Tampilkan postingan dengan label TNI. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label TNI. Tampilkan semua postingan

Senin, 22 November 2010

Bus Restu Tabrak Motor TNI, 3 Tewas

  • Senin, 22 Nopember 2010 | 06:56 WIB

Korban Sekeluarga Pulang Takziah

Probolinggo - SURYA- Sepulang dari takziah, nasib tragis menimpa anggota TNI yang bertugas di Kodim 0819 Pasuruan, Pelda Sudarwoko. Pria asal Kelurahan Pohjentrek, Pasuruan yang berboncengan naik sepeda motor bersama anak dan istrinya itu ditabrak bus Restu jurusan Surabaya-Banyuwangi, Minggu (21/11). Ketiganya, suami, istri, dan anaknya akhirnya tewas.

Anak kandung Pelda Sudarwoko, Hendik Panji Saputro, 11, tewas seketika di lokasi kejadian. Istrinya, Wiwik Yuliati dan Sudarwoko sendiri akhirnya menemui ajal setelah sempat dirawat di rumah sakit.

Peristiwa itu terjadi sekitar pukul 09.30 WIB di Jalan Raya Tongas, Probolinggo. Pelda Sudarwoko mengendarai sepeda motor dinasnya nopol 10705 V dari arah timur hendak balik ke Pasuruan usai takziah di rumah salah satu keluarganya di Lumajang.

Dari arah berlawanan, bus Restu nopol N 7322 UG yang dikemudikan Eko, 40, asal Desa Gebang Patrang, Jember, melaju dengan kecepatan tinggi mendahului sejumlah kendaraan, di antaranya, Toyota Avanza dan beberapa sepeda motor.

Ketika mendahului satu mobil lainnya yang berada di depan Avanza, dari arah timur meluncur Pelda Sudarwoko. Tak pelak, tabrakan tak bisa dihindarkan. Sepeda motor Pelda Sudarwoko terpental sekitar 10 meter. Anaknya, Hendik Panji Saputro meninggal seketika di lokasi kejadian. “Yang wanita terlempar masuk sungai,” kata Nawawi, seorang warga yang menyaksikan kejadian itu kepada sebuah stasiun radio. “Busnya ngebut, Mas,” ujar warga lain di sekitar lokasi kejadian.

Usai kecelakaan, kondisi Pelda Sudarwoko dan Wiwik Yuliati luka parah dan langsung dilarikan ke RSUD Tongas. Namun, karena kondisi korban sangat kritis, mereka dirujuk ke Rumah Sakit DKT milik TNI di Kota Malang. Sayang, nyawa Pelda Sudarwoko dan Wiwik yang mengalami patah tulang di tangan dan kaki, tak bisa ditolong. Pasangan suami istri itu akhirnya mengembuskan napas terakhirnya.

Kanit Laka Satlantas Polres Probolinggo Iptu Istono kepada Surya menyatakan, kecelakaan itu terjadi akibat kelalaian sopir bus. “Sopir bus memang ugal-ugalan, sehingga menyebabkan kecelakaan itu terjadi. Korban ini habis nyelawat (takziah) dari Lumajang,” ujar Istono.

Menurut Istono, saat ini polisi sudah mengamankan barang bukti dua unit kendaraan yang terlibat dalam kecelakaan itu. “Kita akan proses sesuai ketentuan yang berlaku,” katanya.

Bersama Perusahaan Oto (PO) Sumber Kencono, armada PO Restu memang dianggap sering terlibat kecelakaan lalu lintas. Pada 20 September 2010, kedua PO itu pernah diaudit Forum LLAJ Jatim yang diketuai Ditlantas Polda Jatim dan beranggotakan Dishub dan LLAJ Jatim, DPD Organda Jatim, Dinas PU Bina Marga, PT Jasa Marga, dan pakar dari Perguruan Tinggi (ITS dan Brawijaya). Sayang hasil audit lengkap hingga kini belum pernah dibeber ke publik.

Namun, dalam audit itu sempat terungkap bahwa sumber daya manusia (SDM) para awak bus Restu dan Sumber Kencono masih memprihatinkan jika ditilik dari lulusan sekolahnya. Rata-rata sopir PO Restu dan Sumber Kencono berijazah Sekolah Menengah Pertama (SMP) dan hanya sedikit yang berijazah di atasnya.

Kadishub dan LLAJ Provinsi Jatim Wahid Wahyudi kala itu menyatakan kualitas SDM yang rendah di kedua PO itu tidak bisa serta merta dinilai bahwa kinerja dan pelayanannya juga tidak baik. Namun, Wahid menggambarkan, kualitas SDM jika diklasifikasikan atas dasar tingkat pendidikan, tentu saja akan ada bedanya. Artinya, SDM lulusan SD, SMP, SMA, dan perguruan tinggi akan memiliki kualitas berbeda. Semakin tinggi tingkat pendidikan, tentu saja psikologis dan pola kerjanya lebih bagus.

Sebelum kecelakaan maut di Tongas, Probolinggo kemarin, bus Restu juga terlibat sejumlah kecelakaan yang merenggut korban jiwa selama 2010. Termasuk ketika bus Restu yang dikemudikan Suyono, warga Malang, menewaskan tiga orang pengendara motor dalam kecelakaan beruntun di Desa Glagahsari, Kecamatan Sukorejo, Kabupaten Pasuruan pada 11 September.

Pada 13 September, di Jalan Raya Desa Lamongan, Kecamatan Arjasa, Kabupaten Situbondo, bus Restu kembali merenggut tiga nyawa. Korban tewas adalah satu keluarga terdiri dari bapak, anak, dan cucu.

Pada 16 Februari 2010, seorang sopir bus Restu, Samiyun Junaedi, 46, bahkan sempat dihajar massa setelah menabrak pengendara motor hingga tewas di Gempol, Pasuruan.ntiq/ab

Sumber: http://www.surya.co.id/2010/11/22/restu-tabrak-motor-tni-3-tewas.html

Bus Restu Tabrak Sepeda Motor TNI, Melarikan Diri!

21 November 2010, 09:51:29| Laporan Iping Supingah

suarasurabaya.net| Lagi-lagi bus Restu terlibat kecelakaan. Kali ini menabrak sepeda motor TNI di kawasan Tongas, Probolinggo, Minggu (21/11).

Dilaporkan NAWAWI pendengar Suara Surabaya, sepeda motor plat nomor bintang 107-05 V ini dikendarai seorang bapak, ibu, dan anak. ”Yang ibu mungkin istri pemboncengnya itu terlempar masuk sungai, yang bapaknya pingsan, dan anaknya luka di bagian kepala dan sudah dibawa ke rumah sakit pakai mobil pick up. Bus Restunya melarikan diri,” jelasnya.

Kata NAWAWI, bus Restu yang menabrak ini ke arah Probolinggo, sedangkan sepeda motor yang ditrabrak ke arah Surabaya. Polisi sudah ada di lokasi kejadian.(ipg)

Sumber: http://kelanakota.suarasurabaya.net/?id=c4ddbb8328114a3052c77cddee841087201085153

Jumat, 22 Oktober 2010

Kodim 0820 Probolinggo Gelar TMMD di Tongas Wetan

images/stories/tmmd2010.jpgReporter : Wawan
TONGAS – Wakil Komandan Komando Pengembangan Pendidikan Angkatan Laut (Wadankobangdikal) Brigjen (Marinir) P. Fery Kunto Guritno, SH bertindak sebagai Inspektur Upacara Pembukaan TNI Manunggal Membangun Desa (TMMD) ke-85 tahun 2010 wilayah Kodim 0820 Probolinggo di Rest Area Tongas, Rabu (13/10). Kegiatan TMMD sendiri dilaksanakan di Desa Tongas Wetan Kecamatan Tongas.
Hadir dalam upacara tersebut Bupati Probolinggo Drs. H. Hasan Aminuddin, M.Si beserta Ny. Hj. Tantri Hasan Aminuddin, SE, Wakil Walikota Probolinggo Bandyk Sutrisno, Kepala Kejaksaan Negeri Kraksaan Putu Indriati, Wakapolres Probolinggo Kompol Sucahyo Hadi serta Kapolresta Probolinggo AKBP. Agus Wijayanto.

Selain itu hadir pula perwakilan dari Kodam V/Brawijaya Surabaya, perwakilan Korem 083/Baladhika Jaya Malang, Kepala Bakorwil III Malang Haryogi, Danyor Armed I/105, Danyorkav 8 Kostrad, Danyor Zipur serta 4 Dandim dari Probolinggo, Malang, Pasuruan dan Lumajang. Tampak pula kepala satuan kerja di lingkungan Pemerintah Kabupaten Probolinggo.

Upacara pembukaan TMMD ini diikuti oleh 13 pleton yang terdiri dari Kodam V Brawijaya, Kodim 0820, Armed I/105 Malang, Yonkav 8 Pasuruan, Polres, Hansip, Pramuka dan Pelajar. Sebelum upacara dimulai, peserta disuguhi kesenian Tari Ngremo.

Dalam amanat tertulis Panglima Kodam V/Brawijaya Mayor Jenderal TNI Gatot Nurmantyo yang disampaikan oleh Wadankobangdikal Brigjen (Marinir) P. Fery Kunto Guritno mengatakan Program TMMD adalah program lintas sektoral yang melibatkan TNI, Kementerian, lembaga pemerintah non kementerian dan pemerintah daerah serta segenap lapisan masyarakat.

“Melalui program ini diharapkan dapat mewadai aspirasi dan kepentingan masyarakat di daerah pedesaan, karena proses perencanaannya selalu diawali dengan melibatkan berbagai instansi dan masyarakat serta disusun dengan system Bottom Up Planning,” ujarnya.

Menurut Wadankobangdikal program TMMD dilaksanakan sebagai upaya membantu pemerintah dalam memberdayakan wilayah pertahanan dan membantu tugas pemerintah di daerah dalam meningkatkan akselerasi pembangunan di daerah, membantu meningkatkan kesejahteraan masyarakat, memantapkan wawasan kebangsaan dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara dalam rangka mewujudkan ketahanan wilayah yang tangguh dalam menghadapi berbagai hakekat ancaman.

