Tampilkan postingan dengan label Opini. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Opini. Tampilkan semua postingan

Selasa, 03 Agustus 2010

Temuan Monitoring Otonomi Daerah 2010; Indikator Akuntabilitas Publik

[ Selasa, 03 Agustus 2010 ]
Persoalan akuntabilitas menjadi batu sandungan pelaksanaan otonomi daerah. Kabupaten dan kota menjawabnya dengan berbagai terobosan. Bagaimana bentuk inovasinya? Berikut pemaparan Wawan Sobari peneliti The Jawa Pos Institute of Pro-Otonomi (JPIP)

SEJAK KPK berdiri (2004) hingga 2009, lembaga pemberantas korupsi tersebut telah menangkap 19 bupati/walikota dan 5 gubernur karena kasus korupsi. Hingga pertengahan tahun 2010, sudah masuk 35 ribu laporan korupsi di daerah ke KPK. Korupsi di daerah hampir 70 persen dilakukan melalui Dana APBD.

Menteri Dalam Negeri Gamawan Fauzi menambahkan, Presiden telah mengeluarkan sekitar 150 izin proses hukum kepala daerah terkait kasus korupsi hingga Juni 2010. Modus utamanya berupa penyimpangan APBD. Menurut ICW, dari jumlah besaran anggaran APBD, biasanya 30 persen terjadi kebocoran yang diambil dari proyek belanja modal, barang dan jasa.

Fakta dan data tersebut menjadi kampanye negatif otonomi daerah. Tujuan otonomi demi perbaikan kesejahteraan masyarakat menjadi kehilangan arah. Pun, pemerintah lambat laun mengoreksi legitimasi transfer kewenangan ke daerah (desentralisasi).

Praktik Teladan

Upaya-upaya pemda untuk mendorong terciptanya birokrasi yang steril dari praktik korupsi menjadi tantangan tersendiri bagi daerah-daerah di Jawa Timur. Sepanjang 2009, JPIP menemukan minimnya terobosan menonjol dalam upaya mendorong sanitari birokrasi. Upaya tersebut hanya ditemukan di Surabaya melalui penerapan lelang serentak secara elektronik (e-procurement) yang sudah dikembangkan sejak tiga tahun sebelumnya.

Meskipun demikian, terobosan yang dikembangkan Pemkot Surabaya penting sebagai contoh bagi daerah lainnya. Karena, lelang merupakan salah satu proses yang paling rawan terjadi tindak pidana korupsi, terutama gratifikasi.

Kondisi tersebut memang ironis. Di tengah maraknya kecaman banyak pihak, daerah justru kurang memperhatikan upaya-upaya pencegahan tindak korupsi di daerah.

Satu penjelasan logis minimnya iniasiatif tersebut karena faktor kepala daerah yang dominan. Kuatnya determinasi kebijakan kepala daerah bisa menghambat inisiatif antikorupsi. Karena inisiatif seperti ini justru akan menghambat kepentingannya untuk mempertahankan dan membangun kekuasaan.

Fakta yang mendukung asumsi tersebut bisa dilihat dari banyaknya kasus korupsi di daerah yang menjadikan kepala daerah sebagai aktor utama. Berdasar data KPK dalam lima tahun terakhir, kasus korupsi telah menjerat 19 bupati/walikota dan 5 gubernur. Situasi ini didukung pula oleh struktur birokrasi yang hierarkis.

Birokrasi selalu menuruti kehendak kepala daerah, sehingga miskin inisiatif, termasuk dalam pencegahan tindak korupsi. Berdasar temuan JPIP, kepala daerah menentukkan realisasi dan implementasi lebih dari 70 persen inovasi daerah. Padahal, lebih dari 50 persen inovasi ide awalnya berasal dari birokrat daerah.

Terakhir, desain pemilukada tidak mampu mencegah praktik politik transaksional antara kepala daerah, konstituen, dan elit politik lokal. Kondisi tersebut berpotensi melemahkan inisiatif kontrol dari masyarakat maupun elit lokal. Karena kepala daerah yang dominan mengarahkan pilihan-pilihan kebijakannya agar menguntungkan para pendukungnya.

Tetapi, minimnya inisiatif antikorupsi tidak memandulkan kreatifitas untuk mendorong akuntabilitas pada bidang lainnya. Sepanjang 2009, JPIP menemukan inisiatif untuk mendorong transparansi publik, perbaikan penanganan pengaduan, dan peningkatan responsifitas aparat daerah.

Terdapat kemajuan berarti terkait upaya-upaya pemda untuk mendorong transparansi dan keterbukaan informasi dibanding era sebelum otonomi daerah. Bahkan, sebelum implementasi UU 14/2008 tentang Keterbukaan Informasi Publik pada 2010, daerah-daerah di Jawa Timur telah lebih dulu mendorong transparansi. Pemda berkolaborasi dengan organisasi non-pemerintah dan lembaga internasional terus mendorong kemudahan akses informasi publik terkait penyelenggaraan dan kebijakan pemerintah.

Selain kegiatan dan program, upaya transparansi telah dilembagakan di Lamongan, Ngawi, dan Kabupaten Probolinggo. Ketiga daerah tersebut telah menerbitkan peraturan daerah (perda) yang secara khusus mengatur transparansi pemda. Akses informasi publik dijamin di ketiga daerah tersebut secara permanen, khususnya, dalam kegiatan pembangunan daerah.

Kabupaten Probolinggo menetapkan Perda 13/2008 tentang Transparansi dan Partisipasi dalam Perencanaan Pembangunan. Prinsip transparansi yang dimaksud yaitu keterbukaan perencanaan pembangunan. Transparansi dilakukan dengan cara memberikan informasi kepada publik tentang perencanaan pembangunan. Selain itu, JPIP menemukan pula inisiatif berupa dialog langsung antara pejabat dan masyarakat dan transparansi data kemiskinan secara online di Kota Probolinggo.

Terkait peningkatan respon aparat daerah, beberapa terobosan sudah mulai menjawab tantangan otonomi untuk semakin meningkatkan sensitivitas pemda terhadap kebutuhan dan permintaan warga. Citizen's Charter (CC) merupakan respon yang paling banyak dikembangkan daerah.

CC adalah bentuk kesepakatan hasil negosiasi dan konsultasi antara kebutuhan dan kepentingan warga dan pemda atau unit pelayanan publik. Keinginan warga sebagai pengguna pelayanan dan visi dan kemampuan pemda sebagai penyedia pelayanan saling bertemu hingga menjadi pertimbangan utama dalam penyelenggaraan pelayanan dasar seseuai keinginan dan kemampuan bersama.

Selama 2009, praktik governance guna merespon permintaan dan kebutuhan publik tersebut telah diterapkan di Kota Blitar, Kota Pasuruan, Kota Probolinggo, Pacitan, dan Sampang. Di Kota Pasuruan Citizen's Charter diaplikasikan dalam Pelayanan Kesehatan Dasar di Puskesmas se-Kota Pasuruan sejak 2007. Penerapan CC mampu merespon keinginan masyarakat dalam pelayanan kesehatan dasar menjadi lebih efisien, responsif, transparan dan terjangkau masyarakat.

