Tampilkan postingan dengan label Koperasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Koperasi. Tampilkan semua postingan

Kamis, 23 September 2010

Sekap Kasir, Perampok Bobol Uang Koperasi

Kamis, 23 September 2010 | 10:20 WIB

PROBOLINGGO - Koperasi Mitra Jaya di Jl Mastrip Gang STM Ahmad Yani, Kel/Kec Kanigaran, Kota Probolinggo dibobol komplotan perampok, Rabu (22/9). Selain menyekap dua perempuan, perampok membawa kabur uang tunai Rp 20 juta dam 2 HP.

Penanggung jawab koperasi M Khozin dalam laporannya kepada polisi menceritakan, dinihari kemarin, koperasinya disatroni tiga perampok. Ketiga perampok bercadar dan bersenjatakan celurit itu menjebol jendela belakang koperasi.

Ita, kasir koperasi dan Leni, pembantu yang tidur di koperasi, disekap komplotan tersebut. Kedua perempuan muda itu mengaku ketakutan ketika diikat dan disumpal mulutnya dengan kain korden dan handuk. Keduanya kemudian disekap di kamar.

Komplotan perampok itu lalu mengacak-acak ruang tengah. Sebuah brankas berisi uang tunai Rp 20.200.000 menjadi sasaran. Juga dua pesawat handphone (HP) dan sejumlah perhiasan. Komplotan perampok kemudian kabur melalui pintu belakang.

Menjelang subuh, Ita yang berhasil melepaskan ikatan tangannya, melompati pagar koperasi. Perempuan berjilbab itu kemudian meminta tolong sejumlah tetangga. ‘’Mudah-mudahan, komplotan perampok segera tertangkap,” ujar Ita saat mengikuti olah tempat kejadian perkara (TKP) kepada sejumlah polisi, Rabu siang. isa

Sumber: http://www.surabayapost.co.id/?mnu=berita&act=view&id=659b9b9403bd24699a05531cd2901d58&jenis=1679091c5a880faf6fb5e6087eb1b2dc

Koperasi Mitra Jaya Dirampok

Kamis, 23 September 2010

PROBOLinggo - SURYA- Koperasi Mitra Jaya di Kel/Kec Kanigaran, Kota Probolinggo menjadi korban perampokan, Rabu (22/9) dini hari. Uang nasabah di brankas Rp 20 juta amblas. Tak hanya itu, kalung emas 10 gram dan ponsel milik Ita, karyawan, juga lenyap.

Ita, 20, kasir, dan Leni , 30, pembantu rumah tangga, yang sedang tidur di kantor koperasi itu diikat tangannya dan disekap di kamar yang dipakai sebagai musala. Kawanan perampok berjumlah tiga orang beraksi sekitar pukul 01.00 WIB. Menurut Khojin, pimpinan koperasi, kawanan bercelurit masuk dengan menaiki pagar tembok belakang dan mencongkel jendela.

Leni dipaksa membuka brankas, sebelum tangan diikat dan mulutnya disumpal. Leni dan Ita bersusah payah melepaskan ikat hingga akhirnya bisa minta tolong tetangga. Polisi masih menyelidiki peristiwa itu. n st35

Sumber: http://www.surya.co.id/2010/09/23/koperasi-mitra-jaya-dirampok.html

Lagi, Perampokan di Kota

[ Kamis, 23 September 2010 ]
Bobol Koperasi, Sikat Rp 20 Juta, 2 HP dan Perhiasan

PROBOLINGGO - Aksi perampokan kembali terjadi di wilayah Kota Probolinggo. Kali ini yang jadi sasarannya adalah rumah sekaligus kantor koperasi simpan pinjam (KSP) Mitra Jaya di Jl Mastrip Kelurahan/Kecamatan Kanigaran.

Koperasi itu kemarin (22/9) dini hari dibobol perampok. Dari koperasi itu, kawanan perampok berhasil menggondol duit sebesar Rp 20,7 juta, dua buah handphone (HP), satu gelang dan satu cincin emas. Kasus itu pun dilaporkan ke Polresta Probolinggo dan kini masih dalam penyelidikan.

Dari informasi yang dihimpun Radar Bromo, bila malam koperasi itu tidak ditinggal begitu saja. Ada dua orang yang menungguinya. Mereka adalah Ita, 20, seroang karyawan koperasi tersebut dan seorang pembantu, Leny, 30.

Sebelum kejadian itu, Selasa (21/9) sekitar pukul 23.00, mereka masih makan malam. Baru sekitar pukul 24.00 mereka beranjak ke tempat tidur masing-masing. Ita berada di kamar samping dan Leny tidur di kamar depan. Tak lama kemudian, dua wanita itu sama-sama terlelap.

Sekitar satu jam kemudian, mereka dibangunkan oleh tiga orang yang tidak dikenalnya. Mereka pun kaget. Pasalnya tiga orang itu tiba-tiba saja sudah berada di dalam kantor.

Ternyata, para pelaku itu masuk ke dalam area kantor dengan cara melompat pagar tembok setinggi sekira 3 meter di bagian belakang. Begitu berhasil masuk ke area kantor, para perampok itu langsung menuju jendela di bagian belakang kantor.

Perampok berusaha masuk ke dalam kantor dengan cara mencongkel salah satu daun jendela. Congkelannya langsung mengenai kunci jendela berupa grendel. Begitu berhasil membuka jendela, dengan leluasa mereka masuk ke dalam kantor.

Dari dalam ruang belakang itu, mereka langsung menuju kamar depan tempat Leny, tidur. Lalu, pelaku membangunkan Leny dan mengalungi celurit. Para pelaku, juga mengancam Leny agar tidak berteriak atau melawan.

Oleh pelaku, Leny dibawa ke ruang belakang yang dijadikan musala. Di sana, para perampok mengikat tangan dan kaki Leny menggunakan kain gorden. Mulutnya juga disumpal dengan kain.

Berhasil melumpuhkan Leny, kawanan perampok itu menuju kamar Ita. Mereka juga melumpuhkan Ita dengan cara yang sama. Yakni mengancam dan mengalungi celurit. Tapi, Ita tidak langsung dibawa ke musala.