“TMMD merupakan wahana mengokohkan Persatuan dan Kesatuan bangsa, mengatasi kesulitan yang terjadi di daerah, percepatan pembangunan desa dalam upaya menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia,” lanjutnya.

Wadankobangdikal juga mengharapkan melalui kegiatan TMMD yang bersifat fisik terutama pembangunan infrastruktur, sarana dan prasarana fasilitas umum lain yang menjadi kebutuhan masyarakat di daerah akan meningkatkan roda perekonomian daerah dengan terbukanya isolasi antar desa atau daerah terpencil. “Sedangkan sasaran yang bersifat non fisik diarahkan untuk mendorong tumbuhnya inovasi dan kreativitas masyarakat desa guna meningkatkan kualitas hidup dalam membangun daerahnya sendiri menuju kehidupan sosial yang lebih maju, sejahtera dan mandiri,” jelasnya.

Tidak lupa Wadankobangdikaljuga mengingatkan bahwa kehadiran TNI tidak semata-mata membangun desa tetapi juga sebagai sumber inspirasi bagi masyarakat dengan meningkatkan kepekaan dan kepedulian sosial, serta mampu mengembangkan komunikasi sosial yang persuasif kepada seluruh lapisan masyarakat.

“Dengan demikian melalui TMMD, dapat memotivasi tekat dan semangat masyarakat untuk membangun daerahnya sendiri serta tumbuhnya kesadaran tertib hukum yang berlaku dalam kehidupan masyarakat,” imbuhnya.

Dalam kesempatan tersebut diserahkan bantuan alat-alat pekerjaan dan mesin diesel. Bantuan ini diserahkan oleh Wadankobangdikal Brigjen (Marinir) P. Fery Kunto Guritno. Selain itu juga diserahkan alat-alat olahraga tennis meja oleh Bupati Probolinggo Drs. H. Hasan Aminuddin, M.Si kepada karang taruna desa setempat. Sedangkan Dandim 0820 Letkol Inf. Hery Setiyono berkesempatan menyerahkan ayam petelur kepada warga setempat.

Usai upacara, kegiatan dilanjutkan dengan peninjauan ke salah satu lokasi kegiatan TMMD di Dusun Curah Pondok Desa Tongas Wetan Kecamatan Tongas. Dimana di lokasi ini dilakukan pembuatan jalan baru aspal dengan volume 3 x 800 M. Begitu sampai di tempat ini, Bupati Hasan bersama Wadankobangdikal dan Muspida langsung disambut masyarakat. Ribuan masyarakat di tempat tersebutpun mendapatkan santunan dari Bupati Hasan.

Sementara Dandim 0820 Probolinggo Letkol Inf. Hery Setiyono mengatakan Program TMDD ke-85 tahun 2010 yang digelar di Desa Tongas Wetan Kecamatan Tongas memiliki dua sasaran yaitu sasaran pokok dan tambahan. Sasaran pokok meliputi pembuatan jalan baru aspal di Dusun Curah Pondok dengan volume 3 x 800 meter, pembangunan jalan lingkungan pavingisasi di Dusun Medokan dengan volume 250 meter x 2 meter dan Dusun Jalit dengan volume 300 meter x 2 meter serta pembangunan tugu mangga, anggur dan tembakau di Dusun Krajan.

Sementara untuk sasaran tambahan meliputi rehab rumah RTSM di Dusun Medokan sebanyak 5 unit, Dusun Jalit sebanyak 5 unit dan Dusun Krajan sebanyak 2 unit. Selain itu juga digelar Rehab MCK Masjid di Dusun Curah Pondok sebanyak 1 unit, plengsengan kamar mandi umum di Dusun Perning dengan volume 20 meter x 2 meter, bantuan pompa air sebanyak 2 unit dan pembangunan saluran Jitut dengan volume 2 meter x 20 meter. “Kegiatan TMMD di Desa Tongas Wetan ini melibatkan 85 orang,” ujar Dandim.

Berdasarkan data yang diperoleh oleh Bromo Info, kegiatan TMMD sendiri dimulai 13 Oktober hingga 2 Nopember mendatang. Usai upacara pembukaan berturut-turut akan digelar beberapa rangkaian TMMD. Yaitu, penyuluhan sosialisasi manfaat akta pencatatan sipil dan dokumen penduduk oleh Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil di balai desa setempat (14/10), pelayanan KB dan kesehatan, pusling warga miskin, pembinaan KB, pengembangan kelompok UPPKS peningkatan dan pemberdayaan ketahanan pangan serta pemutaran film oleh Badan Pemberdayaan Perempuan dan KB di puskesmas dan kantor desa setempat (15-16/10).

Selain itu juga digelar senam bersama dengan masyarakat di Rest Area Tongas oleh Kanpora (17/10), revitalisasi posyandu di balai desa setempat oleh Bapemas (18/10), bintal pendidikan agama dan penyuluhan hukum oleh Bintal Korem 083/BDJ Biro hukum prov & bagian hukum Kab Probolinggo (18/10), penyuluhan sadar koperasi serta peningkatan dan pengembangan koperasi oleh Diskop dan UKM (19/10), peningkatan kesejahteraan petani oleh Dispertan (20/10), pelatihan makanan dan minuman oleh Disperindag (21/10), pengobatan gratis untuk ternak oleh Disnak dan Keswan (24/10), pelatihan PBB bagi Linmas Desa Tongas Wetan oleh Kodim 0820 (25/10) serta peningkatan ketahanan pangan dan pemasyarakatan Pola Pangan berbasis 3 B oleh BKP3 dan PKK (26/10).

Selanjutnya juga digelar penyuluhan hukum, bela Negara dan sosialisasi kewaspadaan nasional oleh Polres, Kodim 0820 serta Kesbangpol dan Linmas (28/10), penyuluhan kesehatan, survelans gizi buruk, survelans ibu hamil Risti serta survelans penyakit menular oleh Dinkes (29-30/10), senam bersama dengan masyarakat dan hiburan, olah raga serta bantuan tehnis penyuluhan pemanfaatan hasil TMMD oleh Kanpora dan Kodim 0820 (31/10) serta olah raga bersama dan hiburan rakyat oleh Kanpora dan Disbudpar (1/11). Sementara upacara penutupan TMMD ke – 85 tahun 2010 akan digelar Sabtu (2/11) di Rest Area Kec. Tongas. (wan)

Teks Foto : Bupati Hasan bersama Wadankobangdikal dan Dandim 0820 saat meninjau lokasi TMMD di Desa Tongas Wetan

Sumber: http://www.probolinggokab.go.id/site/index.php?option=com_content&task=view&id=4597&Itemid=1

Selasa, 05 Oktober 2010

Diduga Stres, Tentara Bongkar Makam Ibu

PROBOLINGGO – Warga RT 1/RW 3, Kelurahan Curahgrinting, Kecamatan Kanigaran, Kota Probolinggo, kemarin (30/9) dikejutkan oleh tindakan seorang warga setempat, M. Chonis. Lelaki yang juga seorang anggota TNI itu nekat membongkar makam ibunya di pemakaman umum Pilang.

Informasinya, Chonis melakukan itu setelah mendapat bisikan gaib. Untung tindakan Chonis dihentikan babinsa dan subdenpom setempat.

Saat Chonis membongkar makam ibunya, beberapa warga berada di sekitar makam. Chonis yang berpangkat serma mulai menggali kuburan ibunya sekitar pukul 09.00.

Untuk menggali makam ibunya yang meninggal pada Februari 2010 tersebut, Chonis memakai cangkul pinjaman tetangga. Menurut keterangan warga setempat, pria berusia 34 tahun yang masih membujang itu saat ini berdinas di Kodim 0828 Sampang, Madura.

Ada dugaan, Chonis mengalami gangguan psikologi hingga nekat menggali kuburan ibunya. ”Katanya, dia (Chonis) mendapat bisikan untuk mengambil sesuatu di makam ibunya. Lalu, dia mencarinya,” kata Bintara Pembina Desa (Babinsa) Serka Muksin kemarin.

Muksin mengatakan mengetahui kejadian itu setelah ada warga yang melapor. ”Saat melihat itu, warga tidak berani mendekati atau melarang. Akhirnya, warga memanggil saya. Kebetulan, saya babinsa di sini,” ujarnya.

Muksin segera datang ke pemakaman dan melihat rekan satu korpsnya tersebut menggali makam. Muksin sampai di pemakaman sekitar pukul 10.15. ”Galiannya masih sekitar 50 cm. Saat datang, saya langsung dekati dengan persuasif. Pelan-pelan saya menenangkan dia,” ceritanya.

Mendekati Chonis ternyata tidak mudah. Butuh waktu cukup lama agar Chonis mau meng hen tikan galiannya dan mening galkan makam. Sekitar pukul 11.00 Chonis akhirnya dibawa pergi dari makam. Dia lalu ditenangkan di rumahnya.

(fa/jpnn/c7/zen)

Sumber: http://www.jpnn.com

Sabtu, 02 Oktober 2010

Pria Tegap Gali Makam Ibunya

Cari Wangsit Usai dari Aceh
PROBOLINGGO - SURYA-
Kesunyian di Kelurahan Curahgrinting, Kec Kanigaran, Kota Probolinggo, pecah, Kamis (30/9) siang. Seorang pria berbadan tegap menggali makam almarhum ibunya. Tentu saja hal ini merepotkan aparat keamanan. Warga pun menutup kembali makam itu.

Pria yang dikabarkan sebagai anggota Kodim Pamekasan itu adalah Muhammad Chonis, 36 warga RT 1/RW 3 Kelurahan Curahgrinting. Sedangkan yang digali adalah makam almarhum Ny Hamila, ibunya.

