Selasa, 06 Juli 2010

BLH Bakal Bentuk Kader Lingkungan

[ Selasa, 06 Juli 2010 ]
KRAKSAAN - Pemkab Probolinggo melalui Badan Lingkungan Hidup (BLH) setempat bakal membentuk kader lingkungan. Pembentukan ini menurut Sekretaris BLH Samari Kusmayadi akan diawali dengan penandatanganan kesepakatan bersama antara BLH dengan TP PKK Kabupaten Probolinggo.

Samari menjelaskan, ada dua kewajiban yang harus dilakukan kader lingkungan nantinya. Yakni, melakukan sosialisasi tentang pengetahuan pengelolaan lingkungan hidup serta pelestariannya kepada masyarakat.

Kewajiban itu sekaligus sebagai bentuk pembinaan kreatifitas berbasis lingkungan kepada masyarakat. "Agar kebersihan lingkungan betul-betul optimal," sebut Samari.

Yang kedua, yaitu kader lingkungan wajib melakukan penilaian. Terutama dalam memilih sampah. Dikatakan Samari, ada tiga jenis sampah. Yakni, sampah organik, an organik dan sampah bahan berbahaya beracun (B3). Tiga sampah tersebut memiliki nilai yang berbeda. "Namun semuanya masih bermanfaat," terangnya.

Karena itu, ketiga jenis sampah itu masih bisa dikelola lagi melalui tiga cara. Yakni, reduce (pengurangan pemanfaatan), recycle (daur ulang) dan re-use (penggunaan ulang). Ketiganya kata Samari merupakan tahapan yang harus dilakukan. "Agar manfaat sampah bisa dimaksimalkan," tuturnya.

Mengapa demikian? Samari menjelaskan, bertambahnya penduduk menyebabkan berubahnya pola konsumsi masyarakat. Otomatis pula, volume sampah ikut bertambah. Dampaknya kata Samari, terjadi pencemaran lingkungan, terjangkitnya penyakit dan bau estetika. Bahkan hingga konflik sosial. "Jadi resikonya tinggi," imbuhnya.

Selain tiga hal itu, BLH sudah menggelar workshop pengelolaan sampah untuk mengurai jumlah sampai. Kegiatan itu digelar di lantai I, gedung Islamic Center Kraksaan, Rabu pekan lalu.

Pesertanya ada 60 orang, semuanya merupakan anggota tim penggerak (TP) PKK Kecamatan Kraksaan. Kegiatan itu dibagi menjadi tiga sesi seminar. Pertama, seminar dengan materi pengelolaam sampah berbasis masyarakat. Materi ini disampaikan kelompok kerja (Pokja) II TP PKK Kabupaten Probolinggo Retno Wahyuwidowati.

Selanjutnya, seminar dengan materi perilaku hidup bersih sehat. Materi ini disampaikan Pokja IV TP PKK Sri Rusminah.

Materi ketiga, yaitu kebijakan pengelolaan sampah. Materi ini disampaikan Isdarwanto dari BLH Kabupaten Probolinggo.

Samari menuturkan, kegiatan itu bertujuan melatih kader lingkungan hidup yang tidak lain dari TP PKK Kecamatan Kraksaan. Kader-kader tersebut tersebar di seluruh kelurahan dan desa se-Kecamatan Kraksaan. "Jadi menyeluruh. Terutama di Kraksaan," pungkasnya. (eem/hn)

Sumber: http://www.jawapos.com/radar/index.php?act=detail&rid=168372

Pengunjung Bentar Dua Kali Lipat

[ Selasa, 06 Juli 2010 ]
Meningkat Selama Liburan

GENDING - Liburan sekolah sepekan terakhir membuat beberapa tempat wisata di Kabupaten Probolinggo pengunjung. Salah satunya wisata pantai Bentar di Gending. Selama liburan, pengunjung obyek wisata ini meningkat cukup signifikan.

"Lonjakannya cukup signifikan, mungkin setiap harinya sekitar 2 kali lipat," kata

koordinator pantai Bentar Dian Cahyo Prabowo. Wisatawan tidak hanya warga lokal, namun juga dari luar daerah.

Lonjakan itu dirasa Dian cukup wajar. Sebabm sepekan terakhir adalah masa liburan sekolah. "Beberapa hari ini adalah high season untuk semua tempat wisata. Karena masanya liburan sekolah," jelas Dian.

