Tampilkan postingan dengan label Pariwisata. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pariwisata. Tampilkan semua postingan

Kamis, 11 November 2010

Suku Tengger Gelar Ritual Tolak Bala

Dandy Arigafur
10/11/2010 20:52
Liputan6.com, Probolinggo: Dampak letusan Gunung Merapi yang mengakibatkan jatuhnya ratusan korban jiwa dan kerugian material yang begitu besar membuat warga yang bermukim di sekitar Gunung Bromo, Probolinggo, Jawa Timur, khawatir. Karena tak ingin bencana serupa terjadi, mereka menggelar selamatan tolak bala.

Ritual tersebut dilakukan dengan cara membawa sejumlah sesaji berupa hasil pertanian untuk mendapatkan doa dari dukun setempat. Doa dilakukan di pura desa diikuti seluruh tokoh agama dan sesepuh desa. Selain mendoakan sesaji agar diterima Sang Hyang Widi, mereka juga mendoakan seluruh korban letusan Gunung Merapi di Sleman, Yogyakarta.

Sesaji kemudian diarak menuju Gunung Bromo, lalu dilanjutkan dengan doa bersama sebelum menuju puncak kawah Gunung Bromo. Seluruh sesaji hasil pertanian kemudian dibuang ke kawah Gunung Bromo dengan tujuan agar gunung yang masih aktif itu tidak menimbulkan bencana dan malapetaka bagi warga sekitar.

Menurut data dari pos pengamatan Gunung bromo di Cemoro Lawang, status Bromo masih pada level waspada tingkat dua. Pada 8 November silam, tercatat 37 kali gempa vulkanik dangkal dan empat kali gempa vulkanik dalam di sekitar Gunung Bromo. Kendati begitu, kehidupan masyarakat di kawasan Gunung Bromo masih seperti biasanya.(BJK/ADO)

Sumber: http://berita.liputan6.com/sosbud/201011/305913/Suku.Tengger.Gelar.Ritual.Tolak.Bala

Selasa, 02 November 2010

Radius Wisatawan Diimbau 1 Km dari Gunung Bromo

Selasa, 02/11/2010 12:04 WIB
Muhammad Aminudin - detikSurabaya

<p>Your browser does not support iframes.</p>

Gunung Bromo/File Budi Sugiharto

Malang - Wisatawan Gunung Bromo diimbau waspada, dan tidak mendekati bibir kawah. Pasalnya, kepulan asap sulfur dari kawah Bromo makin meningkat.

M. Syafi'i, Kepala Pos Pengamatan Gunung Bromo menuturkan, status ikon wisata di Jawa Timur ini masih waspada. Asap belerang yang terus menerus keluar dari kawah merupakan bentuk dari aktivitas gunung tersebut.

"Aktivitas Gunung Bromo masih ditunjukkan dengan keluarnya asap belerang," katanya saat dihubungi detiksurabaya.com, Selasa (2/11/2010) pagi.

Menurut Syafi'i, dalam sepekan ini sempat terjadi gempa tremor sebanyak dua kali. Meski begitu, dia menilai gempat tremot tersebut merupakan gejolak normal dari dapur magma.

Untuk itu, dia mengimbau kepada wisatawan untuk tidak mendekati mulut kawah. Selain bau belerang yang menyengat, juga dikarenakan antisipasi bahaya dari aktivitas gunung berapi itu.

"Sesuai rekomendasi dari kami, maksimal jarak antara wisatawan dengan kawah tidak kurang dari 1 kilometer," tegasnya.

Dari data yang dihimpun, Gunung Bromo terakhir meletus pada tahun 2004 silam. Abu vulkanik dikeluarkan dari dalam kawah akibat letusan sampai ke wilayah Malang Raya. Bahkan, hampir seluruh wilayah yang terjangkau muntahan, tertutup abu vulkanik.

Syafi'i menambahkan, erupsi yang terjadi pada Gunung Merapi juga tidak berpengaruh pada Gunung Bromo. Karena pasca letusan Merapi, hanya terjadi beberapa kali gempa tremor di gunung yang setia tahunnya menjadi tempat upacara kasada bagi suku Tengger.

Meski Gunung Bromo berstatus waspada, namun tidak mempengaruhi minat wisatawan lokal maupun mancanegara untuk mengunjungi gunung yang berada di Probolinggo, Jawa Timur. Bahkan, sepanjang tahun ini, ratusan wisatawan datang untuk melihat pesona alam Bromo yang indah.
(bdh/bdh)

Sumber: http://surabaya.detik.com/read/2010/11/02/120426/1482495/475/radius-wisatawan-diimbau-1-km-dari-gunung-bromo?881104465

Minggu, 31 Oktober 2010

Gunung Bromo Waspada, Wisatawan Diimbau Tidak Dekati Kawah

Jumat, 29/10/2010 17:56 WIB
Muhammad Aminudin - detikSurabaya


File DetikFoto

Malang - Selain Gunung Semeru, status waspada juga diberikan untuk Gunung Bromo di Probolinggo, Jawa Timur. Untuk menjaga keselamatan, para wisatawan diimbau untuk tidak mendekati kawah.

"Sesuai rekomendasi dari pos pantau Gunung Bromo, batas maksimal adalah satu kilometer sebelum kawah," kata Kasubag Data, Pelaporan dan Humas Balai Besar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS), Nova Elina, saat dihubungi detiksurabaya.com melalui telepon genggamnya, Jumat (29/10/2010).

Peringatan untuk para wisatawan menurut Nova, dikeluarkan sejak status Bromo yang menjadi salah satu ikon wisata di Jatim ini waspada. Sayangnya, meski peringatan itu sudah disosialisasikan, namun wisatawan masih banyak yang tetap memilih naik hingga puncak, untuk melihat kawah dari dekat.

"Bahaya material vulkanik serta lava pijar dimuntahkan dari dalam kawah menjadi ancaman sewaktu-waktu," ujarnya.

TNBTS sendiri sebagai pengelola, ujar Nova, tidak bisa memaksa wisatawa untuk mematuhi rekomendasi tersebut. "Kenyataan di lapangan pengunjung banyak yang mendekat malahan. Bahkan katanya jika tidak mendekat tak lengkap," tutur wanita berkaca mata ini.

Melihat kondisi itu, TNBTS hanya bisa mengimbau kepada para wisatawan untuk tetap berhati-hati, dan selalu mengingat gunung berapi itu masih aktif.

"Kalau mengacu pada rekomendasi, batas wisawatan sampai Pura yang biasa digunakan untuk berdoa oleh warga suku tengger," jelasnya.

Gunung Bromo merupakan salah satu tempat tujuan wisata bagi wisatawan lokal maupun mancanegara. Pemandangan eksotik gunung berapi itu mampu menyedot ratusan pengunjung berdatangan setiap bulannya. (bdh/bdh)

Sumber: http://surabaya.detik.com/read/2010/10/29/175638/1479138/475/gunung-bromo-waspada-wisatawan-diimbau-tidak-dekati-kawah?881104465

Jumat, 29 Oktober 2010

Turis Bromo Dilarang Dekati Kawah

Jumat, 29 Oktober 2010

Probolinggo - Surya- Letusan Merapi tak menyurutkan wisatawan datang ke kawah Gunung Bromo di Desa Ngadisari, Kec Sukapura, Kab Probolinggo, Kamis (28/10.

Rudi, 23, warga Malang yang baru turun dari puncak Cemoro Lawang, Taman Nasional Bromo Tengger Semeru, menyatakan, “Kami baru saja dari sana. Bromo dengan Merapi berbeda. Kalau Bromo, sudah jinak.”

Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata, Tutug Edi Utomo ketika dikonfirmasi menyatakan, kawasan wisata Bromo tetap aman untuk dikunjungi kendati berstatus waspada.

Namun demikian, katanya, pengunjung tetap dilarang mendekati bibir kawah hingga minimal radius satu kilometer. “Pengunjung hanya diperbolehkan berada di lautan pasir, tidak boleh mendekati kawah,” katanya.

Dalam 50 tahun terakhir, katanya, letusan Bromo sudah tidak sebesar ratusan tahun silam. “Dulu sempat batuk dan ada korban, karena pengunjung naik ke bibir kawah,” paparnya.

