Rabu, 09 Juni 2010

Adipura Keempat, Ranking 3 Nasional

[ Rabu, 09 Juni 2010 ]
PROBOLINGGO - Warga Kota-Kabupaten Probolinggo dan Pasuruan boleh berbangga. Empat daerah ini kemarin (8/6) memborong penghargaan bergengsi di bidang kebersihan dan lingkungan hidup: Adipura, Kalpataru, dan Adiwiyata. Tapi, untuk Kota Probolinggo, raihan Adipura tahun ini terasa sangat istimewa.

Sebab, inilah Adipura keempat yang berhasil disabet Kota Probolinggo berturut-turut sejak 2007 lalu. Seandainya predikat Adipura Kencana masih berlaku, maka Kota Probolinggo berhak mendapatkannya.

Selain itu, Adipura keempat ini berhasil diraih Kota Probolinggo sekaligus dengan posisi ranking istimewa. Tahun ini Kota Probolinggo berhasil mendudukkan diri pada posisi ranking ketiga nasional untuk kategori kota sedang.

Penghargaan Adipura, Kalpataru dan Adiwiyata diberikan kemarin (8/6) di Istana Negara Jakarta dalam momen peringatan hari lingkungan hidup sedunia (5 Juni). Wali Kota Probolinggo HM Buchori dan Wali Kota Pasuruan Aminurrokhman sama menerima Adipura dari Presiden SBY untuk kategori kota sedang. Sedangkan Bupati Probolinggo Hasan Aminuddin dan Wabup Pasuruan Eddy Paripurna sama menerima Adipura dari Presiden SBY untuk kategori kota kecil (Kraksaan dan Bangil).

Selain Adipura, Kota Probolinggo dan Kabupaten Pasuruan juga sama meraih penghargaan Kalpataru. Dari Kota Probolinggo, Endang Sulistyowati meraih Kalpataru untuk kategori pembina lingkungan. Sedangkan dari Kabupaten Pasuruan, Cholifah meraih Kalpataru untuk kategori perintis lingkungan.

Berikutnya, Kota Probolinggo, Kabupaten Probolinggo dan Kabupaten Pasuruan juga sama meraih Adiwiyata. Ini penghargaan untuk sekolah yang peduli dan berbudaya lingkungan.

Untuk Kota Probolinggo, Adiwiyata diraih SMAN 2 (Adiwiyata Mandiri, karena sudah tiga kali berturut-turut mendapat Adiwiyata), SMKN 1 (dua kali mendapat Adiwiyata), SMPN 4 dan SD Mangunharjo 6 (satu kali mendapat Adiwiyata). Sedangkan SD Sukabumi 6 dan SMAN 4 meraih sertifikat Adiwiyata.

Untuk Kabupaten Probolinggo, Adiwiyata diraih SMPN 1 Sumberasih. Sedangkan SMAN 1 Grati Kabupaten Pasuruan berhasil meraih sertifikat Adiwiyata.

Kemarin, penghargaan Adipura dan Kalpataru diserahkan langsung oleh Presiden SBY. Sedangkan penghargaan Adiwiyata diserahkan oleh Menteri Lingkungan Hidup Gusti Muhammad Hatta.

Dari informasi yang dihimpun Radar Bromo, prosesi penyerahan piala Adipura-Kalpataru kepada wali kota/bupati berlangsung mulai sekitar pukul 10.00. Rombongan dari Kota Probolinggo sempat terkejut. Yakni ketika diumumkan bahwa Kota Probolinggo masuk peringkat ketiga kategori kota sedang tingkat nasional.

Kota Probolinggo tepatnya berada setelah Tulungagung dan Jepara. "Tahun lalu Kota Probolinggo peringkat lima. Kota Probolinggo menggantikan peringkat Jepara bersaing dengan 41 kota sedang (peraih Adipura) di Indonesia," ujar Kabag Humas dan Protokol Rey Suwigtiyo kemarin.

