Minggu, 31 Oktober 2010

Penyalahgunaan Pupuk Subsidi Senilai Ratusan Miliar Dibongkar

Jumat, 29/10/2010 17:15 WIB
Rois Jajeli - detikSurabaya

Surabaya - Dugaan penyalahgunaan penjualan pupuk bersubsidi yang nilai kerugiannya mencapai sekitar ratusan miliar rupiah dibongkar Satuan Pidana Tertentu Ditreskrim Polda Jatim.

Dari kasus dugaan penyalahgunaan penjualan pupuk bersubsidi itu, polisi menetapkan tiga orang tersangka yakni A Lung (62) pedagang pupuk asal Lumajang, Andik (37) pengusaha di Probolinggo dan Sudjoni (51) karyawan PT Pamolite Adhesive Industry (PAI) di Probolinggo.

"Mereka melakukan oper sak dari pupuk bersubsidi dijual ke pupuk non subsidi," kata Kabid Humas Polda Jatim Kombes Pol Pudji Astuti saat jumpa pers bersama Kasat Tindak Pidana Tertentu (Tipiter) AKBP I Nyoman Komin di mapolda, Jalan Ahmad Yani, Jumat (29/10/2010).

Pengungkapan itu berawal dari informasi yang diterima polisi, tentang dugaan penyalahgunaan penjualan pupuk bersubsidi di sebuah gudang milik A Lung di Jalan Gatot Subroto, Kabupaten Lumajang. Kemudian, polisi menguntit truk gandeng nopol N 8719 UY yang mengirim pupuk subsidi yang dioper sak ke Pupuk Kujang sebanyak 680 sak atau sekitar 34.000 Kg pupuk, ke PT PAI di Probolinggo, perusahaan yang bergerak di bidang pembuatan lem.

"Pupuk itu dijual ke PT PAI untuk bahan baku pembuatan lem," tambah Kasat Tipiter AKBP I Nyoman Komin.

Dari penangkapan itu, polisi langsung menyelidiki dan menangkap tiga tersangka serta mengamankan barang bukti seperti mesin jahit karung, 400 sak kosong merek Pupuk Kaltim, 500 sak kosong merek Kujang, 1.534 ton pupuk bersubsidi, 350 ton pupuk oper sak di gudang milik A Lung, 1.500 ton Pupuk Kaltim yang sudah dioper sak, 34 ton pupuk dari Lumajang di Probolinggo dan barang bukti lainnya.

"Modusnya, pupuk datang langsung dioper sak, dan sebagian buat stok dan tidak dirubah," tuturnya.

Usaha ilegal yang dilakukan A Lung ini diperkirakan beroperasi sekitar 5 tahun lalu. Pupuk bersubsidi yang harga pasarannya sebesar Rp 1.600 per kg, dijual lagi dimasukkan ke dalam karung cap Kujang seharga Rp 3.640 per kg. "Selama bulan Januari 2010 sampai September, sudah mengoper sak sebanyak 10.000 ton," tuturnya.

Jika dihitung keuntungan dari selisih harga sekitar Rp 2.000 per kg, mendapatkan keuntungan sebesar Rp 20 miliar. Jika dikalikan selama 5 tahun, sekitar Rp 100 miliar.

Akibat perbuatan yang dilakukan para tersangka, polisi menjeratnya pasal berlapis yakni, pasa 1 sub 3e jo pasal 6 ayat (1) huruf d jo ayat (2) dan ayat (3) jo pasal 3 (turut serta melakukan tindak pidana ekonomi (TPE)), jo pasal 15 (TPE yang dilakukan oleh atau atas nama Badan Hukum) UU No 7 Tahun 1995 tentang Tindak Pidana Ekonomi.

Pasal 60 ayat (1) huruf F UU RI No 12 Tahun 1992 tentang sistem budidaya tanaman dengan ancaman hukuman 5 tahun penjara. Serta pasal 480 KUHP jo Pasal 55 ayat (1) angka ke 1e KUHP.

(roi/fat)

Sumber: http://surabaya.detik.com/read/2010/10/29/171519/1479009/466/penyalahgunaan-pupuk-subsidi-senilai-ratusan-miliar-dibongkar

Polda Jatim Bongkar Penggelapan Pupuk Bersubsidi

Jumat, 29 Oktober 2010, 17:20 WIB

Polda Jatim Bongkar Penggelapan Pupuk Bersubsidi
Ilustrasi

REPUBLIKA.CO.ID,SURABAYA--Polda Jatim membongkar sindikat penggelapan pupuk bersubsidi sekitar 1.884 ton, Jum'at ( 1/11 ). Ribuan pupuk bersusidi yang dijual dengan harga nonsubsidi itu diamankan polisi dari pabrik lem PT Pamolite Adhesive Industry (PAI) di Jalan Brantas, Probolinggo.

