Tampilkan postingan dengan label Pencurian. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pencurian. Tampilkan semua postingan

Senin, 22 November 2010

Saat Malam Pertama, Buronan Maling Sapi Dibekuk

15 November 2010, 18:47:17| Laporan Sentral FM Lumajang

suarasurabaya.net| Nasib sial dialami MOHAMMAD HOLIL alias HOL (28), warga Dusun Kalikembar, Desa Selokanyar, Kecamatan Pasirian ini. Pemuda yang belakangan diidentifikasi sebagai maling sapi telah jadi buronan selama 1,5 tahun lamanya.

Ia dibekuk oleh aparat Tim Buser Unit Selatan Satuan Reskrim Polres Lumajang, Minggu (14/11) kemarin. Padahal, ia baru sehari menikah dengan gadis pujaan hatinya di Desa Lempeni, Kecamatan Tempeh.

Ia ditangkap bersama empat kawanannya, yakni SAHAR Cs, gembong maling sapi asal Probolinggo ini. Petugas yang dipimpin Aiptu MULDJOKO Kanit Tim Buser Unit Selatan Satuan Reskrim Polres Lumajang ini, menerobos masuk ke rumah istri tersangka di Desa Lempeni, Kecamatan Tempeh lalu menyergap MOHAMMAD HOLIL ketika tengah menjalani malam pertamanya.

Alhasil, malam yang seharusnya menjadi paling berkesan bagi pasangan suami-istri ini, akhirnya menjadi berantakan. Dan, petugas langsung menyeret MOHAMMAD HOLIL alias HOL ke Mapolres Lumajang untuk pertangggungjawabkan perbuatannya.

AKP KUSMINDAR Kasat Reskrim Polres Lumajang mendampingi AKBP TEJO WIJANARKO Kapolres menyampaikan, penangkapan ini merupakan hasil pelaksanaan Operasi Sikat Semeru 2010. ”Tersangka MOHAMMAD HOLIL alias HOL yang kita tangkap, merupakan target penangkapan dengan status buronan alias DPO (Daftar Pencarian Orang) sejak Maret 2009 lalu,”beber AKP KUSMINDAR.

Dalam aksi komplotan ini, sebenarnya polisi berhasil membongkar sepak-terjang komplotan ini. Kawanan tersangka yakni SAHAR CS, semuanya telah ditangkap dan telah mendekam di Lapas Lumajang untuk pertanggungjawabkan perbuatannya.

Namun, setelah satu-persatu komplotannya dibekuk, tersangka yang berperan sebagai eksekutor pelaku pencurian sapinya, ternyata memilih untuk menghilang. ”Rupanya, tersangka memilih kabur ke Tarakan, Kalimantan. Sejak saat itu, ia menghilang dan sulit sekali melacaknya,” ungkap Kasat Reskrim.

Namun, ternyata pelarian tersangka ini tidak berlangsung selamanya. Pasalnya, 3 bulan lalu tersangka memilih kembali ke kampung halamannya hingga berkenalan dengan calon istrinya yang berasal dari Desa Lempeni, Kecamatan Tempeh itu. (her/tin)

Teks foto :
- MOHAMMAD HOLIL alias HOL dikawal petugas Tim Buser Unit Selatan Satuan Reskrim Polres Lumajang setelah dibekuk di rumah istrinya.
Foto : Sentral FM

Sumber: http://jaringradio.suarasurabaya.net/?id=e5c3a3b91b6431eac9af80acebf47f59201084973

Kamis, 21 Oktober 2010

Mau Nikah Curi Perhiasan Majikan

Kamis, 21 Oktober 2010

Surabaya -SURYA- Rencana nikah pasangan Juleka, 27, asal Dringu, Probolinggo, dan Ichamita, 28, yang bekerja sebagai pembantu rumah tangga (PRT) di Jl Manyar Jaya bisa tertunda. Keduanya diamankan Polsek Sukolilo karena mencuri perhiasan milik majikannya senilai Rp 120 juta.

“Keduanya kami tangkap berikut barang buktinya yang sebagian telah dijual di Probolinggo,” kata Kapolsek Sukolilo AKP Purwanto, Rabu (20/10).

Pencurian barang berharga ini dilakukan oleh Juleka saat sedang wakuncar ke Icha, yang tinggal di rumah majikannya Anak Agung Ayu, 40 di Jl Manyar Jaya.

Polisi yang mendapat laporan dari korban langsung melakukan penyelidikan. “Kami mencurigai adanya keterlibatan orang dalam,” terang Kanitreskrim Polsek Sukolilo, Iptu Sunadji. Dugaan petugas benar setelah memeriksa Ichamita diketahui pencuri perhiasan itu adalah pacarnya sendiri.

Pengejaran dilakukan karena Juleka sudah di Probolinggo. Setelah menemukan Juleka petugas memburu barang buktinya yang sebagian sudah dijual. niit

Sumber: http://www.surya.co.id/2010/10/21/mau-nikah-curi-perhiasan-majikan.html

Rabu, 20 Oktober 2010

100 Sapi Hilang, Warga Lapor Polda

KASUS pencurian sapi yang diduga melibatkan seorang pamong (perangkat) Desa Brabe, Kecamatan Maron, Kabupaten Probolinggo semakin panas. Kemarin (19/10) lima wakil warga Desa Brabe menghadap ke Polda Jatim dan DPRD Jatim. Mereka meminta agar dua institus itu turun tangan untuk menyelesaikan masalah tersebut.

Warga sebenarnya sudah melaporkan kasus tersebut kepada Polres Kabupaten Probolinggo. Namun, warga justru merasa terintimidasi. ’’Di Polda kami ditemui bidang humas. Sementara di DPRD Jatim, kami juga disambut dan laporannya diterima sekretariat dewan,’’ kata Amrin Sugito, tokoh masyarakat Desa Brabe yang juga wakil warga.

Menurut Sugito, kekecewaan warga sudah berada di ubun ubun. ’’Bila tidak kecewa, tentu kami tidak akan mengadu ke Polda dan DPRD Jatim. Kami berharap betul, masalah tersebut bisa terselesaikan dan pamong desa itu mendapatkan hukuman yang sepantasnya,’’ tandasnya. Apalagi, masalah tersebut mengganggu ketenteraman desa.

Warga pernah menggelar dialog bersama aparat muspika plus anggota dari Polres Probolinggo pada 7 Oktober lalu. Tapi, dialog tersebut dirasa warga sangat intimidatif. (ano/c13/oni/ami)

Sumber: http://www.jpnn.com

Rabu, 29 September 2010

Heboh Teroris dan Pencurian

[ Rabu, 29 September 2010 ]
PROBOLINGGO - Warga Kelurahan Pilang, Kademangan Kota Probolinggo, Senin (27/9) hingga Selasa (28/9) pagi digegerkan dua kejadian. Senin malam, warga heboh karena ada dua orang bak teroris masuk perkampungan. Sementara orang yang dicurigai teroris itu kabur, paginya malah ada warga kecolongan.

Isu ada dua teroris masuk perkampung Pilang terdengar santer Senin malam itu. Warga pun berusaha mencari dua orang yang disebut-sebut warga membawa bahan peledak itu. "Mereka membawa dua tas besar. Warga menduga itu molotov dan senjata," ujar salah seorang warga.

Isu itu juga sempat terendus oleh aparat kepolisian. Sehingga, puluhan polisi juga turun ke tempat kejadian perkara (TKP) untuk melakukan pengamanan. Tapi, dua orang yang diduga teroris itu akhirnya menghilang. "Hilangnya di sekitar belakang pabrik kecap," jelas warga itu.

Heboh teroris itu dibenarkan oleh S. Susanto, salah seorang staf kelurahan Pilang. Ia mengatakan, kalau malam itu memang ada dua orang yang dicurigai sebagai teroris. "Ada warga yang mendengar kabar itu dari polisi," ujarnya.

Menurutnya, malam itu polisi langsung turun menyisir kelurahan tersebut. Mereka juga membawa senjata, ada yang laras panjang ada pula yang menggunakan pistol. Tapi, dua orang yang diduga teroris itu tidak ditemukan. "Ada info kalau ada teroris yang masuk Pilang. Polisi juga langsung menyisir, tapi tidak ditemukan," ujarnya.

Adanya kabar menghebohkan itu, juga dibenarkan oleh Irwanto dan Totok warga RT 1/RW 4 Keluraahan Pilang. Menurut Irwanto, kabar itu mulai beredar sejak sekitar pukul 21.00. Sejak itu pula, dirinya sudah mendapati banyak polisi di kampungnya. "Katanya, masuk dari barat di jalan baru (Jl KH Abdurrahma Wahid, Red) itu," ujarnya.

Warga Kemalingan

Bila Senin malam, heboh teroris masuk kampong, kemarin pagi warga digegerkan aksi pencurian yang menimpa warga setempat Totok Timbul Irianto. Totok sehari-harinya adalah seorang pegawai Dinas Pertanian Lumajang.

Dari rumah Totok, maling berhasil membawa kabur kabur 2 sepeda motor, 1 laptop dan empat buku tabungan. Akibatnya, Totok diperkirakan mengalami kerugian sekira Rp 26 juta.

Malam itu, Totok mengaku tidak mendengar apa-apa ketika sedang tidur. Termasuk, ketika maling mengobok-ngobok rumahnya dan membawa kabur harta bendanya. "Saya tidur sekitar pukul 20.00, karena saya merasa capek setelah pulang kerja," ujarnya saat ditemui di rumahnya, kemarin.

Lalu sekitar pukul 04.00 Totok terbangun dan langsung menuju kamar mandi. Tak lama kemudian, ia keluar melalui pintu samping rumahnya. Totok pun kaget ketika mendapati ada barang-barangnya yang tercecer. "Waktu itu, saya menemukan buku tabungan saya tercecer," ujarnya.

