Senin, 14 Juni 2010

Wali Kota Jagokan Perancis

[ Minggu, 13 Juni 2010 ]
Nobar di Jalan Raya Sebulan Penuh

PROBOLINGGO - Demam World Cup 2010 di South Africa terasa di mana-mana. Termasuk juga di Kota Probolinggo. Dari café outdoor dan indoor hingga warung kopi (warkop) berlomba-lomba bikin program nobar (nonton bareng).

Saling tebak siapa yang bakal jadi juara dunia, banyak masyarakat berspekulasi. Bagaimana dengan Wali Kota Probolinggo Buchori? Diam-diam Buchori juga punya jagoan yang diinginkan jadi juara World Cup 2010 yaitu Perancis.

Sebenarnya wali kota punya cita-cita, walaupun berat, ia berharap salah satu dari tiga negara di Asia yang ikut bisa menjadi juara. World Cup tahun ini ada tiga negara Asia yang masuk yaitu Korea Selatan, Korea Utara, dan Jepang. "Minimal bisa masuk ke semifinal, terutama Korea Selatan. Kalau untuk juara dunia saya masih mengunggulkan Perancis," ujar Buchori.

Jumat (11/6) malam Wali Kota Buchori bersama sejumlah pejabat seperti Wawali Bandyk Soetrisno, Dandim 0820 Probolinggo Letkol Arh Budhi Rianto, Ketua DPRD Sulaiman, Wakapolresta Probolinggo Kompol Gathut Irianto nobar pertandingan perdana World Cup Afrika Selatan vs Meksiko di depan pasar gotong royong Jl Panglima Sudirman.

Sebuah layar proyektor dipasang di tengah jalan sehingga arus jalan terpaksa dialihkan. Rencananya selama ada jadwal pertandingan jalan tersebut bakal ditutup. Buchori berharap nobar bisa dilaksanakan di beberapa titik di kota. Namun terkendala hak siar yang sudah ada kerjasama dengan pihak sponsorship.

"Fair play dan kedisplinan dalam bermain bola, ini yang harus ditiru. Kenapa olahraga kita khususnya sepak bola terpuruk? Padahal kalau bicara negara tertinggal di Afrika banyak. Tapi, permainan sepak bola mereka bagus. Mengedepankan disiplin bukan emosi," tegasnya.

Buchori menyarankan masyarakat khususnya tim sepak bola bisa mencontoh bagaimana strategi pemainnya. "Mudah-mudahan adik generasi penerus jadi rujukan. Yang dilihat ini bukan sepak bola lima menit sudah bertengkar," ujarnya.

Wali Kota sempat ditanya soal negara mana yang dijagokan antara Afrika Selatan dan Meksiko. Tegas Buchori menjawab kalau dia lebih condong pada Afrika Selatan karena dia sebagai tuan rumah dan faktor hoki. "Afrika Selatan akan menurunkan tim terbaiknya. Skor nanti kemungkinan beda 1 atau 2 gol," katanya.

Sayangnya, Wali Kota Buchori tidak menyaksikan pertandingan sampai usai. Ia hanya berada di nobar plus peresmian warung kopi Gotong Royong sampai pertandingan di menit ke 15. Meskipun Afsel tidak menang, setidaknya negara jagoan wali kota di pertandingan pembuka itu tidak mengecewakan. Afsel vs Meksiko hasilnya draw satu sama. (fa/nyo)

Sumber: http://www.jawapos.co.id/radar/index.php?act=detail&rid=164208

Elpiji Meledak, Ibu-Anak Terbakar

[ Minggu, 13 Juni 2010 ]
Tembok dan Atap Rumah Hancur

PROBOLINGGO-Kasus tabung gas elpiji meledak terus terjadi di mana-mana. Kemarin (12/6), keluarga Abdul Wahab, 50, di Kelurahan Jrebeng Wetan, Kecamatan Kedopok Kota Probolinggo yang jadi korbannya.

Gara-gara ledakan itu Salama, 40, istri Abdul Wahab dan putra mereka, Hendra, 19, mengalami luka bakar cukup serius. Rumah Wahab juga hancur. Atapnya ambruk, dan kaca-kacanya pecah.

