Sabtu, 16 Oktober 2010

Didatangi 2 Janda, Walikota Panggil Petinggi Eratex, Kasek, Kadispendik

Jumat, 15 Oktober 2010 | 11:15 WIB

Oleh Iksan Mahmudi

KAMIS (14/10) siang pukul 10.30, Kantor Walikota HM Buchori SH MSi didatangi dua janda. Mereka mengeluhkan kemiskinannya hingga Walikota memanggil petinggi pabrik, kepala Dinas Pendidikan, dan beberapa kepala sekolah yang diperintahkan membantu.

Kedua janda itu adalah Wiwik Windiarti (39), warga Jl. Pattimura Gang Rajungan 11, Kel Mangunharjo, Kec Mayangan, dan Luluk Mardiana (40), warga Jl Teuku Umar, Kel Jati, Kec Mayangan. Keduanya dikawal kerabat masing-masing diterima walikota di ruang kerjanya.

Usai menjabat tangan walikota, mata kedua janda itu tampak berkaca-kaca. Wiwik menceritakan, Rabu (13/10) lalu, suaminya, Suhartono (44) yang sudah sekian bulan menderita stroke meninggal dunia. Sepeninggal suami yang bekerja sebagai personel satpam di garasi PO Akas itu, Wiwik mengaku cemas dengan nasib dua anaknya.

“Saya hanya bekerja di warung kopi dan (kue) gorengan, sementara masih harus menanggung biaya hidup dan sekolah dua anak saya,” ujar Wiwik. Anak pertama, Frilian Harianti masih bersekolah di SMKN 1 kelas 10, sementara anak keduanya Kristian Noah Ramadhan masih dibangku SD Negeri Mangunharjo 7.

Perempuan berjilbab itu mengaku, sebelumnya pernah bekerja di PT Eratex Djaja, perusahaan tekstil dan garmen di Kota Probolinggo. “Saya mulai bekerja di Eratex pada tahun 1990, kemudian pada 2001 terkena PHK (pemutusan hubungan kerja) massal.”

Belum sempat walikota menanggapi keluhan Wiwik, Luluk ganti menyampaikan keluhannya. Beberapa hari lalu, ia mengaku mengalami musibah beruntun. “Hari Senin (11/10) suami saya, Rahmad Yani (42) meninggal dunia. Rabu (13/10) giliran ibu saya, Muslimah (60) yang meninggal dunia,” ujarnya.

Beruntun ditinggal mati dua orang yang sangat dicintainya, Luluk mengaku terpukul. Perempuan yang sehari-hari berjualan kopi dan teh itu khawatir dengan nasib dua anaknya, Sri Indahyani yang bersekolah di SMKN 1 kelas XII dan Ahmad Sugiono yang duduk di kelas IX di SMPN 3 Kota Probolinggo.

“Untuk makan saja susah, apalagi untuk biaya anak sekolah,” ujar perempuan yang masuk kategori keluarga miskin (Gakin) itu. Tidak hanya Luluk, Wiwik pun sempat berpikiran hendak menyuruh kedua anaknya berhenti sekolah.

Mendengar keluhan dua janda yang kesulitan biaya sekolah anak-anaknya, walikota kemudian menghubungi Kepala Dinas Pendidikan (Dispendik) Maksum Subani. Maksum tampak datang tergopoh-gopoh disusul sejumlah kepala sekolah.

Walikota juga sempat menghubungi manajemen PT Eratex Djaja, perusajaan tekstil dan garmen yang pernah mem-PHK massal pekerjanya termasuk Wiwik Windarti. General Affair PT Eratex Djaja, Suyoto, dikawal stafnya, Abdri pun akhirnya tampak di ruangan walikota.

“Pak Maksum, tolong anak-anak dua janda miskin ini dibebaskan dari semua biaya pendidikan di sekolahnya. Kalau sampai dipungut biaya sekecil apa pun, Sampeyan yang bertanggung jawab,” ujar walikota.

Sejumlah kepala sekolah yang “mengawal” Kadispendik, juga tampak sibuk mencari-cari nama murid, yang disebutkan kedua janda miskin itu. Di antaranya Kepala SMKN 1 Sunardi dan Kepala SMPN 3 Nurkholis.

