Senin, 06 September 2010

Pembangunan Tiga Pelabuhan Perikanan Terbengkalai

Surabaya - Proyek pembangunan tiga pelabuhan perikanan pantai (PPP) di Provinsi Jawa Timur terbengkalai akibat terbatasnya anggaran dan faktor cuaca.

Ketua Komisi B DPRD Jatim, Renville Antonio, dalam rapat dengar pendapat dengan Dinas Perikanan dan Kelautan Jatim di Surabaya, Senin, mendesak pembangunan tiga pelabuhan diselesaikan paling lambat 2011.

"Kalau untuk mendapatkan APBN, kami bisa berjuang bersama-sama dengan Dinas Perikanan dan Kelautan Jatim ke Jakarta," katanya.

Sebelumnya di Jatim ada proyek pembangunan tujuh pelabuhan perikanan, yakni Mayangan (Kota Probolinggo), Tamperan (Kab Pacitan), Sendang Biru (Kab Malang), Puger (Kab Jember), Muncar (Kab Banyuwangi), Bulu (Kab Tuban), dan Pasongsongan (Kab Sumenep).

"Dari tujuh pelabuhan itu yang menjadi prioritas diselesaikan pada 2011 adalah Muncar, Bulu, dan Pasongsongan," kata Kepala Dinas Perikanan dan Kelautan Jatim, Kardani.

Proyek PPP Muncar dianggarkan Rp197 miliar dan hingga saat ini baru terserap sekitar 7,56 persen, PPP Bulu sebesar Rp86 miliar dan baru terserap 21,26 persen, dan PPP Pasongsongan sebesar Rp48 miliar dan terserap 57,45 persen

Sumber: http://www.antarajatim.com/lihat/berita/42413/pembangunan-tiga-pelabuhan-perikanan-terbengkalai

16.000 Fakir Miskin Antre Zakat

16.000 Fakir Miskin Antre Zakat
Senin, 6 September 2010 | 08:11 WIB

PROBOLINGGO - Demi mendapatkan pembagian zakat berupa 5 kg beras dan 2 kg gula, sekitar 16.000 warga miskin antre di Pesantren Raudlatul Jannah, Desa Klaseman, Kec. Gending, Kab. Probolinggo. Begitu banyaknya zakat yang dibagi, pembagian zakat berlangsung dua hari, Sabtu-Minggu (4-5/9).

”Tahun ini kami membagikan sekitar 16.000 paket zakat. Sebanyak 2.000 paket kami bagikan Sabtu kemarin, sisanya Minggu,” ujar Hj Siti Fatimah Thoha, Pengasuh Pesantren Raudlatul Jannah di sela-sela pembagian zakat, Minggu (5/9).

Sejak pagi sekitar pukul 05.30, ribuan dhuafa antre di pesantren di tepi jalan nasional jurusan Probolinggo-Situbondo itu. Mereka datang dari sejumlah desa di Kab. Probolinggo. Pembagian zakat sendiri baru dimulai sekitar pukul 07.00.

Agar pembagian zakat itu tertib, sebanyak 200 personel polisi dari Polres Probolinggo dan puluhan prajurit TNI dikerahkan. Dua buah mobil ambulan milik Polres dan Dinkes juga disiagakan.

”Kami berharap tragedi pembagian zakat yang menewaskan 21 orang warga miskin di Pasuruan tahun 2008 lalu tidak terjadi di Probolinggo,” ujar seorang polisi.

Panitia dan aparat keamanan pun mengatur para penerima zakat dengan melalui pintu masuk dan keluar yang berbeda. Begitu masuk halaman pesantren, warga langsung “digiring” memasuki 5 lorong yang disekat dengan batang bambu.

Setiap lorong dimasuki dua jajar penerima zakat, yang mengular hingga ke pintu masuk. Beberapa perempuan lanjut usia (nenek), perempuan hamil, hingga menggendong anak mendapat prioritas dalam menerima zakat. Mereka tidak antre terlalu panjang, sehingga cepat menerima zakat.

”Alhamdulillah, meski harus antre dan berdesak-desakan, saya akhirnya bisa menerima zakat, bisa untuk berlebaran,” ujar Ny. Rohimsena (50), warga Desa Wonorejo.

Warga sekitar datang ke lokasi pembagian zakat memang bertahap. Ada yang berjalan kaki, naik sepeda onthel, hingga beramai-ramai naik truk yang dicarter pihak desa.