Dari infomrasi yang dihimpun Radar Bromo, ledakan itu berasal dari tabung gas elpiji 12 kilogram. Tabung gas itu berada di dalam dapur dan berada persis di bawah kolong tempat kompor gas yang terbuat dari semen.

Kejadian itu bermula ketika pukul 11.00 kemarin Abdul Wahab dan Salama datang dari pasar. Pada saat memasuki rumah Salama mencium bau gas. Saat itu Salama memberitahu suaminya.

Salama juga menanyakan adanya bau tersebut kepada Hendra yang kebetulan saat itu sedang tiduran di ruang tengah. Lalu, Salama dan Hendra langsung menuju dapur tempat tabung gas tersebut diletakkan. Mereka berniat mengecek asal datangnya bau gas tersebut.

Dedi, salah seorang kerabat korban menyatakan, saat mengecek kompor gas itu Hendra memantik kompor gasnya agar tidak bocor. Bukan tambah baik, kompor gas justru meledak. "Mungkin mereka mengira ada kebocoran pada kompor gasnya. Dan, mau mematikannya tapi keliru," jelas Dedi.

Saat terjadi ledakan Abdul Wahab masih berada di depan rumahnya. Belum sempat Abdul Wahab masuk ke dalam rumah terjadi ledakan keras dari arah dapur. Ledakan itu diikuti jebolnya dinding dan ambruknya atap rumah.

"Waktu itu, saya belum sempat masuk. Saya masih mau njagrak sepeda. Tiba-tiba sudah meledak. Saya baru datang dari pasar bersama istri," ujar Abdul Wahab dengan wajah menunjukkan kesedihan.

Ledakan itu langsung mengundang perhatian warga. Mereka berdatangan melihat dan melakukan pertolongan terhadap para korban. "Untung waktu itu mertua saya (Maryam, 80) sedang berada di luar rumah," jelas Wahab.

Oleh warga Salama dan Hendra ditemukan tergeletak di dalam ruang dapur. Mereka sama-sama mengalami luka bakar yang cukup serius. Melihat itu, warga langsung mengevakuasi kedua korban dan membawanya ke RSUD dr Moh Saleh menggunakan mobil pikap milik warga.

Sampai di rumah sakit, ibu dan anak itu langsung dimasukkan ke ruang tindakan. Mereka langsung mendapatkan perawatan dari tim medis. Kondisi kedua korban sangat parah, bahkan RSUD tidak mampu menanganinya. Sehingga mereka bedua harus dirujuk ke RSUD dr Soetomo, Surabaya.

Dokter Anung Sri H yang menangani kedua korban di RSUD dr Moh Saleh menyatakan bahwa ibu dan anak itu mengalami luka berbeda. Tapi, sama-sama serius sehingga harus dirujuk ke Surabaya. "Dokter bedah di sini tidak sanggup karena lukanya cukup parah," ujarnya.

Dr Anung mengatakan, luka bakar yang dialami oleh Hendra jauh lebih parah dibanding luka yang dialami ibunya. Luka bakar yang dialami Hendra hampir di sekujur tubuhnya. Sedangkan Salama mengalami luka lebih ringan. "Hendra mengalami luka bakar 90 persen. Ibunya, 70 persen," jelas dr Anung. (rud/nyo)

Sumber: http://www.jawapos.co.id/radar/index.php?act=detail&rid=164207

Terdengar Sampai Radius 500 Meter

[ Minggu, 13 Juni 2010 ]
Ledakan tabung elpiji dari rumah Abdul Wahab terdengar hingga radius 500 meter. Makanya tak heran makin siang makin banyak warga yang datang ke lokasi. Mereka penasaran mendengar bunyi ledakan yang dahsyat itu.

"Uh ranying sarah, jhe' ka roma cek jellassah. Can engkok mi' gerdunah listrik. (Waduh bunyinya sangat keras, wong dari rumah saya sangat jelas suaranya. Saya kira travo listrik," ujar Masriah yang mengaku jarak antara rumahnya dan TKP sekitar 200 meter ini.

Mendengar ledakan itu, Masriah mengaku bersama warga sekitar langsung semburat mencari sumber suara tersebut. "Nyampek di sini (TKP) rumahnya memang sudah runtuh," ujar Masriah.

