Tampilkan postingan dengan label PDAM. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label PDAM. Tampilkan semua postingan

Jumat, 18 Juni 2010

Pembahasan Perda-Perda Mandul

[ Jum'at, 18 Juni 2010 ]
Banleg Masih Terganjal PP
KRAKSAAN - Rencana DPRD Kabupaten Probolinggo untuk membahas kembali beberapa perda soal retribusi dan pajak yang dianggap mandul mengalami hambatan. Sebab, sejauh ini PP terbaru yang membahas retribusi dan pajak belum disahkan.

Ketua Badan Legislatif (Banleg) Slamet Riyadi menyatakan, sedianya pihaknya siap mengkaji beberapa perda mandul. Tetapi karena PP terbaru belum disahkan, otomatis pembahasan perda mandul kesulitan dilaksanakan.

"Saat menggelar hearing dengan Bagian Hukum beberapa hari lalu, saya juga sempat bahas soal itu (beberapa perda mandul, Red). Tetapi Kabag Hukum menjelaskan kalau saat ini belum bisa dilakukan lantaran PP-nya belum disahkan," terang Slamet Riyadi.

Seperti diberitakan Radar Bromo, beberapa peraturan daerah (Perda) Kabupaten Probolinggo saat ini dalam sorotan DPRD setempat. Beberapa perda yang dipakai saat ini dinilai masih banyak yang mandul dan perlu ditinjau ulang.

Hal tersebut terungkap saat hearing Komisi C dengan Bappeda pemkab setempat, kemarin (15/6). Dari hasil hearing diketahui bahwa beberapa Perda saat ini ada yang belum optimal dalam implementasinya di lapangan.

Ketua Komisi C Agil Bafaqih menconothkan, yakni Perta tentang Retribusi Ikan di PPI Paiton. Meski sudah ada Perdanya, namun sampai sejauh ini Perda tersebut belum diterapkan di lapangan.

Selain mengkritisi keberadaan perda-perda mandul, DPRD juga menilai perlu peninjauan ulang atas beberapa perda. Terutama Perda yang berkaitan dengan penarikan retribusi.

Menurut Agil, semua Perda yang berkaitan dengan retribusi sekarang ini harus disesuaikan dengan perundang-undangan baru. Yakni UU nomor 28 tahun 2009 tentang Retribusi Pajak Daerah.

Nah, meski sudah ada UU yang baru, namun menurut Slamet Riyadi dalam pembahasan Perda itu juga diperlukan pengesahan PP. "Saat ini kami inventarisir dulu perda-perda yang perlu ditinjau ulang. Usai PP disahkan, baru kami bahas lebih lanjut," ulas Slamet.

Peninjauan kembali perda-perda yang berkaitan dengan retribusi itu diharapkan bisa semakin menguntungkan pemkab. Slamet mencontohkan soal keberadaan sumber air Ronggojalu.

Menurut Slamet, bila merujuk pada UU yang baru itu, seharusnya sumber air Ronggojalu bisa menambah PAD yang cukup signifikan bagi pemkab. Pasalnya, air bersih dari mata air Ronggojalu di perbatasan Tegalsiwalan-Leces, Kabupaten Probolinggo itu mengalir ke mana-mana.

Yakni, digunakan untuk Kota Probolinggo. Bahkan menyeberang laut sampai ke Pulau Gili Ketapang. Namun, mata air itu tidak memberikan konstribusi maksimal untuk PAD kabupaten.

Padahal, debit air Ronggojalu sendiri mencapai 3 ribu liter per detik. Dari debit air tersebut hanya 30 liter per detik saja yang dimanfaatkan PDAM Kabupaten Probolinggo.

Ironisnya, PDAM Kota Probolinggo justru lebih banyak memanfaatkan sumber air Ronggojalu tersebut. Sumber air Ronggojalu menjadi pemasok air utama untuk PDAM Kota Probolinggo dengan serapan sekitar 420 liter per detik. Sisa debit air Ronggojalu tersebut dimanfaatkan oleh PTKL dan pengairan irigasi wilayah setempat (dikelola Dinas PU Pengairan).