Dalam tiga tahun terakhir, kata Tutug, wisatawan yang berkunjung ke Bromo terus meningkat. Pada 2007, pengunjung domestik 34.307 dan mancanegara 8.310 orang.

Pada 2008, jumlah wisatawan meningkat menjadi 46.518 untuk domestik dan 8.826 turis mancanegara. Menginjak 2009, masih meningkat menjadi 55.469 pengunjung domestik dan 11.278 turis mancanegara.

Pada 2010 ini, hingga awal Oktober, jumlah pengunjung domestik sudah mencapai 76.087 orang dan mancanegara 12.187 orang. “Tak ada pengaruh letusan Merapi terhadap minat wisatawan mengunjungi Bromo,” tandas Tutug. ntiq

Sumber: http://www.surya.co.id/2010/10/29/turis-bromo-dilarang-dekati-kawah.html

Gunung Bromo dan Sejuta Eksotisme Alamnya

Tribunnews.com - Jumat, 29 Oktober 2010 04:29 WIB

Gunung Bromo dan Sejuta Eksotisme Alamnya
Mayangkara Prawiraduta
Pemandangan Gugusan Pegunungan Bromo Tengger Semeru dari Puncak Pananjakan.

PROBOLINGGO- Gunung Bormo di Probolinggo Jawa Timur walau dinyatakan statusnya menjadi WASPADA oleh Badan Pusat Vulkanologi, Mitigasi dan Geologi (PVMG) Bandung tapi pesonanya tidak pudar.

Agus Budiyanto, Kasubid Pengamatan Gunung Berapi BPVMG Bandung yang menyatakan status Bromo menjadi WASPADA seolah tidak menyurutkan pada pelancong dan pendaki untuk menikmati gunung yang berada dalam satu gugusan Pegunungan Bromo Tengger dan Semeru.

Gunung Bromo secara geografis terletak di 7°51’ – 8°11’ LS, 112°47’ – 113°10’ BT dengan luas wilayah sekitar 50.276,3 ha. Gunung itu masuk dalam kawasan Kab Pasuruan, Kab Probolinggo, Kab Lumajang dan Kab Malang. Merupakan kawasan wisata terkenal di Indonesia.

Suhu di Bromo bisa mencapai 10 derajat celcius, jauh di bawah suhu rata rata normal suhu Indonesia kisaran 24-32 (suhu tubuh normal manusia 36) derajat. Bahkan suhu di Bromo bisa 0 derajat celcius saat menjelang pagi hari.

Bagi Anda yang ingin menikmati keindahan Bromo yang memiliki ketinggian 2.329 meter di atas permukaan laut, sebaiknya mempersiapkan peralatan yang memadai. Seperit pakaian dingin, topi kupluk, sarung tangan, kaos kaki, syal dan jaket tentunya.

Tapi, bila Anda melupakan perlengkapan tersebut, ada banyak penjaja keliling menawarkan dagangannya berupa topi, sarung tangan, atau syal.

Pengunjungnya bukan hanya wisatawan lokal, melainkan ramai juga wisatawan asing. Dengan pemandangan yang khas membuat Bromo layak menjadi tujuan wisata. (editor widodo)

Sumber: http://www.tribunnews.com/2010/10/29/gunung-bromo-dan-sejuta-eksotisme-alamnya

Semeru Waspada, Jalur Pendakian Tetap Dibuka

Kamis, 28 Oktober 2010 - 16:02 wib
Nurul Arifin - Okezone
Gunung Semeru (Foto: Ist)

SURABAYA - Status Gunung Semeru sudah dinaikan dari Siaga menjada Waspada. Kendati demikian, pintu masuk ke jalur pendakian menuju puncak Mahameru hingga kini masih dibuka untuk umum.

"Statusnya kan masih Waspada, jadi belum ada larangan bagi para pendaki, termasuk evakuasi warga," kata Kepala Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jatim, Siswanto, Kamis (28/10/2010).

Gunung Semeru sendiri merupakan salah satu obyek wisata di Jawa Timur yang cukup menarik perhatian para pendaki baik lokal maupun mancanegara. Keindahan alam Gunung yang berada di Kabupaten Lumajang dan Malang itu membawa daya tarik tersendiri bagi para pendaki.

Namun sejak ada letusan di Gunung Merapi, kondisi ini sempat membuat was-was sejumlah wisatawan, sebab kondisi gunung ini termasuk kategori gunung berapi aktif.

Menanggapi hal itu, Siswanto menegaskan, status waspada yang di Gunung Semeru tidak berbahaya. Hanya saja, imbas dari erupsi Gunung Merapi, membuat peningkatan status sejumlah gunung berapi di Jawa Timur, seperti Gunung Kelud di Kediri dan Gunung Bromo di Probolinggo.

Pihak BPBD, kata dia, akan melakukan sosialisasi kepada masyarakat yang tinggal di sekitar terkait peningkatan aktivitas vulkanik gunung-gunung tersebut.

Pihaknya juga akan melakukan evakuasi, jika sudah ada peningkatan status dari waspada ke Awas. "Jika nanti status sudah Awas, baru kita akan lakukan evakuasi, selama ini hanya Sosialisasi saja," kata Siswanto.

(ded)

Sumber: http://news.okezone.com/read/2010/10/28/340/387466/semeru-waspada-jalur-pendakian-tetap-dibuka

Senin, 25 Oktober 2010

Masyarakat Tengger Rayakan Hari Raya Karo

Senin, 25 Oktober 2010 | 10:55 WIB

PROBOLINGGO - Masyarakat Tengger di lereng Gunung Bromo, Kab Probolinggo merayakan Hari Raya Karo. Di tiga desa, yakni Jetak, Wonotoro, dan Ngadisari di Kec Sukapura, Hari Raya Karo selalu diwarnai ritual Tari Sodoran.

Sesuai namanya, Hari Raya Karo digelar pada bulan kedua (karo) pada kalender Tahun Saka. “Pada tahun 1932 Saka sekarang yang menjadi tuan rumah Desa Jetak,” ujar Mbah Sutomo, dukun Tengger usai ritual Tari Sodoran di Balai Desa Jetak, Minggu (24/10).

Tuan rumah ritual Karo memang digilir di antara tiga desa, Jetak, Ngadisari, dan Wonotoro. Saat Jetak menjadi tuan rumah, warga Tengger dari Ngadisari dan Wonotoro pun pun berbondong-bondong datang ke Jetak.

Ratusan warga dari tiga desa itu tumpah ruah memenuhi Balai Desa Jetak sejak sekitar pukul 08.00. Anak-anak, remaja, hingga orang tua mengenakan pakaian adat Tengger berwarna hitam, termasuk ikat kepala dan kain kuning dililitkan di pinggang.

Mereka duduk berjajar “mengepung” takir kawung dari janur, yang berisi nasi berserta lauk-pauk dan jajanan tradisional. Di tengah-tengah balai desa sengaja dikosongkan untuk arena Tari Sodoran.

“Tari Sodoran menggambarkan asal usul penciptaan jagat dan manusia, selalu digelar saat Hari Raya Karo,” ujar Mbah Sutomo. Dimulai dari prosesi besanan, sehingga pengantin didudukkan di balai desa.

Ketika pengantin yang diwakili laki-laki, sudah bersanding, gamelan membahana, penari-penari Sodoran, yang semuanya laki-laki, dengan gemulai berjalan sambil melenggangkan tangan. Mereka menunjuk penari pengganti dengan cara memberi sarak. Mereka yang terkena sarak tak boleh menolak untuk melanjutkan tarian.

Ketika para laki-laki larut dalam gamelan dan gemulai Tari Sodoran, para perempuan Tengger berbondong-bondong menuju balai desa. Mereka berjalan beriringan sambil membawa rantang berisi makanan yang akan disantap usai ritual Karo.

Bupati Drs Hasan Aminuddin MSi bersama Dandim 0820 Letkol Inf Heri Setiyono menyempatkan hadir pada perayaan Hari Raya Karo. “Selain merupakan ritual adat Tengger, Hari Raya Karo merupakan sajian wisata yang menarik bagi wisatawan,” ujar bupati.