Hal senada juga disampaikan oleh Pandi, warga Kelurahan Pakistaji. Kebetulan waktu itu dia melintas di Jl Sunan Bonang dari arah selatan bersama dengan seorang anaknya. Saat melintas di jalan yang jaraknya sekitar 150 meter itu, Pandi mendengar ada suara ledakan keras.

Karena itulah, Pandi menghentikan laju motornya. Pandi langsung menuju sumber suara tersebut. Pandi pun mendapati rumah Abdul Wahab sudah hancur. Sedangkan korban masih berada di dalam rumah tersebut. "Saya langsung meminta tolong warga untuk membawa korban ke rumah sakit," ujar anggota TNI itu.

Tak hanya itu, karena semakin banyak warga yang datang bersama dengan warga Pandi memberi batas akses masuk untuk warga. Yakni, dengan cara menutup jalan dengan tangga dan alat seadanya. "Karena kami khawatir rumahnya ambruk, sehingga bisa memakan korban lagi," jelasnya.

Ledakan gas elpiji itu juga mengagetkan Sumar. Lelaki yang pernah menjabat sebagai Lurah Kelurahan Jrebeng Wetan ini mengaku mendengar ledakan itu cukup jelas sampai di rumahnya. Padahal, jarak antara rumahnya dan TKP sekitar 500 meter. "Terdengar sampai ke rumah, padahal sudah cukup jauh," ujarnya.

Di tengah-tengah kerumunan warga itulah terdengar rasa khawatir warga untuk memakai elpiji. Bahkan ada yang mengatakan lebih baik pakai kayu bakar dibanding dengan memakai kompor berbahan bakar gas elpiji.

"Nyamanan nganggui kajuh jegung. (lebih enak (aman) pakai kayu pohon jagung," ujar salah seorang perempuan. Kebetulan saat itu, dia sedang melintas di sekitar kebun jagung di sisi timur rumah Abdul Wahab.

Meledaknya tabung gas itu tentu sangat mengejutkan bagi Abdul Wahab dan keluarganya. Padahal, selama kurang lebih 3 tahun dia menggunakan elpiji tidak pernah mengalami hal buruk itu. Dan, gas elpiji yang meledak itu baru sehari diisi ulang. "Sudah 3 tahun, baru kali ini seperti ini (meledak)," ujar Abdul Wahab. (rud/nyo)

Sumber: http://www.jawapos.co.id/radar/index.php?act=detail&rid=164206

Putri Anggota Dewan Kabur

[ Minggu, 13 Juni 2010 ]
Diduga Dibawa Pacarnya

PROBOLINGGO- Salah seorang anggota DPRD Kabupaten Probolinggo Hj Supriati sedang gundah. Pasalnya sang putri Suci Nikmatul Hidayati, 18, kabur dari rumah sejak Kamis malam (10/6) lalu.

Segala bentuk usaha pencarian sudah dilakukan. Mulai dari mencari ke rumah teman-teman dan saudara, hingga melapor ke polisi. Bahkan, keluarga sudah mendatangi 4 orang pintar alias dukun untuk membantu mencari keberadaan Ida, panggilan Suci Nikmatul Hidayati.

"Sejak Kamis malam kami sudah mencarinya ke mana-mana. Tapi, belum membuahkan hasil. Akhirnya setelah 24 jam, kami lapor polisi," ujar Supriati, saat hendak menjalani pemeriksaan di Polsek Dringu, kemarin (12/6).

Dari informasi yang dihimpun Radar Bromo, sejak masih SMP Suci berteman dekat dengan seorang lelaki berinisial Ev, warga Desa Watu Ungkuk, Kecamatan Dringu. Mereka sangat akrab, bahkan ada yang mengatakan mereka berpacaran.

Tapi, hubungan insan lain jenis itu tidak mendapat restu dari orang tua Suci. Terlebih Suci masih bersekolah. Tapi, dua insan ini terus melanjutkan hubungan itu. "Saya tidak tahu kalau mereka berpacaran. Kepada saya dia ngakunya hanya teman," jelas Supriati.

Sejak lulus SMP keduanya berpisah. Karena Suci melanjutkan ke SMA di salah satu ponpes di Kabupaten Probolinggo. Sejak itulah, Suparti dan keluarganya tidak tahu lagi hubungan antara Suci dan Ev.

