Tampilkan postingan dengan label Kesenian. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kesenian. Tampilkan semua postingan

Selasa, 31 Agustus 2010

12 Mahasiswa Asing Menari Tradisional

Selasa, 31 Agustus 2010 | 01:26 WIB
KOMPAS/LUCKY PRANSISKA

SURABAYA, KOMPAS.com--Sebanyak 12 mahasiswa asing dari berbagai negara penerima program Beasiswa Seni Budaya Indonesia (BSBI) Kementerian Luar Negeri unjuk kebolehan dalam bidang seni tari tradisional di Surabaya Plasa Hotel, Senin.

Kegiatan itu merupakan bagian evaluasi tahap pertama dari proses pendidikan dan pelatihan budaya yang akan mereka terima selama tiga bulan menjalani program tersebut di Surabaya.

Para mahasiswa tersebut berasal dari 12 negara, yakni Thailand, Vietnam, Jerman, Timor Leste, Vanuatu, Fiji, Kepulauan Solomon, Afrika Selatan, Samoa, Tuvalu, Rusia, dan Indonesia.

Dalam kesempatan itu, terdapat dua tarian yang ditampilkan, yakni Tari Glipang dari Kabupaten Probolinggo yang dibawakan enam mahasiswa putra dan Tari Sparkling Surabaya disajikan enam mahasiswa putri.

"Tidak mudah melatih mereka belajar tari tradisional Jawa Timur, karena latar belakang mereka yang berbeda-beda," kata Diaztiarni Azhar, pelatih tari mahasiswa asing itu.

Pimpinan Produksi Program Pelatihan dan Pengenalan Seni Budaya Jatim itu menjelaskan para mahasiswa program BSBI tersebut hanya enam orang yang memiliki latar belakang sebagai penari.

"Mereka menjalani latihan empat kali seminggu, selain juga belajar budaya lain Indonesia, seperti bahasa, kehidupan sosial dan lainnya," tambah Diaz.

Menurut dia, mahasiswa yang tergabung di program BSBI tersebut mendapatkan banyak pengetahuan seni dan budaya Indonesia, khususnya Jatim dalam berbagai bentuk dan aspek.

"Kami memberikan pengetahuan, seperti Bahasa Indonesia, seni tari dan karawitan, seni lukis, membatik, dan pahat topeng, sampai pembuatan kerajinan anyaman. Sejumlah pengetahuan itu akan kami berikan secara berkala selama tiga bulan," katanya.

Sukolovsky Alexey, mahasiswa asal Rusia penerima BSBI, mengaku senang dan bangga bisa mempelajari seni budaya yang dimiliki Indonesia, kendati awalnya sempat kesulitan.

"Ini sebuah pengalaman yang tidak terlupakan dan tarian tradisional Indonesia cukup dinamis. Saya senang bisa menjadi bagian dari program ini," kata Alexey usai pertunjukan tari tersebut.

Sumber: http://oase.kompas.com/read/2010/08/31/01265248/12.Mahasiswa.Asing.Menari.Tradisional

Rabu, 25 Agustus 2010

Wayang Potehi di Klenteng

[ Rabu, 25 Agustus 2010 ]
PROBOLINGGO - Selama beberapa hari ke depan halaman klenteng atau Tempat Ibadat Tri Dharma (TITD) Sumber Naga di Kota Probolinggo ada pertunjukan wayang potehi. Wayang khas warga Tionghoa itu dihadirkan untuk memeriahkan ulang tahun bertahtanya Kong Co Tan Hu Cin Jin ke-145.

Panggung dipadu dua warna merah dan kuning menjadi media tampilnya wayang yang menceritakan cerita rakyat China itu. Wayang potehi ini didatangkan dari Surabaya dengan dalang S. Mudjiono. Cerita yang dibawakan dari kerajaan Sam Hay Lam Tong tentang kesaktian lima orang wanita.

Senin (23/8) malam lalu misalnya, pertunjukan dimulai pukul 19.00 hingga pukul 21.30. Ketika pertama dimulai penonton pertunjukan masih bisa dihitung dengan jari. Kursi yang dipersiapkan belum penuh benar. Mayoritas yang nonton wayang itu sudah sepuh.