Menurut peneliti Tengger dari Universitas Jembber, Prof Dr Simanhadi Widya Prakosa, Karo merupakan ritual adat Tengger. Tidak ada kaitannya dengan agama Hindu Dharma yang mereka anut. Karo dirayakan untuk mengenang penciptaan jagat gede (alam semesta) dan jagat cilik (manusia). Prosesi penciptaan kedua jagat itu dilambangkan dalam gerakan-gerakan penari Sodoran.

“Namanya berhari raya, seperti halnya saudara-saudara kami umat Islam saat merayakan Idul Fitri, warga Tengger pun beranjang sana (silaturahmi, Red.) dari rumah ke rumah,” ujar Kades Ngadisari, Supoyo. Hari Raya Karo sudah diperingati diperingati masyarakat Tengger sejak tahun 1700-an Masehi. Indikasinya, bisa dilihat dari kepingan mata uang logam yang dimasukkan dalam celengan sebagai sesaji upacara beruap uang VOC tahun 1790. isa

Sumber: http://www.surabayapost.co.id/?mnu=berita&act=view&id=dad3125a1f906d69e3f0df58fab41ae3&jenis=1679091c5a880faf6fb5e6087eb1b2dc

Kencan yang gagal

Monday, October 25, 2010

Maksud hati ingin menyambut kehadiran saudara sesama biker dari Evergreen-Lumajang yang akan melaju di wilayah kami.

Maka minggu tanggal 17 Oktober kita berangkat agak siang, supaya waktunya tepat bisa bertemu di titik yang telah ditentukan.

Dimulai start jam 7.30, karena Hudha harus berganti tunggangan akibat masalah pada disc brake, kemudian meluncur dari Leces Permai melaju menujuk Pondok Wuluh, Kedungrejo, Besuk hingga Bantaran.

Sampai Legundi, masih tidak ada masalah, meski tanjakan sudah mulai menyapa. Karangnyar, Kedawung terus digowes padahal beban semakin berat.

Masuk Kuripan, jarak antar kami semakin menjauh, namun jalan aspal mulus membuat beban berat seakan tak dirasakan.

Namun menjelang akhir kecamatan Kuripan sudah mulai nampak ujung hutan sudah mulai beruntunan, dan mengingat jarak yang ditempuh masih jauh, maka diputuskan mencari tumpangan sampai masuk di hutan kecamatan Sumber.

Alhamdulillah sebuah pickup L300 yang masih baru rela mengangkut kami sampai melewati tanjakan pinus dengan gratis.

Rencana kita akan stand by di Pasar Tempuran, namun ternyata kendaaraan tumpangan sudah sampai ke tujuannya 2 KM sebelum tempat yang kami tuju.

Akhirnya kita gowes sambil sesekali TTB, mengambil jalan pintas diantara rerimbunan hutan pinus yang cukup rapat dan licin.

Butuh waktu hampir 1 jam untuk melalui jarak 2 KM ini, karena "nikmat"nya rute yang dilalui.

Sesampai di pasar Tempuran, waktu sudah hampir jam 10, kita mengisi perut terlebih dahulu, karena rute selanjutnya tak akan menemukan warung makan.

Tandas, nasi sepiring, dilanjutkan ke jalanan menurun tajam ke arah timur, dan seperti biasa, dimana ada turunan pastik diikuti saudara kembarnya yaitu tanjakan.

Sampai masuk ke desa Cepoko, istirahat sejenak sambil mencari plastic untuk proteksi perlengkapan elektronik yang dibawa diantaranya handphone, camerda digital & GPS, karena semakin menanjak mendung semakin gelap.

Setelah pertigaan pertama belok kiri ke arah timur menuju ke stasiun pemancar ulang TVRI yang berada di ketinggian 1200 mdpl.

Sempat bercengkerama dengan petugas penjaga, yang sudah puluhan tahun dinas di daerah terpencil yang tak bertetangga ini, sambil mencari informasi jalur alternatif yang layak untuk dijelajahi.

Akhirnya diperoleh petunjuk untuk mencoba rute Ramba'an - Jatisari, meski informasi dari petugas tersebut jalan tak layak dilewati, namun bagi kami ini sebuah tantangan.

Berpamitan dengan sang petugas yang sempat menyuguhi kami dengan air hangat sehangat sapaannya kepada kami, sungguh terasa nikmat ketika cuaca dingin dan gerimis mulai membasahi jalan.

Keluar dari area stasiun relay TVRI, masih ditemani aspal yang sudah tua tak sampai 500 meter, setelah itu jalan belok kiri, sesuai arahan yang kami terima.

Dan tantangan yang maha berat ada di depan mata. Tidak hanya cuaca gerimis yang mengguyur, jalanan yang turun terlalu tajam dan panjang, menjadi ciri khas jalan baru hasil karya anak negeri sendiri.

Tidak sama dengan jalanan tanjakan hasil karya penjajah Belanda yang mementingkan faktor kenyamanan dan keamanan bagi pengendara.

Sepertinya desain jalan ini, hanya menarik garis lurus saja, beda dengan jalanan karya jaman dahulu yang dibuat berkelok-kelok, agar diperoleh sudut yang aman meski mungkin jarak tempuh sedikit lebih jauh.

Yah.. apa boleh baut... mereka mampunya seperti ini....

Kembali ke jalur yang dilalui, ternyata amat licin membuat perjalanan agak melambat, bahkan lebih lambat daripada penduduk lokal yang kita temui sambil memanggul rumput serta kayu bakar.

Beberapa kali ada yang terjatuh, bahkan tulang kering memar maupun luka gores sampai di pertigaan dukuh Napulo yang terdapat masjid cukup besar namun belum selesai direnovasi.

Sempat sholat di masjid ini, namun menggunakan sarung pinjaman kependuduk sekitar, dan hebatnya.. sarung yang mereka pinjamkan masih baru dan terdapat cap/stiker merk ternama.

Terima kasih untuk pinjaman sarungnya.... semoga amal ibadah orang tersebut diterima Allah SWT.

Perempatan ini menghubungkan kebun teh desa Cepoko di selatan yang jalannya menanjak tajam, dari barat yang kami lalui menghubungkan ke kecamatan Sumber, arah timur menuju Rambaan yang nantinya bisa tembus ke Klakah/Gunung Tengu, dan ke arah utara, terdapat turunan tajam ke arah desa Jatisari.

Dan jalanan masih saja berhiaskan batu yang tertutupi tanah liat. Beruntung turun dari perempatan ini ternyata jalanan mengering, karena curah hujan hanya turun di puncak gunung.

Melalui track ini seakan tanpa hambatan namun ekstra hati-hati karena dibeberapa tempat terdapat lubang yang cukup besar dengan kecepatan maksimum bisa mencapai 50 KM/jam.

Memasuki desa Jatisari lembah tempat tinggal kami tampak di sisi kanan, terasa indah dilihat dari ketinggian.

Jalanan aspal mulai menemani meski awalnya banyak berlubang sampai akhirnya aspal halus mulus terus hingga pertigaan Karang Anyar, Kedawung, Legundi, Bantaran sampai akhirnya tiba dirumah pukul 15.00.

Alhamdulillah perjalanan ini meski sedikit luput dari tujuan, namun bisa menemukan track baru yang menguras ketahanan fisik terutama otot paha di saat tanjakan, dan melelahkan lengan dan punggung disaat turunan.

Sumber: http://gss-leces.blogspot.com/2010/10/kencan-yang-gagal.html

Kamis, 14 Oktober 2010

Takmir Masjid Tiban Takluk

Kamis, 14 Oktober 2010 | 10:04 WIB

PROBOLINGGO - Takmir Masjid Tiban Babussaalam, Kel. Pilang, Kec. Kademangan, Kota Probolinggo akhirnya rela berbagi jalan masuk ke masjid dengan investor wisata pantai. Mereka pun menyetujui pembangunan wisata di kawasan hutan mangrove itu asalkan tidak diwarnai maksiat.

“Kami bukan menolak wisata mangrove, tetapi tolong perhatikan norma-norma agama. Jangan sampai wisata pantai itu menjadi tempat maksiat,” ujar Abdul Aziz Kholil, penasihat takmir masjid dalam pertemuan dengan investor di Pemkot Probolinggo, Rabu (13/10).

