Tampilkan postingan dengan label Banjir. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Banjir. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 03 Juli 2010

Resah Banjir, Minta Sempurnakan Plengsengan

[ Sabtu, 03 Juli 2010 ]
KRAKSAAN - Seringnya banjir Rob di Desa Kalibuntu, Kecamatan Kraksaan, Kabupaten Probolinggo membuat warga setempat resah. Warga pun minta agar plengsengan di Kalibuntu disempurnakan.

Sebab, salah satu penyebab banjir diduga, karena ambrolnya plengsengan di tepi pantai Kalibuntu. Selain itu, juga karena arus laut yang cukup kuat.

Dalam pengamatan Radar Bromo, plengsengan itu memanjang dari Timur hingga Barat tepi pantai desa. Panjangnya sekitar 450 meter. Sementara di bagian Timur, terdapat belokan plengsengan yang mengarah ke Selatan. Yakni menyambung ke arah sungai Kalibuntu.

Nah, di bagian Selatan inilah terdapat plengsengan ambrol. Menurut warga, penyebab ambrolnya plengsengan, karena beberapa hal. Selain kuatnya arus air laut, juga karena plengsengan tersebut belum selesai dibangun.

Kemarin (2/7), Radar Bromo diantar Mudiarto, 57, warga setempat menuju lokasi plengsengan tersebut. Seperti warga lain, Mudiarto mengaku resah dan kuatir atas ambrolnya plengsengan ini. Sebab, desanya jadi langganan banjir Rob. "Banjir Rob hampir dianggap kebiasaan oleh warga," ujarnya.

Karena itu menurutnya, sesegera mungkin pembangunan plengsengan segera diselesaikan. Jika tidak, maka jangkauan banjir akan meluas. Di antaranya, melebar hingga Dusun Durian.

Sejauh ini kata Mudiarto, banjir Rob sering melanda tiga dusun. Yakni Dusun Landangan, Penambangan dan Krajan. Ketiganya dipastikan tergenang banjir setiap bulannya. Bahkan dalam sebulan, bisa dilanda banjir hingga berkali-kali. "Repotnya ini dianggap biasa. Bahkan oleh pemerintah," tegasnya.

Komentar senada dilontarkan Supar Sukri, 47, pekerja tambak setempat. Menurut Sukri, pernah dilakukan penanaman pohon bakau untuk membuat hutan mangrove. Tapi, itu sudah berlangsung lama. "Setahu saya tahun 1982. Sudah lama sekali. Selanjutnya belum pernah dilakukan lagi," imbuhnya.

Upaya itu kata Sukri tidak membuahkan hasil alias gagal. Saat itu jumlah pohon yang ditanam ada 50 ribu. Penanaman berlangsung sekitar 3 bulan dengan melibatkan masyarakat desa setempat. "Tapi semuanya gagal berkembang," ujar Sukri.

Sukri menambahkan, sebenarnya banjir tersebut bukan hanya dari laut. Namun juga dari sungai di Dusun Krajan. Bahkan, efeknya lebih mengkhawatirkan. Sebab, bendungan di sungai tersebut tidak memadai. Terutama fasilitas pengatur keluar masuknya air.

Kepala Desa Kalibuntu H. Akbar mengatakan, pihaknya sudah berulang kali mengajukan pembangunan plengsengan. Namun, belum mendapat respon dari pemerintah. "Padahal masyarakat sudah mulai gerah karena banjir tersebut," ujar Akbar.

Dikatakan Akbar, plengsengan di bagian Timur desa masih belum selesai. Bahkan pembangunannya tidak sampai kelar. Menurut Akbar, pembangunan plengsengan akan diteruskan kalau air laut normal. "Padahal itu sudah terhenti beberapa tahun lalu. Sedangkan banjirnya sudah berulang kali terjadi," ujar Akbar. (eem/hn)

Sumber: http://www.jawapos.com/radar/index.php?act=detail&rid=167838

Kamis, 17 Juni 2010

Gelombang Pasang Genangi Pemukiman

Rabu, 16 Juni 2010 | 08:19 WIB

Probolinggo - Surya- Air pasang laut Selat Madura, kembali menggenangi permukiman penduduk yang dihuni hampir 10.000 jiwa di Desa Kalibuntu, Kecamatan Kraksaan, Kabupaten Probolinggo, Selasa (15/6). Genangan setinggi 20 cm sampai 60 cm itu, disebabkan jebolnya tanggul pantai sejak lima tahun terakhir.

Anehnya, kondisi ini terkesan diabaikan dengan dalih Pemkab Probolinggo tak memiliki anggaran untuk memperbaiki tanggul yang ada. Namun, untuk tahun 2010 ini, pemkab lebih memilih menganggarkan pembangunan gedung DPRD senilai Rp 21 miliar di wilayah Kecamatan Pajarakan.

Pantauan Surya, genangan air laut utara itu tidak saja terjadi di daerah Desa Kalibuntu, namun, juga terjadi di Desa Randutatah, Kecamatan Paiton. Penyebabnya juga sama, yakni karena tanggul jebol, sehingga tidak bisa menahan gelombang air laut jika sedang pasang.

Kondisi itu rutin dialami warga sebulan sekali. “Rumah kami sudah mulai keropos, karena sering digenangi air laut,” ujar Sholeh warga Desa Randutatah, Kecamatan Paiton.

Yang membuat warga was-was, jika air pasang terjadi di malam hari. “Kami terkadang sampai tidak bisa tidur, karena air masuk sampai ke dapur,” ujar Iqro warga Desa Kalibuntu.

Ketua Komisi C DPRD Kabupaten Probolinggo Agil Bafagih mengaku, tanggul di wilayah pesisir sudah diusulkan supaya memperoleh bantuan dari APBN.ntiq

Sumber: http://www.surya.co.id/2010/06/16/gelombang-pasang-genangi-permukiman.html

Selasa, 15 Juni 2010

Banjir Diperkirakan Lima Hari

[ Selasa, 15 Juni 2010 ]
KRAKSAAN - Banjir Rob di Desa Kalibuntu, Kraksaan memasuki hari kedua. Dan hingga kemarin (14/6) banjir masih terjadi di Desa Kalibuntu.

Menurut Saiful Bahri, 38, banjir diperkirakan berlangsung hingga hari ini. Bahkan lanjut Saiful, bisa saja berlangsung hingga 5 hari. Sebab, angin dan ombak sedang besar. "Bisa berhari-hari, Mas," ujarnya.

Dalam pantauan Radar Bromo, banjir masih menggenangi dua dusun. Yakni Yakni Dusun Krajan dan Dusun Penambangan. "Capek kalau begini terus," kata Saiful.

Selain di Desa Kalibuntu, banjir Rob juga melanda Dusun Karanganom, Desa Karanganyar, Kecamatan Paiton. Sama seperti banjir sebelumnya, banjir kali ini menggenangi rumah warga.

Akibatnya, banyak warga tidak bisa melakukan aktifitas sehari-hari. "Bagaimana mau kerja, Mas. Banjirnya mengganggu," ujar Sufyan, 27, warga setempat.

Menurut Sufyan, salah satu penyeban banjir, yakni jebolnya tanggul sungai Karanganom. Tanggul tersebut kata Sufyan sudah lama jebol. Namun hingga saat ini belum diperbaiki. "Padahal sudah jelas jebol," tegasnya.

