Tampilkan postingan dengan label Kertas Leces. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kertas Leces. Tampilkan semua postingan

Senin, 22 November 2010

PPA tunggu kucuran Rp2 triliun untuk BUMN

Minggu, 21/11/2010 14:32:08 WIB

Oleh: Gita Arwana Cakti JAKARTA: PT Perusahaan Pengelola Aset (PPA) masih menunggu kucuran dana tambahan dari pemerintah senilai Rp2 triliun untuk penyehatan perushaan-perusahaan BUMN.

Sekretaris Perusahaan PPA Renny O Rorong mengatakan Kementerian BUMN memang sudah mengusulkan tambahan dana Rp2 triliun dan saat ini masih dalam tahap pembahasan dengan Departemen Keuangan.

“Kami harap dana tersebut dapat cair pada 2011. Sudah kami usulkan tentang dana tersebut. Kementerian BUMN juga katanya sudah mengusulkan. Sekarang masih di tahap pembahasan bersama Departemen Keuangan,” ujarnya akhir pekan lalu.

Dia mengatakan perseroan memang sudah mendapatkan dana sebesar Rp2,5 triliun, yakni sebesar Rp1,5 triliun pada 2008 dan Rp1 triliun pada 2009. Pada 2010 perseroan tidak mendapatkan suntikan dana karena masih menggunakan sisa dari Rp2,5 triliun itu. Namun Renny menilai hingga 2011 kebutuhan perseroan untuk menyehatkan perusahaan-perusahaan BUMN lebih dari jumlah tersebut.

“Yang sudah kami dapat sejak 2008 memang Rp2,5 triliun. tetapi kebutuhan pasti lebih dari itu. Kalau untuk detil angkanya yang sudah terpakai saya tidak ingat, karena harus melihat data yang ada. Saya juga tidak bisa menyebutkan perusahaan mana yang membutuhkan dana terbesar dan terkecil, karena itu tergantung pada akhir kajian kami dan kondisi perusahaan,” kata dia.

Renny menyebutkan hingga saat ini perseroan menangani 18 perusahaan BUMN. Perusahaan itu a.l. PT Merpati Nusantara Airlines, PT PAL Indonesia, PT Waskita Karya, PT Kertas Kraft Aceh, PT Industri Gelas, PT Industri Sandang Nusantara, PT Djakarta Lloyd, PT Hotel Indonesia Nataour, Industri Film Nasional, dan PT Kertas Leces.

“Merpati saja butuh sekitar Rp300 miliar, PAL butuh Rp475 miliar. Itu baru dua perusahaan. Waskita Karya butuh Rp450 miliar. Belum lagi bicara yang lainnya seperti Dirgantara Indonesia, Primisima, Djakarta Lloyd, dan macam-macam lagi. Jadi jangan melihat dari nilai [dana] yang sudah kami dapat karena pasti kurang,” tutupnya. (05)

Sumber: http://web.bisnis.com/berita-populer/1id220554.html

Rabu, 10 November 2010

Kapasitas Produksi 7 Pabrik Gula di Jatim Sulit Ditingkatkan

Terhambat sempitnya lahan

TEMPO Interaktif, Jakarta - Akibat rendahnya animo petani untuk menanam tebu, PTPN XI merasa kesulitan meningkatkan produksi gula di 7 pabrik gula (PG) di Jawa Timur yang dikelolanya.

Tujuh PG yang sulit digenjot produksinya itu adalah PG Olean, Wringinanom, Pandjie (Kabupaten Situbondo), PG Wonolangan, Padjarakan, Gending (Kabupaten Probolinggo), serta PG Kanigoro di Kabupaten Madiun.

Sekertaris Perusahaan PTPN XI, Adig Suwandi mengatan, kesulitan menggenjot produksi itu disebabkan 7 PG tersebut kekurangan bahan baku. “ Di kawasan tersebut, tebu kalah bersaing terhadap komoditas agribisnis lain,” kata Adig kepada Tempo, Selasa (9/11) kemarin.

Menurut dia, kompetisi dalam penggunaan lahan sangat ketat. Lokasi PG yang sangat dekat dengan kota juga rawan isu lingkungan hidup. Selain itu, juga letak geografisnya menjadi hambatan untuk mengembangkan tebu. “Contohnya PG Olean di Kabupaten Situbondo yang memang secara struktural, kapasitas gilingnya terlalu kecil (hanya 800 ton tebu per hari,” kata Adig.

Karena itu, PTPN XI juga sulit ekspansi areal karena sebelah utara PG Olehan berbatasan dengan Selat Madura, sebelah selatan ada PG Pradjekan, timur ada PG Pandjie dan PG Assembagoes, dan di sebelah barat PG. Olehan berhadapan PG Wringinanom dan PLTU Paiton. “Jadi masalahnya memang pelik,” katanya.

Saat ini 7 PG tersebut berkapasitas 9.500 ton tebu perhari (tth), dengan rincian Kanigoro (1.700 tth), Wonolangan (1.600 tth), Gending (1.600 tth), Padjarakan (1.200 tth), Wringinanom (1.000 tth), Olean (800 tth), dan Pandjie (1.600 tth). Menurut Adig, dengan asumsi lama giling minimal 150 hari, di 7 PG tersebut diperlukan tebu sebanyak 1.426.000 ton. “Tetapi yang tersedia secara hanya 320.000 ton. Jadi kita masih kekurangan 1.005.000 ton,” katanya.

Meskipun terus defisit tebut, Adig menyatakan, PTPN XI tidak akan menutup 7 PG tersebut. Dalam pertemuan dengan Gubernur Jatim Soekarwo awal November lalu, telah disepakati PTPN XI tidak akan menutup 7 PG tersebut, namun dengan syarat Pemprov Jatim bisa mengusahakan agar tidak terjadi kekurangan tebu.

Sementara ini untuk menutupi defisit, PTPN XI merevitalisasi 2 PG miliknya, yakni PG Jatiroto (Lumjang) dan PG Semboro (Jember). Dengan cara ini, PG Jatiroto yang semula berkapasitas 5000 tth dinaikkan menjadi 7500 tth. Begitu juga PG Semboro yang semula berkapasitas 4500 tth ditingkatkan menjadi 7000 tth.

Selain revitalisasi pabrik tua, PTPN XI juga berencana membangun PG baru di Kabupaten Banyuwangi. “Tapi masih terbentur lahan,” katanya. Selain itu, juga dijajaki membangun PG baru di sekitar Leces melalui sinergi BUMN antara PTPN XI dan PT Kertas Leces. Namun Adig belum bisa memastikan kapan 2 PG tersebut dibangun.

Yang jelas, kata dia, pembangunan 2 PG tersebut memerlukan lahan yang luas, minimal 10.000 hektar lahan untuk satu PG. “Jadi perlu dukungan pemerintah daerah, dan masyarakat,” ujar dia.

KUKUH S. WIBOWO.

Sumber: http://www.tempointeraktif.com/hg/bisnis/2010/11/10/brk,20101110-290792,id.html


Sabtu, 06 November 2010

Meneg BUMN: Tak ada penutupan PG di Jatim

Sabtu, 06/11/2010 14:06:27 WIB
Oleh: Siti Munawaroh & Yuristiarso Hidayat
GRESIK: Menteri Negara BUMN Mustafa Abubakar menegaskan tidak akan ada penutupan pabrik gula di Jawa Timur, termasuk tujuh PG milik PTPN XI yang merugi.

Pernyataan ini disampaikan sebagai jawaban atas permintaan Pemprov Jatim, yang meminta pihaknya mempertimbangkan proses penutupan tujuh PG yang merugi.

"Untuk sementara tidak ada kebijakan penutupan PG di Jatim, ini termasuk tujuh PG yang ada rencana akan ditutup. Pernyataan ini sebagai jawaban buat Pemprov Jatim, karena Pak Karwo [Soekarwo, Gubernur Jatim] sempat menanyakan soal itu," kata Mustafa saat meresmikan sejumlah proyek strategis di PT Petrokimia Gresik, hari ini.

Sejumlah proyek yang diresmikan itu a.l peningkatan utilitas pembangkit listrik batu bara milik PT Petrokimia Gresik, pabrik NPK Fusion unit 1 dan 2 serta desalinasi reverse osmosis milik PT Pupuk Kaltim.

Selain itu ada pemancangan tiang pertama pabrik asam fosfat milik PT Petro Jordan Abadi, dan pemancangan tiang pancang pertama Terminal multi purpose Teluk Lamong milik PT Pelabuhan Indonesia III.

Mustafa menyatakan persoalan industri gula, khususnya di Jatim, mesti diselesaikan secara menyeluruh, baik sektor on farm maupun off farm.

"Untuk off farm ini merupakan domain BUMN karena terkait manajemen dan industri maka akan ada proses evaluasi terkait kinerja. Ke depan program revitalisasi industri gula akan dilanjutkan, termasuk akan menata tata niaganya khususnya pola pembelian tebu petani, " tegasnya.

Mustafa menegaskan kini ada dana untuk perbaikan industri gula sebesar Rp7,4 triliun dan sejumlah dana untuk program bantuan kredit sektor on farm, baik KUR maupun KKPE.

Dia meminta khusus untuk sektor on farm agar ditangani dan dibantu penyediaannya oleh Pemerintah Daerah, termasuk Pemprov Jatim sebagai sentra gula nasional.

"Saya minta kepala daerah khususnya Gubernur Jatim agar membantu menyiapkan tambahan lahan untuk perluasan tanam tebu. Ini agar ada dukungan bagi PG sehingga ada kesesuaian antara luasan lahan dan pasokan tebu sebagai bahan baku dengan kapasitas giling PG," ujarnya.

Sebelumnya, manajemen PTPN XI sempat mewacanakan akan menutup tujuh unit PG miliknya yang selalu merugi sebesar Rp9 miliar- Rp10 miliar setahun setiap PG. Ketujuh PG itu terdiri atas PG Olehan, PG Wringin, PG Panji (ketiganya berlokasi di Kabupaten Situbondo), PG Wonolangan, PG Pajarakan, PG Gending (ketiganya di Kab. Probilinggo) dan PG Kanigoro di Kab. Madiun.