Beruntung, sejumlah anggota TNI segera datang. Sejumlah aparat CPM dan Kodim 0820 Probolinggo dan Babinsa Kelurahan Pilang berhasil membujuk M Chonis sehingga menghentikan perbuatan anehnya. Meski dialog sempat berjalan alot, pria itu akhirnya bersedia meninggalkan pemakaman. Ia kembali ke rumahnya yang berjarak hanya beberapa meter dari pemakaman umum itu.

Setelah M Chonis dan petugas meninggalkan area makam yang dibongkar, puluhan warga yang menonton dari kejauhan, langsung menyerbu kuburan yang digali. Mereka penasaran ingin menyaksikan dari dekat. Ternyata, makam itu sudah digali sedalam pusar orang dewasa. Telisip (telisip) atau dinding kayu penahan tanah bahkan sudah kelihatan.

Berdasar persetujuan pihak keluarga, warga bergotong-royong menutup kembali kuburan Ny Hamila yang meninggal sekitar Februari 2010. Kendati demikian, masih banyak warga yang berdatangan menyaksikan kejadian langka ini.

Tak ada yang tahu persis mengapa M Chonis yang dikabarkan berpangkat serka ini menggali makam ibunya. Sejumlah warga dan Samsuri, paman M Chonis, menyatakan, pria berambut cepak ini pernah mengungkapkan akan mencari wangsit di kuburan ibunya. “Pihak keluarga sudah berupaya mencegah,” ungkapnya.

Menurut Samsuri, keponakannya stres sejak pulang dari tugas di Aceh. Namun, ada juga yang menyatakan M Chonis stres gara-gara memperdalam ilmu. ”Saya tidak tahu ilmu apa,” tuturnya. Yang jelas, katanya, pria bertubuh kekar itu stres sebelum ayahnya, M Syarief, meninggal 24 Juni 1999. Makam M Syarief bersebelahan dengan istrinya, Ny Hamila.

Sejak lama pihak keluarga berupaya mengobati M Chonis. “Terutama saat bapaknya masih ada. Sudah kemana-mana, tapi tidak ada hasilnya,” jelas Samsuri. Tak hanya pihak keluarga, lanjutnya, pihak institusi TNI juga berkali-kali membawa M Chonis ke Malang dan Surabaya. “Dia pernah bertugas di Surabaya dan Malang,” jelas Samsuri.

Sehari-hari, anak pertama dari empat bersaudara terlihat normal. Namun, saat stres kambuh, ia sering bertingkah aneh. Selain menjerit, juga pernah memecah kaca rumah. Menurut Pasi Intel Kodim 0820 Probolinggo Kapten Matali, M Chonis adalah anggota Kodim Pamekasan. Ini memperkuat penjelasan pria atletis berambut cepak berkaus singlet yang turut mengamankan warga yang sibuk menutupi makam Ny Hamila. “Dia aktif,” ujarnya.

Singgih, warga, mengaku sering bercengkerama dengan M Chonis. Namun, saat stres, tidak ada warga yang berani mendekat. Cangkul yang dipakai menggali makam Ny Hamila dipinjam dari tetangga. “Saya dan warga tidak berani menghalangi, apalagi melarangnya,” ungkap Singgih. nst 35

Sumber:http://www.surya.co.id/2010/10/01/pria-tegap-gali-makam-ibunya.html

Dapat Bisikan Gaib, Oknum TNI Gali Kuburan Ibu

30/09/2010 - 23:13


(beritajatim.com)

INILAH.COM, Probolinggo - Warga yang tinggal di seputar lokasi kuburan di Jalan Brantas, Kelurahan Pilang, Kecamatan Kademangan, Kota Probolinggo geger.

Pasalnya, salah seorang anggota TNI bernama M. Holis (37) nekat menggali kuburan ibunya sendiri, Hamila, Kamis (30/9).

Aksi gali kuburan yang dilakukan oleh M. Holis itu, tentu saja mengundang perhatian warga setempat. Bahkan, warga mengaku takut untuk menghalanginya. Karena orang yang telah menggali kuburan itu seorang anggota TNI.

Informasi menyebutkan, nekatnya M. Holis yang berdinas di Madura itu menggali kuburan orangtuanya sendiri, karena telah mendapatkan bisikan gaib.

Entah apa isi bisikan gaib itu sehingga membuat anggota TNI yang pernah dikirim ke Aceh itu sampai berbuat aneh seperti itu. "Katanya begitu. Dia mendapatkan bisikan gaib," ungkap salah seorang warga setempat, Samsuri kepada wartawan.

Menurut pengakuan Samsuri, selama ini M. Holis memang seringkali berbicara sendirian. Bahkan, tidak jarang juga sering teriak-teriak tanpa sebab. "Kondisinya memang tidak labil. Orangtuanya dulu bahkan sampai mencari obat kemana-mana untuk menyembuhkan kondisinya," terang dia.

Melihat kelakuan aneh M. Holis, salah seorang Babinsa Kelurahan Pilang, Serka Muksin bersama beberapa anggota TNI lainnya dan seorang mantan Ketua RT Siswoko lalu mendatangi lokasi kuburan itu.

Mereka berusaha mencegah agar M. Holis tidak melanjutkan kelakuan anehnya yang sempat menggegerkan warga sekitar. [beritajatim.com/bar/mah]

Sumber: http://www.inilah.com/news/read/politik/2010/09/30/856541/dapat-bisikan-gaib-oknum-tni-gali-kuburan-ibu/

Rabu, 22 September 2010

HUT, TNI Bersihkan Stadion

[ Rabu, 22 September 2010 ]
KRAKSAAN - Ada pemandangan menarik di hutan Kota Kraksaan, Kabupaten Probolinggo. Beberapa anggota TNI melakukan karya bakti. Mereka bersih-bersih di sekitar stadion Gelora Merdeka, Kraksaan. Bukan tanpa alasan, acara itu dilakukan untuk menyambut HUT ke 65 TNI yang jatuh setiap 5 Oktober.

Kegiatan itu sendiri dimulai sekitar pukul 07.00 WIB. Sekitar 75 personel TNI dilibatkan. Yakni, terdiri dari terdiri dari satu peleton anggota Zipur dan satu peleton anggota Kodim 0820 Probolinggo.

Koordinator kegiatan Kapten Infanteri Slamet Riadi mengatakan, beberapa unsur jajaran TNI juga bergabung. Yakni, unsur Benglap (bengkel lapangan), Minvet (administrasi veteran) dan Tebbek (tempat perbekalan). Juga ada sejumlah petugas kebersihan dari Badan Lingkungan Hidup (BLH) Kabupaten Probolinggo.

Dikatakan Kapten Slamet, Kodim 0820 memang berkoordinasi dengan Pemkab Probolinggo melalui BLH. Sedangkan karya bakti menurutnya sesuai dengan delapan wajib pokok TNI. "Ini (karya bakti) bentuk implementasi delapan wajib itu," jelas Slamet.

Slamet menerangkan, karya bakti di stadion dilakukan agar pemandangan terlihat elok. Sebab menurutnya, areal sekitar stadion sering dimanfaatkan sejumlah masyarakat untuk berbuat mesum. Padahal itu merugikan kepentingan umum. "Masyarakat kok kurang nyaman berada di sekitar sini (stadion)," katanya.

"Di situ kesannya rimbun dan angker. Ternyata di dalam malah bersih. Mungkin dipakai untuk mesum. Sekarang sudah dibersihkan. Yang penting masyarakat bisa nyaman berada di sekitar stadion ini," imbuhnya sambil menunjuk lokasi yang dimaksud.

Selain karya bakti, sejumlah rangkaian kegiatan memperingati HUT TNI juga dilakukan. Hari ini kata Slamet, Kodim 0820 menggelar donor darah. Sementara sore harinya ada pemberian bantuan untuk yayasan panti asuhan di sejumlah tempat. Dan malam harinya digelar istighotsah.

Tak hanya itu saja. Rencananya besok, Kodim melaksanakan tabur bunga di Taman Makam Pahlawan (TMP) Kota Probolinggo. "Baru kemudian dilaksanakan upacara. Tempatnya nanti di lapangan Kodim," tutur Slamet.

Dikonfirmasi Radar Bromo, Kepala BLH Dewi Korina mengatakan, pihaknya menyambut baik dilaksanakannya kegiatan itu. "Ini sebagai contoh dan panutan bagi masyarakat," ujar Dewi melalui ponselnya.

Menurut Dewi, pihaknya sering bekerja sama dengan berbagai kalangan. Termasuk dengan TNI. Utamanya di bidang kebersihan. Tujuannya kata Dewi, tak lain untuk meningkatkan kesadaran hidup bersih. "Apalagi Kraksaan sudah meraih piala Adipura," tuturnya.

Dewi berharap, masyarakat bisa meniru langkah yang dilakukan personel TNI itu. Lebih-lebih kata Dewi, kebersihan bukan hanya tanggung jawab petugas. Namun tanggung jawab bersama. "Kesadaran masyarakat tetap hal utama yang harus digerakkan," pungkas Dewi. (eem/hn)

Sumber: http://www.jawapos.co.id/radar/index.php?act=detail&rid=180404

Jumat, 06 Agustus 2010

Studi Ketahanan, Perwira Seskoad datangi Polres

[ Kamis, 05 Agustus 2010 ]

KRAKSAAN - Polres Probolinggo kedatangan tamu istimewa, kemarin (4/8). Yakni, 10 perwira Seskoad TNI Angkatan Darat. Bahkan, salah satu perwira berasal dari Amerika Serikat. Yakni, Chritopher Morgan.

Rombongan itu diterima di ruang eksekutif mapolres oleh Kapolres Probolinggo AKBP Rastra Gunawan. Ikut mendampingi, yakni Wakapolres Kompol Sucahyo Hadi, seluruh kabag, kasat dan perwira Polres.

Mereka lantas menggelar pertemuan tertutup selama sekitar 2,5 jam. Mulai pukul 11.00 WIB hingga 13.30 WIB. Meski demikian, Kapolres Rastra tak keberatan membeber hasil pertemuan.