Sufyan berharap, pemerintah secepatnya melakukan perbaikan terhadap tanggul tersebut. Sebab kata Sufyan, warga banyak terganggu akibat banjir. "Ya ndak bisa kerja," ujarnya. (eem/hn)

Sumber: http://www.jawapos.co.id/radar/index.php?act=detail&rid=164502

Jumat, 28 Mei 2010

Warga Kebanjiran, Nelayan Tidak Melaut


27/05/2010 23:45
Liputan6.com, Probolinggo: Cuaca buruk yang terjadi sejak beberapa hari terakhir di Probolinggo, Jawa Timur, menimbulkan gelombang air pasang yang cukup tinggi. Ratusan rumah warga di Desa Kalibuntu, Kecamatan Kraksaan, yang berada tidak jauh dari bibir pantai diterjang banjir hingga setinggi satu meter. Diperkirakan, banjir akan terus bertambah tinggi hingga tiga hari ke depan.

Cuaca buruk juga mengakibatkan ratusan nelayan di wilayah pesisir pantai utara Probolinggo, berhenti melaut. Dalam dua bulan terakhir, para nelayan menambatkan perahu di pinggir pantai. Nelayan memperkirakan cuaca buruk akan berlangsung hingga satu bulan ke depan. Untuk memenuhi kebutuhan hidup, para nelayan menggadaikan sebagian harta bendanya.(PAG/ANS)

Kamis, 20 Mei 2010

DPRD Evaluasi Penanggulangan Banjir

[ Kamis, 20 Mei 2010 ]
Temukan Pipa Tak Bertuan

PROBOLINGGO - Banjir yang melanda Kota Probolinggo Sabtu (15/5) memang sudah surut. Tapi, faktor penyebab banjir masih terus dicari untuk mengantisipasi bila terjadi bencana serupa.

Kemarin (19/5), komisi C DPRD setempat menggelar hearing bersama eksekutif. Beberapa instansi yang diundang adalah Bappeda, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), PDAM, Telkomsel dan Indosat. Hearing tersebut membahas banyaknya pipa bawah tanah yang belakangan diketahui menghambat aliran sungai di beberapa titik.

"Kami melihat beberapa jembatan yang di bawahnya banyak pipa. Dari hearing itu, komisi C menyarankan kepada Bappeda untuk membuat grand design saluran di bawah tanah yang tidak mengganggu saluran air, rancangannya harus dioptimalkan," kata Ketua Komisi C Nasution.

Komisi C juga mengkritisi peran BPBD yang baru dibentuk awal tahun lalu. Pasalnya, BPBD harus mandiri dan melakukan pendataan sendiri tanpa menunggu dari satuan kerja (satker) lain.

"Jangan hanya menunggu bola, harus menjemput bola. Intinya BPBD itu sesuai Perda nomor 15 tahun 2009 tentang organisasi BPBD harus melaksanakan tugasnya, jangan hanya mengkoordinir saja, seperti yang terjadi waktu banjir lalu. Harus proaktif dan mendata lebih awal," imbuh Cak Yon.

Soal adanya pipa yang mengganggu aliran sungai juga dibenarkan olehnya. Komisi C juga mengecek ke sungai timur Eratex dan sungai timur kantor Dinas Pemuda Olahraga Budaya dan Pariwisata (Dispobpar). Untuk itu komisi C mengundang PDAM, Telkom dan Indosat untuk meyakinkan pipa milik siapa yang bermasalah.

Ternyata setelah dikroscek oleh komisi C, di bawah jembatan tersebut memang ada banyak pipa. Pipa milik PDAM, Telkom dan Indosat tidak bermasalah karena tingginya hampir sama dengan tinggi jembatan.

"Ada satu lagi pipa yang sampai ke bawah dan di tengah. Saat ditanya itu bukan milik PDAM, Telkom maupun Indosat. Kami meminta Bappeda mengkroscek. Segera pipa itu diangkat atau disejajarkan dengan jembatan seperti pipa lainnya. Jika tidak, kalau sampai air meluap akan bermasalah dan membanjiri lingkungan di sekitar jembatan," tegas politisi PDIP itu.

Tidak hanya melihat jembatan, komisi C juga sempat berkunjung ke rumah warga korban banjir di beberapa lokasi. Dewan berharap lahan pertanian yang kena banjir bisa mendapatkan perhatian dari pemerintah. Sebab banyak lahan padi siap panen yang rusak karena diterjang banjir beberapa waktu lalu. (fa/nyo)

Sumber: http://www.jawapos.co.id/radar/index.php?act=detail&rid=159392

Selasa, 18 Mei 2010

Melihat Pemukiman-Pemukiman di Kota Probolinggo yang Kebanjiran

[ Selasa, 18 Mei 2010 ]
Pasar Gotong Royong Pindah, Berharap Fogging

Sabtu (15/5) lalu menjadi hari banjir di Kota Probolinggo. Hujan semalaman membuat sebagian besar pemukiman dan jalanan kota tergenang, bahkan sejak Sabtu dini hari. Pemukiman yang bukan langganan banjir kebanjiran, apalagi yang memang langganan banjir.

RUDIANTO, Probolinggo

Minggu (16/5) itu banjir di Kota Probolinggo sudah berlalu. Pemandangan yang tersisa adalah kesibukan warga-warga yang rumahnya disatroni air bah sehari sebelumnya. Di pemukiman yang kebanjiran, pemandangan yang jamak terlihat adalah jemuran. Mulai dari kasur, bantal, pakaian, kursi, perabot lain yang basah oleh banjir, dijemur.

Pemandangan itu terlihat antara lain di Kampung Dok (Kecamatan Mayangan), Kampung Armada dan rumah dinas polisi (Kecamatan Tisnonegaran). Di Kampung Dok, Minggu itu perkampungannya berubah bak stan-stan pakaian di Pasar Gotong Royong.

Segala macam pakaian bergelantungan di depan rumah, dijemur. Dari baju, sewek, sarung, celana panjang dan pendek, bahkan sampai celana dalam dan BH. "Pasar Gotong Royong pindah ke sini, Mas," seloroh Siti, seorang warga Kampung Dok saat itu.

Saat banjir Sabtu lalu, Kampung Dok memang terendam. Air yang masuk ke rumah-rumah warga yang tertinggi sampai semeter lebih. Tidak heran jika banyak kasur dan perabot-perabot rumah warga basah kuyup.

Banjir Sabtu itu kontan membuat aktivitas dapur warga terhenti. Tidak bisa memasak karena kompor basah. Tungku-tungku juga ditelan bah. "Mau memasak (menanak) gimana, wong (tinggi) airnya lebih satu meter," kata Siti.

Dalam kondisi seperti itu, syukur saja masih ada yang peduli. "Untung waktu itu, ada yang memberi nasi bungkus," tambah Siti.

Pemandangan yang sama juga terlihat di kampung Armada Minggu itu. Warganya sibuk jemur-jemur dan bersih-bersih rumah. Di kampung ini, bukan hanya rumah warga yang kemasukan air. Gelontoran air bah juga membuat aspal di jalan masuk kampung tersebut merotol. "Jalannya wis rusak, semoga saja bisa segera diperbaiki," kata Hasan salah seorang warga setempat.

Keadaan serupa juga terjadi di rumah dinas polisi. Di pemukiman polisi itu air memang sudah surut. Tapi, tanah masih becek. "Beginilah kondisinya. Seminggu, ini (tanah becek) belum tentu kering," ujar salah seorang warga setempat.

Banjir benar-benar memberi banyak pekerjaan bagi warganya. Bukan hanya istri yang sibuk mencuci dan menjemur. Para suami pun bekerja keras ikut mencuci. Seperti dilakukan Kapolsek Mayangan AKP Noer Choiri yang juga penghuni pemukiman tersebut. "Ini, masih bantu-bantu istri nyuci," ujar AKP Noer Choiri saat ditemui Radar Bromo, Minggu lalu.

