Tampilkan postingan dengan label Pemprov. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pemprov. Tampilkan semua postingan

Jumat, 12 November 2010

Gubernur Jatim Imbau Obyek Wisata Bromo Ditutup Sementara

Kamis, 11 November 2010, 17:40 WIB

REPUBLIKA.CO.ID,LUMAJANG-Gubernur Jawa Timur Soekarwo mengimbau pemerintah kabupaten (Pemkab) Probolinggo dan TNBTS untuk menutup sementara objek wisata Gunung Bromo dengan ketinggian 2.392 meter dari permukaan laut (mdpl). "Setelah mendengarkan pemaparan dari tim ahli Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), lebih baik ditutup sementara objek wisata Gunung Bromo," kata Soekarwo usai mendengarkan pemaparan PVMBG di Pemkab Lumajang, Jawa Timur, Kamis.

Menurut dia, Pemerintah Provinsi Jatim mengutamakan keselamatan daripada pendapatan asli daerah (PAD) meningkat, namun bahaya mengancam masyarakat. "Kalau saya lebih memilih pendapatan turun asalkan selamat daripada pendapatan meningkat, namun banyak warga yang tidak selamat," ucap Gubernur Jatim yang akrab disapa Pak De itu.

Kendati demikian, pihaknya akan melakukan koordinasi dengan tim teknis di Pemkab Probolinggo, Pasuruan dan TNBTS selaku pengelola objek wisata Gunung Bromo. "Dalam waktu dekat, saya akan memanggil sejumlah pihak tim teknis di Pemkab Probolinggo dan Pasuruan untuk berkoodinasi terkait dengan aktivitas Gunung Bromo itu," tuturnya menjelaskan.

Secara terpisah, Kepala Bidang Pengamatan Gunung Api PVMBG M. Hendrasto mengatakan, pihaknya sudah memberikan informasi perkembangan aktivitas Gunung Bromo kepada TNBTS dan pemkab setempat. "Kami memberikan rekomendasi, supaya pengelola tidak memperbolehkan wisatawan berada sepanjang satu kilometer dari kawah Gunung Bromo karena berbahaya," tuturnya.

Menurut dia, PVMBG mencatat gempa vulkanik Gunung Bromo mulai muncul sejak Senin (8/11) dan mengeluarkan letusan abu berjarak satu kilometer yang berbahaya. "Saya minta TNBTS memasang papan larangan kepada wisatawan untuk tidak mendekati kawah sepanjang satu kilometer di lokasi objek wisata Gunung Bromo itu," katanya.

Ia menjelaskan, pihaknya meningkatkan pemantauan secara terus menerus setelah gempa vulkanik yang terjadi pada Senin (8/11), namun status Gunung Bromo itu masih waspada atau Level II. "Kalau wisatawan tidak mendekat ke kawah dengan jarak lebih satu kilometer, tidak ada masalah. Kami hanya memberikan rekomendasi, untuk tindakan di lapangan diserahkan sepenuhnya kepada pihak TNBTS yang mengelola Gunung Bromo," tegasnya.

Red: Krisman Purwoko
Sumber: ant

Sumber: http://www.republika.co.id/berita/breaking-news/nusantara/10/11/11/146216-gubernur-jatim-imbau-obyek-wisata-bromo-ditutup-sementara

Gubernur Jatim Instruksikan Gunung Bromo Ditutup

Kamis, 11/11/2010 16:56 WIB
Santi Rahayu - detikSurabaya



Lumajang - Peningkatan aktivitas vulkanik Gunung Bromo di Kabupaten Probolinggo mendapat perhatian serius Gubernur Jawa Timur. Gubernur menginstruksikan agar wisatawan maupun warga setempat berada di radius 1 km dari kawah Bromo.

Hal tersebut disampiakn Gubernur Jatim, Soekarwo, saat meninjau langsung aktivitas vulkanik Gunung Semeru di Pos Pengamatan Gunung Semeru di Gunung Sawur, Desa Sumberwuluh, Kecamatan Candipuro, Lumajang, Kamis (11/11/2010).