Sementara itu, Wali Kota Buchori menyampaikan ungkapan rasa terimakasihnya kepada seluruh lapisan masyarakat Kota Probolinggo. "Alhamdulillah Kota Probolinggo masuk peringkat ketiga kategori kota sedang. Ini berarti ada peningkatan nilai Adipura. Apa yang kita peroleh tidak lepas dari kebersamaan dan kemauan masyarakat membantu pemerintah," ungkap Buchori saat dihubungi Radar Bromo kemarin.

Pada kesempatan itu, lanjut Buchori, Presiden SBY berpesan setiap mengambil kebijakan pemerintah daerah memasukkan program penyelamatan lingkungan di dalamnya. Penyelamatan lingkungan merupakan program prioritas di Indonesia.

"Jangan membiarkan lahan rusak dan diganggu oleh masyarakat. Mereka yang merusak lingkungan harus ditangani dan proses, bekerjasama dengan pihak aparat keamanan," terang Buchori.

Demi menuju green economy, green culture, green development dan green life skill, ada tiga pilar yang harus diperkuat. "Harus memiliki kebijakan yang tepat, tekhnologi dan gaya hidup ramah lingkungan. Tema hari lingkungan hidup kali ini adalah keanekaragaman hayati, masa depan bumi kita," tegas wali kota.

Bupati Probolinggo Hasan Aminuddin juga mengaku senang dengan keberhasilan Kraksaan meraih Adipura untuk kali ketiga. Menurutnya, keberhasilan ini merupakan hasil kerja keras semua elemen masyarakat. "Ini bukan keberhasilan Bupati semata, tetapi keberhasilan rakyat Kabupaten Probolinggo," ujarnya saat dihubungi usai menerima Adipura.

Menurut Hasan, keberhasilan Kraksaan meraih Adipura tidak boleh dimaknai secara simbolis saja. Tetapi raihan adipura tersebut dinilai merupakan istiqomah dari semua elemen masyarakat yang sadar dan peduli akan kebersihan lingkungan.

"Alhamdulillah, ini membuktikan warga Kabupaten Probolinggo sudah melaksanakan anjuran agama annadofatul minal iman (kebersihan adalah sebagian dari iman). Tidak hanya mewacanakan agama semata," kata Hasan.

Ia berharap, keberhasilan meraih Adipura tiga kali berturut-turut itu bisa menjadi semangat masyarakat Kabupaten untuk tetap berperilaku hidup bersih dan sehat. "Istiqomah (menjaga kebersihan) itu perlu dipertahankan," harapnya.

Di Kabupaten Pasuruan, kegembiraan meraih Adipura tahun ini juga terasa kental. Wabup Eddy Paripurna yang menerima langsung piala Adipura dari Presiden SBY kemarin menyatakan rasa senangnya ketika dihubungi Radar Bromo.

"Piala ini kami berikan untuk masyarakat Kabupaten Pasuruan. Khususnya buat masyarakat Bangil yang sudah memberikan yang terbaik buat kebersihan dan keindahan kota," tegas Wabup. "Ke depan, kami harapkan piala ini bisa dipertahankan," imbuhnya.

Kota Pasuruan pun tak kalah gembira. Kota ini terhitung baru kali pertama meraih Adipura -setelah Adipura baru dihidupkan lagi pada 2002. Adipura 2010 seakan menjadi jawaban atas penantian yang begitu lama.

"Piala Adipura ini merupakan bukti kebersamaan kita, pemerintah kota, instansi terkait, dan juga partisipasi seluruh masyarakat. Betapa tidak. Selama bertahun-tahun kita menunggu, akhirnya Adipura ini berhasil kita raih," ujar Wali Kota Aminurokhman saat dihubungi Radar Bromo usai menerima Adipura tersebut.

Kepada Radar Bromo, wali kota juga menyampaikan, ada pesan khusus dari Presiden SBY yang dikenangnya terus, usai menerima piala Adipura tersebut. "Presiden sangat mengharapkan langkah pelestarian lingkungan secara kontinyu menjadi program prioritas daerah," katanya.

Prioritas itu, imbuh Wali Kota Aminurokhman, juga diutamakan pada aksi-aksi penanganan lingkungan dalam rangka antisipasi dampak global warming yang kian membahayakan kehidupan manusia, dan lingkungan sekitarnya.