Para perampok itu, memaksa itu untuk membuka kunci brankas koperasi. Kebetulan, brankas itu juga berada di dalam kamar di mana Ita tidur. Karena takut dengan ancaman tiga kawanan itu, Ita pun menuruti perintah pelaku.

Brankas pun terbuka, dengan leluasa mereka dapat menggondol isinya. Dari dalam berankas itu mereka berhasil mendapatkan duit sebesar Rp 20,450 juta. Rupanya, para perampok itu benar-benar ngraggas.

Buktinya, meski sudah mendapatkan duit puluhan juta rupiah mereka juga belum juga puas. Mereka masih terus mengacak-ngacak isi kantor. Dan, akhirnya mereka menemukan duit sebesar Rp 100 ribu di dalam sebuah lemari. "Uang itu (Rp 100 ribu, Red) sisa belanja," ujar M Khozin, penanggung jawab koperasi tersebut.

Berhasil mendapatkan duit, Rp 20,550 juta, mereka belum juga puas. Mereka masih terus mengancam Ita untuk menyerahkan semua hartanya. Mereka pun berhasil mendapatkan duit Rp 150 ribu. "Itu (Rp 150 ribu, Red) uang pribadi Ita," ujarnya.

Rupanya, para perampok itu benar-benar tamak. Meski sudah mendapatkan duit puluhan juta rupiah, mereka belum juga puas.

Mereka masih memereteli perhiasan yang dipakai oleh Ita, berupa gelang dan cincin. Untung saja, dua perhiasan itu bukan terbuat dari emas tapi monel. "Cincinya, harganya Rp 50 ribu sedangkan gelangnya Rp 150 ribu," jelas Khozin.

Duit dan perhiasan belum juga memuaskan pelaku. Mereka juga membawa kabur dua buah HP milik Ita dan Leny. Usai mendapatkan harta itu, lalu mereka mengikat tangan dan kaki Ita. Mulutnya, juga disumpal dengan kain.

Para perampok itu, juga mengancam mereka untuk tidak berteriak. "Logatnya, logat Madura," jelas Khozin. Para perampok itu, juga kabur dari dalam rumah yang disulap menjadi kantor sejak 1,5 tahun lalu itu.

Begitu para pelaku kabur, Ita dan Leny berusaha melepas ikatan tangan dan kakinya. Tapi, usaha mereka tak langsung berhasil. Butuh waktu sekitar 2 jam bagi mereka untuk melepas ikatan para pelaku. Baru sekitar pukul 04.00, mereka berhasil melepas ikatannya.

Begitu berhasil melepas ikatannya, mereka langsung kabur menuju rumah tetangga. Mereka menceritakan kejadian yang telah dialaminya. Tak ayal, kejadian itu mengagetkan pra tetangga. Mereka juga langsung melaporkan kasus tersebut kepada polisi.

Khozin mengatakan pihaknya baru menerima duit sebssar Rp 15 juta dari kantor pusatnya di Malang, Senin (20/9). Dan, selebihnya itu merupakan hasil tagihan selama dua hari terakhir. "Biasnya kami tidak pernah menyimpan uang banyak. Begitu dapat uang, biasnya kami langsung transfer," jelasnya.

Kemarin Khozin, Ita dan Leny langsung menjalani pemeriksaan di mapolresta. Kapolresta Probolinggo AKBP Agus Wijayanto melalui Kasatreskrim AKP Agus I Supriyanto mengatakan, kalau Ita dan Leny tidak disekap. Tapi, mereka hanya diikat dan dikumpulkan berada di ruang belakang. "Dari hasil olah TPK, tersangka memang menguasai medan," ujarnya.

Kasatreskrim mengatakan, hasil dari olah TKP polisi belum menemukan barang bukti (BB) yang mengarah kepada korban. Dan, dari tiga orang pelaku hanya satu orang yang membawa celurit. "Kami masih terus melakukan penyelidikan kasus ini," ujarnya. (rud/yud)

Sumber: http://www.jawapos.co.id/radar/index.php?act=detail&rid=180584

Senin, 06 September 2010

Koperasi MBS Kembali Bergejolak

[ Senin, 06 September 2010 ]
PROBOLINGGO - Koperasi Mulyo Bubaring Sengsoro (MBS) Kota Probolinggo, kembali mengembuskan kabar tak sedap. Kemarin (5/9), dua marketingnya mengadu ke polresta setempat karena merasa dibohongi oleh managernya, Krisdaryanto.

Dua orang marketing itu adalah Sukarti, 40, warga Kelurahan Jrebeng Lor Kecamatan Kedopok dan Debrina, 23, warga Kelurahan Mangunharjo Kecamatan Mayangan. Mereka datang ke SPK (sentra pelayanan kepolisian) polresta sekitar pukul 13.00. "Mengadu ke polisi untuk antisipasi, khawatir dituntut balik. Kalau nanti tidak mengadu, malah kami keliru," ujar Debrina diamini Sukarti.

Diberitakan Radar Bromo sebelumnya, Mei lalu koperasi MBS yang beralamat di Jl Hayam Wuruk, Kelurahan Jati, Mayangan itu terguncang. Puluhan nasabah melurug koperasi itu dan menuntut uang tabungan mereka dicairkan. Tapi, permintaan puluhan nasabah itu tidak terpenuhi. Akibatnya, para nasabah emosi dan mengamuk para karyawan yang saat itu berada di kantor.

Mei lalu Krisdaryanto berjanji akan segera menyelesaikan masalah tersebut. Tapi, Krisdaryanto tidak mau berjanji kapan para nasabah itu bisa menerima uangnya. Sebab, waktu itu Krisdaryanto masih mau menjual sebagian aset perusahannya. Berupa dua rumah dan satu aset berupa rumah yang menjadi kantor MBS. Bila diuangkan diperkirakan mencapai Rp 600 juta.

Nah, kemarin (5/9) Sukarti dan Debrina mendatangi SPK karena telah merasa dibohongi oleh Krisdaryanto. Menurut Debrina, rumahnya didatangi Krisdaryanto pada 14 Juni lalu. Debrina diminta menandatangani kwitansi kosong sebnyak 4 lembar.