Kepada manajemen PT Eratex, walikota menitipkan Wiwik agar diterima kembali bekerja. “Bu Wiwik ini dulu pernah bekerja di PT Eratex terkena PHK massal, tolong diterima kembali,” ujarnya.

Suyoto tampak mengangguk-angguk. “Silakan buat lamaran, akan kami terima kembali bekerja di Eratex,” ujarnya. Kebetulan sejak beberapa bulan lalu, perusahaan eksporter testil dan garmen itu memerlukan banyak pekerja. “Beberapa bulan lalu, di Eratex ada 3.300 pekerja, sekarang sudah bertambah 800 pekerja,” ujar Suyoto.

Ketika pertemuan di ruang walikota usai, tampak datang tergopoh-gopoh, Kepala SDN Mangunharjo 7, Rodhi. Karena pertemuan sudah bubar, ia segera menemui Kadispendik.

Disinggung cara “instan” walikota menyelesaikan keluhan warga yang bisa menjadi preseden buruk dan diikuti banyak warga lain, walikota mengaku selektif. “Yang perlu dibantu ya memang benar-benar miskin,” ujarnya. isa

Sumber: http://www.surabayapost.co.id/?mnu=berita&act=view&id=b80aae17c4418ff00b74a0c169d12831&jenis=1679091c5a880faf6fb5e6087eb1b2dc

Polisi Pengguna Sabu Diciduk

16 Oktober 2010 04:54 WIB
Foto : MI/Ramdani/vg
SURABAYA--MICOM: Satuan Resese Narkoba (Satreskoba) Polrestabes Surabaya menangkap seorang polisi yang terbukti sebagai pengguna sabu. Polisi berpangkat Briptu berinisial RSN itu merupakan anggota Polres Probolinggo.

Ketika ditangkap, ia bersama rekannya berinisial nama DSA, warga Bendul Merisi Surabaya. "Kami menangkap oknum polisi dan rekannya di kawasan Jalan Raya Diponegoro Surabaya setelah menerima informasi bahwa keduanya membawa sabu-sabu," ujar Kasat Narkoba Polrestabes Surabaya AKBP Eko Pudji Nugroho, Jumat (15/10).

Ketika hendak meringkus keduanya, polisi sempat menemui kendala. Pasalnya RSN berontak dan melawan. Bahkan, pria asal Rungkut Asri Barat itu juga membuang barang bukti satu paket sabu ke jalan. Puncaknya, ketika kedua tersangka disuruh mengambil barang bukti, namun menolaknya. Tak pelak, Romi yang pernah tertangkap dalam kasus yang sama sekitar 2007 tersebut semakin berontak.

Tentu saja, hal itu membuat empat anggota Idik III Satreskoba Polrestabes ekstra waspada. Secara spontanitas, petugas membanting Briptu Romi hingga tak bisa bergerak lagi.

Penangkapan dilakukan usai kedua tersangka membeli satu paket sabu di dekat SPBU Jalan Diponegoro. Anggota Satnarkoba yang tengah duduk-duduk di warung dekat SPBU curiga dengan ulah kedua tersangka.

Keduanya dibuntuti empat petugas dengan mengendarai dua unit motor. Ketika motor tersangka putar balik ke arah Jalan Raya Diponegoro, dekat Kebun Binatang Surabaya (KBS) laju motor yang dikendarai kedua tersangka dipotong petugas yang dipimpin Kanit Idik III AKP Kusminto.

Polisi juga manangkap seorang tersangka berinisial ABM (36), warga Rungkut Harapan. Ia diduga memiliki sabu-sabu di rumahnya. "Ternyata benar, saat digeledah, kami menemukan dua plastik sisa pemakaian yang masih ada sabu dan seperangkat alat hisap," jelas Eko Pudji. (Ant/OL-04)

Sumber: http://m.mediaindonesia.com/index.php/read/2010/10/16/175515/125/101/Polisi_Pengguna_Sabu_Diciduk

Bawa Sabu, Polisi Probolinggo Diamankan di Surabaya

Jumat, 15/10/2010 21:47 WIB
Imam Wahyudiyanta - detikSurabaya

Surabaya - Lagi-lagi korps baju coklat dibuat malu oleh salah seorang anggotanya. Seorang oknum polisi yang bertugas di Polres Probolinggo, ditangkap sesama polisi saat kedapatan membawa narkoba.

