Tampilkan postingan dengan label Derita. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Derita. Tampilkan semua postingan

Kamis, 28 Oktober 2010

Ny. Hartatik Berharap Ada Keajaiban

Kamis, 28 Oktober 2010

Probolinggo - Surya- Hanya keajaiban yang bisa menolong Ny Hartatik, 33, warga RT 2/RW 3 Dusun Krajan, Desa Leces, Kec Leces, Kab Probolinggo, ini dari penderitaan. Tumor di wajah janda beranak satu ini dari hari ke hari semakin membesar.

Belasan tahun lalu, sebelum suami, Satroyon Hartono, meninggal, ia masih punya tempat berharap. Kini, ia tak bisa berbuat banyak. Untuk memenuhi kebutuhan makan sehari-hari saja susah. Sawah orang tua dan kambing bantuan pemkab habis dijual untuk berobat ke dokter maupun ke pengobatan alternatif. Ia nyaris putus asa. Bahkan, pernah mencoba bunuh diri. Beruntung masih banyak sanak saudara yang menghibur.

Penyakit itu diderita sejak SMP. Semula ia menganggap sakit gigi. “Setelah dioperasi, empat gigi saya dicopot dan langit-langit saya juga dioperasi. Sekarang saya tidak punya langit-langit,” ungkapnya. Namun, anggapan itu meleset. Ternyata itu tumor ganas yang kini sudah sebesar kepala bayi.

Didampingi ibu dan adik bungsu, Ny Hartatik menceritakan, upaya penyembuhan sudah dilakukan ke puskesmas, RS, dokter, tabib, dan orang pintar, baik di Probolinggo, Malang, Bondowoso, Kediri, sampai Banyuwangi. Namun, semua tak membuahkan hasil. Bahkan, ia pernah dioperasi di RS Patrang dengan biaya sendiri.

Surya memberitahukan penderitaan Ny Hartatik ini kepada Ketua Koordinator Kegiatan Kesejahteraan Sosial (K3S) Pemkab Probolinggo Ny Tantri Hasan Aminuddin di sela-sela kegiatan tasyakuran penutupan manasik haji. Perempuan berparas cantik ini tersentak kaget. “Saya baru dengar ini. Kami akan upayakan pengobatan gratis,” katanya. ntiq/st35

Sumber: http://www.surya.co.id/2010/10/28/ny-hartatik-berharap-ada-keajaiban.html

Rabu, 27 Oktober 2010

Suami Riska Tewas, Bayinya yang Mirip Almarhum Jadi Pelipur Lara

Rabu, 27 Oktober 2010 | 10:36 WIB

Oleh Iksan Mahmudi

Banjir bandang di Wasior, Papua Barat, 4-6 Oktober lalu juga menghancurkan impian Abdullah dan keponakannya, Riska Yuni Rahmawati (25). Masa depan yang mereka bangun berantakan.

MERANTAU di Wasior sejak Oktober 2009, Abdullah sebenarnya sudah punya tabungan Rp 18,7 juta. Namun tabungan hasil ngojek yang dia kumpulkan berbulan-bulan itu ditelah air bah. ’’Motor saya ada dua, satu selamat, satu lagi hanyut,” ujarnya.

Abdullah bersama eks perantau Probolinggo yang kembali dari Wasior, Senin (25/1), berkumpul di rumah Agus Sudarsono (51), warga RT 05/RW 02, Dusun Triwung, Desa Warujinggo, Kec Leces. Agus adalah orang yang dituakan dalam kelompok perantau itu karena dialah yang mengajak mereka ke Wasior.

Termasuk yang ikut kumpul-kumpul adalah Riska Yuni Rahmawati, keponakan Agus. Dia mengaku tidak bisa melupakan banjir Wasior. Suaminya, Karel Paulus, seorang polisi, menjadi korban banjir dan meninggal dalam perawatan di rumah sakit.

Anak semata wayangnya, Kevin Karel Rumadas (8 bulan) menjadi satu-satunya penghibur. “Anak saya fisiknya persis ayahnya yang memang asli Papua,” ujar Riska sambil menggendong bayinya.

Sementara itu kedua orangtua Riski, Rahmad dan Elly, keponakan Riska, hingga kini tetap bertahan di Wasior. “Mas Rahmad, kakak kandung saya, sengaja tidak pulang ke Probolinggo karena menunggu harta benda yang tersisa,” ujar Lilik.

Selama bekerja di Wasior, para pekerja ini tinggal di rumah kontrakan. “Di sana biaya hidup mahal, rumah petak kontrakan Rp 400 ribu per bulan,” ujar Rudi Sudarsono, mantan perantau di Wasior lainnya.

Sepengetahuan Rudi, ada 12 pekerja asal Probolinggo yang bekerja di Wasior. Pasca banjir bandang, sebanyak 7 orang memilih pulang kampung. “Alhamdulillah semuanya selamat dari banjir bandang,” ujar Agus.

Murahman, eks perantau lainnya, belum bisa melupakan air bercampur lumpur dan gelondongan kayu seperti ditumpahkan dari langit. “Bunyi batu beradu dengan kayu-kayu gelondongan benar-benar mengerikan. Saat banjir surut, timbunan lumpur di Pasar Baru, Wasior hingga ketinggian 2-3 meter,” ujarnya.

Agus, eks perantau lainnya, menceritakan, dirinya diikuti sejumlah warga lain sempat melarikan diri dengan ngebut naik motor ke arah atas (gunung). “Tidak tahunya air dari gunung, kami pun terbirit-birit kembali ke bawah, menyelamatkan diri,” ujarnya.

Data Posko Darurat Bencana Banjir Bandang Kab Telukwandana, Papua Barat diketahui ada 20 pekerja asal Jatim, termasuk 7 pekerja asal Probolinggo, pulang. Mereka tidak tahan hidup di tenda daurat di lapangan tembak Makodim Manukwari, 6-20 Oktober. “Kami tidak kerasan tinggal di tenda-tenda yang dihuni sekitar 4.700 pengungsi,” ujar Murahman, eks perantau lainnya.

Akhirnya, bersama 20 pengungsi asal Jatim, ke-7 perantau asal Probolinggo itu bertolak ke Tanjung Perak, Surabaya, Rabu (20/10). “Kami naik KM Labobar, tiba di Surabaya, Kamis (21/10),” ujar Rudi Wahyudi. Sebelumnya dalam perjalanan laut Wasior-Manukwari, Rudi sempat menumpang kapal patroli. “Saya berbaur dengan belasan jenazah korban banjir yang akan dikirim ke Manokwari,” ujarnya.

Disinggung apakah mereka bakal kembali ke Wasior, Agus dan sejumlah pekerja asal Probolinggo mengaku masih pikir-pikir. “Kalau saya sudah bertekad ingin kembali ke Papua. Kalau ada yang meminjami uang Rp 1 juta, saya bukan meminta bantuan lho, saya berangkat kembali ke sana,” ujar Murahman. *

Suimber: http://www.surabayapost.co.id/?mnu=berita&act=view&id=946a74e58ff86d50c79ba0c5b146169b&jenis=1679091c5a880faf6fb5e6087eb1b2dc

Selasa, 26 Oktober 2010

Harta Ludes, Pulang Kampung Bawa Trauma Psikis

Selasa, 26 Oktober 2010 | 10:18 WIB

OLEH IKHSAN MAHMUDI

Banjir bandang di Wasior, Papua Barat, 4-6 Oktober lalu masih menyisakan duka mendalam bagi para korban. Termasuk sejumlah pekerja asal Probolinggo.

Meski sudah sekitar tiga minggu berlalu, kedahsyatan banjir bandang di Kec. Wasior, Kab Telukpondama, Propinsi Papua Barat masih membayang-bayangi sebagian warga yang jadi korbannya. Termasuk 12 warga Kota dan Kab Probolinggo yang bekerja di Bumi Cendrawasih itu.

“Sampai sekarang saya masih sering pusing-pusing, susah tidur. Saya sering menelan obat sakit kepala atau pil tidur,” ujar Agus Sudarsono (51), warga RT 05/RW 02, Dusun Triwung, Desa Warujinggo, Kec Leces, Kab Probolinggo, Senin (25/10).