Sementara untuk perbaikan penanganan keluhan masyarakat, pemda menggunakan media radio. Meski telah tergeser keberadaan televisi, popularitas radio tidak sepenuhnya pudar di daerah. Sejumlah daerah di Jawa Timur justru mengandalkan radio sebagai media penyampaian dan penanganan keluhan warga terkait persoalan pelayanan publik, infrastruktur, dan masalah lainnya. Seperti dilakukan di Kota Probolinggo, Tuban, Bondowoso, Kabupaten Blitar, dan Bojonegoro.

Pemkab Tuban menyediakan ruang publik dalam salah satu acara di RKPD Pradya Swara. Pemkab menjadikan radio tersebut sebagai media aspirasi publik. Bupati mewajibkan setiap kepala SKPD melakukan siaran bergilir dan langsung berinteraksi dengan warga yang melakukan komplain maupun pujian atas pelayanan publik.

Siaran ini dilakukan dua kali dalam seminggu, yaitu digelar hari selasa dan kamis. Selain itu, setiap satu bulan sekali di awal tahun anggaran, bupati melakukan acara "rembugan massal" atau temu wicara di pendopo kabupaten dengan melibatkan seluruh tokoh masyarakat dan pejabat setempat. (wawansobari@jpip.or.id)

Sumber: http://www.jawapos.com/halaman/index.php?act=detail&nid=148361

Selasa, 20 Juli 2010

Kemiskinan (Masih) Mendera Pesisir

Senin, 19/07/2010 18:07 WIB
Oki Lukito - suaraPembaca

Jakarta - Berdasarkan data World Bank mengenai kemiskinan 108,78 juta orang atau 49 persen dari jumlah penduduk Indonesia dalam kondisi miskin dan rentan menjadi miskin. Angka tersebut diperoleh berdasarkan pendapatan kurang dari 1,5 dollar AS per hari. Sebagian besar atau sekitar 63,47 persen penduduk miskin tersebut berada di daerah pesisir dan pedesaan. Sementara itu Badan Pusat Statistik (BPS) dengan perhitungan berbeda dari Bank Dunia mengumumkan angka kemiskinan per akhir Maret 2010 jumlah penduduk miskin tercatat 31,02 juta orang.

Jumlah tersebut turun 1,51 juta jika dibandingkan angka bulan Maret 2009 sebesar 32,53 juta dan saat ini masih ada 13,33 persen penduduk yang hidup di bawah garis kemiskinan. Bagaimana Jawa Timur yang 22 di antara 38 daerahnya terdiri dari wilayah pesisir?

Data dari Bappeda Jatim berdasarkan Pendataan Program Perlindungan Sosial (PPLS) tahun 2008 menyebutkan terdapat 3.079.822 jumlah Rumah Tangga Miskin (RTM) dan 9.049.461 Penduduk Miskin (PM). Delapan di antara 38 daerah mempunyai tingkat kemiskinan di atas 4 persen. Ada pun 17 daerah lainya dengan tingkat kemiskinan antara 2-3 persen, dan 13 daerah sisanya di bawah 2 persen tetapi masih di atas 1 persen.

Jika dicermati hanya 6 daerah dari 22 daerah yang memiliki wilayah laut tingkat kemiskinannya antara 1- 2 persen yaitu Kota Probolinggo, Kota Pasuruan, Kabupaten Tulungagung, Kabupaten Trenggalek dan Kabupaten Pacitan. Jumlah penduduk Pacitan memang lebih sedikit yaitu 553.865 orang, bandingkan dengan Jember, Kabupaten Malang dan Sumenep yang rata-rata di atas 1 juta orang. Sedangkan di Pacitan tercatat 44.059 RTM dan 137. 205 PM.

Hal yang memprihatinkan, enam dari delapan daerah yang tingkat kemiskinannya tinggi tersebut merupakan daerah pesisir yang sejatinya mempunyai sumber daya alam melimpah. Antara lain Kabupaten Jember dengan tingkat kemiskinan 7,72 persen, Kabupaten Malang 5,06 persen, Sampang 4,88 persen, Sumenep 4,73 persen, Kabupaten Pasuruan 4,34 persen dan Banyuwangi 4,20 persen.

Salah satu daerah yang memiliki kekayaan alam berlimpah namun masih berkuat dengan kemiskinan adalah Kabupaten Sumenep yang meliputi 121 pulau. Keadaan geografis Kabupaten Sumenep yang terdiri dari wilayah daratan dan kepulauan seharusnya mampu memberikan keuntungan secara ekonomi karena memiliki kekayaan alam seperti perikanan, gas alam, minyak, dan pariwisata bahari. Sebagai gambaran, tambang minyak di Sumenep per harinya menghasilkan 11,74 juta barrel minyak dan kondesat, serta 947 juta kaki kubik gas.

Tambang migas yang berlokasi di lepas Pantai Camplong tersebut diperkirakan bisa dioperasikan 6-8 tahun dengan kapasitas produksi 20.000 barrel per hari. Minyak dan gas alam Sumenep mempunyai keunggulan kompetitif dibandingkan dengan wilayah lain di Jatim (Sumber: Dewan Pembangunan Madura). Sementara produksi perikanan tangkap dan budi daya perairan umum Sumenep mencapai 7. 800 ton per tahun. Sumenep juga kaya ladang garam dan sari air laut (SAL), diperoleh dari sisa pembuatan garam yang mengandung multi mineral untuk bahan produksi Nigarin.

Ironisnya kekayaan tersebut tidak banyak menyumbang bagi perekonomian masyarakat setempat. Sebagai ilustrasi jumlah penduduk Sumenep tahun 2008 sebesar 1.078.315 jiwa dengan 145.788 rumah tangga yang masuk dalam katagori miskin. Penduduknya yang miskin 371.422 jiwa. Sebagian besar menetap di Sumenep Kepulauan.

Jika dikaji lebih dalam terdapat beberapa aspek yang menyebabkan terpeliharanya kemiskinan masyarakat di pesisir. Di antaranya, kebijakan pemerintah yang tidak memihak masyarakat miskin. Banyak kebijakan terkait penanggulangan kemiskinan di pesisir bersifat top down dan selalu menjadikan masyarakat sebagai obyek bukan subyek. Demikian pula kondisi bergantung pada musim sangat berpengaruh pula pada tingkat kesejahteraan nelayan.

Akibat anomali iklim dalam tiga tahun terakhir ini waktu melaut nelayan hanya 180 hari dalam setahun. Rendahnya Sumber Daya Manusia (SDM) dan peralatan yang digunakan berpengaruh pula pada cara menangkap ikan. Sementara keterbatasan dalam pemahaman teknologi menjadikan kualitas dan kuantitas tangkapan tidak mengalami perbaikan.

Di Lekok Kabupaten Pasuruan misalnya. Perolehan hasil tangkapan nelayan rata-rata hanya 10 kilogram per hari yang dibeli pedagang Rp 120 ribu. Hasil penjualan ikan tersebut setelah dipotong biaya BBM Rp 50 ribu kemudian dibagi dua dengan pemilik perahu. Sisanya Rp 35 ribu dibagi rata 5 ABK.

Kondisi lain yang turut berkontribusi memperburuk tingkat kesejahteraan nelayan adalah kebiasaan atau pola hidup konsumtif. Umumnya masyarakat pesisir ketika hasil tangkapannya sedang baik akan menghabiskannya dalam waktu singkat. Sebaliknya ketika paceklik peralatan apa saja di rumah akan dijual dengan harga murah.