Padahal, buku tabungan itu berada di dalam tas bersama dengan laptopnya. Mendapati itu, Totok langsung mengecek keberadaan laptopnya. Ternyata, laptop Axio miliknya sudah lenyap.

Totok pun bergerak menuju pintu depan. Ia hendak keluar rumah melalui pintu utama itu. Ternyata, ia mendapati pintu depan itu sudah dalam keadaan tidak terkunci. Padahal, Totok mengaku sebelum tidur sudah mengunci semua pintu rumahnya. "Saya terus keluar, ternyata pintu pagar juga sudah terbuka," ujarnya.

Lalu, Totok masih menyempatkan diri keluar ke jalan depan rumahnya. Tak lama kemudian, ia masuk kembali. Ternyata, ia mendapati pintu garasinya juga sudah terbuka. Dia pun mendapati dua sepeda motornya amblas, yakni Honda Vario bernopol N 2634 RV dan Yamaha Mio N 5554 YN.

Anehnya, pada pintu garasi dan pintu depan yang terbuka itu tidak ada bekas congkelan. Keanehan itu pun mengundang perhatian Totok dari mana maling itu bisa masuk ke dalam rumahnya.

Ternyata, setelah dilakukan pengecekan kawanan maling itu masuk melalui jendela kecil di atas pintu samping rumahnya. Dari jendela itu mereka langsung menemukan tumpukan kunci yang berada di meja tak jauh dari pintu.

Alhasil, pelaku seperti menemukan rezeki nomplok. Pasalnya, mereka tidak usah repot-repot menggunakan kuci palsu. "Tidah usah kunci palsu. Karena kuncinya, saya kumpulkan di sana (meja). Tadi, polisi sudah ke sini, entah siapa yang laporan. Mungkin tetangga," ujar Totok.

Sementara pihak kepolisin masih terus melakukan penyelidikan atas kasus tersebut. "Kalau teroris tidak ada, yang ada hanya pencurian biasa," jelas Kapolsek Kademangan AKP Mahmud kemarin. (rud/yud)

Sumber: http://www.jawapos.co.id/radar/index.php?act=detail&rid=181923

Rabu, 22 September 2010

Kos, Kuras Harta Bu Kos

[ Rabu, 22 September 2010 ]
PROBOLINGGO - Ninik Achsaniyah, 41, warga Kelurahan Sukabumi, Mayangan Kota Probolinggo tertipu mentah-mentah oleh pasangan suami istri yang kos di rumahnya. Yakni pasangan Didik Gunawan, 35, dan Eni Maryati, 22. Pasutri itu berhasil menguras harta benda Ninik setelah berpura-pura ngekos.

Dari rumah Ninik, pasutri Didik-Eni berhasil membawa kabur motor Honda Beat, perhiasan emas seberat 6,5 gram, duit Rp 1 juta dan sebuah handphone (HP) Nokia. Ninik langsung melaporkan kasus tersebut ke SPK (Sentra Pelayanan Kepolisian) Polresta Probolinggo, Jumat (17/9) lalu. Wanita single parent itu berharap polisi bisa segera menangkap pasutri penipu tersebut.

Dari informasi yang dihimpun Radar Bromo, waktu itu Nanik mendapat tugas dari kantornya untuk membeli solar di Pertamina Surabaya. Ninik pun meninggalkan rumahnya tanpa dikunci dan hanya menitipkannya, termasuk anaknya, kepada pasutri Didik-Eni.

Pada hari itu juga, sekitar pukul 11.00, Didik menghubungi Ninik dengan menggunakan HP milik Rahma, 10, putri Ninik. Waktu itu, Didik mengatakan kalau dirinya disuruh menjemput keponakannya, oleh Rahma dan Julvi. Tanpa curiga, Ninik mengiyakan niat baik Didik.

Lalu, Didik langsung meluncur ke rumah Nurul, adik Ninik, dengan mengendarai motor Honda Supra X 125 milik Didik. Tak lama kemudian, Didik datang dengan membawa serta dia anak Nurul.

Empat bocah itu pun bermain di rumah Ninik. Tapi, tak lama kemudian Eni mendatangi mereka dan mengajak bermain di luar rumah. Eni membawa empat bocah itu bermain di sebuah pos kamling yang jaraknya agak jauh di sisi selatan tempat kosnya. "Mungkin saat itu, suaminya (Didik, Red) melakukan aksinya," ujar Ninik.

Tak lama kemudian, Eni mengajak empat bocah itu pulang. Sampai di rumah, Eni menyuruh mereka membeli bisckuit di sebuah toko waralaba di Jl A Yani, Kota Probolinggo. "Waktu itu, saya tidak tahu karena saya masih di Surabaya," jelas Ninik, kemarin (21/9).

Dengan naik becak, empat bocah itu dengan senang berangkat membeli makanan. Begitu mendapatkan apa yang mereka inginkan, empat bocah itu langsung pulang. Sampai di rumah, empat bocah itu mendapati Didik dan Eni tidak ada.

Mereka pun mencoba mencari mereka, tapi tak juga ditemukan. Tak hanya itu, Rahma juga mendapati motor milik ibunya lenyap dari rumah. "Saya tidak tahu kemana. Setelah saya pulang, om dan tante sudah tidak ada," aku Rahma.

Ninik mengaku saat itu dirinya masih di Surabaya. Dan, tidak mendengar kabar kalau motor, uang dan barang-barang berharga milik putrinya hilang. "Saya tidak tahu. Begitu tiba di rumah, tahu-tahu di sini sudah banyak orang," ujarnya.

Ninik baru mengetahui kejadian itu setelah tiba di rumahnya, Jumat (17/9) sore. Ia pun langsung melaporkan kasus tersebut ke SPK Polresta Probolinggo. Setelah dilakukan pengecekan, ternyata tidak hanya motornya yang dibawa kabur.

Pasutri itu, juga membawa kabur SIM dan STNK atas nama korban. Dua barang berharga itu, berada di dalam jok motor yang baru dibeli sekitar sebulan lalu itu. Pasutri itu, juga meninggalkan KTP (kartu tanda penduduk) beralamat di Jember.

Jumat (17/9) malam itu juga, Ninik bersama petugas dari SPK langsung meluncur ke Jember. Ternyata, alamat yang tercantum di KTP itu hanyalah alamat sebuah kos-kosan juga. Di Jember Ninik dan polisi bertemu dengan mantgas ibu kos pasutri tersebut.

Nah, mantan ibu kos itu membenarkan kalaupasutri tersebut pernah kos di rumahnya. Dan, juga pernah melakjukan hal yang sama dengan apa yang dialami oleh Ninik. "Katanya (mantan ibu kosnya), mereka juga penah menipu," jelas Ninik.

Anehnya, pasutri itu meninggalkan motor Ninik di Jember. Tapi, sudah dalam keadaan tidak ada pelat nomornya. "Kemungkinan besar plat nomornya sudah dibuka, dan dibawa pelaku," ujar salah seorang petugas kepolsian. (rud/yud)

Sumber: http://www.jawapos.co.id/radar/index.php?act=detail&rid=180392

Sabtu, 18 September 2010

Keluhkan Pencurian Wuwu

[ Sabtu, 18 September 2010 ]

Ramadan lalu dikeluhkan para nelayan rajungan di daerah Tongas Kabupaten Probolinggo. Sebab, mereka banyak mengalami kehilangan wuwu atau alat tangkap rajungan.

Wuwu yang hilang tidak sedikit. Jumlahnya mencapai ratusan. Padahal, harga alat itu tidak murah. "Selama Ramadan, wuwu saya hilang 170 buah mas," ungkap Saiful Bahri, salah satu nelayan rajungan di dusun Krobyokan kepada Radar Bromo kemarin (17/9). Dari 330 wuwu yang dimilikinya, saat ini yang tersisa hanya 160 buah.

Menurut para nelayan, pencurian alat tangkap rajungan tersebut selama Ramadan terjadi setiap hari. Dalam satu hari nelayan bisa kehilangan wuwu sebanyak 20 sampai 50 buah.

Akibatnya, para nelayan harus merugi jutaan rupiah. Untuk satu buah wuwu mencapai harga Rp 15 ribu. Sedangkan untuk menangkap rajungan dibutuhkan minimal 150 buah wuwu. Jika ditotal, masing-masing nelayan mengalami kerugian setidaknya Rp 2 juta.

"Kerugian saya sampai Rp 2,5 juta," jelas Saiful. Hal itu diperparah lagi dengan tangkapan rajungan yang sempat mengalami penurunan akibat kondisi cuaca yang tidak mendukung.

Sukam, nelayan rajungan lainnya, mengaku saat ini sampai tidak bisa mempersiapkan wuwunya untuk disebar ke laut. Hal itu dikarenakan jumlah wuwunya kurang dari jumlah minimal.

"Saya tidak bisa pakai wuwu. Jumlahnya kurang," keluh Sukam. Dari 150 wuwu yang dimilkinya, sekarang yang tersisa tinggal 55 buah saja. Selain itu, Sukam akan dirugikan jika tetap memaksakan menyebar alat itu.

Kerugian itu karena ia masih harus menanggung ongkos BBM untuk melaut. Dan ongkos itu tidak sebanding dengan hasil tangkapan menggunakan wuwu yang jumlahnya kurang. "Rugi lah, Mas. BBM lebih mahal dari pada rajungannya," terang Sukam.

Lalu siapa pelaku pencurian wuwu? Nelayan menduga pelakunya adalah nelayan daerah tetangga. "Sering kepergok aksi mereka," ungkap Basar, seorang nelayan lainnya.

Menurutnya, sudah ada beberapa pelaku yang diamankan aparat keamanan. Namun, aksi itu tetap saja berlangsung. "Mereka masih terus beraksi," keluh Basar.

