Tampilkan postingan dengan label Jurnalistik. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Jurnalistik. Tampilkan semua postingan

Jumat, 23 Juli 2010

Pelatihan Jurnalistik Madrasah

Jumat, 23 Juli 2010 | 09:50 WIB
Oleh : Nur Salim

Untuk peningkatan ketrampilan menulis siswa, Madrasah Aliyah (MA) Wahid Hasyim Kademangan Kota Probolinggo mengadakan Pelatihan Jurnalistik. Acara ini diisi oleh Ikhsan Mashmudi, wartawan Surabaya Post dan Dandy Arie Gafur, korespondensi SCTV.

Kegiatan ini diikuti oleh seluruh siswi MA Wahid Hasyim 164 anak, siswi SMA Sunan Giri 10 anak, siswi MTs Roudlotut Tholibin sebanyak 10 anak.

Kepala Madrasah Juhariyah S.Pd menyatakadan acara ini untuk meningkatkan pemahaman dan pengusaan bahasa bagi siswi MA Wahid Hasyim. Nanti diprogramkan secara kontinyu agar anak didik bisa menjadi penulis.

Sejalan dengan itu, koordinator kegiatan Nur Salim SPd menambahkan kegiatan ini tidak hanya saat ini saja tapi akan dilakukan terus menerus dengan membentuk tim dan bekerja sama dengan lembaga-lembaga lain yang berada dibawah naungan Yayasan Pesantren Roudlotut Tholibin.

Dia menambahkan, kegiatan ini akan bekerjasama dengan wartawan-wartawan di Kota Probolinggo baik media cetak, media suara, maupun media pertelevisian. Jadi harapannya agar siswi MA Wahid Hasyim nantinya betul-betul menguasai dunia jurnalistik.

Sumber: http://www.surabayapost.co.id/?mnu=citizen&act=view&id=38b3eff8baf56627478ec76a704e9b52

Kamis, 24 Juni 2010

SMAN 1 Pilih Teknik Editing

[ Kamis, 24 Juni 2010 ]
Program Jurnalistik Goes to School

PROBOLINGGO - Program Jurnalistik Goes to School gelaran Radar Bromo bergulir di SMAN 1 Kota Probolinggo. Rada berbeda dengan sekolah-sekolah yang jadi peserta program ini sebelumnya, SMAN 1 memilih materi teknik editing.

Diklat itu dilaksanakan kemarin (23/6) dari pukul 08.30 sampai pukul 12.15. Puluhan peserta mengikuti materi teknik editing yang disampaikan oleh Pemred Radar Bromo Imam Wahyudi.

Tak salah bila SMAN 1 memilih materi teknik editing dalam program Jurnalistik Goes to School ini. Sebab, jurnalistik sudah menjadi bagian dari aktivitas yang mengakar kuat di sekolah tersebut. Ini ditunjukkan dengan adanya majalah sekolah bernama Lentera yang eksistensinya relative terjaga dengan baik.

Dalam diklat kemarin pesertanya juga sebagian besar adalah tim redaksi Lentera. Karena itu mereka bisa langsung nyambung ketika materi teknik editing disampaikan. Diklat ini diharapkan bisa meningkatkan kemampuan jurnalistik tim redaksi Lentera, sekaligus meningkatkan kualitas produk Lentera.

Yudi, panggilan Imam Wahyudi, dalam diklat tersebut membagi acara jadi dua sesi. Sesi pertama selama satu setengah jam, Yudi mengenalkan prinsip-prinsip editing dan bagaimana idealnya kinerja seseorang yang bertugas menjadi editor atau redaktur.

Banyak terjadi diskusi di sesi tersebut. "Apa yang harus dilakukan redaktur kalau menghadapi naskah berita yang kurang?" tanya seorang peserta laki-laki.

"Mas, bagaimana dengan media elektronik. Apakah juga ada redakturnya. Kalau juga ada, apa perbedaan kerjanya dengan redaktur media cetak?" tanya peserta lain yang perempuan.

Sesi kedua, para peserta diajak berpraktik. Semua diminta membuat berita untuk kemudian dijadikan bahan praktik editing yang baik. Mulai dari pembuatan judul, memilih angle, membuat lead, kelengkapan berita, sampai pembuatan paragraph, pembuatan kalimat, pemilihan diksi dan terminologi yang tepat. (rud/yud)

Sumber : http://www.jawapos.co.id/radar/index.php?act=detail&rid=166173

Selasa, 01 Juni 2010

SMA Saqo Diklat di IC

[ Selasa, 01 Juni 2010 ]

KRAKSAAN
- Diklat Jurnalistik Goes to Pesantren kembali digelar kemarin (31/5). Kali ini SMA Syekh Abdul Qodir Al-Jailani (Saqo), Rangkang, Kraksaan Kabupaten Probolinggo yang mengikuti program gelaran Radar Bromo itu.

Tapi, diklat SMA Saqo rada berbeda dengan gelaran diklat sebelumnya. Sekolah itu memilih menghelat diklat jurnalistik di gedung Islamic Center (IC) Kraksaan. Yakni di ruang pertemuan lantai I.

Sekitar 150 murid mengikuti diklat itu dengan materi teknik menulis berita dan artikel. Materi diisi oleh redaktur Radar Bromo M. Said Hudaini. Kegiatan diklat dimulai sekitar pukul 09.00. Setelah pembukaan dilangsungkan, Said langsung memberikan materi pada peserta.

