Minggu, 22 Agustus 2010

Tidur, Janda Tua Tewas Dikepruk

[ Sabtu, 21 Agustus 2010 ]
Motif Masih Diselidiki

KURIPAN - Tindak kriminal kini benar-benar tidak mengenal belas kasihan. Seperti yang dialami Mastur, 55, warga Dusun Kaligundek, Desa Menyono, Kuripan, Kabupaten Probolinggo. Ia tewas setelah kepalanya dikepruk dengan cor-coran beton oleh tiga orang tak dikenal yang menyatroni rumahnya pada Rabu dini hari (18/8).

Korban yang seorang janda itu sempat dilarikan ke RSUD dr Subandi Jember. Namun ia akhirnya menghembuskan napas terakhirnya sekitar pukul 21.00 malam itu juga (18/8).

Motif pengeprukan itu sendiri sampai kemarin (21/8) masih menjadi tanda tanya pihak kepolisian. Sebab di rumah korban sama sekali tidak ada satupun barang yang hilang. Sementara korban juga dikenal tidak mempunyai musuh.

Dari data yang dihimpun Radar Bromo, korban sehari-harinya tinggal bersama anaknya, Mistiya dan keluarganya. Malam itu korban tidur bersama cucunya, Riski, 4, yang tak lain anak Mistiya. Korban tidur di kamar yang ada di belakang ruang tamu.

Sekitar pukul 02.00 WIB, tiga orang tak dikenal masuk melalui pintu jendela kamar. "Entah mengapa, tiba-tiba tiga orang asing yang memakai topeng itu langsung memukul ibu saya dengan cor-coran batu yang biasanya dipakai untuk sandaran jembatan," kata Sutikno, salah satu anak korban.

Korban sendiri saat itu sedang tidur. Usai memukul kepala korban beberapa kali, tiga orang tak dikenal itu langsung lari. Juga melalui jendela kamar.

Melihat kejadian itu, Riski cucu korban yang tidur satu amben hanya tertegun. Ia tidak bereaksi apa-apa sesaat usai mendapati neneknya bersimbah darah. "Namanya juga anak kecil. Mungkin takut," beber Sutikno.

Sayangnya, korban yang terluka tak langsung tertangani. Sebab, anaknya Mistiya baru mengetahui kondisi korban sekitar pukul 04.00 WIB. "Mistiya itu sehari-harinya yang tinggal dengan ibu," jelas Sutikno yang mengaku tidak serumah dengan Mastur.

Usai insiden tersebut, keluarga langsung memeriksa barang di rumah. Karena sempat beranggapan bahwa kejadian itu adalah perampokan. Namun, saat diperiksa seluruh rumah, ternyata tidak ada satu barang pun yang hilang. "Jadi kalau perampok, nggak mungkin. Wong barang-barang di rumah ibu tidak ada yang hilang," beber Sutikno.

Menurut Sutikno ibunya dikenal orang yang baik dan cukup supel dengan warga lainnya. "Ibu juga tidak pernah mempunyai musuh dengan orang lain. Beliau itu orang yang baik," kenangnya.

Sementara Kapolres Probolinggo AKBP Rastra Gunawan melalui Kapolsek Kuripan AKP Subadar membenarkan kejadian itu. Menurut perwira dengan tiga strip di lengan itu, usai mendapat laporan pihaknya langsung melakukan olah TKP dan mengumpulkan sejumlah barang bukti.

Namun sampai kemarin Kapolsek belum bisa menjelaskan motif dan latar belakang insiden kepruk berdarah itu. "Sampai saat ini kasus tersebut masih dalam penyelidikan kami," katanya. (mie/hn)

Sumber: http://www.jawapos.com/radar/index.php?act=detail&rid=175832

BOS Enam Kecamatan Segera Cair

[ Sabtu, 21 Agustus 2010 ]
Sudah Dikirim ke KPPN Bondowoso

KRAKSAAN - Para pengelola madrasah di Kabupaten Probolinggo harus lebih bersabar. Sebab pencairan dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS) madrasah masih menunggu waktu.

Hal itu terungkap saat Komisi D DPRD setempat melakukan klarifikasi ke kantor Kemenag kabupaten, kemarin (20/8). Dalam kesempatan itu Komisi D menanyakan alasan tak kunjung cairnya sejumlah dana bantuan untuk madrasah di Kabupaten Probolinggo.