Selama ini para nelayan Tongas lebih memilih diam atas kejadian pencurian-pencurian wuwu ini. Sebab, jika sampai bertindak keras, reaksi nelayan daerah tetangga itu bisa lebih keras lagi. "Dulu sempat ada kawan kami yang disandera," kata Basar.

Dari kejadian bayaknya wuwu yang hilang, ada beberapa nelayan yang harus berhenti total menangkap rajungan. Sedangkan nelayan lainnya, memilih menggunakan alat tangkap lainnya. "Lebih baik pakai jaring saja, tidak gampang dicuri," tutur Basar. (d7x/yud)

Sumber: http://www.jawapos.com/radar/index.php?act=detail&rid=179719

Sabtu, 04 September 2010

17,19% Hutan Dirambah Penduduk

Sabtu, 4 September 2010 | 11:59 WIB

PROBOLINGGO - Perambahan hutan negara oleh penduduk di wilayah Perum Perhutani Kesatuan Pemangkuan Hutan (KPH) Probolinggo memprihatinkan. Seluas 14.490,39 hektare (17,19%) dari total areal hutan 84.264,8 hektare (ha) jadi sengeketa penduduk-Perhutani. Kawasan hutan itu dirambah penduduk sejak 1960, namun perambahan meningkat tajam saat menjelang lahirnya era reformasi 1997.

Dari 14.490,39 ha lahan yang jadi sengketa warga-Perhutani, 2.259,45 ha di antaranya dijadikan permukiman oleh penduduk, 6.609,3 ha jadi ladang, dan 3.390,17 ha digarap liar. ’’Selain itu, saat ini 2.231,44 ha dalam sengketa antara Perhutani dan warga di jalur hukum,” ujar Wakil Administrator Perum Perhutani KPH Probolinggo, Aki Leander Lumme, Sabtu (4/9) pagi tadi.

Aki menjelaskan, wilayah hutan di bawah Perhutani Probolinggo terbentang di tiga wilayah, Probolinggo 45.987 ha, Situbondo 3.443,3 ha, dan Lumajang 34.834,5 ha. “Dari total wilayah hutan 84.264,8 hektare, 14.490,39 hektare di antaranya termasuk sedang bermasalah karena jadi area penggarapan liar, ladang, hingga dijadikan permukiman warga,” ujarnya.

Aki mengatakan, warga dan Perhutan sama-sama mengaku punya bukti kepemilikan lahan. ’’Warga mengaku punya bukti bahwa wilayah hutan itu milik mereka. Itu bukti versi mereka sendiri. Sementara hutan negara punya bukti lengkap peninggalan Belanda, berupa berita acara tata batas (BATB),” ujar Aki.

Perhutani dengan merujuk PP 30/2003 tentang Perhutani berhak mengelola hutan. Kewenangan itu diberikan untuk mengelola hutan negara di Jawa dan Madura. Aki menambahkan, aksi perambahan hutan sebenarnya sudah terjadi sejak 1960. Perambahan wilayah hutan negara itu semakin meluas sejak 1997.

Saat Orde Baru tumbang, pembabatan hutan di lereng Gunung Semeru di Senduro membabi buta. Warga membabati areal hutan tanpa mengambil kayu-kayu yang ditebangi. Mereka hanya bermaksud menggarap lahan hutan untuk cocok tanam dan permukiman.

Di Senduro, Lumajang, misalnya, banyak wilayah hutan yang berubah menjadi permukiman warga. Sementara di Probolinggo, sebagian hutan negara berubah menjadi area penggarapan liar seperti di wilayah Bagian Kesatuan Pemangkuan Hutan (KPH) Bremi, Kraksaan, dan Sukapura. ’’Kami sudah bekerja sama dengan Kejari Kraksaan dan Kejari Lumajang untuk menyelesaikan kasus pendudukan ilegal hutan negara itu melalui jalur hukum,” ujar Aki.

Di antara kasus perambahan hutan yang kini masuk jalur hukum adalah kasus yang melibatkan mantan Kades Tlogasari, Kec Tiris, Kab Probolinggo. Mantan petinggi desa itu dilaporkan telah membabat hutan seluas sekitar 8 hektare untuk ditanami kopi, sengon, dan pisang di petak 58 C.

Sementara di Senduro, Lumajang, lahan 14.000 ha hutan negara yang dirambah warga akhirnya bisa dikembalikan ke Perhutani seluas 1.300 ha tanpa proses hukum. Setelah dipersuasi, warga bersedia mengembalikan SPPT (surat pemberitahuan pajak terutang, red). Kini, masih ada kasus perambahan hutan negara di Lumajang yang bakal diproses secara hukum. Kejari Lumajang sedang menangani kasus perambahan liar hutan negara seluas 3.655 ha di Lumajang. isa

Sumber: http://www.surabayapost.co.id/?mnu=berita&act=view&id=e41415343bc2a455161dfe7d19386d0f&jenis=1679091c5a880faf6fb5e6087eb1b2dc

Pencuri Dimassa, Motor Dibakar

[ Sabtu, 04 September 2010 ]
SUKAPURA - Aksi pencurian motor (curanmor) yang kian marak telah memicu amarah masyarakat. Kemarin (3/9) di Kecamatan Sukapura Kabupaten Probolinggo ketika ada seorang pelaku curanmor berhasil dibekuk, amuk warga tak terhindarkan. Motor dibakar, pelakunya dihajar. Satu pelaku yang dimassa itu adalah Rohim, 25, warga Pasuruan.

Dari informasi yang dihimpun Radar Bromo peristiwa curanmor itu kemarin terjadi sekitar pukul 09.30. Korbannya adalah Suratman, warga asli Lambang Kuning, Kecamatan Lumbang.

Ceritanya, Suratman juga punya rumah di depan terminal Sukapura. Nah, kemarin Suratman baru datang dari rumahnya di Lambang Kuning. Sampai di rumahnya di depan terminal Sukapura itu, Suratman langsung memarkir motornya, Satria FU nopol N 2585 OJ.

Baru lima menit diparkir, motor itu jadi sasaran curanmor. Pelakunya empat orang.Namun, aksi kawanan tersebut diketahui anak Suratman. "Papa, sepeda motor diambil orang," ungkap Kapolsek Sukapura AKP I. K. Wijaya kemarin menirukan keterangan dari korban.

Motor Suratman berhasil dibawa kabur empat pelaku. Mereka mengendarai dua sepeda motor. Satu motor Jupiter Z milik pelaku sendiri, satu lagi milik Suratman. Tapi, setelah mengetahui motornya disikat, Suratman langsung menghubungi Polsek Sukapura.

"Korban langsung menghubungi polsek," terang AKP Wijaya.

Setelah mendapatkan laporan dari Suratman, polsek menghubungi personelnya di lapangan. Ketika itu, petugas memang disiagakan di depan terminal Sukapura. "Petugas ada yang stand by di sana," terang Kapolsek.

Pergerakan pelaku curanmor terlihat oleh petugas di lapangan. Kawanan pencuri terlihat melaju kencang ke arah Lumbang. Selain petugas, warga juga mengetahui lari pelaku curanmor itu. "Warga juga turut mengejar kawanan tersebut," terang Wijaya.

Karena arahnya ke Lumbang, Polsek Sukapura kemudian berkoordinasi dengan Polsek Lumbang. "Langsung kami hubungi Polsek Lumbang untuk menghadang pelaku," terang Wijaya.

Di Lumbang, rupanya bukan hanya polisi yang bersiaga. Warga yang juga telah mendengar informasi pengejaran tersebut ikut menghadang. Tepat di Desa Negororejo, Lumbang, kawanan pencuri melihat ada puluhan warga sudah memblokade jalan. Mereka keder hingga tercerai berai.

Tiga orang kabur berhasil kabur dari hadangan warga, satu lagi pelaku yang naik motor Jupiter Z berhasil dibekuk warga di areal sawah. Amuk masa tak terhindarkan. Satu pelaku bernama Rohim, 25, warga Desa Plososari, Pasuruan itu dihujani pukulan.

Tak cukup itu, warga juga membakar motor Jupiter Z yang ditumpangi pelaku. Motor itu pun ludes tinggal rangkanya. Warga juga nyaris membakar Rohim. "Untung petugas berhasil menghentikan tindakan warga tersebut," ungkap AKP Wijaya.

Di saat yang sama, warga dan polisi tak berhenti mengejar pelaku lain yang kabur. Dua di antaranya kabur dengan mengendarai motor milik Suratman ke arah Madakaripura. Tapi karena kadung ketakutan, pelaku akhirnya meninggalkan motor milik Suratman itu di pekarangan rumah seorang warga.

Selanjutnya, Rohim dikeler ke Polsek Sukapura. Sedangkan tiga pelaku lainnya kini dalam buruan polisi. Dan disinyalir pelaku masih bersembunyi di daerah hutan di kecamatan Lumbang.

Selain mengamankan satu pelaku, polisi juga mengamankan barang bukti dua sepeda motor. Satu motor Jupiter Z yang sudah tinggal rangka, dan satu motor Satria FU milik Suratman. (d7x/yud)

Sumber: http://www.jawapos.com/radar/index.php?act=detail&rid=178092

Rabu, 01 September 2010

Truk Dibajak Sejak Probolinggo

31 Agustus 2010, 16:53:42| Laporan Sentral FM Lumajang

suarasurabaya.net| Aksi pembajakan truk yang dilakoni tersangka EKO (32), kawanan pembajak truk asal Probolinggo yang berdomisili di Dusun Gentengan, Desa Condro, Kecamatan Pasirian bersama seorang komplotannya ini, cukup tersusun rapi.

Dari kronologis kejadiannya, terungkap jika aksi pembajakan yang dilakoni kawanan ini, pada Selasa (31/08) dinihari, terjadi dengan modus pelakunya membuntuti truk.

Truk bermuatan gabah ini dikemudikan oleh ABDUL KODIR (36), asal Dusun Guwo, Desa Sekarjabo, Kecamatan Prigen, Kabupaten Pasuruan ini.