Pada Minggu (4/7) misalnya, sampai sekitar pukul 12.00 WIB ada sekitar 500 pengunjung di Bentar. "Lebih banyak sekitar dua kali lipat dibanding hari libur biasanya," tambahnya. Padahal hari itu pengelola Bentar tidak menyajikan pagelaran penunjang wisata seperti sepekan sebelumnya yang menampilkan musik Pancong (Patrol Keroncong).

Dari pantauan Radar Bromo, kebanyakan pengunjung datang bersama keluarga masing-masing. Beberapa keluarga menggelar tikar di sekitar area bermain anak-anak motorcros (sebelah Barat pantai) maupun di lapangan.

Beberapa keluarga juga membawa bontotan makanan. "Kapan lagi ngumpul-ngumpul dengan keluarga kalau tidak liburan. Jadi mumpung suami dan anak-anak libur saya mengajak keluarga untuk rekreasi di sini," ujar Rosianti, pengunjung asal Kotaanyar.

Ternyata tidak hanya rombongan keluarga yang memadati pantai Bentar. Beberapa rombongan dari sekolah juga bergerombol dibeberapa titik di pantai Bentar.

Salah satunya dari PAUD (Pendidikan Anak Usia Dini) Insan Terpadu, Desa Talkandang, Paiton. "Ini (liburan) menjadi ajang silaturrahmi antara sekolah dengan murid dan wali murid," kata salah seorang guru pembimbing.

Salah satu sarana yang menjadi idola di pantai Bentar adalah anjungan. Dari pantauan Radar Bromo, Hampir tiap pengunjung yang datang selalu menyempatkan dirinya ke anjungan tersebut. (mie/hn)

Sumber: http://www.jawapos.com/radar/index.php?act=detail&rid=168371

Minggu, 04 Juli 2010

Pawai Budaya Nusantara Hibur Warga Probolinggo

Liputan 6 - Senin, 5 Juli

Liputan6.com, Probolinggo: Di musim liburan sekolah, Pawai Budaya Nusantara yang berlangsung di Probolinggo, Jawa Timur, Ahad (4/7), menarik perhatian warga dan wisatawan. Selain tuan rumah Probolinggo, kontingen dari 18 kota dan kabupaten di Indonesia bagian timur turut memeriahkan pawai tahunan ini. Antara lain dari Jember, Mataram dan Bima, Nusa Tenggara Barat, serta Sampang, Madura.

Bagi warga, pawai budaya ini menjadi hiburan menarik yang ditunggu-tunggu lantaran hanya digelar setahun sekali. Warga bisa melihat langsung berbagai kesenian daerah tanpa harus jauh-jauh datang ke daerah asal budaya itu. Dengan pawai budaya ini, Pemerintah Kota Probolinggo berharap sektor pariwisata di daerahnya bisa berkembang pesat.(ANS)

Sumber: http://id.news.yahoo.com/lptn/20100704/tpl-pawai-budaya-nusantara-hibur-warga-p-9c562ac.html

Anak Pengasong Lahir Tanpa Dubur

Minggu, 4 Juli 2010 | 13:04 WIB

Probolinggo - Gembira bercampur duka. Itulah yang kini dialami pasangan suami-istri Hartono dan Hanifah, warga Dusun Lori, Desa Sumurmati, Kec. Sumberasih, Kab. Probolinggo. Gembira karena Selasa lalu anak pertamanya, seorang perempuan lahir selamat di RSUD Dr Moch. Saleh, Kota Probolinggo. Namun, mereka sedih karena dubur bayi mungil itu ternyata tertutup.

Oleh RS, bayi yang belum diberi nama itu disarankan dirujuk ke RS dr Saiful Anwar (RSSA) Malang. Seketika Hartono yang sehari-hari menjadi pedagang asongan di Terminal Banyuangga itu terpikirkan biaya.

“Saya sempat bertanya berapa biaya pengobatan anak saya. Kata dokter, sementara dibuatkan anus buatan dari selang biayanya Rp 3,5 juta, setelah itu harus dioperasi yang biayanya sekitar Rp 20 juta. Darimana saya mendapatkan biaya sebesar itu?” keluh Hartono, Sabtu (3/7).

Jangankan biaya puluhan juta, biaya persalinan anaknya di RSUD sebesar sekitar Rp 3 juta pun harus didapat dengan utang ke sejumlah kerabatnya.