Di sisi lain pengelolaan dan pemanfaatan potensi sumber daya kelautan dan pesisir selalu beriringan dengan kerusakan lingkungan dan habitat seperti terumbu karang, hutan mangrove, dan padang lamun. Parahnya kerusakan ekosistim pesisir semakin memengaruhi kuantitas hasil tangkapan nelayan. Masalah kemiskinan masyarakat pesisir pada dasarnya bersifat multidimensi sehingga untuk menyelesaikannya diperlukan rekayasa sosial. Bukan solusi secara parsial.

Oki Lukito
Direktur Regional Economic Maritime Institute
Anggota Himpunan Pengelolaan Pesisir Indonesia (HAPPI)

(msh/msh)


Sumber: http://suarapembaca.detik.com/read/2010/07/19/180717/1402394/471/kemiskinan--masih--mendera-pesisir?882205470

Sabtu, 26 Juni 2010

PLTU Arang Batok Kelapa Energi Masa Depan

Penulis: Sunarto Wage,SE.M.Si, Dosen Universitas Putera Batam/Mantan Karyawan PLTU Ombilin Sumbar

Kebutuhan akan energi listrik setiap tahunnya selalu meningkat, sehingga antara ketersediaan energi listrik dengan kebutuhan listrik tidak sebanding dan konsekuensinya beberapa daerah mengalami pemadaman secara bergilir. Pembangkit listrik di Indonesia masih banyak yang menggunakan Pembangkit Listrik Tenaga Diesel (PLTD) yang berbahan bakar minyak sehingga untuk biaya operasionalnya cukup tinggi. Untuk menekan biaya operasional dan terbatasnya sumber minyak di Indonesia, pemerintah bekerjasama dengan para investor telah membangun beberapa pembangkit listik yang tidak menggunakan bahan bakar minyak, misalnya Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Danau Maninjau di Sumatera Barat, Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) Paiton di Probolinggo Jawa Timur, Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) Gunung Salak Sukabumi Jawa Barat, Pembangkit Listrik Tenaga Gas (PLTG), Pembangkit Listrik Tenaga Gas dan Uap (PLTGU). Pada 1990-an pernah dicoba pembuatan Pembangkit Listrik Tenaga Gambut di Kecamatan Pahandut Kota Palangkaraya Kalimatan Tengah bekerjasama dengan investor dari Finlandia tapi mengalami kegagalan, karena untuk jangka panjang pembangkit listrik tenaga gambut akan merusak lingkungan dikarenakan menggunakan bahan baku gambut. Memang bahan baku gambut cukup banyak tersedia di daerah Pahandut dan Kareng Bengel sekitarnya. Pemerintah juga mencoba membangun Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) di daerah Jati Kabupaten Jepara Jawa Tengah, namun mendapat resistensi dari masyarakat sekitarnya, masyarakat khawatir dampak negatif yang ditimbulkan Pembanglit Listrik Tenaga Nuklir tersebut.

Semua pembangkit listrik yang penulis sebutkan di atas menggunakan bahan baku tidak dapat diperbaharui, PLTU menggunakan bahan baku batu bara, PLTD menggunakan bahan baku minyak, PLTG menggunakan bahan baku gas, PLTA menggunakan bahan baku air, semua bahan baku tersebut suatu saat pasti akan habis dari perut bumi Indonesia. Sejak dini harus mencari bahan baku alternatif yang dapat diperbaharui untuk pembangkit listrik di Indonesia. Di Rusia dan Thailand telah berdiri pembangkit listrik dengan menggunakan bahan bakar Jerami dan Sekam padi. Pembangkit listrik berbahan baku Jerami dan Sekam padi sangat cocok dikembangkan di Indonesia karena Jerami dan Sekam padi cukup banyak tersedia terutama saat musim panen padi. Hanya kendalanya bahan baku Jerami dan Sekam padi tidak tersedia sepanjang waktu, ketika tidak musim panen padi sangat sulit untuk mencari Jerami dan Sekam padi, apalagi Jerami padi banyak di pergunakan untuk makan ternak sapi dan Sekam padi banyak di pergunakan untuk membakar batu merah.

Penulis sangat tertarik dengan Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) dengan bahan baku arang batok kelapa. Selama ini PLTU berbahan baku batu bara tetapi batu bara merupakan bahan tambang tidak dapat di perbaharuai sewaktu-waktu pasti akan habis. PLTU Paiton Probolinggo Jawa Timur menggunakan batu bara dari Kalimantan, PLTU Ombilin Sawah Lunto Sumatera Barat menggunakan batu baru dari Ombilin sekitarnya, operasional PLTU akan terganggu apabila ketersediaan batu bara berkurang.

PLTU berbahan baku arang batok kelapa sistem operasinya (kerjanya) persis sama dengan PLTU yang berbahan baku batu bara, hanya saja batu bara diganti dengan arang batok kelapa. Pada intinya sistem kerja PLTU adalah pemanasan pada Boeler untuk bisa memutar Turbin supaya menghasilkan arus listrik. Barangkali timbul pertanyaan, “apakah mungkin PLTU dengan bahan baku arang batok kelapa?”. Kalau melihat potensi alam Indonesia sangat mungkin untuk pengembangan PLTU berbahan baku arang batok kelapa. Pohon kelapa di Indonesia cukup banyak dan masih banyak tanah yang kosong untuk bisa di tanami pohon kelapa.
Sebagai gambaran, pohon kepala mulai berbuah pada umur 5 tahun dan mampu berbuah produktif kurang lebih 65 tahun. Setiap batang pohon kelapa yang subur mampu menghasilkan buah kelapa sebanyak kurang lebih 250 buah kelapa setip tahunnya. Dalam satu buah kepala akan di peroleh batok kelapa kering sebesar 2 ons. Untuk bisa menghasilkan arang batok kelapa 1 kg membutuhkan batok kelapa kering sebanyak 4 kg. Setiap tahunnya satu batang pohon kelapa akan mampu menghasilkan 40 kg batok kelapa kering dan bisa di buat menjadi arang batok kelapa sebanyak 10 kg. Dalam satu tahun 1.000 pohon kelapa akan mampu menghasilkan arang batok kelapa sebanyak 10 ton.

Negara Indonesia adalah Negara kepulauan, hampir setiap pulau sangat cocok dengan tanaman kelapa, tidak hanya Sulawasi Utara saja yang cocok dengan tanaman kelapa, secara realitas memang daerah tersebut penghasil kelapa di Indonesia. PLTU berbahan baku arang batok kelapa merupakan energi alternatif yang sangat cocok diterapkan di Indonesia karena arang batok kelapa cukup banyak tersedia disamping itu energi ini sangat ramah terhadap lingkungan. PLTU berbahan baku arang batok kelapa dapat mendorong para petani untuk mengembangkan pohon kelapa karena para petani akan memperoleh dua keuntungan, keuntungan pertama adalah isi buah kelapa itu sendiri dan kedua akan memperoleh keuntungan dari batok kelapa yang selama ini batok kelapa belum dimanfaatkan secara maksimal.
Menurut penulis, ada beberapa manfaat yang dapat kita peroleh apabila PLTU yang menggunakan bahan baku arang batok kelapa diantaranya, pertama, meningkatkan pendapatan petani kelapa