Namun, sejumlah kalangan menyatakan ketidaksetujuannya atas rencana penutupan PG milik PTPN XI itu. Beberapa pihak yang menolak rencana itu a.l. Pemprov dan DPRD Jatim serta APTRI. Bahkan, Gubernur Jatim Soekarwo sempat mengirim surat kepada Meneg BUMN untuk menggagalkan penutupan ketujuh PG milik PTPN XI.

Pemprov dan DPRD Jatim sendiri telah menyiapkan tim analisis ekonomi dan sosial untuk memberikan masukan, termasuk bila ketujuh PG itu akan diakuisisi oleh Pemprov.(er)

Sumber: http://web.bisnis.com/sektor-riil/agribisnis/1id218835.html

Kamis, 04 November 2010

DPD: Ada Mafia di Balik PG

Kamis, 4 Nopember 2010 | 11:03 WIB

PROBOLINGGO – Rencana penutupan 7 pabrik gula (PG) di Jatim oleh PT Perkebunan Nusantara (PTPN) XI mendapat sorotan anggota Komite IV Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI, Abdul Sudarsono. Ia mencium gelagat adanya mafia, karena akan ada pendirian PG baru oleh PT Kertas Leces bersama PTPN XI.

“Modus seperti itu pernah terjadi ketika sebuah PG baru hendak dibangun di Banyuwangi, sekitar setahun lalu. Saya menentang keras pendirian PG swasta baru di Banyuwangi saat itu, karena memang tidak masuk akal. Mosok APTR (Asosiasi Petani Tebu Rakyat, Red.) yang tidak punya uang, hanya bermodal lahan, mau mendirikan PG baru bersama PTPN XII yang selama ini mengelola perkebunan kakao dan kopi,” ungkap Sudarsono setelah acara pertemuan dengan jajaran Pemkab Probolinggo di Ruang Tengger, Rabu (3/11).

Pertemuan itu terkait dengan laporan dari serikat pekerja tentang rencana penutupan tiga PG di Kabupaten Probolinggo yang sampai ke tangan DPD. Sudarsono juga mendapat informasi tentang rencana pendirian PG baru di kompleks PT Kertas Leces (PT KL). Menurut Sudarsono, penutupan tiga PG itu diyakini berakibat menganggurnya ribuan pekerja, sementara pendirian PG baru bakal terkendala ketersediaan lahan tebu.

“Saya setuju saja PG baru didirikan, asalkan tidak menutup tiga PG yang ada. Penutupan tiga PG di Probolinggo apa sudah dikaji dampak negatifnya,” ujar Sudarsono.

Anggota DPD asal Jatim itu menambahkan, kalau setiap PG mempunyai sekitar 2.000 pekerja, maka penutupan tiga PG di Kab. Probolinggo mengakibatkan 6.000 pekerja menganggur. “Saya tidak percaya dengan jaminan dari Direksi PTPN XI bahwa mereka bakal dipekerjakan di PG yang baru,” ujarnya.

Rencana penutupan tiga PG di Kabupaten Probolinggo yakni, PG Wonolangan, PG Padjarakan, dan PG Gending, direaksi serikat pekerja perkebunan di tiga PG tersebut. “Serikat pekerja perkebunan di tiga PG itu sudah melayangkan protes, suratnya sudah sampai di meja kami,” ujar Sudarsono.

Daripada ditutup, kata Sudarsono, lebih baik ketiga PG di Probolinggo direvitalisasi. “Apalagi pada 2011 mendatang pemerintah bakal mengucurkan dana Rp 1 triliun untuk revitalisasi PG se-Indonesia,” ujarnya.

Selain tiga PG di Kabupaten Probolinggo, PG lain yang akan ditutup PTPN XI adalah tiga lainnya di Kabupaten Situbondo (PG Olean, PG Wringinanom, dan PG Pandjie), dan satu di Kabupaten Madiun (PG Kanigoro). Alasan PTPN XI menutup tujuh PG itu pada 2011, karena selama lima tahun terakhir setiap PG merugi sekitar Rp 9-10 miliar/tahun. “Kalau alasan penutupan PG seperti itu, hal itu menunjukkan PTPN XI hanya main tutup tanpa berusaha membenahi industri gula,” ujar Sudarsono.

Ia juga mempertanyakan rencana pendirian PG baru oleh PT Kertas Leces. Sudarsono mengatakan, permasalahan yang dialami ketiga PG itu selama ini kekurangan tebu. PG Wonolangan memerlukan bahan baku tebu 1.600 TCD (ton cane day/ton tebu per hari), PG Padjarakan 1.200 TCD, dan PT Gending 1.700 TCD. “Karena tidak punya lahan tebu yang cukup, tiga PG di Probolinggo itu mendatangkan tebu dari Lumajang. Ini yang menjadi masalah,” ujarnya. “Kalau masalah ini tidak diatasi, kemudian PG baru di Leces didirikan, ya masalah tersebut bakal terus bercokol,” tandasnya.

Disinggung soal jaminan dari Bupati Probolinggo, Drs H Hasan Aminuddin MSi, yang bakal menawarkan 40.000 hektare lahan kritis potensial untuk ditanami tebu, Sudarsono mengatakan, itu baru potensi lahan. “Itu baru potensi, tetapi merealisasikan lahan tebu yang memadai bukan perkara gampang,” ujarnya.

Alasan PT Kertas Leces mendirikan PG sebagai penyokong bahan baku kertas yang berasal dari limbah ampas tebu (bagase), kata Sudarsono, juga tidak bisa diterima. “Kalau alasannya PT Kertas Leces butuh ampas tebu, mengapa tidak beli saja ke PG yang sudah ada, wong PG juga di bawah Kementerian BUMN, sama dengan Kertas Leces,” ujarnya.

Sudarsono juga mengingatkan, PT Kertas Leces sudah kolaps, sehingga jangan diberi beban dengan pendirian PG baru. “Saya juga meragukan kemampuan Kertas Leces yang selama ini berkutat di produksi kertas, lalu mengelola industri gula,” ujarnya.

Sementara itu, petani tebu di Kabupaten Jember menolak rencana penutupan 7 PG oleh PTPN XI. Ketua Koperasi Petani Tebu Rakyat (KPTR) Jember, Marzuki Abdul Ghafur, mengemukakan, penutupan 7 PG itu akan merugikan pemerintah. "Stok gula nasional secara otomatis akan berkurang karena penutupan tujuh PG itu, bahkan rencana pemerintah melakukan swasembada gula akan terhambat," kata Marzuki, yang juga Wakil Ketua DPRD Jember itu.

Ia menilai kerugian yang dialami pihak PTPN XI disebabkan sejumlah persoalan yang terjadi di pihak manajemen sendiri. "Penutupan PG bukan merupakan solusi yang tepat. Kalau ada persoalan di manajemen PTPN XI, seharusnya pihak manajemen yang dibenahi, bukan menutup PG," tegasnya.

Hal senada disampaikan Ketua Paguyuban Petani Tebu Rakyat (PPTR) Jember, Mohammad Ali Fikri. Menurut dia, penutupan PG merupakan suatu hal ironis di tengah harga gula yang mulai membaik dan mengejar rencana pemerintah untuk swasembada gula. "Saya mendukung tujuh PG itu diambil alih oleh Pemprov Jatim untuk target swasembada gula di Jatim," katanya. isa

7 PABRIK GULA YANG AKAN DITUTUP

Nama Lokasi Kapasitas Produksi

PG Olean Kabupaten Situbondo 1.050 ton/hari

PG Wringinanom Kabupaten Situbondo 1.128 ton/hari

PG Pandjie Kabupaten Situbondo 1.700 ton/hari

PG Wonolangan Kabupaten Probolinggo 1.742 ton/hari

PG Padjarakan Kabupaten Probolinggo 1.382 ton/hari

PG Gending Kabupaten Probolinggo 1.750 ton/hari

PG Kanigoro Kabupaten Madiun 1.950 ton/hari

PABRIK GULA LAIN YANG DIKELOLA PTPN XI

Nama Lokasi Kapasitas Produksi

PG Soedhono Kabupaten Ngawi 2.800 ton/hari

PG Poerwodadie Kabupaten Magetan 2.312 ton/hari

PG Redjosarie Kabupaten Magetan 2.675 ton/hari

PG Pagottan Kabupaten Madiun 3.000 ton/hari

PG Kedawoeng Kabupaten Pasuruan 2.363 ton/hari

PG Djatiroto Kabupaten Lumajang 8.000 ton/hari

PG Semboro Kabupaten Jember. 7.000 ton/hari

PG Assembagoes Kabupaten Situbondo 3.000 ton/hari

PG Pradjekan Kabupaten Bondowoso 2.926 ton/hari

Sumber: http://www.surabayapost.co.id/?mnu=berita&act=view&id=93ece5243112587b598afe09d6fb956c&jenis=e4da3b7fbbce2345d7772b0674a318d5

Panen Tembakau Tuntas, Rugi Rp 14 M
Kamis, 4 Nopember 2010 | 10:16 WIB

PROBOLINGGO - Akibat kemarau diselingi hujan (kemarau basah), sebagian petani tembakau jenis Paiton Voor Oogst (Paiton VO) di Kab Probolinggo rugi besar tahun ini. ’’Kalau dihitung-hitung, dari luas areal tembakau 11.465 hektare di Kab Probolinggo, petani merugi sekitar Rp 25 miliar,” ujar Wakil Ketua Asosiasi Petani Tembakau Indonesia (APTI) Kab Probolinggo H Muzammil, Rabu (3/10).

Sejak pertengahan Oktober lalu, kata Muzammil, panen tembakau sudah habis. Lima gudang pembelian milik pabrik rokok juga sudah tutup sekitar dua minggu lalu. ’’Kalaupun ada tembakau yang tersisa ya dirajang untuk dijual di pasar lokal,” ujarnya.

Muzammil mencontohkan dirinya tahun ini menanam tembakau sekitar 4 hektare. Lahan seluas itu dikerjakan dengan sistem bagi hasil dengan petani penggarap. Dia mengeluarkan biaya pembelian benih tembakau, pupuk, dan obat-obatan. ’’Setiap hektare, saya keluar biaya Rp 3,5 juta. Biaya garap tanah dan perawatan ditanggung petani penggarap,” ujarnya.