Pakde Karwo, sapaan akrab gubernur Jatim, menginstruksikan penutupan lokasi wisata Bromo, baik untuk Pemkab Probolinggo maupun Kabupaten Pasuruan. Kedua Pemerintah Daerah ini diperintahkan, agar tidak memperkenankan wisatawan dan warga setempat berada di radius 1 kilometer.

Hal ini, sesuai rekomendasi yang disampaikan Indrasto, Kepala Bidang Geologi Dinas ESDM yang juga hadir dalam kunjungan kerja tersebut. Indrasto menyampaikan, peningkatan kegiatan vulkanik Semeru terekam sampai 8 November lalu, dimana kegempaan yang terjadi semkain tinggi.

"Sampai 8 November, gempa yang terjadi memang semakin meningkat. Makanya, kami dari Geologi ESDM merekomendasikan agar warga dan wisatawan tidak beraktivitas di radius 1 kilometer dari kawah Gunung Bromo," ungkap Indrasto.

Setelah mendengar rekomendasi ini secara langsung dalam pemaparan teknis, Gubernur kemudian menginstruksikan pihak TNBTS sebagai pemangku wilayah Bromo, untuk memerintahkan petugas di kawasan wisata tersebut mensosialisasikan hal ini kepada para wisatawan.

"Prinsipnya, jangan hanya memikirkan untung dengan banyaknya pendapatan yang diperoleh saja. Namun, dampaknya namun keselamatan diabaikan. Jangan sampai keselamatan diabaikan, meski pendapatan naik. Akan tetapi, dampaknya lebih besar," tegas Gubernur Jatim, Soekarwo kepada detiksurabaya.com.

(bdh/bdh)

Sumber: http://surabaya.detik.com/read/2010/11/11/165632/1492440/475/gubernur-jatim-instruksikan-gunung-bromo-ditutup?881104465

Rabu, 03 November 2010

PTPN XI Masih Kaji Penggabungan Tujuh PG

03 Nov 2010 21:11:31| Ekonomi | Dibaca 31 kali | Penulis : Didik Kusbiantoroetahui kebutuhan tebu ideal untuk memenuhi kapasitas giling bagi pabrik gula tersebut.

"Tidak mudah melakukan amalgamasi PG. Selain pertimbangan ekonomis dan finansial, dampak sosialnya juga perlu diperhatikan, termasuk penyaluran tenaga kerja dan komunitas lokal yang selama ini menggantungkan hidupnya dari PG," katanya.

PTPN XI dalam rapat dengar pendapat dengan Komisi B DPRD Jatim, Kamis (28/10), menyampaikan rencana penutupan tujuh pabrik gula dengan alasan efisiensi anggaran.

Namun, Gubernur Jatim Soekarwo menolak alasan yang disampaikan pihak manajemen PTPN XI tersebut.

"Alasan inefisiensi sangat tidak mendasar bila dihadapkan dengan kepentingan petani, termasuk upaya menyejahterakan petani tebu di Jatim. Ingat, Jatim merupakan lumbung tebu dan gula nasional sehingga keberadaan PG sangat penting," kata Soekarwo.

Adig Suwandi menjelaskan, PTPN XI berharap ada dukungan lahan dari pemerintah kabupaten/kota dan masyarakat sekitar pabrik gula, kalau memang tetap ingin dipertahankan operasionalnya.

Dalam pertemuan koordinasi yang dihadiri Gubernur Soekarwo, Wakil Gubernur Saifullah Yusuf serta jajaran manajemen PTPN X dan XI, telah ditegaskan untuk segera membentuk tim teknis yang antara lain bertugas menyusun strategi revitalisasi pabrik gula di Jatim.

"Setelah rampung, konsepnya akan dibahas bersama para bupati dan wali kota yang di daerahnya terdapat PG, khususnya dalam penyediaan lahan budidaya tebu," tambah Adig.

Nantinya diharapkan semua tebu untuk bahan baku giling sebuah pabrik gula berasal dari wilayah sekitarnya, bukan dari tempat yang jauh dengan konsekuensi ongkos transportasi mahal.

