Selasa, 31 Agustus 2010

Isu Santet di Probolinggo, Dua Orang Tewas

Selasa, 31 Agustus 2010 | 09:29 WIB

PROBOLINGGO - Isu santet kembali meruyak di Kab. Probolinggo bahkan menimbulkan dua korban jiwa.

Orang yang mengaku disantet, Asmar (16) dan yang dituding sebagai tukang santet, Fadli Saiman (65), keduanya warga Desa Alassapi, Kec. Banyuanyar sama-sama tewas.

”Terus terang kami merasa prihatin dengan adanya kasus santet ini. Kami berharap masyarakat bisa menahan diri,” ujar Bupati Hasan Aminuddin saat buka puasa bersama 1.000 anak yatim di Pantai Bentar, Senin (30/8).

Polisi diminta mengusut tuntas kasus yang menewaskan dua orang warga Dusun Kramat, Desa Alassapi itu.

Kepala Desa Alassapi, Dwi Jatmiko, menceritakan, bermula ketika Asmar yang sakit tidak kunjung sembuh dibawa ke RSUD Waluyo Jati, Kec. Kraksaan, Minggu (29/8) siang sekitar pukul 14.00. Sekitar pukul 17.00, Asmar yang dalam perawatan di Instalasi Gawat Darurat (IGD) RSUD meninggal dunia.

Desas-desus pun berkembang, sakitnya Asmar diduga karena disantet tetangganya Fadli Saiman. Apalagi setelah jenasah Asmar tiba di rumah duka sekitar pukul 20.00, sebagian massa pun marah.

Bahkan Fadli Saiman yang malam itu ikut melayat jenasah Asmar sempat akan dihakimi massa. ”Saya berusaha menenangkan warga. Untuk menghindari amuk massa lebih lanjut, Fadli dimita meninggalkan rumah duka,” ujar Kades Jatmiko.

Fadli kemudian diamankan warga di rumah Tikun, sekitar 50 meter dari rumah duka. Sementara itu, Ustad Abdul Wafa berusaha menenangkan massa yang menyerbu rumah Tikun.

Malam itu juga Muspika Banyuanyar didatangkan. Tujuannya untuk menenangkan kedua belah pihak sekaligus membuat kesepakatan damai. Intinya, keluarga Asmar tidak lagi melayangkan tudingan, kematian Asmar karena santet.

Dari keluarga Asmar tampak Sain (45), paman Asmar dan Matrawi (65), kakek Asmar. ”Saat itu dibuat kesepakatan, keluarga Asmar tidak lagi menuduh bahwa Fadli menyantet Asmar. Semuanya setuju,” ujar Kades Jatmiko.

Namun ketika proses damai itu belum selesai, Ustad Abdul Wafa mengabarkan, massa telah bertindak anarkis menganiaya Fadli. ”Saya kaget, ternyata Fadli Saiman telah tewas dikeroyok massa,” ujar Kades.

Fadli diduga dikeroyok massa yang bersenjatakan celurit, pentungan, dan batu. Hal itu terlihat dari luka bacok dan lebam di sekujur tubuhnya. isa

Sumber: http://www.surabayapost.co.id/?mnu=berita&act=view&id=e897198fa6a77ab95753b79935ced012&jenis=c81e728d9d4c2f636f067f89cc14862c

35 Calhaj Probolinggo Batal Berangkat

Selasa, 31 Agustus 2010 | 08:30 WIB

PROBOLINGGO - Di tengah antrean panjang (waiting list) berangkat haji hingga 2017, ternyata ada sejumlah calon jamaah haji (CJH) di Probolinggo yang batal berangkat haji pada tahun ini. Sebanyak 35 CJH yakni, 10 orang dari Kota Probolinggo dan 25 orang dari Kab. Probolinggo dinyatakan batal berangkat karena berbagai alasan.

Hal itu diketahui setelah Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Kota dan Kab. Probolinggo menggelar rekapitulasi di hari terakhir masa pelunasan biaya perjalanan ibadah haji (BPIH). Seperti diketahui, Kemenag mematok batas pelunasan BPIH paling lambat, Senin (30/8).

”Dalam rekapitulasi hari terakhir kemarin, ada 10 CJH yang batal berangkat. Sebanyak 7 menunda keberangkatannya, 2 karena meninggal dunia, dan 1 mengundurkan diri,” ujar Kasi Haji dan Umrah pada Kantor Kemenag Kota Probolinggo, Zulaikhah, Selasa (31/8) pagi tadi.