Debrina pun sempat menanyakan untuk apa dirinya menandatangani kwitansi tersebut. Apalagi, itu kwitansi kosong. Jawabannya, itu untuk melindunginya dari para nasabah. "Saya juga tidak tahu untuk melindungi apa," ujarnya.

Awalnya, Debrina sempat menolak. Tapi, Krsidaryanto terus menyakinkannya untuk membubuhkan tanda tangannya di atas kwitansi bermaterai itu. "Karena saya sudah kadung percaya dan masalah itu ingin cepat selesai, saya tanda tangani," ujarnya.

Begitu mendapat tanda tangan Debrina, Krisdaryanto segera pamit pulang. Dan, menjanjikan duit nasabahnya yang ada padanya akan segera cair. Tapi, buktinya sampai kemarin belum juga cair. "Belum, belum cair," ujarnya.

Ternyata, kwitansi kosong yang ditanda tangani Debrina Juni lalu itu sudah ada isinya. Yakni, berisi tentang pencairan dana sebesar Rp 32 juta. Mendapati itu, Debrina pun kaget, karena dirinya tidak pernah menerima uangnya. "Saya tahu dari teman kalau seperti itu," ujarnya.

Karena itu Debrina lengsung mengadukan hal tersebut kepada SPK. Ia khawatir ada masalah di kemudian hari. "Kalau saya dituntut, padahal saya tidak pernah terima uangnya, kan saya juga yang kena," ujarnya.

Menurut Debrina, sampai sekarang dirinya terus diburu para nasabahnya. Debrina mengaku, masih ada sektar Rp 50 juta duit milik nasabahnya yang belum dicairkan. "Entah kapan akan cair, saya juga belum tahu. Pusing rasanya saya, terus ditanya nasabah," ujarnya.

Sedangkan Sukarti juga mengaku sudah menanda tangani kwitansi kosong. Tapi, ia masih belum mengetahui apakah kwitansinya itu sudah berisi seperti milik Debrina atau tidak. "Saya sempat tanya untuk apa, dia (Krisdaryanto, Red) jawab sama. Katanya untuk melindungi saya," ujarnya.

Sukarti pun sempat tidak mau karena tidak jelas peruntukannya maupun nominal uangnya. "Kalau saya tanda tangan 15 Juni lalu, sekitar pukul 13.00," ujarnya.

Dalam masalah tersebut, masih ada sekitar 150 nasabah hasil rekrutan Sukarti, yang belum dicairkan duitnya oleh MBS. Duit mereka diperkirakan mencapai sekitar Rp 65 juta. "Katanya, kami (Sukarti dan Debrina) yang sudah menghancurkan MBS. Sehingga, pak Kris (Krisdaryanto) mau melindungi saya," jelasnya.

Atas masalah ini Debrina mengaku langsung menghubungi Krisdaryanto untuk meminta penjelasan. Tapi, HP-nya tidak aktif. Hal yang sama terjadi ketika Radar Bromo mencoba mengklarifikasi kasus tersebut kemarin (5/9). HP Krisdayanto tidak aktif. (rud/yud)

Sumber: http://www.jawapos.co.id/radar/index.php?act=detail&rid=178425

Selasa, 20 Juli 2010

TASYAKURAN DALAM MEMPERINGATI HARI KOPERASI, KRIDA PERTANIAN, DAN KELUARGA NASIONAL

Senin, 19 Juli 2010

Sebagai rasa syukur yang besar dalam memperingati hari Koperasi ke-63, Krida Pertanian ke-38 dan hari Keluarga Nasional ke-17, serta berhasil mendapatkannya juara dalam lomba yang bertemakan hari – hari nasional tersebut, maka Pemerintah Kota Probolinggo mengadakan acara Tasyakuran.

Tasyakuran dilaksanakan pada hari Senin (19/7) di ruang Puri Manggala Bhakti Kantor Walikota Probolinggo pukul 09.00 sebagai tindak lanjut dari Upacara Bendera yang dilaksanakan pagi harinya sekitar pukul 07.00.

Acara dihadiri oleh Walikota Probolinggo, H.M. Buchori sekaligus sebagai pembuka acara. Turut diundang Kapolsek Kota Probolinggo, Agus Wiyanto, Ketua DPRD Kota Probolinggo, H.M. Sulaiman, Sekda, H. Johny Haryanto, Ibu – ibu PKK, beberapa Siswa SMKN 2 Kota Probolinggo dan perwakilan masing – masing SKPD Kota Probolinggo.

H.M. Buchori menghimbau, “kita harus bersyukur, karena atas kebesaran Allah Yang Maha Kuasa, pada hari ini kita bisa bertemu dalam acara Tasyakuran untuk memperingati hari Koperasi, Krida Pertanian dan Keluarga Nasional ke-17”.

“Selain memperingati hari – hari nasional ini, kita semua berharap, bukan hanya bisa merayakan saja tapi begaimana kita mengimplementasikan ilmu yang didapat untuk ikut mengakat kesejahteraan masyarakat, salah satunya memberikan pinjaman modal ke masyarakat dalam merilis suatu usaha untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari – hari, dengan begitu bukan berarti pemberi pinjaman (Ijon) berwenang melambungkan bunga pinjaman yang begitu melangit dan memberatkan. Saya yakin kalau itu terjadi, penghasilan yang didapat oleh Ijon – ijon yang ada di Kota Probolinggo ini akan tidak barokah sehingga akan mendapatkan ujian hidup didunia sama berat dengan apa yang telah dilakukannya”, tambah H.M. Buchori.

Kamudian sesi, dilanjutkan dengan pemotongan numpeng oleh H.M. Buchori, dan diikuti dengan menyantap hidangan secara bersama – sama oleh para undangan.

Sumber: http://probolinggokota.go.id/index.php?option=com_content&task=view&id=309&Itemid=1

UPACARA BENDERA MEMPERINGATI HARI KOPERASI, KRIDA PERTANIAN, DAN KELUARGA NASIONAL

Senin, 19 Juli 2010

Pada hari Senin (19/7) bertempat di Halaman Kantor Walikota Probolinggo, digelar Upacara Bendera dalam rangka memperingati hari Koperasi ke-63, hari Krida Pertanian ke-38 dan hari Keluarga Nasional ke-17 serta pemberian hadiah atas lomba yang diikuti dengan tema Koperasi.