Ketika dikonfirmasi DIDI reporter Sentral FM Lumajang seusai kejadian, ABDUL KODIR menyebutkan jika kedua pelaku terus membuntuti truknya, sejak melintas di Jalan Desa/Kecamatan Wonoasih, Kabupaten Probolinggo.

Truk ini dalam perjalanan mengirimkan muatan gabah dari Bangil, Kabupaten Pasuruan dengan tujuan ke penggilingan padi di Kecamatan Tempeh. Dalam aksinya, tersangka EKO bersama komplotannya yang mengendarai motor Suzuki Shogun ini, terus membuntuti truk bermuatan gabah tersebut.

”Sebenarnya, saya sudah curiga saat dibuntuti motor pelaku sejak dari Wonoasih,” demikian ungkap ABDUL KODIR kepada petugas saat dimintai keterangan seusai kejadian.

Kecurigaan ABDUL KODIR ini ada benarnya juga. Pasalnya, motor yang terus membuntutinya itu, belakangan diketahui sebagai kawanan pembajak truk. Hal itu terungkap ketika kedua pengendara motor yang salah-satunya adalah tersangka EKO ini, tak lama kemudian langsung menyalip truk yang dikemudikannya lalu memotong jalannya.

Sebentar saja, tersangka EKO yang menjadi eksekutor pembajakannya segera naik ke sisi kiri dekat sopir. Di sana, ia mengancam akan melukai ABDUL KODIR seraya tangannya dimasukkan ke balik baju seolah hendak mengeluarkan senjata.

”Tapi, saya tidak melihat senjata apa yang dibawanya. Karena, tangannya dimasukkan ke balik baji di bagian pinggangnya. Apakah ia membawa senjata api ataukah senjata tajam, saya tidak tahu. Meski, belakangan saya menyadari jika hal itu hanya pura-pura untuk mengancam saja. Karena, pelaku tidak membawa senjata apapun,” demikian beber ABDUL KODIR.

Dengan ancaman itu, ABDUL KODIR pun ketakutan. Saat tersangka EKO memerintahkannya untuk terus jalan, ABDUL KODIR pun segera tancap gas menuju ke arah Lumajang. Sampai akhirnya, truk ini memasuki wilayah Lumajang dan ia tetap saja tancap gas kendati EKO berkali-kali memerintahkanya berhenti.

”Kalau saya berhenti di jalanan yang sepi, pelaku akan menjadikan saya sasaran empuk pembajakan. Apalagi, pelaku telah merampas HP dan uang saku saya sebesar Rp 900 ribu. Makanya, saya tetap saja tancap gas sampai ke Wonorejo, di utara Terminal Minak Koncar Lumajang,” sambung ABDUL KODIR.

Di lokasi yang cukup ramai inilah, ABDUL KODIR pun segera menghentikan laju truknya. Setelah berhenti, sopir truk asal Kecamatan Prigen, Kabupaten Pasuruan ini pun bersiap diri. Ia meraih gagang stang dongkrak mobilnya lalu segera turun. Selanjutnya, ABDUL KODIR memburu ke arah tersangka EKO yang turun di pintu sisi kiri.

”Meski saya lihat satu pelaku lainnya masih berada di jok motor di belakang truk, saya tetap nekat saja memburu ke arah tersangka EKO. Setelah dekat, saya kepruk kepalanya berulang kali dengan gagang stang dongkrak mobil ini sambil saya berteriak-teriak meminta bantuan warga. Akibatnya, tersangka EKO pun ambruk dan saat warga berdatangan mengeroyoknya, pelaku lainnya kabur,” demikian pungkas ABDUL KODIR menjelaskan seluruh kronologis peristiwa pembajakan truk yang berhasil digagalkan ini. (her/edy)

Teks Foto :
- Tersangka EKO, pelaku pembajakn truk yang ditembak polisi.
- Truk bermuatan gabah yang dibajak pelaku.
Foto : Sentral FM.

Sumber: http://jaringradio.suarasurabaya.net/?id=20b9b41c1d8e9228d3308bac88b8a093201081758

Gerombolan Pembajak Truk Ambruk Ditembak

31 Agustus 2010, 16:47:39| Laporan Sentral FM Lumajang

suarasurabaya.net| Aksi kejahatan menjelang lebaran ini, kian nekat saja. Sebagai bukti adalah aksi nekat yang dilakoni EKO (32), kawanan pembajak truk asal Probolinggo yang berdomisili di Dusun Gentengan, Desa Condro, Kecamatan Pasirian ini.

Selasa (31/08) dinihari, EKO bersama seorang komplotannya yang belum diketahui identitasnya, nekat melakoni aksi pembajakan terhadap sebuah truk colt diesel bermuatan gabah yang bernomor polisi S-6239-DE yang dikemudikan sopir bernama ABDUL KODIR (36), warga Dusun Guwo, Desa Sekarjabo, Kecamatan Prigen, Kabupaten Pasuruan.

Sayangnya, aksi gerombolan pembajak truk ini berhasil digagalkan berkat aksi nekat sopir truknya yang melakukan perlawanan dengan berbekal stang dongkrak mobil. Pelaku dikepruk sambil berteriak-teriak meminta pertolongan saat berhenti di Jl. Desa Wonorejo, kecamatan Kedungjajang, tepatnya di sebelah utara Terminal Minak Koncar Lumajang.

Teriakan inilah yang mengundang aksi massa, yang salah-satunya adalah Ipda M SUEB. Kebetulan rumah anggota polisi ini berada di sekitar TKP. Warga bersama polisi langsung saja mengepung kedua kawanan pembajak itu. Meski, dalam pengepungan itu, massa hanya berhasil menangkap tersangka EKO saja.

Sedangkan, seorang komplotannya berhasil kabur meninggalkan motor yang digunakannya menghadang truk tersebut. Setelah tertangkap, EKO pun langsung dihajar beramai-ramai smapai babak belur, sebelum kemudian diamankan polisi. Hanya saja, kenekatan EKO tidak berhenti sampai disitu saja.

Pasalnya, saat diamankan polisi yang hendak memboyongnya ke Mapolsek Kedungjajang, EKO kembali berniat kabur. Alhasil, pemuda pembajak truk ini pun dilumpuhkan dengan tembakan yang menembus betis kanannya.

Saat butiran timah panas itu menembus betisnya, tersangka EKO pun langsung ambruk dan tak berkutik lagi. Selanjutnya, petugas dengan mudah kembali menangkapnya.

”Hingga siang ini, kondisi EKO masih belum sadarkan diri di RS Bhayangkara. Sedangkan, seorang tersangka lain yang menjadi komplotannya, sampai saat ini masih kami kejar. Semoga saja, pelakunya berhasil kami tangkap secepatnya agar tidak menganggu keamanan pengguna jalan, terutama saat arus mudik dan balik lebaran mendatang,” demikian kata AKP JOKO YUWONO Kapolsek Kedungjajang kepada DIDI reporter Sentral FM Lumajang. (her/edy)

Teks Foto :
- Tersangka EKO dirawat di Rumah Sakit Bhayangkara Lumajang.
- Truk yang dibajak pelaku diamankan polisi.
Foto : Sentral FM.

Sumber: http://jaringradio.suarasurabaya.net/?id=0ef4631211390674dda5a3061d64bae2201081756

Pembajak Truk Dihadiahi Timah Panas Saat Kabur

Santi Rahayu - detikSurabaya

Pelaku pembajak truk tak sadarkan diri/Santi

Lumajang - Seorang pembajak truk asal Probolinggo berhasil dilumpuhkan dengan timah panas setelah mencoba kabur saat dimassa warga. Peristiwa itu bermula saat sebuah colt diesel bermuatan gabah bernopol S 6239 DE yang dikemudikan Abdul Kodir (36).

Saat melintas di sebelah utara Terminal Minak Koncar Lumajang, Kodir warga Dusun Guwo, Desa Sekarjabo, Kecamatan Prigen, Kabupaten Pasuruan ini dihentikan sekelompok orang yang naik motor. Korban mengaku dibuntuti pelaku, Eko (32) sejak melintas di Jalan Desa/Kecamatan Wonoasih, Kabupaten Probolinggo.

Korban mengaku digertak para pelaku untuk menghentikan truknya, namun tidak dihiraukan. Dia pun tancap gas hingga ke kawasan yang ramai penduduk yakni di Lumajang. Saat itulah korban meraih gagang stang dongkrak mobil untuk pertahanan dirinya.

"Meski saya lihat satu pelaku lainnya masih berada di jok motor di belakang truk,
saya tetap nekat memburu ke arah tersangka Eko. Setelah dekat, saya kepruk
kepalanya berulang kali dengan gagang stang dongkrak mobil, sambil berteriak-teriak meminta bantuan warga. Warga datang dan mengeroyok, sedangkan pelaku lainnya kabur," kata Abdul Kodir kepada detiksurabaya.com, Selasa (31/8/2010).

Beruntung aksi yang terjadi dini hari tadi dihentikan oleh salah satu anggota Polsek Kedungjajang yang rumahnya di sekitar lokasi. Pelaku pun berhasil dibekuk meski sempat berusaha kabur. Dan pelaku pun dihadiahi timah panas oleh petugas.

Petugas pun membawa korban ke RS Bhayangkara Jalan Kyai Ilyas Lumajang, untuk menjalani luka tembak yang dideritanya. Selain luka tembak, Eko masih belum sadarkan diri akibat dimassa warga yang dipukul dengan stang dongkrak mobil.

Sementara Kapolsek Kedungjajang AKP Joko Yuwono membenarkan kejadian itu. "Hingga siang ini kondisi Eko masih belum sadarkan diri di RS Bhayangkara. Sedangkan, seorang tersangka lain yang menjadi komplotannya, masih kami kejar. Semoga saja, pelakunya berhasil kami tangkap secepatnya agar tidak menganggu keamanan pengguna jalan, terutama saat arus mudik dan balik lebaran mendatang," kata Joko Yuwono.