"Momentum ini juga menjadi PR penting bagi kepala daerah yang akan terpilih pada pilkada 2010 mendatang. Sebab, kepemimpinan saya sudah tinggal beberapa saat lagi. Adipura bakal menjadi peninggalan penting, yang wajib dipertahankan. Jangan sampai apa yang sudah diraih dengan segala daya upaya ini, kemudian menjadi terabaikan," tegasnya. (fa/mie/day/via/yud)

Sumber: http://www.jawapos.co.id/radar/index.php?act=showpage&rkat=4

Digoyang Trio Zebra

[ Rabu, 09 Juni 2010 ]
PROBOLINGGO - Trio Zebra memungkasi gelar pameran di lapangan Yon Zipur 10 Probolinggo pada Selasa (7/6) malam. Pada acara yang dihelat dalam rangkaian peringatan HUT ke-48 Yon Zipur 10 itu, Trio Zebra sebagai special artist tampil total dan enerjik dengan aksi goyangnya.

Sebelum Trio Zebra tampil, penonton yang menyemut lebih dulu dihibur beberapa artis lain. Baru pada pukul 22.30, Trio Zebra naik panggung. Diiringi orkes Dewata dari Surabaya, trio yang terdiri atas Engel Emythasari, Mona Monica dan Arie Bariesta itu membawakan empat lagu-lagu rancak.

Penampilan Trio Zebra benar-benar membuat para penggemarnya panas dingin. Dengan busana seksi, mereka melakukan beberapa aksi-aksi ekstrem.

Pertama, trio asal Lamongan itu menyapa penggemarnya dengan lagu Cinta Gila-nya-Ungu. Penonton yang awalnya mulai leyeh-leyeh, langsung maju. Merangsek ke depan panggung sambil memotret dan merekam aksi mereka bertiga malam itu. Trio Zebra juga menunjukkan kebolehannya dalam berjoget.

Usai menyanyikan lagu pertama itu, mereka menyapa penonton. Juga sempat menyatakan selamat ultah kepada Yon Zipur 10. "Selamat kepada Yon Zipur yang saat ini sedang ultah, semoga tambah sukses," teriak Engel Emythasari dari atas panggung.

Kemudian lagu Yank milik Wali Band, menjadi lagu kedua. "Selanjutnya minta lagu apa sayang? Band, dangdut atau rock?" teriak Mona Monica menawari para penonton.

Mendapat tawaran itu, para penonton malah berteriak minta air. "Ditawari lagu kok minta air. Minta air apa?" tanya Mona. Tanpa menunggu jawaban penonton, kemudian mereka melanjutkan dengan lagu ketiga Buka Hatimu dari Armada.

Sewaktu menyanyikan lagu ketiga inilah, Mona Monica dan Arie Bariesta menunjukkan aksi ekstremnya. Mereka memanjat dua tiang penyangga panggung. Bahkan Mona sampai menghilang dari pandangan penonton. Pasalnya, dia berada di bagian atas tenda.

Selanjutnya, Trio Zebra yang berdiri sejak 2005 lalu itu menutup perjumpaannya dengan lagu dangdut Abang Roni. (rud/yud)

Sumber: http://www.jawapos.co.id/radar/index.php?act=detail&rid=163462

Pledoi Sawie, Minta Bebas

[ Rabu, 09 Juni 2010 ]

PROBOLINGGO - Sidang kasus dugaan korupsi dana perjalanan dinas (perdin) DPRD Kota Probolinggo dengan terdakwa Abdul Hadi Sawie kemarin (8/6) digelar kembali. Terdakwa yang menjabat sekretaris DPRD itu melalui penasihat hukumnya, menyampaikan pledoi atau nota pembelaan. Dalam pledoinya, Sawie minta dirinya dibebaskan dari segala tuntutan JPU (jaksa penuntut umum).