Upaca Bendera dihadiri oleh perwakilan SKPD Pemerintah Kota Probolinggo, perwakilan Koperasi karyawan Tirta Dharma (PDAM), dan Siswa SMKN 1 Kota Probolinggo. Sebagai Undangan, hadir Pensiunan Pertama, Ibu – ibu PKK dan Kapolres Kota Probolinggo Agus Wiyanto, serta Ketua DPRD Kota Probolinggo, H.M. Sulaiman.

Sebagai Komandan Upacara dari Dinas Pertanian Kota Probolinggo adalah Gogol Sujarwo Walikota Problinggo, H.M. Buchori, selaku Inspektur Upacara. Para pengibar Bendera Merah Putih berasal dari satker Dinas Pertanian Kota Probolinggo, Hedrik Pujiono, Yudiono, S.P. dan Doni Ike Idul Sofyan sedangkan sebagai pembaca Teks Pembukaan UUD 1945, dibacakan oleh Staff Dinas Koperindag Kota Probolinggo, Rony Mulya Setyawan.

Dalam sambutannya H.M. Buchori menyampaikan “Bahwa dalam sambutan kali ini saya akan membacakan tiga sambutan, diantaranya, sambutan dari Menteri Negara Koperasi dan Usaha Kecil Menengah Republik Indonesia pada peringatan hari Koperasi ke-63 tahun 2010, sambutan Menteri Pertanian Republik Indonesia pada peringatan hari Krida Pertanian ke-38 tahun 2010, dan yang terakhir sambutan dari Kepala BKKBN pada Peringatan hari Keluarga Nasional XVII tahun 2010”.

“Tema hari Koperasi ke-63 ini yaitu Koperasi Bangkit Untuk Kesejahteraan Rakyat, yang menuntut kita untuk meningkatkan ketangguhan dan kemandirian Koperasi agar kiprahnya dapat dirasakan masyarakat. Selain itu makna lain yang bisa didapat dan kemudian diterapkan dari peringatan hari Krida Pertanian yaitu, bagaimana kita ciptakan rasa bahu membahu meningkatkan kesejahteraan petani dan peternak Indonesia dalam menyosong Sumber daya manusia yang tangguh dan maju. Peringatan hari keluarga nasional XVII, juga sangatlah perlu untuk menampilkan suatu unsur Semangat Gotong Royong dalam pemantapan Pemberdayaan masyarakat dan Revitalisasi Program Keluarga Berencana Nasional”, tambah H.M. Buchori.

Acara terakhir dilanjutkan dengan pemberian hadiah secara simbolis oleh H.M. Buchori. Rincian pemenang lomba adalah, Juara I Lomba Pidato Perkoperasian senasional, siswa SMKN 1 Kota Probolinggo, Joni Iskandar, Juara I karyawan Koperasi Berprestasi, KPPRI, Eka Kapti, Udik Harijanto. Selanjutnya dalam lomba Kebersihan Lingkungan Spanduk dan Umbul – umbul pada Kantor Koperasi / KUD, dimenangkan oleh Koperasi Karyawan Tirta Dharma (PDAM) yang mendapatkan Juara I juga, serta Juara I Lomba Outbond Koperasi, direbut oleh Regu Pink KPRI Bangkit Jaya / Diskoperindag, Murtojo.

Sumber: http://probolinggokota.go.id/index.php?option=com_content&task=view&id=308&Itemid=1

Jumat, 16 Juli 2010

Siapkan Langkah Bangkitkan Koperasi

[ Kamis, 15 Juli 2010 ]
PROBOLINGGO - Selasa (13/7) malam Wali Kota Probolinggo Buchori resmi menyandang predikat sebagai tokoh penggerak koperasi. Predikat itu diberikan di Surabaya oleh Menteri Negara Koperasi dan UKM Syarif Hasan sebagai penghargaan kepada Wali Kota Buchori karena langkahnya membangkitkan koperasi.

"Penghargaan ini adalah karena semangat membangun koperasi di Jawa Timur khususnya Kota Probolinggo," kata Buchori saat dihubungi Radar Bromo kemarin (14/7).

Buchori menjelaskan, Indonesia pernah mengalami krisis ekonomi pada 1998-1999. Dalam kondisi seperti itu yang bisa bertahan hanya koperasi. "Itu artinya Indonesia masih punya modal bagaimana melawan ekonomi liberal yang semakin kuat," katanya.

Langkah yang tengah dipersiapkan oleh wali kota yakni memberikan kekuatan modal terhadap koperasi, meningkatkan kualitas SDM (sumber daya manusia) insan koperasi. Selain itu juga membangun kebersamaan untuk sinergitas pemerintah dengan lembaga koperasi.

Wali kota menilai, selama beberapa tahun terakhir ada pergerakan naik terhadap dunia koperasi di Kota Probolinggo. Katanya, tidak ada koperasi yang mati. Yang ada koperasi diam karena tidak bisa berbuat apa-apa akibat keterbatasan modal atau SDM.

"Itu yang harus disentuh. Ibaratnya kalau ada orang duduk, kita bantu agar bisa berdiri. Setelah bisa berdiri, disemangati supaya mau jalan. Sudah jalan, lalu didorong untuk berlari. Kemudian kalau bisa lari diusahakan maraton. Ini adalah kewajiban pemerintah untuk masyarakat adil sejahtera," jelas Buchori.

Apabila ada koperasi yang diam, lanjut wali kota, harus dicari apa permasalahan dan bagaimana solusinya. Menurutnya ada beberapa hal yang membuat koperasi diam, yaitu permasalahan permodalan, kepengurusan pasif (tidak nyambung antara pengelola dan anggota) atau keterbatasan SDM.