(fat/fat)

Sumber: http://surabaya.detik.com/read/2010/08/31/111040/1431788/475/pembajak-truk-dihadiahi-timah-panas-saat-kabur

Selasa, 31 Agustus 2010

Pencuri Truk Fuso Ditangkap Polresta Probolinggo

30 Agustus 2010 19:30:56 WIB
Reporter : Sugianto

Probolinggo (beritajatim.com) - Husdi (35), warga Sidoarjo terpaksa harus meringkuk di sel tahanan Mapolresta Probolinggo. Pasalnya, dia nekat melakukan aksi pencurian di wilayah Probolinggo. Tak tanggung-tanggung, barang yang dicurinya adalah sebuah kendaraan truk Fuso.

Namun aksi jahatnya itu gagal saat jajaran Polresta Probolinggo menangkap pelaku saat membawa kabur kendaraan besar itu ke arah jalan menuju Desa Sukapura.


"Pelaku langsung dilakukan pengejaran begitu membawa kabur truk Fuso itu," ungkap Kasat Reskrim AKP Agus I Supriyanto mendampingi Kapolresta Probolinggo, Agus Wijayanto kepada beritajatim.com, Senin (30/8/2010).

AKP Agus menjelaskan, truk Fuso itu milik salah seorang pengusaha bernama Budi Hariyanto, asal warga Desa Jorongan, Kecamatan Leces, Kabupaten Probolinggo. Sebelum dibawa kabur, truk Fuso milik korban sedang diparkir di jalan raya Angrek, Kota Probolinggo. "Dia melakukan aksinya sendirian," kata Kasat Reskrim.

Mengetahui truk Fuso itu raib, pemiliknya lantas melapor ke Polresta Probolinggo. Saat kejadian itu pula, petugas langsung bergerak cepat. Mengetahui keberadaan kendaraan truk itu melintas ke selatan terminal Bayuangga, polisipun lalu melakukan pengejaran. "Baru sampai di Desa Sukapura, pelaku berhasil kita tangkap," imbuh AKP Agus I Supriyanto.

Selain berhasil menangkap pelaku, polisi juga menyita barang bukti kendaraan truk Fuso. "Pelaku kita jerat dengan pasal 363 KUHP tentang pencurian dan pemberatan dengan ancaman lima tahun penjara," tegasnya. [ugi/kun]

Sumber: http://m.beritajatim.com/detailnews.php/4/Hukum&Kriminal/2010-08-30/75925/1/Pencuri%20Truk%20Fuso%20Ditangkap%20Polresta%20Probolinggo

Selasa, 24 Agustus 2010

Lurah Digerebek Warganya

[ Selasa, 24 Agustus 2010 ]
Gelapkan Raskin, Dikira Maling dan Dikalungi Celurit

PROBOLINGGO -Lurah Pohsangit Kidul Kecamatan Kademangan Kota Probolinggo Rokayat, 48, nyaris menjadi korban amuk warganya sendiri, Senin (23/8) dini hari. Mantan lurah Sumberwetan itu tertangkap basah saat menggelapkan beras bantuan untuk rakyat miskin (raskin).

Warga sampai mengalungkan celurit pada Rokayat. Pasalnya, warga mengira Rokayat adalah maling yang telah mencuri di kantor kelurahan. Maklum, waktu itu kondisi tempat kejadian perkara (TKP) gelap.

Untung saja akhirnya warga mengenali wajah pelaku yang ternyata lurahnya sendiri. Tapi, warga tak memberi ampun setelah Rokayat ketahuan hendak menggelapkan raskin. Warga pun melaporkan kejadian tersebut kepada polisi. Dan, akhirnya polisi menggelandang Rokayat ke Polsekta Kademangan.

Dari informasi yang dihimpun Radar Bromo, waktu itu Rokayat tidak sendirian dalam melakukan aksinya membawa beras raskin dari kantor desar untuk dijual. Ia bersama perangkatnya, Sugito, 43, yang menjabat sebagai ketua RT 3/RW 3 Kelurahan Pohsangit Kidul dan Jumain, 35, warga Kelurahan Sumberwetan Kecamatan Kademangan.

Tiga orang itu mulai beraksi sejak Minggu (22/8) sekitar pukul 23.30 sampai Senin (23/8) dini hari. Tapi, aksi mereka diketahui oleh sekelompok warga yang sedang ronda. Mereka adalah Misnadi, Faishol, Mulyadi, Sutaman, dan Muis.

Nah, sampai di dekat kantor kelurahan Misnadi dkk mendapati ada dua orang mengangkut beras menggunakan gerobak besi. Mendapati itu, Misnadi dkk membiarkan dua orang yang kemudian diketahui adalah Sugito dan Jumain itu melakukan aksinya.

Tapi, tak lama kemudian ada seseorang lagi yang menyusul Sugito dan Jumain. Ternyata, orang itu adalah Rokayat. Tapi, pada saat itu Misnadi dkk masih belum mengetahui kalau orang ketiga itu adalah Rokayat.

Misnadi dkk merasa malam itu harus menangkap tiga kawanan pencuri tersebut. Rupanya, Rokayat dkk semakin mendekati persembunyian Misnadi dkk. Akibatnya, Misnadi menghunus celuritnya bersiap menangkap tiga orang yang diduga maling itu.

Begitu jaraknya semakin dekat, Misnadi langsung meloncat dan memegang kerah baju salah seorang diantara mereka. Misnadi juga langsung mengalungkan celuritnya, sambil bertanya hendak dikemanakan beras tersebut.

Mendapat pertanyaan itu, Rokayat menjawab kalau akan dibagikan kepada rakyat. Mendapat jawaban itu, Misnadi jadi heran dan mengamati wajah musuhnya. Ternyata, orang telah dikalunginya celurit tak lain adalah lurahnya sendiri, Rokayat. "Waktu itulah saya baru tahu kalau Pak Lurah," ujar Misnadi, saat ditemui dirumahnya kemarin.

Mendapati itu, Misnadi pun melepaskannya. Dan, menanyakan secara baik-baik hendak dikemanakan beras tersebut. Saat itulah, Rokayat menjawab hendak dibawa ke rumah Pak RT, Sugito dan akan dibagikan kepada rakyat.

Tapi, setelah didesak ternyata Rokayat mengakui kalau akan menjual beras tersebut. Dan, malam itu beras masih hendak dibawa ke rumah Sugito dulu. "Setelah saya tanya lagi, eh dia jawab mau dijual," ujar Misnadi.

Pada saat itu pula, Rokayat mengajak Misnadi berdamai. Mereka duduk di teras masjid kelurahan setempat. Waktu itu, menurut Misnadi, Rokayat minta kejadian itu tidak dibocorkan. Rokayat pun bersedia memberi Misnadi uang tutup mulut.

Tapi, tawaran itu ditolak oleh Misnadi dkk. Pasalnya, mereka mengaku tidak berani berkongkalikong merampas hak-hak rakyat. "Kami tidak mau. Ini ada buktinya. Apalagi, bulan puasa. Kok masih ada yang berbuat seperti itu," ujarnya.

Lalu tanpa dikomando, warga kian banyak berdatangan. Mereka pun sama-sama menuntut supaya Rokayat dkk dilaporkan kepada polisi. Akhirnya, warga pun sepakat untuk melaporkan kasus tersebut kepada polisi. "Waktu itu, Sugito dan Jumain hanya diam. Wajahnya kelihatan pucat. Setelah ditanya, katanya hanya disuruh Rokayat," jelas Misnadi.

Tak lama kemudian, polisi juga mendatangi TKP. Polisi langsung menggelandang Rokayat, Sugito dan Jumain ke Mapolsek Kademangan. Begitu juga barag buktinya berupa beras sebanyak 31 karung, dengan berat masing-masing 25 kg.

Sampai di mapolsek, perbuatan Rokayat dkk langsung dibuatkan surat laporan oleh polisi. Dalam surat laporan itu, tercantum Rokayat dkk telah melakukan tindak pidana penggelapan raskin sebagaimana pasal 372 KUHP dan mengakibatkan warga mengalami kerugian sebesar Rp 4,6 juta.

Kemarin Rokayat, Sugito dan Jumain kemarin masih dalam pemeriksaan polisi. Kapolsek Kademangan AKP Mahmud mengatakan kasus tersebut sangat sensitif. Penanganannya harus hati-hati. "Setelah kami periksa, nanti kasusnya akan kami limpahkan ke polresta. Hasilnya, sama antara keterangan warga dan keterangan Rokayat," jelas Mahmud.

Sementara, Kapolresta Probolinggo AKBP Agus Wijayanto mengakui kalau kasus tersebut akan ditarik ke polresta. Tapi, sampai kemarin masih dilakukan pemeriksaan di mapolsek Kademangan. "Kami periksa dulu, nanti kalau sudah memenuhi unsur-unsurnya kami lakukan penahanan," jelas Kapolresta.

Tuntut Diproses Hukum

Perbuatan Rokayat mengejutkan seklur Sanamo. "Saya baru tahu tadi pagi (kemarin, red)," ujar Sanamo kemarin. Ia tak menduga lurahnya sampai melakukan itu.

Selama ini, Sanamo mengaku tak tahu kapan beras raskin itu bakal disalurkan kepada rakya. Kebijakan itu tergantung kepada lurahnya. "Mau dibagikan kapan, saya juga tidak tahu," jelanya.

Menurut Sanamo, beras itu berasal dari tiga bantuan dan sudah lama berada di kantor kelurahan. Yakni, hasil dari cangkrukan yang digelar sekitar sebulan lalu banyaknya 200 bungkus dengan masing-masing seberat 5 kg.