Wayang potehi yang artinya boneka yang dibalut kain itu yang melakukan pertunjukan sangat unik dan lucu. Kostum yang dikenakan adalah pakaian kerajaan. Sedikit-sedikit dalang menggunakan bahasa China saat beraksi di atas panggung. Yang paling seru ketika adegan perang karena suara iringan musiknya ramai dan wayangnya bisa melompat-lompat sembari memakai jurus.

"Gini-ini enaknya nonton potehi sama makan cakwe. Kalau nonton wayang ini nggak enak dari tengah-tengah, harusnya sejak pertama, kalau nggak gitu nggak nyambung ceritanya," tutur Listyo, salah satu umat TITD yang ikut menyaksikan wayang potehi, Senin (23/8) malam.

Semakin malam umat TITD mulai berdatangan lagi. Aksi wayang potehi yang sama halnya dengan wayang kulit (budaya Jawa) pun semakin seru. Juga ada adegan peperangannya. Kalau sudah begitu penonton yang sudah berumur saling beradu komentar.

Ternyata dalam satu malam pertunjukkan cerita yang dibawakan oleh dalang tidak langsung selesai. Cerita itu bersambung ke malam-malam berikutnya. Artinya cerita tentang kesaktian lima orang wanita tidak cukup satu kali pertunjukkan saja, bisa-bisa sampai berminggu-minggu.

Hal itu dibenarkan oleh Ketua TITD Sumber Naga Adi Sutanto Saputro, katanya pertunjukan wayang potehi ini bakal ada di klenteng sampai 20 hari. Dalang wayang potehi mulai memainkan perannya sejak hari Sabtu (21/8) lalu.

"Ceritanya ini panjang dan nggak habis-habis. Nggak cukup satu malam, jadi besok bersambung terus. Pertunjukan wayang potehi ini juga untuk hiburan masyarakat, siapapun boleh nonton di sini, bukan buat umat saja," terang Adi.

Sudah kali kedua wayang potehi digelar dalam ulang tahun di tuan rumah (Kong Co). Pengurus TITD berharap dengan adanya wayang potehi ini bisa mengenalkan salah satu budaya dan cerita rakyat China kepada masyarakat.

Mendatangkan wayang potehi bukan sepenuhnya tanggung jawab dari panitia pelaksana. Ternyata setiap hari wayang potehi diminta memulai pertunjukan setelah ada umat yang mau nanggap.

"Setiap hari gantian umat yang nanggap.. Banyak umat yang percaya dengan nanggap bisa menjadi pintu rejeki atau kebaikan. Mereka mempercayai itu. Dan di pembukaan atau penutupan selalu disebut siapa yang nanggap lalu didoakan. Jadi, besok (hari ini) beda lagi yang nanggap tapi ceritanya sambungan dari pertunjukan sebelumnya. Sekali nanggap sekitar Rp 600 ribu," ujar Adi. (fa/yud)

Sumber: http://www.jawapos.co.id/radar/index.php?act=detail&rid=176453

Rabu, 11 Agustus 2010

Ketoprak Cilik Sekar Tanjung di SDN Randuputih II Dringu Probolinggo

[ Rabu, 11 Agustus 2010 ]
Kepercayaan Diri Meningkat, Senang Dapat Saweran

SDN Randuputih II di Diringu Kabupaten Probolinggo punya materi tambahan menarik untuk pelajaran kesenian daerah. Para muridnya diajak berkesenian ketoprak. Jadilah kelompok ketoprak cilik berjuluk Sekar Tanjung. Anggotanya terus bertambah, undangan manggung pun berdatangan.

MUHAMMAD FAHMI, Probolinggo

"SENGKOK seneng sekolah neng Jakarta. Setiya kelas enem. Tapeh ibuk ngocak, sengkok tak olle mole, saelun ngibeh sripikat (sertifikat)" kata Khatam, salah satu tokoh dalam ketoprak cilik Sekar Tanjung. Kalimat dalam bahasa Madura yang diungkapkan Khatam itu kurang lebih berarti begini: Saya senang sekolah di Jakarta. Sekarang sudah kelas enam. Tapi ibu bilang, saya tidak boleh pulang sebelum membawa sertifikat (ijazah).

Khatam yang sejak kecil disekolahkan orang tuanya di Jakarta bertekad harus pulang dengan memenuhi keinginan kedua orang tuanya. Kebetulan sebelum ia berangkat sekolah di Jakarta dulu, ibunya berpesan agar Khatam harus pulang membawa "sripikat".