"Bapak Menteri (Syarif Hasan) juga mengatakan waktu sambutan, meminta pihak perbankan mau membantu koperasi. Tahun 2011 mendatang, koperasi akan menjadi salah satu program prioritas saya untuk menjalankan tiga langkah yang saya katakan tadi. Selama ini pemkot sudah memberikan perhatian kepada koperasi, hanya saja belum maksimal betul," ungkap Buchori. (fa/yud)

Sumber: http://www.jawapos.co.id/radar/index.php?act=detail&rid=169893

Sabtu, 22 Mei 2010

Janji Jual Aset Koperasi MBS

[ Jum'at, 21 Mei 2010 ]

PROBOLINGGO - Setelah kantornya yang terletak di Jl Hayam Wuruk Kota Probolinggo dilurug nasabah pada Rabu (19/5) lalu, manajer sekaligus pemilik koperasi Mulyo Bubaring Sengsoro (MBS) Krisdaryanto mereaksi positif. Manajer sekaligus pemilik koperasi MBS itu berjanji menjual asetnya untuk menyelesaikan masalah saat ini.

Saat ditemui wartawan kemarin (20/5), Krisdaryanto menegaskan tidak akan lari dari tanggung jawab. Ia berjanji akan segera menyelesaikan masalah tersebut. "Memang keadaan di dalam (koperasi) sedang tidak sehat. Tapi, itu sudah kami selesaikan secara bertahap," ujarnya.

Menurutnya, uang anggota yang ada dikoperasi itu sekitar Rp 400 juta. Dari uang sebanyak itu, tidak semuanya jatuh tempo. Sedangkan uang yang berada di tangan anggota yang lain, jumlahnya mencapai Rp 360 juta. "Sebetulnya, yang sudah jatuh tempo hanya beberapa orang saja," ujarnya.

Diberitakan Radar Bromo sebelumnya, koperasi MBS pada Rabu lalu dilurug sejumlah nasabahnya. Mereka menuntut uang tabungannya dicairkan. Tapi, permintaan puluhan nasabah itu tidak terpenuhi. Akibatnya, para nasabah itu emosi dan mengamuk pada para karyawan yang saat itu berada di kantor.

Di antara para nasabah yang datang hari itu, salah satunya adalah Cuplik. Ia mempunyai tabungan sekitar Rp 30 juta. Uang itu terbagi dalam beberapa bentuk tabungan. Sebesar Rp 25 juta disimpan dalam bentuk deposito, selebihnya berupa tabungan biasa.

Ada juga Salamah, nasabah lainnya. Janda purnawirawan TNI ini, mempunyai deposito sebesar Rp 9 juta. Tabungan dua nasabah ini sudah jatuh tempo sejak awal Mei. Tapi, koperasi tersebut belum bisa mencairkan duit milik Salamah dan Cuplik dengan alasan belum ada uang.

Nah, Krisdaryanto berjanji akan segera menyelesaikan masalah tersebut. Tapi, Krisdaryanto tidak mau menjanjikan kapan uang para nasabah itu bisa dicairkan. "Kami masih mau menjual aset koperasi. Kalau itu, sudah laku pasti kami cairkan," ujarnya.

Menurutnya, sedikitnya ada tiga aset yang sudah direncakan akan dijual. Bila diuangkan, nilainya diperkirakan mencapai Rp 600 juta. Tiga aset itu berupa dua rumah dan satu bangunan yang kini jadi kantor MBS. "Target kami, salah satu dari tiga aset itu bisa terjual dalam bulan ini," ujarnya.

Krisdaryanto menyatakan, dengan dijualnya aset koperasi itu bukan berarti pihaknya akan menutup usahanya. Tapi, itu demi memenuhi kewajibannya kepada para anggotanya. "Tidak akan berhenti, tapi kami akan membuka di kantor yang lebih kecil, sesuai dengan sisa modal," ujarnya.

Dengan peristiwa itu, Krisdaryanto mengaku juga banyak kehilangan barang. Berupa komputer, kipas angin dan televisi. Tapi, mereka yang membawa kabur barang-barang dari kantor MBS dan dari rumahnya di Jl Nusa Indah itu, tidak jelas.

"Entah itu anggota atau bukan, saya tidak bisa memastikan. Kalau saya katakana mereka (yang mengambil) itu nasabah, saya khawatir keliru. Yang jelas, saya tidak akan lari dari tanggung jawab. Saya akan bayar semuanya, tapi saya minta waktu," ujarnya.

Menurutnya, bentuk tanggung jawabanya itu bisa dilihat dari keberadaanya saat ini dan masih tetap beroperasinya MBS. "Kalau memang saya mau lari, sudah dari kemarin. Kemarin saja saya tidak lari, saya di antara teman-teman. Sekarang koperasi tetap buka dan beroperasi," ujarnya kemarin.

Krisdaryanto mengatakan, kalau koperasinya itu beroperasi mulai pukul 08.00 dan tutup sekitar pukul 16.30. Tapi, saat Radar Bromo berkunjung ke MBS sekitar pukul 08.30 dan pukul 14.30, kantor MBS tertutup rapat. (rud/yud)

Sumber : http://www.jawapos.co.id/radar/index.php?act=detail&rid=159578

Kamis, 20 Mei 2010

Janda Veteran Ditipu Koperasi

Kamis, 20 Mei 2010 | 10:23 WIB

PROBOLINGGO - Kantor Koperasi Mulyo Bubare Sengsoro (MBS) di Jl. Hayam Wuruk 55, Kota Probolinggo diluruk ratusan anggotanya, Rabu (19/5). Mereka menilai, pengurus koperasi ingkar janji atas pencairan uang tabungan yang nilainya ratusan juta rupiah.

Tangisan histeris Ny. Salamah (70), anggota Koperasi MBS asal Kel. Jati, Kec. Mayangan, Kota Probolinggo menarik perhatian anggota koperasi lainnya. ”Ya Allah, uang pensiunan dari suami saya yang pejuang veteran 45, amblas ditipu koperasi MBS,” ujarnya sambil sesunggukan.

Sambil duduk di kursi di teras kantor Koperasi MBS, Ny. Salamah menunjukkan buku tabungan yang saldonya mencapai sekitar Rp 9 juta. ”Uang saya Rp 9 juta amblas, mau diganti meja-kursi ini. Saya butuh uang kembali, gak butuh meja-kursi,” ujarnya.