Asrama polisi tersebut memang termasuk langganan banjir. Tapi, banjir Sabtu (15/5) lalu terbilang paling parah. Saat banjir terjadi, air masuk cukup tinggi di rumah-rumah polisi itu.

Rumah dinas polisi berada di Jl Supriyadi, dekat kali Kasbah yang melintas di sisi jalan tersebut. Di hari-hari biasa, kali itu kedalaman airnya tak sampai semeter. Tapi begitu hujan deras datang, terlebih dengan air kiriman dari wilayah selatan, sungai itu meluap.

Penghuni rumah dinas polisi mengaku sudah pernah minta agar plengsengan kali itu ditinggikan. Supaya pemukiman tersebut tidak jadi langganan banjir terus. "Sudah pernah saya sampaikan. Mungkin masih belum dianggap terlalu urgen. Sehingga, belum bisa direalisasikan," ujar AKP Noer Choiri.

Kondisi sungai yang tidak muat lagi menampung air dadakan itu, juga terpengaruh dengan sistem buka tutup saluran air yang berada di belakang monumen taman manula. "Kami harap, penjaga pintu air itu lebih sigap. Karena, kalau telat sedikit saja airnya bisa naik. Apalagi, sampai lupa tidak dibuka," kata Kapolsek Mayangan.

Banjir (episode) Sabtu memang sudah berlalu. Tapi, warga di pemukiman-pemukiman yang jadi korban banjir merasa ancaman banjir belum berlalu. Setelah air susut, biasanya penyakit menyusul.

Tak salah bila warga minta pemerintah setempat lebih peduli. Bantuan sembako memang sangat membantu. Tapi, bila ditambah dengan langkah antisipasi terhadap serangan penyakit pascabanjir, itu akan membuat warga lebih tenang. "Biasanya, kalau banyak genangan air akan muncul demam berdarah (DB)," ujar Ida, warga kampung Dok.

Bayangan akan penyakit menular itu, sudah ada dalam benak warga. Karena itu, mereka segera melakukan bersih-bersih di lingkungannya masing-masing. Tapi, itu dirasakan belum cukup, karena banyaknya genangan air. "Semoga saja ada penyemprotan (fogging)," ujar Ida.

Hal senada diungkapkan AKP Noer Choiri. Melihat tanah-tanah becek dan menyisakan genangan, ia juga mengkhawatirkan penyakit pascabanjir seperti demam berdarah. "Fogging juga perlu. Itu untuk mencegah penyakit, seperti demam berdarah yang biasanya muncul setelah datang hujan. Apalagi, habis banjir semacam ini," ujarnya. (yud)

Sumber: http://www.jawapos.co.id/radar/index.php?act=detail&rid=159001

Dua Sekolah Rugi Ratusan Juta

[ Selasa, 18 Mei 2010 ]
Sekolah-sekolah yang juga kebanjiran Sabtu (15/5) lalu mengalami kerugian materi yang tidak sedikit. Ini dialami MAN 2 dan SMAN 1 yang sama-sama berlokasi di ruas Jl Soekarno Hatta.

Saat banjir, dua sekolah itu kemasukan air sampai setinggi setengah meter. Banyak barang berharga basah dan rusak. Sampai kemarin (17/5) dua sekolah tersebut masih terlihat sibuk bersih-bersih pascabanjir. Ada yang membersihkan ruang kantor, ada pula yang menjemur dokumen-dokumen. "Sebenarnya sudah dari kemarin (Minggu, 16/5) kami bersih-bersih. Sekarang tinggal sisa-sisanya," ujar Kepala MAN 2 Misyanto.

Ia mengatakan, air tidak hanya masuk ke dalam kelas. Tapi, juga ke ruang tempatnya bekerja dan lab komputer, lab biologi dan fisika. Sehingga, diperkirakan kerugiannya cukup besar.

Di lab komputer saja ada 40 unit komputer yang terendam air. Sedangkan di ruang-ruang guru dan kantor bila ditotal ada 15 unit komputer. Itu lain peralatan-peralatan elektronik yang ada di lab biologi dan fisika. "Kalau misalkan 1 unit komputer dihargai Rp 3 juta. Kerugiannya sekitar Rp 165 juta," ujarnya.

Menurut Misyanto, itu baru komputer. Belum termasuk buku raport, buku induk, buku pelajaran, LKS (lembar kerja siswa) dan dokumen-dokumen penting lainnya. "Dari LKS saja, ada sekitar Rp 10 juta, belum yang lainnya," jelasnya.

Misyanto mengaku, musibah banjir itu akan dijadikan pelajaran yang sangat berarti baginya. Karenanya, Misyanto sudah merencanakan akan memindah ruang kantor, ruang guru dan ruang yang menyimpan docomune-dokumen penting ke lantai dua.

"Sebetulnya, itu sudah lama saya rencanakan, tapi belum saya realisasikan. Itu sebagai langkah antisipasi kejadian yang sama. Dan, itu akan lebih murah dibanding meninggikan lantai sekolah," jelasnya.

Misyanto pun berharap kepada pemerintah untuk memperhatikan sungai-sungai yang ada di dekat sekolahnya. Utamanya kali Kasbah dan kali Umbulan. Menurutnya, kalau sungai-sungai itu dikeruk akan meminimalisir terjadinya banjir.

SMAN 1 juga mengalami kerugian yang tidak sedikit. Itu juga belum secara total hanya hitungan kasar saja. Abdullah, kepala SMAN 1 mengatakan kerugian yang dialaminya sekitar Rp 25 juta.

Menurutnya, di sekolah tersebut ada 4 unit komputer yang terendam air. Selebihnya, adalah dokumen-dokumen penting. Diantaranya, buku raport, buku induk perangkat pengajar guru, dan foto copy ijazah sejak 1963 lalu. "Komputer itu, yang berada di ruang TU," jelasnya.

Menurut Abdullah, sejak 1971 sekolah tersebut memang langganan banjir. Tapi, tidak pernah separah banjir kali ini. "Kalau dulu banijir lokal, hanya air dari dalam likungan sekolah sendiri. Tidak ada air dari luar sekolah, dan itu hanya sebatas di halaman saja. Tidak pernah masuk ke dalam ruangan," jelasnya.

Abdullah mengatakan, banjir itu dikarenakan posisi sungai sudah lebih tinggi dibanding sekolah tersebut. Sehingga bila terjadi hujan deras bisa dipastikan sekolah tersebut akan tergenang air. Terlebih, pada saat air laut sedang pasang. "Kalau air lautnya tidak pasang, masih mendingan. Karena air akan mengalir ke laut," ujarnya.

Menurutnya, salah satu solusinya adalah mengeruk sungai-sungai yang ada di daerah tersebut, yakni kali Kasbah dan kali Umbulan. Abdullah juga menilai, adanya pipa yang melintas sungai juga menghalangi lancarnya arus air. "Pipa itu, bisa menghambat arus air. Banyak sampah yang nyangkut di situ," ujarnya. (rud/yud)

Sumber: http://www.jawapos.co.id/radar/index.php?act=detail&rid=158998

Wali Kota Turun ke Sungai - Setelah Serahkan Bantuan untuk Korban Banjir

[ Selasa, 18 Mei 2010 ]

PROBOLINGGO - Pemkot Probolinggo bergerak menyikapi kondisi pascabanjir melanda kota, Sabtu (15/5) lalu. Pemkot berjanji melakukan perbaikan-perbaikan pada infrastruktur yang mengalami kerusakan. Untuk itu, saat ini Dinas PU masih melakukan pendataan. Selain itu, pemkot juga menyerahkan bantuan kepada para korban banjir.