Bahkan, penangkapan terhadap tersangka, Briptu Romi Satria Negara (30), yang dinas di bagian Tata Urusan Dalam (Taud) ini merupakan yang kedua kalinya. Dia diamankan anggota Idik III Satnarkoba Polrestabes Surabaya, di Jalan Diponegoro.

"Romi sebelumnya pernah ditangkap Polres Surabaya Utara dan kena 6 bulan penjara," kata Kasatnarkoba Polrestabes Surabaya, AKBP Eko Puji Nugroho, kepada wartawan di mapolres, Jalan Taman Sikatan, Jumat (15/10/2010).

Bersama Romi, turut ditangkap pula Dodik Setia Adiputra (36), warga Bendul Merisi Tengah. Eko mengatakan bahwa tidak mudah menangkap Romi dan Dodik, karena mereka melakukan perlawanan saat ditangkap. Sebelum ditangkap, kedua tersangka yang baru mengambil sabu-sabu (SS) 0,3 gram di dekat SPBU Jalan Diponegoro terus diikuti petugas.

Kedua tersangka melaju menuju Jalan Darmo. Di depan KBS, mereka putar balik menuju Jalan Diponegoro. Tak ingin kehilangan buruan, laju motor kedua tersangka langsung dipotong petugas. Keduanya segera disuruh turun.

Tanggap dengan situasi tersebut, salah satu tersangka membuang SS ke tengah jalan. Saat disuruh mengambil, keduanya menolak bahkan berbalik menantang petugas. Rupanya Romi dan Dodik kalah jumlah, 4 petugas yang menangkapnya berhasil membanting kedua tersangka.

"Beberapa warga bahkan berusaha membantu anggota," tambah Eko.

Setelah diinterogasi, kedua tersangka mengatakan bahwa uang yang digunakan untuk membeli serbuk kristal itu berasal dari Aditya Bagus Mahendra (36), warga Rungkut Harapan. Tanpa menunggu lama, petugas langsung menuju ke alamat yang dimaksud. Aditya diamankan, dan dari rumahnya petugas menemukan dua plastik klip yang masih ada sisa SS dan seperangkat alat hisap. "SS yang dibeli tersangka itu rencananya akan dihisap bareng di daerah Rungkut," tandas Eko.

(bdh/bdh)


Sumber: http://surabaya.detik.com/read/2010/10/15/214700/1466400/466/bawa-sabu-polisi-probolinggo-diamankan-di-surabaya?y991102465

Jumat, 15 Oktober 2010

Belasan Kambing Mati di Sungai

PROBOLINGGO – Warga Desa Mranggon Lawang, Dringu, Kabupaten Probolinggo, kemarin (14/10) geger. Mereka dikejutkan adanya 12 ekor kambing yang mati di sungai sisi timur jalan desa tersebut. Tepatnya di depan Kantor Urusan Agama Dringu.

Diduga kambing-kambing itu hasil curian yang sengaja dibuang oleh pelaku. Kambing-kambing itu di temukan mengapung di sungai dalam kondisi empat kaki terikat.

Kali pertama ditemukan oleh seorang petani yang hendak ke sawah sekitar pukul 05.30, 12 kambing itu terpencar di tiga titik di sungai tersebut. Antartitik berjarak sekitar lima meter. ”Yang kecil-kecil ada di belakang. Mungkin hanyut oleh air,” kata Aiptu M. Anwar, salah satu anggota Polsek Dringu.

Sekitar pukul 09.00 kemarin, kambing-kambing itu diangkat warga. Perut kambing itu terlihat kembung, seperti terisi air.

Yang memunculkan dugaan 12 kambing itu hasil curian adalah kondisi kaki yang terikat. Sedangkan pada malam sekitar pukul 01.30, petugas Polsek Dringu ber patroli melewati sungai tempat ditemukannya kambing itu.