Sidang itu kemarin baru dilangsungkan di Pengadilan Negeri Kota Probolinggo sekitar pukul 12.00. JPU maupun penasihat hukum terdakwa sama tidak hadir lengkap. JPU yang hadir hanya Soegeng Prakoso dan Surya Yunita. Sedangkan penasihat hukum terdakwa yang hadir cuma Kartidjo dan Buyung Ageng Islami. Penasihat hukum lainnya, Eries Jonivianto, sedang berada di Jakarta.

Pada pledoi yang dibacakan dalam sidang, kata pengantarnya terdengar cukup berbunga-bunga. Penasihat hukum menyatakan tidak pernah merasa diperlakukan oleh majelis hakim sekedar sebagai "pelengkap penderita" atau "pajangan hukum" belaka, melainkan benar-benar sebagai sesama penegak hukum.

Perbedaan pendapat antara mereka dan JPU bukanlah sesuatu yang mengherankan, melainkan sesuatu yang biasa. Di mata penasehat hukum, JPU menganggap dakwaannya terbukti secara sah dan meyakinkan. Dan oleh karena itu menuntut agar terdakwa dinyatakan bersalah serta dipidana. Bagi mereka, itu bukan yang mengherankan, melainkan sesuatu yang biasa karena adanya suatu tuntutan pekerjaan.

"Meskipun JPU secara tertulis tetap menuntut agar terdakwa dinyatakan bersalah dan dipidana, namun kami yakin bahwa hati kecil dan hati nurani JPU sebetulnya sama dengan hati kecil dan hati nurani kami. Yakni tidak yakin bahwa terdakwa bersalah," kata Buyung Ageng Islami.

Ringkasnya, dalam pembelaan itu terdakwa hanya mengetahui sebagai pengguna anggaran (PA). Semua surat pertanggungjawaban pelaksanaan perdin komisi dan panggar (panitia anggara) dibuat oleh rekanan yaitu PT Gilang Wisata Perkasa dan CV Indonesia Makmur. Panitia penerima barang dan jasa mengakui sendiri telah lalai dalam menjalankan tugasnya.

Dalam uraian terhadap dakwaan subsidair, disebutkan bahwa terkait adanya suatu cash back yang telah diterima oleh terdakwa maupun anggota komisi I, komisi II dan banggar, dinilai suatu fitnah belaka. JPU hanya mengacu pada keterangan sepihak dari Miendwiati.

Dalam menentukan kerugian negara, JPU dinilai tidak menghitung secara riil. Padahal, dalam menentukan kerugian negara tidak boleh kira-kira atau ditafsir. JPU tidak menggunakan BPK, instansi yang berwenang atau akuntan publik yang ditunjuk. Wajib dalam pembuktian menyertakan audit untuk fakta materil.

Diketahui, dalam kasus ini JPU mendakwa Sawie terlibat bersama-sama melakukan tindak pidana korupsi terkait perdin DPRD kota 2007 lalu. Dalam sidang sebelumnya, JPU menuntut Sawie diganjar hukuman 1,5 tahun penjara dan membayar denda Rp 75 juta. Serta pidana tambahan membayar uang pengganti Rp 12 juta.

Sementara, pada kesimpulan pledoinya, kubu Sawie menyatakan isi surat dakwaan dan tuntutan JPU kabur atau obscure libel. Di dalamnya tidak dengan jelas dan tepat dilukiskan hal ikhwal perbuatan yang didakwakan kepada terdakwa.

"Sehingga kami berkeyakinan seharusnyalah dakwaan dan tuntutan JPU terhadap terdakwa dinyatakan batal demi hukum. Dan terdakwa dinyatakan tidak dapat dipidana terhadap dakwaan dan tuntutan JPU," sambung Kartidjo.

Perbuatan terdakwa dalam perkara A quo merupakan murni kelalaian dalam menjalankan fungsi administratif jabatan. Itu dianggap bukan suatu penyalahgunaan wewenang karena tidak faktor kesengajaan/niat. Sehingga perbuatan terdakwa tidak dapat digolongkan sebagai perbuatan melawan hukum sebagaimana diatur dalam UU pemberantasan tindak pidana korupsi (tipikor).