Setelah panen 4 hektare lahan tembakaunya, Muzammil hanya mengantongi Rp 6 juta. “Bandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya, dengan lahan yang sama saya bisa mengantongi Rp 50 juta-Rp60 juta,” ujarnya.

Kondisi jeblok ini tidak hanya dialami Muzammil, tetapi juga ribuan petani tembakau di Kab Probolinggo. “Saya kasihan dengan petani kecil yang modalnya utang,” ujarnya.

Disinggung soal penyebab rusaknya tembakau di Probolinggo, Muzammil menyebut dipicu faktor cuaca. “Musim kemarau diwarnai hujan menjadi penyebab rusaknya tembakau. Tetapi saya tidak menghujat Allah, yang menurunka hujan. Mudah-mudahan tahun depan diganti dengan panen lebih baik,” ujar Ketua Badan Amil Zakat (BAZ) Kab Probolinggo itu.

Guyuran hujan, kata Muzammil, mengakibatkan tembakau rajangan yang dijemur mengitam warnanya. “Kalau warna tembakau menghitam atau tambelik harganya jatuh menjadi Rp 8.000 per kilogram. Padahal jika penjemuran tembakau sempurna, harganya Rp 30 ribu-Rp 32 ribu,” ujarnya.

Selisih harga tembakau rajangan berkualitas dengan tembakau tambelik inilah yang kemudian dihitung pihak APTI. “Akhirnya ditemukan, setiap hari ada kerugian sekitar Rp 1,4 miliar,” ujarnya.

Disinggung apakah petani masih bergairah menanam tembakau lagi pada masa tanam (MT) 2011, Muzammil memperkirakan, lahan tembakau bakal menyempit. “Bisa-bisa yang sekarang gagal panen, pada masa tanam yang dimulai Juni-Juli 2011 nanti mereka kapok menanam tembakau,” ujarnya.

Diakui pada MT 2010 ini areal tembakau membengkak. “Soalnya pada 2009 lalu panen tembakau menggembirakan, sehingga petani berlomba-lomba memperluas areal,” ujar Muzammil. Dinas Perkebunan dan Kehutanan (Disbunhut) Kab Probolinggo menargetkan 7.923 Ha areal tembakau. Kenyataannya di lapangan, petani menanam tembakau hingga 11.465 Ha.

Muzammil menyarankan, petani yang ragu menanam tembakau karena dihantui musim yang tidak menentu, sebaiknya mencari tanaman pengganti. “Lahan tembakau kan bisa ditanami palawija,” ujarnya.

Disinggung tawaran PT Kertas Leces (PT KL) yang hendak membuka areal perkebunan tebu sekitar 30.000 Ha terkait rencana pabrik kertas itu membangun pabrik gula, Muzammil mengatakan, agak sulit mengganti tembakau dengan tebu. ’’Tebu baru bisa dipanen umur 18 bulan atau kalau tebu keprasan 12 bulan, sementara tembakau 3 bulan sudah panen,” ujarnya. isa

Sumber: http://www.surabayapost.co.id/?mnu=berita&act=view&id=569fc4df8df46dd5a0a20356d4a4cf9d&jenis=1679091c5a880faf6fb5e6087eb1b2dc

Minggu, 31 Oktober 2010

Boiler Kertas Leces Molor 4 Bulan

Minggu, 31 Oktober 2010 | 10:19 WIB

PROBOLINGGO - Keinginan PT Kertas Leces (PT KL) mengoperasikan boiler batubara tepat pada momen 10-10-10 (tanggal 10, bulan 10, tahun 2010) lewat sudah. Karena keterlambatan penyelesaian proyek yang dikerjakan PT Waskita Karya (Persero), boiler batubara itu diperkirakan baru bisa dioperasikan Februari 2011 mendatang.

“Insya Allah, Februari 2011 mendatang, boiler batubara dioperasikan. Tidak bisa dioperasikan pada momen 10-10-10, seperti yang kami rencanakan,” ujar Sekretaris Perusahaan (Sekper) PT KL, Prof. Dr Ir R Abdul Haris MM, Minggu (31/10) pagi tadi. Namun ia enggan menjelaskan penyebab keterlambatan penyelesaian proyek berdana APBN sekitar Rp 175 miliar itu.

Untuk diketahui, pemancangan tiang pertama (ground breaking ceremony) pembangunan boiler batubara itu digelar sekitar setahun lalu. Tepatnya, pada pukul 10, tanggal 10, bulan 10, tahun 2009.

Momen “bersejarah” itu dihadiri Deputi Agroindustri Kementerian BUMN, Ir Agus Pakpahan dan Komisaris Utama PT Kertas Leces, Singgih Riphat. Tampak pula Dirut PT Kertas Leces, Ir Martoyo Sugandi dan Dirut PT Waskita Karya (Persero) Ir M. Kholid MM. Saat itu PT KL merencanakan, proyek boiler batubara bakal dioperasikan pada momen 10-10-10.

Molornya penyelesaian proyek boiler batubara juga berakibat pada molornya distribusi batubara dari Kalimantan Timur (Kaltim). Padahal sebelumnya, PT KL sudah berencana mendatangkan batubara melalui pelabuhan Tanjung Tembaga, Kota Probolinggo, November-Desember ini.

“Benar, PT Kertas Leces berencana mendatangkan sekitar 38 ribu ton batubara dari Kaltim melalui Tanjung Tembaga,” ujar Administrator Pelabuhan (Adpel) Probolinggo, Wiliyanto.

Disinggung soal molornya kedatangan batubara terkait penyelesaian proyek boiler batubara, Wiliyanto mengaku, tidak tahu. Yang jelas, sebagai operator pelabuhan, pihaknya siap kapan saja melayani pengguna dermaga pelabuhan baru itu.

Bahkan Wiliyanto sempat membuat hitung-hitungan terkait distribusi batubara sebanyak itu. Karena batubara 38 ribu ton itu langsung dibongkar-muat dan diperkirakan bakal habis setelah diangkut sebanyak 400 rit truk.

“Jadi, PT Kertas Leces tidak memerlukan gudang terbuka (open storage) di pelabuhan. Batubara langsung diangkut dengan truk. Saya dengar akan bekerjasama dengan PT Varia Usaha, Gresik untuk mengangkut batubara dari pelabuhan ke Kertas Leces,” ujar Wiliyanto.

Konversi Gas ke Batubara

Selama ini PT KL menggunakan gas alam yang dipasok Perusahaan Gas Negara (PGN) untuk bahan bakar. Gara-gara menunggak utang gas sekitar Rp 41 miliar, PGN pun memutuskan pasokan gas ke PT KL. Akibat terhentinya pasokan gas, perusahaan kertas milik BUMN itu berhenti berproduksi sejak sekitar 4 bulan lalu.

PGN bertindak keras setelah disemprit BPK terkait tunggakan pembayaran gas PT KL sebesar Rp 41 miliar. PGN sempat menoleransi agar PT KL mau membayar separo tunggakan (sekitar Rp 20 miliar), barulah pasokan gas dipulihkan.

Sisi lain pembangunan boiler batubara itu dimaksudkan sebagai langkah PT KL melakukan konversi (perubahan) bahan bakar gas alam ke batubara. Boiler batubara dinilai lebih hemat dibandingkan dengan gas alam.

“Harga gas alam terus naik sehingga mempengaruhi biaya produksi, sehingga PT Kertas Leces tidak akan bisa bersaing terhadap perusahaan sejenis,” ujar Direktur Produksi dan Pengembangan PT KL, Syarif Hidayat.

Dengan menggunakan boiler batubara, kata Syarif, PT KL bisa lebih berhemat dalam pemakaian energi. “Sebagai perbandingan, perlu 160 dollar AS (sekitar Rp 1,44 juta) per ton kertas, sementara dengan batubara cuma perlu 80 dollar AS (sekitar Rp 720 ribu),” ujarnya.

Biaya pembangunan boiler batubara itu disokong pemerintah pusat senilai Rp 175 miliar melalui penyertaan modal negara pada 2007 lalu. Ide pembangunan boiler batubara sendiri sudah muncul sejak 2005 silam. isa

Sumber: http://www.surabayapost.co.id/?mnu=berita&act=view&id=fa779ce7b30627a083d652eae594268d&jenis=1679091c5a880faf6fb5e6087eb1b2dc

Kamis, 21 Oktober 2010

Bangun PG, Leces Rangkul PTPN XI

Kamis, 21 Oktober 2010 | 10:28 WIB

PROBOLINGGO – Kekurangjelasan informasi tentang Pabrik Gula (PG) Leces yang akan didirikan pabrik kertas PT Kertas Leces (KL) Probolinggo akhirnya terjawab, Rabu (20/10). Ternyata, PG yang teritengrasi dengan pabrik kertas di Desa Leces, Kec Leces, Kab Probolinggo itu merupakan hasil patungan dua BUMN, yaitu PT KL dan PT Perkebunan Nusantara (PT PN) XI.

’’PG baru ini nantinya merupakan sinergi antara PT PN XI dan PT Kertas Leces setelah 3 PG di Probolinggo dibekukan,” ujar Direktur Perencanaan dan Pengembangan (Renbang) PT PN XI, Suyitno saat menerima pabrikan dari China di ruang pertemuan PT KL, Rabu (20/10) siang.

Saat itu hadir perwakilan Guangxi Research of Mechanical Industry dipimpin Lin Xing Sheng (Vice Section Chief Engineer) yang melakukan paparan dan penawaran mesin pabrik gula. Dalam pertemuan yang dipimpin Direktur Pemasaran PT KL Syarif Hidayat itu, Suyitno didampingi tiga administrator PG di Probolinggo, yaitu PG Wonolangan, PG Pajarakan, dan PG Gending.

Terkait ungkapan bakal membekukan 3 PG di Kab Probolinggo, Suyitno buru-buru memberikan peringatan. “Soal pembekuan 3 PG ini cukup kita bicarakan di sini, jangan keluar. Tapi percuma juga, beberapa waktu lalu dalam pertemuan dengan bupati, masalah ini sudah telanjur diekspos wartawan,” ujarnya.