Ada juga bantuan dari pemerintah kota sebanyak 200 bungkus, beratnya sama per bungkus juga 5 kg. Itu juga diperoleh sekitar sebulan lalu. Kemudian 150 bungkus yang diperoleh dari bantuan Pramuka. Bantuan dari pramuka itu, diperoleh sekitar 2 bulan lalu.

Terakhir, beras-beras itu sudah tak lagi berada dalam kemasan 5 kg-an. Tapi, sudah dikumpulkan dalam zak bekas oleh Rokayat dkk. Dan, tentu saja itu belum bisa disalurkan kepada yang berhak menerimanya. Pasalnya, beras yang mestinya sudah diterima itu kini dijadikan barang bukti. "Kalau (raskin) ini, warga tidak usah membayar. Gratis," jelas Sanamo.

Atas kejadian ini, warga hanya minta diproses seusai prosedur hukum. Pasalnya, warga tidak mau hal tersebut terulang di kemudian hari. "Kami tidak menuntut dia (Rokayat, red) mundur. Kami hanya meminta supaya dihukum," ujar Misnadi.

Hal senada diutrakan oleh Musari, warga setempat. Ia meminta polisi harus bertindak tegas terhadap Rokayat dkk. Pasalnya, ia telah merampas hak-hak orang miskin. "Mau tidak mau, harus ditahan. Itu kan uangnya rakyat," ujarnya.

Tirto, warga lainnya juga bersikap sama. Malah Tirto menganggap perbuatan Rokayat lebih terhina dari PSK (pekerja seks komersial) dan pembeli togel. "Kalau seperti itu tidak dihukum, wong PSK saja dihukum. Orang beli nomor (togel, Red) juga dihukum. Apalagi itu (Rokayat, red), sudah jelas-jelas salah," katanya. (rud/yud)

Sumber: http://www.jawapos.co.id/radar/index.php?act=detail&rid=176217

Tersangka Curwan, Minta Dua Kasun Diganti

[ Selasa, 24 Agustus 2010 ]
Warga Ngelurug Kantor Desa

TEGALSIWALAN - Puluhan warga Desa Bulujaran Kidul, Tegalsiwalan, Kabupaten Probolinggo ngelurug kantor desa setempat, kemarin (23/8). Mereka menuntut dua kepala dusun yang terlibat tindakan kriminal untuk segera diberhentikan.

Warga yang berjumlah 22 orang itu mendatangi kantor desa sekitar pukul 10.30 WIB. Sebelum ke kantor kepala desa, mereka mendatangi rumah Alim, salah satu anggota DPRD Kabupaten Pasuruan. Massa lantas mengajak Alim untuk menyampaikan aspirasi mereka ke kantor desa.

Sesampai di kantor desa, massa sempat kecewa lantaran Kades Bulujaran Kidul H Luthfi sedang tidak ada di tempat. Puluhan massa itu akhirnya ditemui dua perangkat desa dan beberapa perwakilan BPD (Badan Permusyawaratan Desa).

Sekretaris BPD semtempat Marzuki akhirnya memimpin pertemuan itu. Marzuki lantas menanyakan maksud kedatangan warga ke kantor desa. Alim yang diberi kesempatan lantas menyampaikan uneg-uneg warga. "Masyarakat ini menanyakan soal dua pamong desa yang terlibat masalah hukum," jawab Alim yang juga anggota dewan asal PKNU tersebut.

Menurut Alim, masyarakat yang datang itu bertanya-tanya tentang status dua pamong desa yang terjerat kasus kriminal itu. "Kami sudah dapatkan bukti otentik berupa surat dari Polsek. Pak Imam dan Sulaiman itu sudah dipanggil Polsek sebagai tersangka untuk kasus 363 (pencurian)," jelas Alim.

Dengan surat itu, maka jabatan kepala dusun (Kasun) Plerenan Kidul yang dipegang Sulaiman dan kasun Plerenan Lor yang dipangku Iman patut dipertanyakan. Sesuai dengan perda (peraturan daerah) yang ada.

"Di perda soal pengaturan perangkat desa ada pada pasal VIII. Perangkat desa bisa diberhentikan apabila dinyatakan melakukan tindak pidana yang diancam pidana penjara paling singkat 5 tahun. Nah, dua perangkat itu sudah kena pasal 363 yang diancam 7 tahun penjara," jelas Alim.

Mendapat penjelasan seperti itu, Marzuki mengaku sedikit kecewa. Pasalnya selama ini masyarakat tidak pernah menyampaikan uneg-uneg itu kepada BPD. "Kami belum pernah dilapori sama sekali," akunya.

Meskipun begitu, Marzuki mengaku bakal tetap menampung aspirasi masyarakat. "Kalau keputusan memberhentikan perangkat itu wewenang kades. Karena sekarang ini kadesnya tidak ada, nanti kami dari BPD akan menyampaikannya ke kades," janjinya.

Marzuki pun meminta waktu 5 hari kepada warga untuk menyampaikan aspirasi itu. Massa sempat keberatan dengan janji Marzuki itu. "Abit, abit sarah Pak (terlalu lama Pak, Red)," celetuk beberapa warga dengan nada tinggi.

Kanit Reskrim Polsek Tegalsiwalan Aipda Lukman Wahyudi yang saat itu juga hadir akhirnya menengahi. Menurut Kanit reskrim, BPD sudah mempunyai itikad baik menyampaikan aspirasi masyarakat ke kades.

"Nggak apa-apa agak lama. Yang terpenting aspirasi itu bisa diterima oleh kades. Daripada disampaikan dalam waktu cepat, tetapi grusa-grusu," kata Kanit Reskrim.

Massa akhirnya menerima janji tersebut. Lima hari ke depan massa bakal menagih janji yang disampaikan BPD tersebut. "Tetapi saya ingatkan, keputusan ada di kades. Kami dari BPD hanya berupaya menyampaikan aspirasi ini," jelas Marzuki. Usai mendengar janji tersebut, masyarakat pun bersedia meninggalkan kantor desa.

Terjerat Curwan

Amarah masyarakat Desa Bulujaran Kidul, Kecamatan Tegalsiwalan terhadap Kasun Plerenan Lor Imam dan Kasun Plerenan Kidul Sulaiman tak terlepas dari kasus curwan yang menjerat keduanya. "Kami tidak ingin kampung kami jadi kampung maling," celetuk salah satu warga, kemarin.

Saat ini status kedua pamong itu memang tersangka. Keduanya terlibat sindikat curwan (pencurian hewan) di desa setempat pada Desember 2009.

Menurut Kanitreskrim Polsek Tegalsiwalan Aipda Lukman Wahyudi, terjeratnya dua kasun tersebut merupakan hasil pengembangan kasus yang dilakukan Polsek. Mulanya Polsek berhasil menangkap dua pelaku curwan.

Lantas dua pelaku curwan itu menyebut beberapa nama yang ikut terlibat curwan. Nah, pamong Sulaiman dan Imam itu disebut-sebut sebagai aktor intelektualnya.

"Jadi pelaku yang kami tangkap menyebut nama lain. Pelaku D dan E yang kami tangkap itu menyebut nama C (saat ini masih buron) dan dua orang lainnya A (Imam) dan B (Sulaiman). Dari keterangan itu, A dan B sudah kami sidik dan jadi tersangka," jelas Kanit Reskrim.

Saat ini kasus tersebut masih dalam penyidikan Polsek Tegalsiwalan. "Sejauh ini berkas sudah 90 persen. Selanjutnya akan kami kirim," kata Aipda Lukman. (mie/hn)

Sumber: http://www.jawapos.co.id/radar/index.php?act=detail&rid=176210

Kamis, 19 Agustus 2010

Rumah Waket DPRD Disatroni Maling

[ Kamis, 19 Agustus 2010 ]
PROBOLINGGO - Rumah Wakil Ketua (Waket) DPRD Kabupaten Probolinggo Wahid Nurrahman di perumahan Green Royal, Kedopok Kota Probolinggo disatroni maling pagi kemarin (18/8). Syukur saja, saat itu rumah dalam keadaan kosong. Tiada penghuni maupun perabot berharga. Si pencuri pun tak membawa apa-apa.

Wahid memang aslinya bertempat tinggal di Selogudik, Pajarakan Kabupaten Probolinggo. Rumahnya di Green Royal hanya jadi tempat transit bila tugasnya sebagai anggota dewan mengharuskannya menghabiskan waktu di Kota Probolinggo. Sebab, kantor DPRD kabupaten Probolinggo sampai saat ini masih berada di wilayah kota.

Nah, kemarin Wahid dan keluarganya juga menghabiskan waktu di rumah Selogudik. "Mulai kemarin, kebetulan kami juga di rumah timur (Pajarakan)," kata isteri Wahid.

Sehari-harinya, bila sedang tidak ditempati, biasanya rumah itu ada penjaganya. Nah, kebetulan pagi kemarin sekitar pukul 04.00 penjaga rumah itu sedang pergi untuk beli makanan sahur.

Saat itulah, pencuri tersebut beraksi. Dari keterangan beberapa saksi mata, pencuri masuk melalui tembok bagian belakang rumah Wahid. Kebetulan bagian sisi selatan perumahan Green Royal berbatasan dengan sekolah dasar. Pencuri pun menggunakan tangga untuk melewati dinding pembatas di belakang rumah Wahid itu.

Pelaku kemudian masuk melalui jendela bagian samping rumah. "Ini grendelnya sudah dirusak," terang isteri Wahid.

Diperkirakan saat itu pencuri itu sudah berhasil masuk ke dalam rumah. Sayang di dalam rumah Wahid sendiri juga tidak ada barang yang berharga. Karena itu pencuri itu tidak berhasil membawa pulang apa-apa.

Usai tak membawa hasil di rumah Wahid, pencuri lalu meneruskan aksinya di rumah sebelah Wahid. Sayang sebelum beraksi, pencuri itu keburu ketahuan. "Usai ketahuan, pencurinya langsung kabur dari tempat awal ia datang," lanjutnya.