Adig mencontohkan tiga pabrik gula di Kabupaten Probolinggo, yakni Wonolangan, Gending, dan Padjarakan yang total berkapasitas 3.700 ton tebu per hari, kebutuhan tebunya mencapai 555 ribu ton, sementara yang bisa dipenuhi dari potensi lokal hanya 140 ribu ton.

Kekurangan bahan baku tebu diambil dari wilayah Kabupaten Lumajang yang surplus.

Secara finansial, lanjut Adig, sebenarnya masih lebih menguntungkan memanfaatkan semua tebu Lumajang dengan meningkatkan kapasitas PG Djatiroto yang ada di wilayah tersebut, dari 5.500 menjadi 10.000 atau bahkan 12.000 ton tebu per hari.

Kondisi serupa juga terjadi pada tiga PG di Kabupaten Situbondo, yakni Wringinanom, Olean, dan Pandjie yang memiliki total kapasitas produksi 4.500 ton tebu per hari.

"Kebutuhan ideal tebu untuk tiga PG itu sekitar 675 ribu ton, tetapi kemampuan pasokan tebu lokal hanya 110 ribu ton. Lima PG di kawasan

Sumber: http://www.antarajatim.com/lihat/berita/47217/ptpn-xi-masih-kaji-penggabungan-tujuh-pg

Gubernur Jatim: Tolak Akuisisi 7 Pabrik Gula PTPN XI !

03 November 2010, 14:31:13| Laporan Iping Supingah

suarasurabaya.net| SOEKARWO Gubernur Jatim menolak rencana akuisisi 7 pabrik gula PTPN XI. Ia sudah mengirim surat penolakan rencana akuisisi tersebut.

Kalau keputusan penutupan pabrik gula tetap dilaksanakan, Gubernur Jatim siap menghadang.

MARTHA reporter Suara Surabaya, Rabu (03/11) melaporkan, kata SOEKARWO, keberadaan pabrik gula di Jatim bukan sekedar masalah efisiensi. Tapi menyangkut hajat hidup masyarakat yang sudah terbiasa tanam tebu.

Tujuh pabrik gula PTPN XI yang rencana akan diakuisisi Pabrik Gula Olehan, Waringin dan Ranji di Situbondo, Wonolangan Pajarakan dan Gending di Probolinggo, dan Kanigoro di Madiun.

PTPN XI akan menutup pabrik gulanya karena terus merugi Rp9-10 miliar per tahun. Penutupan pabrik gula PTPN XI disinyalir karena ditunggangi kepentingan swasta yang mendirikan pabrik gula swasta di Banyuwangi.

Kalau 7 pabrik gula PTPN XI ditutup, petani akan menjual tebunya pada pabrik gula swasta itu.(mar/ipg)

Sumber: http://kelanakota.suarasurabaya.net/?id=9c821a793f5605a3f7d3641909fe8571201084388

Rabu, 04 Agustus 2010

Proyek Umbulan Rp 2,5 T Tanpa Investor

Rabu, 4 Agustus 2010 | 10:29 WIB

PROBOLINGGO – Proyek air bersih Umbulan senilai sekitar Rp 2,5 miliar yang mangkrak sejak 1990-an dijadwalkan mulai digarap pada tahun 2010 ini. Pemprov Jatim menyatakan akan mengerjakan megaproyek itu melalui BUMD, dengan bantuan pemerintah pusat dan kabupaten/kota, tanpa melibatkan investor swasta.

Hal itu diungkapkan Wagub Saifullah Yusuf saat berkunjung ke Pesantren Raudlatul Thalibin, Kademangan, Kota Probolinggo, Selasa (3/8). ’’Tahun ini dimulai dengan membangun instalasi dulu. Pipa-pipa dibenerin, anggarannya sekitar Rp 300 miliar dari pemerintah pusat (APBN, red),” ujar Gus Ipul, panggilan Saifullah Yusuf.

