Senin, 09 Agustus 2010

Heboh! Penangkapan Kelelawar Siluman di Probolinggo

Senin, 8 Agustus 2010
(IST)

Probolinggo – Warga Jalan KH. Genggong, Kelurahan Kebonsari Wetan, Kecamatan Kanigaran, Kota Probolinggo heboh. Pasalnya, salah seorang warga berhasil menangkap seekor kalelawar yang diduga jadi-jadian.

Tak pelak, binatang kalelawar jadi-jadian berwarna orange dengan sayap bergaris hitam itu hingga saat ini menjadi tontonan warga. “Saya kaget begitu melihat ada hewan masuk ke dalam dapur rumah,” ungkap Hofi, Minggu (8/8).

Sebelum masuk dapur rumahnya, cerita Hofi, binatang aneh itu sebelumnya masuk bangunan tingkat rumahnya. “Setelah itu, masuk ke dalam dapur,” katanya.

Mengetahui ada bianatang aneh, Hofi lalu menceritakan kepada keluarganya. Binatang aneh itupun ditangkap ramai-ramai.

Hofi menjelaskan, binatang tersebut berhasil ditangkap Jumat (6/8) malam. Meski sekilas seperti kalelawar biasa, namun bisa dibilang aneh karena warnanya.

“Kalau kalelawar biasa warnanya tidak seperti itu. Biasanya warga menyebutnya dengan istilah Pok Kopok,” tambahnya.

Mendengar ada binatang aneh berhasil ditangkap, puluhan warga kemudian datang berduyun-duyun ke rumah Hofi. Mereka ingin melihat secara dekat binatang yang diduga jadi-jadian itu.

Kini binatang aneh itu ditaruh di dalam sebuah toples kaca. Agar binatang tersebut bisa bertahan hidup, Hofi memberikan makan pisang dan butiran nas

Sumber: http://koezz.wordpress.com/2010/08/08/heboh-penangkapan-kelelawar-siluman-di-probolinggo/


Ancam Lurug Dinas Pendidikan

[ Senin, 09 Agustus 2010 ]
Soal DO, Warga Anggap SMAN 2 Tebang Pilih

PROBOLINGGO - Kasus DO (drop out) empat murid di SMAN 2 Kota Probolinggo gara-gara berkomentar pedas di jejaring sosial facebook (fb) juga jadi sorotan warga. Sekolah itu bahkan dinilai memberlakukan keputusan yang tebang pilih.

Tono Tambayong, salah warga kelurahan Kebonsari Kulon mengaku cukup kecewa dengan peristiwa DO empat murid di SMAN 2. "Kami sangat menyayangkan keputusan SMAN 2 yang men-DO empat muridnya tersebut," keluh Tono yang saat ini adalah ketua Jinggomania, julukan suporter tim sepak bola Kota Probolinggo Persipro.

Menurut Tono, tindakan empat siswi SMAN 2 yang menulis status di fb bukanlah murni bertujuan mencemarkan nama baik sekolah. "Itu adalah bentuk curhat sesama teman lewat fb," katanya kepada Radar Bromo kemarin.

Tentu saja curhat tersebut muncul tidak begitu saja. Empat murid itu dijelaskan Tono menulis status di fb karena kecewa. "Mereka sebelumnya sudah lapor ke kesiswaan, tetapi tidak ada respon. Jadi munculah curhat tersebut," ungkapnya.

Seperti diberitakan Radar Bromo sebelumnya, empat siswi SMAN 2 di-DO. Mereka adalah Dv, Dn, Mg dan As. Ini merupakan buntut komentar mereka di fb terkait peristiwa-peristiwa yang terjadi di sekolahnya.

Jumat (30/7) lalu Dv bikin status di facebook. Isinya, Dv mengeluhkan kejadian-kejadian di sekolahnya. Misalnya, helm hilang di parkiran sekolah, jok motor disilet, bahkan sepatu di musala disilet. Peristiwa itu sudah dilaporkan ke pihak kesiswaan sekolah. Tapi, dalam statusnya, Dv menyebut pihak sekolah tak memberi respons. Lalu status Dv dikomentari teman-temannya.