Hingga menjelang tengah hari, ribuan warga miskin masih menyemut antre pembagian zakat di pesantren yang didirikan almarhum Habib Thoha bin Ahmad Ba’agil (suami Hj Siti Fatimah Thoha) itu. isa

Sumber: http://www.surabayapost.co.id/?mnu=berita&act=view&id=5f06db3b04d73ad8c6d5cf912e697b7b&jenis=c81e728d9d4c2f636f067f89cc14862c

NU Telusuri Video Mesum Guru Ngaji

06/09/2010 - 03:01
ilustrasi

INILAH.COM, Probolinggo - Kasus beredarnya video mesum seorang guru ngaji berinisial TP, asal warga Desa Blado Kulon, Kecamatan Tegalsiwalan, Kabupaten Probolinggo, dengan seorang perempuan berinisial Iy terus menjadi perbincangan banyak warga.

Untuk meredam gesekan masyarakat, Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kabupaten Probolinggo bertindak. PCNU Probolinggo melakukan klarifikasi kebenaran pelaku video porno adalah seorang guru ngaji.

"Jadi hasil klarifikasi ranting NU setempat, Tp itu kini sudah bukan menjadi seorang guru ngaji lagi. Melainkan sudah berhenti," ujar Ketua PCNU setempat, Syaiful Hadi, Minggu (5/9).

Syaiful menjelaskan, Tp berhenti menjadi seorang guru ngaji itu sejak 4 tahun yang silam.

"Jadi lebih tepatnya dalam pemberitaan, dia itu bukan seorang guru ngaji lagi, tetapi oknum yang telah melakukan perbuatan itu," tegasnya. [beritajatim.com/bar]

Sumber: http://www.inilah.com/news/read/politik/2010/09/06/801031/nu-telusuri-video-mesum-guru-ngaji/

Korupsi Raskin Dilimpahkan ke Kejaksaan

Senin, 6 September 2010 | 09:01 WIB

PROBOLINGGO - Kasus Rukayat (48), mantan Lurah Pohsangit Kidul, Kec. Kademangan, Kota Probolinggo yang diduga menilep sekitar 7,75 kuintal beras untuk rakyat miskin (raskin) terus menggelinding.

Berkas Rukayat yang dijerat Undang-undang No. 31/1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi itu segera dilimpahkan ke kejaksaan.

”Kasus ini segera kami limpahkan ke Kejaksaan Negeri (Kejari) Probolinggo,” ujar Kasatreskrim AKP Agus I Supriyanto mendampingi Kapolresta, AKBP Agus Wijayanto, Senin (5/9) pagi tadi.

AKP Agus menambahkan, Polresta sudah memeriksa 5 saksi dan tinggal melengkapi berkas sehingga menjadi P21 (berkas lengkap). Polresta tinggal memanggil saksi dari Dinas Sosial, Pemkot Probolinggo. ”Kami juga sudah menyurati Kejari terkait dimulainya penyidikan kasus ini,” ujarnya.

Seperti diberitakan, pada 22 Agustus dini hari, Lurah Pohsangit Kidul, Rukayat, tertangkap basah warganya saat hendak memindahkan raskin dari kantor kelurahan ke rumah perangkatnya, Sugito (43), Ketua RT 3/RW 4.

Tidak hanya berdua, mereka ditemani Jumain (35), warga Kel. Sumberwetan Kec. Kademangan. Beras itu diangkut menggunakan gerobak. Aksi mereka diketahui oleh sekelompok warga yang sedang patroli yakni Misnadi, Faishol, Mulyadi, Sutaman, dan Muis.

Rukayat pun sempat dikalungi celurit oleh Misnadi karena dikira maling yang mencuri di kelurahan. Rukayat pun mengakui kalau raskin itu akan dibawa ke rumah Sugito dan akan dijual.

Rukayat sempat mengajak berdamai dan meminta Misnadi cs tidak membocorkan kasus tersebut. Kasus ini kemudian dilaporkan ke Polsek Kademangan.

Polsek akhirnya menggelandang Rukayat, Sugito, dan Jumain untuk diperiksa. Polisi juga menyita barang bukti berupa beras sebanyak 31 karung, dengan berat masing-masing 25 kg.

Misnadi cs sempat mendapat ancaman akan “dihabisi” jika mengungkap kasus raskin itu.

Pemkot sudah bertindak dengan mengganti Lurah Rukayat dengan lurah baru, M. Bebun. Selama kasus berjalan, Rukayat tidak mendapatkan jabatan struktural di Pemkot Probolinggo.

Kasatresrim yakin, Rukayat cs pasti dihukum. Selain tertangkap basah, juga ada sejumlah saksi, dan barang bukti yang memperkuat dugaan korupsi raskin.