Ditemui saat hendak mengantar tamunya pulang, Rastra memberikan beberapa keterangan. Menurutnya, kedatangan para perwira tersebut untuk menyelesaikan pendidikan tingkat akhir.

Mereka ingin mengetahui kondisi keamanan dan ketertiban masyarakat. Sehingga setiap kantor pemerintah didatangi. Khususnya jajaran Muspida Kabupaten Probolinggo.

Selain itu kata Rastra, perwira TNI juga memberikan kuisioner kepada Polres Probolinggo. Hal yang sama juga dilakukan pada instansi pemerintah lain. Dari kuisioner itulah para perwira TNI mendalami studinya. "Itu bagian dari kunjungan para perwira itu. Selain itu tentunya untuk bersilaturahim," kata Rastra.

Rastra sendiri menyambut baik kedatangan para perwira itu. Bahkan Rastra terlihat sering bercanda dengan Morgan, perwira asal Amerika. "Kalau di Amerika namanya Morgan. Tapi di Indonesia namanya Margono," celetuk Rastra disambut tawa para perwira. "Itu guyon saja," imbuhnya.

Sementara salah satu perwira, Mayor Ari menjelaskan, pihaknya sedang menjalani studi. Yakni tentang potensi ketahanan wilayah, khususnya di Kabupaten Probolinggo.

Studi tersebut kata Ari, berlangsung selama seminggu. Sejauh ini sudah ada beberapa kantor yang didatangi. Yakni Pengadilan Negeri Kraksaan dan Kejaksaan Negeri Kraksaan. "Banyak hal yang kita dapat di sini (Probolinggo)," pungkas Ari. (eem/hn)

Sumber: http://www.jawapos.co.id/radar/index.php?act=detail&rid=173502

Senin, 26 Juli 2010

Baru Lulus Tentara Menghajar Kepala Desa

Senin, 26 Juli 2010 | 08:26 WIB

PROBOLINGGOBaru lulus pendidikan militer dan mendapat strip merah satu alias pangkat prajurit dua (prada), Zaini warga Desa Pesisir, Kec. Gending, Kab. Probolinggo sudah berkacak pinggang. Petantang petenteng konvoi di desanya.

Tragisnya dia berani memukuli kepala desanya, Sanemo. Kontan saja dia langsung ditangkap Subdenpom V/3.

”Saya tidak terima, dipukuli sampai mulut saya nyonyor,” ujar Kades Pesisir, Sanemo, Senin (26/7) pagi tadi.

Apalagi, kata dia, pemukulan itu dilakukan di hadapan banyak orang yang membuat ia merasa dijatuhkan wibawanya sebagai Kades Pesisir.

Kades Sanemo didampingi pengurus Asosiasi Pemerintahan Desa (Apdesi) Kab. Probolinggo dan Camat Gending, Sukarno, melaporkan kasus itu ke Subdenpom dan Polsek Gending.

Peristiwa itu Sabtu (24/7) lalu. Prada Zaini baru lulus dari pendidikan militer di Malang. Ia pun disambut teman-temannya dengan konvoi sepeda motor sejak di pertigaan Desa Pesisir.

Iring-iringan konvoi motor berhenti di depan rumah Kades Sanemo. Kebetulan Sanemo saat itu tidak ada di rumah. Prada Zaini lantas mengucapkan kalimat bernada sesumbar. ”Saya sekarang sudah punya pangkat dan punya senjata, jangan macam-macam dengan saya,” ujarnya.

Istri dan anak-anak Sanemo ketakutan mendengar ucapan bernada mengancam itu. ”Istri saya sampai menangis karena ketakutan,” ujar Sanemo.

Malam itu juga setelah dilapori anggota keluarganya, Sanemo dengan bersepeda motor mendatangi rumah Prada Zaini, yang berjarak sekitar 400 meter dari rumahnya. Ia ingin menanyakan, apa maksud Prada Zaini dan konvoi motor meluruk rumahnya.

”Namun baru saja saya menjagrak sepeda motor, saya sudah dipithing oleh kakak Zaini. Zaini kemudian memukuli mulut saya sampai nyonyor,” ujar Sanemo.

Akui Pukul

Sabtu malam itu juga Prada Zaini dijemput polisi militer dari Subdenpom V/3 Probolinggo. Dengan berpakaian dinas militer, Prada Zaini dicecar sejumlah pertanyaan.

Kepada wartawan yang menemuinya di Markas Subdenpom V/3 Probolinggo, Jl. Suroyo, Kota Probolinggo, Prada Zaini mengakui, keluarganya ada masalah lama dengan Kades Sanemo. Dikatakan hubungan keluarganya renggang dengan Kades Sanemo pasca pemilihan kepala desa (Pilkades) sekitar 4 tahun lalu.

Pemicunya, saat Pilkades, kakak kandung Prada Zaini menjadi tim sukses Sanemo. Sanemo menjanjikan bakal memberikan sesuatu jika kelak terpilih menjadi Kades. Ternyata setelah terpilih menjadi Kades, hingga kini pun bonus itu tidak pernah diberikan kepada kakak kandung Prada Zaini.

Prada Zaini mengakui, dirinya emosi sehingga memukul Kades Sanemo. “Soalnya dia (Kades Sanemo) mengancam akan memberhentikan saya. Ya langsung saya pukul,” ujarnya.

Selain Prada Zaini, tiga warga sipil yang diduga ikut memukul Kades Sanemo ikut diproses hukum. “Tiga warga sipil itu yang disangka ikut memukul Kades Sanemo, sedang kami proses,” ujar Kapolsek Gending, AKP Tri Joko. isa

Sumber: http://www.surabayapost.co.id/?mnu=berita&act=view&id=077634601aceeca8f23d118414476e0d&jenis=c81e728d9d4c2f636f067f89cc14862c

Pukul Kades, Dilaporkan Denpom

[ Senin, 26 Juli 2010 ]
PROBOLINGGO - Pesta menyambut kedatangan Prada Zaini, 19, setelah lulus dari pendidikan militer, Sabtu (24/7) malam, berubah menjadi hari yang kelam baginya. Prada Zaini dilaporkan ke Sub Denpom V/3 Probolinggo karena memukul Kepala Desa Pesisir, Kecamatan Gending Kabupaten Probolinggo Sanemo.

Setelah kejadian itu, Prada Zaini dilaporkan Sanemo ke Sub Denpom dengan didampingi oleh pengurus APDESI dan Camat Gending Sukarno. Prada Zaini pun langsung diperiksa dan harus bermalam di markas Sub Denpom.

Dari informasi yang dihimpun Radar Bromo di lapangan, Sabtu (24/7) malam itu Prada Zaini pulang dari pendidikan militernya di Malang. Ia pun disambut beberapa teman desanya dengan konvoi menaiki motor usai turun dari bus di pertigaan jalan raya desa Pesisir, Gending ke rumahnya.

Nah, rombongan konvoi itu melewati depan rumah Kades Sanemo. Tepat di depan rumah kades, rombongan berhenti. Saat itu Kades Sanemo sedang tidak ada di rumah.

Ketika berhenti di depan rumah Kades Sanemo, Prada Zaini lantas berteriak-teriak. "Saat itu ia bilang 'Saya sekarang sudah punya pangkat dan sudah punya senjata. Jadi jangan macam-macam sama saya'," kata Sanemo menirukan perkataan Zaini.

Di dalam rumah, ada istri, keponakan-keponakan Sanemo yang sedang nonton televisi. "Mereka langsung menangis mendengar hujatan itu," jelas Sanemo.

Setelah itu rombongan konvoi melanjutkan perjalanan ke rumah Prada Zaini. Jaraknya sekitar 400 meter dari rumah Kades Sanemo.

Tak berselang lama, istri Sanemo menelpon Sanemo. "Usai ditelepon, saya langsung datang. Dan berangkat ke rumah Zaini untuk menanyakan ada apa kok dia menghina saya di depan keluarga saya," jelas Sanemo.

Saat itu Sanemo ke rumah Zaini dengan menggunakan motor. Ia berangkat seorang diri. "Saat saya sampai, saya baru njagang motor saya. Lalu ada kakaknya Zaini yang miting saya. Tak berselang lama Zaini datang terus memukul saya tepat kena mulut saya," aku Sanemo.

Tak berselang lama, beberapa teman Zaini yang ikut konvoi juga ikut mendaratkan beberapa pukulan ke wajah dan tubuh Sanemo. "Beruntung saya berhasil dilerai warga. Usai dibawa ke puskesmas Gending untuk divisum, saya kemudian laporkan ke Polsek dan Subdenpom ini," jelas Sanemo.

Sanemo mengaku tidak terima perlakuan kasar Zaini tersebut. "Saya dilecehkan. Dipukuli di depan orang banyak. Coba kalau sampeyan jadi saya, apa yang akan sampeyan lakukan?" katanya Sanemo.

Sementara Prada Zaini langsung disusul anggota PM (Polisi Militer). Saat ditemui Radar Bromo di Sub Denpom V/3 Zaini kemarin, tentara muda itu masih mengenakan seragam lengkapnya.

Prada Zaini terang-terangan mengakui telah memukul sang kades. Menurutnya, keluarganya memang ada sedikit masalah dengan Kades Sanemo. Hubungan mereka renggang sejak pemilihan kepala desa (Pilkades) empat tahun lalu.

Zaini menceritakan, saat sebelum terpilih, kakak kandungnya merupakan salah satu tim sukses (TS) Kades Sanemo. "Kakak saya itu termasuk penyandang danannya," jelas Zaini.

Bila terpilih, keluarga Zaini dijanjikan sesuatu oleh Kades Sanemo. "Tetapi saat sudah terpilih, ia tidak menepati janjinya. Sejak itulah hubungan keluarga kami mulai renggang," ceritanya.