Pertemuan yang dipimpin Asisten Pembangunan, Agus Subagiono itu dihadiri Direktur CV Bee Jay Entertainment, Benjamin Mangintung. Selain sejumlah pengurus takmir, tampak pula Kabag Hukum Agus Hartadi dan Kabag Pemerintahan Shofwan Thohari.

Sementara itu Totok, juga takmir masjid mengatakan, masjid harus dijaga keamanan, kebersihan, dan kekhusyukannya. Sehingga umat bisa beribadah dengan tenang.

“Kami khawatir lalu lalang kendaraan proyek bisa mengganggu umat yang beribadah, juga debunya mengotori masjid,” ujar Totok yang juga Ketua RT 1 di Kel. Pilang itu.

Seperti diketahui, jalan masuk ke masjid bakal dilalui kendaraan proyek wisata pantai. Selain itu, kelak setelah proyek selesai, pengunjung wisata pantai juga bakal melintasi jalan di samping selatan Masjid Tiban.

Terkait keluhan takmir masjid, Pemkot menjamin objek wisata pantai itu bersih dari perbuatan maksiat. “Ini bukan tempat wisata esek-esek. Kalau sampai diwarnai maksiat, Pemkot sendiri yang akan menutup tempat wisata itu,” ujar Agus Subagiono.

Agus menambahkan, dalam memori kesepahaman (Memorandum of Understanding/MoU) sudah jelas, wisata tersebut memanfaatkan rindangnya hutan mangrove di kawasan pantai utara Probolinggo. Wisata alam itu bakal berdampak positif bagi kelestarian alam, selain memberikan nilai tambah ekonomis bagi Pemkot dan warga sekitar.

Sisi lain, untuk memasuki kawasan hutan mangrove itu, dari jalan nasional Jl. Soekarno-Hatta diperlukan jalan masuk yang melintasi rel KA. “Hasil konsultasi dengan Dirjen Kereta Api, yang direkomendasi ya jalan masuk ke Masjid Tiban. Soalnya pihak Kereta Api tidak ingin terlalu banyak jalan yang melintasi rel KA,” ujarnya.

Karena itu, kata Agus, takmir masjid diminta berbagi jalan dengan investor wisata pantai. “Sebenarnya beberapa hari lalu, kami dan investor bermaksud melakukan sosialisasi tetapi keburu dicegat warga di jalan. Daripada ada yang memprovokasi, lebih baik kami pulang,” ujarnya.

Sementara itu Benjamin Mangintung mengatakan, awalnya Masjid Tiban tidak termasuk paket wisata pantai. “Tetapi begitu mengetahui Masjid Tiban termasuk masjid tua yang bersejarah, akhirnya kami masukkan dalam paket wisata religi,” ujarnya.

Soal jalan masuk ke bakal lokasi proyek wisata pantai, investor mengaku sudah mengajukan surat ke Dirjen Kereta Api. “Dirjen Kereta Api merekomendasikan jalan masuk di perlintasan 186, yang selama ini merupakan jalan masuk ke masjid. Jadi kami minta takmir berbagai jalan,” ujarnya.

Benjamin pun mengaku, akan memperlebar jalan masuk ke masjid selebar sekitar 4 meter itu menjadi 6-10 meter. “Kami murni mengembangkan eco-wisata. Hutan mangrove yang ketebalannya 30 meter bakal kami tanami hingga menjadi 300 meter,” ujar alumni Universitas Gajah Mada (UGM) Jogjakarta itu.

Soal keluhan bakal muncul debu, investor mengaku, akan melibatkan warga untuk membersihkan masjid. “Kami juga toleransi, saat jam-jam beribadah, kendaraan proyek berhenti sementara,” ujarnya.

Investor juga menjanjikan bakal menyerap warga sekitar untuk bekerja di proyek dan tempat wisata kelak. Yang jelas, investor sudah menyiapkan 3 juta dolar Amerika Serikat (AS) untuk pembangunan tahap awal wisata pantai itu. “Kami sudah menyiapkan 420 tiang pancang, juga mendatangkan batang-batang kelapa dari Sulawesi,” ujarnya.

Kawasan wisata itu terhampar di kawasan hutan mangrove sepanjang 1.500 meter di Kel. Pilang. ”Kawasan barat sepanjang 500 meter untuk penangkaran satwa, 500 meter di timur untuk pembibitan mangrove, dan 500 meter di tengah-tengah untuk resort yang dilengkapi bungalow,” ujar Benjamin.

Kawasan wisata itu juga bakal dilengkapi tempat rekreasi air seperti pemancingan dan mendayung (berperahu). Investor juga bakal membangun boom-boom car, wisata outbond, jalan setapak, hingga restoran terapung. isa

Sumber: http://www.surabayapost.co.id/?mnu=berita&act=view&id=ba56a1fd70b8c7aff17bf4c58e614b42&jenis=1679091c5a880faf6fb5e6087eb1b2dc

Rabu, 13 Oktober 2010

Rencana Akses Wisata Pantai Ditolak Takmir Masjid Tiban

Rabu, 13 Oktober 2010 | 09:51 WIB

PROBOLINGGO - Rencana pembangunan wisata terpadu di kawasan hutan mangrove di Kel Pilang, Kec Kademangan, Kota Probolinggo, terganjal jalan masuk. Ditjen Kereta Api (KA) merekomendasikan investor memanfaatkan jalan masuk menuju Masjid Tiban Babussalam.

Sisi lain, pihak takmir (pengurus) Masjid Tiban tidak setuju kalau jalan menuju objek wisata itu berimpitan dengan bangunan masjid. “Kami bukan menolak objek wisata pantai, tetapi tidak setuju kalau jalan masuk menuju tempat wisata itu melintasi samping masjid, khawatir mengganggu orang yang sedang beribadah,” ujar Aziz Kholil, salah seorang takmir Masjid Tiban, Selasa (12/10).

Sebelumnya takmir Masjid Tiban sudah membahas rencana pembukaan jalan akses menuju kawasan hutan mangrove di Kel Pilang. “Semua takmir masjid sepakat, jalan menuju masjid jangan digunakan untuk jalan masuk lokasi proyek wisata pantai,” ujar Aziz.

Agus Moe, juga takmir Masjid Tiban, menyarankan investor membuat jalan masuk sendiri. “Masih banyak jalan alternatif yang bisa dibuat pihak investor di antaranya di bekas Jalan Daendles di depan Puskesmas atau melintasi JLU (jalan lingkar utara),” ujarnya. “Ya bayangkan saja kalau kemudian truk-truk proyek melintasi jalan sempit di samping masjid, apa tidak mengganggu orang salat?” tambahnya.

Penolakan itu juga diungkapkan pihak takmir saat investor dan Pemkot Probolinggo meninjau lokasi bakal proyek wisata pantai, Selasa (12/10). Tampak di antaranya Direktur CV Bee Jay Entertaiment, Benjamin Mangitung dan Asisten Pemerintahan Agus Subagiono mendatangi lokasi di samping Masjid Tiban.

Sekadar diketahui, untuk membuka jalan akses menuju bakal lokasi wisata pantai bukan perkara mudah. Soalnya jalan akses itu terhalang pertemuan sebidang dengan rel KA. Demi membuka jalan akses itu, CV Bee Jay pun mengajukan izin ke Ditjen KA, Juni 2010. Agar tidak terlalu banyak “jalan tikus” yang memotong rel KA, investor diminta memanfaatkan jalan menuju Masjid Tiban.

Benjamin mengakui, Amdal dan HO (Hinder Ordonantie/Undang-Undang Gangguan) sudah dikantongi. “Ya hanya masalah jalan akses ini kami yang kesulitan. Kalau memang terganjal masalah jalan akses, bisa saja kami membatalkan berinvestasi,” ujarnya.

Yang jelas, investor sudah menyiapkan 3 juta dolar AS (sekitar Rp 27 miliar). “Pembangunan wisata terpadu itu dikerjakan bertahap dalam 3-5 tahun. Tahap awal kami menyiapkan dana 3 juta US dollar, bisa saja nanti bertambah,” ujar lulusan UGM Jogjakarta itu. Hingga kini memang belum ada proyek fisik di pantura Probolinggo. ”Tetapi konstruksi bangunan berbahan kayu sudah kami kerjakan di workshop kami.”