Ny. Salamah berterus terang, uang pensiun almarhum suaminya sebesar Rp 590 ribu/bulan belum mencukupi untuk menopang kebutuhan hidupnya. ”Saya masih harus menjual kue keliling,” ujarnya.

Keluhan terhadap Koperasi MBS juga diungkapkan Cuplik Diawati, anggota koperasi asal Jl. W.R. Soepratman, Kota Probolinggo. ”Tabungan deposito saya sekitar Rp 30 juta, saat mau dicairkan pengurus koperasi janji-janji terus sampai saya bosan,” ujarnya.

Cuplik memarahi pegawai bagian penagihan di koperasi tersebut. ”Sampeyan tega, begitu sekarang saya minta uang dicairkan janji melulu,” ujarnya.

Cuplik yang didampingi anaknya berusaha menemui Manajer Koperasi MBS, Krisdayanto. Ketika seorang pegawai mengatakan, ”Pak Kris ada di Besuki”, Cuplik pun langsung meninggalkan koperasi.

”Dibandingkan anggota lainnya, tabungan saya hanya Rp 347.000. Tetapi uang ini bagi saya lumayan besar karena saya harus menabung Rp 10.000 per minggu,” ujar Haryono, warga Kel. Jati.

Sementara itu pimpinan Koperasi MBS, Krisdayanto ketika hendak ditemui di kantornya, tidak ada. ”Pak Kris ke Besuki,” ujar seorang pegawai. Ketika dihubungi wartawan melalui handphone (HP)-nya juga tidak aktif. Melalui SMS, Krisdayanto hanya mengatakan singkat, ”Nanti saja.”

Ketika kerumunan ratusan anggota Koperasi MBS meluber hingga badan Jl. Hayam Wuruk, sejumlah personel polisi dari Polsek Mayangan dan Polresta Probolinggo datang ke lokasi (koperasi). Meski sebagian anggota koperasi ada yang berteriak-teriak karena kesal, namun mereka tidak sampai anarkis (merusak) kantor koperasi. isa

Sumber: http://www.surabayapost.co.id/?mnu=berita&act=view&id=60c7db39edd56384065b681b0429a4d4&jenis=1679091c5a880faf6fb5e6087eb1b2dc

Tabungan Tak Cair, Koperasi Dilurug

[ Kamis, 20 Mei 2010 ]
PROBOLINGGO - Koperasi Mulyo Bubaring Sengsoro (MBS) Kota Probolinggo, terguncang. Puluhan nasabah kemarin (19/5) sekitar pukul 09.00 melurug koperasi yang berkantor di Jl Hayam Wuruk, Kelurahan Jati itu. Mereka menuntut uang tabungannya dicairkan.

Tapi, permintaan puluhan nasabah itu tidak terpenuhi. Akibatnya, para nasabah itu emosi dan mengamuk pada para karyawan yang saat itu berada di kantor. Para karyawan itu pun tak berani keluar ruangan.

Kontan kejadian itu menarik perhatian warga sekitar dan para pengguna jalan. Lalu lintas di jalan yang menghubungkan Jl Panglima Sudirman dengan Jl A Yani itu pun sempat merambat. Aparat kepolisian pun merapat ke tempat kejadian perkara (TKP).

Para nasabah pun masuk ke dalam koperasi. Mereka menemui beberapa orang karyawan yang saat itu tampak tertunduk lesu di dalam kantor. Melihat para nasabah menghampirinya, para karywan itu hanya bisa terdiam. Bahkan, seorang karyawan perempuan sampai menangis.

Di sisi lain, nasabah terus mengamuk. Ada juga yang sampai menangis histeris karena uangnya belum bisa dicairkan. "Ke mana bosnya? Kamu sudah tahu seperti ini (koperasi ada masalah) kok masih nagih. Ini, kemarin (Senin) masih nagih ke keponakan saya, Pak," ujar Cuplik, salah satu nasabah sambil menunjuk ke arah seorang karyawan perempuan.

Karyawan perempuan bertubuh subur itu hanya bisa menangis mendengar Cuplik ngamuk. Dia terus menunduk dan menyembunyikan wajahnya di balik tubuh teman lelakinya. "Saya hanya disuruh, Bu," jawab karyawan tersebut.

Cuplik mempunyai tabungan yang tidak sedikit berada di keperasi itu. Jumlahnya mencapai sekitar Rp 30 juta. Uang itu terbagi dalam beberapa bentuk tabungan. Sebesar Rp 25 juta disimpan dalam bentuk deposito, selebihnya berupa tabungan biasa.

Nah, uang milik Cuplik itu sedianya sudah bisa dicairkan pada awal Mei lalu. Tapi, sampai kemarin uang itu belum bisa dicairkan. Pihak koperasi belum bisa mencairkan dengan alasan tidak ada uang. "Sejak saat itu (jatuh tempo), saya sudah minta dicairkan. Tapi, sampai saat ini (kemarin) belum dicairkan juga," ujarnya.

Sejak itulah Cuplik terus mendesak pihak koperasi untuk mencairkan uangnya. Tapi, berkali-kali minta, Cuplik bukannya mendapatkan uang. Ia hanya mendapatkan janji-janji. "Dari dulu hanya janji-janji. Saya bilang saya tidak mau makan janji-janji," ujarnya masih dengan nada tinggi.

Cuplik mengaku sempat dibawa ke rumah Manajer Koperasi MBS Krisdaryanto. Menurut Cuplik, saat itu Krisdaryanto mengatakan masih mau menjual aset koperasi dan rumahnya. "Katanya, itu untuk membayar kepada nasabah-nasabah yang tabungannya besar-besar," ujarnya.

Selain Cuplik, ada Salamah nasabah lainnya. Salamah mengalami nasib yang sama dengan Cuplik. Depositonya sudah jatuh tempo sejak awal Mei lalu. Tapi, sampai saat ini belum bisa dicairkan. "Rp 9 juta, uang itu hasil pensiunan suami saya," ujar janda purnawirawan TNI ini.