Selanjutnya, penasihat hukum terdakwa dan terdakwa memohon agar diputus dengan amar putusan terdakwa secara sah dan menyakinkan tidak terbukti bersalah. Berikutnya minta majelis membebaskan terdakwa Sawie dari segala dakwaan dan tuntutan baik primer dan subsider dan memulihkan hak terdakwa.

Ketua majelis Sih Yuliarti menegaskan jika JPU ingin menanggapi pledoi terdakwa (replik) diberi waktu selama satu minggu. "Seminggu kemudian giliran penasehat hukum duplik. Kalau dalam seminggu tidak ada, dianggap tidak mengajukan. Kita ini dibatasi waktu. Sidang dilanjutkan Selasa (15/6) dengan agenda replik," tegas Sih kemudian menutup sidang. (fa/yud)

Sumber: http://www.jawapos.co.id/radar/index.php?act=detail&rid=163461

Kisah Urip Widodo, Mau Menikah Sebulan Lagi, Calon Istrinya Menghilang

[ Rabu, 09 Juni 2010 ]
Sampai Mengerahkan 28 Orang Dukun

Sebulan lagi Urip Widodo Adi, 22, seorang warga Desa Patalan Kecamatan Wonomerto Kabupaten Probolinggo menikahi wanita pujaannya, Ida Windiarti, 23. Bukannya bahagia, Urip kini justru gundah. Sebab, calon istrinya itu mendadak menghilang.

RUDIANTO, Probolinggo

"Entah ke mana perginya. Padahal kami sudah mencarinya ke mana-mana. Keluarga sini (keluarga Ida) juga sudah melaporkan kepada polisi," tutur Urip saat ditemui kemarin (8/6). Air muka Urip jelas menunjukkan betapa gundah perasaannya saat ini. Hari pernikahan tinggal sebulan lagi. Tapi, sang calon istri malah menghilang.

Menurutnya, segala bentuk usaha untuk menemukan Ida sudah dilakukan. Dari mencari Ida ke rumah-rumah teman sampai saudara-saudaranya. Bahkan, sebanyak 28 dukun telah mereka kerahkan untuk menemukan Ida. Tapi, semua usaha itu masih belum berhasil.

Urip dan Ida bertunangan sejak sekira setahun lalu. Pertunangan itu berawal dari pertemuan mereka di suatu tempat. Setelah berkenalan, ternyata mereka sama-sama menaruh hati.

Lalu keluarga Urip datang ke rumah Ida di Blok Sepeni RT 04 / Rw 05 Kelurahan/Kecamatan Kademangan Kota Probolinggo. Mereka melamar Ida untuk menjadi istri Urip. Selanjutnya, Urip dan Ida bertunangan.

Selama masa bertunangan itu, antara Urip dan Ida tidak pernah ada masalah. Sejak sekitar dua bulan lalu ditetapkanlah tanggal pernikahan mereka, yakni 16-17 Juli. Tapi, kini pasangan itu diterpa masalah. Ida menghilang.

Hilangnya Ida bermula ketika Jumat (4/6) lalu, Urip datang ke rumah calon istrinya itu. Urip bermaksud menjemput Ida untuk diajak kerumahnya di Desa Patalan. Ida setuju. Sekira pukul 18.00 mereka berangkat menuju rumah Urip dengan mengendarai motor.

Meski di atas satu motor, selama masa perjalan tidak terjadi percakapan sama sekali antara Urip dan Ida. Mereka sama-sama bungkam. Tapi, tiba-tiba sekira 100 meter sebelum perempatan Lawean, Ida meminta Urip menghentikan motornya. Urip pun memenuhi permintaan tunangannya itu.

Kemudian, Ida meminta izin kepada Urip untuk menemui temannya di gang sisi utara jalan. Ida juga meminta Urip menunggunya di tepi jalan. "Dia (Ida) pamitnya hanya sebentar. Dia juga membawa tasnya. Sebelumnya, saya meminta untuk memegang tasnya, biar tidak berat. Tapi, tidak boleh," ujar Urip.