Rencana pembangunan wisata pantai itu sebelumnya tertuang daam MoU antara CV Bee Jay dengan Pemkot Probolinggo, 17 Maret 2010. MoU yang ditandatangani Walikota HM Buchori dan Benjamin Mangitung itu berlaku selama 30 tahun. Kawasan wisata itu terhampar di kawasan hutan mangrove sepanjang 1.500 meter di Kel Pilang. ”Kawasan barat sepanjang 500 meter untuk penangkaran satwa, 500 meter di timur untuk pembibitan mangrove, dan 500 meter di tengah-tengah untuk resor yang dilengkapi bungalow,” ujar Benjamin. isa

Sumber: http://www.surabayapost.co.id/?mnu=berita&act=view&id=4192ae6cd25a066cf7e97e2d732f4c3e&jenis=1679091c5a880faf6fb5e6087eb1b2dc

Senin, 11 Oktober 2010

Tak Kalah seru dengan Mancing Mania

Senin, 11 Oktober 2010

Kraksaan(11/10) Pulau Gili Ketapang, sejarah dan keunikannya Gili Ketapang merupakan pulau yang indah, terletak 5 mil lepas Pantai Utara Probolinggo. Butuh waktu 30 menit naik perahu motor Dibagian timur dan selatan pulau tersebut membentang pasir putih yang lautnya belum tercemar dan nampak kebiru-biruan. Saat laut tenang, pengunjung bisa melihat bunga karang yang indah dan berbagai jenis ikan hias berwarna-warni. Pulau seluas 68Ha dihuni 8000 jiwa, sebagian besar warganya Suku MAdura dan hamper 90% menjadi nelayan yang menggantung hidupnya di langit.





Keunikan lain dari pulau ini adalah kepercayaan masyarakat setempat tentang asal-usul nama Gili-Keatapang, bahwa pulau ini mempunyai kekuatan ghaib yang bergerak lamban ke tengah laut. Semula pulau ini menjadi satu dengan daratan desa Ketapang kecamatan Sumberasih. Ketika gunung Semeru meletus terjadilah gempa bumi yang sangat dahsyat sehingga sebagian daratan desa ketapang terpisah ketengah sejauh 5 mil dari Kota Probolinggo. Sebagian daratan menjadi sebuah pulau yang bergerak. Oleh sebab itu masyarakat setempat menyebut pulau tersebut dengan nama “Gili-Ketapang” yang berasal dari bahasa Madura yang artinya “mengalir” adalah nama desanya.



Jajaran perahu nelayan yang tengah beristirahat menunggu waktu melaut dimalam hari menandakan 8000 jiwa penghuni pulau ini adalah keluarga nelayan. Bau khas ikan dijemur dan deru mesin perahu nelayan yang kadang berubah fungsi menjadi kapal penumpang mempertegas suasana perkampungan nelayan pulau itu.



Jika cuaca cerah dan angina tampak bersahabat, tampak bersahabat, jasa angkutan kapal nelayan itu selalu bersedia mengantar anda di kapal penumpang, logat osing (dialek bahasa madura) terdengar akrab ditelinga. Memang duduk menunggu diatas geladak perahu sambil berdesak-desakan merupakan hal biasa. Tapi jangan harap menikmati jasa perahu eksekutif.

Jika hari sedang ramai tak kurang tiap 15 menit kapal akan beranjak dari pelabuhan menuju pulau Gili. Setelah perjalanan kurang lebih 30 menit, anda juga akan menemukan keindahan pemandangan dasar laut yang tersaji begitu jelas di dasar perairan.

tentu anda dapat menyalurkan hobi memancing di sekitar perairan pulau. Kalu mau, anda bisa menyewa kapal nelayan sebesar 50 ribu untuk tiga sampai empat jam. Disana anda juga bisa membeli hasil tangkapan laut yang dijual penduduk pasar, untuk sekedar oleh-oleh.

Sumber: http://www.kraksaan-online.com/2010/10/tak-kalah-seru-dengan-mancing-mania.html

Kamis, 07 Oktober 2010

Mesin Baru Honda Taklukkan Bromo

Wednesday, 06 October 2010

PTAstra Honda Motor menantang 99 rider dari berbagai klub di Pulau Jawa,jurnalis,dan blogger untuk menempuh 1.700 kilometer dari Jakarta ke Gunung Bromo di Jawa Timur.

Kegiatan dilakukan secara estafet sejak Jumat (1/10) hingga Minggu (4/10) menggunakan 15 unit motor sport teranyar Honda New Megapro. Harian Seputar Indonesia (SINDO) berkesempatan menjawab tantangan ini untuk etape pamungkas, Minggu (4/10),yaitu trek dari Surabaya menuju Gunung Bromo melewati Gempol, Pasuruan, dan Probolinggo.

Konon etape inilah yang merupakan klimaks dari touringJelajah Jawa Honda 2010. ”Rute terakhir ini yang paling menantang dan menjadi klimaks dari perjalanan ribuan kilometer ini,” ungkap Eksecutive Vice President Director AHM Johannes Loman. Setelah mengikuti hiburan seru di Surabaya Plaza,15 rider termasuk SINDO bersiap menuntaskan misi menaklukkan Gunung Bromo. Bagian paling seru yang penuh tantangan sekaligus paling mendebarkan.

Saat SINDO melakukan pengecekan awal,penunjuk waktu di panel digital motor telah menunjukkan pukul 22.00 WIB.Motor Honda New Megapro warna biru yang dinaiki sudah menempuh jarak 1.500 kilometer. Tantangan awal pun mengusik karena secara biologis waktu pemberangkatan ini memasuki waktu istirahat. Sementara pengendara membutuhkan konsentrasi penuh dan stamina fit. Untuk kendaraan performa mesin 150 cc dan hasrat menyaksikan sunrise di Gunung Bromo sudah cukup jadi modal awal.

Didukung kenyamanan posisi mengendarai motor Honda yang baru, rombongan berhasil menembus keramaian lalu lintas malam di Kota Surabaya.Suara mesin 150 cc empat tak yang sangat halus, layaknya penghibur saat melewati daerah Sidoarjo yang sepi akibat adanya luapan lumpur Lapindo. Saat rombongan menuju Probolinggo, riderbertemu jalur lurus, tetapi dipenuhi aktivitas truk-truk pengangkut barang.

Bobot motor 136 kilogram memudahkan para rider bermanuver saat melintas di antara truk di daerah Pasuruan. Pengecekan mesin terakhir dilakukan tim mekanik Honda di Probolinggo sebelum menuntaskan trek paling ekstrem di Gunung Bromo.Pencatat jarak tempuh motor sudah mencapai 1.600 kilometer dan waktu menunjukkan pukul 01.00 WIB. Para biker bersama-sama melakukan olahraga ringan sebelum berangkat ke Gunung Bromo. Pasalnya, selain trek berliku, suhu udara di Gunung Bromo sangat dingin sehingga membuat rasa kantuk semakin menjadi. Sementara di hadapan adalah perlintasan ektrem seperti tanjakan terjal, berliku-liku, dan gelap tanpa penerangan.

Performa mesin andal membuat motor dapat berakselerasi pada gigi tiga di tanjakan berkelok nan curam. Panel digital untuk bensin pun hanya menghabiskan tidak lebih dari dua bar sejak dari Probolinggo.Ketegangan dan rasa kantuk terhapus membayangkan keindahan pemandangan sunrisedi Bromo yang sudah di depan mata. Semerbak bau khas pohon cemara dan bunga-bunga pegunungan pun tercium menyegarkan.

Rasa puas muncul saat tim tiba di lautan pasir kaldera Gunung Bromo tanpa kekurangan apa pun. Pertunjukan tari garuda persembahan masyarakat Tengger dan pemberkatan pendeta pura suci menandai rombongan berhasil menuntaskan perjalanan. Loman menuturkan, kegiatan touring Jelajah Jawa adalah untuk membuktikan ketangguhan mesin baru Honda.