Dari situ muncul dugaan bahwa pelaku mengetahui polisi yang ber patroli. ”Semalam kami memang patroli untuk mengantisipasi maraknya pencurian. Mungkin saja pelaku mencari aman dengan membuang kambing curiannya ke sungai,” kata Aiptu Anwar. (qb/jpnn/c2/end)

Sumber: http://www.jpnn.com

Kamis, 14 Oktober 2010

Peringatan Hari Cuci Tangan Pakai Sabun Sedunia Digelar di Probolinggo

suarasurabaya.net| Peringatan Hari Cuci Tangan Pakai Sabun Sedunia (HCTPSS) yang dirayakan setiap 15 Oktober, di Jawa Timur pada Jumat (15/10) akan dipusatkan di Kota Probolinggo. PT Unilever Tbk, secara khusus menggelar kegiatan ini dalam rangka untuk membudayakan cuci tangan pakai sabun dikalangan masyarakat.

Tahun ini, HCTPSS di Indonesia dengan dikoordinir secara langung oleh Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, menggelar beberapa kegiatan yang sudah digelar sejak tahun 2004 lalu, diantaranya di Jakarta, Yogyakarta, Semarang dan Jawa Timur. Khusus untuk Jawa Timur, kegiatan diawali dengan konferensi pers di Kota Surabaya.

Hadir dalam kesempatan Kamis (14/10), di Kota Surabaya diantaranya, ERWIN CAHAYA ADI Senior Brand Manager Lifebouy mewakili PTUnilever Tbk, RONI SUGIYANTO SYAHRONI Direktur Spektra, dan DIK DOANK seniman yang juga sangat konsern dengan anak-anak.

Rangkaian HTCPSS 2010 di Jawa Timur yang dipusatkan di Kota Probolinggo bekerjasama dengan PKK Kabupaten Probolonggo. Dijadwalkan, acara ini akan dihadiri sekurangnya 1.680 orang peserta dari sejumlah SD se Kabupaten Probolinggo serta para penggerak PKK.

"Karena budaya mencuci tangan, tidak hanya untuk anak-anak saja. Tetapi kepada para generasi sebelumya, para Ibu dan orang tua juga harus memahami dan mengerti tentang budaya sehat melalui cuci tangan pakai sabun tersebut," ujar ERWIN CAHAYA ADI pada suarasurabaya.net.

Ditambahkan ERWIN, perayaan HTCPSS 2010 melalui edukasi serta sosialisasi pentingnya cuci tangan dikalangan masyarakat diharapkan semakin dapat memperluas budaya cuci tangan yang masih belum banyak diketahui oleh masyarakat di Indonesia. "Itu juga yang kami harapkan. Budaya cuci tangan semoga menjadi lebih dikenal masyarakat sebagai bagian dari hidup sehat," tuntas ERWIN CAHAYA ADI, Kamis (14/10).(tok)

Teks foto:
-Kampanye HCTPSS 2010 juga dihadiri DIK DOANK.
Foto: TOTOK uarasurabaya.net

Sumber: http://www.suarasurabaya.net/v06/kelanakota/?id=67037932baa0f49826fd842a7faa1410201083593

Takmir Masjid Tiban Takluk

Kamis, 14 Oktober 2010 | 10:04 WIB

PROBOLINGGO - Takmir Masjid Tiban Babussaalam, Kel. Pilang, Kec. Kademangan, Kota Probolinggo akhirnya rela berbagi jalan masuk ke masjid dengan investor wisata pantai. Mereka pun menyetujui pembangunan wisata di kawasan hutan mangrove itu asalkan tidak diwarnai maksiat.

“Kami bukan menolak wisata mangrove, tetapi tolong perhatikan norma-norma agama. Jangan sampai wisata pantai itu menjadi tempat maksiat,” ujar Abdul Aziz Kholil, penasihat takmir masjid dalam pertemuan dengan investor di Pemkot Probolinggo, Rabu (13/10).

Pertemuan yang dipimpin Asisten Pembangunan, Agus Subagiono itu dihadiri Direktur CV Bee Jay Entertainment, Benjamin Mangintung. Selain sejumlah pengurus takmir, tampak pula Kabag Hukum Agus Hartadi dan Kabag Pemerintahan Shofwan Thohari.

Sementara itu Totok, juga takmir masjid mengatakan, masjid harus dijaga keamanan, kebersihan, dan kekhusyukannya. Sehingga umat bisa beribadah dengan tenang.