Sekitar setengah jam menunggu, Ida tak kunjung kembali. Urip lalu mencoba mencari Ida ke gang yang dilewati Ida. Tapi, Urip tidak menemukannya. "Saya tanya kepada orang-orang di sana, tapi tidak ada yang melihatnya," jelas Urip.

Urip akhirnya kembali ke motornya dan menunggu Ida datang. Tapi, setengah jam berlalu, yang ditunggu-tunggu tidak kunjung tiba. Akhirnya, Urip menghubungi salah seorang keluarga Ida, Umami. Urip mengabarkan kalau Ida menghilang.

Tak lama kemudian, Umami dan keluarganya datang menemui Urip. Mereka melakukan pencarian di sekitar tempat menghilangnya Ida. Pencarian itu dilakukan sampai tengah malam. Tapi, Ida tidak berhasil ditemukan. "Ada 8 orang waktu itu yang mencari," ujar Urip.

Semalaman mereka mencari, Ida tak juga ditemukan. Bahkan sampai diteruskan keesokan hari, Sabtu (5/6), mereka mencari Ida ke rumah teman-teman dan keluarga lainnya. Ida tidak juga ditemukan. Sabtu (5/6) malam, pihak keluarga melaporkan hilangnya Ida ke Polsek Kademangan.

Usaha mencari keberadaan ida tidak cukup sampai di situ. Meski sudah melapor ke polisi, bukan berati pihak keluarga berhenti mencarinya. Mereka terus melakukan pencarian dengan segala macam cara. Termasuk mendatangi para normal alias dukun.

Bahkan, tidak hanya satu dukun yang dimintai bantuan mencari Ida. Sampai kemarin (8/6) sudah ada 28 dukun yang dimintai bantuan. Tapi, semuanya masih belum membuahkan hasil. "Kami sudah mencari ke mana-mana, tapi belum ketemu juga. Dukun juga sudah kami datangi," jelas Sarini, ibunya Ida.

Para dukun itu, tersebar di seluruh Probolinggo. Tidak hanya dari kota, tapi juga banyak yang dari Kabupaten Probolinggo, seperti Desa Muneng Kecamatan Sumberasih. Para dukun itu pun mempunyai pendapat berbeda. Ada yang mengatakan Ida berada di rumah teman lamanya. Ada juga yang bilang ada di rumah saudaranya.

Bahkan, ada yang bilang kalau Ida ada di jalan dan sedang kebingungan. Tak hanya itu. Semua perintah dukun sudah mereka penuhi. Termasuk membakar kemeyan pemberian si dukun dan persyaratan-persyaratan lainnya.

"Ada yang menyuruh menaruh bajunya (Ida) di atas genteng. Itu sudah kami lakukan, tapi masih belum berhasil juga. Pokoknya, semua sudah kami lakukan cuma melompat ke sumur yang belum," ujar Sahra, bibi Ida.

Saat pergi, gadis dengan tinggi badan 145 cm itu mengenakan baju warna abu-abu, bercelana cokelat dan memakai jilbab. Dia pergi hanya membawa tas warna merah muda berisi baju dan bedak.

Sementara, Kapolsek Kademangan AKP M. Mahmud saat dikonfirmasi berkaitan dengan kasus tersebut mengatakan kalau keluarga korban datang ke Mapolsek tidak melapor. Tapi, hanya memeberitahukan kalau Ida menghilang dan menitipkan foto. "Mereka tidak laporan. Hanya datang ke polsek, nitip foto dan bilang, siapa tahu Pak polisi ada yang tahu," ujar Kapolsek. (yud)

Sumber: http://www.jawapos.co.id/radar/index.php?act=detail&rid=163460

Baru Jual Kupon Togel, Dibekuk

[ Rabu, 09 Juni 2010 ]
KRAKSAAN - Terlibat perjudian resikonya selalu sama. Yakni, tertangkap petugas. Seperti yang dialami Awiyandi Erwandono, 32, warga RT 12 RW 09, Desa Kadunggaleng, Kecamatan Dringu Kabupaten Probolinggo. Karena menjadi pengecer togel di lingkungannya, dia harus mendekam di sel tahanan Polres Probolinggo.