Termasuk membuktikan kenyamanan handling dan fitur baru.Terbukti setting posisi saat mengendarai New Megapro dan kelancaran performa mesin sangat membantu selama perjalanan. Para biker sebelumnya telah menempuh berbagai karakter rute dari jalan biasa,lurus,hingga jalan berkelok.

Di sepanjang jalur pantura Tegal—Semarang yang lurus, rombongan berkesempatan menguji kecepatan motor berjulukan The Real Street Fighter. Di Malang, kestabilan cengkeraman ban dan rem teruji saat melesat di bawah guyuran hujan. ”Pada etape terakhir Surabaya— Gunung Bromo,seluruh tantangan mesin Honda teruji sekaligus untuk segala medan,” ungkap Direktur Community Development PT AHM Nyoman Kesawa yang turut melakukan test drive. (isfari hikmat)

Sumber: http://www.seputar-indonesia.com/edisicetak/content/view/355471/

Senin, 27 September 2010

1.000 Cemara Yamaha untuk Bromo

Senin, 27/09/2010 08:44 WIB
Syubhan Akib - detikOto
Gambar

Probolinggo - Di sela-sela acara Amazing Journey di Gunung Bromo, Yamaha masih menyempatkan diri untuk menanam 1.000 bibit pohon cemara di padang savana gunung Bromo.

"Ada 1.000 bibit cemara yang kita tanam disini, ini bukti kami juga memperhatikan lingkungan," ungkap PR & Corporate Communication Head YMKI Indra Dwi Sunda.

Indra berharap dengan penanaman seribu bibit cemara itu, tumbuhan di padang savana di Bromo dapat lebih beragam.

"Kami sangat senang ternyata Yamaha juga tanggap dan memperhatikan lingkungan," imbuh Kepala Resort Taman Nasional bromo Subur Hari.

"Apalagi Yamaha juga mengikut-sertakan anak klub untuk ikut menanam. Semoga teman-teman klub jadi lebih sayang lingkungan dan akan berbuat hal seperti ini di tempat lain," tambahnya lagi.

Penanaman 1.000 bibit pohon cemara ini sendiri berlansung di penghujung acara Amazing Journey yang merupakan sebuah acara inovatif dari Yamaha.

( syu / ddn )

Sumber: http://oto.detik.com/read/2010/09/27/084435/1449122/640/1000-cemara-yamaha-untuk-bromo?881104638

Proyeksikan Jadi Rest Area Spesial

[ Senin, 27 September 2010 ]
Langkah Disbudpar Kelola Bentar

GENDING - Dinas Budaya dan Pariwisata (Disbudpar) Kabupaten Probolinggo punya proyeksi baru dalam mengelola wisata Pantai Bentar. Lokasi wisata yang terletak di perbatasan Kecamatan Gending dan Dringu ini akan dijadikan sebagai special rest area.

Pengembangan ini dilakukan berdasarkan pada tipikal pengunjung wisata Pantai Bentar. Dalam pengamatan Disbudpar, tidak semua pengunjung Pantai Bentar langsung masuk dan membeli karcis.

Banyak di antara mereka yang hanya menikmatinya Bentar dari kejauhan. Yakni, di area parkir. Rata-rata mereka berhenti hanya untuk melepas lelah dengan cara memarkir kendaraan di area parkir Bentar. Mereka lantas menikmati rindangnya pepohonan di area itu.

Perilaku demikian rupanya menjadi perhatian khusus bagi Disbudpar. "Karena itu kami proyeksikan pantai ini menjadi special rest area. Sehingga bila ada pengemudi capek, bisa beristirahat di pantai Bentar saja," terang Kepala Disbudpar Kabupaten Probolinggo Tutug Edi Utomo.

Bahkan kata Tutug, tidak jarang para pengunjung dengan tipe ini menghampar karpet dan makan bersama keluarga di tempat parkir Bentar. "Kan memang tempatnya enak dan sejuk," ujar mantan kabag Kom Info ini.

Tutug menambahkan, selama ini pengelola Bentar tidak menghitung jumlah pengunjung dengan tipe ini. Sebab mereka tidak sampai membeli karcis. Penghitungan pengunjung hanya dilakukan berdasarkan pembelian karcis masuk.

Pengunjung pantai Bentar sendiri dikatakan Tutug, terus meningkat setiap tahunnya. Pada 2008 misalnya, pengunjung Bentar mencapai 53.168 orang. Kemudian tahun selanjutnya, menjadi 55.089 pengunjung. Sedangkan tahun ini jumlahnya 37.182 sampai 20 September. "Data tahun ini masih sementara saja. Juga belum termasuk para pengunjung selama libur lebaran kemarin," kata Tutug.

Selama libur lebaran kemarin, pengelolaan hiburan di Bentar ini dilakukan oleh Karang Taruna Kabupaten Probolinggo. "Sampai kini belum ada laporan pada kami berapa jumlah pengunjungnya," ujarnya.

Selain pengunjung yang berkunjung untuk istirahat ini, tipe pengunjung lainnya yakni mereka yang datang untuk melakukan penelitian atau studi banding. Para pengunjung tipe ini pun, kata Tutug tidak terhitung. (qb/hn)

Sumber: http://www.jawapos.co.id/radar/index.php?act=detail&rid=181136

Minggu, 26 September 2010

Ratusan Bikers Yamaha Tumplek di Bromo

Minggu, 26 September 2010 | 14:40 WIB


Yamaha
New Scorpion Z (kiri) dan Byson sanggup menaklukkan medan Padang Savana, Bromo. kedua motor baru Yamaha dengan latar belakang camp bikers

JAKARTA, KOMPAS,com - Ratusan biker dari komunitas dan klub sepeda motor Yamaha tumplek di Padang Savana Gunung Bromo, Jawa Timur, Sabtu (25/9/2010). Mereka datang dari berbagai penjuru setelah berkendara ratusan bahkan sampai ada yang melebihi seribu kilometer untuk bergabung menyaksikan peluncuran perdana dua model sport terbaru Yamaha Byson dan New Scorpio Z yang dikemas dalam acara "Amazing Journey" pada 25-26 September 2010.

Pemilihan lokasi peluncuran, menurut pihak Yamaha, sesuai dengan karakteristik motornya yang sport. Selain itu, medan yang ekstrem dan menantang di Bromo untuk membuktikan ketangguhan duo produk itu.

Menjawab pertanyaan Kompas.com, Indra Dwi Sunda, Manager Promosi PT Yamaha Motor Kencana Indonesia (YMKI) mengatakan, secara total terdapat 500 anak klub dan komunitas sepeda motor sport Yamaha. Mereka datang dari enam kota, yakni Jambi (20 orang), Jakarta (100 orang), Bandung (100 orang), Semarang (150 orang), Surabaya (100 orang) dan Denpasar (30 orang).

"Mereka touring full dibiayai Yamaha, mulai dari akomodasi, bensin, hotel dan uang saku. Juga tidak lupa perangkat keselamatan dan kesehatan serta asuransi," jelas Indra.

Seluruh bikers yang kumpul akan berbaur dengan rekan wartawan, blogger dan perwakilan komunitas online. Titik kumpul berlokasi di Probolinggo dan kemudian bersama - sama menuju tempat launching di Savana Gunung Bromo.

Dalam kegiatan Ini Yamaha menyuguhkan beberapa rangkaian acara menarik, seperti berburu harta karun, yang mana harta karun itu sendiri adalah sebuah motor Byson, entertainment, games, doorprize, dan launching New Scorpio Z dan Byson sebagai puncak acara kebersamaan.

"Konsep touringnya adalah gathering. Jadi kita berkumpul di bromo. Untuk bersama-sama mencoba Byson dan Scorpio Z," tutup Indra.

Penulis: AGK
Editor: Bastian

Sumber: http://otomotif.kompas.com/read/2010/09/26/14403162/Ratusan.Bikers.Yamaha.Tumplek.di.Bromo-12

Sabtu, 25 September 2010

Lihat Sunrise di Bromo, Dibangun Pananjakan II Seruni

Sabtu, 25 September 2010 | 08:33 WIB

PROBOLINGGO - Gunung Pananjakan di Desa Wonokitri, Kec. Tosari, Kab. Pasuruan selama ini menjadi tempat terfavorit bagi wisatawan untuk menikmati matahari terbit (sunrise).