Proyek senilai Rp 2,5 triliun itu bakal memasok kebutuhan air bersih warga Kota/Kabupaten Pasuruan, Sidoarjo, Surabaya, hingga Gresik. Gus Ipul mengatakan, proyek Umbulan butuh investasi sangat besar karena banyak di antara pipa air primer untuk distribusi yang harus diperbarui. Berdasarkan perhitungan tim audit independen dari Australia, biaya transmisi air dari sumber mata air Umbulan hingga Surabaya sekitar Rp10.000/meter kubik.

Sisi lain, kemampuan masyarakat (untuk membeli air) sekitar Rp 3.000-4.000/meter kubik. ’’Karena itu perlu subsidi dari pemerintah,” ujar Gus Ipul. Dengan pola subsidi itu, proyek Umbulan tidak perlu ditawarkan kepada investor. Tetapi bisa dikelola Pemprov Jatim sendiri melalui Badan Usaha Milik Daerah (BUMD).

Dengan adanya subsidi pemerintah pusat, kata Gus Ipul, harga air bersih dari Umbulan nanti lebih terjangkau, yakni Rp 5.000-6.0000/meter kubik. Bahkan jika pemerintah daerah ikut memberikan subsidi Rp 1.000/meter kubik, harga air di tingkat warga menjadi lebih rendah lagi, Rp 4.000/meter kubik.

Sementara jika melibatkan investor swasta, jatuhnya harga air bakal sangat mahal dan tidak terjangkau oleh warga miskin.

Soal pelibatan swasta dalam proyek ini sempat jadi tarik ulur. Dinas PU Cipta Karya pusat menginginkan pelibatan swasta karena besarnya investasi. Namun, Pemprov Jatim menginginkan proyek itu dikerjakan sendiri oleh Pemprov bekerja sama dengan Pemda yang bakal mendapat pasokan air Umbulan.

Kepala Dinas Pekerjaan Umum (PU) Cipta Karya dan Tata Ruang Provinsi Jatim Budi Susilo sekitar Februari lalu menjelaskan, Pemprov berkeinginan pembangunan proyek umbulan digarap pemerintah, dengan sharing dari APBN, APBD dan APBD Kab/kota yang akan menikmati airnya.

Menurut Budi, kurang lebih dana yang dibutuhkan untuk membangun proyek umbulan ini sebesar Rp 2,2 trilliun hingga Rp 2,5 trilliun. Pemprov Jatim dan Pemda yang akan menikmati mata air Umbulan rencananya akan mendanai pendistribusiannya yang diperkirakan butuh dana Rp 700 miliar–­Rp 850 miliar. ’’Rencananya pembangunan ini masuk dalam anggaran multi years dari 2010 dan diharapkan selesai pada 2013 mendatang,” ungkapnya.

Megapproyek Umbulan diperkirakan menelan dana sekitar Rp 1,5 triliun. Dana sebesar itu sebagian besar untuk membangun perpipaan dari Pasuruan-Gresik. Namun bila ditambah biaya distribusi hingga ke rumah-rumah pelanggan, proyek ini bakal menelan dana hingga Rp 2,5 triliun.

Mata air Umbulan sudah dimanfaatkan sejak pemerintahan kolonial Hindia Belanda. Sejumlah bangunan penampungan air baik di Umbulan hingga di Kota Pasuruan merupakan peninggalan Belanda. Namun, sumber air di Desa Kedungrejo dan Desa Umbulan, Kecamatan Winongan, Kabupaten Pasuruan itu lebih banyak yang terbuang. Dari debit air 4.400 liter/detik, baru sebagian kecil yang didistribusikan untuk air bersih.