Penyerahan bantuan pemkot untuk para korban banjir dilakukan kemarin (15/5) dipimpin langsung Wali Kota Buchori. Sekitar 4 ribu paket bantuan disebarkan dalam 12 titik selama dua hari. Bantuan tersebut berupa beras, mie instant dan minyak goreng.

Hari pertama kemarin, bantuan digelontor di tujuh titik. Kelurahan Pilang 618 KK (kepala keluarga), Curahgrinting 109 KK, Mangunharjo 388 KK, Jati 259 KK, Sukoharjo 243 KK, Jrebeng Lor 285 KK dan Mayangan 400 KK.

Hari ini giliran lima kelurahan yang juga diterjang banjir yaitu Kebonsari Kulon 844 KK, Kebonsari Wetan 88 KK, Tisnonegaram 372 KK, Kanigaran 280 KK dan Sukabumi 114 KK.

Saat berkeliling menemui warga dan membagikan bantuan, Wali Kota Buchori berulang-ulang mengingatkan warga. Mereka diminta mengambil hikmah dari kejadian banjir Sabtu lalu.

"Kita semua harus introspeksi. Penyebab banjir bisa banyak hal. Pemkot juga introspeksi. Pemkot akan merevitalisasi sungai supaya tidak dangkal. Tapi, warga jangan seenaknya sendiri. Jangan buang sampah sembarangan, apalagi di sungai. Sampai-sampai dari sungai itu ada dua truk sampah," tutur Buchori kepada warga di Kelurahan Pilang.

Melihat kondisi aspal jalan di Jl Flamboyan yang rusak kena banjir, Buchori memerintahkan Dinas PU agar segera memperbaikinya minggu depan. "Masyarakat harus sabar ya," katanya.

Bagaimana dengan rumah-rumah yang sempat mengalami kerusakan karena banjir? "Untuk rumah rusak, pemiliknya betul-betul warga miskin, akan dipertimbangkan untuk diberi bantuan," imbuhnya.

Sementara itu, di Kelurahan Mangunharjo, Wali Kota Buchori mengatakan bahwa jalan di perkampungan yang rusak akan segera diperbaiki. Ia juga mengimbau masyarakat di sekitar Kali Banger ikut menjaga lingkungan dan tidak buang sampah sembarangan.

"Kalau membuang kotoran jangan seenaknya sendiri. Itu namanya kardiman, karepa dibik man menyaman (semaunya sendiri). Sungai itu jangan dianggap tempat sampah. Kalau sampai terjadi banjir, yang disalahkan pemerintah. Kali Banger akan dikeruk," tegas Buchori.

Ia juga menegur masyarakat yang mendirikan bangunan di atas stren kali. Itu bisa mengganggu aliran sungai. "Sungai adalah aset pemerintah. Kalau sampai ada yang mendirikan bangunan (di atas stren kali), bisa kena sanksi. Pemkot masih sabar. Pokoknya jangan sampai ada bangunan baru," imbuhnya.

Setelah dari Kelurahan Mangunharjo, Wali Kota bersama sejumlah kepala dinas melanjutkan ke Jl Melati, di Kelurahan Sukoharjo dan Kelurahan Jrebeng Lor. Wali kota didampingi beberapa kepala dinas.

Yakni Kepala Dinas Pengelola Pendapatan Keuangan dan Aset (DPPKA) Imam Suwoko, Kepala Badan Lingkungan Hidup (BLH) Imanto. Lalu, Kepala Bappeda Budi Krisyanto, Kepala Dinas Sosial (Dinsos) Edi Sutrisno, Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah BPBD) Bambang, Kabag Humas dan Protokol Rey Suwigtiyo, serta para. Sedangkan Wawali Bandyk Soetrisno turun ke Kampung Dok Mayangan membagikan 400 paket bantuan pemkot untuk warga korban banjir.

Tapi, Wali Kota Buchori kemarin rupanya tak puas dengan hanya memberikan bantuan. Sekira pukul 10.30, Wali Kota turun ke Kali Umbul (sebelah PT Eratex). Dengan masih mengenakan kaos dan topi, Buchori turun dari mobil dinas.

Saat itu di lokasi sudah menunggu staf BLH dan beberapa kepala satker. Antara lain, Kepala Bappeda Budi Krisyanto, Kepala BLH Imanto, Kepala Dinas Perhubungan (Dishub) Sunardi dan Kabag Humas dan Protokol Rey Suwigtiyo.

Begitu kaki menginjak trotoar, Wali Kota langsung melorot celana panjangnya yang sudah didobeli celana pendek. Ada sepatu boot yang sudah disiapkan. Tapi dia tidak mau memakainya. Wali Kota benar-benar niat turun langsung ke kali Umbul itu.

Mestinya, ia turun ke sungai buthek itu dari sisi barat. Tapi, Buchori tetap nekat turun dari sisi timur. Melihat Wali Kota nekat ingin turun ke sungai, sejumlah orang pun bengok-bengok. Mereka sungguh mengkhawatirkan kondisi Wali Kota yang masih cedera di pundak kanannya. Belum lagi deras dan dalamnya air sungai.

Tapi, Wali Kota seperti malah menantang orang-orang yang mengkhawatirkannya. "Kenapa kok takut semua?" katanya. Buchori kemudian mengambil ranting pohon untuk mengukur kedalaman air sungai itu. Ranting didekatkan di tubuhnya. Hasilnya, kedalamannya setinggi dada orang dewasa.

Buru-buru Buchori langsung turun lalu mendekat ke bawah jembatan. Di sana terdapat pipa besar permanen, batang pohon lengkap dengan akarnya, ranting pohon cukup besar dan sampah. Wali kota mengomandoi sejumlah orang yang sudah mencebur ke sungai.

Budi Krisyanto dan Rey Suwigtiyo turun hanya menggunakan kaos tanpa lengan. Imanto masih berpakaian korpri ikut membantu. Beberapa saat kemudian, dengan kekuatan mencapai 10 orang, sebuah ranting yang melintang dan terjepit pipa berhasil diangkat. Kemudian mereka berusaha mengambil batang kayu besar di bawah jembatan.

Nah, waktu itu sudah kelihatan Wali Kota nyengir. Entah karena menarik batang pohon yang sangat berat ditambah derasnya arus atau merasakan nyeri di tangan kanannya. Sesekali ia diam dan memegang pundak kanannya. Tidak mau menyerah Buchori ikut menarik pohon dengan tangan kirinya. "Ini yang menghalangi arus," ucap Buchori seperti lega berhasil bareng-bareng mengangkat penyumbat sungai itu.

Di bawah jembatan itu memang banyak pipa dan kotoran yang nyangkut. Hingga menghalangi air dan sampah yang mengalir. Buchori lalu kembali ke plengsengan waktu dia turun ke sungai. Dia berusaha naik. Tak mau dibantu, menggunakan kedua tangannya pegangan pada kawat untuk naik ke atas plengsengan. Sempat bergelantungan tapi akhirnya Buchori berhasil. Sesampai di atas Buchori diam, menunduk dan memegangi pundak kanannya.

Kepada wartawan, wali kota mengatakan, ia harus turun ke sungai karena sungai tersebut merupakan salah satu penyebab banjir beberapa hari lalu. Ia ingin tahu ada apa di bawah jembatan tersebut. Buchori juga mengeluhkan bau busuk akibat sampah saat membersihkan sungai.

"Di bawah jembatan itu banyak kotoran besar. Sungai juga dangkal. Rencananya satu sampai dua bulan akan ada pengerukan, revitalisasi sungai. Melalui PU, PAK (perubahan anggaran keuangan) nanti saya minta anggaran prioritas untuk itu (pengerukan sungai dan jalan pemukiman rusak akibat banjir)," jelas suami dari anggota DPR RI Rukmini itu.