“Saya sebenarnya ingin cucu saya sembuh, normal seperti anak-anak lainnya, hanya saja masih kebingungan mencari dana,” ujar Usman, kakek si bayi yang sehari-hari menjalankan mesin traktor milik orang lain.

Bayi perempuan yang belum berumur sepekan itu lubang duburnya tidak tampak. “Memang ada sedikit lubang, seukuran lubang jarum, letaknya di atas lubang dubur biasanya,” ujar Sulimah, nenek si bayi.

Ya dari lubang seukuran jarum itulah si bayi buang air besar. “Mungkin karena lubang anusnya kecil, sehingga perut cucu saya sering kembung,” ujar Sulimah.

Sumber: http://www.surabayapost.co.id/?mnu=berita&act=view&id=ce21254dd4a3896852fdcb391311cbe0&jenis=1679091c5a880faf6fb5e6087eb1b2dc

Bayi Perempuan tanpa Anus

[ Minggu, 04 Juli 2010 ]
Orang Tua Tak Punya Biaya Operasi

PROBOLINGGO - Pasangan suami istri (pasutri) Hartono, 30, dan Hanifah, 18, sedang mendapat cobaan. Putri yang mereka harapkan sejak dua tahun lalu, terlahir tanpa anus. Lebih menyedihkan lagi, keluarga ini tak punya biaya untuk mengobatkannya.

Dari informasi yang dihimpun Radar Bromo, Selasa (29/6) lalu Hanifah melahirkan di RUSD Dr Moh Saloh Kota Probolinggo. Warga Desa Sumurmati, Sumberasih, Kabupaten Probolinggo itu melahirkan seorang bayi perempuan.

Sayangnya kebahagiaan atas kelahiran bayi perempuan itu tak berlangsung lama. Setelah dilahirkan sekitar pukul 13.00 dokter mengabarkan bahwa bayi tersebut terlahir tanpa anus.

Kesedihan mulai menyelimuti pasutri tersebut dan keluarganya. Terlebih, ketika dokter menyatakan bahwa harus dilakukan operasi untuk membuatkan dubur buatan. Keluarga pasutri yang menikah pada 2008 itu setuju. Namun mereka kebingungan soal biaya. "Kata dokter, biayanya sekitar Rp 20 juta," ujar Hanifah.

Pasutri yang sama-sama tidak mempunyai pekerjaan tetap itu mengaku tidak sangggup membayar biaya pengobatan putrinya. Sambil memikirkan dari mana mendapatkan uang, Hanifah dan anaknya sempat menjalani perawatan di RSUD.

Hanifa menjalani perawatan di ruang Melati, sedangkan putrinya dirawat di ruang Dahlia. Kamis (1/7) lalu Hanifah sudah diperbolehkan pulang oleh dokter. Namun tidak begitu dengan putri mereka.

Pihak rumah sakit masih belum memperbolehkan putri mereka dibawa pulang. Sebab masih harus menjalani perawatan. Tapi, mereka memaksa untuk membawa pulang putrinya itu. Karena memaksa, akhirnya pihak rumah sakit mengizinkan juga.

Hartono mengatakan selama masa persalinan dan menjalani perawatan di RSUD, sudah mengeluarkan duit sekitar Rp 3 juta. Untuk melunasi biaya itu saja, Hartono harus mencari utangan kesana kemari. Apalagi, harus mengeluarkan duit sebesar Rp 20 juta. "Biaya persalinannya sudah kami bayar, tapi masih utang," jelasnya.

Menurut Hartono, sebenarnya putrinya bukan tidak mempunyai dubur secara total. Ada tapi tidak normal, besarnya hanya sebesar jarum. Karena itulah, dokter menyarankan untuk dilakukan operasi demi masa depan putrinya. "Kami mau dapat dari mana uang sebanyak itu (Rp 20 juta). Perutnya juga mulai kembung dan sering nangis," ujarnya.

Hartono menjelaskan, pihak RSUD juga sudah merujuk putrinya ke Malang. Dan, sebelum dirujuk ke Malang rumah sakit hendak melakukan operasi. Yakni, dengan memasang selang pembuangan. Tapi tawaran itu juga ditolak, alasannya juga karena biaya. "Kami dimintai Rp 3,5 juta, tapi kami tidak sanggup karena tidak ada uang," ujar lelaki yang bekerja sebagai pedagang asongan itu.