Terjadilah percakapan dengan bahasa khas remaja. Di dalamnya juga muncul beberapa ungkapan kasar macam keparat dan goblok. Juga sempat ada tudingan kesiswaan sekolah "doyan duit".

Pihak sekolah mengendus percakapan lewat fb itu dan langsung mengambil keputusan berat. Empat siswi dipangil bareng orang tuanya. Mereka kemudian diberi tahu kesalahannya (soal komentar di fb itu). Sebenarnya lebih dari empat orang yang ikut bercakap-cakap soal itu. Tapi, kemudian hanya empat siswi itu yang di-DO pihak sekolah.

Humas SMAN 2 Mohamad Zaini saat dikonfirmasi Radar Bromo pada Kamis (5/8) lalu mengakui kejadian itu. Tapi, dia tidak mau disebut SMAN 2 telah men-DO muridnya. Yang benar menurutnya, siswi-siswi itu dikembalikan kepada orang tuanya.

SMAN 2 punya alasan sendiri yang mendasari keputusan tersebut. Keputusan mengembalikan mereka kepada orang tuanya disebut sebagai bentuk pendidikan. "Itu (komentar di fb) pelanggaran etika. Kami cukup toleransi," kata Zaini saat itu.

Sementara itu, Tono menilai bahwa keputusan SMAN 2 men-DO empat murid itu sangat janggal. "Sangat aneh. Seharusnya sekolah memberikan pemberitahuan yang lebih baik lagi kepada muridnya. Yang lebih aneh lagi, kenapa kok hanya empat orang saja yang di-DO, padahal yang ikut beri komentar di FB itu kan ada 6 orang," ungkap Tono.

Ia kemudian menyebut, selain Dv, Dn, Mg dan As, ada dua siswa lainnya yang juga ikut berkomentar di fb. Tono menyebut dua siswa tersebut adalah HGP dan RA. Sama dengan Dv, Dn, Mg dan As, HGP dan RA juga kelas XI.

Menurut Tono, pihak sekolah tidak berani men-DO dua siswa tersebut lantaran berasal dari keluarga terhormat. "Kabarnya dua orang yang tidak di-DO itu masih keluarga anggota dewan. Ini namanya benar-benar tidak adil," keluh Tono.

Karena dianggap tidak benar, Tono berharap agar pihak sekolah meralat keputusannya yang men-DO empat siswinya tersebut. "Pihak sekolah harus kembali menerima empat siswi itu. Kami berharap wali kota dan Dinas Pendidikan turun tangan dalam kasus ini," ungkap Tono.

Bila tetap tidak ada penyelesaian, Tono mengancam akan ada warga Kebonsari Kulon ngelurug kantor Dinas Pendidikan untuk menyampaikan aspirasinya. "Besok (hari ini), kami akan spontanitas ke kantor Dinas Pendidikan untuk menyampaikan aspirasi," jelasnya. (mie/yud)

Sumber: http://www.jawapos.co.id/radar/index.php?act=detail&rid=174042

Geger Kelelawar Oranye

[ Senin, 09 Agustus 2010 ]
PROBOLINGGO - Seekor kelelawar bisa bikin geger warga Kelurahan Kebonsari Wetan, Kecamatan Kanigaran Kota Probolinggo. Penyebabnya, kelelawar itu warnanya tidak jamak: oranye. Warga pun berbondong-bondong mendatangi rumah Khofi, 17, penemu kelelawar itu.

Heboh kelelawar oranye itu terjadi sejak Jumat (7/8) malam. Tepatnya sejak Khofi menemukan kelelawar tersebut. Tak hanya orang berdatangan ingin melihat. Beredar juga omongan bahwa Khofi berhasil menangkap pok-kopok.