Mengenai berapa kerugian yang disebabkan banjir, Buchori mengaku masih belum tahu karena belum bisa dihitung. PU saat ini tengah melakukan pendataan untuk mengetahui kerusakan-kerusakan infrastruktur akibat banjir. Secepatnya, provinsi bakal meninggikan jembatan di Jl Soekarno Hatta tersebut.

Yang mengejutkan, selesai ikut membersihkan sungai, Buchori kembali ke rumah dinasnya di Jl Panglima Sudirman tidak naik mobil dinas. Ia hanya mengambil uang dari dompet, menitipkan semua barang kepada ajudan lalu, naik angkot sampai ke rumah dinas. (fa/yud)

Sumber: http://www.jawapos.co.id/radar/index.php?act=detail&rid=158997

Minggu, 16 Mei 2010

Banjir Probolinggo Mulai Surut

Minggu, 16 Mei 2010 | 11:34 WIB

Probolinggo - Banjir di beberapa Probolinggo mulai surut. Warga menjemur perabot mereka dan membenahi sejumlah fasilitas umum yang rusak.

“Curah hujan tinggi dibarengi air laut pasang mengakibatkan terjadi banjir di Kota Probolinggo,” ujar Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) kota Probolinggo, Bambang Sulistiyono, Minggu (16/5) pagi tadi.

Seperti diketahui, hujan turun deras sejak Jumat (14/5) sekitar pukul 23.00. Hujan yang terus mengguyur hingga Sabtu (15/5) menjelang subuh mengakibatkan sejumlah sungai dan drainase di Kota Bayuangga meluap. ”Genangan tidak segera surut karena hingga Sabtu siang ketinggian air laut hingga 170 cm, padahal normalnya 130 cm,” ujar Bambang.

Daerah yang terparah dilanda banjir adalah daerah aliran sungai (DAS) Kali Umbulan, yang terletak di sebelah timur pabrik tekstil PT Eratex Djaja, Jl. Soekarno-Hatta. Air dari sempalan Kali Kedunggaleng mengalir ke Kali Umbulan, ditambah dari aliran sungai dari Kali Talang yang berasal dari muntahan persawahan di kawasan Ungup-Ungup, membuat banjir membesar.

Kondisi jembatan di depan Eratex yang relatif rendah dari permukaan air, ditambah keberadaan sejumlah pipa, membuat air meluap ke jalan raya. Sampah dari permukiman warga juga terlihat menyangkut di bawah jembatan.

Gerusan air di atas jembatan depan Eratex juga menjebol pagar sepanjang sekitar 10 meter di Perumahan Perhutani, Jl. Soekarno-Hatta. Lalu lintas di jalan protokol itu juga macet hingga maghrib.

Meski tidak terlalu parah, tembok di kantor BPN Kab. Probolinggo di Jl. Soekarno-Hatta juga roboh. Di belakang BPN, Panti Asuhan Putera Muhammadiyah juga sempat terendam banjir. isa

Sumber: http://www.surabayapost.co.id/?mnu=berita&act=view&id=d1558eb865d438135f4eabde0e4eab55&jenis=1679091c5a880faf6fb5e6087eb1b2dc

RSUD Probolinggo Kemasukan Banjir

Minggu, 16 Mei 2010 | 15:11 WIB

TAK GENDONG - Seorang buruh nekat masuk kerja. Karena takut pakaiannya basah, dia minta gendong satpam pabrik. Foto: SURYA/Agus Purwoko

PROBOLINGGO | SURYA - Banjir yang disebabkan hujan semalaman, Jumat (14/5), juga melanda sejumlah tempat di Probolinggo. Di antaranya Kelurahan Pilang, Kecamatan Kademangan, Kelurahan Sukabumi, dan Mayangan, Kecamatan Mayangan dan Kebonsari Kulon, Kecamatan Kanigaran.

Banjir yang melanda Kota Probolinggo, nampaknya tidak mengenal kompromi. Sejumlah ruangan bagian dalam RSUD dr Saleh ikut terendam. Meski tidak ada pengungsian pasien, aktivitas di RSUD tersebut sempat terganggu.

Di Kelurahan Sukabumi dan Pilang, banjir tidak hanya masuk ke rumah, tetapi juga menggenangi jalan raya Soekarno-Hatta. Ketinggiannya mencapai satu meter, bahkan lebih. Jalan beraspal sejauh satu kilometer itu berubah menjadi sungai. Tidak sedikit motor dan mobil yang nekat lewat jalur tersebut, mogok di tengah jalan.

Karenanya Polantas Polresta Probolinggo mengalihkan seluruh kendaraan agar lewat jalur alternatif. Kendaraan yang dari arah barat dihalau melewati Jalan Brantas, sedang yang dari timur, lewat jalan Cokroaminoto atau jalan Lumajang.

Sejumlah lembaga kemanusiaan seperti PMI dan Taruna Tanggap Bencana (Tagana) turut terjun membantu warga yang terkena banjir ini. Mereka mendirikan posko-posko darurat. Aktivis Partai Golkar juga ikut membantu membagi-bagikan nasi bungkus dan mi instan dalam kemasan. Pemkot menyalurkan beras.

Sumber: http://www.surya.co.id/2010/05/16/rsud-probolinggo-kemasukan-banjir.html

Giliran Probolinggo Terendam Banjir

[ Minggu, 16 Mei 2010 ]
PROBOLINGGO-Setelah Pasuruan, kemarin (15/5) giliran Kota Probolinggo terserang banjir. Akibat hujan turun sejak Sabtu dini hari, sekitar 75 persen wilayah pemukiman di wilayah Kota Probolinggo terendam air. Sedikitnya 1.030 rumah warga tergenang air hingga sore kemarin.

Berdasar pengamatan Radar Bromo di lapangan, luapan banjir ke rumah-rumah itu sudah menyibukkan warga sejak subuh. Salah satunya terlihat di Jl Supriyadi dan asrama polisi Umbulan yang kerap jadi langganan banjir ketika air sungai meluap.

Bukan hanya itu, lalu lintas menuju tengah kota juga sempat terganggu lantaran Jl Soekarno Hatta (depan SMAN 1 hingga kantor Badan Pertanahan Nasional) juga terkena banjir. Akibarnya, arus lalu lintas dialihkan ke jalan lingkar utara (JLU) dan Jl Brantas tembus belakang pabrik Eratex.

Padahal di JLU yang tembus dengan Jl Flamboyan juga terjadi banjir. Kendala itu membuat kendaraan yang melintas di JLU harus berhati-hati karena banyak jalan berlubang.

Dari informasi yang diterima koran ini, Jl KH Mansyur juga menjadi sasaran banjir. Tempat rias pengantin Citra Ayu juga kebanjiran sampai selutut orang dewasa. Alhasil sejumlah kebaya dan pakaian yang berada di lemari kaca terendam air."Masuk sedengkul. Awalnya itu dengar orang-orang teriak banjir sekitar jam setengah tiga-an, akhirnya yo menyelamatkan apa yang bisa diselamatkan. Padahal selama aku hidup di Probolinggo ga ada namanya banjir kayak gini lho. Sebagian pakaian ada yang kena dan langsung dicuci," keluh Ira pemilik tempat rias yang juga guru SMKN 3 itu.

Kawasan pemukiman Jl Panglima Sudirman (tembusan KH Ahmad Dahlan) juga diserang banjir. Sebuah usaha konveksi harus merelakan semua bahan kainnya terendam air. "Gara-gara hujan semalaman ini. Pesanan kaos yang sudah saya potong dan siap jahit basah semua. Padahal itu kan pesanan orang-orang," ujar Suswati pemilik konveksi.