Ketika mencoba berobat, dokter yang memeriksanya mengatakan, Agus menderita trauma psikis. Pria paro baya itu diminta tidak terlalu memikirkan peristiwa yang mengakibatkan ratusan jiwa melayang dan meluluhlantahkan distrik Wasior.

Pensiunan pegawai PT Kertas Leces (Persero) itu termasuk dituakan di antara 12 warga Probolinggo yang mengadu nasib di Wasior. Soalnya ia yang mengajak mereka bekerja di Wasior. “Saya berangkat ke Wasior pada 24 Oktober 2009. Ini surat jalan dari Kades Warujinggo masih saya simpan,” ujar Agus. Di sana ia bekerja serabutan mulai tukang ojek, pekerja proyek, hingga berdagang ia lakoni.

Sejumlah pekerja asal Probolinggo yang Senin siang itu berkumpul di teras rumah Agus juga menceritakan, latar belakang sampai mereka terdampar di Papua. “Cari kerja di Probolinggo sulit. Di Wasior dengan kerja menjadi tukang ojek saya bisa mengumpulkan uang sekitar Rp 2 juta per bulan,” ujar Rudi Wahyudi (41), warga asal Jl Brantas, Kel Kademangan, Kec Kademangan, Kota Probolinggo.

“Kerja apa saja di Wasior bisa mendatangkan uang, yang penting halal,” ujar Abdullah, juga warga Kademangan. Sebagai tukang ojek, ia mengaku bisa menabung dan mengirimkan uang untuk keluarganya di Probolinggo.

Hal senada diungkapkan Murahman (50), warga asal Desa Tegalmojo, Kec. Tegalsiwalan, Kab. Probolinggo. “Kerja buruh tani di Probolinggo upahnya tidak cukup, terpaksa saya merantau ke Irian,” ujarnya.

Meski kerja serabutan, sebanyak 12 pekerja asal Probolinggo mengaku bisa menopang ekonomi keluarganya. “Saya bangga meski kerja sebagai tukang ojek di Wasior bisa membiayai kuliah anak saya di Fakultas Kedokteran, Unair. Sekarang anak saya sudah dokter muda,” ujar Agus Sudarsono.

Lilik, istri Agus sesekali dalam sebulan mengunjungi suaminya di Wasior. Tidak sekadar melepas rindu, Lilik membawa barang dagangan berupa bawang merah, bawang putih, beras, telur, hingga gula kelapa ke Wasior.

“Akibat banjir bandang, 1 ton bawang merah, 3 kuintal bawang putih, dan 3 kuintal gula kelapa yang baru tiba di Wasior amblas diterjang banjir,” ujar Lilik. Saat kejadian banjir, perempuan berjilbab itu berada di Probolinggo.

Sementara motor sang suami, yang sehari-hari untuk ngojek, amblas terbawa banjir. “Relakan saja dibawa banjir. Ada teman saya asal Jombang, suami-istri yang mempertahankan motornya, hanyut dan tewas diterjang banjir,” ujarnya.

“Dua motor saya dan uang sekitar Rp 1,7 juta juga amblas,” ujar Murahman. Ia sempat naik pohon besar dan “bertengger” sekitar 2 jam demi menyelamatkan diri dari kepungan banjir. (bersambung)

Sumber: http://www.surabayapost.co.id/?mnu=berita&act=view&id=b62a3ad876173e9cdfa736b6ff74a8e6&jenis=1679091c5a880faf6fb5e6087eb1b2dc

Senin, 25 Oktober 2010

Derita Kakak-Adik Korban Ledakan Elpiji di Kota Probolinggo

Wajah Menghitam, Operasi Tak Ada Biaya

Jumaadi dan Rohim harus menjalani perawatan di RSUD Dr Moh. Saleh, Kota Probolinggo. Kakak dan adik warga Jalan KH Hasan Genggong, Wonoasih, itu mengalami luka serius karena ledakan elpiji. FAMY DECTA M., Probolinggo

PANAS... panas.... aduh...,’’ keluh Jumaadi sambil berbaring tak berdaya di bed kelas III ruang Bougenvile RSUD Dr Moh. Saleh.

Di depannya, si adik Rohim duduk di bed menempel tembok. Liana Hasyim, ibu Jumaadi dan Rohim, sibuk mengipas-ngipasi tubuh Jumaadi yang terkena luka bakar serius.

Jumaadi, 29, mengalami luka serius ketimbang adiknya. Wajah Jumaadi berwarna hitam dan melepuh.

Tubuh bagian dada, tangan, dan sedikit kaki terluka kena ledakan elpiji pada Kamis siang lalu tersebut. Sedangkan luka Rohim tidak separah Jumaadi. Muka Rohim pun menghitam alias gosong. Rambutnya masih kaku dan terbakar. Pemuda berusia 19 tahun itu masih bisa berbicara meski agak bergumam.

’Besok (hari ini) katanya disuruh operasi wajah (Jumaadi). Biaya lagi, kami dapat uang dari mana,’ tutur Eva Nurdiana, istri Jumaadi yang menemani suaminya di rumah sakit. Eva dan keluarga suaminya kebingungan soal biaya rumah sakit.

Biaya berobat Jumaadi dan Rohim selama penanganan di UGD (unit gawat darurat) belum terlunasi.

Paramedis menyarankan keluarga membeli kelambu untuk kedua pasien tersebut. Tujuannya, kelambu itu supaya luka Jumaadi dan Rohim tidak dihinggapi lalat.

Bila sampai itu terjadi, luka tersebut bisa membusuk. Karena biaya terbatas, keluarga baru beli sekelambu.

Mestinya, pembelian kelambu tidak perlu terjadi bila kedua pasien itu pindah ke kelas lebih bagus. Sebab, di ruangan itu tidak terdapat banyak pasien. ’Maunya kakak ini pindah saja. Tapi mau bagaimana lagi, biayanya tidak ada,’ ujar Musdhalifa, adik Jumaadi.

Musdhalifa dan Eva menceritakan, sejak setahun lalu Jumaadi berjualan elpiji ukuran 3 kg dan 12 kg di rumahnya di lingkungan RT 5/RW 1, Kelurahan Sumbertaman, Kecamatan Wonoasih.

Sejak memutuskan berdagang elpiji, sisi rumah paling barat dijadikan tempat menyimpan elpiji sekaligus toko.

Di situlah Jumaadi menyimpan elpiji kosong maupun yang ada isinya. Kamis siang (21/10) pukul 14.00 Jumaadi mencium bau elpiji bocor di sekitar rumahnya.

Pada saat bersamaan, ternyata Rohim sedang merebus air di dapur. Waktu itu Jumaadi belum menemukan tabung mana yang bocor. Tapi, ledakan keburu terjadi. Jumaadi terlempar hingga pintu tokonya ambrol.

Sedangkan Rohim yang baru saja mematikan kompor tiba-tiba dikejar api. Dia lari, tapi tetap tak lolos dari api.

Rohim yang saat itu berpakaian utuh menjadi telanjang. Pakaiannya habis terbakar dan hanya tersisa celana dalamnya. Dalam keadaan terbakar, Rohim masih bisa menyiramkan air ke sekujur tubuhnya.

Sedangkan Jumaadi hanya bisa gulung-gulung di pelataran rumah. ’Adik saya itu kena flu, Hidungnya punya polip. Jadi ndak bau kalau ada elpiji bocor,’’ kata Musdhalifah, saat kejadian sedang berada di rumah mertuanya.

”Kami benar-benar berharap ada bantuan dari dermawan, pemerintah atau Pertamina. Karena kami sungguh tidak memiliki biaya lagi,” ucap Eva dengan nada lirih diamini Musdhalifa dan mertuanya. (yud/bh)

sumber: http://www.jpnn.com

Sabtu, 23 Oktober 2010

Korban Elpiji 3 Kg Terbelit Biaya Rumah Sakit

Sabtu, 23 Oktober 2010 | 11:13 WIB
SP/Ikhsan Mahmudi JUMADI (30), korban ledakan elpiji ditunggu ibunya, Ny Lianah di RSUD. Sementara adiknya, Abdurrohim (27), dirawat di bed lain. Rumah mereka hancur kena ledakan elpiji 3 kg.