Di kalangan masyarakat, pok-kopok adalah sebutan untuk makhluk jadi-jadian berbentuk kelelawar. Makhluk ini dipercaya bisa menguras harta benda.

Nah, ceritanya pada Jumat malam itu Khofi yang tinggal di RT 4/RW IV Kelurahan Kebonsari Wetan, mendapati kelelawar oranye itu masuk ke dalam dapur rumahnya.

Khofi tak mendiamkan hewan itu. Ia langsung bergerak menangkapnya. Berhasil. Khofi kemudian menyimpan kelelawar nyeleneh tersebut. Kabar Khofi menangkap kelelawar aneh langsung cepat menyebar. Warga pun berdatangan ke rumah Khofi.

"Dikira ini hewan jadi-jadian, ternyata hanya hewan yang aneh. Kata warga sini, ini pok-kopok. Ya sejenis hewan jadi-jadian itu," ujar Khofi.

Selain ada yang menyebut kelelawar itu sebagai pok-kopok, ada juga yang menganggap kelelawar itu sebagai tanda alam. "Kode alam reyah. Mak bede bekburu engak jiyeh. Jek buru sateyah kok nemunih engak jiyeh (Tanda alama itu, masak ada kelelawar seperti itu. Saya baru menemukan saat ini)," ujar salah seorang warga.

Ema, seorang warga setempat mengaku heran dengan hewan temuan Khofi tersebut. Pasalnya, baru kali ini dirinya melihat kelelawar berwarna oranye. "Senang dengan warnanya, karena baru kali ini melihat kelelawar semacam itu," ujarnya.

Kemarin (8/7) kelelawar itu oleh Khofi disimpan di dalam sebuah toples dan diberi makan pisang. Warna sayap dan tubuh kelelawar itu telah membuat Khofi tertarik untuk memeliharanya. "Senang dengan warnanya. Tidak akan diapa-apain. Mau dipelihara, saya senang dengan warnanya," ujarnya. (rud/yud)

Sumber: http://www.jawapos.co.id/radar/index.php?act=detail&rid=174043

Sehari Dua Laka

[ Senin, 09 Agustus 2010 ]
Modin Tewas, Kepala KUA Luka

PROBOLINGGO - Dalam sehari kemarin (8/8) dua kecelakaan (laka) terjadi di Probolinggo di TKP (tempat kejadian perkara) berbeda. Korbannya tiga orang. Dua di antaranya tewas.

Korban tewas adalah Rofiq, 41, warga Desa/Kecamatan Tempeh Kabupaten Lumajang. Ia tewas dalam kecelakaan di Jl Raya Leces Kecamatan Leces Kabupaten Probolinggo. Dia mengalami kecelakaan di jalan raya Leces.

Berikutnya Abdurrahman, 45, warga Desa Purut, Kecamatan Lumbang Kabupaten Probolinggo. Lelaki yang saban harinya seorang modin desa itu kemarin tewas dalam kecelakaan di Jl Sunan Giri, Kelurahan Triwung Kidul Kecamatan Kademangan Kota Probolinggo.

Sedangkan korban luka adalah Ulumuddin, 50, warga Desa Sepuhgembol Kecamatan Wonomerto Kabupaten Probolinggo. Ulumuddin yang juga kepala KUA di Kecamatan Lumbang Kabupaten Probolinggo itu kemarin harus menjalani perawatan di RSUD Dr Moh Saleh.

Dari informasi yang dihimpun Radar Bromo, kejadian dua kecelakaan itu hampir bersamaan. Kecelakaan pertama dialami oleh Rofiq, sekitar pukul 07.30. Saat itu, Rofiq hendak pergi ke rumah kerabatnya di Pasuruan.

Dengan mengendarai motor Supra X 125, Rofiq melaju dari arah Lumajang menuju Probolinggo. Di lokasi kejadian, di depan Rofiq melintas pula mobil Kijang Inova nopol N 2727 PP.