Selama ini para petani kelapa hanya memperoleh manfaat dari penjualan isi buah kelapa dengan harga yang relatif murah karena belum memperhitungkan manfaat batok kelapa. Dengan adanya PLTU yang menggunakan arang batok kelapa dapat mendorong para petani mengembangan pohon kelapa sehingga pendapatan para petani kelapa akan meningkat. Kedua, tercukupinya minyak kelapa di dalam negeri. Dengan banyaknya para petani yang mengembangkan pohon kelapa , maka industri minyak kelapa akan mudah memperoleh bahan baku kelapa sehingga kebutuhan minyak kelapa dalam negeri akan tercukupi bahkan mampu untuk di ekspor. Ketiga, kelestarian lingkungan akan terjamin. Dengan banyaknya para petani menanamkan pohon kelapa, maka tanah-tanah yang selama ini kosong dan tidak tergarap menjadi perkebunan kelapa rakyat sehingga akan melestarikan lingkungan hidup. Pangaruh positif lainnya adalah pembangkit listrik tenaga air (PLTA) akan terjamin konuitasnya karena tanaman pohon kelapa mampu menyerap air cukup banyak sehingga debit air untuk PLTA tetap terjamin. Keempat, terjaminnya pasokan energi listrik kepada masyarakat. Karena arang batok kelapa merupakan sumber daya energi yang dapat diperbaharui maka ketersediaann bahan bakunya bisa direncanakan dengan baik, berbeda dengan sumber daya alam seperti batu bara, minyak, gas tidak dapat diperbaharui sehingga apabila bahan baku tersebut habis akan mengganggu pasokan energi listrik.

Masih banyak sumber daya energi alternatif yang perlu dikembangkan untuk mengatasi kesulitan energi yang melanda Bangsa Indonesia saat ini.***

Sumber: http://sijorimandiri.net/sm/index.php?option=com_content&view=article&id=1450:pltu-arang-batok-kelapa-energi-masa-depan-&catid=50:opini&Itemid=69


Jumat, 28 Mei 2010

Empat Tahun Lumpur Lapindo - Dari Lumpur Kembali ke Laut

Kamis, 27 Mei 2010 | 18:12 WIB

Oleh Oki Lukito

Kontroversi Jalan Raya Porong akibat luapan lumpur Lapindo terus berlanjut. Pemprov Jawa Timur bersikukuh belum akan menutup Jalan Raya Porong, kendati banyak desakan dari berbagai pihak agar jalur perekonomian utama itu ditutup demi keselamatan pengguna jalan. Sejumlah alternatif telah disiapkan untuk mengantisipasi jika poros wilayah timur pantura itu tidak dapat dilewati.

Sayang dari semua alternatif itu masih saja land base oriented, tidak mempunyai kesungguhan memanfaatkan moda transportasi laut. Jika dicermati selama ini sistem transportasi di ranah bahari ini pincang, hanya mengandalkan single moda, yaitu transportasi darat. Akibatnya beban jalan semakin berat, jumlah angka kecelakaan lalu lintas di jalur pantura meningkat dan biaya perawatan jalan semakin mahal.

Padahal Jawa Timur mempunyai keunggulan geografis dengan garis panjang pantai 1.900 kilometer. Wilayahnya yang sebagian besar laut seharusnya dapat dimanfaatkan sebagai sarana transportasi angkutan barang. Sementara jalan raya antardaerah maupun antarprovinsi seyogianya digunakan passengers only.

Menurut catatan, setiap hari Jalan Raya Porong dilewati sedikitnya 167.000 kendaraan besar dan kecil, sedangkan jalur alternatif Mojosari-Krian hanya mampu menampung 60.000 hingga 70.000 kendaraan per hari. Kerugian eksportir yang melewati Jalan Raya Porong dan terjebak kemacetan serta mengambil jalan alternatif Mojosari, Kabupaten Mojokerto, dengan jarak tempuh lebih jauh cukup besar.

Sebagai ilustrasi, kontainer ukuran 20 feet harus mengeluarkan biaya tambahan Rp 150.000, sedangkan kontainer 40 feet Rp 250.000 sekali lewat. Jika melalui jalur alternatif, kontainer 20 feet mengeluarkan biaya lebih mahal, yaitu Rp 250.000, sedangkan kontainer 40 feet Rp 350.000. Biaya itu belum termasuk biaya tambahan di gudang eksportir dan pelabuhan serta pengiriman barang yang harus dipercepat sehari dari jadwal.

Di Kota Probolinggo terdapat dua pelabuhan cukup besar, Tanjung Tembaga lama dikelola Pelindo III dan pelabuhan baru dengan kedalaman 10 meter yang dikelola Kantor Pelabuhan (Kapel) Probolinggo. Untuk sementara Pelabuhan Kapel Tanjung Tembaga dapat melayani kapal berbobot 2.500 DWT hingga di atas 5.000 DWT jika pembangunan tahap II selesai dikerjakan pada tahun 2012.

Dengan selesainya Tanjung Tembaga, Jawa Timur mempunyai tiga pintu gerbang laut setelah Tanjung Perak dan Tanjung Wangi, Banyuwangi. Angkutan barang dari Surabaya tujuan Pasuruan, Probolinggo, Bondowoso, Lumajang, Jember, dan Malang maupun sebaliknya dapat dialihkan lewat laut dengan memanfaatkan Tanjung Tembaga. Kota-kota tersebut selama ini memberikan kontribusi ekonomi cukup besar bagi Jawa Timur.

Demikian pula di Banyuwangi terdapat pelabuhan shipping ocean going yang dapat disandari kapal dengan bobot di atas 10.000 DWT. Bahkan Pelabuhan Tanjung Wangi dilengkapi fasilitas terminal peti kemas, gudang, dan Depo BBM. Sayang, sejak selesai dikerjakan lima tahun lalu, pelabuhan itu 90 persen idle capacity.

Mendongkrak produktivitas

Untuk menekan biaya tinggi yang selama ini menjadi momok pengguna jasa pelabuhan, dapat dilakukan dengan cara mendongkrak produktivitas, pengembangan fasilitas serta peningkatan layanan dengan standar internasional. Pemerintah Jawa Timur harus berani pasang badan menekan biaya tinggi di pelabuhan agar pengguna jasa efisien dan efektif serta merasa nyaman.

Kapal yang dioperasikan juga tidak harus besar, untuk efisiensi cukup menggunakan landing container craft (LCC) dengan kapasitas angkut 15 kontainer ukuran 40 feet. Sementara kapal feri yang pernah digunakan transportasi Ujung-Kamal dapat difungsikan kembali dengan trayek Surabaya-Probolinggo-Banyuwangi PP untuk menekan kerugian akibat merosotnya jumlah penumpang setelah adanya Jembatan Suramadu.

Sudah saatnya Jawa Timur mengembangkan potensi dan kemauan politiknya di sektor agro-maritim. Selama ini kita belum mempunyai rencana strategis membangun potensi wilayah maritim kita, baik jangka pendek, jangka menengah, dan jangka panjang sebagai landasan memanfaatkan keunggulan geografis yang kita miliki tersebut.

Perhatian kita terhadap jati diri sebagai bangsa bahari terabaikan, terbukti belum terkelolanya sistim transportasi laut secara memadai.

Oki Lukito Direktur Regional Economic Maritime Institute Ketua Forum Masyarakat Kelautan dan Perikanan

Sumber: http://cetak.kompas.com/read/xml/2010/05/27/18124669/.dari.lumpur.kembali.ke.laut.


Selasa, 18 Mei 2010

Sekber Korporatokrasi Politik?