Tersangka dibekuk dirumahnya, Senin (7/6) sekitar pukul 14.00 WIB. Penggerebekan dilakukan buser bagian Selatan Polres Probolinggo setelah mendapat informasi dari warga. Menurut KBO Reskrim Polres Probolinggo Iptu Mohammad Dugel, jumlah tim buser 6 orang.

Saat itu kebetulan tersangka sedang tidak keluar rumah. Dan begitu dibekuk, tersangka tidak memberikan perlawanan apapun. Sebab saat itu tersangka kepergok merekap nomor togel.

Tersangka sendiri saat itu tidak berhasil mengamankan sejumlah barang bukti (BB) miliknya. Sehingga, tim buser juga langsung mengamankan BB tersangka. Yakni, sebuah buku tafsir mimpi, selembar angka pengeluaran nomor togel, sebuah buku rekap togel. Juga ada 5 lembar kupon togel dan uang Rp 10 ribu rupiah. Diperkirakan, saat itu tersangka baru saja menjual kupon togel.

Kini tersangka menurut Dugel berada di sel tahanan Polres. BB miliknya juga ikut diamankan. Dugel mengatakan, perbuatan tersangka melanggar pasal 303 KUHP tentang tindak pidana perjudian. Ancaman hukumannya, yakni 5 tahun ke atas. "Tergantung seberat apa perbuatannya," ujar Dugel.

Selanjutnya kata Dugel, pihaknya masih melakukan penyidikan pada tersangka. Penyidikan akan dilakukan di unit IV Sat Reskrim Polres. "Sementara masih diproses. Nanti akan kami tindak lanjuti sesuai prosedur," ujar Dugel. (eem/hn)

Sumber: http://www.jawapos.co.id/radar/index.php?act=detail&rid=163459

5 Operasi Sukses, 3 Menyusul

[ Rabu, 09 Juni 2010 ]
KRAKSAAN - Setelah melakukan operasi pada pasien bibir sumbing, RSAB Siti Fatimah Kraksaan, merilis hasil operasi tersebut, kemarin (8/6). Rilis dilakukan oleh Ketua PD Aisyiyah Kabupaten Probolinggo Hj. Lailatul Khairiah berdasarkan foto hasil operasi dari RSU Al-Irsyad Surabaya.

Laila -panggilannya- mengatakan, ada lima pasien yang menjalani operasi. Yakni Baharuddin, 33, warga Pajarakan Kulon, Pajarakan; Siti Nurwahyuni, 2, warga Patemon, Krejengan; Ulfatun Hasanah, 27, warga Wangkal, Gading. Lalu, Nurul Huda, 17, dan Zainap, 36. Keduanya warga Sidomukti, Kraksaan.

Kini, Menurut ketua pimpinan daerah Aisyiyah Hj. Lailatul Khairiah, 5 pasien sudah terlihat normal. Dikatakan Laila, mereka dioperasi pada 1 Mei lalu. Saat ini kata Laila, mereka seperti layaknya orang lain. "Alhamdulillah, Mas," ujar Laila ketika ditemui di kantornya.

Lebih lanjut kata Laila, pihaknya sudah menerima foto hasil operasi 5 pasien tersebut. Oleh karenanya, RSAB Siti Fatimah mengundang para pasien. Tujuannya untuk mengambil foto terbaru mereka. Terutama foto pasca operasi bibir sumbing.

Diberitakan Radar Bromo beberapa waktu lalu, RSAB Siti Fatimah melaksanakan program operasi gratis terhadap sejumlah 8 penderita bibir sumbing. Dari jumlah tersebut, 5 orang di antaranya bisa langsung dioperasi.

Sementara kata Laila, untuk tiga pasien lainnya masih dalam pengamatan. Yakni Saniyah alias Aisyah, 33, Rondokuning Kraksaan; Abdi Rahmad Anugrahilah, 15, Pandean Paiton; Moh. Ilham, 5, Kalibuntu Kraksaan.