“Kami khawatir lalu lalang kendaraan proyek bisa mengganggu umat yang beribadah, juga debunya mengotori masjid,” ujar Totok yang juga Ketua RT 1 di Kel. Pilang itu.

Seperti diketahui, jalan masuk ke masjid bakal dilalui kendaraan proyek wisata pantai. Selain itu, kelak setelah proyek selesai, pengunjung wisata pantai juga bakal melintasi jalan di samping selatan Masjid Tiban.

Terkait keluhan takmir masjid, Pemkot menjamin objek wisata pantai itu bersih dari perbuatan maksiat. “Ini bukan tempat wisata esek-esek. Kalau sampai diwarnai maksiat, Pemkot sendiri yang akan menutup tempat wisata itu,” ujar Agus Subagiono.

Agus menambahkan, dalam memori kesepahaman (Memorandum of Understanding/MoU) sudah jelas, wisata tersebut memanfaatkan rindangnya hutan mangrove di kawasan pantai utara Probolinggo. Wisata alam itu bakal berdampak positif bagi kelestarian alam, selain memberikan nilai tambah ekonomis bagi Pemkot dan warga sekitar.

Sisi lain, untuk memasuki kawasan hutan mangrove itu, dari jalan nasional Jl. Soekarno-Hatta diperlukan jalan masuk yang melintasi rel KA. “Hasil konsultasi dengan Dirjen Kereta Api, yang direkomendasi ya jalan masuk ke Masjid Tiban. Soalnya pihak Kereta Api tidak ingin terlalu banyak jalan yang melintasi rel KA,” ujarnya.

Karena itu, kata Agus, takmir masjid diminta berbagi jalan dengan investor wisata pantai. “Sebenarnya beberapa hari lalu, kami dan investor bermaksud melakukan sosialisasi tetapi keburu dicegat warga di jalan. Daripada ada yang memprovokasi, lebih baik kami pulang,” ujarnya.

Sementara itu Benjamin Mangintung mengatakan, awalnya Masjid Tiban tidak termasuk paket wisata pantai. “Tetapi begitu mengetahui Masjid Tiban termasuk masjid tua yang bersejarah, akhirnya kami masukkan dalam paket wisata religi,” ujarnya.

Soal jalan masuk ke bakal lokasi proyek wisata pantai, investor mengaku sudah mengajukan surat ke Dirjen Kereta Api. “Dirjen Kereta Api merekomendasikan jalan masuk di perlintasan 186, yang selama ini merupakan jalan masuk ke masjid. Jadi kami minta takmir berbagai jalan,” ujarnya.

Benjamin pun mengaku, akan memperlebar jalan masuk ke masjid selebar sekitar 4 meter itu menjadi 6-10 meter. “Kami murni mengembangkan eco-wisata. Hutan mangrove yang ketebalannya 30 meter bakal kami tanami hingga menjadi 300 meter,” ujar alumni Universitas Gajah Mada (UGM) Jogjakarta itu.

Soal keluhan bakal muncul debu, investor mengaku, akan melibatkan warga untuk membersihkan masjid. “Kami juga toleransi, saat jam-jam beribadah, kendaraan proyek berhenti sementara,” ujarnya.

Investor juga menjanjikan bakal menyerap warga sekitar untuk bekerja di proyek dan tempat wisata kelak. Yang jelas, investor sudah menyiapkan 3 juta dolar Amerika Serikat (AS) untuk pembangunan tahap awal wisata pantai itu. “Kami sudah menyiapkan 420 tiang pancang, juga mendatangkan batang-batang kelapa dari Sulawesi,” ujarnya.

Kawasan wisata itu terhampar di kawasan hutan mangrove sepanjang 1.500 meter di Kel. Pilang. ”Kawasan barat sepanjang 500 meter untuk penangkaran satwa, 500 meter di timur untuk pembibitan mangrove, dan 500 meter di tengah-tengah untuk resort yang dilengkapi bungalow,” ujar Benjamin.