Kenyataannya, saat ini pemkab hanya mendapatkan retribusi yang cukup kecil. Itu dari bagi hasil ABT (air bawah tanah) dari Pemprov Jatim. Mendapati fakta tersebut, dewan berencana mengoptimalkan keberadaan sumber air Ronggojalu untuk mendongkrak PAD. (mie/hn)

Sumber: http://www.jawapos.co.id/radar/index.php?act=detail&rid=165040

Selasa, 01 Juni 2010

Proyek Air Bromo Rp 12 M

Selasa, 1 Juni 2010 | 09:16 WIB

PROBOLINGGO - Sukses memasok air bersih ke Pulau Giliketapang melalui pipa bawah laut, Pemkab Probolinggo bakal mengalirkan air di Gunung Bromo menuju empat kecamatan. Proyek air bersih untuk warga di belahan barat Kab. Probolinggo itu bakal didanai APBN dan APBD Kab. Probolinggo sebesar sekitar Rp 12 miliar.

”Ada dua sumber air di kawasan Gunung Bromo yang bisa dimanfaatkan untuk proyek air bersih,” ujar Ketua Bappeda Kab. Probolinggo, Drs Tanto Walono MSi, Senin (31/5). Keduanya, sumber Widodaren di Desa Ngadisari, Kec. Sukapura dan sumber Umbulan di Desa/Kec. Sukapura.

Tanto menambahkan, Jumat (28/5) lalu, Dirjen PU Cipta Karya, Budi Susilo dan anggota DPR RI dari Dapil Pasuruan-Probolinggo, Adjie Massaid meninjau kedua sumber air itu. Sejumlah pejabat Pemkab dan Direktur PDAM Kab. Probolinggo, Riyadi Hamdani juga ikut hadir.

”Sumber yang potensial dialirkan hingga Tongas adalah sumber Umbulan di Sukapura,” ujar mantan Camat Sukapura itu. Sementara itu sumber Widodaren di Gua Widodaren yang selama ini digunakan untuk sarana ritual upacara warga Tengger, debitnya terlalu kecil.

”Sumber Widodaren yang debitnya 10-15 liter per detik hanya dimanfaatkan untuk tiga desa, Ngadisari, Jetak, dan Wonotoro,” ujar Tanto. APBN bakal mengucuri dana sekitar Rp 1 miliar untuk proyek perpipaan sepanjang 15 km yang bersumber dari Widodaren.

Sementara itu sumber Umbulan di Sukapura yang debitnya 150 liter per detik diharapkan bisa memasok air bersih bagi warga di belahan barat Kab. Probolinggo. Selama ini di musim kemarau, kawasan itu sering dilanda krisis air bersih.

Air dari sumber Umbulan bakal dipasok menuju desa-desa di empat kecamatan, Tongas, Sumberasih, Lumbang, dan Wonomerto. ”Untuk membangun jaringan pipa dari Sukapura-Tongas sepanjang 28 kilometer diperlukan dana Rp 11 miliar,” ujar Tanto.

Dana sebesar itu sebagian besar bakal dipenuhi dari APBN. ”Sementara sharing dari APBD hanya untuk studi kelayakan, itu pun dari APBD 2009,” ujarnya.

Hasil studi kelayakan itu kemudian diajukan ke pemerintah pusat. Dan kedatangan Dirjen PU Cipta Karya ke Sukapura untuk mematangkan rencana proyek air bersih itu. ”Proyek air bersih Widodaren dan Umbulan bakal didanai APBN 2010 dan APBN 2011,” ujar Tanto.

Krisis Air Bersih

Seperti diketahui, kawasan barat Kab. Probolinggo setiap kemarau panjang dilanda krisis air bersih. Warga pun terpaksa berburu air hingga ke lembah-lembah, bahkan sebagian warga memanfaatkan air sungai yang tersisa.