Sebagai barang bukti, ribuan pupuk tersebut kini diamankan di gudang penyimpanan barang sitaan di Medaeng, Sidoarjo, Jatim. Polisi menahan tiga tersangka dalam kasus tersebut. Di antara mereka adalah Alung (ALG) 62 tahun, warga Desa Dawuhan Lor, Kecamatan Sukodono, Lumajang. Selain itu, Andik (And) usia 37 tahun, Direktur CV Globalindo, Jalan Kartini Probolinggo yang bergerak di bidang pengiriman barang. Tersangka ketiga yaitu Sujono (SJN) berusia 51 tahun yang merupakan karyawan PT PAI Probolinggo.

Para tersangka tersebut kini ditahan di Rutan Polda Jatim. ‘’Itu setelah mereka ditangkap tim khusus polisi dari Polda Jatim di tempat kediamannya masing-masing,’’ jelas Kabid Humas Polda Jatim, Kombes Pudji Astuti, saat memberikan keteangan pers didampingi Kasat Kasat TipiterPolda Jatim AKBP Nyoman Komeng, Jum’at (29/10).

Penangkapan terhadap tersangka itu, kata dia, bermula dari informasi warga. Mereka melaporkan bila di Pabrik PT PAI yang beralamat di Jalan Brantas, Probolingggo, Jatim ada aktivitas produksi pupuk yang mencurigakan. ''Berdasarkan laporan tersebut polisi langsung melakukan penyelidikan. Hasilnya, setelah dua hari menyanggung ternyata ada banyak truk gandengan keluar masuk di Pabrik PAI itu,'' tutur Pudji Astuti.

Lantas, kata dia, polisi langsung menghentikan truk gandengan yang keluar masuk itu. Setelah diperiksa, isinya ternyata pupuk. Ada bebrapa jenis pupuk yang diamankan polisi. Masing-masing pupuk Prill Daun Buah dari Kaltim serta Pupuk Kujang Cikampek yang tidak bersubsidi

Kala polisi melakukan pemeriksaan terhadap surat-surat dokumen pengiriman barang yang ada di dalam truk itu, menurut Kasat Tipiter Polda AKBP Nymang Komang, ternyata surat-suratnya meragukan dan mencurigakan. Alasannya, pupuk jenis urea bermerk Prill Daun Buah dari Kaltim dan Pupuk Kujang Cikampek itu tidak semuanya dilengkapi dengan surat jalan pengiriman barang dan surat //direct order (DO).

Red: Budi Raharjo
Rep: Asan Haji

Sumber: http://www.republika.co.id/berita/breaking-news/nusantara/10/10/29/143409-polda-jatim-bongkar-penggelapan-pupuk-bersubsidi

Dendeng Tokek Probolinggo Kian Eksis

Jumat, 29 Oktober 2010 | 13:47 WIB

OLEH: IKHSAN MAHMUDI

Meski bagi sebagian orang termasuk hewan menjijikkan, tokek bernilai ekonomis tinggi. Daging tokek oven dan dendeng Probolinggo pun diekspor ke sejumlah negara di Asia.

ketika sebagian orang berburu tokek gendut (di atas 3 ons) yang konon harganya puluhan hingga ratusan juta rupiah, Didik Prabudi (45) bergeming. Warga Desa Leces, Kec. Leces, Kab. Probolinggo yang menekuni bisnis “pertokekan” sejak belasan tahun silam itu justru mencari tokek kurus.

’’Maaf, usaha saya bukan jual-beli tokek hidup yang beratnya 3 ons ke atas, yang katanya bisa mencapai puluhan hingga ratusan juta per ekor,” ujar Didik di rumah sekaligus tempat pengolahan daging tokek di Jl Raya Leces, Kamis (28/10).

Sejak 1995 lalu, Didik mengaku, mencari tokek untuk kemudan dikeringkan (dioven). “Justru tokek kurus yang kami cari, karena tidak banyak lemaknya, sehingga gampang dikeringkan,” ujarnya.

Tidak sekadar menangkap tokek di alam, belakangan sejak 2002, ia juga menangkarkan tokek. Tujuannya masih sama, tokek hasil penangkaran itu untuk dikeringkan. Tokek oven ini kemudian diekspor ke sejumlah negara di Asia seperti Jepang, Taiwan, Singapura, dan China. “Sejak setahun ini, saya memproduksi dendeng tokek untuk memenuhi permintaan pasar lokal,” ujarnya.