Zulaikah menjelaskan, pada 2010 ini Kota Probolinggo mendapatkan kuota sebanyak 219 CJH. Mereka diberi waktu 19 hari untuk melunasi BPIH (3-30/8). “Besarnya BPIH dipatok 3.432 dolar AS,” ujarnya.

Mereka yang tidak melunasi BPIH hingga hari terakhir Senin, secara otomatis gagal berangkat ke Tanah Suci pada 2010 ini. “Mereka masuk dalam daftar tunggu (waiting list) tahun berikutnya,” ujar Zulaikhah.

Sementara itu, nama-nama CJH yang telah melunasi BPIH, dikirimkan ke Kantor Kemenag Jatim. Selanjutnya Kemenag Jatim melakukan pemberkasan (administrasi) bagi CJH yang akan berangkat haji tahun ini.

Zulaikah menambahkan, selain masa pelunasan tahap pertama, masih ada pelunasan BPIH tahap kedua. Tetapi pelunasan pada tahap kedua itu dikhususkan bagi CJH yang sudah masuk kuota pertama. “Pelunasan tahap kedua dimulai 1 September hingga 6 hari ke depan,” ujarnya.

Sementara itu di Kab. Probolinggo, tahun ini mendapatkan kuota 726 CJH. ”Sebanyak 25 CJH batal berangkat, sebagian besar karena belum melunasi BPIH-nya hingga hari terakhir, Seni (30/8) kemarin,” ujar Kasi Haji dan Umrah pada Kantor Kemenag Kab. Probolinggo, Atho Illah pagi tadi.

Selain karena belum melunasi BPIH-nya, kata Atho, 2 CJH masih berada di Malaysia. ”Ada juga yang menunda berangkat haji karena istrinya hamil. Dia tidak mau berangkat haji kalau tidak bersama istrinya,” ujarnya.

Tetapi Atho membesarkan hati bagi ke-25 CJH yang batal berangkat haji tahun ini. ”Mereka masih bisa berangkat haji pada 2011 mendatang, hanya tertunda setahun,” ujarnya.

Yang jelas, posisi 25 CJH yang tidak jadi berangkat itu secara otomatis digantikan CJH yang nomor urutnya berada di bawahnya persis. Yakni, JCH yang selama ini masuk daftar tunggu (waiting list) berangkat haji pada 2011.

Sekadar diketahui, CJH di Probolinggo biasanya melunasi BPIH-nya bersamaan dengan panen komoditas pertanian seperti tembakau, bawang merah, padi, hingga kayu sengon. Tahun ini akibat musim kemarau basah (kemarau diselingi hujan) hasil panen tembakau dan bawang merah diduga kurang menggembirakan.

”Sementara sebagian petani kayu sengon dari Krucil dan Tiris juga melunasi BPIH-nya setelah panen kayu,” ujar Atho. Komoditas kayu sengon itu memang tidak seberapa terpengaruh musim kemarau basah.

”Banyak warga Krucil dan Tiris yang berangkat haji karena sukses bertanam sengon,” ujar Habib Qodir, pembina kelompok tani sengon di lereng Gunung Argopuro dan Gunung Lamongan di Kec. Krucil dan Kec. Tiris. Mereka biasa dijuluki sebagai haji sengon. isa

Sumber: http://www.surabayapost.co.id/?mnu=berita&act=view&id=b7916014a3725a93b48f9a221963aeda&jenis=c81e728d9d4c2f636f067f89cc14862c

Usai Tarawih Dibunuh Tetangga

Selasa, 31 Agustus 2010

Probolinggo -SURYA- Kakek dua cucu, Fadli Saiman, 65, asal Desa Alassapi, Kecamatan Banyuanyar, Kabupaten Probolinggo, dibunuh usai tarawih di dekat rumahnya, sekitar pukul 20.00 WIB, Minggu (29/8).

Hanya berselang beberapa jam setelah jenazah korban ditemukan bersimbah darah, pelaku sudah diamankan petugas Polres Problinggo.

Ternyata, pelaku berjumlah dua orang dan masih tetangga korban. Mereka adalah Bd, 21 dan Jm, 20. Dugaan sementara, motif dari pembunuhan itu lantaran para pelaku kesal dengan santernya isu yang beredar, jika korban Fadli diduga memiliki ilmu Santet.