“Ia disangka melakukan tindak pidana korupsi, yang bisa diproses tanpa harus ada laporan dari pihak mana pun,” ujar AKP Agus. Dikatakan, kasus ini meski tidak ada pelapornya tidak bisa dicabut di tengah jalan.

Apalagi Polresta sudah melayangkan surat pemberitahuan dimulainya penyidikan ke Kejari. ”Tersangka korupsi juga tidak bisa ditangguhkan penahanannya,” ujarnya.

Tindak pidana khusus seperti korupsi, kata AKP Agus, aturannya memang tidak mengizikan adanya penangguhan penahan. ”Siapa pun pemohonnya dan siapa pun tersangkanya,” ujar ujar mantan Kepala Tim Pemeriksa (Katim Riksa) Densus 88 itu. isa

Sumber: http://www.surabayapost.co.id/?mnu=berita&act=view&id=a1231c2f2311f2d3a33f20d2bc1e8ef1&jenis=c81e728d9d4c2f636f067f89cc14862c

Pasuruan Rawan Macet Dan Kecelakaan

Minggu, 05 September 2010

Pasuruan- Wilayah Pasuruan yang merupakan perlintasan jalur mudik dan balik pantura ke arah timur dan selatan wilayah Jatim, sangat rawan kemacetan dan kecelakaan.

Kondisi tersebut hampir merata di seluruh jalur, mulai Gempol- Pandaan-Purwosari-Purwodadi hingga perbatasan Lawang Malang. Juga jalur Gempol-Bangil-Pasuruan-Nguling-hingga Probolinggo. Hal serupa juga terjadi di jalur Pasuruan-Purwosari kearah Malang.

Di jalur Gempol-Pandaan-Purwosari hingga perbatasan Lawang Malang, meski kondisi jalannya sudah lebar dengan empat lajur, tapi juga masih tetap rawan kemacetan, demikian pantauan ANTARA, Minggu.

Kemacetan sering terjadi mulai dari simpang tiga Gempol, serta di simpang tiga Kejapanan.

Dua titik kemacetan ini akibat imbas kemacetan dari ruas Jalan Raya Porong, yang “diancam” luapan lumpur Lapindo. Kemacetan juga sering terjadi di simpang Pandaan, dan simpang tiga Purwosari. Di Purwosari ini jeda lampu pengatur lalu lintas sudah tidak imbang lagi dengan jumlah kendaraan yang lewat, sehingga terjadi kemacetan yang cukup panjang.

Kemacetan lalu lintas di Purwosari ini terjadi akibat pertemuan arus kendaraan baik dari arah Surabaya, Malang, maupun Pasuruan. Sebab wilayah Pasuruan merupakan daerah pertemuan arus mudik dari berbagai daerah, baik yang mau meninggalkan Surabaya maupun yang akan masuk ke Surabaya.

Jalur antara Gempol hingga Lawang Malang ini selain rawan kemacetan juga rawan kecelakaan.
Sedangkan kemacetan yang terjadi di jalur Gempol-Bangil- Pasuruan hingga Probolinggo terjadi mulai dari simpang Gempol, simpang tiga pasar Gondanglegi, Beji akibat pasar tumpah.

Serta alun-alun Bangil karena seluruh kendaran, baik kendaraan dalam kota maupun pelintas antarkota menggunakan satu jalar yang sempit ini. Sementara kota Bangil belum memiliki jalur lingkar alternatif.

Di jalur antara Gempol-Bangil ini meski badan jalannnya sudah lebar dengan empat lajur, pengguna jalanjuga masih harus waspada, karena masih banyak lajur yang menyempit.

Sedangkan jalur antara Bangil-Pasuruan sudah lebar dengan empat lajur. Meski kondisi kondisi jalan telah lebar dan mulsus, di jalur ini juga rawan kecelakaan. Sementara jalar antara Pasuruan -Purwosari, meski jalan ini bisa disebut juga sebagai jalan alternatif juga rawan kemacetan karena di wilayah Wonorejo sering terhambat pasar tumpah.

Jalur yang paling memprihatinkan adalan jalur antara Pasuruan hingga Probolinggo. Di sepanjang jalur ini kondisi badan jalannnya sempit, hanya terdiri dua lajur saja. Praktis anatara Pasuruan- Probolinggo ini kendaraan akan mengalami kesulitan saling mendahului.

Kondisi jalan antara Pasuruan hingga Probolinggo selain jalurnya sempit, juga aspalnya banyak yang bergelombang.

Masih ditambah lagi di simpang tiga Pasar Ngopak sering terhambat pasar tumpah. Di ruas jalan antara Rejoso-Grati, pengguna jalan juga harus waspada terhadap banyaknya konvoi para pengendara sepeda motor maupun pancal yang mengangkut rumput.