Nah, pada saat Suci duduk di kelas 2 SMA, Ev menelepon Suci ke rumah. Tapi, bukan Suci yang mengangkat melainkan Supriati, ibunya. Kepada Supriati, Ev mengungkapkan perasaannya terhadap Suci. Dia bilang tidak bisa hidup tanpa Suci. "Waktu itu saya bilang, kalau masalah jodoh itu di tangan Tuhan. Saya juga bilang jangan ganggu Suci karena masih sekolah," ujar Supriati.

Beberapa bulan lalu, Suci lulus SMA dan pulang dari pondoknya. Rencananya, Suci akan kuliah di Surabaya. "Sebenarnya dia (Suci) mau melanjutkan ke Malang, tapi karena ada Ev akhirnya tidak jadi," ujarnya.

Setelah lama dikira tidak ada hubungan itu, hilangnya Suci dari rumahnya itu dikabarkan kabur dengan Ev. Pasalnya, pada Kamis (10/6) sekitar pukul 18.30 Ev datang menjemput Suci. Dan, sampai kemarin (13/6) belum juga kembali. "Waktu itu yang mengetahui Ev adalah adiknya Suci, Obet. Dia melihat kakaknya dibonceng naik motor Mio," jelas Supriati.

Tak hanya itu, Obet juga sempat mengejar kepergian kakaknya itu. Tapi, tidak berhasil. Hanya saja, Obet sempat mencatat nopol motor Mio yang membawa Suci tersebut. "Siangnya, Suci memang dimarahi sama bapaknya. Karena dia disuruh menjemput saya pukul 13.00, ternyata datang pukul 15.00," jelas Supriati.

Karena dimarahi itulah, Suci ngambek dan mengurung diri di kamar. Melihat itu, ayahnya menyuruh Supriati untuk menemani Suci di dalam kamarnya. Tapi ternyata Suci tidak mau. Ia justru menyuruh sang ibu meninggalkannya sendirian.

Supriati pun menuruti kemauan putrinya itu. Ia langsung menemani suaminya yang saat itu berada di belakang rumah. "Saya tahunya dari Obet, kalau Suci kabur bersama Ev," jelasnya.

Mendapat laporan dari Obet, Supriati langsung mencari tahu keberadaan Suci. Tapi nihil. "Sudah ada 4 dukun, tapi belum membuahkan hasil," ujarnya.

Dari empat dukun itu, mereka semua menyatakan untuk mencari Suci ke arah timur dari rumahnya. Mendapat keterangan dari paranormal itu, Supriati curiga Suci berada di rumah Ev. "Saya sudah ke rumahnya, tapi tidak ada. Saya juga sudah minta tolong kepada keluarganya kalau pulang suruh langsung ke rumah," ujarnya.

Setelah sampai 24 jam, akhirnya kasus tersebut dilaporkan kepada polisi. Setelah laporan kepada polisi, diketahuilah ternyata motor yang digunakan Ev bukan motornya sendiri. Melainkan motor milik temannya, Abdurrahman, 28, warga Watu Ungkuk.

Kemarin (13/6), Abdurrahman pun dipanggil ke Mapolsek. Itu untuk dimintai keterangan berkaitan dengan kasus tersebut. Dari keterangan Abdurrahkan dugaan bahwa Suci kabur bersama Ev makin terang.

Menurut keterangan Abdurrahman kepada polisi, pada Kamis (10/6) sore dirinya bertemu dengan Ev. Saat itulah, Ev mengajak Abdurrahman untuk tukar pinjam motor. Karena sudah saling kenal, akhirnya mereka sepakat.

Abdurrahman membawa motor Vixion-nya Ev untuk ditukar dengan mio miliknya. Sekira pukul 22.00 Abdurrahman dan Ev kembali bertemu di perempatan Lawean Kelurahan Jrebeng Lor, Kecamatan Kademangan, Kota Probolinggo. Mereka kembali bertukar motor.

"Tapi, waktu itu dia (Ev) tidak mengajak perempuannya (Suci). Dia (Ev) datang sendirian," jelas Kanitreskrim Aiptu Rosyimin saat mendampingi Kapolsek Dringu AKP Riduwan.