Namun salah satunya yakni Saniyah akhirnya gagal operasi. Sebab kata Laila, penyakit yang diderita bukan bibir sumbing. Sedangkan Abdi Rahmad Anugrahilah masih membutuhkan perawatan ortodotis. Sehingga membutuhkan perawatan yang lebih intensif.

Berbeda dengan Mohammad Ilham. Menurut Laila, Ilham akan dioperasi hari ini. Tindakan itu dilakukan setelah dilakukan pengamatan. "Operasi akan dilakukan di RSU Al-Irsyad," tukas Laila.

Menurut Laila, sebenarnya Ilham sudah dua kali menjalani operasi serupa. Namun bibir Ilham kembali sumbing. Sebab kata Laila, Ilham kurang dirawat pada masa pos operasi. Yakni oleh pihak keluarga. Akibatnya bibir Ilham kembali sumbing. "Mudah-mudahan tidak terulang lagi," ujar Laila.

Sementara saat ditemui Radar Bromo, Zainap, salah satu pasien terlihat malu. Terutama ketika diwawancara. Zainap mengatakan, saat ini dirinya sudah merasa lebih nyaman. "Semangken lebih nyaman(sekarang lebih enak)," ujar Zainap sembari tersipu.

Begitu juga dengan Baharuddin. Baharuddin mengatakan, setelah menjalani operasi, dirinya merasa lebih percaya diri bergaul dengan rekan-rekannya. "Saya merasa ini anugerah yang luar biasa, Mas," ujar Baharuddin.

Lebih jauh Laila mengatakan, tahun ini pihaknya menargetkan bisa mengoperasi 30 pasien serupa. Saat ini lanjut Laila, pihaknya masih membuka pendaftaran. Terutama bagi penderita yang kurang mampu. "Agar penderita merasa nyaman dalam bergaul," pungkas Laila. (eem)

Sumber: http://www.jawapos.co.id/radar/index.php?act=detail&rid=163458

Rintis Kerjasama dengan Cambridge International

[ Rabu, 09 Juni 2010 ]
MTs Nurul Jadi Kuatkan SDM Pengajar

KRAKSAAN - MTs Nurul Jadid Paiton saat ini tengah merintis kerja sama dengan Cambridge Internasional. Sebuah lembaga pendidikan di luar negeri. Untuk memuluskan rencana itu, sekolah ini menggelar diklat penguatan SDM tenaga pengajar, kemarin (8/6).

Kepala MTs Nurul Jadid M. Suruji Bahtiar mengatakan, saat ini pihaknya sedang menyiapkan kerja sama itu. Rencananya, dalam waktu dekat pihaknya akan menandatangani memorandum of understanding (MoU) dengan Cambridge International. "Rencana ini sudah positif," jelasnya.

Sementara persiapan yang dilakukan di antaranya, merumuskan beberapa konsep pelajaran. Konsep tersebut kata Bahtiar, dipetakan menjadi tiga segmen. Yakni, segmen pelajaran agama, pelajaran bahasa dan pelajaran logika. "Semuanya harus disentuh," tuturnya.

Kerja sama itu kata Bahtiar, akan memberi manfaat besar. Sebab, sudah saatnya lembaga pendidikan melakukan inovasi. "Ini tuntutan pengembangan pendidikan," imbuhnya.

Selain itu dia berpendapat, pendidikan harus terus dikembangkan. Khususnya pendidikan di lingkungan pondok pesantren. "Agar bisa bersaing dengan pendidikan umum," sambung Bahtiar.

Diklat sendiri dilangsungkan di gedung pertemuan MTs Nurul Jadid dan berlangsung selama sehari penuh. "Mungkin sampai malam," katanya. Pesertanya, yakni seluruh dewan guru di lingkungan Ponpes Nurul Jadid.

Selama diklat hadir tiga narasumber. Yakni, Wahono, Khairul Anam dan Saifullah. Ketiganya adalah konsultan dari Madrasah Development Center. Yakni, sebuah lembaga pendidikan di bawah naungan Kementerian Agama (Kemenag) Jawa Timur. (eem/hn)

Sumber: http://www.jawapos.co.id/radar/index.php?act=detail&rid=163457