Ada tiga anggota yang mewakili Komisi D saat klarifikasi. Yakni, Ribut Fadilah, Misnaji dan Alim. Mereka ditemui Kepala Kantor Kemenag M Sirajuddin di ruangannya.

Kepada perwakilan Komisi D itu Sirajuddin menjelaskan, keterlambatan pencairan sejumlah bantuan disebabkan oleh beberapa faktor. Kebanyakan adalah soal teknis administrasi.

Menurut Sirajuddin, pada pencairan dana BOS triwulan kedua ini ada sedikit perbedaan. Sebelumnya pencairan bantuan dilakukan langsung oleh Kanwil Jatim. Namun mulai triwulan kedua pencairannya dilakukan oleh Kemenag setempat.

Karena baru pertama mengurusi pencairan itulah, Kemenag belum maksimal menyelesaikannya. "Kendala yang banyak ditemui di lapangan itu adalah kesalahan administrasi," keluh Sirajuddin saat ditemui usai pertemuan kemarin.

Menurut Sirajuddin, tidak sedikit madrasah yang mengalami salah penulisan berkaitan dengan administrasi. "Misalnya kesalahan menuliskan nama madrasahnya sendiri. Hal itu sangat berpengaruh. Karena ini soal administrasi," bebernya.

Kendala lain yang ditemui adalah banyak lembaga yang sudah berganti pucuk pimpinan. Namun, pergantian itu tidak diikuti dengan pergantian berkas-berkas lembaga itu sendiri. Sehingga saat dikroscek, data-data lembaga tersebut tidak cocok.

"Padahal kalau satu lembaga saja belum beres, maka bisa mempengaruhi pencairan secara keseluruhan. Sebelum dicairkan itu, semua lembaga harus beres proses administrasinya," jelas Sirajuddin.

Sampai kemarin (20/8) menurut Sirajuddin, masalah administrasi tersebut baru beres di 6 kecamatan saja. Sementara 16 kecamatan lainnya (2 kecamatan melebur dengan kecamatan lain) masih dalam proses penyesuaian administrasi.

"Yang enam kecamatan itu saat ini sudah sampai di KPPN (Kantor Perwakilan Perbendaharaan Negara) Bondowoso. Mungkin dalam waktu dekat ini sudah bisa dicairkan ke madrasah," jelas Sirajuddin.

Sirajuddin lantas menjelaskan, proses pencairan dana BOS itu dimulai dengan pengiriman data-data lembaga dari Kmenag ke KPPN. Selanjutnya KPPN memasukkannya ke Bank Jatim, baru disalurkan ke lembaga-lembaga madrasah.

Seperti diberitakan Radar Bromo sebelumnya, bantuan dana BOS untuk madrasah di Kabupaten Probolinggo mengalami keterlambatan pencairan. Dan yang terlambat dicairkan adalah dana BOS periode kedua. Yakni untuk bulan April, Mei dan Juni. Sementara dana periode pertama tahun 2010, yakni Januari-Februari-Maret sudah tuntas pada Juni lalu.

Dari klarifikasi tersebut juga diketahui, pada triwulan kedua ini penerima bantuan BOS tidak berbeda dengan triwulan pertama. Rinciannya, MI yang terdiri dari 366 lembaga mendapatkan kucuran bantuan Rp 3.347.206.250. Untuk MTs yang terdiri dari 130 lembaga mendapatkan kucuran Rp 2.475.082.500.

Selain dana BOS, dana TF (Tunjangan Fungsional) untuk guru dan BSM (Bantuan Siswa Miskin) untuk murid yang tidak mampu juga belum cair.

Dana TF ini diberikan tiap satu semester atau 6 bulan sekali (Januari-Juni). Pada semester pertama ini ada 6.035 guru yang mendapatkan bantuan itu. Tiap guru satu bulannya mendapatkan TF sebesar Rp 250 ribu.

Sementara BSM diberikan untuk tiga jenjang pendidikan Madrasah. Yakni MI, MTs dan MA. Untuk MI pada semester ini yang mendapatkan bantuan sebanyak 6.776 siswa, MTs ada 3.530 siswa dan MA sebanyak 3.095 siswa. (selengkapnya lihat grafis).