Menurutnya, sudah sering kali dirinya mendatangi MBS dan meminta uangnya segera dicairkan. Tapi, permintaan itu sampai kemarin belum juga dipenuhi. "Saya hanya mendapatkan janji-janji. Ya Allah, saya hanya mendapatkan janji-janji," ujar Salamah sambil terisak.

Salamah mengaku menabung di MBS sejak sekitar dua tahun lalu. Awalnya, tabungannya mencapai Rp 18 juta. Sejak sekitar setahun lalu, tabungannya tinggal Rp 9 juta dan dialihkan ke tabungan berjangka.

Nah, tabungan itu sudah jatuh tempo sejak awal Mei lalu. Tapi, ketika Salamah hendak mencairkan uangnya, ternyata tidak bisa dilakukan tanpa alasan yang jelas. Ia hanya mendapatkan janji-janji. "Ini saya disuruh mebawa kursi (milik koperasi), saya tidak mau kursi saya mau uang saya kembali," ujar wanita yang kini menjadi seorang pedagang kue keliling ini.

Kemarin Salamah terus menerus menangis histeris dan menyebut-nyebut nama Tuhan. "Ya Allah, tolong ya Allah. Kenapa bisa begini, tolong cairkan uang saya ya Allah," rintihnya di antara tangisan.

Selain Cuplik dan Salamah yang tabungannya sampai jutaan, ada juga Haryono. Tabungannya hanya Rp 300 ribu. Tapi, Haryono bernasib sama dengan Cuplik dan Salamah. "Jangankan itu, yang uangnya jutaan. Saya saja yang hanya Rp 300 ribu, tidak bisa dicairkan. Katanya, tidak ada uangnya," ujarnya.

Informasinya, ada sejumlah wartawan media cetak dan elektronik yang juga menjadi nasabah MBS. Tapi, belum jelas apa mereka juga bisa mencairkan uangnya atau tidak. Namun, sebagian besar mereka mengaku uangnya sudah dicairkan. Dan kini hanya tinggal beberapa puluh ribu rupiah.

Sementara, pemilik sekaligus manajer MBS Krisdaryanto saat hendak dikonfimasi mengenai kasus tersebut, sedang tidak di MBS. Saat dihubungi melalui HP-nya, tidak diangkat. Saat di SMS (short message service), dia hanya membalas: Makasih pak ..., nanti aja ya pak .... Pasti saya temui. (rud/yud)

Sumber: http://www.jawapos.co.id/radar/index.php?act=showpage&rkat=4

Jumat, 07 Mei 2010

KUD Argopuro Kab. Probolinggo-Budidaya Sapi Tetap Cerah

Written by Syaiful
Tuesday, 04 May 2010 10:35

Tidak sedikit koperasi unit desa (KUD) di Jawa Timur yang eksis bahkan mampu menghimpun pendapatan cukup besar sekaligus memberikan layanan kepada anggota yang umumnya para petani. Sebagai contoh KUD Argopuro yang berlokasi di Krucil, Kab. Probolinggo, yang bergerak di bidang budidaya sapi perah merupakan usaha inti.

KUD tersebut selama 18 tahun telah berperan menyerap susu segar dari para petani peternak dan menyetorkannya ke PT Nestle Indonesia. yang dijalankan KUD Argopuro, selain beberapa jenis usaha lain sebagai penunjang seperti simpan pinjam, penjualan sembako dan pabrik mini pakan ternak.

Sebagai pemasok susu segar ke Nestle, KUD Argopuro pernah meraih juara II sapi perah yang diadakan industri pngolah susu (IPS) berskala internasional itu.Volume pasokan susu segar yang direalisasikan KUD Argopuro pada 2009 sebanyak 22.100 liter per hari, dan tahun ini diupayakan dapat meningkat lagi melalui tambahan pemberian pakan konsentrat dan hijauan kepada sapi perah milik petani peternak.

Ketua KUD Argopuro, Supriadi, mengatakan bahwa bisnis susu segar cukup menguntungkan koperasi tersebut sekaligus anggotanya, sementara peluang meningkatkan volume pasokan susu segar ke Nestle terbuka lebar. Hal itu disebabkan Nestle baru saja meningkatkan kapasitas pabrik di Kejayan, Kab. Pasuruan.

“Kebutuhan Nestle atas bahan baku susu segar mencapai 1 juta liter/hari dan pasokan ke perusahaan itu baru 625.000 liter/hari per 31 Maret tahun ini. Maka KUD memiliki peluang untuk menambah volume pasokan,” tuturnya, belum lama ini.

Supriadi menambahkan susu segar produksi KUD Argopuro memperoleh harga Rp3.149/liter di tingkat peternak, dan margin koperasi tersebut Rp421/liter. Sedangkan susu segar yang dipasok ke Nestle setiap hari sebanyak 22.100 liter yang diangkut 5 truk menuju Kejayan yang berjarak 110 km dari Krucil.

Susu segar sebanyak itu diperah dari 2.117 ekor sapi perah [yang mengalami laktasi] dari total sapi 3.719 ekor milik 1.879 anggota. Untuk menampung susu segar dari anggota dibangun sejumlah pos penampungan dan 6 cooling unit.

Berdasarkan data di Dinas Koperasi dan UKM Kab. Probolinggo, di kabupaten tersebut ada 34 KUD. Tetapi yang bergerakdi bidang usaha sapi perah hanya KUD Argopuro. KUD tersebut berdiri pada 1992 dengan volume pasokan perdana ke Nestle sebanyak 400 liter per hari.

Supriadi menyebutkan KUD Argopuro pada 2009 membukukan total pendapatan Rp37,8 miliar dan sisa hasil usaha (SHU) Rp225 juta. “Ditargetkan pendapatan tahun ini bisa naik 24%,dengan meningkatkan volume pasokan susu segar 22.500 liter/hari” paparnya.

Produksi Pakan
Salah satu upaya meningkatkan pendapatan adalah dengan memberikan pakan lebih banyak kepada sapi perah. Untuk itu, KUD Argopuro juga mengoperasikan pakan ternak untuk memenuhi kebutuhan pakan sapi perah, sebagai penyeimbang pakan hijauan. Lokasi pabrik bersebelahan dengan kantor KUD tersebut. Dinas Koperasi & UKM Kab. Probolinggo memberikan pinjaman lunak Rp300 juta untuk modal kerja.