Nah, Sabtu malam itu menjadi puncak ketegangan tersebut. Menurut Zaini, sang kades sempat mengeluarkan ancaman kepadanya saat mendatangi rumahnya malam itu. "Ia bilang mau memberhentikan saya. Karena itu langsung saya pukul," akunya. (mie/yud)

Sumber: http://www.jawapos.co.id/radar/index.php?act=detail&rid=171715

Jumat, 16 Juli 2010

Heran Kemajuan Probolinggo

[ Kamis, 15 Juli 2010 ]
Hari Pisah Kenal Dandim 0820

PROBOLINGGO - Pucuk pimpinan Kodim 0820 Probolinggo telah berganti. Komandan Kodim (Dandim) 0820 yang sebelumnya dijabat Letkol Arh Budhi Rianto kini digantikan oleh Letkol Inf Heri Setiyono.

Kemarin (14/7) digelar acara pisah kenal di aula makodim 0820. Hadir saat itu antara lain Wawali Bandyk Soetrisno, Ketua DPRD Sulaiman, Kapolresta Probolinggo AKBP Agus Wijayanto dan Wabup Salim Qurays.

Dalam acara yang dimulai sekitar pukul 09.00 itu, Letkol Arh Budi Rianto sempat memberikan kata sambutan. Menurutnya, pergantian itu adalah bentuk kaderisasi di tubuh tentara. Dari segi usia, Budi mengaku lebih senior dibanding dengan Letkol Inf Heri Setiyono.

Budi juga berharap, Heri menjaga baik ikatan silaturrahim yang selama ini sudah terjalin dengan seluruh element masyarakat Probolinggo. Utamanya dengan pihak muspida, baik kota maupun kabupaten. "Itu, untuk menciptakan Probolinggo tetap tertib dan kondusif," ujarnya.

Berikutnya Letkol Inf Heri Setiyono memberikan sambutan. Ia menyambut baik harapan Budi. Heri mengaku ingin mengabdikan diri dengan baik di Probolinggo. Dan salah satu tugasnya adalah melakukan pemberdayaan wilayah. "Situasi yang sudah kondusif ini, akan kami manfaatkan dengan baik," ujarnya.

Heri sempat bercerita tentang perjalanan tugasnya. Dia pernah bertugas di Aceh selama satu tahun, Papua satu tahun. Dia juga pernah menjadi Dandim 527 dan Danyon 516 selama 3 tahun.

Saat kini menjadi Dandim 0820 Probolinggo, Heri mengaku heran. Menurutnya, Probolinggo telah maju pesat. Jauh berbeda dibanding lima tahun lalu saat dirinya pernah datang di kota ini. "Saat ini, saya telah melihat perkembangan pembangunan yang sangat pesat," ujarnya. (rud/yud)

Sumber: http://www.jawapos.co.id/radar/index.php?act=detail&rid=169894

Selasa, 01 Juni 2010

Anggota TNI Tersangka Mutilasi


Anggota TNI Tersangka Mutilasi

Liputan6.com, Probolinggo: Teka-teki pelaku pembunuhan sadis yang disertai mutilasi di Probolinggo, Jawa Timur, akhirnya terkuak, baru-baru ini. Belakangan diketahui bahwa pelaku adalah Serma Niman, anggota TNI yang bertugas di Koramil Kraksaan.

Saat rekonstruksi di Desa Andungsari, Kecamatan Tiris, Probolingo, terungkap, kasus mutilasi ini berawal ketika Serma Niman menghadang korbannya, Hartono, 11 Mei silam. Tak lama berselang, keduanya terlibat cekcok mulut. Niman tak terima karena Hartono mengganggu istrinya.

Saat ribut mulut, Hartono mengeluarkan senjata tajam dan hendak membacok Niman. Melihat hal itu, Niman langsung mengeluarkan senjata api dan melepaskan tembakan ke arah Hartono. Akibatnya, Hartono pun tewas di tempat.

Tak hanya itu, Niman juga memotong tubuh korban menjadi sembilan bagian untuk menghilangkan jejak. Lalu pelaku membuang tubuh korban secara terpisah.

Mulanya warga menemukan tubuh Hartono. Belakangan, polisi yang melakukan olah TKP juga mendapatkan delapan potong bagian tubuh korban lainnya. Dari barang bukti di TKP, polisi akhirnya menangkap Niman yang diduga sebagai tersangka kasus mutilasi ini.(ULF)

Sumber: http://id.news.yahoo.com/lptn/20100601/tid-anggota-tni-tersangka-mutilasi-e390447.html


Oknum TNI Mutilasi di Hutan Kopi

Selasa, 1 Juni 2010 | 08:14 WIB

Probolinggo - Surya- Sebelum memotong-motong tubuh korbannya menjadi sembilan bagian, Oknum anggota TNI di Kodim 0820 Probolinggo berinisial Serma NM, sempat menangis dan salat Isak.

Fakta tersebut terekam saat proses reka ulang kejadian itu dalam rekonstruksi di TKP Hutan Kopi di Dusun Segaran, Desa Andungsari, Kecamatan Tiris, Senin (31/5).

Ada sedikitnya tujuh adegan pembunuhan dengan cara mutilasi tersebut. Serma NM menghadang korbannya Hartono alias To, 30, di jalan Desa Andungsari dekat sungai Salak desa setempat, sekitar pukul 19.00 WIB Senin (11/5).

Pada saat itu, pelaku dan korban sempat bersitegang. Menurut versi Serma NM, korban mengancamnya dengan sebilah celurit. Tak pelak, korban langsung ditembak dengan Pistol FN 4,6 mm dengan peluru kaliber 11 mm buatan Belgia, yang menembus dada kiri melewati paru-paru korban.

Jenazah korban lalu disembunyikan di sekitar sungai dengan ditutupi daun pisang. Setelah itu, pelaku kembali ke rumahnya.

Di tengah kegalauan hatinya, pelaku sempat menangis menyesali perbuatannya. Untuk menenangkan pikirannya, dia sempat salat Isak di rumahnya.

Usai salat, Serma NM masih kebingungan. Lalu terbersit dalam pikirannya, untuk menghilangkan jejak dengan cara nekat memutilasi tubuh korban.

Pelaku lalu mengambil parang dan cangkul dari rumahnya, dan kembali lagi ke lokasi Sungai Salak, tempat jasad korban disembunyikan.

Di tempat ini, tubuh korban dipotong-potong. Pelaku mondar-mandir sebanyak sekitar lima kali dari sungai menuju lokasi hutan kopi tempat potongan tubuh korban ditanam dalam kubangan sedalam sekitar setengah meter.

Aksi mutilasi itu, dilakukan pelaku seorang diri hingga menjelang subuh. Sepeda motor korban dibawa kabur ke daerah Jember. n tiq

Sumber: http://www.surya.co.id/2010/06/01/oknum-tni-mutilasi-korban-di-hutan-kopi.html

Oknum TNI Tersangka Mutilasi Probolinggo
Selasa, 1 Juni 2010 | 09:16 WIB

PROBOLINGGO - Misteri pembunuhan Hartono (30), warga Desa Andungsari, Kec. Tiris, Kab. Probolinggo yang mayatnya dipotong-potong (dimutilasi) akhirnya terkuak. Oknum prajurit TNI, Serma Niman yang berdinas di Koramil Kraksaan, Kab. Probolinggo, yang juga tetangga korban dijadikan tersangka tunggal dalam pembunuhan itu.

Hal itu terungkap jelas dalam reka ulang (rekonstruksi) yang digelar Denpom Malang di lokasi penemuan mayat, di Dusun Segaran Duwas, Desa Andungsari, Senin (31/5). Reka ulang yang dipimpin Wakil Komandan Detasemen Polisi Militer (Wadan Denpom) Malang, Mayor CPM Didik Hariadi itu juga dihadiri Koman Kodim (Dandim) 0820 Probolinggo, Letkol Arh. Budi Rianto dan Kapolres AKBP A.I. Afriandi.

Ribuan warga setempat juga memenuhi lokasi reka ulang di kawasan lereng Gunung Argopuro itu. Sekitar 200 personel polisi dan TNI dikerahkan untuk mengamankan jalannya reka ulang yang dimulai pukul 09.30 itu.

Berkali-kali polisi mengingatkan agar warga yang menonton jalannya reka ulang itu tidak mendekati lokasi. “Ayo nyorot, tak usah semak-semak (mundur, tidak usah dekat-dekat, Red.),” ujar seorang polisi melalui megaphone.

Reka ulang itu menggambarkan kasus pembunuhan yang terjadi Senin (10/5) sore sekitar pukul 17.00 di Dusun Segaran Duwas. Mayat Hartono, korban pembunuhan yang terpotong-potong menjadi 9 bagian baru ditemukan, Selasa (11/5) dan Rabu (12/5).

Tersangka Serma Niman begitu tiba di lokasi dengan pengawalan ketat, langsung diminta memeragakan adegan demi adegan. Ada 21 adegan yang diperagakan pria tersebut di 13 titik lokasi mulai di jalan desa, pinggir sungai, hingga di kebun kopi.

Adegan pertama, Serma Niman dengan motornya mencegat Hartono (korban) yang juga bersepeda motor di jalan desa. Tersangka mengatakan, ada keperluan dan mengajak korban melintasi jalan setapak menuju tepi sungai.

Setelah masing-masing memarkir motornya di tepi sungai, Serma Niman menghardik Hartono. ”Mengapa, sampeyan berani membonceng istri saya?”

Hartono (diperagakan seorang polisi) ganti menghardik. ”Memangnya tidak boleh membonceng istri sampeyan?”

Setelah saling pandang dan perang mulut, Hartono mengeluarkan sebilah celurit dari balik sarung yang dikenakannya. Ketika celurit diayunkan, Serman Niman mengeluarkan pistol FN. Dan ”dor”, peluru menerjang dada kiri Hartono disertai robohnya pria tersebut.

”Dari sini terlihat, pembunuhan ini bermotif asmara atau cemburu. Ya nanti akan dibuktikan lebih mendalam di pengadilan militer,” ujar Kapolres AKBP A.I. Afriandi di sela rekonstruksi. Yang jelas kasus pembunuhan itu sekarang ditangani Denpom karena tersangkanya adalah prajurit TNI aktif.