Selasa, 18 Mei 2010 00:01 WIB

Menarik untuk disimak lebih jauh pernyataan politisi muda Partai Golkar, Bambang Susetyo, di Metro TV Senin (10/5), yang tetap yakin bahwa anggota Pansus Hak Angket Century dari Partai Golkar tidak akan berubah sikap, sekalipun ketua umumnya, Aburizal Bakrie, menjadi Ketua Harian Sekber (Sekretariat Bersama) Koalisi dengan Partai Demokrat. Tentu saja pernyataan jujur dan ikhlas politisi muda itu harus diuji kebenarannya ke depan, mengingat dia adalah salah satu pelopor gigih Pansus Hak Angket Century. Bahkan ia telah meluncurkan buku dengan judul tak tanggung-tanggung, Skandal Gila Century.

Di sisi lain, publik seperti meragukan efektivitas tekad mulia Bambang sebab ia harus berhadapan dengan sang ketua yang memilih bersatu dengan Demokrat dan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, yang nyata tidak menerima Paripurna DPR atas kasus Century. Namun, Bambang tidak sendirian sebab kawan-kawannya yang teguh berjuang seperti Maruarar Sirait, Eva Kusuma Sundari dari PDI Perjuangan, Akbar Faisal dari Hanura, Ahmad Muzani dari Gerindra, dan rekan lainnya terus mengawal keputusan Paripurna DPR 3 Maret itu.

Namun, konsistensi sikap Bambang dan rekan Golkarnya mungkin saja harus mengayuh sendirian. Sebab kawan seperjalanannya seperti Azis Sjamsuddin, dalam dialog dengan Metro TV beberapa hari lalu, juga berubah sikap. Demikian pula dengan seniornya di DPR, seperti Ketua Fraksi Golkar Priyo Budi Santoso yang menyatakan jika ada kemungkinan Pansus Hak Angket Century dipetieskan, Golkar tidak masalah (Media Indonesia 7/5). Memori publik serentak memutar kembali gerak-gerik politik Golkar selama ini--minimal pimpinan minus Bambang Susetyo dan kader muda lain yang cerdas, kritis, konsisten--bagaimana jagonya partai ini 'bermain di air keruh'. Di air keruh itulah geliat para korporat dan kartel politik mencari strategi memenangkan kepentingan mereka.

Korporatokrasi
Jika benar asumsi itu, berarti kita kini berhadapan dengan politik korporatokrasi. Bagi John Perkins (The Secret History of The American Empire, 2007) korporatokrasi itu lahir dari ulah para gangster yang mendirikan firma bagi korporasi dagang mereka, bahkan menunggangi negara, demi meraih keuntungan di atas keringat bahkan derita negara lain. Korporat-korporat 'Negeri Paman Sam' menggurita di belahan dunia, mulai dari eksploitasi minyak di negara Hugo Chavez, Venezuela, perusahaan listrik di Bolivia, Cile, Argentina, eksploitasi minyak di Mesir, Kuwait, Nigeria, bahkan sampai megaproyek listrik bertenaga uap (PLTU) Paiton I dan II Situbondo, Indonesia.

Cara kerja mereka, menurut Perkins, menonjolkan pola 'bandit'. Bandit bagi Olson, seperti dirujuk Didiek Rahbini dalam bukunya Teori Bandit (Rahbini, 2008), menyatakan bahwa kerja para bandit memang berdampak positif dalam menyumbang kesejahteraan publik. Namun, yang menonjol justru dampak negatif seperti berburu rente bagi kepentingan mereka sendiri dan sikap anarkistis dengan aneka cara yang tidak disadari pihak lain.


Jika analogi kita dengan korporatokrasi politik mirip dengan korporatokrasi ekonomi, bukan tidak mungkin pembentukan Sekber Koalisi Golkar dan Demokrat menjadi sebuah bentuk korporatokrasi politik yang akan melemahkan bahkan mematikan demokrasi berbasis partai. Media Indonesia dalam headline dan Editorial (Media Indonesia 11/5) dengan gamblang menyoroti kartel politik yang oligarkis, dan makin mengaburkan sistem presidensial ke arah quasy-parlementer. Melemahkan karena korporasi politik itu akan membentuk kekuatan yang tidak seimbang sebab sekber itu juga ditambah partai lain seperti PAN, PPP, dan PKB dan mungkin juga PKS. Ketua umum dan mantan presiden keempat partai ini sudah lama di genggaman korporasi politik, sebagai menteri di KIB II.


Maka persaingan parlemen akan menghasilkan tirani para bandit politik atas nama demokrasi mayoritarian (suara terbanyak) dalam setiap pertarungan di DPR. Tirani berbaju demokrasi itu diperankan 'bandit-bandit politik' pendukung korporatokrasi parlemen Indonesia. Maka pernyataan kader Golkar cerdas, konsisten lainnya, Agun Gunanjar (dialog Metro TV 11/5) sangat tepat bahwa koalisi ini mengancam kekuatan demokratisasi partai politik ke depan. Menurutnya, koalisi baru ini hanya koalisi pemimpin yang oligarkis dan belum menjadi keinginan dan sikap pengurus Golkar umumnya.

Kosmologi kebingungan?
'Kepentingan' selalu menjadi alasan pembenar bagi perilaku politik kartelian dan korporatik. Politik kartel versi Harold D Laswell yang mengumumkan adagium who gets what and how (siapa mendapatkan apa dan dengan cara bagaimana), sebenarnya bertolak belakang dengan penunjukan Aburizal sebagai ketua harian sekber. Sebab semua orang tahu bahwa pada pemilu 2009 Partai Golkar mengajukan capres sendiri, Jusuf Kalla dan Wiranto. Golkar tidak berkeringat sedikit pun untuk menghantar SBY-Boediono ke kursi RI-1 dan RI-2, tetapi malah mendapat tiga kursi di kabinet, malah sekarang ketua harian dalam kartel.

Jika sekber hanya 'ruang' kompromi dan komunikasi politik, dipastikan Aburizal hanya pemegang stempel dokumen kesepakatan, sedangkan eksekusi tetap di tangan SBY dan Demokrat serta partai-partai yang berkeringat pada Pilpres 2009. Namun, kalau Bakrie diberi 'lengan' kekuasaan kartel, sudah pasti Golkar akan merajalela bersama rekannya, Demokrat. Jika benar, itu merupakan sebuah kosmologi kebingungan seorang SBY menghadapi derasnya desakan perubahan demokrasi.

Sebab ada beberapa indikator penjelas kebingungan. Staf Khusus Presiden Andy Arif, misalnya, pernah mendekati pemimpin PDI Perjuangan, baik Taufiq Kiemas, mantan Sekjen Pramono Anung maupun pimpinan fraksi DPR untuk berkoalisi. Namun, hasil kongres III PDI Perjuangan justru teguh menancapkan kaki oposisi partai ini. Selain itu, pemimpin Demokrat Ahmad Mubarok pernah melontarkan pernyataan bahwa the rulling party itu ingin berkoalisi dengan PDI Perjuangan, setelah koalisi pelangi mereka berantakan akibat skandal Century.