Suswati juga mengaku keheranan karena tidak biasanya tempat konveksinya bisa kebanjiran seperti itu. Biasanya jalan banjir tapi tidak sampai di rumah. Tetapi yang terjadi air masuk rumah hingga setinggi lutut. "Kerugian (kain) masuk sampai Rp 25 jutaan. Kalau sudah begini bagaimana kainnya, harus pesan lagi. Jemur ya terlalu lama, dan apa bisa?" keluhnya.

Kampung Dok Mayangan juga mengalami hal yang sama. Pemukiman yang diapit oleh pabrik itu tenggelam oleh banjir dengan kedalaman 1 meter. Kondisi serupa juga dialami oleh warga RW 3 di Jl Flamboyan (armada). Beberapa rumah dilaporkan rusak dan petani ikan harus merugi.

"Kedalaman air lebih satu meter. Sehingga bibit petani itu hanyut kena banjir. Dari 75 persen wilayah yang kena banjir ada yang cepat surut ada ada yang lambat karena menunggu air laut surut," ujar Kepala Badan Penanggulan Bencana Daerah (BPBD) Kota Probolinggo Bambang Sulistiyono.

Selain melanda rumah-rumah warga banjir juga menerjang fasilitas-fasilitas umum seperti sekolah dan rumah sakit. Di antaranya SMAN 1, MAN 2 dan RSUD Dr Moh Saleh juga kena.

Hampir semua ruangan di RSUD tergenang air. Di antaranya, ruang Bougenvile, ruang Mawar, ruang Melati dan beberapa ruang lainhya. Bahkan, tak ketinggalan ruang direktur juga sempat tergenang air.

"Waduh, Mas. Akibat hujan tak henti-henti, saya harus kerja mulai jam 03.00," ujar salah seorang petugas kebersihan di RSUD yang saat itu sedang membersihkan sisa-sisa akibat banjir.

Bambang menuturkan, sejak Sabtu pukul 01.30 BPBD sudah bersiaga di sungai Kedunggaleng, Kecamatan Wonoasih. Karena yang diduga bakal terjadi banjir adalah di sungai tersebut. Tetapi, banjir justru terjadi di tengah kota.

Hasil koordinasi Bambang dengan mantan BMKG Edi Waluyo, banjir terjadi karena hujan deras yang terjadi selama tiga jam berturut-turut sejak sore kemudian disambung malam hari. Hujan tersebut berpotensi banjir diiringi angin kencang dan guntur.

Ditanya soal penyebab banjir yang terjadi kali Umbulan (sungai di timur Eratex), Bambang menjelaskan, terjadinya hujan selama tiga jam berturut-turut dengan curah hujan tinggi berpotensi banjir. Ditambah lagi kondisi jembatan di Jl Soekarno Hatta (depan taman manula) terhalang berbagai jenis pipa. Kali umbulan itu sempalan Kedunggaleng dan aliran dari Gladakserang.

Keberadaan pipa itu menghambat jalannya air yang ditambah dengan tumpukan sampah yang nyangkut di antara pipa-pipa tersebut. Ditambah lagi pasangnya air laut yang tak kunjung surut. Normalnya air laut 130 cm, siang kemarin masih 170 cm.

Bambang mengaku banyak mendapatkan laporan dari masyarakat, mereka meminta agar BPBD segera menyedot genangan air yang ada di sana. Kendalanya, BPBD yang baru dibentuk pada Januari 2010 itu belum punya peralatan seperti alat penyedot.

Namun BPBD bersama tagana, Dinas Pekerjaan Umum, Badan Lingkungan Hidup, Dinas Perhubungan, Dinas Sosial, Pramuka dan PMI berkoordinasi menangani bencana banjir tersebut. Wawali Bandyk Soetrisno yang sempat turun langsung ke lapangan juga memerintahkan PMK menyemprot jalanan yang dipenuhi lumpur dan tanah akibat terbawa banjir.

Bukan hanya di wilayah kota, banjir kemarin juga melanda sejumlah daerah di Kabupaten Probolinggo. Lokasi banjir yang paling parah adalah Kecamatan Dringu. Tepatnya di Desa Kalirejo, Kali Salam, Tamansari, Dringu, dan Pabean.

Berdasarkan data sementara dari Kominfo Pemkab Probolinggo, setidaknya di Desa Pabean ada 78 rumah dan 24 hektar sawah terendam. Di Desa Dringu ada 38 hektar sawah tergenang. Kali Salam ada 82 rumah tergenang, Desa Kalirejo ada 196 rumah dan sawah 4 hektar. Sementara di Desa Tamansari hanya 4 hektar sawah yang tergenang.

Dari informasi yang diperoleh di lapangan, banjir yang menimpa desa-desa itu mulai menerjang Sabtu (15/5) dini hari. Sejak itu warga tidak bisa tidur tenang. Mereka juga mulai memindah barang-brangnya ke tempat yang lebih tinggi.

Ketinggian air pun beragam, ada yang hanya 20 cm ada juga yang sampai 1 meter lebih. "Airnya sampai masuk ke dapur, tingginya sekitar 20 sentimeter," ujar Agus warga Desa Tamansari.

Karena itulah, Agus mengaku kerepotan untuk memasak. Pasalnya, dia masih menggunakan kayu bakar untuk menanak nasi. "Karena tidak bisa nanak, ya untuk sementara beli," jelasnya.

Banjir itu, tak hanya masuk ke dalam dapur atau rumah warga. Bahkan ada yang sampai dapurnya runtuh diterjang air. Maklum, dapur itu berada persis di atas sungai. Jarangnya sekitar 2 meter. "Biasanya, tidak sampai besar seperti itu," jelas Bagong seorang warga Blok Blokkon Desa Tamansari Dringu, yang dapurnya ambrol.

Hal yang lebih parah juga terjadi di Dusun Bengkingan Desa Kalirejo. Di dusun ini, dikatakan air sempat mencapai ketinggian 1 meter lebih. Tapi, itu tidak berlangsung lama. Sekira pukul, 06.00 air sudah mulai surut dan tinggal setinggi setengah betis orang dewasa. "Kalau tadi, jam 03.00 sampean ke sini, airnya masih tinggi. Sampai segini," kata Suhriyah, warga setempat sambil menunjuk dadanya.

Sementara, Kabag Kominfo Sentot Dwi H, menyatakan dengan adanya banjir itu warganya langsung mengambil langkah cepat. Yakni, dengan membersihkan rumah masing-masing yang tergenang air. "Warga sudah langsung membersihkan sendiri. Itu juga untuk mencegah timbulnya penyakit," ujarnya.

Banjir tidak hanya masuk ke dalam rumah-rumah warga. Tapi, juga menggenangi jalan hingga membuat memaksa kendaraan harus berjalan merambat. Genangan air di jalan, terparah terjadi di jalan raya Dringu.

Beberapa personel dari Satlantas Polres Kabupaten pun turun mengatur lalu lintas. Meski tidak sampai terjadi kemacetan, tapi akibat tingginya air banyak juga kendaraan yang mesinnya ngadat.

"Alhamdulillah tidak sampai macet dan korban jiwa. Hnaya saja jalannya harus hati-hati dan jalannya merambat," ujar Kanit Laka Ipda Istono saat ditemui, di sela-sela kesibukannya mengatur lalu lintas. (rud/fa/nyo)

Sumber: http://www.jawapos.co.id/radar/index.php?act=detail&rid=158664

Transportasi Kota Lumpuh

[ Minggu, 16 Mei 2010 ]
PROBOLINGGO - Selain menyibukkan warga yang rumahnya terendam air banjir kemarin juga melumpuhkan jalur transportasi dalam kota. Hampir semua angkutan kota, kemarin tidak bisa melewati jalur atau trayek normal.