Masih versi rekonstruksi, di keremangan menjelang magrib itu, Serma Niman kemudian menyeret jasad Hartono hingga ke tepi sungai. Serma Niman kemudian pulang ke rumahnya di Dusun Kongsi, Desa Andungsari, untuk mengambil sebilah parang.

Dengan parang itu pula, Serma Niman memotong-motong tubuh Hartono menjadi 9 bagian. Pertama ditebas leher, tangan kanan, tangan kiri, kemudian kaki kanan.

Dengan menyeberangi anak sungai, Serma Niman membawa 4 potongan anggota badan (kepala, dua tangan, dan kaki kanan) itu untuk ditanam di kebun kopi miliknya.

Setelah itu ia kembali ke tepi sungai, untuk kembali memotong-motong jasad Hartono yang masih tersisa. Yakni, memotong perut, dada kanan, dada kiri, paha kanan, dan paha kiri. Sebagian potongan ditanam di kebun kopinya, sebagian lagi disembunyikan di ceruk bebatuan di pinggir sungai.

Dalam rekonstruksi juga terlihat, ia menggali lubang di kebun kopi hanya dengan parang. Dengan kedalaman seperti orang menanam pohon pisang, akhirnya Selasa (11/5) sore, tulang dada yang menyembul ke atas tanah itu ditemukan warga yang mencari-cari Hartono.

Usai membuang jasad Hartono, Serma Niman membuang sepeda motor merek Tosa milik korban. ”Motor korban dibuang di sungai di perbatasan Probolinggo-Jember, sampai sekarang belum ditemukan, mungkin hanyut saat sungai itu banjir,” ujar Kapolres.

Dalam rekonstruksi, hanya diperagakan Serma Niman menuntun motor milik korban (memakai motor lain). Hujan deras semalam juga mengakibatkan jalannya rekonstruksi sedikit terganggu.

Fotokopi KTP

”Kasus kejahatan selalu meninggalkan celah ketidaksempurnaan,” ujar Kapolres AKBP Afriandi saat ditanya awal mula terungkapnya kasus pembunuhan itu. Dalam kasus pembunuhan di Andungsari, di antara potongan mayat itu ditemukan sepucuk pistol FN, 12 butir peluru, selembar fotokopi Kartu Tanda Penduduk (KTP) atas nama Serma Niman, dan bukti setoran (slip) bank BCA sebesar Rp 900 ribu, juga atas nama Serma Niman.

”Saya memang tidak pernah ngomong ke wartawan, H+2 setelah penemuan mayat itu, saya menggerebek rumah Serma Niman,” ujar Kapolres. Di sana ditemukan, fotokopi KTP yang sama persis dengan yang ditemukan di lokasi pembunuhan, sama-sama kusamnya.

Kapolres kemudian berkoordinasi dengan Dandim Letkol Arh. Budi Rianto terkait temuan fotokopi KTP itu. Kodim kemudian melakukan pemeriksaan internal terhadap Serma Niman. Belakangan pihak Korem dan Denpom Malang ikut memeriksa Serma Niman.

Akhirnya diketahui, kasus pembunuhan itu mengerucut pada satu tersangka, Serma Niman. ”Karena menyangkut prajurit TNI, ya kasus ini diambil alih Denpom, termasuk nanti akan diadili di mahkamah militer,” ujar AKBP Afriandi yang segera dipromosikan menjadi Wadirlantas Polda Sulteng itu.

Sementara itu Wadan Denpom Malang, Mayor CPN Didik Hariadi saat dikonfirmasi sejumlah wartawan, enggan berkomentar. ”Nanti, nanti ya. Lebih baik ke Kapendam V/Brawijaya saja,” ujarnya.

Dandim Letkol Arh. Budi Rianto juga tidak banyak berkomentar. ”Sudah ditangani Denpom, tunggu saja,” ujarnya. isa

Sumber: http://www.surabayapost.co.id/?mnu=berita&act=view&id=6a5ba36bafb16a25adb69e53350ed406&jenis=1679091c5a880faf6fb5e6087eb1b2dc


Korban Ditembak dan Kepala Dipenggal

Senin, 31/05/2010 16:55 WIB
Sugianto - detikSurabaya


Probolinggo - Emosi Serma Niman yang nekat memutilasi Hartono (30) warga Desa Andungsari, Kecamatan Tiris, Kabupaten Probolinggo, benar-benar kalap. Pelaku nekat menghabisi nyawa korban, lantaran istri pelaku berinisial ID seringkali diganggu oleh korban.

Apalagi kabar yang berkembang sebelum kejadian, rumah tangga pelaku sedang dilanda ketidakharmonisan. "Sekitar 2 bulanan antara pelaku dan istrinya sedang pisah ranjang," ujar salah seorang warga setempat yang tidak mau disebutkan namanya kepada detiksurabaya.com di lokasi, Senin (31/05/2010).

Pantauan detiksurabaya.com, setelah korban ditembak mati tertembus peluru di dada
kiri di pinggiran sungai desa setempat, pelaku kemudian menyeret tubuh korban ke
sungai dekat bebatuan.

Di sanalah, tubuh korban kemudian ditelentangkan dalam kondisi berlumuran darah. Di sungai dekat bebatuan itu, pelaku kemudian pulang ke rumahnya yang tak jauh dari lokasi kejadian. Di rumahnya, pelaku mengambil sebilah parang dan kembali menemui mayat korban yang sudah tidak berkutik.

Untuk menghilangkan jejaknya, pelaku kemudian memenggal leher korban dengan sadis. Setelah itu, memotong tangan kanan dan kiri serta kaki kanan korban. Potongan tubuh korban tersebut lalu dikubur di tengah lahan kopi milik Serma Niman sendiri dengan melewati jalanan sungai kecil menembus bebukitan.

Dalam rekonstruksi 7 adegan itu dijaga ketat ratusan polisi dan anggota TNI. Medan rekonstruksi cukup berat, tidak sedikit petugas yang mengawal pelaku terjatuh saat melewati jalan setapak menuju sungai, lokasi dibunuhnya korban Hartono.

Kapolres Probolinggo, AKBP Ai Afriandi saat dikonfirmasi tidak banyak memberikan
komentar. "Karena pelakunya oknum TNI, semua proses hukumnya diserahkan ke Denpom," ungkapnya kepada detiksurabaya.com.

Sementara Wadandenpom V Brawijaya Malang, Mayor CPM Didik Hariyadi saat
dikonfirmasi, enggan memberikan komentar.

Sebelumnya, Senin (16//5/2010), tak jauh dari tempat penemuan jenazah Hartono, polisi menemukan sepucuk pistol jenis FN 4,6 milimeter dan butiran peluru berkaliber 9 mm. Tak hanya itu, polisi juga menemukan fotocopi KTP atas nama Serma berinisial NM, slip setoran rekening BCA yang juga atas nama NM serta kartu telpon seluler.

Ada dugaan, sebelum tubuh Hartono dimutilasi, dia terlebih dahulu ditembak oleh pelaku. Kemudian untuk menghilangkan jejak, pelaku lalu memotong-motong tubuh Hartono hingga menjadi 9 bagian. Potongan tubuh lainnya Hartono ditemukan tak jauh dari badannya. (fat/fat)

Sumber: http://surabaya.detik.com/read/2010/05/31/165556/1366889/475/korban-ditembak-dan-kepala-dipenggal

Mutilasi di Probolinggo Direkonstruksi

Senin, 31/05/2010 15:18 WIB
Sugianto - detikSurabaya

Foto: Sugianto

Rekonstruksi Mutilasi di Probolinggo
Probolinggo - Kasus mutilasi yang dialami korban bernama Hartono (30) warga Desa Andungsari, Kecamatan Tiris, Kabupaten Probolinggo direkonstruksi. Dalam rekonstruksi itu ada 7 adegan yang dilakukan pelaku.

Warga tidak mengira jika pelaku mutilasi yang telah memotong tubuh korban menjadi 9 bagian adalah seorang oknum TNI bernama Serma Niman, salah seorang anggota Koramil Kraksaan.

Terkuaknya pelaku mutilasi, setelah polisi menemukan sepucuk pistol jenis FN 4,6 milimeter dan 11 butiran peluru berkaliber 9 mm, fotocopi KTP atas nama Serma Niman, slip setoran rekening BCA yang juga atas nama pelaku serta kartu telpon seluler di seputaran lokasi kejadian.

Dalam rekonstruksi itu, ada beberapa adegan yang telah dilakukan oleh pelaku saat
membunuh korban dengan cara keji. Sebelum korban dibunuh, pelaku memang mencegat korban di tengah kebun kopi di desa setempat.

Saat itu, korban sedang menaiki motor merk Tosa. Di tengah perkebunan tersebut, pelaku lalu menghadangnya. Setelah itu, pelaku mengajak korban ke tepian sungai yang jaraknya puluhan meter dari perkebunan kopi tersebut.

"Setelah sampai di sini, saya langsung menanyakan kenapa korban seringkali menggoda istri saya," ungkap Serma Niman saat gelar rekonstruksi, Senin (31/5/2010).

Namun, kata Serma Niman, saat ditanya, korban tiba-tiba langsung menghunus sebilah clurit. Melihat korban mengeluarkan sebilah clurit, pelaku langsung mengelurkan sepucuk pistolnya. Dan menembak korban hingga mengenai dada kiri dan tewas seketika bersimbah darah.

Sebelumnya, Senin (16//5/2010), tak jauh dari tempat penemuan jenazah Hartono, polisi menemukan sepucuk pistol jenis FN 4,6 milimeter dan butiran peluru berkaliber 9 mm. Tak hanya itu, polisi juga menemukan fotocopi KTP atas nama Serma berinisial NM, slip setoran rekening BCA yang juga atas nama NM serta kartu telpon seluler.