Aiptu Rosyimin menyatakan, pihaknya masih melakukan penyelidikan atas kasus tersebut. Dan, sampai kemarin (12/6) sudah ada dua saksi yang diperiksa. Menurutnya bila benar itu yang terjadi, maka Ev terancam pasal 332 KUHP. "Terancam pasal tersebut karena telah membawa kabur wanita tanpa izin orang tuanya. Ancaman hukumannya, 7 tahun," jelas Kanitreskrim. (rud/nyo)

Sumber: http://www.jawapos.co.id/radar/index.php?act=detail&rid=164205

Jejak-Jejak Kalpataru yang Pernah Diraih Probolinggo-Pasuruan (1)

[ Minggu, 13 Juni 2010 ]
Ada Perdes untuk Lindungi Hutan Mangrove

Keberhasilan Probolinggo dan Pasuruan meraih Kalpataru 2010 melalui Endang Sulistyowati dan Cholifah sebenarnya bukan prestasi pertama. Dari Kabupaten Probolinggo pernah ada nama Moestakim yang meraih Kalpataru pada 1982. Dari Kabupaten Pasuruan ada nama Mukarim yang meraih Kalpataru 2005. Sayang, kini Moestakim telah tiada.

MUHAMMAD FAHMI, Probolinggo

Moestakim meraih Kalpataru pada 1982 berkat langkahnya merawat hutan mangrove di desa Curahsawo, Gending Kabupaten Probolinggo. Hutan mangrove itu kondisinya pasang surut. Sempat terancam keberadaannya. Dan beberapa tahun belakangan ini mulai bangkit kembali.

Lima buah piagam yang dikemas dalam pigura nampak tersimpan di salah satu sudut ruangan balai desa Curahsawo. Beberapa piagam tersebut banyak yang berselimut debu.

"Sebelumnya piagam-piagam ini kami pajang di dinding. Tetapi karena balai desa kami beberapa bulan lalu dicat, jadi piagamnya diturunkan. Rencananya akan dipajang lagi," kata Abdul Hamid, salah satu perangkat desa Curahsawo kala menyambut Radar Bromo, Kamis (10/6) lalu.

Menurut Hamid, piagam-piagam tersebut memang sengaja disimpan. "Ini bukti kalau hutan mangrove di daerah kami sudah pernah diakui oleh pemerintah Indonesia," imbuhnya.

Kelima piagam tersebut memang khusus diberikan atas keberhasilan merawat hutan mangrove di sepanjang pantai Curahsawo. Dua di antara piagam itu diberikan atas nama pribadi kepada Moestakim, warga setempat yang sangat peduli pada lingkungan hidup, khususnya hutan mangrove.

Moestakim ini tercatat juga pernah meraih piala Kalpataru pada 1982 silam. Itu juga dari keberhasilan merawat hutan mangrove Curahsawo. "Kalau piala Kalpatarunya disimpan di kantor pemkab," kata Abdul Haris.

Sugiyanto, salah satu tokoh pemuda desa setempat yang juga intens atas perkembangan lingkungan mengatakan, keberadaan hutan mangrove sudah cukup lama di desanya. Pada 1970-an hutan mangrove di desa Curahsawo sangat lebat, tetapi tidak terawat.

Lambat tahun, keberadaan hutan mangrove tersebut semakin terkikis karena banyak dirusak warga setempat. "Lalu muncul (alm) Pak Moestakim yang dengan intens merawat hutan mangrove itu," cerita Sugiyanto.

Dari kegigihan Moestakim ini, keberadaan hutan mangrove di Curahsawo pun dapat tertata dengan baik. Sampai akhirnya Moestakim mendapatkan Kalpataru sebagai penghargaan atas kepedulian dan langkah-langkahnya rehabilitasi hutan mangrove.

Menurut Sugiyanto, Moestakim saat itu cukup gigih memberikan pengertian kepada warga setempat terkait keberadaan hutan mangrove. "Masyarakat pun akhirnya menjadi sadar akan pentingnya mangrove. Sehingga pola hidup yang dulu suka menebangi mangrove akhirnya tidak dilakukan lagi," kata Sugiyanto.