Para pencari rumput tersebut tidak akan libur meski dalam kondisi Lebaran, karena merupakan kebutuhan pokok bagi ternaknya. Konvoi pencari rumput ini sering menyita badan jalan, karena antara Pasuruan-Probolinggo hanya dua jalur saja.

Kapolres Pasuruan AKBP Syahardiantono mengatakan, untuk mengantisipasi kerawanan kemacetan dan kecelakaan tersebut, Polres Pasuruan selain menggelar Operasi Ketupat Semeru, juga menggelar Operasi Ketupat Khusus 2010, yakni melakukan memberikan pelayanan pengamanan dan pelayanan kepada para pemudik.

Sebab, lanjut Kapolres, berdasar pengalaman pada tahun-tahun sebelumnya, banyak terjadi kecelakaan serta perampokan terhadap para penggunaka kendaraan roda dua.

Untuk operasi tersebut, Polres Pasuruan menerjunkan 354 personel polisi dan dibantu 1 peleton Brimob, serta Dishub, Senkom Mitra Polisi, dan masyarakat sekitar. Serta menerjunkan personel khusus di daerah-daerah rawan tersebut.ant

Sumber: http://www.surya.co.id/2010/09/05/pasuruan-rawan-macet-dan-kecelakaan.html

Pegawai RSUD Probolinggo Pertanyakan Dana Jasa Medis

Minggu, 5 September 2010

PROBOLINGGO | SURYA - Ratusan karyawan RSUD dr Muhamad Saleh Kota Probolinggo, bergejolak. Mereka mempertanyakan dana Jasa Medis (JM) yang tidak jelas. Hal ini diungkap sejumlah paramedis dalam pertemuan yang dikemas rapat komite medik bersama manajemen RSUD setempat, Sabtu (4/9) pagi.

JM diberikan kepada paramedis dan dokter yang berasal dari jaminan kesejahteraan Masyarakat (Jamkesmas) tersebut sudah disetor ke Pemerintah Kota (Pemkot) Probolinggo.

Menurut salah satu dokter di RS pemda itu, dr Budi Satriyo, seharusnya dana JM sudah cair, karena sudah disetor ke Pemkot Probolinggo sebesar Rp 2,6 miliar. Dia tidak tahu di mana tersangkutnya dana tersebut.

Menurut Budi Satriyo, pihaknya bukan mendemo RSUD, melainkan hanya menyampaikan uneg-unegnya di dalam pertemuan tersebut. “Teman-teman membutuhkan dana itu untuk lebaran,” sambung Budi. Hal senada juga disampaikan dr Rusman, yang bertindak sebagai moderator dalam acara tersebut. Menurutnya tidak hanya dana JM yang keteteran, para pegawai juga belum menerima bingkisan lebaran.

Dirut RSUD dr Boedi Poerwohadi berjanji akan mencairkan dana JM hari Senin (6/9), sesuai permintaan para pegawainya. Kepada para bawahannya, Boedi meminta dukungan agar apa yang diperjuangkan berhasil sesuai harapan. “Yah, kami usahakan,” begitu janji Boedi sebelum menutup acara tersebut.

Dokter Rusman mengaku belum tahu apa langkah selanjutnya, apabila janji dirut nanti tidak sesuai dengan harapan para karyawan.

Sumber: http://www.surya.co.id/2010/09/05/pegawai-rsud-probolinggo-pertanyakan-dana-jasa-medis.html

Ribuan Warga Probolinggo Antre Zakat

Dandy Arie Gafur
05/09/2010 15:41
Liputan6.com, Probolinggo: Ribuan orang berdesak-desakan mengantre zakat di Pondok Pesantren Raudlotul Jannah, Klaseman, Probolinggo, Jawa Timur, Ahad (5/9). Meski diatur sedemikian rupa oleh dua peleton Polri dan TNI, para penerima zakat seakan takut tak kebagian jatah.

Setiap warga kurang mampu ini mendapatkan jatah lima kilogram beras dan satu kilogram gula pasir. Menurut seorang warga, pembagian zakat tahun ini lebih tertib dan cepat dibanding tahun lalu.

Pengamanan ekstra ketat ini dilakukan petugas gabungan guna menghindari kekisruhan yang kerap terjadi dari waktu ke waktu. Bahkan, aparat Kepolisian Resor Probolinggo jauh-jauh hari mengimbau para dermawan melibatkan petugas keamanan. Rencananya, pembagian zakat ini akan terus digelar hingga H-1 Lebaran.(WIL/ANS)

Sumber: http://berita.liputan6.com/daerah/201009/294849/Ribuan.Warga.Probolinggo.Antre.Zakat