Ada dugaan, sebelum tubuh Hartono dimutilasi, dia terlebih dahulu ditembak oleh pelaku. Kemudian untuk menghilangkan jejak, pelaku lalu memotong-motong tubuh Hartono hingga menjadi 9 bagian. Potongan tubuh lainnya Hartono ditemukan tak jauh dari badannya.
(fat/fat)

Sumber: http://surabaya.detik.com/read/2010/05/31/151840/1366777/475/mutilasi-di-probolinggo-direkonstruksi

Motif Asmara Masih Kuat

[ Selasa, 01 Juni 2010 ]
Sebelumnya pihak TNI sempat menepis keterlibatan Serma Niman dalam kasus mutilasi dengan korban Hartono ini. Tapi, setelah melalui pemeriksaan oleh Denpom Malang, Serma Niman betul-betul menjadi tersangka pelakunya.

Serma Niman adalah anggota TNI yang kini bertugas di Koramil Kraksaan. Lelaki berumur 43 tahun itu adalah warga asli Desa Andungsari, Tiris. Tapi, berdasar fotokopi KTP yang ditemukan di lokasi pembunuhan, Serma Niman terakhir berdomisili di Jl KH Samanhudi, Kelurahan Wiroborang, Kecamatan Mayangan Kota Probolinggo.

Niman cukup hapal dengan seluk beluk hutan kopi tempat mutilasi itu terjadi. Maklum, kebun kopi milik Perhutani tersebut dikelola oleh orang tua Niman.

Lalu apa sebenarnya yang menjadi motif percekcokan Niman dengan Hartono yang berujung mutilasi? Sampai kemarin Denpom Malang masih tertutup soal itu. Hanya, dari informasi beberapa sumber, motif asmara masih menguat.

Dari informasi sumber-sumber Radar Bromo terungkap bahwa Hartono disebut-sebut sempat berboncengan dengan istri Niman, yakni Siti Nur. Itu terjadi beberapa hari sebelum pembunuhan.

Rupanya kabar itu sampai ke telinga Niman. Saat itu sebenarnya biduk rumah tangga Niman dan Siti Nur sedang goyah. Mereka disebutkan pisah ranjang. Tapi, diboncengnya Siti Nur oleh Hartono, tetap saja membuat Niman tak terima.

Nah, saat bertemu dengan korban pada Senin (10/5) jelang maghrib itu, Niman disebutkan sempat mempersoalkan masalah itu. Tapi, Hartono menyangkal, bahkan menyinggung-nyinggung pasal keretakan hubungan Niman dengan istrinya.

Lalu, seperti yang terjadi dalam rekonstruksi kemarin, Hartono yang disebutkan kali pertama menghunus celurit. Namun, sebelum sempat Hartono mengayunkan celurit, Niman lebih dulu menembakkan pistol FN modifikasinya. "Saya refleks," kata Niman dalam rekonstruksi.

Salah satu sumber kuat Radar Bromo lainnya, menjelaskan motif asmara tersebut merupakan akumulasi dari konflik antara Niman dengan korban. Sebelum beredar kabar kedekatan Hartono dengan Siti Nur, hubungan Niman dengan Hartono sudah renggang.

Gara-garannya mereka beda pendapat terkait pemilihan kepala Desa (Pilkades) Andungsari sebelumnya. "Korban itu bertentangan dengan tersangka. Saudaranya tersangka itu maju dalam pilkades Andungsari lalu," kata sumber tersebut.

Walau tidak sampai berujung kontak fisik, ketaksepahaman terkait pilkades itu diduga masih memicu dendam Niman terhadap Hartono. Dan kabar diboncengnya Siti Nur oleh Hartono menjadi puncak kemarahan Niman.

Sayangnya, Wadan Denpom Mayor CPM Didik Haryadi saat ditemui Radar Bromo di lokasi rekonstruksi kemarin enggan memberikan keterangan soal motif sebenarnya. "Lebih jelasnya ke bagian penerangan Kodam V Brawijaya," katanya. (mie/yud)

Sumber: http://www.jawapos.co.id/radar/index.php?act=detail&rid=161743

Serma Niman Tersangka Pelaku Mutilasi

[ Selasa, 01 Juni 2010 ]

Sempat Salat Maghrib sebelum Memutilasi


TIRIS - Misteri kasus mutilasi dengan korban Hartono, alias To, 30, warga Dusun Kongsi, Desa Andungsari, Tiris Kabupaten Probolinggo akhirnya terungkap. Serma Niman, anggota TNI yang berdinas di Koramil Kraksaan telah ditetapkan Denpom Malang sebagai tersangka tunggal dalam kasus tersebut.

Denpom Malang memang tidak memberikan penjelasan secara resmi. Tapi penetapan Serma Niman sebagai tersangka menjadi jelas dengan langkah Denpom Malang menggelar rekonstruksi kasus mutilasi tersebut kemarin (31/5).

Rekonstruksi dilakukan mulai pukul 09.20 di tempat kejadian perkara (TKP), yakni di kawasan hutan kopi di dusun Segaran Duwes, Desa Andungsari, Tiris. Saat itu Serma Niman sudah berperan menjadi tersangka tunggal.

Ia datang ke lokasi dengan pengawalan ketat petugas kepolisian dan TNI. Tangan kanan dan kiri Niman terpasang dua borgol. Masing-masing dipasangkan pada tangan dua anggota Denpom. Pagi itu Niman memakai baju tahanan militer berwarna oranye dengan menggunakan penutup kepala balaclava.

Begitu turun dari mobil Ford Ranger yang di dalamnya juga terdapat Wadan Denpom Malang Mayor CPM Didik Haryadi, Niman langsung melakukan prores rekonstruksi tersebut.

Dari rekonstruksi tersebut baru terungkap bagaimana sadis dan dinginnya Niman membunuh dan memutilasi Hartono hingga jadi sembilan bagian pada Senin (10/5) lalu. Kronologi yang tersusun berdasar rekonstruksi itu, mulanya Hartono yang seorang petani dan pencari kayu sedang dalam perjalanan pulang setelah mengisi pulsa di sebuah konter HP.

Saat itu ia mengendarai sepeda motor mochin. Lalu di jalan makadam desa Andungsari, Hartono berpapasan dengan Serma Niman. Saat itu sedang turun hujan. Niman mengendarai motor Honda GL miliknya.

Lalu entah apa yang diomongkan Niman dan Hartono saat berpapasan itu. Yang pasti, Niman dan Hartono kemudian bergeser ke arah hutan kopi di dusun Segaran Duwes.

Persisnya di tepi sungai Salak di tengah hutan kopi itu, terjadi cekcok. Diduga, dalam cekcok itu Niman mempersoalkan kedekatan Hartono dengan istri Niman, Siti Nur. Kebetulan beberapa hari sebelum kejadian tersebut, Niman sempat mendengar kabar kalau isterinya pernah dibonceng oleh korban.

Cekcok mulut berujung pembunuhan. Korban mengeluarkan sebuah celurit yang ia bawa di cepitan sarungnya. Melihat korban membawa celurit dan akan mengayunkan ke arahnya, Niman pun panik.

Dalam keadaan panik tersebut, Niman mengeluarkan pistol FN modifikasi dari balik celananya. "Saya langsung refleks mengeluarkan senjata," ujar Niman lirih saat rekonstruksi kemarin sambil memperagakan penembakan tersebut.

Tembakan itu mengenai dada kiri korban sampai tembus punggung. Tembakan itu persis mengenai paru-paru sebelah kiri dan masuk ke tulang punggung ke-11. Hartono pun langsung roboh dan tewas.

Niman mengaku sempat menyesal. Ia mengaku sempat meneteskan air mata saat itu. "Sempat nangis," ujar Niman lirih. Selanjutnya, Niman menyeret mayat korban ke pinggir sungai dan ditutupi dua lembar daun pisang. Motor korban pun juga disembunyikan dengan daun pisang di TKP.

Usai menyembunyikan mayat dan motor korban, Niman sempat pulang dengan memakai motor Honda GL-nya. "Saya pulang, terus salat maghrib dulu," kata Niman.

Sekira setengah jam selanjutnya, Niman kembali ke lokasi tempat ia meletakkan mayat korban. Namun saat kembali itu, Niman tidak membawa motornya di lokasi penembakan tadi. Ia menyembunyikan motornya di pinggir jalan makadam, persisnya beberapa meter dekat lokasi pertemuan pertama dengan korban.

Saat itu Niman kembali dengan membawa golok untuk memotong-motong tubuh korban. Bagian pertama yang ia potong adalah kepala korban. Selanjutnya ia memotong tangan kanan, dilanjutkan dengan tangan kiri dan kaki kanan bawah lutut. Potongan-potongan tubuh tersebut langsung ia taruh di sebuah karung plastik yang sudah ia bawa dari rumah.

Setelah dimasukkan dalam karung, potongan-potongan tubuh tersebut dibawa ke atas bukit hutan kopi dengan melewati arus sungai ke arah atas. Sementara bagian lain tubuh korban masih di tinggalkan dengan hanya ditutupi daun pisang kembali.

Bagian-bagian tubuh yang pertama dimutilasi itu kemudian dimasukkan ke sebuah ceruk tepi sungai. Jaraknya dengan lokasi tempat Niman memutilasi sekitar 100 meter.

Walau tak begitu jauh, medannya sangat berat. Dalam rekonstruksi kemarin, beberapa personel TNI, polisi maupun wartawan pun sempat kesulitan. Beberapa kali rombongan yang mengikuti proses rekonstruksi tersebut pun juga tak jarang sempat terjatuh karena terpeleset.

Di sebuah ceruk tepi sungai, Niman memasukkan potongan dua tangan dan satu kaki. Lantas ia kembali melanjutkan perjalanannya ke arah atas dengan membawa potongan kepala yang masih terbungkus dalam karung plastik.

Beberapa puluh meter dengan ceruk tersebut, Niman lantas berhenti di lokasi tempat ditemukannya 5 lubang yang mengubur beberapa bagian tubuh korban. Di lokasi tersebut, Niman awalnya mengeduk lubang. Pertama kali ia letakkan senjata FN, beserta beberapa barang bukti lainnya seperti peluru, minyak pelumas dan fotokopi KTP yang juga tertinggal di lokasi.