Alim, salah salah satu anggota Komisi D mengatakan, DPRD tidak bisa mencari kambing hitam atas keterlambatan pencairan sejumlah bantuan itu. "Sekarang ini tidak perlu berdebat yang salah Depag atau lembaganya," katanya.

Cuma yang ia soroti adalah kinerja kali pertama kantor Kemenag dalam menyalurkan bantuan dari APBN tersebut. "Yang perlu dipertanyakan adalah profesionalisme pegawai Kemenag. Karena pencairannya sampai terlambat cukup lama," keluhnya.

"Dalam pertemuan tadi (kemarin), kami meminta agar secepat mungkin bantuan tersebut dapat dicairkan. Karena saat ini kondisi beberapa lembaga sudah sangat limbung. Saat ini lembaga hanya mengandalkan bantuan itu," ungkapnya. (mie/hn)

Sumber: http://www.jawapos.com/radar/index.php?act=detail&rid=175831

Inilah Hisbullah, Warga Probolinggo yang Sedang Membuat Alquran Tulisan Tangan

[ Sabtu, 21 Agustus 2010 ]
Dimulai 2009, Kini Tinggal Tujuh Juz

Orang yang punya kemampuan menulis kaligrafi bisa jadi jamak. Tapi, sedikit sekali penulis kaligrafi yang sampai membuat Alquran secara utuh dengan tulisan tangannya. Di Kabupaten Probolinggo ada Hisbullah yang melakukan pekerjaan itu.

ABDUR ROHIM MAWARDI, Probolinggo

HISBULLAH adalah warga Desa Sukomulyo, Kecamatan Pajarakan Kabupaten Probolinggo. Lelaki 30 tahun itu sejak 2009 lalu punya kesibukan istimewa. Membuat Alquran dengan tulisan tangannya. Dan sampai saat ini pekerjaan itu belum rampung. Hisbullah menyebut Alquran tulisannya itu bakal jadi Alquran pertama yang ditulis tangan orang Probolinggo.

Kemarin saat Radar Bromo bertandang ke rumahnya, Hisbullah terlihat tekun melakoni pekerjaan istimewanya itu. Dia hanya mengenakan sarung dan kaus warna putih. "Santai saja, Mas. Sambil nunggu waktu buka puasa," kata Hisbullah.

Hisbullah mengerjakan tugasnya itu dengan cara lesehan. Peralatan lengkap tersedia di sisi kanan dan kirinya. Sebagian peralatan juga ada di depan meja tulisnya. Ada boks yang penuh dengan tinta dan beragam jenis pena, berikut sebuah penggaris.

Menurutnya jenis tulisannya yakni Alquran pojok dengan rasm (ilmu penulisan mushaf Alquran) Ustmani, standar yang ada di Indonesia. Dikatakan pojok karena di setiap halaman dipastikan selesai dengan akhir bacaan sebuah ayat. Sementara rasm ustmani adalah sebuah aliran penulisan. "Ada ciri-ciri khusus. Misalnya penanda panjang pendek tulisan. Berbeda dengan standar Makkah," jelas Hisbullah.

Hisbullah mulai menulis Alquran tersebut sejak 1 Januari 2009. Saat itu Hisbullah mendapat tugas pesanan dari H Fais Abdur Rozaq, guru Hisbullah di bidang khath (seni kaligrafi) asal Bangil.

Padahal kata Hisbullah, dirinya belum pernah sekalipun menulis Alquran. "Tapi saya terima saja. Sebab saya yakin bisa melakukan. Apalagi beliau (H. Fais) adalah kaligrafer kesohor di Indonesia," tutur Hisbullah.

Untuk menulis, Hisbullah menggunakan 6 jenis pena. Ukuran mata penanya beragam. Dari 0,5 milimeter hingga 3 milimeter. Sementara kertas yang digunakan adalah kertas ukuran A3 dengan ukuran 42 x 30 cm. Sementara tinta yang digunakan adalah tinta China. "Tinta jenis ini tidak bisa luntur kena air," tutur Hisbullah.

Menurut Hisbullah, Alquran itu direncanakan berjumlah setebal 610 halaman. Hingga kemarin, Hisbullah sudah berhasil menulis setebal 435 halaman. Yakni sampai surat Yasin, juz 23. "Tersisa 7 Juz lagi," ujar Hisbullah.