Menurut Supriadi, kapasitas pabrik pakan konsentrat mencapai 650 ton per bulan, yang dijual kepada petani dengan harga subsidi Rp1.415 per kg. Sementara biaya produksinya Rp1.800/kg. Langkah tersebut dimaksudkan untuk memacu petani peternak meningkatkan volume produksi susu segar.

“Untuk memproduksi 1 liter susu segar, sapi perah membutuhkan pakan konsentrat 0,6 kg,” tuturnya.Sementara tingkat produksi susu segar KUG Argopuro saat sekarang rata-rata 11 liter per ekor sapi. Melalui pemberian pakan berimbang, produksi susu segar diupayakan naik lagi guna mencapai tujuan peningkatan volume usaha, sehingga KUD Argopuro dapat terus berperan mengembangkan ekonomi para petani peternak.

Sumber: http://jurnal.diskopjatim.go.id/index.php?option=com_content&view=article&id=314:kud-argopuro-kab-probolinggo-budidaya-sapi-tetap-cerah&catid=62:edisi-april-2010

Rabu, 05 Mei 2010

KUD Argopuro Kab. Probolinggo-Budidaya Sapi Tetap Cerah

Written by Syaiful
Tuesday, 04 May 2010 10:35

Tidak sedikit koperasi unit desa (KUD) di Jawa Timur yang eksis bahkan mampu menghimpun pendapatan cukup besar sekaligus memberikan layanan kepada anggota yang umumnya para petani. Sebagai contoh KUD Argopuro yang berlokasi di Krucil, Kab. Probolinggo, yang bergerak di bidang budidaya sapi perah merupakan usaha inti.

KUD tersebut selama 18 tahun telah berperan menyerap susu segar dari para petani peternak dan menyetorkannya ke PT Nestle Indonesia. yang dijalankan KUD Argopuro, selain beberapa jenis usaha lain sebagai penunjang seperti simpan pinjam, penjualan sembako dan pabrik mini pakan ternak.

Sebagai pemasok susu segar ke Nestle, KUD Argopuro pernah meraih juara II sapi perah yang diadakan industri pngolah susu (IPS) berskala internasional itu.Volume pasokan susu segar yang direalisasikan KUD Argopuro pada 2009 sebanyak 22.100 liter per hari, dan tahun ini diupayakan dapat meningkat lagi melalui tambahan pemberian pakan konsentrat dan hijauan kepada sapi perah milik petani peternak.

Ketua KUD Argopuro, Supriadi, mengatakan bahwa bisnis susu segar cukup menguntungkan koperasi tersebut sekaligus anggotanya, sementara peluang meningkatkan volume pasokan susu segar ke Nestle terbuka lebar. Hal itu disebabkan Nestle baru saja meningkatkan kapasitas pabrik di Kejayan, Kab. Pasuruan.

“Kebutuhan Nestle atas bahan baku susu segar mencapai 1 juta liter/hari dan pasokan ke perusahaan itu baru 625.000 liter/hari per 31 Maret tahun ini. Maka KUD memiliki peluang untuk menambah volume pasokan,” tuturnya, belum lama ini.

Supriadi menambahkan susu segar produksi KUD Argopuro memperoleh harga Rp3.149/liter di tingkat peternak, dan margin koperasi tersebut Rp421/liter. Sedangkan susu segar yang dipasok ke Nestle setiap hari sebanyak 22.100 liter yang diangkut 5 truk menuju Kejayan yang berjarak 110 km dari Krucil.

Susu segar sebanyak itu diperah dari 2.117 ekor sapi perah [yang mengalami laktasi] dari total sapi 3.719 ekor milik 1.879 anggota. Untuk menampung susu segar dari anggota dibangun sejumlah pos penampungan dan 6 cooling unit.

Berdasarkan data di Dinas Koperasi dan UKM Kab. Probolinggo, di kabupaten tersebut ada 34 KUD. Tetapi yang bergerakdi bidang usaha sapi perah hanya KUD Argopuro. KUD tersebut berdiri pada 1992 dengan volume pasokan perdana ke Nestle sebanyak 400 liter per hari.

Supriadi menyebutkan KUD Argopuro pada 2009 membukukan total pendapatan Rp37,8 miliar dan sisa hasil usaha (SHU) Rp225 juta. “Ditargetkan pendapatan tahun ini bisa naik 24%,dengan meningkatkan volume pasokan susu segar 22.500 liter/hari” paparnya.

Produksi Pakan
Salah satu upaya meningkatkan pendapatan adalah dengan memberikan pakan lebih banyak kepada sapi perah. Untuk itu, KUD Argopuro juga mengoperasikan pakan ternak untuk memenuhi kebutuhan pakan sapi perah, sebagai penyeimbang pakan hijauan. Lokasi pabrik bersebelahan dengan kantor KUD tersebut. Dinas Koperasi & UKM Kab. Probolinggo memberikan pinjaman lunak Rp300 juta untuk modal kerja.

Menurut Supriadi, kapasitas pabrik pakan konsentrat mencapai 650 ton per bulan, yang dijual kepada petani dengan harga subsidi Rp1.415 per kg. Sementara biaya produksinya Rp1.800/kg. Langkah tersebut dimaksudkan untuk memacu petani peternak meningkatkan volume produksi susu segar.

“Untuk memproduksi 1 liter susu segar, sapi perah membutuhkan pakan konsentrat 0,6 kg,” tuturnya.Sementara tingkat produksi susu segar KUG Argopuro saat sekarang rata-rata 11 liter per ekor sapi. Melalui pemberian pakan berimbang, produksi susu segar diupayakan naik lagi guna mencapai tujuan peningkatan volume usaha, sehingga KUD Argopuro dapat terus berperan mengembangkan ekonomi para petani peternak.

Sumber: http://www.jurnal.diskopjatim.go.id/index.php/index.php?option=com_content&view=article&id=314:kud-argopuro-kab-probolinggo-budidaya-sapi-tetap-cerah&catid=62:edisi-april-2010