Selama menangkarkan tokek, Didik mengaku tidak pernah menjumpai tokek hidup yang beratnya sampai 3 ons, apalagi lebih. Paling-paling jika tokek itu gemuk, beratnya sekitar 2-2,5 ons. “Di perusahaan saya, justru tokek kurus yang harganya mahal,” ujarnya.

Didik pun mengaku tidak ingin berspekulasi dengan mengoleksi tokek dengan berat 3 ons ke atas. Soalnya, ia tidak pernah menemukan tokek yang beratnya 3 ons, apalagi seberat 64 kilogram seperti dilansir di sebuah media cetak,” ujarnya.

Diakui ketika bisnis jual-beli tokek hidup merebak di sejumlah daerah, Didik merasakan dampak positifnya. “Tokek kering per ekor paling mahal Rp 4 ribu-Rp 6 ribu, sementara tokek hidup yang tidak perlu biaya pengolahan dan pengopenan bisa laku Rp 50 ribu per ekor,” ujarnya.

Sejumlah pembeli memang mendatangi tempat penangkaran tokek milik Didik. Karena tidak mendapatkan tokek berukuran 3 ons ke atas, mereka membeli tokek hidup seberat 2-2,5 ons untuk dipelihara dan digemukkan. “Dengar-dengar agar tokek itu cepat gendut diberi makan jangkrik. Jangkrik untuk pakan tokek, setiap hari diberi minum susu segar. Wah ribet banget,” ujarnya.

Sementara itu, ekspor tokek oven asal Indonesia mencapai kisaran 1 juta sampai 2 juta ekor per tahun. “Saya hanya bisa mengekspor 300-400 ribu ekor tokek oven. Omzet saya Rp 750 juta hingga Rp 1 miliar per tahun,” ujar Didik Prabudi.

Dari hasil berbisnis tokek, Didik berhasil mengoleksi sejumlah mobil. Tahun 2009 lalu ia mengaku keuntungannya berbisnis tokek bisa dibelikan Pajero Sport. Pemilik Honda Odessy dan Kijang Innova itu berharap pada 2010 ini pasar tokek tetap stabil. “Pesaing utama tokek oven dari Indonesia hanya Thailand, yang kualitas tokeknya bagus karena dikeringkan dengan api berbahan bakar arang,” ujarnya.

Selama ini tokek oven asal Probolinggo dikeringkan dengan kompor berbahan bakar minyak tanah. “Sejak konversi ke elpiji, minyak tanah jadi mahal, mungkin saya akan beralih ke pengeringan dengan sinar matahari,” ujarnya.

Guna ketersediaan pasokan bahan baku tokek, selain menangkarkan tokek sendiri, Didik mengaku membina 10 kelompok penangkaran tokek di Kab Probolinggo. “Sekarang tinggal 7 kelompok penangkaran yang masih bertahan,” ujarnya.

Selain itu tokek juga diperoleh dari penangkapan di alam. Sejumlah pemburu tokek berburu tokek di Probolinggo bahkan hingga Jember, Lumajang, Banyuwangi, dan Madura. Belakangan pasar lokal tokek olahan mulai muncul, meski pangsanya tidak sebesar pasar ekspor. “Untuk pasar lokal, saya siapkan dendeng tokek. Harganya Rp 7.500 per ekor,” ujarnya. *

Sumber: http://www.surabayapost.co.id/?mnu=berita&act=view&id=d8a0633c8052ad4e56fa5838b5b45136&jenis=1679091c5a880faf6fb5e6087eb1b2dc

Pansus DPRD Gresik ‘Rame-rame’ Kunker

Pansus DPRD Gresik ‘Rame-rame’ Kunker
Jumat, 29 Oktober 2010 | 11:27 WIB

GRESIK - Lima tim panitia khusus (pansus) DPRD Kabupaten Gresik ramai-ramai mengadakan kunjungan kerja (kunker) ke Bali, Makassar, dan beberapa daerah di luar provinisi lainnya untuk membahas rancangan peraturan daerah (ranperda). Anggaran untuk pembahasan lima ranperda ini mencapai ratusan juta rupiah.

"Kegiatan untuk lima tim pansus ranperda sebesar Rp800 juta. Aggaran sebesar ini digunakan kunjungan kerja, pembahasan, hingga paripurna ranperda tuntas menjadi peraturan daerah," kata Zulfan Hasyim, Ketua DPRD Kabupaten Gresik Kamis (28/10).