Ledakan elpiji Jumat (22/10) lalu menyisakan duka mendalam bagi Ny Lianah (60), warga Sumbertaman, Kota Probolinggo. Keluarga janda miskin itu kesulitan biaya kedua anaknya yang dirawat di RSUD.

OLEH IKHSAN MAHMUDI

PEREMPUAN tua itu tampak sibuk di antara dua dipan (bed) di Ruang Bougenvile, RSUD Dr Moch. Saleh, Kota Probolinggo. Di bed pertama tergeletak Jumadi (30), anak keduanya yang mengalami luka bakar di sekujur tubuh akibat ledakan elpiji.

Sementara di bed kedua, Abdurrohim (27), anak bungsunya duduk sambil mengerang-erang, “Panas, panas, panas ...”. Perempuan yang biasa dipanggil Nyonya Lilik itu terus mengibaskan kipas bambu untuk menyegarkan tubuh anaknya.

Ia dibantu anak ketiganya, Muzdalifah terus mengipasi kedua korban ledakan gas elpiji. “Anak saya empat orang, semuanya berada di rumah sakit, kecuali Sholehudin (anak sulung, Red.) jaga rumah,” ujar Ny Lilik.

Janda yang ditinggal mati suaminya, Hasyim itu tidak menyangka bakal menerima cobaan hidup demikian berat. Saat kejadian ledakan elpiji, Kamis siang, perempuan itu sedang menjalankan salat zuhur.

“Saya mendengar bunyi keras seperti geledek menyambar. Takut mengenai televisi, kabel antena saya copot,” ujarnya. Namun tidak seberapa lama ia mendengar jeritan histeris kedua anaknya.

Ia semakin kaget demi menyaksikan api membakar tubuh dan pakaian Jumadi. Sementara, si bungsu Abdurrohim yang berada di dapur tampak berusaha memadamkan api yang menjilat tubuhnya dengan menuangkan air dari ember plastik.

Sambil mengerang-erang menahan luka bakar sekujur tubuhnya, Jumadi mengatakan kepada ibunya, terjadi ledakan elpiji di rumah sekaligus toko. Begitu dahsyatnya ledakan, sampai-sampai rumah Ny Lilik temboknya retak-retak, genteng dan atap berjatuhan. Perabotan di rumah-toko berukuran sekitar 10 x 2 meter itu juga hancur berantakan.

Rumah-toko itu menyambung dengan rumah di sisi timurnya yang ditempati Sholehudin, anak sulung Ny. Lilik. Di rumah sederhana yang kini nyaris roboh itulah Ny Lilik tinggal bersama Jumadi dan Abdurrohim.

Jumadi dan istrinya, Eva Nurdiana (29) dan anak semata wayangnya juga tinggal di rumah yang sama. “Kebetulan saat terjadi ledakan, saya sedang kerja jadi pelayan toko di Jl Dr Soetomo, sementara anak saya yang berusia 22 bulan saya titipkan di kerabat,” ujar Eva.

Pengakuan Jumadi dan Abdurrohim kepada Muzdalifah akhirnya membuka kronologis ledakan mirip bom itu. “Meski kondisi kakak saya, Jumadi parah tetapi ia tidak sampai pingsan, demikian juga adik saya Rohim yang kondisinya lebih ringan. Keduanya masih bisa bercerita,” ujar Muzdalifah.

Siang itu di toko penyalur tabung elpiji yang dikelola Jumadi dan adiknya, Abdurrohim terjadi kebocoran tabung gas. Jumadi berusaha mencari tabung gas yang bocor di antara tumpukan tabung elpiji berukuran 12 Kg dan 3 Kg di tokonya.

“Adik saya Rohin menderita polip sehingga hidungnya tidak peka kalau ada gas bocor, ia malah menyalakan kompor elpiji di dapur, untuk membuat kopi,” ujar Muzdalifah. Akhirnya api dari arah dapur menyambar gas yang diduga telah memenuhi ruang toko dan ruang tengah.

Bagi Ny Lilik, Jumadi dan Abdurrohim merupakan tulang punggung keluarga. Sejak sekitar setahun lalu, Jumadi menyopiri pikap dengan kenek adiknya, Abdurrohim untuk memasok tabung-tabung elpiji ke sejumlah toko pengecer.

Kini, kedua tulang punggung keluarga janda itu telah tergolek lemah di dipan RSUD. “Kami urunan, dibantu kerabat, hingga mencari utangan untuk biaya rumah sakit,” ujar Muzdalifah.

Disinggung apakah sudah mendapat santunan dari pemerintah terkait ledakan elpiji, Muzdalifah menggelengkan kepala. “Saya tidak tahu apakah memang ada bantuan bagi korban ledakan elpiji. Yang jelas hingga kini, kami belum terima bantuan apa-apa baik dari Pemda atau pun dari Pertamina,” ujar perempuan berjilbab itu.

Yang jelas, hingga hari kedua dalam perawatan RSUD, keluarga tersebut sudah mengeluarkan Rata Penuhbiaya sekitar Rp 3 juta. “Tidak tahu nanti berapa biaya total selama perawatan di rumah sakit,” ujar Muzdalifah. *

Sumber: http://www.surabayapost.co.id/?mnu=berita&act=view&id=c74d57ee356e0e6e6f6854bbc0402167&jenis=1679091c5a880faf6fb5e6087eb1b2dc

Kamis, 21 Oktober 2010

Balita Kecemplung Air Panas

Kamis, 21 Oktober 2010 | 09:01 WIB

Probolinggo – Keteledoran Sulastri (30) mengakibatkan anaknya, Fairus Fatmawati (3) tercebur air bak berisi air mendidih. Akibatnya, bayi asal Kel Triwung Kidul, Kec Kademangan, Kota Probolinggo, hingga Kamis (21/10) masih dirawat di RSUD Dr Moch Saleh Kota Probolinggo.

Kulit di sekujur punggung, pantat, paha, hingga perut bocah itu melepuh dan mengelupas. Bocah itu sering menangis karena menahan luka di tubuhnya. Ia hanya bisa tengkurap sambil terus memegangi tangan ibunya. “Anak saya sering menangis, mungkin menahan rasa perih dan panas akibat terkena air panas,” ujar Sulastri di sela-sela menjaga anaknya di RSUD.

Sulastri menceritakan, sekitar seminggu lalu, tepatnya Jumat (15/10) sore, dia merebus nasi aking. “Nasi karak atau cengkaruk itu bukan untuk dimakan keluarga saya, tetapi untuk pakan kambing,” ujarnya. Setelah direbus hingga mendidih, nasi aking beserta air rebusan itu dimasukkan bak plastik. “Karena ada ipar saya minta diambilkan jambu, bak berisi cengkaruk panas itu saya letakkan di halaman,” ujar Sulastri.

Saat asyik mengambil jambu, Sulastri tak memperhatikan tingkah si Fairus, anak keduanya dari M Adhim. Anaknya itu berjalan mundur lalu tercebur bak plastik berisi air panas bercampur nasi aking tersebut. Sulastri pun sangat bersedih dan merasa bersalah. Suaminya tak bisa menjenguk anaknya karena masih kerja di kapal di Papua. isa

Sumber: http://www.surabayapost.co.id/?mnu=berita&act=view&id=ab69e81104955a94f5a064594621067e&jenis=c81e728d9d4c2f636f067f89cc14862c

Balita Tercebur Bak Air Mendidih

Nusantara / Rabu, 20 Oktober 2010 19:50 WIB

Metrotvnews.com, Probolinggo: Pilu nasib Fairus Fatmawati. Balita berusia tiga tahun itu tercebur ke bak air mendidih yang tadinya untuk campuran makanan kambing. Sekujur tubuhnya luka bakar serius.