Meski 3 PG di Probolinggo bakal dibekukan, Suyitno menjamin tidak akan ada pemutusan hubungan kerja (PHK). Soalnya, sumber daya manusia di 3 PG itu bakal dialihkan ke PG Leces.

Mantan Administrator PG Wonolangan itu kemudian memaparkan kondisi 3 PG di Kab. Probolinggo. “Tiga PG di Probolinggo ini kapasitasnya kecil, masing-masing 1.500 TCD (ton cane per day/ton tebu per hari, Red.),” ujar Suyitno.

Sisi lain, sinergi PT PN XI dengan PT KL bakal menelurkan PG dengan kapasitas 6.000 TCD. “Yang menjadi masalah adalah tersedianya bahan baku tebu. Kalau sampai kekurangan tebu ya kita nanti menagih dan menangis ke Pak Bupati,” ujarnya.

Sebagai perbandingan, selama ini 3 PG di Kab Probolinggo dengan kapasitas total 4.500 TCD selalu kekurangan tebu. Solusinya, ketiga PG itu “mengimpor” tebu dari Lumajang yang memang surplus tebu setiap tahun.

Soal sinergi pendirian PG, Suyitno mengatakan, PT PN XI tidak hanya menyiapkan SDM yang sudah bertahun-tahun menggeluti industri gula. “Kami juga punya 1 set gilingan dan 1 set evaporator yang diperlukan PG,” ujarnya.

Sementara itu PT KL sudah menyiapkan lahan untuk pendirian PG lengkap dengan unit pengolah limbah (UPL). “Kami juga mempunyai boiler batubara yang sebentar lagi rampung pembangunannya,” ujar Direktur Pemasaran PT KL Syarif Hidayat.

Administrator PG Pajarakan Wahyu Murdayat yang mendampingi Suyitno sempat mempertanyakan ketersediaan lahan tebu yang memadai di Kab Probolinggo. “Mendirikan PG, setahun sampai satu setengah tahun selesai, tetapi menyediakan lahan tebu yang memadai bukan perkara setahun, dua tahun,” ujarnya.

Wahyu memberi gambaran, untuk menyiapkan lahan tebu 10.000 hektare tidak bisa dipenuhi dalam waktu setahun. Padahal lahan tebu seluas itu bakal habis digiling dalam waktu 110-120 hari, jika PG berkapasitas 6.000 TCD.

“Hitungannya, dengan perkiraan 1 hektare menghasilkan 70 ton, maka 10.000 hektare menghasilkan 7 juta ton tebu,” ujarnya. Dan dalam waktu sekitar 3 bulan, tebu sebanyak itu akan habis tergiling.

Terkait ketersediaan lahan, Sekretaris Perusahaan (Sekper) PT KL Prof Dr Ir H Abdul Haris mengatakan, berdasarkan survei lahan, di Kab Probolinggo ada sekitar 43.000 hektare lahan kritis potensial yang bisa ditanami tebu. “Setelah kami cek di lapangan dengan petugas dari PG Wonolangan, riil ada 35.000 hektare lahan, siap ditanami tebu,” ujarnya.

‘Beauty Contest’

Terkait pemaparan dan penawaran mesin PG dari Guangxi Research of Mechanical Industry, China, Suyitno merespon positif. “Sebenarnya mesin PG tidak hanya dari China, masih banyak yang lain seperti dari India, Taiwan, Thailand. Bahkan ada yang dari Jepang, tetapi harganya mahal,” ujarnya.

Suyitno yang pernah ke China pun mengaku, mengetahui persis kualifikasi mesin PG made in China. “Yang ngomong orang sana (China, Red.) sendiri Katanya di China ada mesin nomor 1 sampai 10. Tinggal sebutkan mau ‘Kw’ (kwalitas, Red.) berapa, semua ada!” ujar mantan Administrator PG Jatiroto, Lumajang itu.

Karena itu, Suyitno menyarankan, siapa pun yang ingin bermitra dengan PT PN XI dan PT KL terkait pendirian PG baru, harus melalui seleksi. “Istilahnya ada ‘beauty contest’,” ujarnya.

Soal bahan baku tebu, kata Suyitno, tidak hanya soal keterbatasan lahan, tetapi juga menyangkut varitas tebu. “Di China ada varitas tebu yang rendemen (kadar gula, Red.)-nya sampai 12 persen,” ujar Suyitno. isa

Sumber: http://www.surabayapost.co.id/?mnu=berita&act=view&id=b21ab29d136b3172a2d34952c0938caa&jenis=1679091c5a880faf6fb5e6087eb1b2dc

Senin, 11 Oktober 2010

Diusulkan Jalan ke Pelabuhan Senilai Rp 200 M

Senin, 11 Oktober 2010 | 10:12 WIB

PROBOLINGGO - Selesainya proyek dermaga baru Tanjung Tembaga, Kota Probolinggo belum disertai jalan akses ke pelabuhan yang memadai. Pemkot Probolinggo dan administrator pelabuhan (Adpel) pun mengusulkan jalan akses 5 km dari Ketapang-Mayangan. ”Sudah diusulkan ke pusat dana Rp 200 miliar untuk pembangunan jalan akses ke pelabuhan baru,” ujar Administrator Pelabuhan Probolinggo, Wiliyanto, Minggu (10/10) malam.

Jalan akses itu direncanakan melintasi sebagian jalan lingkar utara (JLU) di Kel Mayangan terus ke barat hingga tembus di sebelah utara Pos Polisi Pilang, Kota Probolinggo. Dengan demikian, jalan akses itu keluar-masuknya langsung menyambung ke jalan nasional jurusan Probolinggo-Surabaya. ”Melihat gambar rencananya, sebagian ruas jalan bakal menembus kawasan hutan mangrove hingga tembus di Ketapang,” ujar Wiliyanto.

Jalan akses ke pelabuhan, kata Adpel, diperlukan agar lalulintas secara umum tidak terganggu arus barang dari dan ke pelabuhan. ”Tanpa akses jalan memadai, kelancaran bongkar-muat barang di pelabuhan bakal terganggu,” ujarnya.

Soal jalan akses pelabuhan itu, sebelumnya juga sempat diungkapkan Walikota HM Buchori SH MSi. Begitu dermaga pelabuhan baru Tanjung Tembaga senilai Rp 90 miliar selesai dibangun, pemerintah pusat bakal membangun jalan akses pelabuhan. ”Jalan akses pelabuhan dananya sekitar Rp 200 miliar. Jalan milik Pelindo dinilai sudah tidak layak lagi karena terlalu sempit,” ujar walikota.

Kelak, jalan akses ke pelabuhan itu dibangun di sisi barat jalan milik Pelindo. “Jadi nanti tidak lagi melalui jalan Pelindo, langsung dari pelabuhan ke JLU,” ujarnya.

Jalan akses pelabuhan bakal dikerjakan PT Adhi Karya. ”Syukurlah yang mengerjakan BUMN sendiri, yakni PT Adhi Karya. Kalau yang mengerjakan kontraktor lokal bisa ruwet,” ujar walikota.

Keberadaan jalan akses pelabuhan sangat diperlukan mengingat ruas JLU di Mayangan dinilai tidak akan kuat menahan beban berat kendaraan petikemas. ”JLU memang diperuntukkan kendaraan angkutan barang bertonase besar, tetapi tetap tidak kuat menahan beban kendaraan pengangkut petikemas,” ujar Kepala Dinas Perhubungan (Dishub) Drs Ec H Sunardi Msi.

Dishub mencatat, berat maksimum muatan kering petikemas 20 kaki mencapai 24.000 Kg (24 ton). ”Dan untuk 40 kaki yang termasuk high cube container mencapai 30.480 kilogram,” ujarnya.

Sehingga berat muatan bersih yang bisa diangkut petikemas adalah 21.000 Kg untuk 20 kaki dan 26.600 Kg untuk 40 kaki. Karena itu kondisi jalan akses menuju pelabuhan harus dipersiapkan agar kuat menahan beban berat petikemas.

Yang jelas, hingga kini, terdapat 4 perusahaan yang bakal menggunakan petikemas melalui Pelabuhan Tanjung Tembaga, Kota Probolinggo. ”Sedangkan kapasitasnya mencapai 5.664 petikemas per tahun atau rata-rata 472 petikemas per bulan,” ujar Sunardi.

”PT Kertas Leces (PT KL) bakal membongkar batubara asal Kalimantan di pelabuhan Probolinggo, November atau Desember 2010 mendatang,” tambah Adpel Wiliyanto. Pabrik kertas milik BUMN itu bakal mendatangkan 38.000 ton batubara dalam sekali angkut. Selanjutnya bahan bakar untuk boiler batubara itu diangkut dengan truk ke pabrik PT KL di Desa Leces, Kec. Leces, Kab. Probolinggo. isa

Sumber: http://www.surabayapost.co.id/?mnu=berita&act=view&id=80de47d7309654c8de0fd54726cab0fd&jenis=1679091c5a880faf6fb5e6087eb1b2dc

Jumat, 08 Oktober 2010

3 PG di Probolinggo Ditutup, PG Leces Berdiri

Jumat, 8 Oktober 2010 | 10:17 WIB

PROBOLINGGO - Keinginan PT Kertas Leces (PT KL) mendirikan pabrik gula (PG) yang terintegrasi di lingkungan pabrik kertas mendapat dukungan dari PT Perkebunan Nusantara (PT PN) XI. Soalnya, PT PN yang menaungi sejumlah PG di belahan timur Jatim bakal menutup 4 PG-nya.

’’Ini peluang bagi PT KL untuk ‘mengambil alih’ merger 3 PG di Probolinggo yang bakal ditutup,” ujar Bupati Probolinggo Drs H Hasan Aminuddin MSi, Kamis (7/10) malam.

Pihaknya mendukung pendirian PG Leces dengan menyediakan areal tebu sekitar 15.000 hektare (ha). ’’Di Probolinggo ada lahan tidur sangat luas, sekitar 43.000 hektare yang juga bisa ditanami tebu. Kalau sekitar 15.000 ha, insya Allah petani Probolinggo mampu menyediakan. Bahkan tanah bengkok desa bisa ditanami tebu,” ujar bupati.