Kijang Inova yang dikemudikan oleh Agus Suyanto, 44, warga Jember itu mengurangi kecepatan. Pasalnya, pada saat itu ada beberapa kendaran lain di depannya juga berhenti untuk memberi kesempatan pejalan kaki menyeberang jalan.

Lalu tiba-tiba saja motor bernopol N 38 11 ZD yang dikemudikan Rofiq menabrak Kijang Inova yang dikendarai oleh Agus dari arah belakang. "Kemungkinan waktu itu ia (Rofiq, red) kurang memperhatikan arus lalu lintas," ujar Kasatlantas Polres Probolinggo AKP Dwi Agung melalui Kanit Laka Ipda Istono.

Akibatnya, Rofiq terpental dan kepalanya membentur aspal jalan. Ia pun dilarikan ke RSUD Dr Moh Saleh Kota Probolinggo. Tapi, dalam perjalanan tewas menuju RSUD, Rofiq menghembuskan napas terakhir.

Lalu sekitar puku 08.00, terjadi kecelakaan lagi. Kali ini lokasinya di ruas Jl Sunan Giri Kelurahan Triwung Kidul Kecamatan Kademangan.

Adalah Abdurrahman dan Ulumuddin yang jadi korbannya. Tapi Ulumuddin masih beruntung, ia hanya mengalami luka-luka. Sedangkan Abdurrahman tewas saat hendak menjalani perawatan di Puskesmas Ketapang, Kecamatan Kademangan.

Dari informasi yang dihimpun, pagi itu Abdurrahman berboncengan dengan Ulumuddin melintasi Jl Sunan Giri. Sepeda motor Supra X yang mereka tumpangi mendadak mengarah ke kanan jalan. Sampai akhirnya mereka menubruk pagar kayu.

Tak hanya itu, mereka juga masuk ke dalam got. Warga yang melihat kejadian itu, langsung memberikan pertolongan. Mereka berdua dilarikan ke puskesmas Ketapang. Tapi, nyawa Abdurrahman tidak bisa diselamatkan.

Ulumuddin yang terluka langsung dirujuk ke RSUD dr Moh Saleh. Selama menjalani perawatan, Ulumuddin selalu mengeluhkan rasa sakit di dadanya. Bahkan ketika perawat hendak menyintikkan obat, ia merintih kesakitan di bagian dadanya.

"Sini Bu, saya yang sakit," keluhnya kepada seorang perawat perempuan sambil menunjuk dada kanannya. Mendengar itu, sang perawat hanya bilang. "Iya Pak, nanti diperiksa lagi. Mungkin itu akibat dari benturan," ujar perawat berjilbab itu.

Jasad Abdurrahman kemarin juga dibawa ke RSUD. Sementara Ulumuddin mendapat perawatan, tubuh Abdurahman diperiksa tim jenazah. Hasilnya, tidak ditemukan luka serius pada tubuh Abdurrahman. Diduga, Abdurrahman meninggal karena ada tulang rusuknya yang patah.

"Tidak ada luka pada badannya. Diduga, ada tulang rusuknya yang patah. Itu dari visum luar, tapi tidak bisa dipastikan. Kalau divisum dalam, bisa dipastikan. Nanti bisa kelihatan tulang nomor berapa yang patah," jelas Abdul Bahri, petugas kamar mayat RSUD. (rud/yud)

Sumber: http://www.jawapos.co.id/radar/index.php?act=detail&rid=174044

Maksum Ketua NU Kota

[ Senin, 09 Agustus 2010 ]
PROBOLINGGO - Setelah enam bulan menjadi pelaksana harian (plh), Maksum Subani akhirnya menjadi ketua tanfidziyah definitif PCNU Kota Probolinggo. Hal itu dipastikan melalui pemilihan yang digelar akhir Juli lalu di kantor PCNU kota. Maksum terpilih secara aklamasi.