Puncaknya, setelah tetangganya yang lain bernama Asmar, meninggal dunia akibat sakit yang tak kunjung sembuh. Meninggalnya Asmar itu, diisukan akibat disantet oleh Fadli. Tak pelak, kedua pelaku yang termakan dengan isu tersebut, sontak memburu Fadli. Ketika dicari ke rumahnya, Fadli tengah menunaikan Salat Tarawih.

Sepulangnya dari Musala desa setempat, Fadli langsung dibacok di kepala bagian belakang. Mayat korban dibiarkan terkapar di jalan setapak menuju rumah korban. Dua jam kemudian, warga menemukan mayat korban dan seketika itu warga melapor ke Polsek Banyuanyar. n tiq

Sumber: http://www.surya.co.id/2010/08/31/usai-tarawih-dibunuh-tetangga.html

12 Mahasiswa Asing Menari Tradisional

Selasa, 31 Agustus 2010 | 01:26 WIB
KOMPAS/LUCKY PRANSISKA

SURABAYA, KOMPAS.com--Sebanyak 12 mahasiswa asing dari berbagai negara penerima program Beasiswa Seni Budaya Indonesia (BSBI) Kementerian Luar Negeri unjuk kebolehan dalam bidang seni tari tradisional di Surabaya Plasa Hotel, Senin.

Kegiatan itu merupakan bagian evaluasi tahap pertama dari proses pendidikan dan pelatihan budaya yang akan mereka terima selama tiga bulan menjalani program tersebut di Surabaya.

Para mahasiswa tersebut berasal dari 12 negara, yakni Thailand, Vietnam, Jerman, Timor Leste, Vanuatu, Fiji, Kepulauan Solomon, Afrika Selatan, Samoa, Tuvalu, Rusia, dan Indonesia.

Dalam kesempatan itu, terdapat dua tarian yang ditampilkan, yakni Tari Glipang dari Kabupaten Probolinggo yang dibawakan enam mahasiswa putra dan Tari Sparkling Surabaya disajikan enam mahasiswa putri.

"Tidak mudah melatih mereka belajar tari tradisional Jawa Timur, karena latar belakang mereka yang berbeda-beda," kata Diaztiarni Azhar, pelatih tari mahasiswa asing itu.

Pimpinan Produksi Program Pelatihan dan Pengenalan Seni Budaya Jatim itu menjelaskan para mahasiswa program BSBI tersebut hanya enam orang yang memiliki latar belakang sebagai penari.

"Mereka menjalani latihan empat kali seminggu, selain juga belajar budaya lain Indonesia, seperti bahasa, kehidupan sosial dan lainnya," tambah Diaz.

Menurut dia, mahasiswa yang tergabung di program BSBI tersebut mendapatkan banyak pengetahuan seni dan budaya Indonesia, khususnya Jatim dalam berbagai bentuk dan aspek.

"Kami memberikan pengetahuan, seperti Bahasa Indonesia, seni tari dan karawitan, seni lukis, membatik, dan pahat topeng, sampai pembuatan kerajinan anyaman. Sejumlah pengetahuan itu akan kami berikan secara berkala selama tiga bulan," katanya.

Sukolovsky Alexey, mahasiswa asal Rusia penerima BSBI, mengaku senang dan bangga bisa mempelajari seni budaya yang dimiliki Indonesia, kendati awalnya sempat kesulitan.

"Ini sebuah pengalaman yang tidak terlupakan dan tarian tradisional Indonesia cukup dinamis. Saya senang bisa menjadi bagian dari program ini," kata Alexey usai pertunjukan tari tersebut.

Sumber: http://oase.kompas.com/read/2010/08/31/01265248/12.Mahasiswa.Asing.Menari.Tradisional

Pencuri Truk Fuso Ditangkap Polresta Probolinggo

30 Agustus 2010 19:30:56 WIB
Reporter : Sugianto

Probolinggo (beritajatim.com) - Husdi (35), warga Sidoarjo terpaksa harus meringkuk di sel tahanan Mapolresta Probolinggo. Pasalnya, dia nekat melakukan aksi pencurian di wilayah Probolinggo. Tak tanggung-tanggung, barang yang dicurinya adalah sebuah kendaraan truk Fuso.

Namun aksi jahatnya itu gagal saat jajaran Polresta Probolinggo menangkap pelaku saat membawa kabur kendaraan besar itu ke arah jalan menuju Desa Sukapura.


