang buktinya yang sebagian sudah dijual. niit

Sumber: http://www.surya.co.id/2010/10/21/mau-nikah-curi-perhiasan-majikan.html

Balita Tercebur Bak Air Mendidih

Nusantara / Rabu, 20 Oktober 2010 19:50 WIB

Metrotvnews.com, Probolinggo: Pilu nasib Fairus Fatmawati. Balita berusia tiga tahun itu tercebur ke bak air mendidih yang tadinya untuk campuran makanan kambing. Sekujur tubuhnya luka bakar serius.

Fairus Fatmawati, putri pasangan Adim-Sulastri, warga Triwung Kidul, Probolinggo, Jawa Timur. Fairus terkulai lemas di Rumah Sakit Probolinggo, Rabu (20/10). Tubuhnya melepuh.

Sulastri menceritakan saat itu ia mempersiapkan makanan kambing. Kakak Fairus datang meminta buah jambu. Sulastri memenuhi keinginan anak sulungnya itu. Tak sadar ia tinggalkan Fairus begitu saja. Fairus pun bermain tanpa penjagaan. Ia berjalan mundur hingga tercebut ke bak air mendidih.

Sulastri kaget bukan kepalang. Ia berusaha meraih tubuh anaknya. Terlambat, Fairus telanjur tercebur. Sulastri menyesal. Sang balita dirawat intensif di rumah sakit. (Krisna Misbach/*****)

Sumber: http://www.metrotvnews.com/read/news/2010/10/20/31978/Balita-Tercebur-Bak-Air-Mendidih/


Balita Nyemplung Air Panas

NASIB Fairus Fatmawati, bocah perempuan tiga tahun asal Kelurahan Triwung Kidul, Kademangan, Kota Probolinggo, sungguh malang. Dia kini dirawat di RSUD dr Moh. Saleh karena kulit tubuhnya melepuh setelah nyemplung (masuk) ke bak berisi air panas.

Putri pasangan Sulastri dan M. Adim itu mengalami luka bakar sampai 28 persen. Kulit tubuhnya mulai punggung ke bawah melepuh. Sampai kemarin, Fairus masih dirawat di RS.

Menurut informasi, peristiwa nahas itu terjadi pada Jumat (15/10) sekitar pukul 15.00. Sang ibu, Sulastri, saat itu menggodok karak yang akan diberikan kepada kambing mereka. Begitu karak dirasa sudah
matang dan airnya sudah mendidih, Sulastri pun memasukkannya ke dalam bak berukuran cukup besar. Lalu, bak berisi air dan karak itu dibawa ke halaman rumah untuk pakan kambing.

Tapi, belum sampai bak itu dibawa ke kandang kambing, ada seorang kerabat yang datang untuk meminta jambu. ’’Ada ipar minta jambu. Saya taruh dulu (bak, Red) di tanah,’’ tutur Sulastri kemarin (20/10).

Saat itu, Fairus sedang bermain di halaman rumah. Namun, tak lama kemudian, Sulastri melihat Fairus berjalan mundur mendekati bak itu. Dia pun langsung berlari dan berteriak mencegah Fairus. Tapi, usaha Sulastri sia-sia karena larinya kalah cepat. Fairus terlanjur masuk ke dalam bak berisi air panas tersebut. Sulastri langsung mengangkat dan melarikannya ke Puskesmas Ketapang. Selanjutnya, Fairus dirujuk ke RSUD. (rud/jpnn/c5/end)

Sumber: http://www.jpnn.com