Yang dimaksud "sripikat" itu sebenarnya adalah sertifikat atau ijazah. Maklum saja, kedua orang tua Khatam tidak pernah sekolah. Jadi mereka tidak mengetahui bagaimana mengeja sertifikat yang benar. Kesalahan itu membuat Khatam ikut jadi bingung. Usai lulus sekolah, ia ke sana-sini mencari sripikat.

Ia akhirnya memang menemukan Sripikat. Tapi, Sripikat yang ini adalah seorang gadis asli Madura yang dipondokkan orang tuanya di Jakarta. Sama halnya dengan Khatam, Sripikat juga dititipi pesan ibunya untuk tidak pulang sebelum khatam (Alquran). Cuma Sripikat salah paham juga. Ia kira Khatam adalah sejenis benda. Karena itu ia ke sana-sini mencari Khatam.

Di tangah saling bingung, Khatam dan Sripikat bertemu. Setelah berkenalan, dua bocah itu sama senang karena merasa menemukan apa yang dicari selama ini. Mereka merasa menemukan apa yang dipesankan oleh masing-masing orang tuanya. Keduanya pun pulang kampung.

Begitulah salah satu cuplikan penampilan ketoprak cilik Sekar Tanjung saat manggung di kantor Kecamatan Dringu Jumat (6/8) lalu dalam rangka memperingati hari kemerdekaan RI. "Ini adalah pesan moral. Betapa pentingnya pendidikan, sehingga tidak sampai terjadi kesalahan komunikasi," ujar Sujoko, Kepala Sekolah SDN Randuputih II sekaligus penanggung jawab sanggar Sekar Tanjung.

Ya, Sanggar Sekar Tanjung merupakan sanggar yang dikembangkan SDN Randuputih II sejak awal tahun ini. Sekarang, sanggar ketoprak cilik tersebut cukup kondang di Dringu dan sekitarnya. Mereka sering diundang untuk tampil di acara-acara hajatan warga setempat. Apalagi kelompok ini sengaja menggunakan bahasa Madura setiap kali tampil.

Sujoko mengaku tidak pernah berpikir sebelumnya kalau grup ketoprak ciliknya itu bakal diterima masyarakat. Sampai masyarakat memberikan uang saku untuk tiap kali penampilan mereka.

Menurut Sujoko, awal mula berdirinya sanggar kesenian tersebut dikarenakan SDN Randuputih kondisinya memprihatinkan. "Saat awal pertama kali saya pindah di SDN Randuputih ini, siswanya sangat minim," katanya.

Maklum saja, letak SDN Randuputih II berada tak jauh dari bibir pantai desa Randuputih. Itu membuat sekolah tersebut sering kebanjiran bila air sedang pasang. Selain itu hampir setiap hari bau amis ikan menjadi aroma wajib ruangan kelas.

Hal itu berdampak pada atensi warga setempat yang sangat minim menyekolahkan anaknya ke sekolah tersebut. Warga lebih memilih menyekolahkan anak-anaknya ke sekolah lain walau jauh.

Hal itu membuat Sujoko yang sebelumnya menjadi kepala SDN Tamansari III galau. "Menurut saya, untuk SDN itu kuantitas sangat mempengaruhi kualitas. Karena jumlah murid itu juga bergantung dari alokasi dana BOS (Bantuan Operasional Sekolah)," jelas Sujoko.

Diketahui, saat ini SD sendiri bergantung hanya dari dana BOS untuk operasional sekolah. Karena itu, Sujoko yang di SDN Tamansari III juga sempat menghidupkan pembelajaran kegiatan kesenian daerah, berniat untuk merintis mendirikan sanggar ketoprak untuk menarik minat siswa baru.

"Sejak awal tahun, kami mulai mengenalkan kesenian daerah. Salah satunya ketoprak yang menggunakan bahasa Madura itu. Kebetulan, anak-anak saat itu juga menyambut baik. Tak sulit untuk mencari pemain ketopraknya. Karena ternyata, ketoprak itu sangat disukai anak-anak," beber Sujoko.

Kegiatan baru berupa pembelajaran kesenian ketoprak menurut Sujoko mempunyai banyak manfaatnya. "Selain mengembangkan jiwa mencintai kebudayaan pada anak-anak, pelatihan ketoprak ini juga menumbuhkan rasa kepercayaan diri anak," ungkap Sujoko.