Fairus Fatmawati, putri pasangan Adim-Sulastri, warga Triwung Kidul, Probolinggo, Jawa Timur. Fairus terkulai lemas di Rumah Sakit Probolinggo, Rabu (20/10). Tubuhnya melepuh.

Sulastri menceritakan saat itu ia mempersiapkan makanan kambing. Kakak Fairus datang meminta buah jambu. Sulastri memenuhi keinginan anak sulungnya itu. Tak sadar ia tinggalkan Fairus begitu saja. Fairus pun bermain tanpa penjagaan. Ia berjalan mundur hingga tercebut ke bak air mendidih.

Sulastri kaget bukan kepalang. Ia berusaha meraih tubuh anaknya. Terlambat, Fairus telanjur tercebur. Sulastri menyesal. Sang balita dirawat intensif di rumah sakit. (Krisna Misbach/*****)

Sumber: http://www.metrotvnews.com/read/news/2010/10/20/31978/Balita-Tercebur-Bak-Air-Mendidih/


Balita Nyemplung Air Panas

NASIB Fairus Fatmawati, bocah perempuan tiga tahun asal Kelurahan Triwung Kidul, Kademangan, Kota Probolinggo, sungguh malang. Dia kini dirawat di RSUD dr Moh. Saleh karena kulit tubuhnya melepuh setelah nyemplung (masuk) ke bak berisi air panas.

Putri pasangan Sulastri dan M. Adim itu mengalami luka bakar sampai 28 persen. Kulit tubuhnya mulai punggung ke bawah melepuh. Sampai kemarin, Fairus masih dirawat di RS.

Menurut informasi, peristiwa nahas itu terjadi pada Jumat (15/10) sekitar pukul 15.00. Sang ibu, Sulastri, saat itu menggodok karak yang akan diberikan kepada kambing mereka. Begitu karak dirasa sudah
matang dan airnya sudah mendidih, Sulastri pun memasukkannya ke dalam bak berukuran cukup besar. Lalu, bak berisi air dan karak itu dibawa ke halaman rumah untuk pakan kambing.

Tapi, belum sampai bak itu dibawa ke kandang kambing, ada seorang kerabat yang datang untuk meminta jambu. ’’Ada ipar minta jambu. Saya taruh dulu (bak, Red) di tanah,’’ tutur Sulastri kemarin (20/10).

Saat itu, Fairus sedang bermain di halaman rumah. Namun, tak lama kemudian, Sulastri melihat Fairus berjalan mundur mendekati bak itu. Dia pun langsung berlari dan berteriak mencegah Fairus. Tapi, usaha Sulastri sia-sia karena larinya kalah cepat. Fairus terlanjur masuk ke dalam bak berisi air panas tersebut. Sulastri langsung mengangkat dan melarikannya ke Puskesmas Ketapang. Selanjutnya, Fairus dirujuk ke RSUD. (rud/jpnn/c5/end)

Sumber: http://www.jpnn.com

Rabu, 20 Oktober 2010

Petani Anggur “Hancur”, Rugi Rp 3 M

Rabu, 20 Oktober 2010 | 09:56 WIB

PROBOLINGGO - Musim kemarau diwarnai hujan (kemarau basah) mengakibatkan ratusan petani anggur di Kota Probolinggo gagal panen. Sebagian tanaman anggur yang menyisakan buah pun terserang penyakit embun tepung (powdery mildew) dan karat daun.

“Dua tahun ini kami gagal panen anggur. Kalau pun ada beberapa batang yang berbuah, kualitasnya jelek,” ujar Ketua Kelompok Tani Anggur Sejahtera, Kel. Ketapang, Kec. Kademangan, Kota Probolinggo, Mudjiadi, Selasa (19/10).

Kelompok tani bertanam anggur sejak Februari 2003 silam ini mempunyai sekitar 6.000 batang anggur yang tersebar di berbagai kelurahan seperti Ketapang, Mayangan, Pakistaji, hingga Jrebeng Lor. “Di Ketapang yang merupakan induk dari kelompok tani terdapat 450 batang anggur, tetapi yang berbuah hanya 1-2 batang,” ujar Mudjiadi.

Alumnus Akademi Bank Malang (ABM) Malang itu kemudian menunjukkan para-para anggur yang masih menyisakan sejumlah tandan anggur berwarna hijau. “Anggur ini masih menyisakan buah karena letak para-paranya diapit rumah dan teras, sedikit terlindung dari hujan,” ujarnya.

Meski berbuah, sebagian tandan anggur diwarnai kehitam-hitaman. “Ini mulai terserang penyakit embun tepung atau powdery mildew, selain itu juga karat daun,” ujar Mudjiadi.

Dikatakan sejak bertanam anggur pada 2003, baru dua tahun terakhir ini para petani anggur di Kota Probolinggo gagal panen. “Tidak hanya di kota, perkebunan anggur milik lembaga penelitian di Banjarsari, Kabupaten Probolinggo, juga gagal panen. Kemarin orang dari Banjarsari ke sini. Katanya, dari sekian hektare, hanya menghasilkan 15 kilogram anggur,” ujarnya.

Ditanya berapa kerugian petani anggur akibat gagal panen, Mudjiadi kemudian membuat hitung-hitungan sederhana. Dikatakan Kelompok Tani Anggur Sejahtera mempunyai 6.000 batang anggur.

“Sebatang anggur menghasilkan 15-20 kilogram buah yang harganya sekitar Rp 25.000 per kilogram,” ujarnya. Dengan hitungan itu dalam sekali musim panen, petani anggur merugi Rp 2,25-3 miliar.

Mudjiadi mengakui, tanaman anggur bisa dibuahkan saat musim kemarau. “Anggur bisa diprogram kapan berbuah, yakni setelah daun dipangkas, anggur berbunga lalu berbuah. Dalam waktu 3 bulan setelah pemangkasan anggur bisa dipanen,” ujarnya.

Disinggung mengapa sekarang tidak dilakukan pemangkasan, Mudjiadi mengatakan, “Itu kalau kondisi daunnya sehat. Sekarang ini karena sering diguyur hujan daunnya tidak sehat, terkena karat daun.”

Ketika anggur gagal panen, kata Mudjiadi, petani anggur pun menganggur. “Beruntung saya masih bisa mengandalkan tanaman mangga di sela-sela kebun anggur, juga menjual bibit anggur,” ujarnya.

Kelompok tani anggur di belakang Mapolsek Kademangan itu juga menyediakan bibit anggur. “Bibit anggur kami jual Rp 10.000-Rp 15.000 per batang,” ujar Mudjiadi.

Permintaan bibit anggur selain dari Probolinggo juga datang dari berbagai kota seperti Lumajang, Pasuruan, Nganjuk, bahkan dari Bogor dan Tangerang. Setiap bulan kelompok tani bisa menjual 200-300 bibit anggur.

Disinggung jenis anggur yang ditanam kelompoknya, Mudjiadi menyebutkan sangat beragam. “Yang banyak ditanam Red Prince dan Red Globe yang kemudian dinamakan Prabu Bestari dan Probolinggo Super. Selain itu ada anggur Cardinal, Caroline Black Rose, Muskato, Belgie, dan Malaga,” ujarnya.

Mudjiadi mengaku berbangga karena kelompok taninya pernah dikunjungi Mentan Anton Apriantono pada 2006 silam. Tidak sebatas memanen anggur, Mentan saat itu juga memberikan bantuan modal kerja kepada petani anggur. isa

Sumber: http://www.surabayapost.co.id/?mnu=berita&act=view&id=9653d0a3230bdd09490bb9e79e1ebfb9&jenis=1679091c5a880faf6fb5e6087eb1b2dc

Selasa, 12 Oktober 2010

Nenek Siramkan Air Panas ke Cucu

Foto : surya/Atiqalirahbini

PROBOLINGGO I SURYA Online - Diduga gara-gara kesal terhadap menantunya, nenek berinisial Jr, 50, melampiaskan kemarahan kepada cucunya, Muhammad Brama. Jr menyiram bocah berusia 3,5 tahun itu dengan air panas. Ibu Kandung korban yang juga menantu sang nenek, Ny Maryam, 30, pun melaporkan Jr ke Mapolres Probolinggo, Senin (11/10/2010) malam.