Sejak 1990, pengaliran air Umbulan ke Surabaya, Sidoarjo, dan Gresik sudah diupayakan. Lalu Dinas Pemukiman dan Prasarana Wilayah Jatim kembali merintis proyek itu pada 1997. Tetapi proyek itu tidak bisa berjalan lancar karena investor keberatan soal harga produksi.isa

Tabel

Estimasi Distribusi Air Umbulan

Setelah Proyek Rp 2,5 T Terealisasi

Kabupaten Pasuruan 420 liter/detik

Kota Pasuruan 110 liter/detik

Sidoarjo 1.370 liter/detik

Surabaya 1.000 liter/detik

Gresik 1.000 liter/detik

Kawasan PIER 100 liter/detik


Sumber: http://www.surabayapost.co.id/?mnu=berita&act=view&id=3e809dd3c1d77abd77fbf386586e89e4&jenis=1679091c5a880faf6fb5e6087eb1b2dc

Selasa, 03 Agustus 2010

Ponpes Tidak Boleh Telat

[ Selasa, 03 Agustus 2010 ]
GENDING - Pondok pesantren (Ponpes) adalah tempat ditempanya santri mendalami ilmu agama. Karena itu, keberlangsungan hidup pesantren penting diperhatikan. Apalagi ponpes yang sudah teruji perjuangannya.

Demikian disampaikan Wagub Jawa Timur Saifullah Yusuf saat menghadiri harlah Ponpes Fathullah Aflah di Desa Sebaung, Gending. Gus Ipul (panggilannya) hadir sekitar pukul 22.00 WIB bersama Kabid Pekapontren, Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Jawa Timur Nazli Idris.

Gus Ipul melanjutkan, ponpes dulu dan sekarang sudah banyak berbeda. Dulu hanya pelajaran salafi yang disampaikan. Namun sekarang harus menyesuaikan dengan perkembangan jaman. "Apalagi iklim jaman sekarang harus kompetitif. Tidak boleh ada istilah telat," katanya.

Karena itu Gus Ipul bersyukur. Sebab saat ini ponpes sudah bisa mencetak alumni-alumni multi talenta. Bahkan, bisa membongkar mobil melalui SMK yang ada. "Seperti yang ada di pesantren ini," pujinya. "Jadi tidak hanya memberikan materi kitab secara kultural. Namun bisa mengajarkan keterampilan. Bahkan membuka lapangan pekerjaan pula," imbuhnya.

Meski demikian, santri menurutnya harus selalu menjaga identitas. Terutama dengan tiga hal. Yakni, mengisi hati dengan iman, menjaga Islam sebagai pedoman dan ajaran, menjaga akhlak agar bisa menjadi contoh yang baik bagi sekitar. "Sebab santri tetap menjadi panutan," katanya.

Sekitar 30 menit Gus Ipul memberikan sambutan. Sementara kunjungannya di acara itu hanya sekitar 1 jam. "Saya habis dari Surabaya, lalu ke Pasuruan. Bolak-balik sampai 3 kali. Terakhir untuk hari ini, ya di sini," tuturnya disambut aplaus hadirin.

Bahkan selama memberikan sambutan, Gus Ipul sedikitnya bersin hingga tiga kali. "Ini karena kena angin," tutur Gus Ipul. Kali ini disambut gelak tawa hadirin. Gus Ipul kemudian pamitan pulang pada Kiai Amin, sekitar pukul 23.00 WIB.

Senada dengan Gus Ipul, sebelumnya pendiri dan pengasuh Ponpes Fathullah Aflah, yakni KH. Amin Fathullah dalam sambutannya banyak bicara tentang ahlak santri. Dia mengatakan, ponpes memiliki peran penting dalam membangun akhlakul karimah. Khususnya dalam memberikan pendidikan bagi masyarakat sekitar. "Hal itu sudah tidak bisa dipungkiri lagi," ujarnya.

Selanjutnya Kiai Amin menceritakan ihwal berdirinya Ponpes Fathullah Aflah. Menurutnya, ponpes tersebut didirikan pada 6 Januari 1994. Jadi saat ini sudah berusia 16 tahun. Dalam perjalananya, ponpes telah berhasil mendirikan sejumlah lembaga pendidikan. Yakni Madrasah Diniyah Aflah, PAUD Aflah, SMP Bahagia, dan SMK Bahagia. "Alhamdulillah sejauh ini berhasil dengan baik," tuturnya. (eem/hn)

Sumber: http://www.jawapos.co.id/radar/index.php?act=detail&rid=173177