Saat puncak kemarau panjang, sebagian desa di belahan barat itu pun mendapatkan dropping air bersih dari mobil tangki PDAM. “Mudah-mudahan proyek ini kelak bisa memenuhi kebutuhan warga akan air bersih,” ujar Tanto.

Khusus pemenuhan air bersih bagi warga di belahan timur Kab. Probolinggo, Pemkab sudah membangun jaringan air bersih yang bersumber dari Sumber Tancak, Kec. Tiris.

Wilayah tengah dipasok dari sumber air Ronggojalu yang memanfaatkan pipa air PDAM peninggalan Belanda. Air dari Ronggojalu pula yang kemudian dialirkan ke Pulau Giliketapang melalui pipa bawah laut. isa

Sumber: http://www.surabayapost.co.id/?mnu=berita&act=view&id=6a5ba36bafb16a25adb69e53350ed406&jenis=1679091c5a880faf6fb5e6087eb1b2dc

Senin, 31 Mei 2010

Penyediaan Air Bersih Wilayah Barat Kabupaten Probolinggo

[ Senin, 31 Mei 2010 ]
Butuh Rp 12 M

PROBOLINGGO-Krisi air bersih di sejumlah bagian barat wilayah Kabupaten Probolinggo bakal segera teratasi. Dalam waktu dekat Pemkab bersama pemerintah pusat bakal membangun proyek penyediaan air bersih.

Jumat (28/5) lalu, Dirjen PU Cipta Karya Budi Susilo bersama anggota DPR RI Adjie Massaid datang langsung ke kecamatan Sukapura untuk meninjau persiapan proyek penyediaan air bersih untuk wilayah barat tersebut.

Bersama dengan beberapa pejabat pemkab dan direktur PDAM Kabupaten Probolinggo Riyadi Hamdani, rombongan meninjau dua tempat sumber air yang nantinya bakal dimanfaatkan untuk mengairi wilayah itu.

Dua sumber yang jadi pantauan itu adalah sumber di Widodaren Desa Ngadisari dan sumber umbulan di Desa/ Kecamatan Sukapura. Dari pengamatan tersebut diketahui kalau sumber yang potensial dimanfaatkan aliran airnya sampai ke beberapa kecamatan lainnya di wilayah barat hanya sumber air umbulan di Desa/ Kecamatan Sukapura.

Sementara sumber di Gua Widodaren hanya mampu dioptimalkan untuk beberapa desa sekitarnya saja. "Di sumber Widodaren hanya mampu mengeluarkan air 10-15 liter air per detiknya," kata Tanto Walono, kepala Bappeda yang ikut dalam rombongan.

Aliran air dari sumber Widodaren ini nantinya bakal bisa dimanfaatkan untuk tiga desa yakni Ngadisari, Jetak, dan Wonotoro. "Untuk proyek pengairan dari sumber Widodaren ini dianggarkan Rp 1 M dari APBN dengan panjang pipa sekitar 15 kilometer," beber Tanto Walono.

Sedangkan sumber air umbulan di Desa/ Kecamatan Sukapura dinilai sangat potensial untuk menyuplai daerah yang selama ini sering dilanda krisis air di wilayah Kabupaten Probolinggo barat.

Sumber umbulan ini per detiknya mampu mengeluarkan air sebesar 150 liter. Frekuensi aliran tersebut dinilai sudah cukup untuk mendistribusikan pasokan air bersih di empat kecamatan lainnya wilayah barat selain Sukapura. Yakni kecamatan Tongas, Sumberasih, Lumbang, dan Wonomerto.

Untuk proyek pembangunan sumber air umbulan di Desa/ Kecamatan Sukapura ini, rencananya akan menyedot anggaran dari APBN lumayan besar. Yakni mencapai Rp 11 M. "Kalau dihitung, panjang pipanisasi dari Sukapuran sampai Tongas diperkirakan sekitar 28 kilometer," beber Tanto.