Anggaran untuk lima pansus ini sekitar 30 persen dari anggaran pansus ranperda selama setahun sebesar Rp2,8 miliar. Menurut Zulfan, kunker untuk lima pansus ke beberapa daerah di luar provinsi ini memang harus dilaksanakan. Tujuannya untuk mendapatkan referensi yang dapat diterapkan di Gresik sehingga pendapatan pajak Gresik meningkat. "Banyak manfaat yang kita peroleh, agar pemerintahan Gresik dapat pengoptimalkan pendapatan pajak yang selama ini belum terserap," tandasnya.

Lima pansus bentukan DPRD antara lain Pansus I membahas ranperda tentang pajak daerah, Pansus II tentang retribusi jasa umum, Pansus III tentang retribusi jasa usaha, Pansus IV tentang retribusi perizinan tertentu, dan Pansus V tentang rencana tata ruang wilayah (RTRW) Kabupaten Gresik tahun 2010-2030.

"Pansus IV kunker ke Bali untuk memelajari soal retribusi perizinan tertentu. Bali sudah lama menerapkan retribusi tersebut. Hasil dari retribusi itu sangat besar untuk peningkatan PAD (pendapatan asli daerah). " kata Jumanto, Ketua Pansus IV.

Pemilihan Bali, jelasnya, karena di sana banyak objek pendapatan yang bisa memberikan sumbangan bagi pendapatan asli daerah. "Untuk itu, kita perlu belajar di sana untuk membuat Perda penarikan retribusi perijinan tertentu, " kata Jumanto.

Anggota Pansus V, Siti Muafiyah, mengatakan, timnya kunker ke Probolinggo untuk memelajari pembuatan ranperda tentang RTRW. Probolinggo dinilai sudah punya RTRW yang bagus, sehingga bisa menata wilayah, mulai wilayah untuk sektor industri, perdagangan, perkantoran, ruang terbuka hijau, dan lainnya. "Kami perlu belajar ke Probolinggo untuk pembuatan Perda RTRW di Gresik, " katanya.

Hampir semua anggota DPRD Kabupaten Gresik mengikuti pansus, yaitu 44 dari 50 anggota. Karena itu sejak Rabu hingga Jumat (29/10) hari ini kantor DPRD sepi. Dua anggota DPRD mengikuti ibadah haji. Praktis hanya tinggal empat pimpinan yang ada di kantor. sep

Sumber: http://www.surabayapost.co.id/?mnu=berita&act=view&id=f1b9f9e8c4ea8e24b0a8eb8a730c74a6&jenis=1679091c5a880faf6fb5e6087eb1b2dc

Jumat, 29 Oktober 2010

Turis Bromo Dilarang Dekati Kawah

Jumat, 29 Oktober 2010

Probolinggo - Surya- Letusan Merapi tak menyurutkan wisatawan datang ke kawah Gunung Bromo di Desa Ngadisari, Kec Sukapura, Kab Probolinggo, Kamis (28/10.

Rudi, 23, warga Malang yang baru turun dari puncak Cemoro Lawang, Taman Nasional Bromo Tengger Semeru, menyatakan, “Kami baru saja dari sana. Bromo dengan Merapi berbeda. Kalau Bromo, sudah jinak.”

Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata, Tutug Edi Utomo ketika dikonfirmasi menyatakan, kawasan wisata Bromo tetap aman untuk dikunjungi kendati berstatus waspada.

Namun demikian, katanya, pengunjung tetap dilarang mendekati bibir kawah hingga minimal radius satu kilometer. “Pengunjung hanya diperbolehkan berada di lautan pasir, tidak boleh mendekati kawah,” katanya.

Dalam 50 tahun terakhir, katanya, letusan Bromo sudah tidak sebesar ratusan tahun silam. “Dulu sempat batuk dan ada korban, karena pengunjung naik ke bibir kawah,” paparnya.

Dalam tiga tahun terakhir, kata Tutug, wisatawan yang berkunjung ke Bromo terus meningkat. Pada 2007, pengunjung domestik 34.307 dan mancanegara 8.310 orang.

Pada 2008, jumlah wisatawan meningkat menjadi 46.518 untuk domestik dan 8.826 turis mancanegara. Menginjak 2009, masih meningkat menjadi 55.469 pengunjung domestik dan 11.278 turis mancanegara.