Rencana penutupan (amalgamasi) 3 PG di Kab Probolinggo, yakni PG Wonolangan, PG Pajarakan, dan PG Gending dan 1 PG di Situbondo (PG Olehan) diungkapkan Direktur Perencanaan dan Pengembangan (Renbang) PT PN XI Ir Suyitno dalam pertemuan di pendapa Kab Probolinggo, Rabu (6/10) malam.

Pertemuan yang difasilitasi bupati itu juga dihadiri Dirut PT KL Ir Martoyo Sugandi, jajaran Direksi PT KL, dan 4 perwakilan serikat pekerja (SP) di PT KL. Sementara dari kalangan PG di Kab Probolinggo hadir administrator PG Wonolangan.

Dalam pertemuan itu, Suyitno memaparkan hasil penelitian Direksi Renbang PT PN XI. Intinya, 3 PG di Kab Probolinggo yang setiap tahun kekurangan lahan tebu terus merugi. Sehingga tidak ada alasan lagi untuk mempertahankan keberadaan 3 PG peninggalan Belanda itu.

“Tiga PG di Probolinggo rugi setiap tahun. Memang PG Wonolangan tahun lalu (2009) sempat untung, tapi tahun ini rugi lagi,” ujar mantan Administrator PG Wonolangan itu.

Memang sejumlah PG lain di lingkungan PT PN XI masih untung sehingga bisa menutupi kerugian 3 PG di Probolinggo dan PG Olehan di Situbondo. “Kerugian PG di Probolinggo dan Situbondo masih bisa tertutup PG Jatiroto (Lumajang) dan PG Semboro (Jember) yang memang untung,” ujar mantan Administrator PG Jatiroto itu.

Suyitno merencanakan, 4 PG di belahan timur Jatim itu ditutup pada 2011. Karena itu rencana PT KL mendirikan PG baru dinilai layak pasca penutupan PG-PG merugi itu. Sebagai PG baru, PG Leces kelak diharapkan bisa menggiling tebu dengan kapasitas 6.000 TCD (Ton Cane per Day, ton tebu per hari).

Suyitno juga mengusulkan SDM (sumber daya manusia) ketiga PG yang ditutup di Probolinggo bisa disalurkan ke PG Leces. PG Leces sendiri nanti akan menghasilkan ampas tebu yang digunakan untuk bahan baku PT Kertas Leces.

Berdasarkan catatan, selama bertahun-tahun, 3 PG di Kab Probolinggo selalu kekurangan lahan tebu. Soalnya, areal tebu di Probolinggo hanya sekitar 3.500 ha padahal idealnya setiap PG membutuhkan lahan paling sedikit 10.000 ha.

Ketiga PG di Probolinggo pun terpaksa ’’mengimpor” tebu dari Lumajang belahan utara (Ranuyoso, Klakah, dan Randuagung). Apalagi areal tebu di Lumajang melimpah setiap tahun, sekitar 15.000 Ha.isa

Sumber: http://www.surabayapost.co.id/?mnu=berita&act=view&id=a0583e93c200c0b94e959debe0ade155&jenis=1679091c5a880faf6fb5e6087eb1b2dc

Rabu, 06 Oktober 2010

Mati Suri, Leces Minta Disuntik Rp 440 M

Rabu, 6 Oktober 2010 | 11:06 WIB
Probolinggo – Pasca empat bulan menghentikan produksi akibat terjerat hutang dengan Perusahaan Gas Negara (PGN), PT Kertas Leces (PT KL) meminta disuntik dana Rp 440 miliar untuk ‘hidup’ kembali. Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) telah menyetujui usulan itu, rencananya awal 2011 nanti dana cair.

’’Akhir pekan lalu kami mendatangi Komisi VI DPR mengadukan kondisi Leces. Alhamdulillah, DPR masih menginginkan bisnis ini dipertahankan,” ujar Ketua Dewan Pengurus Serikat Pekerja PT Kertas Leces (DPP SPKL) Djody Soegiharto, Rabu (6/10) pagi tadi

Seperti diketahui, PT KL masuk kategori delapan BUMN yang merugi tiga tahun berturut-turut. Bahkan sejak Juni lalu tidak bisa produksi karena pasokan gas diputus akibat dari tunggakan utang sebesar Rp 41 miliar.

DPR menilai, BUMN ini layak untuk diselamatkan dari mati suri-nya karena PT KL satu-satunya pabrik kertas BUMN yang memproduksi kertas industri.

Seperti diketahui, ada tiga pabrik kertas di bawah BUMN yang masih bertahan hidup hingga kini, yakni PT Kertas Leces (Probolinggo), PT Kertas Kraft (Nanggroe Aceh Darussalam), dan PT Kertas Padalarang (Bandung, Jabar). Kraft hanya memproduksi kertas pembungkus semen dan Padalarang membuat kertas sekuriti (security paper).

“Sementara Kertas Leces memproduksi kertas industri, sekaligus kertas sekuriti,” ujar Djody. Sejumlah pabrik kertas BUMN lainnya seperti di Banyuwangi dan Goa, Sulsel, sudah lama tutup.
Disinggung penggunaan dana Rp 440 miliar, Djody mengaku, tidak bisa membeberkan.

Seperti diberitakan Surabaya Post, pabrik di Desa Leces, Kec Leces, Kab Probolinggo itu tidak berproduksi sejak Juni 2010 lalu karena pasokan gasnya diputus, padahal gas alam itu menjadi bahan bakar utama PT KL.

PGN bertindak keras setelah disemprit BPK (Badan Pemeriksa Keuangan) terkait tunggakan pembayaran gas PT KL sekitar Rp 41 miliar. PGN sempat menoleransi agar PT KL mau membayar separo tunggakan (sekitar Rp 20 miliar), barulah pasokan gas dipulihkan. Sisi lain, PT KL menginginkan agar pasokan gas normal dulu, barulah bersedia mencicil tunggakan utang.

PT KL menilai bahan bakar gas alam termasuk mahal sehingga membebani kinerja pabrik. Bahkan Oktober tahun lalu, mereka membangun boiler berbahan baku batubara yang ditargetkan selesai bulan ini. Sayangnya, boiler senilai Rp 175 miliar melalui penyertaan modal negara pada 2007 itu baru akan selesai akhir tahun nanti.

Sekretaris Perusaaan (Sekper) PT KL Prof Dr Ir H R Abdul Haris juga mengakui mahalnya bahan bakar gas. Sebagai perbandingan, diperlukan 160 dollar AS untuk memproduksi 1 ton kertas. Sementara dengan batubara hanya butuh 80 dollar AS.

Masalah lain yang membuat PT KL limbung adalah mahalnya bahan baku serat kayu (pulp). Harga pulp melambung hingga 830 dollar AS dari harga normal 350 dollar-400 dollar per metrik ton.

’’Ironisnya, PT KL terpaksa membeli pulp dari perusahaan kertas swasta yang sebenarnya pesaing bisnis PT KL,” ujarnya. Guna menyiasati mahalnya pulp, PT KL kini melirik bahan serat non-kayu (non-wood pulp) seperti batang padi (jerami), dan ampas tebu (bagasse). isa

Sumber: http://www.surabayapost.co.id/?mnu=berita&act=view&id=fe70fa5cceb8a880d433b643f05c3385&jenis=c81e728d9d4c2f636f067f89cc14862c

Kamis, 23 September 2010

PT Leces Rambah Industri Gula

Kamis, 23 September 2010 | 10:20 WIB

PROBOLINGGO – PT Kertas Leces (PT KL) Probolinggo yang beberapa tahun terakhir didera kerugian merambah ke industri gula. Pabrik gula –yang terintegrasi dengan pabrik kertas karena ampas tebunya dimanfaatkan untuk bahan baku kertas– itu bakal dibangun di kompleks pabrik di Desa Leces, Kec Leces.

PT KL sudah sudah mengantongi restu dari Menteri BUMN Mustafa Abubakar untuk segera membangun PG. ’’Benar, PT Kertas Leces sudah mendapat lampu hijau dari Menteri BUMN untuk membangun pabrik gula,” ujar Sekretaris Perusahaan (Sekper) PT KL Prof Dr Ir R Abdul Haris MM, Rabu (22/9) malam.

Sehari sebelumnya, Dirut PT KL Martoyo Sugandi juga menyampaikan rencana pembangunan PG di komplek pabrik di tepi jalan nasional Probolinggo-Lumajang itu kepada Bupati Probolinggo Drs H Hasan Aminuddin MSi yang mengunjungi PT KL.

Martoyo yang didampingi Direktur Produksi dan Pengembangan Syarif Hidayat dan Direktur Pemasaran Zainal Arifin mengatakan, kesulitan mendapatkan bahan baku tebu tidak ada masalah. Sebab, PT KL mendapat jaminan tersedianya lahan tebu sekitar 25.000 hektare dari bupati.

Rencana membangun PG terintegrasi dengan pabrik kertas itu awalnya diusulkan Serikat Pekerja Sejahtera (SPS) PT KL. Bahkan SPS PT KL sudah memaparkan proposal pendirian PG itu di hadapan Komisi VI DPR RI, juga Panja Gula DPR RI, akhir Juni 2010 lalu.

’’Awalnya, kami mendengar pemerintah bakal membangun tiga PG baru di Indonesia yang didanai APBN senilai total Rp 4,5 triliun. Kami kemudian menindaklanjuti dengan mengirimkan proposal,” ujar Ketua SPS PT KL Imam Suliono SSos, Rabu (22/9).

Sesuai tawaran pemerintah, ke-3 PG itu 2 bakal dibangun di Jatim dan 1 PG di luar Jawa. Jatah 2 PG di Jatim itu sempat diperebutkan Pemkab Mojokerto dan Pemkab Banyuwangi.

Ketika Pemkab Mojokerto kesulitan menyediakan lahan untuk bakal lokasi PG, PT KL muncul menawarkan diri. “Kami mempunyai lahan cukup luas untuk mendirikan PG, selain itu juga pembangkit batubara yang sedang dalam tahap penyelesaian, dan unit pengolah limbah (UPL) sendiri,” ujar Prof Haris.

Survei Lahan

Belakangan masalah tersedianya lahan tebu menjadi ganjalan rencana pembangunan PG di kompleks PT KL. Soalnya, tiga PG di Kab Probolinggo, yakni PG Wonolangan, PG Pajarakan, dan PG Gending hanya mempunyai luas areal tebu sekitar 3.000 hektare.