Jika kosmologi kebingungan SBY itu benar, kita berharap Sekber Koalisi Demokrat-Golkar plus partai koalisi yang telah 'berkeringat' ditantang untuk menampakkan demokratisasi politik yang elegan, jujur, dan bermartabat serta antioligarkis. Aburizal selaku 'masinis' yang mengendalikan gerbong sekber tidak dibiarkan melakukan 'politik tukar guling' baik kasus pajaknya, penuntasan kasus Lapindo, ditambah bidikan pemakzulan Wapres Boediono. Sebab jika hak menyatakan pendapat DPR dimungkinkan, itu bukan jasa Golkar dan Aburizal, melainkan konsistensi lembaga DPR untuk mengungkap mafia money laundering dan aliran dana Century. Demokrasi politik terus melangkah, minus kekonyolan politik tukar guling.

Oleh Ansel Alaman, Pengajar character building Unika Atma Jaya dan Binus, Jakarta

Sumber: http://m.mediaindonesia.com/index.php/read/2010/05/18/143335/68/11/Sekber_Korporatokrasi_Politik

Jumat, 07 Mei 2010

Dalam Serbuan Hiburan Malam

Jumat, 07 Mei 2010 pukul 11:13:00
Oleh: Eko Hardianto

"Dan peliharalah dirimu dari siksaan yang
tidak khusus menimpa orang-orang zalim saja
di antara kamu. Dan ketahuilah bahwa Allah
amat keras siksanya."

(QS al-Anfâl: 8:25)

Munculnya bisnis kafe dan hiburan malam, bak jamur di musim penghujan di Kota Probolinggo, adalah tanda keterbukaan masyarakat terhadap tuntutan glo balisasi zaman. Modernisasi ini seperti tak lagi dapat ditolak. Apalagi, promosi dunia malam yang bertubi-tubi meluncur lewat media massa, terus merangsek pola pikir berbagai kelompok usia, dengan beragam komunitas.

Akibatnya, hamper siapapun yang hidup di zaman serba modern ini pasti akan berkompromi dengan gemerlapnya panggung kehidupan. Sebuah diktum yang tak sepenuhnya benar, demikian kata ibu-ibu sebuah jamaah pengajian di Kota Probolinggo.

Maraknya bisnis hiburan malam, kata mereka, tak lebih dari bahaya laten yang akan merusak moral bangsa secara masif. Hiburan malam sama sekali tak menawarkan gagasan baru untuk menjadikan daerah menjadi kondusif, aman, tentram dan lebih maju.

"Apa yang dunia hiburan tawarkan hanya sebatas kenikmatan hidup dengan gaya modern, konsumtif dan jet-set," ujar Ny Sisca, anggota sebuah majelis taklim di Kelurahan Wiroborang, Kota Probolinggo.

Karena hiburan malam, lanjut dia, banyak orang menjadi bebas tanpa batas, baik batas etika kesopanan, moral maupun akhlak. “Syahwat yang tergoda mengakibatkan konsentrasi dan ketenangan hati dan jiwa terganggu,’’ kata Sisca.

Kemaksiatan yang dilihat terus menerus oleh seseorang akan mempengaruhi perasaan dan konsentrasi hatinya, lalu memalingkannya dari perbuatan-perbuatan baik dan bermanfaat. ‘’Apabila hati seseorang sudah tergoda dengan perbuatan yang haram, maka sewaktu-waktu akan muncul hasratnya untuk mencoba melakukannya bila ada kesempatan,” urai Sisca.

Sebuah bukti, kata Ny Farida, anggota majelis taklim lainnya, sejak tumbuh subur hiburan malam, banyak kaum bapak dan anak muda yang mengesankan dirinya bagai selebritis. Mereka akan bangga ketika sekadar bercerita tentang isi dunia gemerlap.

Bahkan sebagian dari mereka, mulai lupa diri dan kehilangan tanggung jawab terhadap keluarga. "Ini bukan sekedar isapan jempol. Banyak kasus perselingkuhan yang diawali dari acara dugem (dunia gemerlap).

Sekarang sebentar-sebentar yang diomongin anak muda soal acara di kafe- lah, karaokeanlah. Padahal kantong mereka sebenarnya tak terlalu tebal," tutur Ida. Sejak 2009, Kota Probolinggo, seolah surga bagi pengusaha entertaint. Sampai pertengahan 2010 ini, sudah sekitar lima objek hiburan malam berdiri, berdampingan dengan puluhan kafe kecil.

Keberadaannya bukan sekadar menyajikan panggung hiburan, di antaranya secara masif bahkan telah menyajikan "pemuas syahwat".

Sungguh ironis sebenarnya. Kota yang dulunya dikenal banyak mengoleksi ulama tradisional ini harus berlumur budaya hedonis. Perempuan dengan dandanan menor, dibalut busana serba ketat dan minim, banyak nongkrong saat tempat-tempat hiburan malam ini beroperasi. Peredaran minuman keras (mi ras) disinyalir berkadar alkohol di atas 10 persen seolah sudah tak terbendung lagi.

Tak hanya itu. Belakangan tersiar kabar, bukan sekali keributan antar oknum petugas terjadi di tempat-tempat tersebut. Kasus terakhir, Rudi Yahyanto, bos PO Akas III Probolinggo, menjadi sasaran pemukulan ketika melerai sejumlah pria berambut cepak yang terlibat baku hantam.

"Yang dipukulkan ke pelipis saya gagang pistol. Saya yakin itu gagang pistol," kata Rudi saat itu. Tapi sayang, peristiwa yang terjadi pada Selasa (16/3) lalu di Marknauff Café, Jl Dr Soetomo, itu seolah dibiarkan berlalu. Meski korban sempat melaporkan peristiwa tersebut ke Den POM V/Probolinggo.

Seperti zaman jahiliyah

Sejak budaya hedonis menular ke Kota Probolinggo, ujar KH Taufiqusholeh, banyak kaum muda menjadi "silau". Rangsangan manipulasi dan kolusi menjadi-jadi saat keadaan ekonomi semakin sulit.

Susahnya mencari pekerjaan, harga barang-barang kebutuhan yang terus melambung serta gaya hidup yang semakin men-jetset, membuat mereka lupa diri. Cara mencari rezeki sudah tak lagi memperdulikan norma agama. Yang penting uang bisa didapat dengan mudah, meski dengan cara yang kotor dan keji.

Keadaan seperti ini, kata dia, pernah digambarkan oleh seorang penyair muda di zaman jahiliyah. Penyair bernama Thorofah bin Al- 'Abdi ini mengatakan: "Apabila Anda tak dapat memuaskan keinginanku, biarlah aku memenuhinya dengan seenakku sendiri, orang akan memuaskan nafsunya selama hidup. Setelah mati nanti Anda akan tahu bahwa kita semua haus," kutip KH Taufiqusholeh.

Manusia yang menyatakan dirinya "modern", sambung pria yang pernah mengenyam pendidikan di Turki itu, pastilah menjadi pengikut aliran hedonis, walaupun tidak dengan terangterangan. Di dalam Hadit Tarmizi, Rasulullah SAW, bersabda:

"Sesungguhnya bagi setiap umat ada ujiannya, dan ujian bagi umatku ialah harta kekayaan. Dikatakan dia, azab Allah Ta'ala itu sangat pedih. Jika diturunkan pada suatu tempat, maka ia akan menimpa semua orang yang ada di tempat tersebut, baik orang shaleh maupun thalih (keji).