Kapan rencananya diselesaikan? Hisbullah memperkirakan pekerjaan itu kelar akhir tahun ini. Pengerjaannya jadi lama karena Hisbullah memiliki cukup banyak kegiatan. Selain menulis Alquran, Hisbullah juga mengajar kaligrafi di tiga tempat. Yakni di Ponpes Raudlatul Jannah Gending, TPQ Al-Ikhlas Maron, dan Ponpes Robithatul Islam Krejengan. Hal itu sudah dilakoni Hisbullah sejak beberapa tahun lalu.

Selain kesibukan itu, sejak Desember 2009, Hisbulah harus konsentrasi mengikuti pembinaan. Sebab Hisbullah harus mewakili Jawa Timur pada kejuaraan nasional MTQ 2010 di Bengkulu. Pelaksanaannya pada Juli lalu.

Berikutnya, sejak Desember, setiap bulan Hisbullah harus ikut pembinaan selama 4 hari. Tempatnya di Bangil dan Tretes. Hasilnya? "Tidak tembus jadi juara, Mas," tuturnya.

Hisbullah belajar pertama kali sejak usia 17 tahun. Secara otodidak, Hisbullah berhasil mengembangkan kemampuannya itu. Tapi, Hisbullah sudah berhasil menjuarai banyak lomba khath.

Prestasinya antara lain menjuarai lomba MTQ tingkat Kabupaten Probolinggo cabang khath 4 kali berturut-turut. Yakni sejak 2000 hingga 2004. Selanjutnya juara II tingkat Jawa Timur 2005 di Kabupaten Sumenep. Selanjutnya juara 1 pada kejuaraan yang sama pada 2007.

Di tingkat nasional, Hisbullah menjadi juara harapan 1 tingkat nasional 2006 di Kendari Sulawesi Utara. Penghargaan paling berkesan adalah menerima penghargaan sagu hati dari negara Brunei Darussalam. Yakni pada peraduan menulis khath ASEAN pada 2007 lalu. "Waktu itu saya tinggal sementara di Brunei Darussalam. Ikut kejuaraan," kata Hisbullah.

Hisbullah adalah lulusan MA NU Kraksaan pada 1999. Sayang, ia tak bisa meneruskan kuliah karena terkendala biaya. Namun, berkat prestasinya dari lomba-lomba khath, sejak 2006 ia bisa kuliah di sebuah perguruan tinggi di Probolinggo. "Biaya kuliah saya dapat dari menjuarai lomba-lomba tersebut," tuturnya.

Menurut Hisbullah, kaligrafer penulis percetakan yang ada di Kabupaten Probolinggo hanya ada 4 orang. Namun yang sampai menulis Alquran hanya dirinya. Untuk "proyek" ini, Hisbullah mengaku tak pernah melakukan persiapan khusus.

Dalam batinnya, Hisbullah punya keinginan lebih besar. Yakni menulis Alquran dalam lembaran lebih besar. "Entah kapan. Masih belum bisa terlaksana. Masih berupa keinginan saja," katanya. (yud)

Sumber: http://www.jawapos.com/radar/index.php?act=detail&rid=175830

Kostas Pamit ke Wali Kota

[ Sabtu, 21 Agustus 2010 ]

PROBOLINGGO - Sebulan sudah Kostas Retsikas berada di Kota Probolinggo. Pagi ini (21/8) doktor asal Yunani itu bakal pulang ke London, tempatnya menjadi dosen antropologi di School of Oriental and African Studies (SOAS) University of London. Nah, kemarin Kostas sempat beraudiensi sekaligus pamitan dengan Wali Kota Buchori.

Selepas salat Jumat kemarin Kostas diterima Wali Kota di rumah dinas. Kostas tidak sendiri, ia didampingi Kepala Bappeda Budi Krisyanto, Kabag Humas dan Protokol Rey Suwigtiyo, serta Ade Sidiq dari Dispobpar.

Perbincangan setelah salat Jumat itu berlangsung dengan santai. Kemampuan Kostas berbahasa Indonesia membuat perbincangan jadi gayeng. Wali Kota Buchori menanyakan kesan Kostas saat berada di kota ini dan kegiatan-kegiatannya. Kostas mengatakan sangat bagus.

Tapi, Wali Kota menyahut, "Jangan-jangan nanti karena ada saya lalu bilang bagus".