Nah, masa-masa tahun 1980-an itu kondisi hutan mangrove di sepanjang pesisir pantai Curahsawo berada dalam kondisi terbaik. Beragam penghargaan pun diberikan pemerintah atas keberhasilan itu.

Tetapi memasuki akhir tahun 1990-an, kondisi hutan mangrove mulai rusak kembali. Peran LKMD (Lembaga Ketahanan Masyarakat Desa) kini LKD, pimpinan Moestakim saat itu kurang aktif. Lantaran Moestakim sudah sakit-sakitan dan akhirnya tutup usia pada 1998.

Saat itu banyak masyarakat setempat yang lebih tergiur membuat tambak. "Pemerintah desa saat itu kurang selektif. Sehingga banyak warga yang mengajukan surat kepemilikan lahan banyak yang di-acc. Alhasil hutan mangrove banyak diprivatisasi dan dialihfungsikan untuk tambak," kenang Sugiyanto.

Meski Sugiyanto tidak tahu persis berapa luas lahan mangrove yang dialih fungsikan itu, namun dipastikan cukup luas. "Dari awalnya yang seluas sekitar 75 hektare, menurun sampai tinggal sekitar 25 hektare," prediksi Sugiyanto.

Nah, pada 2002-an ada pergantian pemerintah desa. Pergantian itu rupanya berdampak baik bagi perkembangan mangrove di desa setempat. "Pemerintah desa yang baru sampai sekarang ini lebih mempersulit aturan soal mangrove," kata Sugiyanto.

Selain itu pemerintah desa juga membentuk kelompok pemuda yang khusus untuk rehabilitasi keberadaan hutan mangrove. Kebetulan dua tahun berikutnya pada 2004, salah satu LSM Jepang yang bergerak pada rehabilitasi lingkungan OISCA juga turut membantu dalam proses rehabilitasi itu.

Selain memberikan bantuan ribuan bibit mangrove, LSM OISCA juga membentuk organisasi Bentar Indah yang diberi tugas membantu pemerintah desa setempat dalam rehabilitasi hutan mangrove.

Kelompok pemuda desa beserta LSM OISCA itu tidak hanya rehabilitasi, tetapi meluaskan areal mangrove, karena sebagian besar hutan mangrove sudah banyak yang dijadikan tambak. "Tetapi untuk menanam di areal baru itu cukup sulit juga," jelas Sugiyanto.

"Daerah baru pinggir pantai persisi itu tanahnya cukup gersang, jadi tumbuhnya mangrove cukup sulit. Tetapi bantuan dari OISCA itu juga cukup lumayan. Selama empat tahun di Curahsawo, sekarang ini luas hutan mangrove sekitar 50 hektare lagi," beber Sugiyanto.

Karena dinilai cukup berhasil mengembalikan rehabilitasi hutan mangrove tersebut, Sugiyanto sendiri ketua kelompok pemuda taruna Curahsawo juga mendapatkan penghargaan pada 2009 lalu. Sugiyanto dinobatkan sebagai pemuda pelopor di bidang kebaharian dan kelautan dari Kanpora Jatim.

"Kami berharap kedepan hutan mangrove ini semakin terawat karena mangrove ini cukup memberikan banyak manfaatnya. Selain bisa meningkatkan populasi ikan, juga mencegah abrasi," jelasnya.

Kades Curahsawo H Akbar Busthony mengatakan, pihak pemerintah desa sendiri saat ini sudah memberlakukan aturan ketat demi melindungi hutan mangrove itu. "Kami sudah buat perdes (peraturan desa). Jadi tindakan yang mengancam keberadaan mangrove, dilarang keras," katanya. (yud)

Sumber: http://www.jawapos.co.id/radar/index.php?act=detail&rid=164203

Probolinggo-Pasuruan Kirab Adipura

[ Minggu, 13 Juni 2010 ]
PROBOLINGGO-Kebanggan meraih Adipura, Adiwiyata, dan Kalpataru dirasakan warga Probolinggo dan Pasuruan. Kemarin di Kota Probolinggo dan Kabupaten Pasuruan dilaksanakan kirab untuk memamerkan piala hasil prestasi lingkungan itu.