Yunus, satpam perumahan Green Royal mengatakan, saat kejadian berlangsung kebetulan satpam penjaga sedang libur. "Dini hari tadi itu sedang libur, cuma pagar tetap ditutup. Saya baru masuk pagi tadi," ungkapnya.

Wahid sendiri tidak terlalu menanggapi serius insiden tersebut. Karena itu ia pun tidak melaporkan kejadian tersebut ke petugas kepolisian setempat. Ia menyatakan, peristiwa tersebut murni kriminal dan tidak berkaitan dengan politik. "Mungkin yang mau mencuri itu belum kenal saya. Kalau kenal, pasti gak akan mencuri. Karena saya kan terkenal orang yang sosialis," seloroh Wahid lalu tersenyum.

Teror di Kedopok

Selang satu jam usai insiden pencurian di rumah wakil ketua dewan, tak jauh dari perumahan Green Royal, tepatnya di Jl Bengawan Solo, Jrebeng lor, Kedopok geger. Satimah, 35, warga setempat dianiaya dan nyaris diperkosa oleh orang yang tak dikenalnya.

Menurut penuturan Satimah, pagi itu ia sedang buang air besar di sungai dekat rumahnya. Usai buang air besar, ia duduk-duduk di pinggiran sungai yang juga berdekatan dengan areal pesawahan.

"Saat itu ada orang laki-laki lewat. Ia memakai celana pendek dengan membawa senter dan arit. Karena lewat di depan saya, saya pun menyapanya. Saya kira ia warga setempat," cerita Satimah dalam bahasa Madura.

Namun sikap ramah Satimah ini dibalas dengan perbuatan kasar yang dilakukan orang asing itu. Lelaki asing itu tiba-tiba menghunuskan celuritnya ke arah Satimah. "Saya diminta untuk mengikutinya di tengah sawah. Tetapi saya tidak mau," akunya.

Karena tidak mau, Satimah pun sempat dipukul di bagian pipinya, hingga ia terjatuh. Usai memukul Satimah, lelaki asing itu pergi ke arah timur. "Mungkin kalau saya mau diajaknya ke tengah sawah, saya bisa-bisa diperkosa," kata Satimah.

Lelaki asing itu disebut-sebut warga setempat bertemu lagi dengan salah seorang warga di Gg Kyai Arum. Dan sempat cekcok dengan warga setempat itu. "Sudah mas, jangan tanya-tanya lagi, saya plengen (pusing)," ujar suami dari warga tersebut.

Kapolsek Wonoasih AKP Ohim saat dikonfirmasi Radar Bromo mengaku, pihaknya masih belum mendapat laporan atas beberaa kejadian tersebut. Mulai dari percobaan pencurian di rumah Wahid maupun tindakan kekerasan yang dialami Satimah. "Masih belum ada laporan yang masuk," katanya.

Meskipun begitu, ia mengatakan akan mengecek lansgung di lapangan. "Kami akan terus lakukan patroli untuk keamanan," bebernya. (mie/yud)

Sumber: http://www.jawapos.co.id/radar/index.php?act=detail&rid=175576

Rabu, 11 Agustus 2010

Geger Pencurian Kambing di Pesisir

[ Rabu, 11 Agustus 2010 ]
Massa Marah, Polisi sampai Keluarkan Tembakan

PROBOLINGGO - Wafan alias Yayan, 25 warga Sumbertaman dan Toha alias Susanto, 26, warga Jati Kota Probolinggo kemarin (10/8) siang bikin geger warga Desa Pesisir, Kecamatan Sumberasih Kabupaten Probolinggo. Dua orang itu tertangkap basah mencuri kambing milik Yakob, 44, warga RT2/RW I Desa Pesisir. Tak ayal, Yayan dan Toha langsung dimassa.

Beruntung saja meski sempat dikeroyok, dua orang tersebut berhasil diselamatkan dari amuk massa. Keduanya lantas diserahkan massa ke Polsek Sumberasih.

Dari data yang dihimpun Radar Bromo, sekitar pukul 12.30 kemarin Yakob sedang menggembala 6 ekor kambingnya di dusun Mawar, Desa Pesisir. Suasana desa tersebut siang itu sedang sepi.

Di sela-sela aktivitas menggembala, Yakob sempat meninggalkan kambingnya karena ia harus menaruh rumput hasilnya ngarit. Nah, momen itu dimanfaatkan oleh Yayan dan Toha untuk beraksi.

Dengan menggunakan motor Honda Beat yang masih kinyis-kinyis dengan nopol N 4229 RV, keduanya membawa kabur seekor kambing yang diangon Yakob. Setelah berhasil disahut, kambing curian itu ditaruh di tengah-tengah motor.

Tapi, aksi itu tak berlangsung mulus karena Yakob memergokinya. Hanya, meski tahu satu kambingnya digondol maling, Yakob tak bisa berbuat banyak. "Saya takut ditabrak," ujarnya.

Setelah Yayan dan Toha berlalu dengan motornya, barulah Yakob berani berteriak. Kebetulan pada saat yang bersamaan melintas Suyono dan Edi, dua warga Pesisir.

Mendengar teriakan Yakob, Suyono dan Edi langsung beraksi. Kebetulan posisi mereka tak jauh dengan Yayan dan Toha. Spontan dan dengan gerakan cepat, Edi langsung mengambil sebuah balok kayu dan memukulkannya ke kepala Toha. Langsung saja Toha jatuh tersungkur.

Toha jatuh, Yayan dengan mudah diamankan. Dalam waktu cepat, warga Pesisir berdatangan ke tempat kejadian. Tanpa dikomando, mereka menghajar Yayan dan Toha.

Beruntung Kepala Desa (Kades) Pesisir M. Rofi'i yang datang langsung ke lokasi berusaha menenangkan massa dan mengamankan dua pelaku tersebut ke rumah salah satu warga. Tapi, kabar tertangkapnya pelaku pencurian itu kadung menyebar luas. Warga setempat pun banyak yang bergerombol untuk menghakimi dua pelaku tersebut.

Dengan alasan keamanan, dua pelaku itu langsung diamankan sementara di rumah Kades Rofi'i. Tetapi tetap saja massa bergerombol di luar rumah kades dan siap menghakimi dua pelaku pencurian tersebut. "Warga sini sudah kesal. Kami sering kecolongan. Setahun ini saja sudah ada 4 kambing yang hilang dicuri," kata Asmad, salah satu perangkat desa.

Sekitar pukul 13.30, petugas keamanan dari Polres Probolinggo dan Polsek Sumberasih datang ke lokasi untuk mengamankan dua pelaku pencurian tersebut. Namun, polisi juga cukup kerepotan untuk mengevakuasi dua pelaku tersebut.

Sebab, ratusan massa yang sudah stand by di luar rumah kades sudah siap untuk menghakimi dua pelaku tersebut. Untuk menenangkan emosi warga, anggota polres yang berpakaian preman kemarin pun sempat mengeluarkan dua kali tembakan peringatan.

Tembakan peringatan itu pun cukup bikin warga keder. Selanjutnya, polisi mengevakuasi dua pelaku tersebut ke luar dari rumah kades untuk masuk ke mobil patroli. Mereka memecah kerumunan massa yang masih berupaya untuk menyerang dua pelaku tersebut. Kedua pelaku pencurian kambing itu akhirnya berhasil dievakuasi sekitar pukul 14.30 dan langsung dilarikan ke Polsek Sumberasih untuk diperiksa. (mie/yud)

Sumber: http://www.jawapos.co.id/radar/index.php?act=detail&rid=174275

Jumat, 06 Agustus 2010

Dari Solo, Nyolong Buku Dibekuk

[ Kamis, 05 Agustus 2010 ]
PROBOLINGGO- Ulah Eri Noer Hadi, 35, warga Kelurahan Dawung Tengah, Sukoharjo, Solo, membuat pengusaha toko buku resah. Lelaki yang juga beralamat di Banjarmasin ini, ketahuan nyolong buku pelajaran di Kota Probolinggo.

"Awalnya, kami sudah curiga, karena dia memang sering datang ke sini. Tapi, tak pernah membeli," ujar Lukman salah seorang karyawan di toko tersebut, kemarin (4/8). Atas perbutannya itu, Eri kini harus meringkuk di dalam sel tahanan Mapolresta.

Dari informasi yang dihimpun Radar Bromo, Minggu (1/8) lalu sekitar pukul 14.00. Eri bersama dengan dua orang temannya masuk ke toko yang beralamat di Jl Panglima Sudirman Kota Probolinggo itu. Begitu masuk, mereka bertiga, langsung menuju rak buku mata pelajaran untuk SD, SMP dan SMA yang berada di bagian tengah toko.

Tak lama kemudian, Eri melangkah ke bagian belakang toko dengan membawa beberapa buku. Sementara, dua orang temannya tetap berada di sisi rak buku semula. Tak lama kemudian, Eri kembali dengan tangan kosong.

Aksi itu, dilakukan Eri hingga beberapa kali. Aksi Eri itu diketahui Imron, salah seorang karyawan di took buku itu. Waktu itu, Imron melihat Eri hendak menyembunyikan beberapa buku di balik celananya. "Disembunyian di balik celana, di dalam kaos kakinya," jelas Lukman.

Melihat itu, Imron langsung menegurnya. Tapi, bukan permintaan maaf yang dilakukan oleh Eri. Ia berusaha kabur. Tapi, Imron bersama seorang temannya menahan usaha Eri. Mengetahui Eri tertangkap, kedua temannya langsung kabur menggunakan mobil Avanza warna merah.

Entah siapa yang mengundang, tak lama kemudian polisi mendatangi tempat kejadian perakara (TKP). Mereka langsung meringkus Eri dan menggelandangnya ke Mapolresta. "Sebenarnya kami mau damai, tapi karena dia terus berusaha mau kabur akhirnya kami serahkan kepada polisi," jelas Lukman.