Kini Hartono dan Hanifah tidak tahu lagi bagaimana nasib putri pertamanya itu bila tidak dioperasi. Padahal, mereka masih ingin melihat bayinya normal seperti manusia pada umumnya. Keduanya berharap belas kasihan dari para dermawan. Terutama dari pemerintah. "Kami sudah tidak punya apa-apa. Harapan kami ada yang membantu, karena kalau mengandalkan pekerjaan suami jelas tidak mungkin," ujar Hanifah.

Hal senada juga diakui oleh Usman, 41, kakek bayi yang belum berusia sepekan itu. Usman mengakui banyak warga yang menyarankan untuk segera dilakukan operasi terhadap cucunya. Usman mengaku semua saran itu sama dengan keinginannya. Tapi, apalah daya biaya untuk melakukan operasi itu tidak ada.

"Katanya kami harus menyediakan minimal Rp 20 juta. Dari mana mau dapat uang sebanyak itu? Untuk biaya yang di sana (persalinan) saja kami masih ngutang," ujarnya.

Kesedihan Usman dan keluarganya semakin dalam, itu ketika ada warga yang mengatakan kalau tidak cepat dioperasi sama saja dengan mengharap cucunya mati.

"Harapan saya, ya ada yang membantu cucu saya supaya bisa lekas sembuh. Terutama dari pemerintah. Kalau kami mau dapat dari mana? Keluarga sudah tidak mampu, untuk mendapatkan Rp 10 ribu saja repot. Hasil kerja kami hanya cukup untuk dimakan," keluhnya. (rud/nyo)

Sumber: http://www.jawapos.com/radar/index.php?act=detail&rid=168023

Peserta Apeksi Kunjungi TWSL

[ Minggu, 04 Juli 2010 ]
Lepas Burung dan Tanam Pohon

PROBOLINGGO - Rapat Koordinasi (rakor) Komisariat Wilayah (komwil) IV Asosiasi Pemerintah Kota Seluruh Indonesia (Apeksi) ke 7 di Kota Probolinggo sudah selesai. Rekomendasi dari rakor itu bakal dibawa ke Rapat Kerja Nasional (rakernas) Apeksi di Bandung 25 Juni mendatang.

Penutupan rakor Apeksi berubah dari jadwal yang ditentukan. Mestinya penutupan dilaksanakan Sabtu (3/7) malam, tapi diubah siang hari tepatnya pukul 13.30 di hall Bayuangga hotel Bromo View.

Saat penutupan sejumlah delegasi sudah banyak yang meninggalkan Kota Probolinggo. Yang terlihat hanya dari Kota Blitar, Kota Madiun, Kota Kediri, Kota Kupang, dan Kota Bima. Serta Direktur Apeksi Sarimun Hadi Saputro, Ketua Komwil IV Daniel Adoe dan Wali Kota Probolinggo Buchori.

Direktur Apeksi Sarimun Hadi Saputro menyatakan, setelah rakor akan ada rakernas di Bandung. Sarimun juga menyampaikan banyak hal kaitan dengan reformasi birokrasi, pemerintah dan pelayanan kepada masyarakat.

Menurutnya, apabila di suatu daerah terjadi aksi demonstrasi atau bentuk aksi dari masyarakat, itu tandanya masyarakat tidak terpuaskan dengan pelayanan yang diberikan oleh pemerintahnya.

"Oleh karena itu kita harus mengantisipasi, istilah lamanya itu deteksi dini untuk mengetahui apa yang diresahkan oleh masyarakat. Keresahan itu terjadi karena kebutuhan dan kepentingan mereka dihalang-halangi. Makanya kalau di daerah ada yang sering demo, bikin macet, itu bukti pemberian pelayanan belum seperti yang diharapkan oleh masyarakat," tegasnya.

Sarimun ternyata tidak hanya datang ke Kota Probolinggo untuk menghadiri Apeksi. Selama beberapa hari di Kota Probolinggo ia sering keluar malam untuk melakukan penelitian langsung kepada masyarakat. Ia mengaku bertanya langsung ke pedagang dan tukang becak mengenai kegiatan yang dilaksanakan pemkot.