Hal positif lainnya yang juga cukup dirasakan Sujoko adalah kegiatan pelatihan ketoprak itu membuat atkifitas bermain anak-anak sedikit terkurangi. "Kebanyakan murid sini itu sering main kalau pulang dari sekolah. Karena kedua orang tuanya biasanya kerja. Itu bisa dilihat dari rambutnya yang banyak berwarna merah karena sering maen," ujar Sujoko sambil tersenyum.

Nah, dengan adanya kegiatan pembelajaran ketoprak itu murid-murid bisa semakin mengembangkan bakatnya. Saat ini ada sekitar 60 anggota sanggar kesenian ketoprak mulai dari kelas 4-6. "Yang terpenting, semua wali murid termasuk tokoh masyarakat dan Pak Camat (Sugito, camat Dringu) juga sangat mendukung," aku Sujoko.

Di sisi lain dari penampilan itu, tiap siswa yang tampil juga merasakan langsung dampaknya. Mereka kerap sekali mendapatkan saweran ketika sedang pentas. "Saat manggung di kecamatan lalu saya dapat Rp 64 ribu," kata Rika yang di kelompok ketoprak ini dijuluki "Manohara".

Hal lain yang dirasakan sekolah adalah, pada penerimaah siswa baru tahun ajaran 2010-2011 ini SDN Randuputih II mengalami lonjakan siswa yang cukup signifikan. "Kalau tahun sebelumnya, kelas 1 hanya ada 1 ruangan, kini kelas 1 sudah ada 2 ruangan," kata Sujoko.

Meski cukup sukses mengembangkan kesenian ketoprak di SDN Randuputih II, namun Sujoko belum puas. Lantaran saat ini semua peralatan yang dipakai saat manggung masih meminjam.

Karena itu untuk manggung, pihak sekolah harus berpikir-pikir dahulu untuk memikirkan alokasi biaya peminjaman barang-barang kebutuhan. Seperti gamelan dan alat pendukung lainnya. "Kami berharap ada bantuan dari pemerintah," harap Sujoko. (yud)

Sumber: http://www.jawapos.co.id/radar/index.php?act=detail&rid=174276

Jumat, 06 Agustus 2010

Pengurus Akui Tidak Maksimal

[ Kamis, 05 Agustus 2010 ]
Musda Dewan Kesenian Bulan Ini

PROBOLINGGO - Tuntutan pembubaran pengurus Dewan Kesenian Kota Probolinggo semakin gencar. Banyak seniman lokal mempertanyakan keberadaan Dewan Kesenian dinilai suka ndompleng event sana-sini.

Seniman lukis Joko Dwi Prastowo dari sanggar lukis Hasta Kencana menuturkan, jika Dewan Kesenian masih model asal-asalan seperti sekarang lebih baik tidak usah ada (Dewan Kesenian) sama sekali. Dari pada malah menganggu geliat kesenian yang digencarkan para seniman.

Yang dibutuhkan, lanjut Joko, adalah lembaga apapun namanya yang penting peduli dan mau bekerjasama membangun kesenian. "Syukur-syukur kalau itu labelnya "Dewan Kesenian"," cetusnya kepada Radar Bromo.

Menurutnya, kinerja Dewan Kesenian terakhir ini sangat menyedihkan dengan dana yang katanya mencapai ratusan juta rupiah ternyata cuma mampu menghasilkan program "nunut" acara sana-sini. Oleh karena itu Dewan Kesenian bukan hanya butuh perbaikan tetapi perombakan yang hampir total.

"Yang bagus cuma sudah ada SK dan anggaran yang jauh lebih besar dari Dewan Kesenian sebelumnya. Yang jelas kepengurusan harus diambil orang-orang yang peduli dan serius bekerja untuk membangun kesenian serta terbukti jelas hasil kinerjanya," ujar anak pelukis Joko Sudarto itu.

Menjawab tuntutan pembubarannya, apa sikap pengurus Dewan Kesenian? Siang kemarin (4/8) Radar Bromo berhasil menghubungi Sekretaris Dewan Kesenian Kota Probolinggo Avicinna Dwipayana, yang sedang ada tugas di Surabaya.

Ia bilang, kepengurusan Dewan Kesenian sudah habis sejak tahun 2009 lalu. Hanya saja karena ada event Semipro (Seminggu di Kota Probolinggo), pemkot membuat SK sementara untuk mengisi posisi pengurus hingga Semipro selesai. Maka ditunjuk ketua Soeparjono, sekretaris Avicinna Dipayana dan Bendahara Nuri Indah.