Pada 2010 ini, hingga awal Oktober, jumlah pengunjung domestik sudah mencapai 76.087 orang dan mancanegara 12.187 orang. “Tak ada pengaruh letusan Merapi terhadap minat wisatawan mengunjungi Bromo,” tandas Tutug. ntiq

Sumber: http://www.surya.co.id/2010/10/29/turis-bromo-dilarang-dekati-kawah.html

Gunung Bromo dan Sejuta Eksotisme Alamnya

Tribunnews.com - Jumat, 29 Oktober 2010 04:29 WIB

Gunung Bromo dan Sejuta Eksotisme Alamnya
Mayangkara Prawiraduta
Pemandangan Gugusan Pegunungan Bromo Tengger Semeru dari Puncak Pananjakan.

PROBOLINGGO- Gunung Bormo di Probolinggo Jawa Timur walau dinyatakan statusnya menjadi WASPADA oleh Badan Pusat Vulkanologi, Mitigasi dan Geologi (PVMG) Bandung tapi pesonanya tidak pudar.

Agus Budiyanto, Kasubid Pengamatan Gunung Berapi BPVMG Bandung yang menyatakan status Bromo menjadi WASPADA seolah tidak menyurutkan pada pelancong dan pendaki untuk menikmati gunung yang berada dalam satu gugusan Pegunungan Bromo Tengger dan Semeru.

Gunung Bromo secara geografis terletak di 7°51’ – 8°11’ LS, 112°47’ – 113°10’ BT dengan luas wilayah sekitar 50.276,3 ha. Gunung itu masuk dalam kawasan Kab Pasuruan, Kab Probolinggo, Kab Lumajang dan Kab Malang. Merupakan kawasan wisata terkenal di Indonesia.

Suhu di Bromo bisa mencapai 10 derajat celcius, jauh di bawah suhu rata rata normal suhu Indonesia kisaran 24-32 (suhu tubuh normal manusia 36) derajat. Bahkan suhu di Bromo bisa 0 derajat celcius saat menjelang pagi hari.

Bagi Anda yang ingin menikmati keindahan Bromo yang memiliki ketinggian 2.329 meter di atas permukaan laut, sebaiknya mempersiapkan peralatan yang memadai. Seperit pakaian dingin, topi kupluk, sarung tangan, kaos kaki, syal dan jaket tentunya.

Tapi, bila Anda melupakan perlengkapan tersebut, ada banyak penjaja keliling menawarkan dagangannya berupa topi, sarung tangan, atau syal.

Pengunjungnya bukan hanya wisatawan lokal, melainkan ramai juga wisatawan asing. Dengan pemandangan yang khas membuat Bromo layak menjadi tujuan wisata. (editor widodo)

Sumber: http://www.tribunnews.com/2010/10/29/gunung-bromo-dan-sejuta-eksotisme-alamnya

Semeru Waspada, Jalur Pendakian Tetap Dibuka

Kamis, 28 Oktober 2010 - 16:02 wib
Nurul Arifin - Okezone
Gunung Semeru (Foto: Ist)

SURABAYA - Status Gunung Semeru sudah dinaikan dari Siaga menjada Waspada. Kendati demikian, pintu masuk ke jalur pendakian menuju puncak Mahameru hingga kini masih dibuka untuk umum.

"Statusnya kan masih Waspada, jadi belum ada larangan bagi para pendaki, termasuk evakuasi warga," kata Kepala Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jatim, Siswanto, Kamis (28/10/2010).

Gunung Semeru sendiri merupakan salah satu obyek wisata di Jawa Timur yang cukup menarik perhatian para pendaki baik lokal maupun mancanegara. Keindahan alam Gunung yang berada di Kabupaten Lumajang dan Malang itu membawa daya tarik tersendiri bagi para pendaki.

Namun sejak ada letusan di Gunung Merapi, kondisi ini sempat membuat was-was sejumlah wisatawan, sebab kondisi gunung ini termasuk kategori gunung berapi aktif.

Menanggapi hal itu, Siswanto menegaskan, status waspada yang di Gunung Semeru tidak berbahaya. Hanya saja, imbas dari erupsi Gunung Merapi, membuat peningkatan status sejumlah gunung berapi di Jawa Timur, seperti Gunung Kelud di Kediri dan Gunung Bromo di Probolinggo.

Pihak BPBD, kata dia, akan melakukan sosialisasi kepada masyarakat yang tinggal di sekitar terkait peningkatan aktivitas vulkanik gunung-gunung tersebut.

Pihaknya juga akan melakukan evakuasi, jika sudah ada peningkatan status dari waspada ke Awas. "Jika nanti status sudah Awas, baru kita akan lakukan evakuasi, selama ini hanya Sosialisasi saja," kata Siswanto.

(ded)

Sumber: http://news.okezone.com/read/2010/10/28/340/387466/semeru-waspada-jalur-pendakian-tetap-dibuka