"Ah enggak, memang bagus sekali. Pinggir-pinggir jalannya cantik sekarang. Pelabuhan sudah dibesarkan, ada kebun binatang dan banyak restoran dan supermarket. Alun-alun dulu waktu 17-an (Agustusan) hanya ada karapan kambing, tapi sekarang sudah diperbaiki," beber Kostas.

Mendengar ungkapan Kostas, wali kota membenarkan jika selama ini dirinya menjabat, selain konsen pada kemiskinan dan pendidikan tetapi juga pada lingkungan. Buchori pun pamer jika tahun ini Kota Probolinggo berhasil mendapatkan penghargaan pengelola hutan kota terbaik nasional 2010.

"Pelabuhan itu belum selesai, masih 50 persen. Nanti akan dibuat kedalaman 12 meter untuk kapal-kapal besar. Jadi, diharapkan nanti perusahaan dari timur cukup menggunakan pelabuhan di Probolinggo karena dampak Lapindo," jelas Buchori.

Kostas pun manggut-manggut memperhatikan penjelasan wali kota. "Wah, berarti nanti (ramainya pelabuhan di Probolinggo) seperti waktu zaman Belanda dahulu. Pelabuhan itu sangat penting," sambung pria berusia 37 tahun itu.

Obrolan pun mengembang sampai soal kondisi negara yang ditinggalinya sekarang, yakni London. Sedikit banyak Kostas juga bertutur tentang Yunani. Wali Kota Buchori mengatakan kalau dirinya juga pernah ke Istanbul, Turki. Kata Kostas, Turki sudah dekat dengan Yunani, semacam perbatasan.

Budi Krisyanto juga memberikan penjelasan kepada wali kota, jika Kostas Retsikas ini bakal meluncurkan buku tentang budaya pendalungan di Jawa Timur, khususnya Kota Probolinggo. Ke depannya diharapkan buku tersebut bisa dibahas di Kota Probolinggo.

Rencananya, Kostas bakal mengundang Wali Kota Buchori ke London untuk menyaksikan peluncuran buku yang kini sudah berada di penerbit. Kostas juga merekomendasikan museum di Leiden, Belanda untuk dikunjungi. "Saya akan kesana jika diundang," terang Buchori yang mengaku belum pernah ke London.

Kostas bilang Leiden memiliki museum yang sangat bagus. Kota kecil di Belanda itu adalah kota pendidikan. Kostas sempat curhat jika London memasuki musim dingin, salju turun maka susah untuk keluar rumah atau bahkan bekerja.

Pertemuannya dengan Wali Kota Buchori tidak disia-siakan oleh Kostas. Ia menunjukkan temuannya dalam sebuah buku travel guide bagi para turis yang akan ke Indonesia, tepatnya Gunung Bromo Probolinggo. Buku panduan yang diterbitkan di London itu menyebutkan terminal Bayuangga tidak terlalu aman dan turis harus hati-hati jika berada di terminal Probolinggo itu.

"Waktu baca itu aku kaget. Itu tidak benar karena aku mengetahui sendiri. Yang tidak aman itu malah di Purabaya (Terminal Bungurasih)," lanjut Kostas.

Atas hal ini, Kepala Bappeda Budi Krisyanto menyatakan pemkot perlu melakukan klarifikasi dan mengirim surat ke pihak penerbit itu. "Bahwa apa yang disebutkan dalam buku panduan tidak benar. Pemkot harus klarifikasi karena yang dijelaskan di buku itu tanpa ada survey," ungkap Budi.

Budi menambahkan, turis sangat konsen dengan buku panduan itu. Oleh karenanya pemkot harus melakukan pengawalan. "Ini bisa bahaya, harus klarifikasi," imbuhnya.

Wali Kota Buchori setelah membaca copy-an buku itu langsung mengeluarkan perintah. "Itu tugasnya Bappeda kan? Ya sudah, atasi Pak Budi," perintah Buchori.