"Sekarang ini aku sudah demisioner. Laporan keuangan (periode lalu) sudah dilaporkan ke Bagian Keuangan. Cuma karena ada Semipro lalu diperpanjang sampai Semipro selesai. Rencananya musda (musyawarah daerah) bulan Mei lalu, karena ada Semipro dan kesibukan masing-masing maka diundur, mungkin Agustus ini," jelasnya.

Diakui oleh Avi, panggilannya, ketua Dewan Pendidikan periode sebelum-sebelumnya tidak melalui mekanisme pemilihan tetapi penunjukan. Mekanisme penunjukan ketua itulah yang kini bakal diubah menjadi pemilihan.

Panitia kecil yang dibentuk akan mengusulkan beberapa nama kandidat, kemudian nama-nama itu akan di-floorkan kepada para seniman, pemilik sanggar, tokoh masyarakat dan instansi terkait. Siapa yang memiliki hak suara itulah yang akan memilih ketua. "Mekanisme itu yang sekarang sedang dibahas. Kami juga akan melaksanakan rapat internal membahas mengenai mekanismenya," tutur Avi.

Ditanya soal anggaran, Avi mengatakan tahun 2009 lalu Dewan Kesenian mendapat anggaran senilai Rp 200 juta. Sedangkan tahun 2010 hanya Rp 100 juta. Dana Rp 200 juta, di tahun 2009 dialokasikan untuk ikut memeriahkan Semipro 2009 dengan acara parade hadrah, ojung dan membuat kegiatan sendiri di Kampung Seni (Tempat Rekreasi Anak).

Nah, sedangkan tahun 2010 ini, meskipun sudah habis masa jabatannya, Dewan Kesenian masih dapat anggaran dari APBD. Pasalnya, beberapa rupiah dari anggaran tersebut dialokasikan untuk acara penutupan Semipro 2010.

"Karena kami demisioner, kami tidak berani mempergunakan karena kami belum punya legalitas. Dana itu sepenuhnya kami serahkan kepada pengurus baru. Dari dana Rp 100 juta terserap sebagian, penggunaannya kerjasama dengan panitia besar Semipro. Pengurus lama tidak mau menggunakan uang itu," beber Avi yang kesehariannya dinas di Bagian Humas dan Protokol itu.

Intinya, penyerapan dana Dewan Kesenian oleh panitia besar Semipro namun Avi tidak tahu berapa anggaran yang sudah dipakai. Yang jelas, masih ada sisa dari penyerapan dana tersebut. Jika pertanggungjawaban pelaksanaan Semipro sudah dilaporkan, SPJ (surat pertanggungjawaban) diserahkan ke Dewan Kesenian berikut sisa dananya.

Soal banyaknya pandangan negatif tentang kinerja Dewan Kesenian, Avi menyatakan selama ini pengurus berasal dari birokrat dan pemilik sanggar. "Saya akui memang ada kekurangan karena memang banyak kegiatan sendiri-sendiri. Pengurus baru nantinya diharapkan yang berkompeten, sesuai bidangnya dan pilihan para seniman," terangnya.

Kinerja tidak maksimal terlihat di tahun 2010 ini karena kepengurusan dalam masa demisioner dan tidak memiliki legal formal. Ia berharap musda yang akan dilaksanakan akan mencakup semua aspirasi dari para seniman. (fa/nyo)

Sumber: http://www.jawapos.co.id/radar/index.php?act=detail&rid=173490

Rabu, 04 Agustus 2010

Tuntut Bubarkan Pengurus Dewan Kesenian

[ Rabu, 04 Agustus 2010 ]
PROBOLINGGO - Eksistensi Dewan Kesenian Kota Probolinggo tengah disoroti oleh para seniman setempat. Terutama soal belum bergantinya kepengurusan Dewan Kesenian periode sebelumnya. Padahal masa pengurusan sudah habis sejak 2009.

"Dewan Kesenian sekarang sudah kedaluarsa sejak tahun 2009 tapi kok sampai sekarang belum ganti-ganti. Ini kan malah ada tanda tanya, ada apa sebenarnya? Di mata saya, Dewan Kesenian lupa akan kata-katanya yang mengaku lebih maju dari Dewan Kesenian Jawa Timur. Nyatanya apa? Nol," ujar pelukis Joko Sudarto.