"Alhamdulillah sudah keempat kalinya. Kota Probolinggo berada di peringkat ketiga untuk kategori kota sedang. Semoga dengan semangat kebersamaan tahun depan bisa meraih Adipura peringkat pertama," tegas Buchori disambut tepuk tangan dan masyarakat yang memadati jalanan di depan kantor Wali Kota Jl Panglima Sudirman.

Banyak pihak yang terlibat dalam kirab piala Adipura pada Sabtu (12/6) sore kemarin. Wali Kota Buchori dan istrinya Rukmini Buchori berada di atas mobil Strada bernopol N 8000 SE. Di atas mobil itu terdapat piala Adipura yang menjadi kebanggaan.

Di belakang mobil pembawa Adipura ada piala Adiwiyata dari masing-masing sekolah dan Kalpataru yang diraih Endang Sulistyowati dari SMAN 1. Disusul sejumlah komunitas bersepeda seperti Kosela dan Zoek Blosoek, mobil Wawali Bandyk Soetrisno dan muspida.

Lebih dari lima ribu orang ikut dalam iringan kirab tersebut. Sementara siswa dari sekolah yang dilalui kirab sudah bersiap di depan sekolah sambil membawa bendera merah putih berukuran kecil.

Rute kirab dari kantor wali kota melewati Jl Panglima Sudirman - Jl Lumajang - Jl Sunan Ampel - Jl Slamet Riyadi - Jl Kapuas - Jl Brantas - Jl Sukarno Hatta - Jl Panglima Sudirman dan finish kembali di kantor wali kota. Jarak yang ditempuh sekitar satu jam. Tepat pukul 16.00 rombongan sudah kembali ke start.

Di Kabupaten Pasuruan kirab dilaksanakan di Bangil. Tahun ini Kabupaten Pasuruan meraih tiga penghargaan. Yakni Adipura untuk kota kecil Bangil, penghargaan Kalpataru yang diraih Cholifah, warga Desa Kedungringin, Beji, serta sertifikat Adiwiyata yang diraih SMAN 1 Grati.

Kirab tersebut dilepas oleh Wabup Edy Paripurna. Tiga piala dibawa pasukan Paskibraka dengan mengedarai jip terbuka. Di belakangnya, iring-iringan sepeda dari Badan Lingkungan Hidup (BLH) setempat serta gerobak sampah juga mengikuti kirab.

Dari Kecamatan Bangil, iring-iringan kirab bergerak menuju utara ke arah stasiun. Dari stasiun, iring-iringan bergerak ke arah pagadaian kemudian dilanjutkan ke alun-alun Bangil.

Iring-ringian kirab piala Adipura, Kalpataru dan Adiwiyata ini menarik perhatian pelajar. Mereka berbaris di tepi jalan menuju Kecamatan Bangil dengan mengibar-ngibarkan bendera merah putih berukuran kecil. Sampai di kantor kecamatan, 3 piala itu selanjutnya disambut dengan kesenian hadrah.

Camat Bangil Abdul Munif mengatakan, kirab dilaksanakan sebagai bentuk rasa syukur masyarakat Pasuruan dan Bangil secara khusus atas diraihnya penghargaan adipura untuk kali ketiga. Menurutnya, prestasi ini perlu disyukuri karena tidak gampang meraihnya. "Pada tahun sebelumnya, kita luput dari penghargaan adipura ini," ujarnya.

Sementara Wabup Edy Paripurna mengatakan, prestasi yang diraih di tahun ini di bidang lingkungan harus dipertahankan pada tahun depan. Untuk itu, ia meminta pasukan kuning lebih bersemangat memperhatikan lingkungan. Tidak hanya saran, Wabup Edy Paripurna mengatakan Pemkab akan mengusahakan peningkatan kesejahteraan bagi pasukan kuning ke depan.

Wabup mengimbau, warga Pasuruan, khususnya Bangil tidak boleh terlena dengan perghargaan adipura. Sebab, kata Edy, pekerjaan malah semakin berat dengan penghargaan adipura.