Menurut Tanto, proyek penyediaan air bersih untuk wilayah barat ini anggarannya yang paling besar dari APBN. Sementara sharing dari APBD tidak terlalu besar. Dari APBD sendiri hanya bersifat visible study. "Itu pun dari APBD 2009 lalu," beber Tanto.

Kajian studi pemkab itu lantas diajukan ke pemerintah pusat. Nah, kunjungan dirjen PU Cipta Karya tersebut merupakan follow up dari pengajuan proposal pemkab tersebut. "Informasinya proyek pembangunan untuk kedua sumber air ini nantinya bakal diambilkan dari anggaran perubahan APBN 2010 atau dari APBN 2011," kata Tanto.

Diketahui, beberapa daerah di wilayah Kabupaten Probolinggo barat selama ini memang kekurangan stok air bersih. Terlebih saat musim kemarau tiba, beberapa kecamatan seperti Tongas, Sumberasih, Lumbang, dan Wonomerto selalu kekurangan stok air bersih.

Untuk mengantisipasinya, pemkab selama ini hanya mengirimkan air bersih melalui mobil-mobil tangki pengangkut air. "Kami harapkan adanya proyek ini bisa menjadi solusi krisis air bersih di wilayah barat kabupaten ini," kata Tanto.

Bila nanti proyek ini terealisasi, menurut Tanto suplai air bersih sudah merata di Kabupaten Probolinggo. "Untuk wilayah timur, sumbernya dari Tancak, Tiris. Sementara wilayah tengah dari Ronggojalu dan wilayah barat nanti dari Umbulan, Sukapura," jelasnya. (mie/nyo)

Sumber: http://www.jawapos.co.id/radar/index.php?act=detail&rid=161573

Selasa, 25 Mei 2010

Air PDAM seperti Kopi Susu

[ Selasa, 25 Mei 2010 ]
PROBOLINGGO - Pelanggan PDAM Kota Probolinggo kemarin sumpek. Air PDAM yang diambil dari sumber Ronggojalu di Tegalsiwalan Kabupaten Probolinggo, keruh.

"Saya tahunya tadi (kemarin, Red) pagi waktu mau mandi. Kok airnya menjadi kopi susu," ujar Muhammad, salah seorang warga Perum Asabri Kecamatan Kanigaran kemarin.

Mulanya, Muhammad mengira itu karena bak mandinya yang kotor. Tapi setelah dicek, ternyata memang kran air PDAM-nya yang mengeluarkan air keruh. "Memang dari sananya (PDAM) yang kotor," jelasnya.

Hal yang sama juga dinyatakann oleh Veny, salah seorang warga Kelurahan Mangunharjo Kecamatan Mayangan. Veny mengaku terkejut ketika melihat air PDAM itu keruh. Karena, sebelumnya memang tida pernah sampai sekeruh itu. "Saya jadi heran kenapa kok sampai buthek, padahal biasanya tidak sampai seperti itu (sangat keruh)," ujarnya.

Akibatnya, untuk memenuhi kebutuhannya Veny harus beralih ke air sumur. Tapi, itu hanya sebatas untuk mencuci pakaian dan mandi saja. Sementara untuk kebutuhan lainnya, seperti minum dan memasak harus menggunakan air yang lebih bersih.

"Biasanya untuk memasak dan minum saya pakai air PDAM. Tapi, karena keruh saya beli. Juga untuk madinya si kecil (anaknya yang masih bayi). Meski ada air sumur, tapi itu kurang baik," jelasnya.

Apa yang terjadi? Direktur PDAM Kota Probolinggo Lukman Tjahjono mengatakan air PDAM jadi keruh karena kolam yang menjadi pusat atau sumber PDAM kemasukan air banjir. "Itu disebabkan bencana alam. Akibat hujan yang cukup deras sehingga menyebabkan banjir. Dan, air sungai masuk ke kolam Ronggojalu," ujarnya kemarin.