Guna mencukupi bahan baku pabrik, ke-3 PG di bawah PTPN XI itu terpaksa ’’mengimpor” tebu dari Lumajang yang memang surplus. Lumajang yang mempunyai satu PG, yakni PG Jatiroto, mempunyai areal tebu hingga 15.000 hektare.

’’Kami sempat melakukan survei, mengapa petani di Probolinggo enggan menanam tebu, sehingga tiga PG kesulitan bahan baku,” ujar Imam Suliono. Hasilnya, petani menganggap bertanam tebu tidak menguntungkan karena rendemen (kadar gula) tebu yang dipasok ke PG terlalu rendah.

Sehingga jika ada jaminan bahwa tebu petani diperlakukan layak oleh PG, maka antusiasme petani menanam tebu kembali bangkit. “Probolinggo ternyata mempunyai banyak lahan tidur yang bisa ditanami tebu, potensinya sekitar 25.000 hektare,” ujar Imam.

Integrasi pabrik kertas-PG, kata Syarif Hidayat, sangat menguntungkan. “Soalnya, ampas tebu (bagasse) yang merupakan limbah PG bisa menjadi bahan baku kertas,” ujarnya.

Ditanya kapan PG dibangun di kompleks PT KL, Dirut PT KL, Martoyo mengaku, belum bisa memastikan. “Kalau bisa sesegera mungkin, lahannya di sisi selatan pabrik kertas,” ujarnya. isa

Sumber: http://www.surabayapost.co.id/?mnu=berita&act=view&id=d57322bb3ff456cd590697b1b2979d95&jenis=1679091c5a880faf6fb5e6087eb1b2dc

Rabu, 22 September 2010

PTKL Siapkan PG

[ Rabu, 22 September 2010 ]
Sudah Kantongi Restu Menteri BUMN

PROBOLINGGO - Rencana PT Kertas Leces (PTKL) Probolinggo untuk membangun pabrik gula (PG) di samping pabrik kertas yang ada, terus berlanjut. Terkait rencana itu, PTKL telah mengantongi restu dari kementerian BUMN.

Hal itu disampaikan Direktur Utama PT Kertas Leces Martoyo Sugandi saat ditemui Radar Bromo kemarin (21/9). "Sudah mendapat restu dari menteri BUMN untuk menjadi PG yang terintegrasi dengan pabrik yang telah ada," ujarnya.

Terkait penyediaan lahan untuk tanaman tebu, Martoyo mengatakan juga telah mendapat dukungan dari Bupati Probolinggo Hasan Aminuddin. Dan saat ini pihanya sedang melakukan survei lapangan pada lahan di 24 kecamatan di Kabupaten Probolinggo.

Penjelasan Martoyo itu diungkapkan di acara beramah tamah jajaran direksi PTKL dengan Bupati Hasan Aminuddin kemarin. Saat itu juga ada Direktur Produksi dan Pengembangan Syarif Hidayat, Direktur Pemasaran Zainal Arifin serta Sekretaris Perusahaan Abdul Haris.

Bupati sendiri membenarkan apa yang dikatakan Martoyo dan jajaran direksi lainnya. Bahkan bupati menegaskan PTKL akan menjadi perusahaan BUMN yang terintegrasi, seperti yang diharapkan presiden.

Perusahaan yang terintegrasi akan dicapai dengan rencana pembangunan PG ini. Ampas tebu sisa pengilingan bisa langsung dimanfaatkan sebagai bahan baku pembuatan kertas. "Ampas tebunya bisa langsung dimanfaatkan sebagai bahan baku. Jadi tidak perlu lagi ongkos kirim," kata Syarif Hidayat.

Saat ini PT Kertas Leces menjadi salah satu di antara tiga pabrik kertas BUMN, dan satu-satunya yang ada di Jawa Timur. Atas keadaan ini bupati berharap gubernur Jatim ikut mendukung agar perusahaan ini menjadi Agro Industri Complec berbasis tebu.

Lalu, kapan dan di mana PG itu akan dibangun? Dikatakan Martoyo, pabrik gula akan dibangun di sisi selatan pabrik kertas yang telah ada. Mengenai waktu ia belum bisa menentukan.

Martoyo hanya mengatakan pihaknya kini sedang fokus pada persiapannya. Terutama pada penyiapan lahannya. "Kalau lahannya telah siap, pabriknya tinggal dibangun," ujar Martoyo. (qb/yud)

Sumber: http://www.jawapos.co.id/radar/index.php?act=detail&rid=180395

Bupati Minta Tak Saling Salahkan

[ Rabu, 22 September 2010 ]
Saat Halal Bihalal di PTKL

LECES - Kurang lebih 2.000 karyawan PT Kertas Leces (PTKL) memenuhi ruangan gudang produksi10 kemarin pagi (21/9). Bukan untuk berunjuk rasa, mereka mengikuti halal bihalal antara jajaran direksi dengan seluruh karyawan.

Sekitar pukul 07.00 WIB, para karyawan mulai berdatangan dan lesehan di gudang dengan beralaskan terpal yang telah disiapkan. Para karyawan perempuan lesehan di sisi kiri, sementara yang pria di kanan.

Sekitar sejam kemudian, acara tahunan itu dimulai. Bukan hanya jajaran direksi dan karyawan yang datang, Bupati Probolinggo Hasan Aminuddin juga datang. Di hadapan jajaran direksi dan karyawan, Hasan menyampaikan beberapa hal.

Di antaranya, ia meminta tidak ada saling menyalahkan antar elemen di PTKL. "Saya menyampaikan jangan saling menyalahkan antara elemen dalam perusahaan," kata bupati saat ditemui usai acara. Pesan yang ia sampaikan itu tambah bupati, menguatkan sambutan dari Direktur Utama Martoyo Sugandi sebelumnya tentang kondisi perusahaan.

Acara berlangsung hingga sekitar pukul 09.00 WIB. Selanjutnya, Hasan bersama jajaran direksi memantau lokasi pabrik. Dilanjutkan dengan ramah tamah di ruang direksi bersama para tokoh masyarakat setempat.

Di ruang ini Dirut Martoyo Sugandi, Direktur Produksi dan Pengembangan Syarif Hidayat, Direktur Pemasaran Zainal Arifin dan Sekretaris Perusahaan Abdul Haris berkumpul. Di sini Hasan menegaskan bahwa PTKL tidak bangkrut.

"Orang luar menilai PT Kertas Leces bangkrut. Padahal sebenarnya tidak," ujarnya. Bahkan saat ini pemerintah pusat telah merestui perusahaan BUMN ini menjadi perusahaan yang integrated dengan rencana pembangunan pabrik gula (PG) oleh PTKL. Dengan pembangunan PG ini, kelak ampas sisa penggilingan tebu bisa langsung dimanfaatkan sebagai bahan baku pembuatan kertas. (qb/hn)

Sumber: http://www.jawapos.co.id/radar/index.php?act=detail&rid=180405

Minggu, 29 Agustus 2010

Jatuh dari Ketinggian 38 Meter, Tewas

[ Minggu, 29 Agustus 2010 ]
PROBOLINGGO- Malang nian nasib Sutrisno, 27, warga Desa Sumurgenuk Kecamatan Babat, Kabupaten Lamongan. Karyawan PT Energikon Jakarta itu, tewas setelah jatuh dari cerobong berketinggian 38 m di area PT Kertas Leces Probolinggo.

Dari informasi yang dihimpun Radar Bromo, Jumat (27/8) lalu Sutrisno bersama dengan beberapa orang temannya hendak memasang tabung spindream. Setelah mengenakan pengaman lengkap berupa sabuk pengaman, sepatu, helm serta herles, Sutrisno langsung menaiki cerobong asap setinggi 38 m tersebut.

Diduga, saat tengah melakukan aktivitasnya Sutrisno kehilangan keseimbangan. Sehingga, ia jatuh dan langsung tewas di tempat kejadian perkara (TKP), sekitar pukul 14.30. Sutrisno ditemukan tewas dengan poisis telentang. "Padahal sudah dipakai semua alat pengamannya," salah seorang saksi.

Kontan kejadian itu langsung mengundang perhatian pekerja lainnya. Mereka pun melarikan jenazah Sutrisno ke RSUD Dr Moh Saleh Kota Probolinggo. Setelah dilakukan visum, diketahui korban mengalami banyak luka pada tubuhnya.

Yang paling parah adalah, kepala bagian kirinya pecah, lengan kanan dan kirinya patah-patah, serta paha kirinya juga patah. "Dari telinga, hidung dan mulutnya juga mengeluarkan darah segar," ujar Abdul Bahri, seorang petugas di kamar mayat RSUD.

Meski meninggal sejak masih sore, jenazah Sutrisno baru dibawa pulang oleh keluarganya sekitar pukul 21.00. Jenazahnya langsung dibawa pulang ke kampung halamannya, di Lamongan. "Sampai malam, karena masih menunggu keluarganya," jelas Bahri.

Sementara Kapolsek Leces AKP Sujianto melalui Kanitreskrim Aiptu Kurdi mengatakan, berdasar hasil olah TKP pihaknya tidak menemukan kejanggalan-kejanggalan yang mengarah pada adanya tindak pidana. Atau sabotase dari pihak lain. "Ia jatuh, setelah membuka keling kontrol tidak imbang," ujarnya.

Menurut Kanistreskrim, Sutrisno jatuh dari ketinggian 38 meter diduga kerena kehilangan keseimbangan. Sedangkan sabuk pengamannya sudah ia lepas. "Itu, murni kecelakaan dan tidak unsur-unsur apa-apa (tindak pidana, red)," jelas AKP Kurdi. (rud/nyo)

Sumber: http://www.jawapos.com/radar/index.php?act=detail&rid=177096

Jumat, 06 Agustus 2010

Bakal Survei Lahan Kritis

[ Kamis, 05 Agustus 2010 ]
Wacana Pembangunan PG di PTKL

PROBOLINGGO- Wacana pembangunan pabrik gula (PG) di areal PTKL (PT Kertas Leces) semakin serius. Dalam waktu dekat Pemkab Probolinggo dan perwakilan dari PTKL bakal melakukan survei lahan untuk menunjang keberadaan pembangunan PG baru nantinya.