Selanjutnya, Kostas yang bakal meninggalkan Kota Probolinggo pagi ini sekitar pukul 08.00, kemarin sempat menginformasikan kegiatannya tahun depan kepada Wali Kota. Bahwa Kostas tahun depan ia akan ke Indonesia lagi untuk penelitian tentang zakat di Surabaya, Jogjakarta dan Jakarta. (fa/yud)

Sumber: http://www.jawapos.com/radar/index.php?act=detail&rid=175829

Kepengurusan Terbentuk, Tunggu SK DPP

[ Sabtu, 21 Agustus 2010 ]
DPC PKB Kabupaten Probolinggo setelah Muscab

PROBOLINGGO - DPC PKB Kabupaten Probolinggo sudah tuntas menggelar muscab pada 2 Agustus lalu. Tim formatur juga telah merampungkan tugasnya, menyusun struktur kepengurusan DPC PKB periode 2010-2015. Tapi, jajaran pengurus baru ini belum juga dilantik karena masih harus menunggu SK DPP.

KH Ghozali Bahar, ketua tim formateur mengatakan timnya telah merampungkan tugasnya untuk menyusun kepengurusan beberapa hari lalu. "Usai terbentuk, kami dari formateur sudah beberapa kali menggelar pertemuan," katanya saat dihubungi Radar Bromo.

"Alhamdulillah saat ini kami telah melaksanakan tugas kami. Susunan kepengurusan sudah terbentuk. Dan telah disepakati oleh semua anggota tim formateur yang terdiri dari beberapa unsur," imbuh kiai asal Bladuwetan ini.

Tim formatur sendiri terdiri dari ketua dewan syura KH Ghozali Bahar yang dijadikan sebagai ketua tim formateur, ketua dewan tanfidz KH Hafidz Aminuddin yang menjadi sekretaris tim formatur.

Selanjutnya ada perwakilan dari DPW PKB Jatim yakni Sukrillah. Serta tiga perwakilan dari PAC, yakni Mulabby Cholili (ketua PAC Paiton), Ahmad Isfandi (ketua PAC Maron) dan H Imron Suyuti (ketua PAC Tongas).

Meski jajaran tim formateur sudah sepakat, namun KH Ghozali masih enggan menjabarkan komposisi kepengurusan DPC selama 5 tahun kedepan secara detail. "Ibaratnya itu seperti jabang bayi. Nanti akan kami informasikan kalau sudah resmi saja. Istilahnya, nunggu bayinya terlahir dahulu," ujar Ghazali.

Ghazali hanya memberikan gambaran kalau kepengurusan kali ini mewakili segala aspek. "Mulai dari tokoh masyarakat, politisi dan unsur lainnya. Soal nama jangan dulu. Yang jelas kepengurusan sekarang ini lebih gemuk," katanya sambil berteka-teki.

Salah satu sumber di internal DPC PKB Kabupaten Probolinggo menyebutkan, dalam susunan kepengurusan baru itu terjadi banyak perubahan. Yang mencolok adalah soal kandidat sekretaris. Saat ini yang santer diberitakan menjadi sekretaris DPC adalah Sofwan Huzaimi, yang sebelumnya menjabat sebagai ketua PAC Kraksaan dan ketua Pagar Nusa.

Meski jajaran kepengurusan sudah terbentuk, namun DPC masih belum bisa menggelar pelantikan. Sebab sampai kemarin (18/8) SK (Surat Keputusan) DPP terkait kepengurusan baru itu masih belum keluar.

Seperti diberitakan Radar Bromo sebelumnya, DPC PKB Kabupaten Probolinggo sedang diuji. Ketika panitia sudah menyiapkan seluruh agenda pelaksanaan muscab eh muncul kabar mengejutkan dari DPW PKB Jatim untuk menundanya.

Keputusan penundaan muscab itu cukup mengejutkan. Pasalnya pada acara khitan masal yang digelar ponpes Syech Abdul Qodir Al Jaelani 5 Juli lalu, Ketua Dewan Syura DPP PKB KH Abdul Aziz Mansyur sempat hadir.

Nah, kehadiran ketua dewan syura DPP itu menimbulkan spekulasi tentang langkah islah di partai berlambang bola dunia dengan sembilan bintang tersebut. Bahkan ketua PAC Kuripan yang juga anggota DPRD setempat Ribut Fadhilah mengatakan, kedatangan KH Abdul Aziz tersebut sebagai bentuk restu DPP yang mencalonkan Kiai Hafidz untuk menjadi ketua dewan tanfidz DPC.