Setelah digeledah, ternyata tak hanya satu buku yang telah masuk ke balik celananya. Total ada sebelas buku, yakni buku mata pelajaran fisika untuk kelas IX SMP sebanyak 6 buah, 3 buku bahasa Inggris untuk kelas XI, dan 2 buah buku matematika untuk kelas 1 SD.

"Baru satu yang berhasil ditangkap, yang dua orang berhasil kabur," jelas Kapolresta Probolinggo AKBP Agus Wijayanto melalui Kasatreskrim AKP Agus I Supriyanto.

Menurut Kasatreskrim, setelah dilakukan pemeriksaan Eri mengaku sudah dua kali melakukan pencurian buku. Tapi, sebelumnya Eri melakukan aksinya di Surabaya. Dan, buku hasil curiannya itu dijual untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.

"Ini modus baru, ada kemungkinan mereka sindikat. Karena tidak mungkin dari jauh-jauh dari Solo hanya untuk mencuri buku itu," jelasnya. (rud/nyo)

Sumber: http://www.jawapos.co.id/radar/index.php?act=detail&rid=173486

Jumat, 30 Juli 2010

Mau Numpang Tidur, Dihajar Massa

[ Jum'at, 30 Juli 2010 ]
PROBOLINGGO - Nasib nahas dialami Lukman, 35, asal Kalimantan Barat. Lelaki yang berdomisili di Desa Muneng Leres, Kecamatan Sumberasih, Kabupaten Probolinggo ini babak belur dihajar massa setelah ketahuan masuk ke rumah seorang warga. Kini Lukman diamankan di Polsek Kademangan.

Berdasarkan keterangan kepolisian, Lukman adalah pekerja di pabrik batako milik Sunarji yang bertempat di Jl Soekarno-Hatta, Kelurahan Pilang, Kecamatan Kademangan. Entah apa yang ada di benak Lukman, Rabu (28/7) sekitar pukul 23.00 WIB dia masuk ke rumah Sunarji dengan cara mengendap-endap.

Malam itu Sunarji memang sedang tidak di rumah. Lukman sendiri masuk ke rumah Sunarji dengan cara tidak lazim. Ia tidak masuk melalui pintu depan, namun menggunakan tangga.

"Kemudian aksinya itu ketahuan warga. Dia (Lukman) masih belum melakukan apa-apa tapi sudah keburu ketahuan. Lalu dia dikejar oleh warga. Alasannya waktu ditanya mau numpang tidur tapi tidak bilang ke pemiliknya," ujar Kapolsek Kademangan AKP Machmud didampingi Kanit Reskrim Aiptu Wagirun.

Beruntung polisi yang mendapat informasi langsung mendatangi lokasi kejadian. Akhirnya Lukman diamankan di polsek setelah sempat menjadi bulan-bulanan warga yang geram dengan aksi lelaki yang sudah punya satu anak itu.

"Dia memang sudah punya niat. Lalu menyelinap ke rumah itu. Mungkin ada yang melihatnya sebelum perbuatan pencurian dilakukan. Pelaku sudah melanggar pasal 53 KUHP tentang percobaan pencurian dengan ancaman hukuman dua tahun. Dia sudah masuk ke pekarangan atau rumah tanpa izin pemilik," terang kapolsek.

Kepada Radar Bromo, Lukman mengaku sudah setahun bekerja sebagai pembuat luluh di pabrik batako tersebut. "Saya hanya ingin meminta perlindungan karena banyak warga di luar. Saya maunya menginap di sana karena ada masalah keluarga di rumah. Waktu naik pakai tangga lalu ketahuan sama orang," tutur Lukman yang mengalami luka di bagian wajahnya.

Sampai berita ini diturunkan, Lukman masih berada di polsek. Ia juga sudah diperiksa oleh penyidik. "Sementara dia kami amankan di sini. Sejak kemarin (28/7) malam sampai sekarang (siang kemarin) yang punya rumah belum melapor," ucap AKP Machmud. (fa/hn)

Sumber: http://www.jawapos.co.id/radar/index.php?act=detail&rid=172536

Senin, 26 Juli 2010

Pencuri Ejek PLN-Polres

Minggu, 25 Juli 2010 | 11:11 WIB

PROBOLINGGO - PLN Unit Pelayanan dan Jaringan (UPJ) Probolinggo dan Polres Probolinggo selama tujuh bulan terakhir seperti diejek pencuri trafo. Soalnya, selama kurun waktu Januari-Juli, sebanyak 9 trafo dicuri tetapi tidak satu pun pencuri berhasil ditangkap.

“Kami tidak habis pikir, betapa lihai komplotan ini beraksi sehingga tidak satu pun yang bisa dibekuk,” ujar Manager PLN UPJ Probolinggo, Rustam Efendi, Sabtu (24/7) malam. Dikatakan dampak pencurian trafo itu tidak sebatas kerugian material tetapi juga ratusan rumah pelanggan gelap gulita.

“Hingga kini, listrik di sebagian Desa Sumberklidung masih belum menyala, karena kami masih menunggu kedatangan trafo pengganti,” ujar Rustam. Sebelumnya, Senin (19/7) dinihari lalu, trafo berkapasitas 50 KVA di Dusun Sumberklidung I, Desa Sumberklidung, Kec. Tegalsiwalan, Kab. Probolinggo amblas dicuri komplotan pencuri.

Padahal trafo itu sudah dilengkapi pengaman berupa teralis besi yang dilas. “Rupanya masih bisa dicuri, teralis besi itu digergaji. Tentu saja memakan waktu lebih lama,” ujarnya.

Bahkan komplotan ini seolah-olah mengejek PLN dan jajaran polisi. “Soalnya, mur dan baut dari trafo dijejer di selembar daun pisang,” ujar Rustam. Ia menambahkan, selama Januari-Juli ini sebanyak 9 trafo PLN jadi sasaran pencurian. “Memang ada dua trafo yang gagal dicuri, tetapi tetap saja kedua trafo itu rusak karena dijatuhkan dari ketinggian,” ujarnya.

Pada 1 Mei lalu, trafo di Dusun Sulur, Desa Purut, Kec. Lumbang gagal dicuri. Komplotan pencuri kabur setelah dipergoki warga desa. Beberapa bulan sebelumnya, aksi pencurian trafo di Desa Wonorejo, Kec. Wonomerto, juga gagal.

Sisi lain, kasus pencurian trafo lainnya di Kab. Probolinggo tergolong ”sukses”. Yakni, 1 April lalu, trafo distribusi di Desa Sumberkare, Kec. Wonomerto, Kab. Probolinggo dicuri. Dan pada 21 April lalu, trafo PLN di Desa Wonoasri, Kec. Kuripan, Kab. Probolinggo juga hilang. Kasus pencurian trafo juga terjadi di Desa Gunungbekel, Kec. Tegalsiwalan, Desa Tigasan Kulon, Kec. Leces, dan Desa Legundi, Kec. Bantaran.

Disinggung soal kerugian material akibat pencurian trafo, Rustam mengatakan, trafo berkapasitas 100 KVA kerugian materialnya sekitar Rp 70 juta. “Kalau di Sumberklidung kerugiannya separonya, karena kapasitasnya 50 KVA,” ujarnya.

Rustam yang baru 12 April lalu menjabat Manager UPJ PLN Probolinggo berharap Polres segera membekuk komplotan pencuri trafo. Soalnya tidak hanya berdampak kerugian material, tetapi ratusan warga rumahnya bakal gelap sekitar dua minggu selama menunggu trafo pengganti datang. “Kami harus menunggu datangnya trafo pengganti yang kami ajukan melalui APJ (Area Pelayanan dan Jaringan) Pasuruan,” ujarnya.

Trafo sering menjadi sasaran pencurian karena kabel tembaganya relatif mahal. Pencuri biasanya menjatuhkan trafo kemudian “dijagal” utuk diambil kumparan kawat tembaganya saja.

Sementara bagian trafo seperti wadah (casing) digeletakkan begitu saja. Seperti diketahui, dalam setiap trafo ada kawat tembaga seberat 1 kuintal lebih. ”Dengan harga tembaga Rp 60 ribu per kilogram, komplotan pencuri menangguk sekitar Rp 6 juta,” ujar Rustam.

Komplotan Profesional

Wakapolres Probolinggo, Kompol Sucahyo Hadi menduga, komplotan yang mencuri trafo tergolong profesional. “Pencurian dilakukan secara terorganisir dan rapi sehingga sulit dilacak,” ujarnya.

Pencuri juga memilih waktu dinihari ketika sebagian besar warga di sekitar trafo tertidur lelap. Ketika listrik tiba-tiba padam, warga justru mengira sedang terjadi pemadaman, padahal karena trafo dicuri.

Berdasarkan olah tempat kejadian perkara (TKP) di sejumlah lokasi trafo dicuri, Wakapolres menemukan sejumlah indikasi. “Kelompok pencuri trafo ini lebih dari satu kelompok,” ujarnya.

Yang jelas, Polres tidak tinggal diam menyikapi maraknya aksi pencurian trafo. “Pencurian ini harus diungkap karena tidak hanya merugikan PLN, tetapi juga warga yang menjadi pelanggan PLN,” ujarnya.

Sebenarnya setelah beberapa kali trafonya digondol pencuri, PLN melakukan berbagai upaya. Di antaranya memasang teralis besi yang melindungi trafo. “Kenyataannya trafo di Sumberklidung yang dilengkapi teralis besi masih bisa digondol,” ujar Rustam Efendi. isa

Sumber: http://www.surabayapost.co.id/?mnu=berita&act=view&id=66812ae75018a6ef1e4b8a2efe46c416&jenis=1679091c5a880faf6fb5e6087eb1b2dc