Sebentar lagi Pananjakan di Wonokitri itu bakal mendapat “saingan” dengan dibukanya Pananjakan II di Dusun Seruni, Kec. Sukapura, Kab. Probolinggo.

Pananjakan II ini tidak banyak dikenal wisatawan karena sejak 7 tahun silam jalurnya tertutup tanah longsor. Sehingga wisatawan yang masuk ke Laut Pasir Gunung Bromo melalui pintu gerbang Probolinggo mendaki Pananjakan di Wonokitri untuk menyaksikan sunrise dan keindahan Bromo dari atas.

Kini Pemkab Probolinggo berusaha ”menjual” Penanjakan II di Dusun Seruni untuk wisatawan.

”Pananjakan II di Seruni meski belum banyak dikenal, tempatnya sangat cocok untuk menyaksikan sunrise,” ujar Kepala Dinas Budaya dan Pariwisata (Disbudpar) Kab. Probolinggo, Drs Tutug Edi Utomo MM tadi malam.

Tidak sekadar menyaksikan matahari terbit dari ketinggian, Pemkab juga menyiapkan desa wisata di Ngadisari. ”Kalau yang di dalam kawasan Bromo itu wewenang Balai Besar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru, yang di luar kawasan biar Pemkab yang mengelola. Termasuk pengelolaan desa wisata,” ujar Bupati Drs H Hasan Aminuddin MSi.

Konsep desa wisata, kata bupati, sebenarnya sederhana. “Setelah wisatawan menikmati keindahan panorama Bromo, mereka diharapkan berlama-lama dengan cara mengenal keseharian Wong Tengger termasuk mau membeli hasil buminya,” ujarnya.

Ditanya kapan desa wisata Tengger diwujudkan, bupati mengatakan, sekarang sudah berjalan. “Diharapkan pada 2011 mendatang selesai bersamaan dengan Visit East Java 2011,” ujarnya.

Menteri Kebudayaan dan Pariwisata, Jero Wacik saat mengunjungi Bromo pada Yadnya Ngadisari mengatakan, melalui APBN, pemerintah pusat membantu pengadaan teropong yang bakal dipasang di Pananjakan II (Dusun Seruni). ”Kalau gazebonya biar Pemkab Probolinggo yang membangun,” ujar bupati.

Selama ini untuk menyaksikan sunrise, wisatawan harus bersusah payah naik jip di pagi buta, mendaki lereng hingga sampai di puncak Pananjakan di Tosari.

Di akhir pekan, wisatawan harus berdesakan di puncak Pananjakan tepatnya di bawah sejumlah tower BTS (based tranciever stasiun) milik provider perusahaan selular.

Jip-jip pengangkut wisatawan sampai menyemut sepanjang lereng Pananjakan. “Di akhir pekan, tidak semua jip bisa mendekati lokasi tower, karena tempat parkir sudah penuh sepanjang 2 kilometer,” ujar Lastoko, sopir jip dari Desa Ngadisari.

Para wisatawan pun terpaksa berjalan sekitar 1-2 km dari tempat jip-jip diparkir hingga ke puncak Pananjakan. Sebagian wisatawan yang tidak kuat berjalan kaki di jalan menanjak terpaksa naik ojek.

Ojek motor pun panen di km 1-2 menjelang puncak Pananjakan. “Mosok, ojek 2 kilometer tarifnya Rp 10 ribu, mahal sekali,” ujar Hasan, wisatawan dari Surabaya.

Kepala Desa (Kades) Ngadisari, Supoyo yang juga pembina jip wisata mengakui, ledakan jumlah wisatawan di saat akhir pekan. “Yang jelas setiap akhir pekan, semua jip, sekitar 150 unit turun ke Laut Pasir, bahkan banyak wisatawan yang tidak kebagian,” ujarnya.

Sementara itu tarif jip, melalui sistem pembeliam voucher dipatok Rp 160 ribu (sampai kaki tangga Bromo) dan Rp 275 ribu (sampai Pananjakan) pergi pulang (PP).

Kelak dengan dibukanya Pananjakan II di Seruni, diharapkan kemacetan dan berjejalnya wisatawan yang mencapai kisaran 1.000 orang setiap akhir pekan di Pananjakan di Wonokitri bakal terurai. isa

Sumber: http://www.surabayapost.co.id/?mnu=berita&act=view&id=9c9fe0714a7134b56e391fd1a5e4e3bb&jenis=c81e728d9d4c2f636f067f89cc14862c

Kamis, 23 September 2010

Kebun Binatang Mini Probolinggo Diminati

Dandy Arigafur
23/09/2010 01:03
Liputan6.com, Probolinggo: Taman Wisata dan Studi Lingkungan. Itulah nama resmi kebun binatang mini yang ada di Kota Probolinggo, Jawa Timur. Setiap masa libur, kebun binatang itu menjadi lokasi favorit liburan anak-anak, seperti yang terjadi baru-baru ini.

Kebun binatang mini memiliki luas sekitar satu hektare. Setidaknya, ada 270 ekor hewan yang terdiri dari 40 spesies, seperti primata, reptil, dan burung menjadi koleksi Taman Wisata dan Studi Lingkungan. Selain satwa, sejumlah koleksi tanaman langka juga ada di lokasi tersebut.

Kendati tak selengkap kebun binatang pada umumnya, Taman Wisata dan Studi Lingkungan Probolinggo tetap diminati. Untuk masuk ke dalam, pengelola menjual tiket seharga Rp 1.000 untuk anak-anak dan Rp 2.000 khusus dewasa.

Pengelola sengaja mendirikan kebun binatang mini untuk pengenalan terhadap lingkungan, baik satwa maupun tanaman. Sejauh ini, fungsi pendidikan sudah terlampui. Kini tinggal Pemkot Probolinggo lebih memberdayakan tempat tersebut agar lebih bermanfaat lagi.(ULF)

Sumber: http://berita.liputan6.com/daerah/201009/297684/Kebun.Binatang.Mini.Probolinggo.Diminati

Rabu, 22 September 2010

Jadi Lokasi Pemberangkatan Haji

[ Rabu, 22 September 2010 ]
Lokasi Wisata Religius Bentar Diberdayakan

PROBOLINGGO- Mulai tahun ini, lokasi wisata religius di Bentar, Kecamatan Gending bakal dijadikan tempat pemberangkatan jamaah haji Kabupaten Probolinggo.

"Jamaah haji akan diberangkatkan dari lokasi wisata miniatur Kakbah mulai tahun ini. Demikian pula saat jamaah datang dari tanah suci Mekkah," ujar Bupati Probolinggo Hasan Aminuddin. Menurutnya, rencana itu sudah dirancang matang oleh Pemkab Probolinggo.

Bupati lantas membeber argumentasi dari rencana yang dikemukakannya. Sekitar tiga hari sebelumnya ia didampingi oleh Dinas Cipta Karya, Kabag Kesra serta Muspika Gending meninjau langsung lokasi wisata miniatur Kakbah.

Peninjauan bertujuan untuk melihat layak atau tidaknya lokasi wisata religius itu dijadikan tempat pelepasan jamaah haji. Ternyata tempat itu cukup layak," ujar Bupati yang kemarin mengenakan kemeja batik.

Secara lebih detail ia menjelaskan bus jamaah bisa langsung masuk ke lokasi wisata miniatur Kakbah. Sementara kendaraan keluarga jamaah bisa diparkir di sekitar lokasi hingga di tempat wisata pantai Bentar.

Dari Bentar, keluarga yang hendak bertemu dengan jamaah bisa berjalan menuju tempat pemberangkatan. Karena itu Bupati berharap para pedagang yang mengharap berkah dari banyaknya jamaah beserta keluarganya tidak mengganggu area parkir yang disiapkan.

Dikatakan Bupati, jamaah haji dari Kabupaten Probolinggo masuk dalam gelombang kedua. Gelombang kedua ini akan berangkat pada 7 November mendatang. "Berarti jamaah Probolinggo akan langung menuju Mekkah, tidak ke Madinah," ujarnya.