Anak semata wayang hasil pernikahan Maryam dengan Ubaidillah tersebut mengalami luka bakar di lengan kiri dan bahu. Sampai Selasa (12/10) Brama masih terlihat kesakitan.

Jr tega menganiaya cucunya diduga lantaran kesal kepada NY Maryam, yang tengah pisah ranjang dengan Ubaidillah. Minggu (10/10), Brama diajak Ubaidillah ke rumahnya di Desa Asembagus, Kecamatan Kraksaan.

Ny Maryam, yang tinggal di Desa Bulu, Kecamatan Kraksaan, mengizinkan anaknya dibawa. Namun, setelah dikembalikan ke rumahnya, Maryam kaget lantaran anaknya merintih kesakitan.

“Pada waktu itu, ayahya memberi uang Rp 50 ribu, dan minta supaya tidak ramai dan Brama disuruh dibawa berobat,” kata Maryam.

Setelah Brama ditanya sang ibu, ia mengaku disiram air panas oleh neneknya. “Makanya, saya laporkan saja ke polres. Saya tidak terima, kalau anak saya yang jadi pelampiasan rasa kesal neneknya,” tegas Maryam.

Kasat Reskrim Polres Bojonegoro, AKP Heri Mulyanto, mengaku masih mempelajari kasus tersebut. “Kami akan selidiki dulu. Nanti akan ketahuan, laporan ini cukup bukti atau tidak. Jika terbukti, bisa dijerat pasal kekerasan dalam rumah tangga,” katanya.

Sumber: http://www.surya.co.id/2010/10/12/nenek-siramkan-air-panas-ke-cucu.html


Jumat, 08 Oktober 2010

Perkosa Korban, Pencuri Bercadar Ambil Uang & HP

08/10/2010 - 09:23
Abdullah Mubarok

INILAH.COM, Probolinggo - Seorang penjaga warung, UK (20), diperkosa pencuri yang menyatroni warung milik Susiana (50), warga Jalan Juanda Gang 3, kelurahan Tisnonegara Kecamatan Kanigaran, Kota Probolinggo, Jawa Timur.

Pencurian dan pemerkosaan terjadi di warung yang berlokasi di Jalan Lumajang, Kelurahanan Jrebeng Lor, Kecamatan Kedopo, Kota Probolinggo, Kamis (7/10) dinihari.

Saat itu korban sedang tidur terlelap bersama pemilik warung Susiana di ranjang bambu. Tanpa disadari ada seseorang bercadar masuk warung dan mengambil uang di kotak penyimpanan.

Korban yang curiga ada maling, kemudian bangun. Baru mau beranjak dari tempat tidur, pelaku langsung membekap korban dan membawanya ke pinggir sungai di belakang warung.

Karena diancam akan dibunuh korban menuruti ajakan pelaku pencurian. Sesampai di pinggir sungai, korban paksa melayani nafsu maling bercadar.

Selain itu, uang hasil penjualan warung nasi sebanyak Rp972 ribu dan sebuah ponsel juga dibawa kabur pelaku.

Usai kejadian, UK bersama majikannya melaporkan kejadian ke Mapolresta Probolinggo. "Saya tak menyangka akan menjadi korban pencurian dan pemerkosaan pak," kata UK pada penyidik.

Menurut dia, usai menuntaskan birahinya, korban juga sempat mengancam akan membunuh bila bercerita pada orang lain atau melapor polisi. "Ciri-ciri pencurinya itu, pendek, gemuk, dan berkumis pak," jelasnya.

Menyusul adanya laporan pencurian disertai pemerkosaan itu, Kasat Reskrim Polresta Probolinggo, AKP Agus I Supriyanto, mengatakan akan menyelidiki dan mengungkap kasus pencurian dan kekerasan yang menimpa pemilik warung dan pembantunya itu.

"Kami akan selidik kasus ini, untuk itu kami akan mintai keterangan yang lebih jelas dan rinci," jelasnya. [beritajatim.com/nic]

Sumber: http://www.inilah.com/news/read/2010/10/08/875601/perkosa-korban-pencuri-bercadar-ambil-uang-dan-hp/

Kuras Harta, Perampok Perkosa Korban

Bekap Mulut dan Ancam dengan Celurit

PROBOLINGGO – Teror perampokan disertai perkosaan terjadi lagi di Kota Probolinggo. Kali ini yang jadi korban adalah Umi Kulsum, 23, warga Bantaran, Kabupaten Probolinggo, yang tinggal bersama budhe-nya di Kelurahan Jrebeng Lor, Kedopok, Kota Probolinggo.

Pelaku berhasil membawa kabur duit Rp 972 ribu, sebuah HP, dan sebuah jam tangan berlapiskan emas seharga Rp 500 ribu. Total, korban diperkirakan merugi Rp 2 juta.

Namun, bukan cuma itu keru giannya. Dalam peristiwa yang terjadi dini hari kemarin (7/10) itu Umi juga diseret pelaku ke areal kosong bekas ladang jagung. Di situ Umi diperkosa dengan ancaman bunuh.

Kemarin Umi melaporkan kasus tersebut ke Polres Probolinggo Kota. Selanjutnya, polisi menda tangi dan melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP). Umi juga dibawa ke RSUD dr Moh. Saleh untuk divisum.

Informasi yang dihimpun menyebutkan, sejak empat hari lalu Umi tinggal bersama budhenya, Susi, di Kelurahan Jrebeng Lor. Umi berniat membantu Susi mengurus warung di Jl Lumajang, Jrebeng Lor. Sebab, sejak beberapa pekan lalu Susi sakit-sakitan. Sedangkan tiga pembantunya berhenti kerja. Karena itu, Umi datang dengan niat membantu.

Warung Susi itu buka sejak magrib sampai subuh. Selain menjadi tem pat usaha, warung itu juga jadi tem pat tinggal. Maka, Umi pun tinggal bareng Susi di warung itu.

Nah, kemarin (7/10) warung itu tutup lebih awal, yakni sekitar pukul 02.30. Umi dan Susi tidur di ruang tengah warung berukuran 6 x 12 meter tersebut. Di tengah tidurnya, Umi mendadak dibangunkan oleh seorang lelaki bertopeng. Lelaki bertubuh kekar itu langsung menutup mulut Umi dan mengalungkan sebuah celurit. ”Tiba-tiba dia (pelaku) sudah di depan mata saya,” jelas Umi.

Pelaku mengancam Umi agar tidak berteriak. Umi pun pasrah dan menuruti perintah pelaku. Lelaki bertopeng itu mengajak Umi keluar dari warung berdinding gedhek tersebut melalui pintu belakang. Umi dibawa ke sebuah lahan kosong bekas kebun jagung sekitar 100 meter dari warung.

Di lahan kosong itu pelaku memerkosa Umi dengan ancaman celurit. Menurut dia, waktu itu pelaku menggunakan bahasa Madura.

Setelah memerkosa Umi, pelaku tidak langsung kabur. Dia masih meninggalkan ancaman bunuh kepada Umi. ”Dia (pelaku) sempat membuka topengnya. Dia berkumis dan agak hitam,” ujarnya.

Setelah pelaku kabur, baru Umi berlari ke warung Susi. Ternyata Susi masih tidur. ”Saya tahunya sekitar pukul 04.00. Saat itu dia (Umi, Red) membangunkan saya. Dia sambil nangis,” ujarnya.

Setelah mendengar cerita itu, Susi menelepon Polsek Wonoasih. Tak lama kemudian polisi datang dan melakukan olah TKP.

Ternyata, sebelum memerkosa Umi, pelaku menggondol duit Susi Rp 972 ribu, sebuah HP dan jam tangan senilai Rp 500 ribu. (rud/jpnn/c2/zen)

Sumber: http://www.jpnn.com

Perampok Gendut Perkosa Korban

Jumat, 8 Oktober 2010

Probolinggo - SURYA- Perampok satu ini sungguh kurang ajar. Selain menggasak harta benda, ternyata dia juga memperkosa korban. Peristiwa ini terjadi di warung lesehan Jl Lumajang Kel Jrebeng Lor, Kec Kedopok, Kota Probolinggo, Kamis (7/10) dini hari.