Sebagai materi pembuka, Said memberi materi nilai berita (news values). Salah satu dari news values menurut Said adalah proximity atau kedekatan. Menurut Said, unsur tersebut berpengaruh besar pada animo masyarakat. Jika menggunakan unsur tersebut kata Said, masyarakat akan tertarik untuk membaca sebuah berita. "Siapa tahu ada berita mengenai daerahnya," ujar Said.

Setelah cukup materi, Said memberi tugas pada semua peserta. Yakni membuat berita. Yang dipilih adalah berita kecelakaan. Selesai tugas, peserta wajib untuk menyerahkan hasil tulisan tersebut. Said kemudian memberikan penilaian pada hasil tulisan peserta.

Mengakhiri materi, Said memberikan sebuah catatan. Menurutnya jurnalistik bukan sulap. Menurut Said, jurnalistik selalu mengungkap sebuah persoalan berdasar data dan fakta. "Cara terbaik belajar menulis adalah dengan melakukannya," ujar Said.

Sementara itu, menurut Kepala SMA Saqo A. Arief Hermawan, diklat tersebut bertujuan memberikan pengetahuan jurnalistik pada para siswanya. Terlebih, kata Arief, belum ada media di SMA tersebut. "Sebelumnya belum ada unsur jurnalistik di SMA kami," ujar Arief.

Arief berharap, diklat ini memberikan banyak manfaat. Sebab lanjut Arief, dengan demikian siswa Saqo bisa diarahkan untuk membuat beragam tulisan. Lebih khusus, Arief mengungkapkan, siswanya diharapkan bisa membuat buletin di sekolah. "Agar kreatifitas mereka terasah," ujar Arief. (eem/yud)

Sumber: http://www.jawapos.co.id/radar/index.php?act=detail&rid=161745

Senin, 31 Mei 2010

Diklat di SMP Zaha 1 Genggong

[ Senin, 31 Mei 2010 ]
PROBOLINGGO - Program Jurnalistik Goes to Pesantren kembali bergulir di lingkungan Ponpes Zainul Hasan (Zaha) Genggong, Pajarakan Kabupaten Probolinggo. Kemarin (30/5) giliran SMP Zaha 1 Genggong yang mengambil program diklat jurnalistik gelaran Radar Bromo tersebut.

Sekolah tersebut memilih materi teknis menulis berita dan artikel. Walau masih tingkat SMP, lembaga pendidikan ini tak tanggung-tanggung mengenalkan ilmu jurnalistik pada murid-muridnya.

Simak saja, kemarin ada sejumlah 240 murid lelaki dan perempuan yang diikutkan dalam diklat tersebut. Di ruangan yang dipilih, murid lelaki duduk di bagian belakang. Sedangkan di barisan depan duduk para murid perempuan.

Selama hampir tiga jam lamanya mereka cukup tekun mengikuti materi yang disajikan Pemred Radar Bromo Imam Wahyudi. Dia mulanya menjelaskan bagaimana bekerjanya sebuah media massa dan unsur-unsur di dalamnya.

Lalu yang dikupas dalam adalah wartawan sebagai pilar utama media. Prinsipnya, wartawan bekerja dalam dua aras. Yakni bagaimana memperoleh berita (how to get the news), dan bagaimana menulis berita (how to write the news). Setelah menggali informasi dengan beberapa teknik, wartawan menuangkannya dalam bentuk berita.

"Nah, menulis berita ini yang paling sering jadi kendala. Sebab, jarang sekali orang yang punya kebiasaan menulis," katanya. Sebab itu, setelah mendapat teori menulis berita, ia menyarankan peserta untuk memulai membiasakan aktivitas menulis.

Selama diklat tersebut berlangsung, para murid SMP Zaha 1 Genggong terbilang sangat aktif. Di sela-sela pemateri menyampaikan materinya, pertanyaan demi pertanyaan bermunculan.

"Bagaimana caranya menjadi wartawan professional?" tanya seorang murid perempuan.

"Mas, bagaimana jadinya kalau wartawan sampai tidak punya berita?" tanya seorang murid lelaki.

Kepala SMP Zaha 1 Genggong Izzudin menyatakan, pihaknya memang konsern pada dunia jurnalistik. Menurutnya, jurnalistik penting jadi bekal murid-muridnya. "Kami ingin memberi bekal kemampuan menulis pada mereka yang memang mau dan berbakat, agar kelak bisa mengembangkan bakat menulisnya pada saat duduk di bangku SMA maupun perguruan tinggi," kata Izzudin kemarin.

Keseriusan itu juga ditunjukkan dengan adanya media sekolah berupa majalah sekolah yang saat ini sedang dalam proses cetak. "Sayang sekali sekarang belum selesai cetak. Kalau sudah, mungkin hari ini (kemarin, Red) bisa langsung dievaluasi," ujarnya.

Selanjutnya, Izzudin menyatakan keinginannya untuk menambahi bekal jurnalistik untuk murid-muridnya. "Kalau teknik menulis sudah dikuasai, nanti kita tingkatkan dengan materi mengolah berita, dan kita tingkatkan lagi dengan materi editing," kata Izzudin pada murid-muridnya saat memberi sambutan pembuka diklat kemarin. (eem/yud)

Sumber: http://www.jawapos.co.id/radar/index.php?act=detail&rid=161575