Nanang Trijoko, Kepala Dinas Perkebunan dan Kehutanan (Disbunhut) Kabupaten Probolinggo mengatakan, pihaknya telah menggelar rapat koordinasi dengan PTKL beserta perwakilan dari 3 PG yang sekarang ini sudah eksis di Probolinggo. Yakni PG Wonolangan, PG Gending, dan PG Pajarakan.

Dari rapat tersebut diketahui, kalau panitia kerja (panja) gula dari DPR RI meminta PTKL untuk menyiapkan data konkret ketersediaan lahan di Kabupaten Probolinggo. "Panja itu ingin mengetahui detail data konkret dari ketersediaan lahan di sini," ujar Nanang.

Sementara ini dari catatan Disbunhut, secara keseluruhan Kabupaten Probolinggo mempunyai sekitar 43 ribu lahan kritis. "Tetapi itu masih secara umum. Detail soal berapat lahan yang masih berpotensi masih belum diketahui pastinya," ucap Nanang.

Namun diprediksi, dari 43 ribu lahan kritis tersebut, 50 persen di antaranya termasuk kategori sangat kritis yang sulit dimanfaatkan. Nah, karena itulah pemkab beserta tim dari PTKL berencana melakukan survei lahan ke beberapa daerah lahan kritis yang masih bisa dimanfaatkan untuk ditanami tebu sebagai penunjang keberadaan PG.

"Tetapi survei hanya kami lakukan di daerah-daerah yang masih bisa dioptimalkan untuk menanam tebu. Untuk lahan kritis yang kemungkinan sulit ditanami tebu seperti Tiris dan Krucil, mungkin tidak masuk survei kami," ungkap Nanang.

Dalam waktu dekat ini pemkab bersama PTKL sudah bersiap bakal menyurvei lahan kritis di 5 kecamatan. Yakni Bantaran, Tegalsiwalan, Tongas, Wonomerto dan Sumberasih. "Targetnya sebelum puasa sudah beres," ungkap Nanang.

Seperti diberitakan Radar Bromo, PTKL berencana membangun PG di areal lahannya. Itu bila usulan Serikat Pekerja Sejahtera Kertas (SPSKL) untuk mengajukan pembangunan PG (Pabrik Gula) yang jadi satu lokasi dengan PTKL terealisasi.

Usulan SPSKL itu cukup serius. Selasa (25/5), perwakilan anggota SPSKL telah menyampaikan usulan tersebut ke komisi VI DPR RI dalam rapat dengar pendapat umum di gedung Nusantara 1 Senayan, Jakarta. Salah satu agenda pertemuan tersebut adalah membahas kemungkinan pendirian PG di lokasi PTKL dan integrasi industri PTKL dengan PG.

Diketahui, pada APBN 2010 pemerintah pusat menganggarkan pembangunan tiga unit PG baru dengan total anggaran Rp 4,5 triliun. Tempatnya belum ditentukan secara spesifik. Cuma, dua di antaranya dijatah akan dibangun di Jatim dan satu lagi di luar Jawa.

Dengan adanya data konkret tersebut nantinya, diharapkan panja gula bakal mengetahui kondisi real Kabupaten Probolinggo. "Itu menjadi salah satu penilaian, apakah PG bakal jadi dibangun di Probolinggo atau di daerah lain," kata Nanang. (mie/nyo)

Sumber: http://www.jawapos.co.id/radar/index.php?act=detail&rid=173487

Rabu, 21 Juli 2010

Petani Kesulitan Irigasi

[ Rabu, 21 Juli 2010 ]
Setelah Produksi PTKL Mandek

LECES - Mandeknya proses produksi di PTKL selama dua bulan terakhir ternyata menimbulkan dampak bagi masyarakat setempat. Khususnya para petani di sekitar PTKL. Kini mereka mengaku kesulitan mendapat pasokan air untuk irigasi.

Hal itu diungkapkan Farid Wajdi, anggota DPRD Kabupaten Probolinggo asal Leces. "Para petani banyak yang mengeluh ke saya. Mereka kesulitan air sejak PTKL tidak lagi beroperasi," katanya.

Farid menerangkan, selama ini limbah cair dari proses produksi PTKL memang dimanfaatkan oleh petani setempat untuk irigasi sawah mereka. Seperti petani dari Desa Leces, Sumberkedawung, Warujinggo dan Kerpangan.

Limbah cair dari PTKL itu dialirkan melalui anak-anak sungai ke sawah-sawah petani setempat. Aliran itu bahkan mampu mengairi sekitar 250 hektar area (Ha) lahan petani.

Mandeknya proses produksi di PTKL otomatis membuat limbah cair dari pabrik kertas itu berhenti. Sehingga, sawah petani pun tidak mendapat pasokan irigasi.

Sebagai gantinya, petani sekarang harus mengalirkan air ke sawah masing-masing dengan menggunakan pompa air. Untuk penggunaan pompa ini, jelas petani harus mengeluarkan kocek lebih. Sebab, untuk mengaliri 1 Ha sawah saja harus mengeluarkan uang Rp 9 juta.

"Karena itu masyarakat setempat berharap segala krisis yang ada di PTKL terselesaikan. Dan PTKL bisa kembali berproduksi secara normal," harap Farid.

Sementara untuk petani, Farid menawarkan opsi lain untuk irigasi sawah mereka sebelum PTKL kembali berproduksi. Yakni, memanfaatkan dam sempol. "Kalau dam sempol di Leces bisa dihidupkan lagi, maka akan mengurangi beban petani," jelas Farid. (mie/hn)

Sumber: http://www.jawapos.co.id/radar/index.php?act=detail&rid=170926

Harus Sediakan 40 Ribu Hektar Lahan

[ Rabu, 21 Juli 2010 ]
Syarat Pembangunan PG di PTKL

LECES - Rencana pendirian pabrik gula (PG) di PT Kertas Leces (PTKL) terus menggelinding. Namun untuk mendapatkan proyek pembangunan PG itu, maka PTKL harus menyediakan lahan minimal 40 ribu Ha.

Syarat itu terungkap saat Serikat Pekerja Sejahtera Kertas Leces (SPSKL) mendatangi panitia kerja (Panja) gula ke gedung DPR RI, Jakarta. "Itu (penyediaan lahan 40 Ha) adalah saran dari Pak Aria Bima, ketua panja gula," kata Imam Suliono, ketua SPSKL.

Menurut Imam, untuk memenuhi sarat tersebut tidaklah terlalu sulit. Asalkan rencana pembangunan PG itu mendapat dukungan penuh dari pemkab setempat. "Kami sangat optimis," kata Imam.

Imam menjelaskan, saat ini pemkab memiliki 38 ribu Ha lahan kritis dan agak kritis di sekitar PTKL. "Nanti bisa ditambahi lahan-lahan dari daerah lain," terangnya.

Seperti diberitakan Radar Bromo, PTKL berencana membangun PG di areal lahannya. Itu bila usulan SPSKL untuk mengajukan pembangunan PG yang jadi satu lokasi dengan PTKL terealisasi.

Usulan SPSKL itu cukup serius. Pada 25 Mei misalnya, perwakilan anggota SPSKL menyampaikan usulan tersebut ke Komisi VI DPR RI dalam rapat dengar pendapat umum di gedung Nusantara 1 Senayan, Jakarta. Salah satu agenda pertemuan tersebut adalah membahas kemungkinan pendirian PG di PTKL dan integrasi industri PTKL dengan PG.

SPSKL sendiri mengusulkan pendirian PG setelah mengetahui bahwa APBN 2010 menganggarkan pembangunan 3 unit PG baru dengan total anggaran Rp 4,5 Triliun. Tempatnya belum ditentukan secara spesifik. Cuma, dipastikan akan dibangun di Jatim sebanyak dua unit dan satu unit di luar Jawa.

Dalam penilaian SPSKL, PG layak dibangun di lokasi PTKL. Karena itu, SPSKL pun mengajukan proposal pembangunan tersebut ke kementrian dan DPR RI.

Sementara Panja gula saat ini masih mengkaji daerah yang bakal memperoleh proyek pembangunan PG tersebut. "Saran utamanya dari Panja ya faktual atas data yang kami miliki itu," beber Imam.

Selain itu menurut Imam, ketua Panja gula juga menyarankan agar PTKL selalu berkoordinasi dengan pihak terkait untuk rencana pendirian PG ini. Mulai Bupati Probolinggo, Gubernur dan Kementrian BUMN.

Usai menemui ketua Panja gula, perwakilan SPSKL juga menemui Unais Ali Hisyam atau Gus Unais, salah satu anggota Panja gula. "Kata Gus Unais, Panja gula sudah melakukan kunjungan ke PTPN X, PTPN XI dan Nusantara Indonesia. Beliau menyarankan kami dan pemkab untuk selalu memotivasi para petani menanam tebu," jelasnya.

Perwakilan SPSKL juga mampir ke kementrian BUMN di Jakarta. Mereka membahas proses produksi di PTKL yang mandek selama dua bulan terakhir, lantaran aliran gas dari PGN tersendat. (mie/hn)

Sumber: http://www.jawapos.co.id/radar/index.php?act=detail&rid=170927

Selasa, 20 Juli 2010

PT KL Akan Barter dengan PG

Minggu, 18 Juli 2010 | 10:48 WIB

PROBOLINGGO - Gonjang-ganjing nasib PT Kertas Leces (PT KL), Kabupaten Probolinggo terus berlanjut. Serikat Pekerja Sejahtera PT Kertas Leces (SPS KL) pun ngeluruk Jakarta untuk mempertanyakan kinerja pabrik kertas BUMN sekaligus nasib pekerja.

Empat pengurus SPS KL yang berangkat ke Jakarta sejak Kamis (15/7) itu bermaksud menemui Dirut PT KL, Ir Martoyo Sugandi dan Komisi VI DPR RI. “Saya sudah berhasil menemui Dirut PT KL, Jumat (16/7). Senin (19/7) besok dijanjikan bertemu Komisi VI DPR RI,” ujar Ketua SPS KL, Imam Suliono SSos, Minggu (18/7) pagi tadi.