Sebab, banjir parah terjadi di satu-satunya jalur utama di Jl Soekarno-Hatta. Jalan ini sekaligus merupakan satu-satunya jalur menuju terminal Bayuangga. Sementara hampir semua angkutan kota bertujuan ke terminal.

Banjir terparah terjadi di depat PT Eratex Djaya dan Taman Manula atau La Tangkring. Bahkan, air masih menggenang cukup tinggi sampai sekitar pukul 12.00 WIB, kemarin siang.

Akibatnya, sampai siang hampir semua angkutan kota harus berjalan memutar untuk menghindari banjir. Praktis, jalur utama hanya digunakan oleh kendaraan besar. Seperti truk yang tidak terganggu dengan banjir di tempat itu.

Pada pagi hari sekitar pukul 08.00 WIB, angkutan kota memilih lewat Sumber Pacar dan tembus ke jalan di lingkungan Perumahan Asabri. Kemudian berjalan lurus menuju belakang pabrik Eratex, tembus ke Jl Brantas dan kembali lewat jalur normal di Jl Soekarno-Hatta.

Siang sekitar pukul 12.00, angkutan kota sudah bisa melewati simpang tiga di depan Kasbah. Yakni, Jl Supriyadi. Sebuah mobil patroli Polres Probolinggo bahkan membimbing pengguna jalan untuk melewati jalan itu.

"Ayo yang mau ke arah Surabaya, silakan belok. Terus lurus, jangan terlalu minggir," jelas seorang petugas melalui mobil patroli.

Namun, itu menyebabkan semua pengguna jalan tumplek blek di tempat itu. Mulai mobil, motor, sepeda, becak dan kendaraan roda tiga. Akibatnya, kemarin siang jalan luar biasa macet. Sebab, saat itu juga bersamaan dengan jam para karyawan Eratex pulang.

Langsung Buka Dapur Umum

Sejumlah pihak langsung turun tangan begitu banjir terjadi. Beberapa instansi dan parpol langsung membuka posko atau dapur umum.

DPD Golkar Kota Probolinggo misalnya, membuat dapur umum di simpang empat Kampung Dok, Mayangan. Dapur umum juga didirikan Tagana Provinsi Jatim di sekitar Jl Flamboyan.

Dapur umum Tagana provinsi ini menyediakan makanan untuk semua korban banjir. Namun, dapur umum didirikan di sekitar Kampung Dok dan Flamboyan, karena dua tempat ini merupakan lokasi terparah banjir.

Lalu, PMI dan Pramuka juga menurunkan personelnya di titik-titik banjir. Termasuk di Flamboyan dan Kampung Dok. Personel dari dua organisasi ini juga membantu di dapur umum Tagana.

Ada juga RMS (Relawan Mbak Syntha / Dwi Laksmi Syntha K), juga langsung turun ke Kelurahan Jati Gang Sunggi dan Kampung Sentono, Kelurahan Mangunharjo. Di sana, selain membantu warga membersihkan rumahnya. Mereka juga membagi-bagikan nasi bungkus kepada warga yang ikut bekerja bakti dan rumahnya terendam banjir.

Dapur umum Golkar sendiri didirikan khusus untuk warga Kampung Dok. "Dapur umum sengaja kami dirikan di Kampung Dok, karena banjir di daerah ini tergolong parah," terang Sekretaris Golkar Muchlas Kurniawan didampingi ketua kegiatan posko yang juga Wakil Ketua Bidang Pemuda dan Olahraga Fernanda Zulkarnaen.

Menurut keduanya, Golkar langsung meninjau beberapa lokasi banjir. Salah satunya, Kampung Dok. Mereka menjelaskan, sekitar pukul 08.00 WIB kemarin, air di bagian depan Kampung Dok mencapai lutut. Sementara di bagian yang berbatasan langsung dengan pesisir, air mencapai dada.

Akibatnya, aktivitas warga sehari-sehari lumpuh. Termasuk kegiatan di dapur atau memasak. Karena itu, Golkar memutuskan untuk mendirikan dapur umum. Sehingga, kebutuhan makan warga sekitar tetap terpenuhi.

Rencananya, dapur umum ini akan dibuka sepanjang hari. Yakni, mulai pagi sampai sore. "Untuk besok kami belum bisa memutuskan. Apakah akan tetap dibuka atau tidak. Kita lihat keadaan dulu," tambah Nanda, panggilan Fernanda Zulkarnaen.

Selama buka menurut Muchlas, dapur umum ini bisa dimanfaatkan oleh siapa saja. Syarat hanya tercatat sebagai warga Kampung Dok atau masyarakat di sepanjang pesisir tersebut. Karena itu, dapur umum menyiapkan makanan yang cukup banyak. Yakni, untuk 500 orang lebih.

"Ini merupakan partisipasi kami dan wujud kepedulian pada masyarakat yang menjadi korban banjir," lanjut Muchlas.

Lalu sore hari, sekitar 30 pengurus Golkar kembali turun ke lapangan. Mereka membagi-bagikan nasi bungkus dan 100 dos mie instan pada warga di beberapa titik yang terkena banjir. Tepat pukul 14.30 misalnya, mereka turun ke Armada.

Nasi bungkus dan mi instan itu diberikan pada ketua RW masing-masing lokasi yang didatangi. "Nasi bungkus ini sengaja kami bagikan sekarang. Karena kalau pagi, mereka kan sudah dapat jatah juga," terang Muchlas.

Selain membuat posko atau dapur umum, Golkar bersama AMPG juga berencana melakukan kerja bakti masal di beberapa titik. Salah satunya di Kelurahan Kebonsari Kulon.

Sebab tempat ini menurut Nanda yang juga ketua AMPG dilewati sungai yang fungsinya tidak lagi normal. Nanda mengatakan, di daerah itu ada selokan yang lebarnya sekitar 2 meter.

Namun, tidak sampai satu meter yang bisa dilewati air. Sementara sisanya berupa tanah dengan posisi lebih tinggi yang ditumbuhi beragam tanaman. Akibatnya, air yang melalui tempat itu tidak tertampung sempurna. Keadaan ini menurutnya perlu dinormalkan. "Nanti akan kita keruk supaya aliran airnya menjadi normal," lanjutnya.

Rencananya, kerja bakti masal itu akan melibatkan beberapa pihak sekaligus. Yakni, panitia sendiri, warga dan TNI. "Untuk TNI masih kita koordinasikan bagaimana nanti pelaksanaannya," jelasnya. (hn/nyo)

Sumber: http://www.jawapos.co.id/radar/index.php?act=detail&rid=158665

Sabtu, 15 Mei 2010

Jalur Probolinggo-Pasuruan Sudah Normal

Kelana Kota

15 Mei 2010, 15:39:58| Laporan Eddy Prastyo

suarasurabaya.net| Jalur Probolinggo-Pasuruan yang sempat tergenang banjir sekitar setengah meter di jalur Ngopak sudah normal, Sabtu (15/05) sejak pukul 15.00 WIB. Sebelumnya, kawasan Ngopak dan tengah Kota Probolinggo ditutup akibat banjir.

AKP HARDONO Kepala Induk PJR Jatim 5 Probolinggo pada Suara Surabaya melaporkan genangan air di Jl. Soekarno-Hatta, Probolinggo sudah surut dari 50 cm siang tadi, sekarang tinggal 20 cm.