Korban adalah Ny Umi Kulsum, 20, janda kembang, yang saat itu membantu bibinya, Ny Susiana, 50, mengelola warung. Harta yang dibawa kabur adalah uang tunai Rp 972.000, ponsel Nokia, dan jam tangan seharga Rp 500.000. Kasus ini dilaporkan ke SPK mapolresta, Kamis (7/10) pagi.

Perampok bertubuh gendut, bercadar, dan bercelurit, masuk ke warung dengan mencongkel pintu belakang. Saat itu, dua korban tengah tertidur pulas. Ny Umi terjaga dan tersentak kaget saat ada lelaki mengalungi lehernya dengan celurit. “Jangan berteriak, ayo ikut saya,” ujar Ny Umi menirukan lelaki itu. Ny Umi dibawa ke sungai, sekitar 100 meter dari warung. “Saya digarap di pinggir kali,” aku perempuan yang baru setahun menjanda itu dengan wajah sedih. Ny Susiana baru mendengar kejadian itu subuh saat diberitahu Ny Umi.

Kasat Reskrim AKP Agus I Supriyanto mengatakan, pihaknya tengah menyelidiki kasus ini. n st35

Sumber: http://www.surya.co.id/2010/10/08/perampok-gendut-perkosa-korban.html

Selasa, 05 Oktober 2010

Diduga Stres, Tentara Bongkar Makam Ibu

PROBOLINGGO – Warga RT 1/RW 3, Kelurahan Curahgrinting, Kecamatan Kanigaran, Kota Probolinggo, kemarin (30/9) dikejutkan oleh tindakan seorang warga setempat, M. Chonis. Lelaki yang juga seorang anggota TNI itu nekat membongkar makam ibunya di pemakaman umum Pilang.

Informasinya, Chonis melakukan itu setelah mendapat bisikan gaib. Untung tindakan Chonis dihentikan babinsa dan subdenpom setempat.

Saat Chonis membongkar makam ibunya, beberapa warga berada di sekitar makam. Chonis yang berpangkat serma mulai menggali kuburan ibunya sekitar pukul 09.00.

Untuk menggali makam ibunya yang meninggal pada Februari 2010 tersebut, Chonis memakai cangkul pinjaman tetangga. Menurut keterangan warga setempat, pria berusia 34 tahun yang masih membujang itu saat ini berdinas di Kodim 0828 Sampang, Madura.

Ada dugaan, Chonis mengalami gangguan psikologi hingga nekat menggali kuburan ibunya. ”Katanya, dia (Chonis) mendapat bisikan untuk mengambil sesuatu di makam ibunya. Lalu, dia mencarinya,” kata Bintara Pembina Desa (Babinsa) Serka Muksin kemarin.

Muksin mengatakan mengetahui kejadian itu setelah ada warga yang melapor. ”Saat melihat itu, warga tidak berani mendekati atau melarang. Akhirnya, warga memanggil saya. Kebetulan, saya babinsa di sini,” ujarnya.

Muksin segera datang ke pemakaman dan melihat rekan satu korpsnya tersebut menggali makam. Muksin sampai di pemakaman sekitar pukul 10.15. ”Galiannya masih sekitar 50 cm. Saat datang, saya langsung dekati dengan persuasif. Pelan-pelan saya menenangkan dia,” ceritanya.

Mendekati Chonis ternyata tidak mudah. Butuh waktu cukup lama agar Chonis mau meng hen tikan galiannya dan mening galkan makam. Sekitar pukul 11.00 Chonis akhirnya dibawa pergi dari makam. Dia lalu ditenangkan di rumahnya.

(fa/jpnn/c7/zen)

Sumber: http://www.jpnn.com

Rabu, 29 September 2010

Banyak Petani Bawang Gagal Penen

[ Rabu, 29 September 2010 ]
PROBOLINGGO- Musim panen tahun ini mestinya mendatangkan untung bagi petani bawang Probolinggo. Akan tetapi hal itu tidak terjadi karena banyak di antara mereka mengalami gagal panen. Akibatnya, mereka tidak mendapatkan untung sepeser pun.

Seperti yang dialami Supandi, 55, warga Keluarahan Kebonsari Kulon, Kota Probolinggo. Tahun ini, ia menanam bawang pada delapan petak sawah yang ia sewa. Untuk tanaan ini, ia telah mengeluarkan modal sebesar Rp 11 juta. "Modal saya sebelas juta," katanya saat ditemui di pasar bawang di kawasan Dringu, Kabupaten Probolinggo.

Akan tetapi, bawang yang ia tanam mengalami gagal panen. "Rusak semua hingga tidak ada yang bisa dipanen," ujarnya lagi. Karena keadaan ini, delapan petak sawah yang disewanya ia kembalikan lagi ke pemiliknya. Disebutkan Supandi, gagal penen tahun ini disebabkan oleh musim yang tidak menentu. Selain itu, juga disebabkan banyaknya hama yang tidak bisa diatasi.

Dalam pantauan Radar Bromo, banyak cara dilakukan petani untuk mengantisipasi gagal panen ini. Salah satunya yakni menutupi tanaman bawang mereka dengan jaring. Ikhtiyar sudah dilakukan. Hasilnya, Tuhan yang menentukan. (qb/nyo)

Sumber: http://www.jawapos.co.id/radar/index.php?act=detail&rid=181937

Kamis, 23 September 2010

Pingsan di Angkot, Tewas di RSUD

[ Kamis, 23 September 2010 ]

PROBOLINGGO - Para penumpang sebuah angkot (angkutan kota) line D di Kota Probolinggo kemarin (22/9) dibikin geger oleh Rubaiyah, 80. Warga Nguling, Pasuruan itu mendadak pingsan saat masih di atas angkot.

Para penumpang dan sopir angkot tersebut terkejut. Sang sopir pun membanya wanita tua itu ke RSUD Dr Moh. Saleh. Tapi, baru lima menit dirawat, Rubaiyah sudah menghembuskan napas terakhirnya.

Dari informasi yang dihimpun Radar Bromo, Rubaiyah naik line D dari pasar Gotong Royong. Ia membawa barang-barangnya cukup banyak. Di antaranya, dua tas besar dan 4 jerigen. "Sepertinya, dia pedagang jamu," ujar Abdul Bahri salah seorang petugas di kamar mayat.

Dari pasar Gotong Royong, tidak ada gelagat mencurigakan pada Rubaiyah. Hanya, begitu memasuki Jl Panjaitan, tiba-tiba saja dia ambruk. Untung saja waktu itu, ia tidak duduk dip inggir pintu. "Kalau duduk diluar pintu, bisa nggelundung dia," ujar Bahri.

Kabar itu pun terendus oleh aparat kepolisian. Tak lama kemudian, petugas kepolisian dari Polresta Probolinggo mendatangi RSUD. Mereka langsung mengecek keberadaan korban dan melakukan pendataan.

Polisi sempat kesulitan untuk mengetahui identitas korban. Pasalnya, korban tidak membawa kartu identitas. Polisi hanya menemukan sebuah dompet berisi duit sebanyak Rp 19.750.

Begitu dinyatakan meninggal, jenazahnya langsung dipindah ke kamar mayat. Bahri pun merencanakan, jenazah itu dimasukkan ke dalam pendingin jenazah. Itu, untuk mengantisipasi kalau keluarganya tak juga datang.

Tapi, rencana itu gagal. Lantaran, kemarin (22/9) sore keluarganya dari Nguling datang dan langsung membawa jenazah Rubaiyah pulang. "Keluarganya datang dan langsung membawanya pulang. Mati biasa, tidak ada tanda-tanda adanya kekerasan," jelas Abdul Bahri. (rud/yud)

Sumber:
http://www.jawapos.co.id/radar/index.php?act=detail&rid=180582

Rabu, 22 September 2010

Petani Tembakau Rugi Rp 14 M/Hari

Rabu, 22 September 2010 | 10:48 WIB

PROBOLINGGO - Petani tembakau di Kabupaten Probolinggo rugi Rp 1,4 miliar setiap hari selama dua pekan terakhir. Kerugian itu berasal dari rusaknya tembakau rajangan karena tidak terjemur matahari secara sempurna. Data itu diungkap Ketua Asosiasi Petani Tembakau Indonesia (APTI) Kabupaten Probolinggo H Muzammil.