"Dalam pengertian Alquran surat al-Anfal/8:25 dijelaskan, Allah Ta'ala ber firman kepada orang-orang yang beriman untuk memelihara diri dari siksa-NYa. Jangan sampai siksa itu menimpa manusia, karena ulah orang-orang zalim yang telah melakukan perbuatan yang seharusnya tidak mereka lakukan, baik berupa kezaliman maupun perbuatan dosa (lainnya) atau karena kalian mendatangi tempat-tempat maksiat, tempat yang pantas untuk diturunkan azab," tutup lulusan sebuah pesantren di tanah hejaz itu, tutur Taufiqusholeh.

Sedangkan bagi manusia yang menegakkah amarmakruf nahyi munkar, Allah Ta'ala ber firman: Maka tatkala mereka melupakan apa yang diperingatkan kepada mereka kami menyelamatkan orang-orang yang mencegah perbuatan jahat dan kami timpakan kepada orang yang berbuat dzalim siksaan yang keras disebabkan mereka selalu berbuat fasik. (QS Al A'rof :165).

Itu adalah sunnatullah (hukum Allah Ta'ala) bagi para hamba- Nya, bahwa orang-orang yang memerintahkan kepada yang maruf dan mencegah dari kemungkaran akan selamat ketika musibah menimpa, tutup dia mengutip kitab Taisirul Karim ar-Rahman halaman 307. ed: asep

Sumber: http://koran.republika.co.id/koran/0/110512/Dalam_Serbuan_Hiburan_Malam

Minggu, 02 Mei 2010

Dicekam Ujian Nasional

Dibayangi kegagalan, para siswa sampai berdoa ke makam. Mengapa ujian nasional menakutkan?
Jum'at, 30 April 2010, 21:56 WIB
Elin Yunita Kristanti, Lutfi Dwi Puji Astuti, Nur Farida Ahniar, Desy Afrianti
Ujian Nasional (Antara/Hasan Sakri Ghozali)

VIVAnews – GUSTI Ayu Riska Lestari duduk bersandar di kursi. Dara enam belas tahun itu mengeluh pusing. Mulutnya masih bau sisa racun serangga. Mukanya pucat. Dengan wajah muram, dia bercerita tentang prahara pada Senin 26 April 2010: tatkala dia gagal Ujian Nasional.

Pagi itu, siswa SMU PGRI I Maros, Sulawesi Selatan ini galau menanti hasil ujian. Dia teringat kata-kata ayahnya: jangan sampai tak lulus. Hasil ujian itu kini terbentang di depan mata. Pada bidang studi matematika Riska dapat angka 3. Lalu ada tulisan ‘UL’ alias ulang. Sekejap, dunia Riska pun seperti runtuh.

Dia berlari pulang. Perasaannya tak menentu, kecewa campur takut. Dia mampir ke warung depan rumah, membeli obat anti serangga seharga Rp 16.000. Pikirannya kacau. Lalu diteguknya cairan maut itu. “Saya tidak bisa menerima kenyataan tidak lulus. Saya stres dan putus asa,” kata Ika kepada VIVAnews, Kamis 29 April 2010.

Tak lama, Riska pun roboh. “Tiba-tiba kepala saya langsung pusing, dan terasa panas,” ujarnya. Ketika sadar, dia berada di Rumah Sakit Salewangan, Maros. Untung, nyawanya terselamatkan.

Dia sangat menyesal telah berbuat bodoh seperti itu. “Saat itu saya kalap dan nggak tahu harus berbuat apa,” kata dia. Dengan senyum lemah, Riska mengaku masih punya harapan, yakni bisa lulus dalam ujian ulangan pada 11-14 Mei 2010 nanti.

Kalap, takut, dan galau itu ternyata menyebar. Di Wonogiri, Jawa Tengah, Virginia Indah Hargarini, siswi SMU Pancasila di kabupetan itu turut gelap mata. Setelah paman sekaligus gurunya, Tukijo mengabarkan kabar buruk dia gagal ujian nasional, Indah menyambar kaleng semprot di dekatnya, dan menenggak isinya.

Untung, dia juga selamat setelah dilarikan ke Rumah Sakit Marga Husada. Rupanya kaleng semprot itu berisi cairan pengharum ruangan.

Tapi di Jambi, ada tragedi lain. Wahyuningsih, 19 tahun, kaget ketika membuka amplop pengumuman pada Senin 26 April 2010. Siswi SMKN 3 Muaro Jambi itu tak lulus. Padahal untuk pelajaran Bahasa Indonesia, dia paling tinggi di sekolahnya. Tapi nilai matematikanya hancur, 3,8, kurang 0,2 poin dari batas lulus.

Dia sebelumnya adalah juara kelas. Tapi kini, dia satu-satunya murid yang tak lulus. Hartinya hancur. Ningsih histeris, tubuhnya berguncang dan jatuh. Dalam kondisi galau, Ningsih diantar pulang. Lalu, entah bagaimana, dia ditemukan tergeletak dengan mulut berbusa. Sisa-sisa fungisida ada di dekatnya.

Meski sempat dilarikan ke rumah sakit, nyawa Ningsih tak selamat. Dia tewas.

Ujian nasional telah memakan korban.

***

TAMPAK seperti “hari hidup atau mati”, ujian nasional telah membuat para siswa dicekam kecemasan, kalap dan takut. Pelbagai upaya dilakukan agar bisa lulus. Selain belajar keras, ada pula rupa-rupa ritual. Sekolah juga terus memompa motivasi pada murid. Bahkan ada acara doa bersama dengan pemuka agama, dan sarat adegan isak tangis.

Di Surakarta dan Medan, misalnya, murid-murid didorong meminta maaf pada orang tua. Para siswa sungkem -- bersimpuh pada orang tua memohon restu. Tangis pun pecah dari ayah dan ibu, seakan mengantar anak ke medan perang.

Kegiatan spiritual juga dilakukan, seperti istighosah, dan berdoa di makam tokoh ternama. Ada yang berziarah ke Makam Sunan Kudus. Bahkan, makam mantan presiden, Abdurrahman Wahid alias Gus Dur ramai dikunjungi pelajar jelang ujian nasional.

Ada juga yang percaya hal-hal klenik. Di Probolinggo, Jawa Timur, pelajar membawa pensilnya ke pengasuh pesantren. Bukan untuk diraut agar lebih tajam. Tapi diberi “isi” dengan doa agar lulus, dan mulus mengerjakan soal ujian. 'Air sakti' dengan rapalan doa dari dukun juga laris manis.

Di tengah kekalapan siswa, ada pula dukun yang cari kesempatan. Lara, sebut saja namanya begitu. Siswi salah satu SMK di Doko, Ngasem, Kediri itu gamang menghadapi ujian. Lalu dia pergi mencari “kekuatan” ke dukun. Sial, bukannya jadi percaya diri, Lara malah jadi korban dukun cabul.

Apa sebenarnya yang membuat lulus UN jadi hal yang sangat penting? Anggota DPD RI dari DKI Jakarta, Dani Anwar mengatakan, ujian nasional menjadi beban, tak hanya bagi siswa, tapi juga bagi orang tua dan guru. Sebab, ini adalah penentu keberhasilan siswa selama belajar tiga tahun di sekolah. Nama baik sekolah dan orang tua ikut dipertaruhkan.

Bagaimanapun, siswa adalah pihak paling tertekan. "Kalau dibayangi UN seperti penentu hidup dan mati siswa begitu, justru membuat stres dia.” Dani iba dengan siswa yang harus menghadapi tekanan luar biasa. "Dalam usia dini seperti itu, mereka sudah dalam suasana underpressure luar biasa,” ujar dia. Padahal, “pendidikan mestinya dibuat untuk bagaimana siswa menjadi enjoy”.