Apakah rencana itu tidak berpotensi menimbulkan macet? "Kalau masalah itu saya telah berkonsultasi langsung dengan ahlinya. Insyaallah tidak akan sampai macet," pungkasnya. (qb/nyo)

Sumber: http://www.jawapos.co.id/radar/index.php?act=detail&rid=180417

Selasa, 21 September 2010

Jadikan Event Wisata

[ Selasa, 21 September 2010 ]

Apel hari jadi di alun-alun Kota Probolinggo kemarin mendapat apresiasi Kabid Pengembangan Produk Pariwisata Disbudpar Jatim Rudy Priyanto. Menurutnya, apel itu bias dijadikan event wisata.

"Ini bisa untuk event wisata. Ini kan baru pertama kali. Semoga bisa diadakan setiap tahun dan lebih bagus lagi. Saya rasa sangat menarik sekali," ujar Rudy kepada Radar Bromo sesaat setelah mengikuti apel.

Menurut Rudy, saat ini Disbudpar Jatim sedang melakukan pendataan tanggal hari jadi kota dan kabupaten di seluruh Jawa Timur. Pendataan tersebut lengkap dengan tanggal dan apa saja kegiatan yang dilaksanakan kota dan kabupaten tersebut dalam memperingati hari jadinya.

"Data itu kami kumpulkan sekaligus kegiatannya apa saja. Setelah itu kegiatan tersebut akan kami informasikan ke seluruh daerah-daerah baik di dalam provinsi Jawa Timur atau di luar. Saya harap tahun 2011 nanti bisa lebih bagus," tuturnya.

Di Jatim, bentuk acara seperti di Kota Probolinggo baru saja digelar. Oleh karenanya daerah-daerah di provinsi Jatim diharapkan bisa kreatif dalam menggelar hari jadi daerah masing-masing.

Biasanya, lanjut Rudy, acara tampilan adat dan kesenian diadakan di pendapa. "Ini termasuk baru. Sekarang memang kota dan kabupaten mulai mengangkat potensi budaya di daerah masing-masing. Kegiatan apel ini bisa jadi daya tarik wisata. Apalagi tadi ada tarian 1500 anak, bagus sekali itu," ucapnya bangga.

Sumber: http://www.jawapos.co.id/radar/index.php?act=detail&rid=180222

Senin, 20 September 2010

Gunung Bromo pun Ramai Wisatawan

[ Minggu, 19 September 2010 ]

PROBOLINGGO - Gunung Bromo tetap menjadi salah satu destinasi wisata di masa liburan lebaran ini. Kemarin (18/9) ramainya kunjungan wisata di Gunung Bromo jelas terlihat.

Dari pantauan Radar Bromo kemarin praktis tidak ada jeep (hartop) wisata yang sampai antre menunggu penumpang. Artinya, semua armada pengangkut wisatawan di kawasan lautan pasir Gunung Bromo itu telah laku disewa penumpang.

Keramaian wisatawan juga terlihat dari banyaknya kendaraan yang parkir di sekitar Ngadisari dan Cemorolawang. Maklum, setelah diberlakukan peraturan mobil pribadi dilarang turun ke lautan pasir, maka semua mobil (kecuali jeep) harus parkir di atas.

Kemarin saat masih sekitar pukul 05.30 parkiran jeep dan sepeda motor di lautan pasir belum begitu ramai. Beberapa saat kemudian banyak kendaraan yang turun dari Penanjakan, Kabupaten Pasuruan.

Setelah menyaksikan sunrise di Penanjakan, wisatawan mancanegara atau nusantara banyak yang langsung turun ke lautan pasir lalu mendaki Bromo. Tapi, tidak sedikit dari wisatawan yang memilih langsung ke Bromo sambil melihat sunrise.

Tidak semua wisatawan datang ke Bromo untuk menaklukkan lautan pasir dan ratusan anak tangga hingga mencapai kawah. Langkah mereka ada yang terhenti sampai di pura saja. Sambil menunggu keluarga yang naik ke kawah, pedagang menu "lautan pasir" jadi jujugan.

Perut kosong tidak menjamin bisa mencapai ke puncak kawah. Beberapa wisatawan justru sengaja mampir ke pedagang sebelum melanjutkan perjalanannya. "Wah.. Ini dia dewa penyelamat kita. Ayo isi perut dulu buat naik tangga ntar," celetuk seorang wisatawan asal Jawa Barat.

Pria itu tidak sendirian. Ia bersama keluarga besarnya. Dua pedagang yang berbekal dingklik dan menu sederhana pun diserbu. Yang menjadi favorit adalah tahu isi, mie instant dan nasi pecel. Menikmati menu di tengah hamparan "pasir berbisik" setidaknya ada kesan tersendiri.

"Gue udah kagak kuat. Lo aja deh naik ke sana. Gue ma nyerah. Bu, mau dong kopinya satu. Ini mie direbus atau diseduh? Kalau direbus, aku mau juga satu aja," ujar Yuliana, wisatawan nusantara asal Jakarta ke temannya kemudian memilih duduk di warung sederhana itu.

Yuliana mengatakan kalau dirinya sudah tidak kuat lagi untuk melanjutkan perjalanan sampai ke kawah. Dia mengaku tidak bisa membayangkan capeknya. Ditawari naik kuda, Yuliana justru takut. Diakuinya jika kemarin adalah kunjungan pertamanya ke Bromo. Dia ikut rombongan wisata dari Jakarta. "Biar dah, di sini aja ama nunggu yang pada turun," kata perempuan dewasa itu.

Pedagang menu lautan pasir pun dibuat sibuk. Begitu banyak peminat yang menyerbu dagangan mereka. Tahu isi penuh mengisi wadah malah habis tidak sampai setengah jam. "Ramainya sudah seminggu ini. Kalau sekarang (kemarin) sudah sedikit sepi," ucap salah satu pedagang.

Makin siang justru semakin banyak wisatawan yang berdatangan. Jumlahnya makin bertambah dan bikin antrean tangga mengular. Wisatawan berbondong-bondong menuju ke tangga melewati laut pasir dan tebing bebatuan.

Ramainya pengunjung Bromo ternyata tidak lepas dari pantauan Dinas Budaya dan Pariwisata Kabupaten Probolinggo. Kepala Disbudpar Tutug Edi Utomo membenarkan jika menu tahu dan nasi -dia menyebutnya menu laut pasir- memang pas dengan selera wisatawan.

Soal ketentuan jeep dan kuda memakai voucher (antre) diarahkan oleh pemkab untuk memuaskan wisatawan. Seandainya jumlah wisatawan melampaui jumlah calon penikmat jeep, maka kuda menjadi alternatif kebijakan dua kali antar tetapi tidak mengurangi paket dasar "antar jemput" dari lokasi awal.

"Kami sudah memprediksi hari ini (kemarin) bakal banyak pengunjung. Dan, kami sudah antisipasi bersama paguyuban jeep, kuda, hotel dan pelaku usaha wisata lainnya. Kami bahkan sudah menyiapkan kata-kata khusus welcome to Bromo, sugeng rawuh wonten Bromo," jelas Tutug saat dihubungi kemarin.

Dari data yang terekap di Disbudpar, mulai tanggal 9-17 September jumlah pengunjung didominasi oleh wisatawan nusantara. Jumlah wisatawan mancanegara maksimal 60 orang per harinya.

Sementara wisatawan nusantara hampir seribu pengunjung. Hotel di Bromo sejak hari raya sampai kemarin pun full booked. "Hanya beberapa saja yang tersisa kamarnya. Hotel Ucik saja full booked lho..," tuturnya berpromosi.

Tutug menambahkan, apresiasi wisatawan ini berkat kerja keras para pelaku usaha wisata yang terobsesi mewujudkan konsep rebranding. Bahwa Bromo tidak hanya indah sunrisenya saja tapi ada beragam daya tarik alam lainnya termasuk budaya.

"Kami terus berupaya memajukan Bromo dan memanjakan wisatawan dengan menggelar event-event menarik. Misalnya jazz gunung, festival tengger, festival rawon, gebyar reog, jelajah budaya hingga menyiapkan desa wisata dan lainnya," ucap Tutug bersemangat. (fa/yud)

Sumber: http://www.jawapos.com/radar/index.php?act=detail&rid=179902