Lukman mengaku pihaknya sudah melakukan perbaikan untuk mengatasi masalah tersebut. Salah satunya dengan menggelontor dengan air bersih. "Sekarang (kemarin sekira pukul 11.00) sudah tidak lagi, sudah kami gelontor dengan air bersih," jelasnya.

Menurutnya, dalam setahun ini kejadian semacam itu sudah dua kali terjadi. Pertama, pada Januari lalu. Penyebabnya sama. "Kalau curah hujan tidak terlalu deras, hal ini tidak akan terjadi lagi," katanya. (rud/yud)

Sumber: http://www.jawapos.co.id/radar/index.php?act=showpage&rkat=4

Sabtu, 15 Mei 2010

PDAM Kota Sikapi Retribusi Air Ronggojalu

[ Sabtu, 15 Mei 2010 ]
Siap Ikut Aturan Main
PROBOLINGGO-Rencana pemberlakuan retribusi sumber air Ronggojalu Kabupaten Probolinggo mendapat respons positif dari PDAM (Perusahaan Daerah Air Minum) Kota Probolinggo.

Hal itu dikarenakan sebagian kebutuhan air bersih warga di Kota Probolinggo terpenuhi dari sumber air permukaan Ronggojalu. Maka, ketika muncul wacana retribusi pada sumber air tersebut, mau tidak mau setempat harus mengikuti aturan main pemkab Probolinggo.

Direktur PDAM Kota Probolinggo Lukman Tjahyono menjelaskan kalau pihaknya akan mengikuti regulasi yang ada. Selama ini PDAM mengikuti perda Provinsi Jawa Timur tentang pemanfaatan sumber daya air bawah tanah dan permukaan.

"Sekarang ada aturan dan undang-undang baru, ya monggo. Pasti nanti akan ada pembicaraan dan duduk bersama antara bupati dan wali kota, sebelum aturan itu dilaksanakan," kata Lukman.

Seperti dikorankan sebelumnya, komisi C DPRD Kabupaten Probolinggo mengusulkan agar Pemkab Probolinggo menarik retribusi air bersih dari mata air Ronggojalu di perbatasan Tegalsiwalan - Leces Kabupaten Probolinggo. Sebab, meski mata air itu mengalir kemana-mana (termasuk ke Kota Probolinggo) belum ada kontribusi maksimal untuk PAD (pendapatan asli daerah) kabupaten.

Karena itu DPRD Kabupaten Probolinggo serius membahas keberadaan Ronggojalu dan pemanfaatannya. Kepala Bappeda Pemkab Tanto Walono pun menyambut baik pembahasan tersebut karena ada undang-undang baru menyangkut perpajakan dan retribusi.

Selama ini PDAM Kota Probolinggo membayar retribusi berdasarkan berapa kubik yang dieksplorasi dari sumber air di Ronggojalu. Setiap bulannya PDAM mengekplorasi 380 ribu meter kubik. Saat ditanya nominal yang dibayarkan, Lukman enggan mengeksposenya, yang jelasnya hingga jutaan rupiah.

Jika pemkab jadi memberlakukan retribusi tersebut, maka PDAM kota diwajibkan membayar dua retribusi, yaitu retribusi ke pemkab dan retribusi ke provinsi. Menurut Lukman, adanya retribusi pemkab itu nantinya tidak akan berdampak luar biasa bagi PDAM setempat.

"Yang penting retribusinya terjangkau, tidak masalah. Nanti kan ada nego. Pokoknya regulasi yang dikeluarkan oleh pemkab akan kami ikuti. Kami sportif saja, karena memang suplai air untuk Kota Probolinggo ya dari sana. Kami tinggal menunggu perkembangannya bagaimana," pungkas Lukman, kemarin siang. Pasalnya, sejak PDAM berdiri di tahun 1945 Probolinggo sudah memanfaatkan sumber air di Ronggojalu tersebut. (fa/nyo)

Sumber: http://www.jawapos.co.id/radar/index.php?act=detail&rid=158464