Dengan kondisi ini, kendaraan yang siang tadi dialihkan lewat Pilang – Wonoasih, sekarang sudah normal kembali. Sementara di Ngopak, masih ada sisa sedikit genangan namun jalur juga sudah tidak lagi dialihkan ke Grati, Pasuruan.

Meski begitu, petugas PJR gabungan Lantas Polres Probolinggo dan Pasuruan tetap mengatur untuk antisipasi kepadatan arus karena jalur Pasuruan-Probolinggo terpantau banyak jalan yang berlubang.(gk/edy)

Sumber: http://kelanakota.suarasurabaya.net/?id=1e2708b95c97d7f8886845199724141f201076603

Ribuan Rumah Terendam, Sekolah Diliburkan

Sabtu, 15 Mei 2010 | 12:56 WIB
MOBIL minibus mogok dan didorong saat melintasi Jl. Soekarno-Hatta, Probolinggo.

PROBOLINGGO - Hujan deras Sabtu (15/5) dinihari mengakibatkan ribuan rumah dan sejumlah ruas jalan di Kota Probolinggo terendam banjir. Walikota H M. Buchori SH MSi melalui radio milik Pemkot Probolinggo, Suara Kota FM menyerukan sekolah-sekolah dilburkan.

Ribuan rumah yang terendam banjir itu tersebar di sejumlah kelurahan di belahan utara Kota Probolinggo. “Saya kaget begitu menjelang subuh, genangan air menggelontor ke dalam rumah, sampai-sampai kulkas saya ngambang,” ujar Matalil, warga Jl. Ir Djuanda, Kel. Tisnonegaran, Kec. Kanigaran, Sabtu (15/5) pagi.

Air yang menjelang subuh setinggi paha orang dewasa pada pukul 07.00 pagi tadi surut menjadi selutut. Dengan pompa diesel, Matali berusaha menyedot dan membuang air yang menggenangi rumahnya.

“Saya panik begitu air di saluran drainase di depan rumah meluap dan masuk ke dalam rumah,” ujar Ny. Umar, warga Jl. Tjokroaminoto, Kota Probolinggo. Meja-kursi dan sejumlah perabotan ikut terendam air setinggi lutut.

Genangan air juga menggenangi ratusan rumah di Jl. Tjokroaminoto Gang I, Gang II, Gang Kapuran, hingga Gang Istiharoh, Kel. Kebonsari Kulon, Kec. Kanigaran. Sejumlah rumah di Kel. Jrebeng Lor juga tidak luput dari genangan air.

Genangan paling dalam terjadi di permukiman Jl. Armada (Jl. Flamboyan) yang letaknya memang rendah. ”Subuh tadi ketinggian air sampai sepinggang orang dewasa, saat matahari terbit sedikit surut hingga sepaha,” ujar Sunar, warga Jl. Armada, Kel. Pilang.

Sejumlah fasilitas umum di Kel. Pilang juga terendam banjir. Di antaranya, pasar tradisional (pasar krempyeng) yang berubah menjadi danau. Demikian juga sekolah, SMA Negeri Madrasah Aliyah Negeri (MAN) 2 di Jl. Soekarno-Hatta, Kel. Surahgrinting yang letaknya di seberang pasar tersebut.

”Sejumlah murid memang ada yang sudah telanjur datang, tetapi tadi Pak Wali mengumumkan di radio, semua sekolah diliburkan,” ujar Su’ud, penjaga SMAN 1. Walikota melalui radio milik Pemkot itu meminta, sekolah-sekolah terutama yang terendam banjir agar meliburkan para siswanya. Demikian juga sekolah yang jalan aksesnya terendam banjir, sebaiknya diliburkan karena bisa membahayakan siswa.

Beberapa siswa yang celana dan roknya basah pun akhir meninggalkan gedung sekolah yang terendam air hingga ketinggian sekitar 50 cm itu.

”Karena tidak tahu kalau sekolah diliburkan mendadak saya tetap berangkat ke sekolah dengan sepeda pancal,” ujar Astunur, siswa SMAN 1. Ia mengaku sempat kesulitan menggenjot sepedanya di ruas Jl. Soekarno-Hatta yang dilanda banjir.

MAN 2 yang gedungnya berhimpitan dengan SMAN 1, juga terendam banjir. ”Banyak dokumen sekolah seperti rapor siswa dan buku-buku yang terendam. Mudah-mudahan masih bisa dikeringkan,” ujar Lis Dawam, guru MAN 2.

Sejumlah guru di SMAN 1 juga ketir-ketir, soalnya sejumlah SK kenaikan pangkat yang disimpan di lemari sekolah terendam. ”Waduh mudah-mudahan SK itu tidak rusak. Buku-buku juga banyak yang terendam,” ujar Su’ud.

Arus lalulintas di sejumlah ruas jalan di Kota Probolinggo seperti di Jl. Tjokroaminoto, Jl. Pahlawan, Jl. Panglima Sudirman, dan Jl. Soekarno-Hatta juga terendam banjir. Banjir terparah menggenangi Jl. Soekarno-Hatta tepatnya mulai depan kantor PMI hingga SMAN 1 (sekitar 300 meter).

Puluhan sepeda motor dan mobil tampak mogok akibat terendam banjir saat melintasi jalan protokol itu. Sejumlah kendaraan besar seperti truk dan bus pariwisata memang masih aman.

Kampung Dok di Kel. Mayangan, Kec. Mayangan yang berdekatan dengan kawasan pelabuhan Tanjung Tembaga, juga tergenang air hingga setinggi paha. Pemicunya, saluran drainase dari kampung itu menuju laut lepas terganggu proyek Pelabuhan Perikanan Pantai (PPP) Mayangan.

Masih di Kec. Mayangan, RSUD Dr Moch. Saleh juga sempat disapa banjir. ”Tidak sebera dalam, di beberapa bagian ada yang sampai setumit,” ujar seorang petugas kebersihan sambil mengepel lantai, Sabtu pagi tadi.

Di sebelah utara RSUD, sebuah TK IT Permata juga terendam banjir. ”Syukurlah, sekarang anak-anak sedang libur,” ujar seorang guru sambil menyelamatkan buku-buku dan alat permainan pada TK di Jl. Pandjaitan itu.

Banjir Pacitan

Tak hanya Probolinggo, banjir juga menerjang Kecamatan Arjosari, Pacitan, menyebabkan genangan di sejumlah ruas jalur Pacitan-Ponorogo. Di lingkungan Pajaran, Desa Pagutan luapan air sungai yang naik ke jalan raya mencapai paha orang dewasa. Akibatnya, kemacetan panjang tak dapat dihindari.

"Saya mau ke Pasar Arjosari, baru sampai Pajaran ternyata airnya sangat tinggi. Daripada mobil saya mogok mending parkir disini," ungkap Purwadi (48), sopir angkutan umum, Sabtu (15/5).

Selain kendaraan kecil tertahan, ratusan sepeda motor yang hendak melintasi jalur tersebut juga terjebak macet. Sementara beberapa kendaraan baik mobil maupun motor yang nekat menyeberang akhirnya mogok di tengah genangan air. Hanya kendaraan besar seperti truk dan bus yang lolos dari kemacetan. Kemacetan yang terjadi juga memaksa sebagian pengguna jalan menempuh jalur alternatif. Yakni melalui Kecamatan Tulakan-Tegalombo-Ponorogo dan sebaliknya.

"Saya pilih kembali ke Pacitan dan lewat Tulakan saja," kata Ahmad Farhan, pengemudi yang hendak menuju ke Nganjuk. isa, dtc

Sumber: http://www.surabayapost.co.id/?mnu=berita&act=view&id=13d7bacaeffaa43f1d6e5fa886547670&jenis=b706835de79a2b4e80506f582af3676a