"Pelaku langsung dilakukan pengejaran begitu membawa kabur truk Fuso itu," ungkap Kasat Reskrim AKP Agus I Supriyanto mendampingi Kapolresta Probolinggo, Agus Wijayanto kepada beritajatim.com, Senin (30/8/2010).

AKP Agus menjelaskan, truk Fuso itu milik salah seorang pengusaha bernama Budi Hariyanto, asal warga Desa Jorongan, Kecamatan Leces, Kabupaten Probolinggo. Sebelum dibawa kabur, truk Fuso milik korban sedang diparkir di jalan raya Angrek, Kota Probolinggo. "Dia melakukan aksinya sendirian," kata Kasat Reskrim.

Mengetahui truk Fuso itu raib, pemiliknya lantas melapor ke Polresta Probolinggo. Saat kejadian itu pula, petugas langsung bergerak cepat. Mengetahui keberadaan kendaraan truk itu melintas ke selatan terminal Bayuangga, polisipun lalu melakukan pengejaran. "Baru sampai di Desa Sukapura, pelaku berhasil kita tangkap," imbuh AKP Agus I Supriyanto.

Selain berhasil menangkap pelaku, polisi juga menyita barang bukti kendaraan truk Fuso. "Pelaku kita jerat dengan pasal 363 KUHP tentang pencurian dan pemberatan dengan ancaman lima tahun penjara," tegasnya. [ugi/kun]

Sumber: http://m.beritajatim.com/detailnews.php/4/Hukum&Kriminal/2010-08-30/75925/1/Pencuri%20Truk%20Fuso%20Ditangkap%20Polresta%20Probolinggo

Ribuan Gakin di Probolinggo Berebut Zakat

Senin, 30 Agustus 2010 18:19:49 WIB
Reporter : Sugianto Probolinggo (beritajatim.com) - Ribuan keluarga miskin (Gakin, red) berebut pembagian zakat di pantai Bentar, Kabupaten Probolinggo. Pembagian zakat terhadap ribuan gakin itu dihadiri oleh Bupati Probolinggo, Hasan Aminudin dan sejumlah pejabat teras pemkab.

Bupati Hasan Aminudin menjelaskan, pembagian zakat itu berasal dari zakat para karyawan pemkab untuk diberikan kepada yang berhak menerimanya. "Ini semua berasal dari amal para karyawan yang dikumpulkan melalui Korpri," katanya dihadapan ribuan gakin, Senin (30/8/2010).

Di bulan Ramadhan ini, kata Bupati Hasan, masyarakat khususnya umat Islam harus mengeluarkan zakat dan memberinya kepada orang yang berhak menerimanya. "Ini hukumnya wajib dilakukan," tandasnya.
Agar pemberian zakat itu berlangsung tertib, Pemkab Probolinggo melibatkan jajaran Polres setempat serta petugas Sat Pol PP untuk melakukan pengamanan. Saat zakat itu diberikan, ribuan gakin langsung menyerbunya. Tak ayal, dalam sekejab ribuan kantong plastik zakat itu langsung ludes seketika. [ugi/kun]

Sumber: http://beritajatim.com/detailnews.php/6/Politik_&_Pemerintahan/2010-08-30/75910/1/Ribuan%20Gakin%20di%20Probolinggo%20Berebut%20Zakat

Kades Akui Kenal Perempuan di Video

[ Selasa, 31 Agustus 2010 ]
Berita zakat resah gak onok BOS, yg ada Warga resah masalah Video Bugil.
KRUCIL-Geger kasus video bugil kamar mandi yang diduga melibatkan Kades Kalianan Kecamatan Krucil Kabupaten Probolinggo Didik Mulyono terus mendapatkan perhatian. Kemarin (30/8) komisi A DPRD setempat ke kantor Kecamatan Krucil untuk melakukan klarifikasi ke kades dan beberapa warga yang melapor masalah tersebut ke dewan.

Kedatangan komisi A ke kecamatan Krucil ini disambut oleh puluhan warga desa Kalianan yang kecewa dengan peredaran video tersebut. Puluhan warga itu sudah berkumpul di depan kantor kecamatan Krucil sejak pukul 10.00.