Maksum yang juga kepala Dinas Pendidikan Kota Probolinggo itu terhitung sejak Januari lalu menjadi plh ketua PCNU kota. Itu karena Ketua Tanfidziyah PCNU Kota Probolinggo Mafrudin Maliki yang sebelumnya menjabat ketua Pengadilan Agama Lumajang, dipindah tugas ke Kendari.

Lalu pada akhir Juli, dengan pertimbangan tugas dan kondisi kesehatan, Mafrudin Maliki mengundurkan diri dari jabatannya sebagai ketua PCNU. Kemudian pengurus PCNU, Lajnah dan Badan Otonom NU mengadakan sidang pleno dengan agenda mengisi kekosongan ketua.

Pada pemilihan ketua tanfidziyah ada 34 hak suara dari seluruh anggota sidang pleno. Disepakati ada empat kandidat yang maju dalam pemilihan. Hasilnya, 30 suara memilih Maksum Subani (wakil ketua Tanfidziyah), 2 suara untuk Wakil Ketua Tanfidziyah Rosyid Dimyati, 1 suara untuk Wakil Ketua Syuriah Nizar Irsyad dan 1 suara untuk Sekretaris Tanfidiyah Paini.

Dengan demikian Maksum Subani bakal meneruskan jabatan Mafrudin Maliki sebagai Ketua Tanfidziyah PC NU kota periode 2008-2013. "Saya masih punya kesempatan memimpin sampai tiga tahun mendatang. Saya akan menjalankan program sesuai dengan program seperti pemberdayaan masyarakat, pendidikan, turun ke MWC dan baksos," katanya.

Punya jabatan di ormas, berarti pertambah pula jabatan yang dimiliki oleh Maksum. Selain menjadi kepala Dinas Pendidikan, saat ini ia juga masih tercatat sebagai ketua PGRI, ketua PBSI, juga ketua ikatan persaudaraan haji di kota mangga ini.

"Itu amanah. Saya tidak meminta jabatan. Bagi saya tabu meminta jabatan. Yang saya minta adalah kekuatan dari Allah supaya dikuatkan tenaga dan pikiran saya untuk bisa menjalankan amanah ini. Yang jelas, ini amanah dan saya akan berusaha semaksimal mungkin," ujar Maksum kepada Radar Bromo.

Maksum berharap di bawah kepemimpinannya, PCNU kota bisa lebih baik dibanding sebelumnya. Karena tantangan NU ke depan semakin berat khususnya berkaitan dengan SDM (sumber daya manusia).

Satu permasalahan yang saat ini masih dialami oleh NU adalah aset. Pasalnya, Maksum bakal berkoordinasi dengan para pengurus yang mengetahui tentang aset NU. "Saya akan berkoordinasi dengan beliau-beliau yang tahu. Akan saya lacak. Sebetulnya selama ini sudah saya koordinasikan tapi belum maksimal," ungkap Maksum yang dalam konfercab lalu bersaing dengan Mafrudin Maliki. (fa/yud)

Sumber: http://www.jawapos.co.id/radar/index.php?act=detail&rid=174045

Keluh Kesah Petani Tembakau dan Garam Probolinggo di Musim yang Buruk

[ Senin, 09 Agustus 2010 ]
Andalkan Prinsip Usaha, Ushalli, dan Utang

Hujan turun di tengah kemarau beberapa pekan terakhir dirasa sebagai musim yang buruk bagi sebagian petani tembakau dan petani garam di Kabupaten Probolinggo. Usaha mereka gagal.

ABDUR ROHIM M., Probolinggo

Adalah Baidawi, 40, warga Dusun Opo-Opo Lor, Desa Opo-Opo, Kecamatan Krejengan, salah satu petani tembakau yang merasakan akibat buruknya musim saat ini. Tanaman tembakaunya dipastikan gagal panen.

Baidawi sehari-harinya adalah kepala sekolah MI Ihyaus Sunnah, di Krejengan. Tak sulit mencari kediamannya. Dia tinggal persis di sebelah utara sekolah yang dipimpinnya.