Sedianya DPC PKB mengadakan muscab pada 20-21 Juli lalu di ponpes Syech Abdul Qodir Al Jaelani Rangkang, Kraksaan. Nah, usai mengalami penundaan itu DPC memutuskan untuk menggelar muscab 2 Agustus lalu.

KH Ghazali sendiri menjelaskan, usai SK itu turun, DPC bakal segera menggelar pelantikan pengurus. Lalu kapan SK tersebut bakal turun? "Insyaallah, doakan saja," bebernya. Ia berharap pelantikan bisa segera digelar beberapa hari usai lebaran. (mie/yud)

Sumber: http://www.jawapos.com/radar/index.php?act=detail&rid=175828

Ikan Kian Sulit Didapat

[ Sabtu, 21 Agustus 2010 ]
PROBOLINGGO - Nelayan Probolinggo gundah. Belakangan ikan kian sulit didapat. Para nelayan mengira hal ini terjadi karena datangnya "musim" angin Gending.

Dalam kondisi seperti ini sebagian besar nelayan tetap melaut. Meskipun cost-nya tinggi tapi hasilnya tak bagus. Itu karena mereka tak punya pilihan lain. "Sekali jalan biasanya dapat 1 ton. Sekarang, hanya bisa dapat antara 3-4 kwintal, ujar Agus, salah seorang nelayan saat ditemui Radar Bromo, Kamis (19/8) lalu.

Hal senada diungkapkan Husen, nelayan lainnya. Menurutnya, penurunan ikan itu terjadi sejak sekitar sebulan lalu. Itu, disebabkan angin Gending yang memang menjadi anginnya Probolinggo.

Husen mengaku, sekali berlayar biasanya bisa medapat ikan lebih dari 1 ton. Kini, kini hanya bisa menangkap ikan 2-3 kwintal. "Kadang pendapatannya, hanya cukup untuk modal saja," ujarnya.

Untuk pemburuan ikan, nelayan yang menggunakan kapal porsein tidak lagi berburu di laut Probolinggo. Pasalnya, terjangan angin yang terus mengganggu. "Ada yang ke Pasuruan, ada juga yang ke Madura," jelas Husen.

Wakil Ketua Aliansi Pedagang Ikan dan Nelayan (Alpin) Mayangan Hambali mengatakan, angin Gending terjadi sejak sekitar sebulan lalu. Dan, dampaknya pun sangt besar terhadap pendapatan para nelayan. Yakni, jumlah tangkapan terus menurun sementara modalnya tetap. "Mau tidak mau nelayan tetap melaut," ujarnya.

Menurut Hambali, meski terkadang rugi, para nelayan masih terus berburu. Pasalnya kalau tidak melaut, maka tidak akan dapat uang. "Dari mana mau mendapat uang kalau tidak berlayar, mau kerja lain kerja apa," ujarnya.

Kontan, denga cuaca yang tak bersahabat itu, pendapatan nelayan makin menurun. Tak tanggung-tanggung, penurunannya mencapai 50 persen. Bahkan, sebagian besar kapal ada yang hanya bisa menghasilkan 15 persen. "Itu, terjadi di laut Probolinggo karena musim angin Gending," jelas Hambali.

Menurutnya, dari sekitar 110 kapal jonggrang milik nelayan, sekitar 10 persen sudah istirahat. Itu, juga merupakan salah satu dampak dari angin Gending. "Ada kapal yang memilih istirahat. Dan, ABK (anak buah kapal)-nya, pindah ke kapal lain," jelasnya

Musim paceklik itu, juga berdampak terhadap pendapatan para ABK. Biasnya, pada hari-hari normal setiap ABK bisa mendapatkan duit minimal Rp 100 ribu perhari. Tapi, kali ini setiap ABK hanya bisa mendapatkan Rp 25 ribu perhari. "Pendapatannya tidak menentu, tergantung banyak dan jenis ikannya," ujarnya.

Sementara, Kepala Subseksi Lalu Lintas Angkutan Laut dan Kepelabuhanan Adpel Probolinggo Hermanto mengatakan gelombang laut Probolinggo masih aman. Dan, tidak terlalu tinggi alias normal. Itu, tidak terpengaruh oleh angin Gending. "Kalau di sini (Probolinggo), (gelombang) tidak begitu tinggi," ujarnya.