"Mereka mendapat berkah dengan kegiatan satu minggu ini. Katanya dagangannya laris. Tukang becak itu sampai tahu kalau di Kota Probolinggo ini ada Apeksi. Itu adalah sesuatu yang membanggakan bagi kami karena Apeksi dikenal oleh masyarakat dan bermanfaat. Saya ini tidak memuji, tapi memang itu kenyataan yang saya temui," kata Sarimun saat memberi sambutan dalam penutupan Apeksi.

Kepada peserta Apeksi, Sarimun bilang bahwa kota-kota yang tergabung bisa saling belajar dengan program yang dimiliki oleh pemkot lain. Mana yang bisa diterapkan maka itu yang bisa diadopsi oleh daerah tersebut.

Di ujung sambutannya Direktur Apeksi mengatakan, pemerintah pusat memiliki program DAK (dana alokasi khusus) Lingkungan Hidup. Melalui program tersebut kota-kota bisa mengajukan program lingkungan hidup supaya mendapatkannya.

"Kami akan bertemu untuk membahas itu dengan Kementerian Lingkungan Hidup, Kementerian Keuangan dan Bappenas. Semoga anggaran DAK LH pada tahun 2011 bisa turun ke kota masing-masing," ungkapnya.

Sebelum acara penutupan pagi harinya peserta rakor menikmati agenda di lapangan. Mereka melakukan penanaman pohon, pelepasan burung, tinjau lokasi industri, berkunjung ke TWSL (Taman Wisata Studi Lingkungan) dan TPA (Tempat Pembuangan Akhir).

Pohon persahabatan ditanam di sisi barat Pelabuhan Perikanan Pantai (PPP). Penanaman pohon dilakukan oleh Wali Kota Probolinggo Buchori, Direktur Apeksi Sarimun Hadi Saputro, Ketua Komwil IV Daniel Adoe, peserta rakor dan muspida.

"Menanam pohon adalah sebagian dari ibadah. Acara penanaman pohon ini juga disertai pelepasan burung. Sekarang jarang ada burung berkicau, ini tandanya udara sudah tidak steril. Dengan pelepasan burung diharapkan bisa melestarikan ekosistem yang ada," ujar Buchori saat membuka acara pagi itu.

Diawali pelepasan burung secara bersama-sama dilanjut penanaman pohon. Setelah itu peserta Apeksi menuju ke pabrik PT Kutai Timber Indonesia (KTI) lalu ke TWSL. Di TWSL atau dikenal masyarakat kebun binatang mini, peserta Apeksi mendapatkan hiburan dari wali kota.

Buchori menunjukkan keberaniannya memegang ular kobra dan menenteng ular weling selama di kawasan tersebut. Ketika Buchori memegang ular weling kecil, Asisten Perekonomian Matalil dan Ketua DPRD Kota Probolinggo Sulaiman langsung berlari sekencang-kecangnya meninggalkan kerumunan.

Istri Wali Kota Kupang pun demikian. Melihat ular kobra diangkat keluar oleh pawang ular dan Buchori, ia memilih buru-buru menjauh. Ia sempat meneriaki suaminya, Daniel Adoe agar tidak terlalu dekat dengan ular tersebut.

"Saya kalau siang-siang, setiap hari kadang ke sini ya mainan dengan ular ini," kata Buchori. Puas bermain-main dengan ular, rombongan menuju ke kandang lutung, macan tutul dan beruang. Wali Kota Kupang Daniel Adoe juga sempat berfoto dengan ular sanca yang sudah jinak. Daniel juga penasaran melihat koleksi ikan di TWSL.

Kepada Radar Bromo, Daniel mengaku sangat kagum dan banyak yang bisa ia pelajari selama berada di Kota Probolinggo. "Banyak sekali ini yang kami dapat di Kota Probolinggo. Kami juga punya lahan barang kali bisa dibuat tempat semacam ini (TWSL). Mungkin bisa kami kembangkan," katanya.

Saat berkunjung di KTI, Daniel sempat terkejut karena bahan baku particle board berasal dari limbah kayu. Di Kupang limbah seperti itu sangat banyak tetapi tidak dimanfaatkan seperti perusahaan di Probolinggo. Kupang juga mengaku cukup banyak punya kayu sengon.