Muzammil menghitung, areal tembakau seluas 11.475 hektare (Ha) sudah dipanen sekitar 20% dalam bentuk tembakau rajangan. Ketika hujan turun, tembakau rajangan yang dijemur alami dengan mengandalkan sinar matahari banyak yang rusak. Tembakau rajangan yang menghitam akibat guyuran hujan, kata H Muzammil, harga sekitar Rp 8.000/Kg. “Yang jelas tembakau tambelik (warna menghitam) harganya di bawah Rp 10.000 per kilo,” ujarnya dihubungi Surabaya Post, Selasa (21/9).

Sisi lain, jika penjemuran tembakau rajangan itu sempurna karena terik matahari, harganya bisa Rp 30.000-32.000/kg. Selisih harga tembakau rajangan berkualitas dengan tembakau tambelik inilah yang kemudian dihitung pihak APTI. ’’Akhirnya ditemukan, setiap hari ada kerugian sekitar Rp 1,4 miliar. Padahal sejak dua pekan lalu, selama 10 hari Probolinggo diguyur hujan. Yang tinggal mengalikan Rp 1,4 miliar dikalikan 10 hari, ketemu Rp 14 miliar,” ujarnya.

Kerugian petani tembakau, kata H Muzammil, sebenarnya jauh lebih besar dari Rp 14 miliar. Soalnya di awal tanam tembakau, banyak bibit tembakau yang mati. Sebagian petani mengganti 2-3 kali benih yang mati dengan bibit baru dan tentu saja dengan biaya tanam tambahan.

Dalam kondisi normal, kata Muzammil, perputaran uang dalam transaksi tembakau di Probolinggo luar biasa besarnya. ’’Kondisi normal itu tidak ada hujan sehingga tembakau rajangan benar-benar kering, gudang-gudang pabrik rokok di Probolinggo mengeluarkan uang Rp 10 miliar- Rp 14 miliar per hari,” ujarnya.

Angka transaksi tembakau sebesar itu diketahui saat pengurus APTI Kab Probolinggo bersama Dinas Perkebunan dan Kehutanan (Disbunhut) Kab Probolinggo menggelar sidak ke sejumlah gudang pembelian tembakau. ’’Dua gudang tembakau milik Gudang Garam dan Sampoerna sudah membeli tembakau petani sejak akhir Agustus lalu, namun belum mencapai 200 ton. Mungkin karena kondisi masih belum normal betul,” ujar Muzammil.

Meski sebagian petani tembakau di Probolinggo merugi, Ketua APTI Jatim H Amin Subarkah menilai petani tembakau di daerah lain di Jatim merugi lebih parah. “Saya menerima laporan, petani tembakau di kawasan barat seperti Tulungagung, Ngawi, dan Madiun rusak parah,” ujarnya tadi malam.

Amin yang juga petani tembakau di Kraksaan, Kab Probolinggo itu menilai tembakau Madura yang selama ini tergolong unggulan juga jeblok tahun ini. “Bahkan harga tembakau Madura tahun ini paling tinggi Rp 26 ribu, kalah jauh dibandingkan tembakau Probolinggo yang menembus angka Rp 32 ribu di tingkat petani,” ujarnya.

Demi menyikapi dampak buruk kemarau basah terhadap nasib petani tembakau, APTI Jatim dan Disbunhut Jatim bakal membahasnya di Hotel Utami, Sidoarjo, 4-5 Oktober mendatang. ’’Akan kami laporkan kerusakan tembakau di berbagai daerah akibat guyuran hujan, sekaligus dibahas bagaimana solusinya,” ujar Amin. isa

Sumber: http://www.surabayapost.co.id/?mnu=berita&act=view&id=67a0df3c2f1bb6fbc4f501515518dd21&jenis=1679091c5a880faf6fb5e6087eb1b2dc

Hujan Angin Mulai Bawa Korban

[ Rabu, 22 September 2010 ]
Ambrukkan Rumah Pasangan Jompo

KREJENGAN - Musim penghujan yang mulai datang tahun ini ternyata sudah memakan korban. Rumah Sari, 90, warga Dusun Krajan, Desa Sumberkatimoho, Krejengan, Kabupaten Probolinggo ambruk terhempas hujan disertai angin yang terjadi di daerah itu.

Akibatnya, Sari dan istrinya terpaksa numpang di rumah Bakri, 45, anak Sari. Sebab rumah itu hanya terbuat dari anyaman bambu. Jadi begitu roboh, seluruh rumah ambruk dan tak bisa ditempati. "Kondisinya sudah seperti itu. Ya tidak bisa ditempati lagi," ujar Sari saat ditemui di rumah Bakri.

Peristiwa itu sendiri sebenarnya sudah lama terjadi. Yakni pada hari ke 27 Ramadan atau 6 September. Beruntung, saat kejadian Sari dan istrinya tidak berada di dalam rumah. Jadi, keduanya tak mengalami luka apapun. "Saya sedang mandi di sungai. Istri saya sedang keluar rumah," kata Sari.

Karena sedang tidak di rumah, keduanya mengaku tidak tahu saat rumahnya ambruk. Sari baru mengetahui setelah seorang tetangganya memberitahu kejadian itu. "Ternyata di rumah sudah ramai," tutur Sari.

Akibatnya tak sedikit. Sejumlah barang pecah belah di rumah itu tidak hancur. Seperti piring, gelas dan nampan. Selain itu, genteng rumah tersebut seluruhnya amblas. Yang bisa diselamatkan hanya sebuah panci dan tempat tidur pasangan jompo tersebut.

Dalam pengamatan Radar Bromo, rumah Sari berada di belakang rumah Bakri. Sehingga rumah Sari tak terlihat dari jalan. Rumah itu terbuat dari anyaman bambu yang tak rapi.

Saat masih ditempati, rumah berukuran 3 meter x 3 meter itu hanya diisi dua buah tempat tidur dari bambu. Tidak ada ruang tamu. Namun, rumah itu juga difungsikan sebagai dapur. Berkumpul dengan tumpukan kayu bakar beserta perapian dari tanah.

Sari mengaku sudah menempati rumah tersebut selama tiga tahun. Hal itu dibenarkan Bakri, anaknya. Menurut Bakri, rumah itu sengaja dibuat karena Sari dan istrinya berniat pisah rumah dengan Bakri.

Alasannya, karena rumah yang ditempati Bakri dianggap tak cukup. "Jadi saya buatkan (rumah) di belakang rumah saya," ujar Bakri.

Sari mengatakan, dia dan istirnya tak mampu lagi bekerja. Sehingga beban keluarganya cukup berat. Padahal Bakri juga bukan orang mampu. "Kadang dikasih nasi atau uang. Karena memang sudah tak bisa bekerja," ujar Sari.

Sementara itu Koordinator Tenaga Kesejahteraan Sosial Kecamatan (TKSK) Krejengan Nanang Fadlil mengatakan, pihaknya segera mengusulkan bantuan untuk perbaikan rumah Sari. Yakni kepada Dinas Sosial Kabupaten Probolinggo. "Sedang kami upayakan. Tentunya dengan prosedur," ujar Nanang yang berada di rumah Sari saat Radar Bromo berkunjung.

Kasi Trantib Kecamatan Krejengan Gunawan memberikan penjelasan serupa dengan Nanang. Gunawan membenarkan ambruknya rumah Sari. Bahkan pihaknya sudah meninjau kerusakan di rumah tersebut. "Tadi (kemarin) pagi, kami sudah ke sana," ujar Gunawan melalui ponselnya. (eem/hn)

Sumber: http://www.jawapos.co.id/radar/index.php?act=detail&rid=180403

Selasa, 21 September 2010

Hujan, Harga Kopi pun Turun

[ Senin, 20 September 2010 ]
TIRIS - Keresahan yang dirasakan petani karena tingginya intensitas hujan semakin meluas. Tidak hanya meresahkan petani Tembakau dan garam. Petani Kopi pun merasakan keresahan yang sama. Sebab cuaca yang tidak bersahabat itu menyebankan harga jual Kopi turun.