Joko merupakan salah satu pengurus di Dewan Kesenian selama empat periode. Ia menjadi koordinator di bidang seni rupa. "Kami sudah menyerahkan program kerja tapi tidak dijalankan oleh Dewan Kesenian. Mereka itu penjilat-penjilat. Dewan Kesenian banyak kebohongan di mata saya," tegasnya.

Sebagai salah satu seniman di kota ini, Joko menginginkan ada perubahan dalam organisasi Dewan Kesenian. Beberapa kali berbincang dengan rekan seniman, kata Joko, Dewan Kesenian harus segera diganti dan dilantik oleh wali kota. Karena dulu, saat pembentukan Dewan Kesenian, wali kota yang melantik.

Begitu keras Joko membeberkan mengenai organisasi yang mestinya bisa menjadi jembatan antara pemerintah dan seniman. Menurutnya, kepengurusan Dewan Kesenian periode kemarin adalah hasil kudeta. Tidak ada pergantian nama secara fair dan pemilihannya tidak demokratis.

"Moro-moro onok jenenge, pokoke kudu gelem. Mulane saiki kerjane ra bener. (tiba-tiba ada namanya, pokoknya harus mau. Makanya sekarang kerjanya tidak baik). Parahnya lagi Dewan Kesenian kok tidak punya sekretariat? Tempat menyimpan inventaris juga tidak ada. Mereka (pengurus) itu tidak pernah turun ke bawah. Aneh, anggaran gede itu untuk apa? Sampai sekarang belum lihat program kerjanya," cetus Joko saat ditemui Senin (2/8) malam di pameran lukisnya di lapangan Kopian.

Lucunya, lanjut Joko, ia pernah diajak masuk dalam panitia kecil untuk membahas mengenai pemilihan pengurus. Yang membuat Joko tergelitik, pemilihan nama-nama calon minta dilaksanakan di salah satu rumah makan ternama di Kota Probolinggo.

"Lha wong cuma membahas ngono kok di sana (rumah makan). Itu justru akan menghambur-hamburkan anggaran. Makanya saya ingin ada reformasi total. Di dalamnya sudah ada kebohongan dan manipulasi anggaran," gerutu tetua Sanggar Hasta Kencana itu.

Ketua Dewan Kesenian Suparjono pernah mengatakan kepada Radar Bromo bahwa pergantian pengurus akan dilakukan tapi menunggu laporan dari pengurus lain, yaitu sekretaris. Joko pun kembali tertawa mendengar alasan tersebut.

"Laporan kok sampai sekarang tidak tahu juntrungannya. Tidak ada transparansi anggaran. Saya tidak ingin menjelekkan tapi harus ada pembenahan ke depan. Buyar ae (bubar saja) pengurusnya, tapi organisasinya harus tetap ada," pungkasnya.

Sementara itu, seniman tari dari Sanggar Tari Bayu Kencana Peni Priyono mengatakan sesungguhnya Dewan Kesenian itu perlu ada untuk membantu pemerintah dalam mengembangkan dan melestarikan kesenian di Kota Probolinggo. Tapi, kalau pemerintah tidak membutuhkan bantuan maka Dewan Kesenian tidak perlu ada.

Tinggal tergantung bagaimana para seniman, mau berkumpul untuk memikirkan kondisi kesenian di kota ini atau berfikir sendiri-sendiri untuk memikirkan keseniannya sendiri. Jika Dewan Kesenian ada, harus punya program jelas dan anggaran yang memadai. Harus mewadahi seluruh kesenian yang mewarnai kota dan mengangkat kualitas penyajian.

"Dewan Kesenian harus diisi orang-orang yang mau dan mampu berfikir kesenian. Terlebih kalau mereka mampu berkarya seni. Jangan diisi oleh orang yang hanya bisa sekedar nabuh saron apalagi hanya sekedar untuk mencari nama," cetus seniman yang juga berprofesi sebagai PNS itu. (fa/nyo)

Sumber: http://www.jawapos.co.id/radar/index.php?act=detail&rid=173316

Minggu, 20 Juni 2010

HARI JADI LAMONGAN DITUTUP KESENIAN DAERAH PESISIR

Monday, 21 June 2010 01:31

Rangkaian peringatan Hari Jadi ke-441 Kabupaten Lamongan ditutup dengan pergelaran kesenian yang dibawakan oleh para seniman dari 14 kabupaten/kota daerah pesisir di Jawa Timur, Minggu.