Ya, kantor kecamatan Krucil memang dipakai sebagai tempat untuk klarifikasi komisi A tersebut. Meski tidak ada yang membawa poster bernada protes, beberapa warga yang berkumpul di depan kantor kecamatan tersebut berkali-kali meneriakkan agar pemkab mengusut kasus geger video bugil itu.

"Bersihkan Desa Kalianan dari tindakan mesum," celetuk salah satu ibu-ibu tua dari kerumunan tersebut. Beberapa kali warga juga menirukan ucapan wanita seperti yang ada di dalam video kamar mandi bugil tersebut.

Mendapati puluhan warga itu berteriak-teriak, anggota kepolisian pun tidak tinggal diam. "Izin warga di sini itu untuk mengamati saja. Tidak untuk demo atau unjuk rasa. Jadi mohon tenang," pinta salah satu anggota kepolisian dengan menggunakan megaphone. Instruksi itu rupanya manjur. Emosi warga yang sempat naik, reda kembali.

Diketahui, sebelumnya memang ada beberapa warga Krucil yang mengadukan Kades Kalianan Didik Mulyono ke DPRD dan bupati. Mereka mengadukan dugaan perselingkuhan kepala Desa Kalianan itu dengan seorang wanita asal Desa Bremi, Krucil.

Dugaan itu didasarkan pada rekaman video seorang wanita bugil di kamar mandi dan ranjang sebuah hotel. Nah, pelapor menuding lelaki yang merekam wanita itu adalah Kades Didik Mulyono.

Saat pelapor datang ke DPRD, Rabu (25/8) lalu, mereka diterima bukan anggota komisi A. Mereka diterima Agil Bafaqih (ketua komisi C) dan Dedy Suyanto (komisi B) serta sekwan.

Masalah itu mendapat perhatian serius dari Komisi A DPRD setempat. Kemarin komisi A turun ke Krucil untuk mengklarifikasinya. Kedatangan komisi A ini molor 3 jam dari yang dijadwalkan. Alhasil, beberapa warga yang sebelumnya berkumpul di depan kecamatan pun banyak yang berkurang.

Komisi A datang ke kantor kecamatan sekitar pukul 13.15 dengan menggunakan dua mobil. Usai datang ke kantor kecamatan, anggota komisi A, Suhud, Lukman Hakim, Sukarman, Ruhullah, Said dan Slamet Riyadi langsung diterima oleh Camat Krucil Iswinaryo bersama jajaran muspika.

Selanjutnya, Komisi A bersama muspika menggelar pertemuan dengan kades Didik Mulyono di ruang camat Krucil. Suhud anggota komisi A, membuka forum tersebut. "Kami hanya melaksanakan undang-undang, di mana DPRD itu bertugas untuk mengawasi," katanya.

Usai menyampaikan maksud kedatangannya, Suhud langsung melancarkan beberapa pertanyaan kepada sang kades. "Bagaimana tanggapan pak tinggi dengan menyeruaknya kasus video yang menyebut-nyebut nama pak tinggi. Apa pak tinggi kenal dengan perempuan yang ada di video tersebut?" tanya Suhud.

Awalnya Kades Didik Mulyono mengatakan sama sekali tidak mengenal perempuan yang ada dalam video bugil tersebut. "Saya tidak kenal dengan perempuan yang ada di video itu. Saya tidak terlibat," kata Didik Mulyono.

Kades Didik pun mengatakan siap menuntut balik para pelapor tersebut kepada pihak yang berwajib karena merasa dicemarkan. "Kalau saya bersalah, saya rela untuk mundur. Tetapi karena saya tidak bersalah, saya akan tuntut balik bila tidak terbukti," tegasnya.

Usai memberikan beberapa pertanyaan, Suhud lantas menunjukkan beberapa bukti-bukti yang dilampirkan dalam surat laporan warga beberapa hari lalu. Seperti foto cuplikan video tersebut, surat pernyataan dari suami In (wanita yang ada di dalam video) tentang pengakuannya dan beberapa SMS yang diduga dikirim dari nomor HP kades Didik.

"Ini pak dilihat lagi fotonya. Apa bapak mengenal wanita yang ada dalam foto ini?" tanya Suhud lagi sembari menyodorkan foto dari cuplikan video bugil kamar mandi tersebut.

Usai mengamati beberapa saat, Kades Didik akhirnya mengaku mengenal perempuan yang ada di dalam foto itu. "Saya mengenalnya pak. Tetapi hanya mengenal saja. Tidak pernah lebih dari itu," jelasnya.