Kamis (5/8) lalu saat ditemui Radar Bromo, Baidawi baru saja kelar mengajar. Saat ditanya nasib tanaman tembakaunya yang dipastikan gagal panen, Baidawi hanya bisa menjawab pasrah. "Ya mau bagaimana lagi, Mas," ujarnya.

Tak semua petani tembakau di Kabupaten Probolinggo mengalami gagal panen. Tapi, di antara petani tembakau yang gagal panen, Baidawi tergolong yang kerugiannya besar.

Dia punya sekitar dua hektare ladang, terbagi di tiga lokasi terpisah. Semuanya ditanami tembakau. Saat ini memang hanya tanaman tembakau di satu lokasi miliknya, seluas sekitar 700 meter persegi, yang rusak. Tentu saja kerugiannya besar. "Besar kerugiannya," kata Baidawi.

Ia menjelaskan, dengan areal seluas 700 meter persegi bisa ditanami sebanyak 13.500 tembakau. Jika normal, hasil yang bisa didapat diperkirakan sekitar 1,2 ton. Namun dengan kondisi semacam ini, Baidawi pesimis bisa mendapat keuntungan. Bahkan Baidawi yakin tidak akan ada perubahan pada tembakaunya.

Baidawi mencoba memberi pupuk pada ladang tembakaunya yang rusak karena hujan. Namun, ia melihat tak ada perubahan pada tembakau tersebut. Sebenarnya saat itu Baidawi iseng saja memberi pupuk. "Untung saja tidak sakit atau stres, Mas. Ya sadar diri lah," tuturnya.

Untuk mengatasi rasa pusing akibat gagal panen, Baidawi mengaku punya trik. Setengah bercanda Baidawi mengatakan, dirinya berpegang pada prinsip 3U. Ditanya kepanjangannya, Baidawi malah tertawa. "3U itu Usaha, Ushalli (salat), dan Utang," ujarnya sembari tertawa.

Setelah berbincang, Baidawi mengajak Radar Bromo pergi melihat kondisi sawah tembakaunya. Di situlah Baidawi kemudian menunjukkan tembakaunya yang layu. Bahkan kata Baidawi, tembakaunya tidak bisa lagi berkembang.

Padahal di sebelah sawah miliknya, terdapat tembakau yang sedang tumbuh dengan baik. "Itu bersamaan tanamnya. Tapi karena punya tempat pembuangan air yang baik, tumbuhnya bagus. Sementara sawah saya air menggenang," tutur Baidawi.

Sekitar sepuluh hari lalu, di desa setempat terjadi hujan. Sehari setelah hujan itu, Baidawi langsung berusaha menyelamatkan tanamannya. Bahkan dengan menggunakan alat penyedot air. Namun upayanya sia-sia. Sebab air yang disedot terlalu banyak.

Air tetap menggenang. "Mesin tak mampu. Aliran got tidak cukup membuang air. Ya terpaksa tembakau tak bisa diselamatkan," ujar Baidawi.

Selain Baidawi, ada pula petani garam yang merasakan kegagalan panen karena musim yang buruk ini. Salah satunya adalah Mansur, 30, warga yang kini tinggal di kawasan pesisir Desa Asembagus, Kecamatan Kraksaan.

Untuk sampai ke rumah Mansur, jalannya tak mudah. Jalan tak beraspal, jauh, juga becek berat bila hujan.

Mansur sebenarnya warga Sumenen. Di Asembagus itu dia tinggal di rumah seorang pemilik tambak garam bernama Iskandar. Itupun karena Iskandar berbaik hati menyuruh Mansur menempati rumahnya. "Jadi di sini numpang," ujar Mansur.

Seandainya tak tinggal di situ, Mansur harus menempati gudang untuk garam. Mansur mengajak serta istri dan kedua anaknya yang masih kecil. "Namanya saja gudang, Mas. Kondisinya tidak pantas untuk ditinggali. Untung Pak Iskandar baik hati," kata Mansur.