Lamongan, 20/6 (Antara/FINROLL News) - Rangkaian peringatan Hari Jadi ke-441 Kabupaten Lamongan ditutup dengan pergelaran kesenian yang dibawakan oleh para seniman dari 14 kabupaten/kota daerah pesisir di Jawa Timur, Minggu.

"Kami sengaja manghadirkan seniman dari 14 kabupaten/kota pesisir di Jatim dengan harapan masyarakat memberikan penghargaan khusus kepada kesenian khas daerah pesisir," kata Pelaksana Tugas Kabag Humas Pemkab Lamongan Aris Wibawa.

Puncak peringatan hari jadi itu diawali dengan penampilan mahasiswa Jurusan Sendratari Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Surabaya (Unesa) yang menyajikan Eksotika Nusantara dengan beragam tarian, di antaranya tari kolosal yang berjudul "Adeking Dahanapena".

"Tarian kolosal ini menceritakan tentang pelarian Prabu Erlangga dari Kerajaan Waranmas ke daerah Pamotan karena dikejar-kejar oleh Raja Worawiri," kata Aris menjelaskan.

Selanjutnya seniman dari Kabupaten Probolinggo menampilkan "Rebekan Oreng Tingkir Soreng", sebuah ritual selamatan yang lazim ditemui di komunitas masyarakat pesisir Jawa.

Disusul seniman dari Kabupaten Situbondo yang menyuguhkan Tari Lajeng dan Kabupaten Tuban dengan mengetengahkan seni Sandur.

Sandur adalah tarian khas masyarakat Tuban yang keberadaannya hampir punah lantaran para pemainnya sudah berusia lanjut.

Sementara itu, Kabupaten Sampang, Madura, juga turut meramaikan dengan kesenian Gumbak, sebuah tradisi "baceman" atau membersihkan dan menyucikan 24 pusaka senjata tradisional.

Seniman dari Sampang itu tampil lengkap dengan membawa 24 senjata pusaka, termasuk sebilah senjata sejenis pedang yang panjangnya melebihi tinggi orang dewasa.

Budaya pesisir yang lekat dengan agama Islam diwakili oleh kesenian Tari Zafin Mandilingan. Tarian ini dibawakan sejumlah siswi Akademi Kebidanan Delima Kabupaten Gresik. Dengan iringan musik gambus, penarinya berpakaian muslim dengan kerudung tertutup.

Lain lagi dengan penampilan dari Kota Probolinggo yang menyuguhkan Tari Ting-Genting, tarian perang yang gerakannya menimbulkan gerak tawa penonton karena mengadopsi gerakan anak kecil yang menirukan peperangan.

Selain dirayakan bersama seniman dari 14 kabupaten/kota pesisir Jawa Timur, siswa-siswi SMA Negeri 2 Lamongan juga menampilkan tradisi masyarakat pantura Lamongan, yakni Petik Laut.

Para pelajar MAN Lamongan yang menampilkan tradisi Kupatan, sebuah tradisi yang berawal dari kisah pendirian masjid oleh Sunan Drajat di Paciran, Kabupaten Lamongan.

Tak ketinggalan, siswa-siswi SMP Negeri 2 Lamongam juga menyumbang penampilan kisah Jaka Mada (Gajah Mada) dan Mbok Rondo Andong yang diyakani masyarakat setempat sebagai ibunda Mahapatih Gajah Mada yang makamnya berada di Kecamatan Ngimbang.

Pemkab Lamongan saat ini sedang mensosialisasikan bahwa Mahapatih Gajah Mada lahir di Lamongan.

Sementara itu, Bupati Lamongan, Masfuk, mengatakan, penampilan seniman dari 14 kabupaten/kota di Jatim itu merupakan kontribusi Pemkab Lamongan terhadap pelestarian budaya bangsa, terutama kesenian khas masyarakat pesisir.

"Keanekaragaman seni dan budaya adalah aset yang harus dikembangkan sebagai sarana promosi daerah. Hari ini kita melihat suguhan keanekaragaman budaya dan kesenian dari 14 kabupaten/kota pesisir di Jawa Timur. Semoga pawai ini dapat menjadi pelestari kekayaan kesenian dan udaya masyarakat pantura di Jawa Timur," katanya.

Sumber: http://www.news.id.finroll.com/home/archive/282652-hari-jadi-lamongan-ditutup-kesenian-daerah-pesisir.html