"Jadi kami ralat ya pak. Bapak mengenal perempuan yang ada dalam foto itu. Tetapi hanya sebatas mengenal," kata Suhud lagi. Suhud langtas meminta kades untuk tidak saki hati dan meminta untuk tetap melayani masyarakat dengan baik sampai masalah ini selesai.

Usai diberi beberapa pertanyaan, Kades Didik diperbolehkan pergi. Saat hendak dikonfirmasi beberapa wartawan, Kades enggan menjawabnya. Ia langsung ngeloyor pergi lewat pintu belakang kantor kecamatan.

Sementara itu, komisi A langsung memanggil beberapa perwakilan warga yang sudah nyanggong di depan. Ada 5 warga yang diminta untuk masuk dan dimintai keterangan. Di antaranya ada satu warga yang ikut melaporkan masalah itu ke DPRD yakni Beni.

Menurut Beni, jauh-jauh hari sebelum kasus itu menyeruak di permukaan, dirinya dan beberapa tokoh masyarakat lainnya sudah sempat berdialog dengan kades. "Awalnya kami ke kades, meminta agar kades menjelaskan ke masyarakat langsung agar tidak terjadi miskomunikasi. Isu video itu sudah sampai kemana-mana dan meresahkan masyarakat," jelasnya.

Namun kades tak kunjung menanggapi isu tersebut. "Kan jadi menimbulkan pertanyaan di masyarakat? Terus kami minta pak camat untuk menyelidiki. Kalau isu itu tidak benar, kami akan dukung kades dan tuntut balik suami yang ada di video tersebut," jelasnya.

Masih menurut Beni, kepercayaan masyarakat mulai memudar lantaran beberapa bukti yang mengindikasikan kades selingkuh cukup kuat. Dijelaskannya ada tiga faktor yang menguatkan. "Yang pertama adalah surat pernyataan suami perempuan yang ada di video tersebut, yang menyebut nama kades," jelasnya.

Selanjutnya selain separo wajah yang diduga mirip kades kelihatan dalam video itu, ada indikasi lain yang menguatkan. Yakni cincin bermata merah yang dikenakan pelaku yang mengambil gambar wanita bugil tersebut.

"Cincinnya itu sama dengan yang dipakai kades saat mengikuti haflah imtihan desa. Kebetulan saya yang ambil gambar juga. Silakan bapak menilainya," ujar Beni sambil menunjukkan selebaran yang telah dibuatnya. Dalam selebaran tersebut, Beni menampilkan foto lelaki yang mengambil gambar video bugil tersebut dan foto kades saat mengikuti haflah.

Faktor terakhir yang membuat dugaan semakin kuat adalah percakapan SMS yang diduga dikirim dari ponsel milik kades ke perempuan yang ada dalam video tersebut.

"Kami mohon pemerintah segera menindaklanjuti masalah ini. Kami takut, nantinya isteri kami juga akan direkam saat mandi. Jadi kami minta kades diproses," imbu Imam Zaini, warga lainnya.

Suhud pun lantas meminta masyarakat untuk bersabar. "Kami kroscek dan dalami dulu. Kami tidak bisa memfonis. Nanti laporan pemeriksaan kami akan kami kroscek ke Inspektorat dan Bagian Pemerintahan," jelasnya.

Saat ditemui usai pertemuan Suhud mengatakan, pihaknya masih butuh mendalami lagi kasus tersebut. "Kami akan gelar pertemuan kembali dengan pihak-pihak terkait. Nanti giliran kami yang akan memanggil. Kami utamakan juga bisa klarifikasi ke suami perempuan dan perempuan itu sendiri," ujar Suhud.

Suhud menjelaskan komisi A sudah membentuk tim investigasi untuk menindaklanjuti masalah tersebut. "Kalau terbukti bersalah, maka kades bisa dikenai perda nomor 9 tahun 2006 tentang peraturan desa," jelasnya.

Usai menggelar pertemuan, Suhud dan anggota komisi A lainnya menemui beberapa massa yang masih berkumpul di depan kantor kecamatan. Kepada warga, Suhud meminta untuk tetap bersabar untuk menunggu hasil pemeriksaan tersebut. "Kami sudah menerima laporannya dan akan bersungguh-sungguh memprosesnya," jelasnya. (mie/nyo)

Sumber: http://www.jawapos.co.id/radar/index.php?act=showpage&rkat=4