Mansur datang ke Probolinggo sejak sekitar 2 bulan lalu. Dia bekerja sama dengan 3 orang petani garam lainnya. Yakni Abdullah, 38, dan Misnari, 42. Keduanya warga Desa Asembagus.

Dikatakan kerja sama karena sistem pengelolaannya bersama. "Sedangkan penghasilannya pun dibagi tiga. Bagi hasil, Mas," tutur Mansur.

Hanya, saat ini garam hasil usahanya tak berhasil karena hujan yang turun beberapa hari lalu. Menurut Mansur, jika garam terkena air hujan, maka pekerjaan sebelumnya dianggap percuma. Sebab garam memang tak bisa terkena hujan.

"Pasti gagal jadi garam. Apalagi petani yang bersiap panen. Lantas kena hujan, langsung lemas, Mas," tutur Mansur sambil menahan emosi. (yud)

Sumber: http://www.jawapos.co.id/radar/index.php?act=detail&rid=174046

Ketoprak Cilik Peringati Agustusan

[ Senin, 09 Agustus 2010 ]
PROBOLINGGO-Kecamatan Dringu, Kabupaten Probolinggo mempunyai cara tersendiri untuk memperingati HUT kemerdekaan RI. Selain menggelar lomba-lomba, juga digelar pertunjukan ketoprak untuk menyemarakkan acara.

Gelaran ketoprak itu digelar Jumat (6/8) malam di halaman kantor kecamatan Dringu. Malam itu halaman kantor kecamatan disulap menjadi panggung mini yang sudah di desain untuk gelaran ketoprak.

Ketoprak yang ditampilkan sendiri sedikit berbeda dengan biasanya. Karena yang main adalah anak-anak yang tergabung dalam sanggar Ketoprak Kecil Sekar Tanjung SDN Randuputih 2. Mereka tampil membawakan lakon Prahara Kraton Mataram yang merupakan beberapa penggalan cerita tentang petualangan Trunojoyo.

"Kami ingin memberikan hiburan yang berbeda dari biasanya tapi tetap disukai masyarakat. Selain itu pagelaran ini juga untuk pengenalan budaya kepada anak sejak usia dini," ujar Camat Dringu Sugito.

Meskipun masih anak-anak, penampilan sanggar ketoprak kecil Sekar Tanjung juga tidak kalah. Mereka membawakan ketoprak dalam bahasa Madura yang cukup lucu. Para penonton pun dibuat terkesima. Buktinya, penonton tetap bertahan sampai akhir acara sekitar pukul 23.00.

Kelompok Ketoprak Sekar Tanjung ini sebenarnya baru terbentuk awal tahun 2010. Pemrakarsanya adalah camat Dringu Sugito bersama Kepala Sekolah SDN Randuputih 2 Sujoko. "Anak-anak setempat memang punya bakat seni. Selain itu mereka juga sudah terbiasa dengan kesenian ketoprak yang sering dimainkan di lingkungannya," jelas Sujoko.

Sujoko menjelaskan, cikal bakal beridirinya grup tersebut berawal dari dimasukkannya kesenian daerah sebagai materi pelajaran pengembangan diri di sekolah. Mereka berlatih setiap Sabtu.

Rekrutmen pemain ketoprak pun tak mengalami kesulitan sebab kebanyakan siswa kelas 3 sampai kelas 6 ikut bergabung. "Ternyata anak-anak mudah untuk diarahkan dan dilatih. Justru pengetahuan mereka tentang sejarah yang sering menjadi lakon ketoprak lebih luas daripada pemain ketoprak dewasa," imbuh Sujoko.

Sampai kini ketoprak Sekar Tanjung sudah beranggotakan sekitar 70 personel. Itu terdiri dari 32 pemain, 8 orang tenaga dekorasi, 10 pemain musik dan 10 pendamping yang notabene adalah guru-guru SDN Randuputih 2. (mie/yud)

Sumber: http://www.jawapos.co.id/radar/index.php?act=showpage&rkat=4