Soal ketidaklulusan, pakar pendidikan, Arif Rachman berpendapat, ada banyak hal yang menyebabkan itu. Boleh jadi, kata Arif, murid tidak siap menghadapi UN. Akibatnya dari segi psikologis mereka gugup. Atau ini memang soal kecerdasan, dan kepandaian siswa. “Masalah sulitnya soal juga bisa menjadi penghambat,” ujarnya menambahkan. Memang, banyak pengakuan dari para siswa soal yang diujikan lebih sulit dibanding sebelumnya. Jadwal ujiannya yang dimajukan, bisa juga salah satu faktor.

Bagi Arif Rachman, para siswa sebetulnya tak perlu terlalu gugup. “Saat ini, jika tidak lulus UN kan bisa mengulang. Kalau tidak lulus tinggal ngulang saja 1 tahun. Jadi siswa masih punya kesempatan kok,” turut Arif.

***

UJIAN Nasional juga membuat pemerintah daerah was-was. Soalnya cukup terang, jika peringkat kelulusan siswa di satu daerah jeblok, maka pemerintah setempat akan menjadi sorotan. Ini bukan hanya ujian bagi siswa, tapi juga gengsi daerah.

Yogyakarta, misalnya. Hasil Ujian Nasional tahun ini adalah tamparan bagi ‘kota pelajar’ itu. Sebanyak 9.237 peserta ujian nasional di Yogyakarta tak lulus. Dari sekian ratus sekolahan tingkat atas, hanya empat sekolah siswanya lulus 100 persen. Hasil terburuk sepajang sejarah ujian nasional.

Gubernur Yogyakarta, Sri Sultan Hamengku Buwono X pun dibuat pusing. Raja Yogyakarta itu sampai menggelar rapat khusus, dan meminta Dinas Pendidikan Pemuda dan Olah Raga Yogyakarta sesegera mungkin melakukan evaluasi. "Yang jelas saya kecewa dengan hasil UN yang tidak menggembirakan. Tapi ya mau bagaimana lagi,” kata Sultan.

Meski anjlok, Kepala Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga Provinsi DIY, Suwarsih Madya punya pembelaan. “Ujian Nasional di Yogyakarta paling jujur. Ini bukan kita yang menilai, tapi dari Badan Standarisasi Nasional Pendidikan (BSPN). Tidak ada rekayasa sama sekali,” kata dia.

Sementara, Baskoro Aji, Ketua Pelaksana UN Yogyakarta, menuturkan hasil evaluasi penyebab utama gagalnya siswa dalam ujian pekan lalu itu. Rupanya banyak siswa hanya belajar penuh untuk segelintir mata pelajaran. Akibatnya, pelajaran lain kurang mendapat perhatian.

Faktor lain, ujian nasional kali ini memberikan kesempatan ujian ulangan. Akibatnya siswa tidak serius dalam belajar. Toh, bisa mengulang, tak seperti tahun sebelumnya. Juga masih ada pro kontra hasil UN yang tak lagi menentukan kelulusan siswa, sesuai keputusan Mahkamah Agung.

Tak hanya Sultan yang kecewa. Wakil Gubernur DKI Jakarta, Prijanto malu dengan tingkat kelulusan siswa peserta UN di Jakarta. “Jika UN pertandingan, saya merasa malu,” kata Prijanto. Dia menyesalkan kelulusan di Jakarta lebih rendah ketimbang provinsi lain, seperti Jawa Barat dan Jawa Timur.

Kelulusan SMA di Jakarta tahun ini, menurut data Dinas Pendidikan DKI, hanya 90,672 persen. Sedangkan tingkat SMK mencapai 92,18 persen. Tahun lalu, kelulusan SMA di DKI mencapai 95,5 persen untuk SMA, dan 97,65 persen SMK. Mengingat masih ada peluang mengulang, Kepala Dinas Pendidikan DKI Jakarta, Taufik Yudi Mulyanto mengatakan angka kelulusan ini belum final.

Taufik mengaku pihaknya sudah melakukan persiapan maksimal menghadapi Ujian Nasional. Tapi mengapa banyak yang tak lulus? Menurut Taufik bisa saja pada saat ujian, siswa dalam kondisi tidak fit, baik fisik maupun mental, di satu mata pelajaran. “Walaupun pada mata pelajaran lain nilainya bagus, akhirnya dia harus mengulang di hanya mata pelajaran itu saja,” jawab dia.

***

MULAI diberlakukan sejak 2003, Ujian Akhir Nasional (UAN) diterapkan untuk mengganti EBTANAS (Evaluasi Belajar Tahap Akhir Nasional). Pada 2005, nama itu berubah lagi menjadi Ujian Nasional (UN).

Apapun namanya, UAN atau UN, siswa harus memenuhi nilai minimal semua mata pelajaran. Satu saja gagal, artinya tak lulus.

Sejak diselenggarakan tujuh tahun lalu, ujian nasional menuai kontroversi sampai gugatan ke meja hijau. Hasilnya, Mahkamah Agung menolak kasasi yang diajukan Presiden, Wapres, Mendiknas, dan Ketua BSNP terkait perkara ujian nasional pada 14 September 2009.

Keputusan Mahkamah Agung juga cukup menyentil pemerintah. Dikatakan, pemerintah telah lalai meningkatkan kualitas guru, sarana dan prasarana pendidikan, serta informasi khususnya di daerah pedesaan. Pemerintah juga abai akan implikasi ujian nasional. Soalnya, banyak kecurangan, baik oleh guru maupun siswa agar lulus ujian nasional.

Tapi putusan lembaga peradilan tertinggi itu tak membuat pemerintah kapok. Ujian nasional kembali digelar pada 2010. Hasilnya terlihat jelas: sekitar 154.079 siswa di sekujur negeri tak lulus. Atau, sekitar 10 persen dari seluruh peserta ujian, yaitu 1.522.162 siswa.

Gagalkah Ujian Nasional? Menteri Pendidikan Nasional, M Nuh membantah. Kata dia, ujian nasional ibarat laboratorium kesehatan. "Kalau dari cek laboratorium itu ada tekanan darah tidak normal, maka jangan laboratoriumnya dikorbankan," kata dia, Selasa 27 April 2010.

Ujian Nasional, kata Menteri M Nuh, juga laiknya mengecek kolestrol. "UN itu ibaratnya sama dengan mengecek kolesterol. Jadi pentingnya UN untuk melakukan pengecekan. Kalau tidak ada UN, kita tidak tahu [kemampuan siswa] dengan standar yang sama.”

M Nuh meminta agar murid-murid tak cemas. Masih ada kesempatan kedua pada 10 -14 Mei mendatang. Dia yakin ada kemungkinan angka kelulusan bertambah. Pengalaman gagal dalam UN, kata Menteri Nuh, akan menjadi dorongan luar biasa bagi siswa mengikuti UN ulangan. "Jangan terjebak, ada 1-2 murid yang stres, lalu UN dibubarkan," kata M Nuh.

Laporan Rahmat Zeena (Makassar), Edy Gustan( Mataram), KDW (Yogyakarta), dan Fajar Sodiq (Solo).

Sumber: http://sorot.vivanews.com/news/read/147975-dicekam_ujian_nasional