Lebih jauh, ia mengatakan dengan raihan adipura, Bangil semakin kuat menjadi ibu kota Kabupaten Pasuruan. Saat ditanya tentang potensi banjir di Bangil, wabup mengatakan Pemkab telah membentuk tim untuk mengatasi persoalan banjir yang dimaksud. Tidak hanya di Bangil, tim juga bertugas menangani potensi banjir di di wilayah lain di Kabupaten Pasuruan. (fa/qb/nyo)

Sumber: http://www.jawapos.co.id/radar/index.php?act=detail&rid=164202

Polisi Punya Gambaran Pelaku

[ Minggu, 13 Juni 2010 ]
Oknum PNS yang Berniat Bobol Kasda

PROBOLINGGO - Belum banyak perkembangan yang diperoleh dalam kasus percobaan pembobolan kas daerah (kasda) Kota Probolinggo senilai Rp 15,5 M. Pemkot belum melaporkan kasus itu secara resmi ke polisi.

Hasil penelusuran dari inspektorat pun belum diketahui. Namun polisi mengaku sudah punya gambaran pelaku.

Kapolresta Probolinggo AKBP Agus Wijayanto menjelaskan kalau kepolisian sudah melakukan koordinasi dengan pihak pemkot, dalam hal ini Dinas Pengelola Pendapatan Keuangan dan Aset (DPPKA). Kapolresta membenarkan bahwa dua orang anggota reskrim sudah menemui Kepala DPPKA Imam Suwoko, Jumat (11/6) lalu.

"Untuk sementara kami masih mencari hal-hal untuk ditangani secara hukum. Pemkot secara proaktif sudah berkoordinasi dengan kami. Belum ada laporan, kami juga menunggu hasil dari inspektorat," ungkap AKBP Agus ketika ditemui di sela kegiatan kirab Adipura, kemarin (12/6) sore.

Seperti diberitakan Radar Bromo, Rabu (9/6) lalu kasda pemkot nyaris kebobolan duit untuk plafon anggaran belanja modal konstruksi jalan. Seseorang yang diduga pegawai di lingkungan pemkot sendiri mencoba mencairkan dana dari bank Jatim. Pelaku yang identitasnya masih dirahasiakan itu mengajukan SP2D (surat perintah pencairan dana) ke kas Bank Jatim di DPPKA sebesar Rp 15,5 M atas nama CV Altor Jaya.

Padahal untuk anggaran belanja itu kasda hanya menyediakan Rp 7.723.113.000. Kecurigaan petugas Bank Jatim muncul setelah berkoordinasi dengan kasda. Bahwa ternyata SP2D itu palsu. Pelaku memalsukan tandatangan para pejabat yang berwenang mencairkan dana termasuk Kepala DPPKA Imam Suwoko. Pelaku juga memalsukan form aplikasi milik BPKP.

Sebenarnya tidak sulit bagi pemkot untuk mengetahui siapa pelaku yang meletakkan pengajuan SP2D tersebut. Sebab, di loket kasda sudah dipasangi CCTV yang dapat merekam jejak aktivitas siapapun yang bertransaksi di kantor yang berada di sisi selatan pemkot tersebut.

Setelah dilacak, dalam SP2D tercantum rekening untuk mentransfer uang. Rekening di Bank Jatim atas nama Didik Kurniawan itu baru dibuka sehari sebelum pelaku menjalankan aksinya, Selasa (8/6) lalu. Nama CV Altor Jaya juga tidak terdaftar dan proyek tersebut belum dilelang. Wali Kota Probolinggo Buchori telah menegaskan kalau pihaknya masih menunggu hasil telaah dari inspektorat baru kemudian melapor ke polisi.

Ketika ditanya soal pelaku yang bakal membobol kasda, Kapolresta AKBP Agus mengaku sudah mengetahuinya. "Sudah ada gambaran," cetusnya. Namun untuk memastikan apakah pelaku termasuk jaringan atau lebih dari satu orang, polisi masih menunggu perkembangan penanganannya.

"Meskipun belum ada laporan resmi (dari pemkot), kami sudah duduk bersama dan ada tim. Kalau barang bukti, hasil koordinasi dari tim reskrim sudah ditunjukkan beberapa fotokopi berkasnya yang diajukan oleh pelaku," ungkap kapolresta yang masih belum tahu pasal apa yang dikenakan kepada pelaku. (fa/nyo)

Sumber: http://www.jawapos.co.id/radar/index.php?act=detail&rid=164201