"Kami sudah punya tanah seluas 26 ha, siap untuk langsung dipakai. Makanya saya ingin presentasi jika ada kesempatan. Silakan berinvestasi di kota kami, soal tanah sudah kami sediakan tidak usah beli. Pengalaman kami, investor banyak yang keberatan karena tidak ada tanah. Sekarang tanah sudah ada," jelas Daniel. (fa/nyo)

Sumber: http://www.jawapos.com/radar/index.php?act=detail&rid=168031

Nasi Basi, Aniaya Anak Tiri

[ Minggu, 04 Juli 2010 ]
PROBOLINGGO-Gara-gara nasi basi Yani, 12, dianianya ibu tirinya, Berta, Sabtu kemarin (3/7). Akibatnya, warga Kelurahan Jrebeng Lor Kecamatan Kedopok Kota Probolinggo itu, harus berurusan dengan polisi. Itu, setelah warga melaporkan kasus tersebut kepada polisi.

Dari informasi yang dihimpun Radar Bromo, kemarin (3/7) sekitar pukul 10.00 seperti biasanya Berta hendak memasak. Sebelum memasak, Berta bertanya kepada Yani nasinya ada apa tidak. Mendapat pertanyaan itu, Yani menjawab kalau nasinya ada di dalam magic jar.

Tanpa mengecek, Berta percaya saja dengan omogan Yani. Alhasil Berta tidak memasak nasi, hanya membuat sayur saja. Sedangkan Yani, waktu itu sudah selesai makan. Ia memakan nasi bungkus yang diperoleh dari rumah tetangganya yang ada selamatan.

Nah, setelah sayur dan lauk-pauknya matang Berta hendak makan. Saat hendak mengambil nasi di magic jar. ternyata, nasinya sudah basi. Mendapati itu, Berta langsung memarahi Yani habis-habisan.

Tak hanya itu, Berta yang pernah belajar karate sewaktu masih gadis ini memukul Yani dengan gayung. "Entah, saya tidak tahu (memukul Yani) berapa kali. Saya juga geregetan. Entahlah tangan saya ini, mungkin karena saya punya (ilmu bela diri) karate," ujarnya.

Menurut Berta, Yani bukanlah anak kandungnya. Melainkan anak tiri yang mulai tinggal bersama dengannya sejak usianya masih sekitar 8 bulan. Kambo, ayah Yani berada di Papua. "Dia (Yani) memang sering ngelawan saya. Juga sering mengadu domba saya dengan tetangga," jelas Berta.

Saking kesalnya, Berta pernah mengusir Yani dari rumah. Tapi, Yani tetap bandel. "Sering dia menyakiti saya. Bapaknya, juga sudah berpesan kalau Yani nakal disuruh cubit atau diikat," jelas Berta. "Saya heran kenapa masalah ini sampai ke sini (polisi). Mungkin ini karena ada orang-orang yang benci kepada saya," lanjut Berta.

Saat ditemui wartawan, bocah yang masih duduk dibangku kelas 5 SD itu mengakui kalau dipukul dengan gayung. Yani juga mengaku tidak tahu berapa kali Berta memukul dirinya. "Tidak tahu berapa kali. Kena mulut dan badan," jelas Yani.

Yani mengaku, saat itu tidak tahu kalau nasi yang ada di dalam magic jar sudah basi. Ketika ditanya oleh Berta, ia hanya mengatakan nasinya ada. Bukan basi atau tidak. "Ketika mama (Berta) mau makan, ternyata nasi yang ada di magic jar basi," ujar Yani.

Apalagi, waktu itu Yani tidak memakan nasi yang ada di dalam magic jar. Ia memakan nasi yang diperolehnya dari rumah tetangganya, Jumat (2/7). "Saya makan nasi bungkus yang diperoleh dari rumah orang meninggal," ujar Yani.

Meski mendapat perlakukan kasar dari Berta, Yani mengaku tidak mau kalau mamanya itu ditahan. Karena, Yani mengaku masih sayang kepada mamanya. "Saya tidak mau mama ditahan. Saya masih sayang sama dia (Berta)," ujar Yani.

Dengan adanya kasus tersebut, Kapolresta AKBP Agus Wijayanto melalui Kasatreskrim AKP Agus I Wijayanto menyatakan, sampai kemarin (3/7) pihaknya masih terus melakukan pemeriksaan terhadap korban dan pelaku. "Kami juga masih akan meminta keterangan dari para saksi," ujarnya. (rud/nyo)

Sumber: http://www.jawapos.com/radar/index.php?act=detail&rid=168028