Menurut Hermanto, angin Gending itu biasanya terjadi sampai November nanti. Dan, selama itu biasanya ikan sulit didapat. "Biasnya, sampai Nopember. Ikan sulit dan biasnya jadi mahal," ujarnya.

Hermanto mengatakan, dalam Agustus-Desember biasnya tidak akan terjadi gelombang tinggi. Itu, hanya bisa terjadi antara Januari-Februari. Dan, angin gending ini tidak sampai membuat gelombang tinggi. "Kalau gelombang tinggi, kami akan keluarka larangan melaut," ujarnya.

Menurutnya, angin gending itu hanya terjadi di daerah Probolinggo. Dan, bila nelayan mau mencari ikan ke luar Probolinggo, diperkirakan akan tetap melimpah. "Kalau nyarinya di tempat lain (luar Probolinggo), mungkin akan banyak. Karena hanya di sini anginnya yang kencang," jelansya.

Sulitnya ikan itu, menurut Hermanto juga disebabkan nelayan yang tidak pandang bulu. Yakni semua jenis ikan disikat. Dari yang kecil hingga yang besar. "Beda dengan luar negeri, kalau di luar negeri yang kecil-kecil dilepas kembali. kalau di sini, besar kecil dibawa pulang semua," ujarnya. (rud/yud)

Sumber: http://www.jawapos.com/radar/index.php?act=detail&rid=175827

Bocah SD Protes Malaysia

[ Sabtu, 21 Agustus 2010 ]
PROBOLINGGO - Insiden penangkapan tiga petugas Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Kepulauan Riau oleh polisi diraja Malaysia atau PDRM, kemarin (20/8) baru disikapi di Kota Probolinggo. Para murid SDN Sumberwetan 2 melakukan aksi teaterikal, meksi tiga petugas DKP yang ditangkap itu sudah dibebaskan.

Bentuk protes itu diwujudkan murid SD Sumberwetan 2 dalam teaterikal yang begitu sederhana dan kreatif. Seluruh murid di sekolah wilayah selatan itu membentuk lingkaran di dalam halaman. Beberapa diantaranya membawa poster, berperan sebagai PDRM dan petugas DKP.

Poster yang ditulis terbaca cukup berani. Seperti "Kedaulatan tidak boleh dibarter", "Perompak laut Malingsia", "Aku cinta Indonesia" dan "Maritim adalah darahku".

Aksi yang dihelat pukul 08.00 itu diawali dengan pembacaan narasi oleh salah satu murid. Kemudian lingkaran murid itu diibaratkan seperti lautan Indonesia. Sekelompok bocah memakai topi caping berperan sebagai nelayan, kelompok murid lainnya PDRM lengkap mengenakan kaos doreng berbendera Malaysia dan senapan mainan. Daun pisang dipakai untuk kapalnya.

Aksi penangkapan tiga petugas DKP pun diperagakan sampai ketiganya diborgol dan dibiarkan tengkurap oleh PDRM. Tidak lama kemudian terjadi barter, PDRM melepas tiga petugas DKP dan sebaliknya para nelayan yang ditahan di Indonesia pun dikembalikan.

Ketika barter itu terjadi semua murid menyanyikan lagu berjudul Indonesia Pusaka. Insiden yang menyangkut kedaulatan Republik Indonesia ini nampaknya dipahami betul oleh para murid itu. "Warga Indonesia ditangkap sama Malaysia. Saya benci sekali dengan Malaysia," kata Daniel, salah satu murid kelas 5 di SDN tersebut.

Siswa lainnya, Cindi, menuturkan jika teaterikal ini tentang kecintaan terhadap Indonesia. Dan yang diangkat peristiwa petugas DKP tersebut. "Benci sekali dengan Malaysia karena sudah menginjak-injak bangsa Indonesia," tegas Cindi yang juga membacakan narasi dalam teatrikal itu.

Sementara itu, Kepala SDN Sumberwetan 2 Didik H menjelaskan diadakannya aksi itu dalam momen memperingati hari Pramuka dan Kemerdekaan RI. "Kami ingin menanamkan kecintaan terhadap tanah air kepada anak-anak. Mereka harus merasa bangga menjadi bangsa Indonesia. Jangan mau tanah negara ini diambil oleh bangsa lain," serunya. (fa/yud)

Sumber: http://www.jawapos.com/radar/index.php?act=detail&rid=175826