Namun sejumlah barang bukti tersebut masih belum dikubur, hanya ditaruh di lubang yang digali dari belati. Sementara bagian kepalanya digeletakkan begitu saja. Beberapa menit kemudian, Niman kembali turun untuk kembali memotong-motong bagian tubuh lainnya menjadi lima bagian.

Lantas sisa lima bagian tubuh tersebut kembali ia bawa dengan karung plastik. Niman pun kembali ke lokasi tempat ia menaruh potongan kepala dan beberapa barang bukti lainnya.

Usai sampai di lokasi, Niman mengubur potongan enam bagian potongan tubuh tersebut di empat lubang. Satu lubang dibuat untuk mengubur baju, sarung dan celana dalam korban.

Tuntas mengubur semua bagian tubuh dan barang bukti, Niman pun kembali turun dari hutan kopi, kembali ke lokasi tempat memotong-motong dan penembakan. Motor korban yang sempat ia sembunyikan dengan daun pisang, ia naiki. Motor itu lantas dibuangnya di sungai Jatiroto. Sampai sekarang ini bangkai motor itu masih belum ditemukan.

Tim dari Denpom pun juga melakukan rekonstruksi pembuangan motor tersangka tersebut di sungai Jatiroto. Sementara itu, Wadan Denpom Malang Mayor CPM Didik Haryadi, saat ditemui sejumlah wartawan usai rekonstruksi tersebut melakukan aksi tutup mulut kepada media.

Didik enggan menjelaskan secara detail hasil pemeriksaan atas Serma Niman. Awalnya ia meminta didampingi Kapolres Probolinggo AKBP AI Afriandi saat memberikan keterangan. Namun, karena saat itu Kapolres sudah turun, wawancara pun urung dilakukan.

Wadan Denpom lalu berjanji akan memberikan keterangan saat di Polsek Tiris. Tetapi saat itu, rombongan dari Denpom ternyata hanya mampir sejenak di Koramil Tiris dan langsung bablas ke Jember untuk rekonstruksi pembuangan motor korban.

Sedangkan Dandim 0820 Probolinggo Letkol Arh Budhi Rianto ketika ditemui sejumlah wartawan juga enggan memberikan komentar banyak. "Sudah diserahkan ke Denpom Malang," katanya.

Sementara Kapolres AKBP AI Afriandi saat dikonfirmasi Radar Bromo mengaku kasus tersebut sudah tergambar dari rekonstruksi yang telah dilakukan denpom Malang. "Semuanya sudah jelas tadi," katanya.

Dalam rekonstruksi tersebut terungkap hanya terdapat satu tersangka tunggal yang anggota TNI Serma Niman. Dengan begitu, menurut Kapolres, proses atas kasus tersebut bakal diambil alih oleh Denpom Malang. "Besok (hari ini) hasil lidik yang telah kami lakukan akan kami serahkan ke Denpom kalau diminta," beber mantan Kapolres Bondowoso tersebut.

Kapolres menerangkan dalam proses rekonstruksi kemarin, pihaknya hanya bertugas sebagai pengamanan jalannya rekonstruksi. "Total kami menurunkan 170 personel pengamanan. Sedangkan dari Kodim dan Denpom juga ada," beber Kapolres. (mie/yud)

Sumber: http://www.jawapos.co.id/radar/index.php?act=detail&rid=161742

Rabu, 19 Mei 2010

Polres Tunggu Pemeriksaan TNI

[ Rabu, 19 Mei 2010 ]
KRAKSAAN - Penyelidikan atas kasus mutilasi Hartono alias To, 30, warga Dusun Kongsi Desa Andungsari, Tiris Kabupaten Probolinggo masih belum menemukan titik terang. Sampai hari ke-8 pascapenemuan tubuh Hartono yang termutilasi jadi sembilan bagian, polres masih belum menemukan tersangka pelaku maupun motifnya.

Motor china merek Tosa yang digunakan terakhir oleh korban sampai kemarin juga masih belum diketahui keberadaannya. "Sekarang kami masih melangkah penyelidikan di lapangan. Kami cari data sebanyak-banyaknya," kata Kasatreskrim AKP Heri Mulyanto.

Menurut Kasatreskrim, sampai saat ini pihaknya masih menunggu hasil Labfor Mabes Polri cabang Jatim secara keseluruhan. "Hasil labfor atas barang bukti masih belum turun," ujar Kasatreskrim.

Keberadaan hasil labfor tersebut cukup penting untuk mengetahui apakah ada sidik jari pada beberapa barang bukti yang ditemukan. Seperti pada pistol FN atau barang bukti lainnya.

Adanya identitas Serma Niman anggota Kodim 0820/ Koramil 12 Krakasan juga masih belum bisa memberi petunjuk pelaku kasus tersebut. "Kami masih menunggu hasil laporan pemeriksaan dari TNI untuk kami cocokan dengan hasil temuan kami (Polres)," beber Kasatreskrim.

Sementara itu sampai berita ini diturunkan, Serma Niman masih terus diperiksa di Korem Malang sejak 15 Mei lalu. "Yang meriksa itu dari intel Korem. Jadi saya sendiri juga masih belum tahu perkembangannya," kata Pasi Intel Kodim 0820 Kapten inf. Matali saat dikonfirmasi Radar Bromo kemarin.

Seperti diberitakan sebelumnya, Hartono alias To, 30, ditemukan tewas dengan tubuh termutilasi hingga jadi sembilan bagian. Hartono adalah warga Dusun Kongsi, Desa Andungsari. Tapi, tubuh bapak satu anak -istrinya kini hamil anak kedua- itu ditemukan termutilasi di tengah hutan kopi di Dusun Segaran Duwes, Desa Andungsari.

Sembilan bagian tubuh Hartono ditemukan dikubur terpisah di lima lubang. Potongan-potongan tubuhnya ditemukan pada Selasa (11/5) sebanyak enam potongan dan Rabu (12/5) sebanyak 3 potongan.

Meski sudah mendapatkan hasil otopsi dari jenazah korban, dan menemukan sejumlah barang bukti, termasuk fotokopi KTP Serma Niman, namun itu belum berarti apa-apa. Polres belum menentukan tersangka pelaku dan motifnya. "Kami minta doanya saja agar kasus ini segera terungkap," harap Kasatreskrim.

FUIB Dukung Polres

Sementara itu, kasus mutilasi Tiris ini mengundang keprihatinan beberapa tokoh masyarakat. Salah satunya disampaikan aktivis Forum Umat Islam Bersatu (FUIB). "Ini (mutilasi Tiris) bukan kasus pembunuhan biasa. Selain korban dimutilasi, di mayat korban ternyata juga ada luka tembakan," kata H Yasin, humas FUIB Kabupaten Probolinggo.

Dari pengamatannya kasus mutilasi Tiris ini merupakan yang terbesar di Kabupaten Probolinggo usai kasus mutilasi yang dilakukan Mbah Jiwo Kraksaan, beberapa tahun lalu.

Karena itu Yasin berharap kasus tersebut mendapat perhatian besar dari Polres. Sehingga kasus tersebut bisa segera terungkap. "Adanya kasus ini membuat masyarakat Tiris dan sekitarnya menjadi takut sebelum kasus ini benar-benar terungkap," kata Yasin.

"Karena FUIB beserta jajaran masyarakat Kabupaten Probolinggo sangat mendukung Polres dan Kodim untuk berhasil mengungkap kasus mutilasi itu. Ini menjadi PR yang harus segera diselesaikan," harapnya. (mie/yud)

Sumber: http://www.jawapos.co.id/radar/index.php?act=detail&rid=159188

Selasa, 18 Mei 2010

Serma Niman Diperiksa Korem

[ Selasa, 18 Mei 2010 ]
Korp TNI membuktikan keseriusannya membantu polres mengungkap kasus mutilasi Hartono. Terlebih dengan ikut dikaitkannya salah satu anggota TNI dalam kasus ini, yakni Serma Niman. Usai diperiksa Pasi Intel Kodim 0820 Probolinggo, Serma Niman saat ini tengah menjalani pemeriksaan di Korem Malang.

"Sejak tanggal 15 Mei lalu, Serma Niman sudah diperiksa di intel Korem untuk di-BAP (Berita Acara Pemeriksaan). Itu langsung perintah Danrem. Karena sudah diperiksa intel Korem, berarti saat ini sudah jadi tanggung jawab Korem," ujar Pasi Intel Kapten Inf. Matali kepada Radar Bromo kemarin.

Sebelum diperiksa di Korem, Serma Niman sempat diperiksa Pasi intel Kodim pada 13 Mei. Menurut Pasi Intel, selama diperiksa di Kodim, serma Niman diminta menjelaskan aktivitasnya sejak tanggal 9-13 Mei. "Dari pengakuannya tidak ditengarai ada kegiatan yang mencurigakan," beber Pasi Intel.

Selain itu, Pasi Intel juga telah memeriksa istri Serma Niman. Dari pemeriksaan tersebut terungkap hubungan Serma Niman dan sang istri selama beberapa bulan ini sedang tidak harmonis.

Sejak beberapa bulan terakhir ini Serma Niman bahkan telah berpisah ranjang. "Istrinya itu meminta cerai terus," kata Pasi Intel. Namun belum diketahui juga apa penyebab keretakan rumah tangga serma Niman.

Sementara terkait fotokopi KTP yang ditemukan di TKP, serma Niman mempunyai alasannya. Menurut pengakuannya kepada Pasi Intel, Serma Niman memang sering menyebarkan fotokopi KTP ke beberapa tetangganya yang kebetulan meminta bantuan untuk mengambil uang di bank.

"Katanya itu, Serma Niman sering dimintai tolong tetangganya yang tidak punya rekening di bank untuk mengambil uang transferan. Biasanya itu serma Niman meninggalkan fotokopi KTP-nya kepada tetangganya itu," jelas Pasi Intel. (mie/yud)

Sumber: http://www.jawapos.co.id/radar/index.php?act=detail&rid=158996