Seperti yang dirasakan petani di perkebunan Kopi Desa Ranu Gedang, Kecamatan Tiris, Kabupaten Probolinggo. Berbeda dengan tembakau dan garam yang harganya masih stabil. Saat ini harga jual Kopi malah turun hingga 50 persen.

Dalam pantauan Radar Bromo, kebanyakan petani di Desa Ranu Gedang sedang mengeluh. Seperti yang diutarakan Awir, 35, petani Kopi setempat. Menurutnya saat ini harga Kopi turun drastis. Kondisi itu membuat banyak petani kopi putus asa. "Harganya turun drastis, Mas," ujarnya.

Petani pun dibuat khawatir dengan kisaran harga jual Kopi saat ini. Harga tertinggi, yakni Rp 14 ribu. Sementara terendah Rp 8 ribu-Rp 9 ribu.

Awir lantas menjelaskan, ada tiga jenis kopi yang biasa ditanam masyarakat. Yakni kopi jenis Nangka, Torabika dan biasa. Dari jenis tersebut, yang paling baik adalah jenis Nangka. Kemudian jenis Torabika dan biasa.

Harga jenis Nangka saat ini berkisar Rp 14 ribu. Padahal selama Ramadan, harganya mencapai Rp 24 ribu. "Turun sampai 10 ribu rupiah," ujar Awir.

Sementara kopi Torabika saat ini berkisar pada angka Rp 12 ribu. Padahal sebelumnya harganya sekitar Rp 20 ribu. Sedangkan kopi biasa harganya jatuh hingga Rp 9 ribu rupiah. "Kopi biasa sebelumnya 16 ribu rupiah," sebut Awir.

Awir mengatakan, turunnya harga itu salah satunya disebabkan hujan. Sebab sifat tanaman Kopi memang cenderung rentan terhadap hujan. Jika hujan terus turun, maka daun-daun Kopi akan runtuh. "Selain itu aroma Kopi juga berkurang," terang Awir.

Belum lagi penanganan pasca panen atau saat penjemuran. Hujan yang terus turun membuat Kopi yang dijemur susah kering. Bahkan terguyur hujan. "Ya sudah (terguyur hujan, Red), dibiarkan saja. Meski ditolong, tetap saja basah," ujarnya.

Menurutnya, Kecamatan Tiris memang memiliki curah hujan cukup tinggi. Sebelum kecamatan lain hujan, biasanya hujan turun lebih dulu di Tiris. Hal ini juga berlaku di beberapa kecamatan di dataran tinggi.

Hal serupa disampaikan Ny Miran, 30, tetangga Awir yang juga petani Kopi. Miran mengaku mengalami kerugian cukup besar. Tak lain karena harga Kopi sedang turun. Padahal modal tanamnya cukup besar. "Itupun pinjam," ujarnya.

Menurutnya, dirinya sudah panen kopi. Namun hasilnya sama sekali tak memuaskan. "Bagaimana ini, kok semrawut," keluhnya.

Sementara Kepala Dinas Perkebunan dan Kehutanan Kabupaten Probolinggo Ir. Nanang Trijoko Suhartono membenarkan turunnya harga kopi saat ini. Namun menurut Nanang, penurunannya tak terlalu signifikan. Selain itu, petaninya tak terlalu banyak. "Tak seperti petani Tembakau," ujar Nanang kepada Radar Bromo.

Salah satu penyebabnya kata Nanang karena komoditas Kopi juga bergantung pada curah hujan. Terutama penjemuran Kopi pasca panen. Nanang pun berharap, hujan tak terlalu sering terjadi. Setidaknya tidak sampai membuat kerugian bagi petani.

Namun, Nanang mengaku tidak bisa memberikan banyak komentar tentang hujan yang intensitasnya cukup tinggi akhir-akhir ini. "Terkait hujan kita tak bisa banyak berkomentar. Itu sudah faktor alam," kata Nanang. (eem/hn)

Sumber: http://www.jawapos.com/radar/index.php?act=detail&rid=180047

Jumat, 17 September 2010

Mau Silaturrahim, Istri Dihajar

[ Kamis, 16 September 2010 ]
PROBOLINGGO - Puji Suwasti W., 27, kemarin (15/9) bersama tiga anaknya mendatangi SPK (sentra pelayanan kepolisian) Polresta Probolinggo. Warga Kelurahan Sukabumi, Kecamatan Mayangan, itu mengadukan suaminya, Imam Fajri. Puji mengaku telah dibogem suaminya.

Bogeman itu membuat Puji mengalami memar di kepala, telinga, dan sobek di pelipis kirinya. Puji mengaku tidak terima dengan apa yang telah dilakukan oleh suaminya. Ia berniat memberi pelajaran dengan melaporkannya ke polresta. "Sudah terlalu sering saya dipukuli," ujarnya.

"Acara" bogeman yang diterima Puji dipicu masalah rencana silaturrahim. Ceritanya, saat lebaran Jumat (10/9) lalu Puji mengajak suaminya untuk bersilaturrahim ke sanak saudaranya di Krucil, Kabupaten Probolinggo. Tapi, Imam selalu berjanji dan menunda-nunda waktu.

Karena Imam hanya bisa berjanji, akhirnya kemarin (15/9) Puji berniat pergi ke Krucil dengan tiga anaknya, tanpa Imam. Tapi, tiba-tiba Imam marah-marah karena merasa tidak dipamiti. "Bagaimana mau pamit kalau sejak pagi dia (Imam, Red) nggak mau ngomong," ujar Puji.

Menurut Puji, Imam yang semula tiduran lalu berdiri dan menghampiri istrinya. Dalam amarahnya, Imam melayangkan bogem ke muka Puji. "Telinga kanan sekarang rasanya nggak bisa mendengar," keluh Puji di mapolresta.

Imam semakin kalap ketika Puji mencoba melawan. Puji pun berhasil memukul pipi suaminya dengan sandal. "Kalau pelipis yang luka ini terkena akik yang dipakainya," tutur Puji sambil meneteskan air mata.

Kegaduhan itu mereda setelah ibu kandung Puji, Anik, datang melerai. Puji segera menyerahkan anak bungsunya, Ais, agar tidak menjadi sasaran pemukulan. "Semua anak-anak ke rumah ibu. Saya sendiri keluar lewat pintu belakang dan meloncat pagar," ujarnya.

Berhasil lepas dari amukan suaminya, Puji langsung kabur ke mapolresta dan melaporkan suaminya. Ibu empat orang anak itu, mengaku sudah cukup lama bersabar atas perlakuan suaminya. Tapi, suaminya tidak pernah berubah.

Malah semakin bersabar, Imam sepertinya semakin sering ngamuk. Dan, semakin tidak memperhatikannya. Utamanya dalam urusan belanja. "Masak, belanja 1 hari hanya diberi Rp 5 ribu. Paling besar hanya Rp 8 ribu. Pernah selama bulan puasa kemarin, 1 minggu saya tidak diberi uang belanja," ujarnya.

Kapolresta Probolinggo AKBP Agus Wijayanto melalui Kasatreskrim AKP Agus I Supriyanto menyatakan, pihaknya masih melakukan pemeriksaan terhadap pelapor. Selanjutnya akan diperiksa juga beberapa saksi, hingga bisa melakukan pemanggilan terhadap terlapor yakni Imam Fajri.

Menurut Kasatreskrim, bila laporan itu terbukti maka terlapor bisa terjerat pasal 44 UU no 23/2004 tentang penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT). "Ancaman hukumannya 5 tahun penjara," jelas Kasatreskrim. (rud/yud)

Sumber: http://www.jawapos.com/radar/index.php?act=detail&rid=179405