Kawasan wisata itu juga bakal dilengkapi tempat rekreasi air seperti pemancingan dan mendayung (berperahu). Investor juga bakal membangun boom-boom car, wisata outbond, jalan setapak, hingga restoran terapung. isa

Sumber: http://www.surabayapost.co.id/?mnu=berita&act=view&id=ba56a1fd70b8c7aff17bf4c58e614b42&jenis=1679091c5a880faf6fb5e6087eb1b2dc

Soal Perampok Dihargai Rp 10 Juta

  • Kamis, 14 Oktober 2010

Isu Sayembara Buru Perampok H Misto
Probolinggo-Surya-
Penyelidikan kasus perampokan yang menimpa H Suyanto alias Misto warga Desa Karangpranti, Kecamatan Gending, Kabupaten Probolinggo seperti membentur tembok, karena polisi sulit melacak jejak pelaku.

Yang menarik, H Misto yang pengusaha tambang batu bara itu, dikabarkan mencoba mencari para perampok itu dengan caranya sendiri. Dengan kekuatan uangnya, ia akan memberikan hadiah Rp 10 juta bagi siapa saja yang sanggup memberikan informasi sahih tentang keberadaan kawanan perampok yang berdandan ala ninja itu. Sayembara itu diharapkan bisa mempermudah penangkapan para perampok.

Seperti diberitakan, rumah Misto disatroni kawanan perampok, Selasa (12/10) sekitar pukul 01.30 WIB. Dalam perampokan itu, selain uang tunai Rp 15 juta dan berlian senilai Rp 30 juta digondol, istri Misto, Hj Halimah sempat ditendang dan diinjak-injak perampok.

Rumor soal sayembara itu menyebar sehari setelah perampokan dan Misto sudah kembali dari lahan tambang batu baranya di Kalimantan. Namun, informasi ini belum dapat dikonfirmasikan pada Misto karena ia tidak bisa ditemui.

Sejak pukul 10.10 WIB, Rabu (13/10), Surya yang berada di rumahnya, namun justru dipingpong pesuruhnya. Awalnya, Misto disebut tidak ada di rumah, melainkan di lokasi penggilingan padinya di Desa Asembagus, sekitar 10 kilometer dari rumahnya. Namun, ketika Surya sampai di tempat itu, para pegawai Misto menyebut juragannya itu berada di gudang kayu, sekitar 7 kilometer jauhnya dari tempat selep padi itu.

Namun, lagi-lagi Surya gagal Misto. Pintu gudangnya tertutup rapat. Tidak ada tanda-tanda ada orang di situ. Sehari setelah kejadian perampokan, police line yang sebelumnya dipasang di pagar rumahnya sudah dibuka. Pintu pagar setinggi hampir 2 meter juga tertutup rapat dan dari luar pagar terlihat dua mobil jenis Grand Vitara 2.0 di halaman dan sebuah mobil Pajero Sport diparkir di garasi belakang.

Lalu, ketika Surya mencoba mencari lagi di rumahnya, juragan batu bara itu disebut tidak ada di rumah. “Pak haji (H Misto, Red), naik CRV putih,” ujar salah satu pesuruhnya yang berkumis dan mengaku bernama Rifin kepada Surya.

Namun, pembantu H Misto yang berada di seberang jalan, memberi isyarat kepada Surya, bahwa H Misto ada di dalam rumah, tetapi sedang istirahat. Ketika diminta nomor ponsel H Misto, Rifin maupun pembantu perempuannya, yang tengah menggendong anak H Misto, tidak memberi jawaban. “Wah, saya tidak tahu nomornya Bapak,” katanya.

Secara terpisah, Kasat Reskrim AKP Heri Mulyanto ketika dikonfirmasi Surya tidak memberi penjelasan terkait perkembangan terbaru perburuan pelaku perampokan bos batu bara tersebut. “Belum ada perkembangan,” katanya singkat.

Perampokan di rumah keluarga kaya-raya itu terlihat mendapat perhatian khusus dari kepolisian. Selang beberapa jam setelah kejadian, puluhan anggota Polres Probolinggo melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP), dilengkapi anjing pelacak yang didatangkan dari Polda Jatim. ntiq

Sumber: http://www.surya.co.id/2010/10/14/info-soal-perampok-dihargai-rp-10-juta.html?utm_source=feedburner&utm_medium=twitter&utm_campaign=Feed%3A+surya-online+%28SURYA+Online+-Portal+Berita+Jawa+Timur+Sebenarnya%29