Di hadapan pengurus SPS KL, Dirut PT KL mengatakan, gaji karyawan PT KL bulan Juli ini masih aman. Soalnya, hasil penjualan sisa produksi kertas sekitar 2 ribu ton masih bisa untuk membayar gaji sekitar 2 ribu pekerja PT KL.

“Untuk Agustus, direksi PT KL merencanakan sejumlah rescue program,” ujar Imam. Pertama, kontrak penjualan kertas akan dijadikan syarat pengajuan kredit ke bank. Dana pinjaman dari bank itu akan digunakan untuk membayar utang ke PGN dan pengadaan logistik.

Kedua, PT KL dengan pabrik gula (PG) juga akan melakukan barter bahan baku. PT KL akan menukarkan chip (potongan) kayu dengan ampas tebu (bagasse) milik PG. “Bagasse yang merupakan limbah PG merupakan bahan baku kertas,” ujar Imam.

Masalah utang PT KL ke PGN, kata Imam, juga akan dibahas di forum antar deputi di Kementerian BUMN. “PT KL dan PGN kan sama-sama BUMN, mosok masalah utang-piutang saja tidak bisa diselesaikan,” ujarnya.

Setelah “perdarahan” itu dihentikan, PT KL mengusulkan membangun mini boiler berbahan bakar batubara dengan kapasitas 12 ton uap/jam. Boiler mini senilai sekitar Rp 600 juta itu bakal digunakan untuk menggerakkan mesin I dan IV di PT KL.

Seperti diberitakan, sudah sekitar satu setengah bulan ini PT KL tidak berproduksi. Pemicunya, pasokan gas dari PGN yang menjadi bahan bakar utama PTKL tersendat.

PGN terpaksa menutup suplai gas ke PT KL setelah disemprit Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) terkait utang PT KL sebesar Rp 41 miliar. Karena itu sebelum PT KL membayar utangnya, maka PGN tidak akan memberikan suplai gas.

Sisi lain, PT KL kesulitan melunasi utang tersebut. Kondisi perusahaan pelat merah itu sedang goyah seiring dengan semakin melonjaknya bahan baku selama beberapa bulan belakangan. “Harga bahan baku kertas (pulp) mencapai USD 900 per metrik ton,” ujar Direktur Produksi dan Pengembangan PT KL, Ir Syarif Hidayat. isa

Sumber: http://www.surabayapost.co.id/?mnu=berita&act=view&id=69595c9b99f609d75fbb8232d9bd73d3&jenis=1679091c5a880faf6fb5e6087eb1b2dc

Ke Jakarta, SPSKL Temui Dirut

[ Minggu, 18 Juli 2010 ]
Buntut Tak Produksinya PTKL

LECES - Mandeknya produksi di PT Kertas Leces (PTKL) selama dua bulan terakhir membuat karyawan PTKL resah. Kemarin (15/7), perwakilan Serikat Pekerja Sejahtera Kertas Leces (SPSKL) ke Jakarta untuk menemui direktur utama (dirut) PTKL.

Ketua SPSKL Imam Suliono mengatakan, dirinya beserta tiga aktivis SPSKL ke Jakarta dengan membawa beberapa misi. Yang utama, yakni menemui dirut PTKL untuk membicarakan masa depan perusahaan.

"Kami menghadap dirut untuk meminta jaminan keamanan gaji karyawan. Mengingat, sampai saat ini perusahaan belum melakukan proses produksi," tutur Imam.

Menurut Imam, sejauh ini gaji karyawan cukup normal. Namun bila perusahaan tidak berproduksi terus seperti dua bulan terakhir, maka tidak menutup kemungkinan beberapa bulan ke depan gaji karyawan bakal tersendat.

Karena itulah, SPSKL menurut Imam meminta dirut untuk segera menyikapi masalah tersebut agar tidak berlarut-larut. Sehingga, proses produksi di PTKL bisa kembali normal.

Seperti diberitakan Radar Bromo, selama dua bulan ini proses produksi di PT Kertas Leces (PTKL) terganggu. Penyebabnya, suplai gas dari PGN (Perusahaan Gas Negara) yang menjadi bahan bakar utama PTKL tersendat.

PGN menutup suplai gas ke PTKL bukan tanpa alasan. Penyebabnya, karena Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) minta agar utang PTKL di PGN segera dilunasi. Karena itu sebelum PTKL membayar utangnya, maka PGN tidak akan memberikan suplai gas ke perusahaan plat merah tersebut.

Saat ini utang PTKL ke PGN mencapai sekitar Rp 41 Miliar. PGN sendiri meminta PTKL untuk melunasi utang tersebut atau menyicil. Sebelum permasalahan tersebut beres, maka PGN enggan menyuplai gas ke PTKL.

Sementara PTKL kesulitan melunasi utang tersebut. Kondisi perusahaan plat merah itu juga sedang goyah seiring dengan semakin melonjaknya bahan baku selama beberapa bulan belakangan. Tercatat, harga bahan baku mencapai USD 900 per metric ton.

Untuk mengantisipasi masalah tersebut, SPSKL berencana memanfaatkan kunjungan ke Jakarta untuk menemui kementrian BUMN. "Sesuai dengan usulan Gus Unais (anggota DPR RI), kami akan mendatangi kementrian BUMN supaya bisa melakukan intervensi ke PGN agar masalah kami cepat selesai," tutur Imam.

Di sisi lain, SPSKL juga bakal memanfaatkan kunjungan ke Jakarta tersebut untuk mendatangi gedung DPR RI di Senayan. "Kami juga bakal menemui Komisi VI DPR RI untuk meminta pendapat soal permasalahan yang ada di perusahaan kami. Sekaligus untuk menanyakan perkembangan rencana pembangunan PG (pabrik gula) di Leces," jelas Imam.

Sebagai informasi, PTKL berencana membangun PG di lahannya. Itu bila usulan Serikat Pekerja Sejahtera Kertas (SPSKL) untuk mengajukan pembangunan PG yang jadi satu lokasi dengan PTKL terealisasi.

Usulan SPSKL itu cukup serius. Pada akhir Mei misalnya, perwakilan anggota SPSKL menyampaikan usulan tersebut ke Komisi VI DPR RI dalam rapat dengar pendapat umum di gedung Nusantara 1 Senayan, Jakarta. Salah satu agenda pertemuan tersebut adalah membahas kemungkinan pendirian PG di lokasi PTKL dan integrasi industri PTKL dengan PG.

Usulan itu dilakukan, karena pada APBN 2010 pemerintah pusat menganggarkan pembangunan 3 unit PG baru dengan total anggaran Rp 4,5 Triliun. Tempatnya belum ditentukan secara spesifik. Cuma akan dibangun dua unit di Jatim dan satu lagi di luar Jawa.

Namun sejauh ini belum ada follow up soal rencana pembangunan PG tersebut. "Kami ingin tanyakan soal kepastian kapan panja gula bakal survei ke Leces," tegas Imam. (mie/hn)

Sumber: http://jawapos.co.id/radar/index.php?act=detail&rid=170355

Tak Produksi, Buruh Kertas Leces Tetap Masuk

Tak Produksi, Buruh Kertas Leces Tetap Masuk
Rabu, 14 Juli 2010 | 08:17 WIB

PROBOLINGGO - Meski tidak berproduksi gara-gara pasokan gas alamnya diputus Perusahaan Gas Negara (PGN), PT Kertas Leces (PT KL), Desa/Kec. Leces, Kab. Probolinggo tidak meliburkan pekerjanya. Sekitar 2.000 pekerja tetap masuk seperti biasa sambil menunggu PGN membuka kembali kran pipa gasnya menuju pabrik kertas tersebut.

”Meski tidak berproduksi, karyawan masuk seperti biasa, sambil menunggu Dirut (Ir Martoyo Sugandi, Red.) yang melakukan lobi ke Jakarta,” ujar Sekretaris Perusahaan (Sekper) PT KL, Prof. Dr Ir R Abdul Haris MM, Selasa (13/7) sore. Dikatakan Dirut sengaja melaporkan kasus pemutusan pasokan gas alam itu kepada Menteri BUMN.

Saran agar PT KL menemui Menteri BUMN itu juga diungkapkan anggota Komisi VI DPR RI, Drs KH Unais Al Hisyam saat berkunjung ke PT KL, Minggu (11/7). “Kalau Kertas Leces dan PGN bertemu business to business tidak akan ketemu, biar jalur politik melalui Menteri BUMN yang menyelesaikan,” ujar politisi PKB itu.

PGN memutus pasokan gas setelah disemprit BPK terkait tunggakan PT KL sebesar Rp 41 miliar. PGN sempat menoleransi agar PT KL mau membayar separo tunggakan (sekitar Rp 20 miliar), baru pasokan gas dipulihkan. Tapi PT KL menginginkan agar pasokan gas normal dulu, barulah bersedia mencicil tunggakan utang.

Ditanya kapan PT KL bisa berproduksi kembali, Prof. Haris mengaku, tidak bisa memastikannya. “Ya tergantung PGN, kapan mau memasok kembali gasnya ke Kertas Leces,” ujar guru besar Universitas Panca Marga (UPM) Probolinggo itu.

Yang jelas kondisi PT KL pasca pemutusan pasokan gas membuat sejumlah pekerja waswas. “Kami ini sehari-hari tetap masuk kerja meskipun di pabrik tidak ada yang dikerjakan. Mau kerja apa wong pabrik tidak berproduksi,” ujar Ketua Serikat Pekerja Sejahtera Kertas Leces (SPS KL), Imam Suliono SSos.

Bahkan Imam mengibaratkan PT KL sekarang ini membayar orang tidur. “Membayar orang tidak kerja kan sama dengan membayar orang tidur,” ujarnya.

Imam mengakui, memang ada sebagian karyawan di bagian pemasaran yang mencoba menjual sisa produksi kertas. “Sisa kertas sekitar 2.000 ton inilah yang kini coba dijual. Kalau laku mungkin bisa untuk gaji 1-2 bulan ke depan, setelah itu tidak tahu lagi, apa karyawan masih bisa gajian,” ujarnya. isa

Sumber: http://www.surabayapost.co.id/?mnu=berita&act=view&id=7a632c3e59577e114d2c74020b2aece2&jenis=c81e728d9d4c2f636f067f89cc14862c